Tegang merupakan sifat yang mewakili perasaan takut akan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya ketika seorang nelayan atau pelayar menghadapi derasnya gelombang laut (ombak besar), atau ketika berada di dalam pesawat lalu pesawat seakan mau jatuh dan ketika berhadapan dengan preman yang memegang sebuah pisau atau parang yang ingin menikam kita.
Dalam tulisan ini akan diulas pembahasan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan berdasarkan kisah perjalanan saya pada hari kamis tanggal 18 Januari 2018 kemarin. Namun penjelasannya ringan.
Pagi itu, saya hanya menyikat gigi dan membasuh wajah, sebab kurasakan badanku menggigil, maklum sudah hampir seminggu saya terkena seperti sariawan yang menggerogoti seluruh tenggorokanku, disertai flu, sedikit batuk dan demam. Inilah mungkin yang di namakan penyakit komplikasi atau komplikasi kesehatan. Susah tidur tentu saya dapatkan, beberapa malam ini, hidung saya tersumbati oleh bekas-bekas ingus flu. Walau demikian, tetap dan harus saya berangkat ke Makaassar untuk menyelesaikan studiku, setelah empat melakukan penelitian di Pesisir Barat Huamual Pulau Seram.
Ibuku yang sangat mencintai dan menyangiku, telah mempersiapkan bekalku, yang beliau isi di dalam sebuah dos sedang sebagai oleh-olehku ke Makassar, hiitung-hitung sebagai penghalang laparku nanti, dapat pula untuk mengurangi biaya hidupku di Makassar, apalagi ambal biasanya bisa bertahan lama, dan itu memang bagian dari makanan pokok kami. Itulah sebabnya, dahulu sebelum tahun 1999 pecah perang di Maluku, ada kabar angin mengenai dunia akan gelap katanya, mendengar kabar itu, masyarakat di sana (Seram) ramai membuat ambal. Ambal adalah sebuah makanan kering yang terbuat dari bahan pokok ubi yang di keringkan. Proses pengeringannya terlebih dahulu diparut setelah dicabut dari kebun, hasil parutan itu kemudian dibungkus dengan karung lima puluh kilo yang sengaja di belah supaya agak lebar, lalu di gepe dengan alat yang di namakan kagepe (sebuah penjepit yang terbuat dari dua papan kayu, di atasnya diletakan pemberat seperti batu, pemberat itulah yang membuat ubi parut itu cepat kering). Sedikit dari makanan itu saya bagikan ke Bapak Dedi teman saya, katanya ia menyukainya setelah pernah kubawakan dan mencobanya tahun lalu (2017), di kediamannya Samata (Gowa) Makassar.
Ubi ini biasa pula selain sebagai ambal dibuat juga sangkola (suami/kasoami), khususnya suku Buton, tapi di Maluku telah populer di kenal.
Dengan penuh semangat ibuku kemudian menggendong dos itu dan mengantarku ke pesisir pantai Amaholu menunggu speed boat, yang biasa kami gunakan sebagai tumpangan laut, yang menjadi penghubung perjalanan masyarakat Seram Barat ke Pelabuhan Tahuku, tepat di persinggahan itu juga terminal oto Hila.
Setelah meminta pamit dan mencium tangan ibuku yang kusyangi dan selalu kurindukan itu, nampak kesedihan yang menggerogoti hatiku, seakan beberapa bulan ini belum cukup melepaskan kerinduan saya padanya. Namun, saya tak ingin melanjutkan kisah kerinduan itu, sebab mataku tidak sanggup menahan air mata kerinduan yang selalu bercucuran. Kesedihanku disi lain bukan hanya karena kerinduan itu, akan tetapi, juga disebabkan oleh sedikitpun kebaktianku padanya belum banyak tercurahkan selama ini. Bagiku ibu adalah sosok tanda akan kebesaran Allah, sebab disisinya nampak surga, kasih sayangnya bagaikan kasih dan sayang Tuhan terhadap setiap makhluk-Nya.
Dengan itu di balik ketegangan akan kerinduan ada kebesaran Tuhan yang nampak di dalam raut wajah ibu tercinta. Itulah sebabnya, tak pantas ibu dibentak, tak pantas ibu diberikan kata kasar, dan tak pantas ibu dicela.
Karena spit itu sudah tiba, sayapun naik, sembari dalam hati, berdoa agar kami diberikan keselamatan selama dalam perjalan melewati Samudra Huamual, terutama ketika menghadapi laut semenanjung Tanjug Wayasel dan Tanjung Sial, berharap agar kesialan tidak berpihak pada kami hari ini. Bagaimana tidak, sementara gelombang laut begitu melampiaskan kemarahan, seakan binatang liar yang baru terlepas dari ikatannya.
Ditengah perjalanan, setelah meninggalkan tempat berlabuhnya spit yang memuat diriku sebelumnya, gelombang laut yang marah itu, menghantam speed kami, bunyi jendela kaca seakan ingin retak dan terhempas jauh dari gengamannya, speed boat berbunyi kruk, krak, Semua orang di dalamnya pada tegang, wajah mereka sedikit pucat seakan darah mereka terkumpul di jantung dan tak beroperasi. sayapun berdiri dari tempat duduk, menghampiri pintu belakang lalu duduk di samping ABK speed boat itu.
Dalam ketegangan dan hantaman gelombang itu, kalimat-kalimat Tuhanpun mulai terbetik dalam hati, kesaksian akan Tuhan dan utusan-Nyapun terucapkan yakni syahadat begitupula shalawat. Berharap dengan kalimat-kalimat itu, Tuhan dapat memberikan kekuatan kepada kami dan perahu yang sedang kami tumpangi dari hantaman gelombang ngamuk itu, setidaknya, dengan doa itu Tuhan dapat mengurangi ngamukannya.
Di akui, di tengah ketegangan akan ngamukan gelombang, ada tanda-tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa disangkal oleh setiap manusia, bahasa istighfar, Allahu Akbar dan kalimat-kalimat lainnya, seakan muncul dengan sendirinya tanpa dipikirkan sebelumnya.
Dengan kalimat-kalimat itu, alhamdulillah Dia memberikan kemudahan dan akhirnya di atas derasnya arus gelombang itu sampai pula kami di tempat tujuan (Pelabuhan Tahuku). Kamipun bisa turun dari speed itu dengan selamat dan mengemaskan barang-barang kami.
Setelah saya menyetor pembayaran speed itu, tidak lama menunggu sayapun menaiki bus yang telah menunggu kami sedari tadi, kanek bus berteriak-teriak memanggil penumpang agar seluruh kursi-kursi bus itu dipenuhi dan kami bisa cepat-cepat berangkat dan mobil lain bisa mengambil bagian, saya sengaja lebih memilih duduk di depan untuk menghindari sakit kepala dan mabuk (waspada), setelah penumpang memenuhi kursi-kursi bus itu berangkatlah kami meninggalkan terminal, melewati Mamua, Hitu dan Telaga Kodok serta Waiheru, tidak lama kemudian sampailah kami di atas jembatan merah putih mendekati kota Ambon, sejak tadi memang saya memperhatikan kondisi alam sekitar, bagaimana membayangkan terjadinya banjir di Mamua dulu, karena ngamukan sungai di kampung itu sehingga menyebabkan rumah-rumah warga terendam bahkan hancur dihantam derasnya air sungai, bagaimana jika kita berada di tempat itu, sementar air sedang ngamuk seperti itu, tentu tegang pula kita menyaksikannya. Maka di balik peristiwa banjir itu, nampak kebesaran Tuhan tak bisa di sangkal pula.
Begitupula dari dalam mobil nampak keindahan alam pulau ambon yang dikelilingi laut biru membentang, pohon-pohon dan dedaunannya yang hijau yang dihiasi gedung-gedung tinggi dari jembatan itu. Nampak tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa dibayangkan, ciptaan Tuhan yakni Laut, dan pepohonan hijau nan rindang di belakang dan di depan-depan rumah serta gedung-gedung yang dibuat manusia yang menjulang tinggi melahirkan kombinasi pemandangan yang menawan tak terelakkan. Terbayangkan bagaimana dengan gambaran surga Tuhan yang berlipat-lipat kenikmatan dari dunia mungkin lebih indah lagi dari lipatan keindahannya. Demikianlah dibalik tanda-tanda ciptaan itu ada kebesaran Tuhan Yang tidak dapat disangkal pula.
Tepat di jam 14 lebih 15 menit, sayapun di antar kakak saya Tamin ke bandara, sesampainya disana, iapun menemaniku sejenak sembari menunggu pesawat yang akan saya tumpangi, karena saya belum mengecek tiket, sejenak saya meminta kepadanya untuk menjaga barang-barang saya, sayapun ke loket kemudian menunjukan kode tiket yang saya beli dari Traveloka sebelumnya. pegawainya kemudian memeriksa tiketku, lepas itu, saya kembali menemui kakak Tamin lalu meminta pamit kepadanya untuk masuk ke ruang chak in serta menunggu pesawat di ruang tunggu. Lalu kakak Taminpun kembali.
Selang beberapa menit di ruang tunggu itu, pesawat yang akan kami naiki menuju Makassar itu tiba. suara pengumuman kemudian memerintahkan kami masuk ke pesawat itu melalui pintu no 4, dengan penuh kelembutan tiket kami diperiksa oleh pegawai pemeriksa tiket, lalu kami dipersilahkan masuk, peramugari-pramugari dengan penuh hormat dan kelembutan bahasanya mengarahkan kami duduk pada masing-masing kursi yang telah dipersiapkan. Meskipun kami sebenarnya sudah mengetahui tempat yang akan kami duduki, namun para peramugari itu tetap memperlihatkan kelembutan mereka untuk mengarahkan kami duduk di kursi-kursi itu. Bagi mereka itulah peraturan yang harus mereka penuhi.
Melihat kelembutan itu, terlintas dalam benak saya bahwa itu suatu tanda kebesaran Tuhan sebagai yang maha lembut.
Tidak lama, kamipun berangkat, pesawat mulai lepas landas, meninggalkan bumi manise menuju angkasa raya. Nampak setiap raut wajah ketegangan, semua berdiam tanpa kata, seakan mereka tunduk bersimpuh untuk bermunajat, berharap agar mereka diberikan keselamatan dalam perjalanan di angakasa itu.
Ditengah ketegangan itu, tepat di pertengahan antara awan dan awan, terlintas dalam benak saya kalimat masya Allah, suatu kebesaran tidak bisa dibayangkan sebelumnya, Tuhan menciptakan langit berlapis-lapis, begitu indahnya langit yang dihiasi awan-awan berlapis-lapis pula. Langit di atas pesawat membiru, di bawah kamipun juga demikian, apakah mungkin warna biru itu dipengaruhi oleh pandangan mata atau karena jarak. Disisi lain, bagaimanakah manusia mampu membedakan batasan-batasan langit yang berlapis-lapis itu, sementara sepertinya tidak sedikitpun terlihat batas-batas langit, sebagaimana orang memberikan pembatas kepada tempat shalat perempuan di dalam masjid.
Merupakan kebesaran Tuhan yang tiada satupun makhluk mampu membuatnya. Bagaimana mungkin di benak-benak insan nampak kesombongan, sementara dalam diri mereka selalu ada kekurangan.
Di sisi lain, bagaimana kalau pesawat itu jatuh di perjalanan, maka saat itulah kalimat-kalimat-Nya terngiang, istigfar, toiyyibah, syahadat, dan shalawat di ucapkan, bagaimana tidak awak kabing pesawat menyampaikan bahwa cuaca sedang buruk, dengan itu agar setiap penumpang selalu waspada, mendengar informasi ini ketegangan dalam setiap raut wajah penumpang semakin nampak. Namun alhamdulillah kuasa Tuhan memberikan kemudahan kepada kami hingga akhirnya kami dapat melewati cuaca buruk itu, kamipun sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Itulah kuasa Tuhan, wajahnya terngiang dikala suasana tegang. Itulah sebanya se atei apapun manusia, ketika diperhadapkan dengan ketegangan, kalimat Tuhanpun pasti terucapkan, sebagaimana fira'aun mengucapkan pengakuannya akan kebesaran di saat ia menghadapi peristiwa tegang "amantu billahi Musa wa Harun" (saya beriman kepada Tuhannya Musa dan harun), atau ucapan oh my God atau ucapan lainnya.
pesan
Demikianlah telah di kemukakan sedikit tulisan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Namun perlu di ingat, janganlah pada saat-saat tegang baru Allah di ingat, akan tetapi ingatlah Allah dalam setiap aktifitas yang akan dilakukan.

