Setiap orang menyukai kebersihan, walaupun aktifitas dan profesi
sehari-harinya tukang sampah, tukang potong rumput, buruh kasar, dan klining
servis yang setiap harinya berbaur dengan kotoran. Orang “pangkotor” kata
orang ambon, walau dia suka buat kotor. Pasti dia suka pada kebersihan. Sebab,
kebersihan itu adalah fitrah manusia. Bahkan ia bagian dari keimanan seseorang.
الطُّهُرُ شَترُ الْإيْمَنِ
“Kebersihan
bagian dari iman”
Terkait kebersihan erat kaitannya dengan taharah, namun taharah lebih luas
mengkaji tentang kebersihan. Taharah tidak hanya membicarakan kebersihan jasmani,
seperti kebersihan tempat tinggal, kebersihan anggota tubuh maupun kebersihan berkaitan pencucian najis. Melainkan juga
kebersihan rohani, kebersihan hati dari sifat-sifat yang tidak kasat mata atau
najis batin, namun wujudnya ada. Sehingga taharah kemudian dibagi menjadi dua
sudut kajian. Yakni, Taharah maknawiyah dan taharah hissiyah.
Maksud taharah maknawiyah adalah proses membersihkan
diri dari najis batin. Seperti syirik, sombong, hasad/dengki, ‘ujub, takabbur,
riya’ dan berbagai sifat kotor lainnya. Dalam konteks taharah maknawiyah.
Seorang muslim dan muslimah hendaknya membersihkan kotoran dan najis ini dari
hati-hati mereka. Jika beberapa kotoran sampah-sampah ini tidak dibersihkan,
maka berpeluang besar menyebabkan penyakit. Penyakit itu kemudian menghalangi
seseorang untuk menghususkan keyakinan hanya kepada Allah swt.
Sedangkan taharah hissiyah adalah proses membersihkan tubuh
dari kotoran-kotoran yang menempel pada badan jasmaniyah. Membersihkan badan
dengan mandi, anggota-anggota wudhu, dan cebok tempat keluarnya kotoran dari
qubul (taik) dan dubur (kencing).
Kedua taharah ini harus dipraktekkan oleh seorang muslim atau muslimah. Penjelasan
detail tentang kedua taharah maknawiyah dan hissiyah bisa dibaca
juga dalam ensiklopedia fikih syaikh Utsaimin.
Pengertian “taharah”, kata
taharah dengan terbaca fathah huruf ta’nya berarti “suci atau bersih”. Menurut istilah
syara’, mengandung banyak tafsir, diantaranya : suatu perbuatan yang menjadikan
seseorang boleh sholat, misalnya : wudhu, mandi, tayamun dan menghilangkan
najis. (Fathul Qarib).
Dapat dipahami bahwa taharah sangat erat
kaitannya dengan shalat, bahkan taharah menjadi kunci bagi terlaksananya
shalat. Demikian shalat menurut arti istilah. Pantas kemudian ada kalimat.
الصَّلّاةُ مِفْتَحُ الْجَنَّةِ
الطَّهَارَةُ مِفْتَهُ الصَّلَاةِ
“Kunci
surga adalah shalat dan kunci shalat adalah taharah.”
Maka pintu gerbang kesuksesan shalat terletak pada
taharah. Yakni taharah maknawiyah dan hissiyah. Artinya, seorang
muslim dan muslimah harus membersihkan hatinya terlebih dahulu sifat syirik
kotor. Terutama dari keyakiknan kepada selain Allah. Maksudnya tidak boleh ada
syirik dalam hati. Begitu pula sombomng dan lain-lain. Sehingga, jika seseorang
melaksanakan shalat tanpa taharah, keliahatan memang dia shalat, namun sebenarnya
dia sedangkan ngigau dan berangan-angan. Dapat pula dikatakan sia-sia ibadah
shalatnya tanpa taharah. dIa ke masjid namun dia sebenarnya seperti orang yang
belum menemui masjid. walaupun dia sudah melaksanakan shalat itu di masjid. Dapat
pula dikatakan shalatnya hanya siulan dan tepuk tangan saja.
Pantas dalam kitab-kitab fikih, taharah selalu
menjadi ilmu yang pertama dibahas. Sebab ia kunci pembuka. Ia ibarat al-Fatihah
bagi surat-surat dalam a-Qur’an, ia bagai anak tertua dalam keluarga, dan ia
bagaikan kunci bagi rumah.
Sadarlah bahwa belajar taharah penting untuk
diajarkan kepada masyarakt islam. Ini tugas kita semua umat Islam.
