Oleh: Anin Lihi
Kita telah membaca dan mendengarkan kisah-kisah yang diajarkan didalam al-Qur’an. Darinya diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan terbaik dibanding makhluk lainnya, hatta Malaikat sekalipun. Manusia itu cerdas, manusia itu gagah, manusia itu indah, manusia itu taat. Itulah gelar sepatutnya dimiliki manusia. Walaupun ia dianggap sebagai makhluk terbaik dan memiliki semua kesempurnaan itu, belajar tetap menjadi suatu keharusan. Baik mempelajari ilmu duniawi maupun ukhrawi. Masing-masing punya nilai manfaat dan saling mendukung. Namun yang paling diutamakan adalah ilmu ukhrawi (agama). Seseorang boleh saja berguru kepada sesama manusia, kepada alam bahkan Malaikat. Belajar kepada Malaikat termasuk perintah yang diajarakan oleh Rasulullah Saw. Terutama yang dipelajari adalah sikap ketaatannya kepada Allah Swt.Sudah
menjadi pengetahuan umum bahwa Malaikat termasuk makhluk yang paling ta’at,
rapi dan selalu benar. Malaikat tidak pernah malas dan membangkang terhadap
perintah Allah Swt. Sekali diperintah, langsung diselesaikan dan tidak menunda-nundanya.
Saat itu diperintah, saat itupula dikerjakan. Jam dan hari itu diperintah, jam
dan hari itupula dilaksanakan. Apapun yang dikerjakannya tidak pernah salah dan
keliru. Mereka tidak ribut ketika berada dalam jamaah. Intinya, para malaikat
itu disiplin, rapi, rajin, tenang, tepat waktu dan selalu dalam kebenaran.
Status kelurbiasaan Malaikat ini bisa dilewati oleh manusia, jika manusia mampu
menyadari fitrah potensi keluarbiasaannya. Inilah alasan bahwa manusia bisa
lebih baik daripada Malaikat dan bisa pula lebih buruk dari setan. Karenanya
belajar dari malaikat itu juga penting dan harus diketahui.
Para malaikat merapikan
barisan-barisannya dengan sempurna. Barisan mereka ketika mengahadap Allah
Swt., tidak bengkok-bengkok dan tidak renggang satu sama lain. “Dan
datanglah Tuhanmu dan Malaikat berbaris-baris” (QS al-Fajr/89: 22).
Didalam barisan-barisan itu mereka tidak saling berkata-kata, mereka tenang.
Kecuali mereka yang dizinkan oleh Allah Swt., untuk berbicara. Barisan mereka rapat, rapi dan tidak ada
cela-celanya sedikitpun. Satu sama lain saling berhimpitan bak rapatnya dua
pintu kebaya. Shaf-shaf mereka rapi, rapat dan lurus. Para
malaikat tidak membuat barisan di belakang sendiri sebelum barisan yang pertama
sempurna. Begitulah Nabi Saw., mengajarkan tatacara berbaris didalam shalat
berjamaah kepada umatnya. Beliau Saw., bersabda:
عَنْ جَابِرِبْنِ سَمُرَةَ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّي
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فّقّالَ: أَلَا
تَصُوْفُوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا يَا
رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟
قَالَ:يُتِمُّوْنَ صُفُوْفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُوْنَ فِصَّفِّ (رواه مسلم).
“Dari Jabir
bin Samurah ra., berkata: Pernah Rasulullah Saw., keluar menemui kami lalu
besabda: ‘mengapa kamu sekalian tidak berbaris seperti malaikat berbaris
dihadapan Tuhan-Nya?’ Kami lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Bagaimanakah para
Malaikat itu berbaris dihadapan Tuhan-Nya? Beliau bersabda: ‘Mereka menyempurnakan
shaf-shaf pertama dan merapatkan shaf. (HR. Muslim, no. 430).
Nabi
Saw., mengajukan pertanyaan yang tegas, lugas dan singkat kepada sahabatnya.
Singkat namun sarat makna. Olehnya itu, supaya para sahabat bisa memahami makna
dari ungkapan yang dikemukakannya, mereka bertanya. Para sahabat belum tau, bagaimanakah
para malaikat itu bershaf-shaf. Apalagi status Malaikat itu gaib.
Tentu hanya Nabi Muhammad Saw., yang lebih banyak tau ihwal kehidupan para
Malaikat. Karena itu, mereka bertanya dengan penuh harap, agar bisa mendapatkan
jawaban dan memahami maksud dari ucapan Nabi saw., tersebut. Para sahabat orang
yang cerdas. Tetapi, kecerdasan itu bukanlah alasan bagi mereka untuk beramal atas
keinginan sendiri. Mereka melakukan amalan-amalan ibadah bukan atas dasar hawa
nafsu. Namun, beramal di atas bimbingan Nabi Saw., dengan pengetahuan yang
sempurna. Beramal di atas pundak ilmu, iman dan ketaqwaan. Itulah sebabnya,
mereka bertanya kepada orang yang mengetahuinya dan memahaminya.
Para
sahabat paham bahwa al-Qur’an mengajarkan kepada setiap manusia untuk bertanya
jika tidak memahami pesan dan nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.
!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% wÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqR öNÍkös9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù @÷dr& Ìø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. w tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ
“Dan kami tidak mengutus sebelum engkau
(Muhammad), melainkan orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui.” (QS. An-Nahl/16: 43).
Sahabat-sahabat
tau bahwa Nabi Saw., tidak beramal atas dasar hawa nafsu. Melainkan beramal di
atas pundak wahyu Ilahi. Artinya, pengetahuan Nabi Saw., tentang Malaikat murni
ajaran Allah Swt. Beradasarkan pemahaman ini, Nabi Saw., adalah orang yang
tepat untuk diberi pertanyaan tentang sikap Malaikat. Ini bukan hanya cerita
dongen melainkan realitas yang dialami Nabi Saw. Lantas bertanyalah para sahabat. Bagaimanakah
para malaikat itu bershaf-shaf dihadapan Allah Swt., Ya Rasul
Allah?.
Beliaupun
menjelaskannya dengan redaksi yang singkat. Singkat, tapi sarat keutamaan dan mudah
dipahami. Wahai sahabatku, para malaikat ketika bershaf-shaf
dihadapan Allah Swt., mereka menyempurnakan shaf pertama dan rapat. Shaf
pertama terisi penuh, rapat, rapi dan lurus barulah shaf kedua, ketiga hingga
shaf-shaf seterusnya. Para malaikat itu merapatkan shaf-shaf
sehingga cela-cela shaf tertutup samasekali. Kalau saya ilustrasikan,
rapatnya barisan mereka seperti rapatnya dua pintu kebaya saat ditutup.
Perintah untuk mengikuti cara para Malaikat ketika berbaris dihadapan Allah SWT merupakan satu keutamaan yang membedakan Umat Islam dengan umat-umat yang lain. Hal ini disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari riwayat Muslim bahwa ju'ilats shufuufana kasufuufi malaikah dijadikan barisan kita seperti barisannya para Malaikat. ini dijelaskan ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat wainna lanahnushoofuun "dan kami benar-benar berbasis ketika melaksanakan perintah Allah Swt. Maksudnya Allah SWT telah menjadikan barisan Umat Islam ketika mereka sholat seperti barisan para Malaikat ketika beribadah kepada Allah. Perintah ini telah diamalkan oleh Nabi SAW dan para sahabat yang hidup sezaman dengannya. Juga diikuti Khalifah Abu Baqar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan sahabat Bilal bin Raba dan hingga ahli hadits seperti Imam Bukhari. bahkan dikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab ra menjadi Imam, beliau menghadap kepada para jamaah seraya menyeru "sesungguhnya Allah hendak menjadikan barisan shalat kalian seperti barisannya para malaikat" dan Umar bin Khattab tidak akan memulai takbir sebelum barisan-barisan ma'mumnya lurus, rapat sejajar dan rapi.
Hadits di atas mengajarkan anjuran untuk menyerupai para malaikat, karena para malaikat itu ma’sum yakni terjaga dari kesalahan. Adapun menyerupai yang ma’shum menyebabkan seseorang dapat menyerupai kesempurnaan amal.
Kema’suman
itu berimplikasi pada ketaatan, melaksanakan setiap perintah dan menjauhi
setiap larangan. Beramal atas dasar ajaran Agama dan berhukum atas dasar
syari’at. Belajar pada jalan yang benar, dan mengambil ilmu yang tepat. Maka
jadilah mereka bersih dari dosa dan kesalahan serta jauh dari kemaksiatan.
Karena itulah ilmu mereka penuh dengan cahaya hikmah dan amal mereka berada
dalam kesempurnaan. Disebutlah mereka orang-orang yang mukhlis.
Dibelahnya Dada Nabi Saw., lantas dibersihkan kotor-kotoran hati dalam dadanya
oleh Malaikat Jibril supaya jadilah ia ma’sum dan bersih dari dosa-dosa.
Adapun
cara yang tepat bagi seluruh umat Islam untuk menjadi orang-orang yang bersih
dari dosa adalah memperbagus tauhid dan senantiasa beribadah di atas ilmu yang
benar. Terutama, memaksimalkan ingatan kepada Allah Swt., dengan senantiasa
menyempurnakan seluruh ibadah, shalat paling utama, kemudian senantiasa
berzikir kepada Allah Swt.

