Pendidikan Al-Qur'an Alhilaal Pusat Ambon
Thursday, 16 October 2025
Monday, 13 October 2025
Syafari Dakwah: Untuk Apa Shalat?
Untuk apa Sholat? ini mungkin tidak cocok untuk dijadikan sebuah judul artikel atau berita. Tapi, setidaknya ini bisa menjadi pemantik bagi hati dan pikiran untuk menggali lebih jauh tentang proses dan tujuan seseorang melaksanakan shalat dan mengapa ia mesti melaksanakannya.
Tepat pada hari Selasa (14/10/2025) Ust. Anin Lihi, S.A., S.Fil.I., M. Ag., berkesempatan mengisi ceramah di Masjid Al-Hijrah Jiku Besar, Kab. Buru. Keesokan harinya, sebelum ia balik ke Ambon, tepat pada hari Rabu (15/10/2025) ia mengumandangkan Adzan Zuhur di Masjid Agung Al-Buruj Kota Namlea. Semua yang dilakukannya dalam rangka Syafari Dakwah. Dimanapun berada dakwah merupakan kewajiban semua umat Islam. Model dakwah boleh berfariasi, diskusi, dialog, khutbah, dan ceramah. Atau dengan model lain juga bisa. Yang penting sesuai syari'at dan jelas tujuan dakwahnya.
Pada judul Ceramah yang disampaikannya, Ust. Anin Lihi mencoba memantik konsetrasi jamaah, untuk berpikir lebih dalam tentang tujuan shalat.
Dalam ceramah itu, ia menyampaikan bahwa ia berdiri dihadapan jamaah bukan bertujuan menasehati, melainkan hadir untuk saling ingat mengingatkan. Sebab, disadari atau tidak, manusia dilekatkan namanya dengan kata lupa. Memang ini sudah menjadi tabiatnya. Karena itulah, ia hadir memberikan ceramah dihadapan jamaah, semoga menjadi alarm yang membangunkan kelupaan dan semoga menjadi amal jariyahnya.
Shalat bagi ustadz Anin Lihi adalah instrumen perjumpaan dengan Allah. 24434 merupakan kata sandi yang wajib dimiliki oleh setiap umat Islam. Kata sandi inilah kunci surga dunia dan akhirat. Ia ibarat nomor telpon yang menghubungkan komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya, mengomunikasikan problem, kebutuhan, keinginan dan pikiran positif lainnya. Selain nomor itu, ada juga panggilan darurat, dengan nomor 2.
Angka 24434 itu nomor yang wajib dihubungi. Sedangkan angka 2 merupakan nomor telpon yang disunnahkan untuk dihubungi.
Perlu diketahui bahwa komunikasi yang dilakukan bukan sekedar komunikasi jarak jauh, seperti seseorang dengan handponenya menghubungi rekannya di tempat yang berbeda. Komunikasi dengan Allah adalah komunikasi langsung, komunikasi satu arah, dalam kata lain terjadi dialog langsung. Tetapi, tetap butuh pelaksanaan 24434 secara rutin dalam sehari semalam 5 kali dengan rincian 2 Subuh, 4 Zuhur, 4 Ashar, 3 Maghrib, dan 4 Isya. Jadi, angka 24434 bukan sekedar angka, tetapi terdapat sikap spiritual yang dipraktikkan melalui gerakan khusus dan zikir-zikir yang sudah ditentukan prosesnya berdasarkan penetapan hukum Allah. 24434 yang dimaksudnya adalah shalat lima waktu.
Proses pelaksanaan sholat dilalui dengan beberapa tahapan. Langkah utama yang wajib diperhatikan adalah kesucian. Suci hati, suci diri, suci pakaian dan suci tempat. Langkah berikutnya gerakan, selanjutnya bacaan, Qur'an, zikir dan doa. Langkah terakhir dilakukan secara berurutan (tertib).
Seiring dengan tujuan shalat sebagai instrumen perjumpaan dengan Allah memang suci menjadi jalan masuk dan itulah tujuan shalat. Allah adalah zat yang Maha Suci dan hanya bisa dijumpai dengan kesucian. Antara suci dan suci pasti bertemu dan semakin suci. Sedangkan suci dan kotor jika menjadi sesuatu yang menjijikan. Ibarat terang dan terang semakin saling memberi terang, sedangkan gelap dan terang berjumpa akan redup.
Seseorang baru bisa berjumpa dan mampu melihat-Nya kecuali dengan kesucian. Inilah mengapa toharah menjadi materi utama yang harus dipelajari. Seseorang tidak mungkin bisa melihat Allah jika ia hadir dalam kondisi kotor. Akan ada dinding penghalang yang memagarinya dengan Allah jika kesucian tidak diperhatikan.
Sebelum menemui Allah, bila junub harus mandi suci, terkena najis harus istinja, berhadas harus dibersihkan, dan ingin shalat harus berwudhu, semua ini merupakan langkah penting perjumpaan dengan Allah.
Hadir dengan kesucian dapat menghadirkan ketenangan, itu tujuan lain dari shalat. Membuka pintu ketenangan. Seseorang yang gunndah gulana, resah dan gelisah dapat dihilangkan dengan shalat. Demikian merupakan amalan para sahabat dan orang-orang 'Alim. Saat mereka ditimpa musibah, lantas musibah itu menggelisahkan hati mereka. Maka mereka langsung shalat 2 rokaat dengan hajat agar diberi ketenangan. Jadi shalat dijadikan solusi ketenangan jiwa. Sebagaimana disebutkan dalam Muassatur Risalah, disadur dari Nu Online, disebutkan dalam sebuah hadits.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى صِهْرٍ لَنَا مِنْ الْأَنْصَارِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَقَالَ يَا جَارِيَةُ ائْتِينِي بِوَضُوءٍ لَعَلِّي أُصَلِّي فَأَسْتَرِيحَ فَرَآنَا أَنْكَرْنَا ذَاكَ عَلَيْهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
Artinya, “Dari Abdullah bin Muhammad bin al-Hanafiyah, ia berkata, ‘Aku masuk bersama ayahku menemui kerabat kami dari kalangan Anshar. Ketika waktu shalat tiba, ia berkata, ‘Wahai pelayan, bawakan aku air wudhu agar aku bisa shalat dan merasa tenang.’ Kami melihatnya dan merasa aneh dengan perkataannya itu, lalu ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Bangunlah, wahai Bilal, tenangkanlah kami dengan shalat’.” (Hadits riwayat Ahmad dalam Musnad-nya, [Beirut: Muassasatur Risalah, 1999], jilid XXXVIII, hal. 225).
Demikian tujuan shalat, minimal ada tiga yang dapat kita pahami. Pertama; Shalat menjadi Inatrumen perjumpaan dengan Allah. Kedua; Shalat bertujuan menyucikan diri, dan Ketiga; Shalat bertujuan menghadirkan ketenangan.
Ust. Anin Lihi kemudian menutup kultum itu dengan mengajak jamaah membaca doa Kafaratul Majlis.
Sunday, 12 October 2025
Syafari Dakwah: Khutbah Singkat: Dalam Dirimu Ada Sedeqah
Syafari Dakwah: Khutbah Jum'at, Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa
Dakwah merupakan perintah Allah yang sepatutnya dipahami oleh setiap orang Islam sebagai kewajiban. Jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwah melalui Khutbah, Ceramah, Kajian, dan diskusi-diskusi keagamaan Islam. Ia bisa berdakwah dengan harta dan aspek yang nampak dari dirinya, misalnya senyuman, cara berpakaian, sikap baik, dan sapaan salam itu termasuk dakwah.
Syafari dakwah kali ini, bertepatan pada Hari Jum'at, (10/10/2025) Ust. Anin Lihi, S. A., S.Fil. I., M. Ag. diberi kesempatan oleh Allah mengisi khutbah di Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa.
Apa yang melatar belakangi tema khutbahnya yaitu sering kali ketika ia datang di suatu tempat, masjid, kantor, komplek, dusun, desa dan berbagai tempat lainnya. Seringkali suasana begitu kaku dan tegang. Saat disapa dengan salam, lalu bersalaman dan senyuman. Sapaan, salaman, dan senyuman itu terkadang tidak dibalas. Wajah tetap kaku dan tegang. Padahal menjawab salam itu wajib, bersalaman itu menggugurkan dosa, dan senyum itu sedekah. Bahkan ketiga hal ini dijadikan oleh nabi sebagai ciri umat Islam yang baik. Berdasarkan realitas inilah ust Anin Lihi berpikir bahwa tema yang tepat menurutnya "Khutbah Singkat: Dalam Dirimu Ada Sedeqah."
Dalam proses khutbah sebagaimana kebiasaan, ia memulai dengan salam, lalu puji-pujian kepada Allah, shalawat, syahadat dan pesan taqwa. Lalu mengucapkan.
Jamaah Shalat Jum'at Rahimakumullah
Siang ini patut kita bersyukur kepada Allah, kita termasuk orang-orang yang dipilih, dimudahkan dalam beribadah, dibuka hatinya menerima iman, dan telinganya senang mendengarkan azan. Karena itulah, hari ini kita rela dan ikhlas meninggalkan seluruh aktifitas kita memenuhi panggilan Allah.
Kita hadir di masjid ini menjadi tamu-tamu yang dijamu dan dilayani Allah. Kedatangan kita diganjari imbalan yang berlipat ganda.
Namun, kita juga tidak luput dari pengamatan Allah. Mana diantara kita yang datang membawa keikhlasan dan mana yang hadir membawa kemunafikan. Yang ikhlas pulang membawa pahala dan munafik pulang membawa dosa. Yang ikhlas pulang membawa ketenangan jiwa dan yang munafik pulang tetap dalam kegalauan. Olehnya itu, hadirkan ikhlas karena Allah dalam beribadah.
Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah
Perlu diketahui bahwa Allah memberikan ganjaran pahala sebenarnya secara cash. Hanya saja wujudnya tidak nampak. Orang yang shalat berjamaah diberikan ganjaran 27 pahala dan bagi yang datang diawal waktu diberi hadiah onta yang sangat mahal. Perumpaan ini berfungsi sebagai motivasi bagi kita. Dan diyakini ganjaran pahala itu pasti adanya sekecil apapun, walaupun hanya sebesar biji zarrah.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ ۚ وَاِ نْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا
"Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 40).
Terutama bagi kehadiran kita hari ini, pulang kita minimal bisa membawa ketenangan.
Semua orang menghadapi problem, masalah, dan ujian. Gundah gulana, galau, gelisah, resah, stres, pusing dan kecewa pasti adanya. Semua itu hanya bisa ditangani dengan kedekatan kepada Allah dan masjid itulah tempat terbaiknya. Dengan shalat kita selesaikan seluruh problem kita.
Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan senantiasa mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sebagaimana tema yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Sedekah tidak boleh dibayangkan hanya pada infaq harta atau uang, dan pada waqaf tanah. Sikap baik kita bisa bernilai sedekah. Artinya seluruh aspek diri kita bisa bernilai sedekah. Misalnya, dengan fisik kita membantu pekerjaan Masjid, sebagai tukang pikul semen, bertugas menangani campuran, mengangkat ember, melipat besi tiang, memotong, dan merakit, memikul bambu, mengecet dan memasang tangga pengecoran semua itu sedekah. Pada nasehat, ucapan yang baik, salam, sapa, dan senyum itu semua sedekah.
Tabassamuka fi wajhi akhika laka shodaqah
"Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedeqah." (HR. Turmudzi, no. 1956) .
Jadi, pancaran wajah manis yang ditampakkan kepada saudara sesama muslim merupakan sedekah.
Tapi, terkadang kita mau senyum saat menjumpai atau dijumpai orang lain berat. Terkadang orang yang menyalami kita dengan senyum, muka kita masih tetap datar. Apalagi orang yang menjumpai kita belum kita kenal. Mungkin itu bukan kebiasaan kita atau tak biasa kita lakukan. Namun selaku umat muslim kepada muslim lainnya kita harus belajar.
Senyum dan bermuka manis harus disadari sebagai perintah Allah. Senyum atau bermuka manis itu bukan hanya kepada yang kita kenal, yang tidak kita kenalpun juga harus disapa dan disenyumin. Saat berpapasan ucapkan salam dan saat berjabat tangan senyum. Bikin muka manis. Mengapa?, karena nabi bersabda:
Jangan anggap remeh kebaikan, walaupun bikin muka manis (senyum) saat berbicara dengan saudaramu sesama muslim. Perbuatan tersebuk termasuk kebajikan. (HR. Abu Daud, no. 4084) .
Senyum merupakan cirikhas umat Islam, saat berjumpa, saling menghadap, berpapasan dimana saja, minimal kalau tidak mengucapkan salam dan berjabatan tangan, paling tidak senyum. Mengapa?, karena senyum yang terpancar dari wajah itu menyenangkan hati orang lain.
Yang dingini Allah dan nabi kita dengan ibadah, sedekah, shalat, dan ibadah lainnya dapat memancarkan sikap, perilaku atau akhlak yang baik. Apalah artinya shalat, puasa, zakat, infak, sedekah, dan ibadah jika dikomplek kita masih saling benci, dengki, dan bermusuh-musuhan. Tidak ada hasil ibadah, kecuali kita saling cinta dan sayang kepada satu dan lainnya.
Bagaimana cara agar kita saling cinta mencintai?, caranya senyum, salaman, ucapan salam, mendoakan keselamatan, dan mengucapkan kata-kata yang baik. Menanyakan kabar, mengucap selamat, mudah-mudahan Allah berkahi, umur Allah perpanjang, dan dimudahkan rezekinya, itu ucapan sepeleh. Tapi, semua itu berorientasi menyenangkan hati orang lain. Bersedekah bukan melulu harta, senyum itu sedekah dan memiliki banyak pahala.
Tapi, kalau kita ingin menginfakkan harta atau mewakafkannya itu jauh lebih bagus. Sebab, orang yang berani mengeluarkan hartanya akan diberi balasan berlipat ganda oleh Allah. Dari 1000 rupiah bisa berlipat menjadi 70.000 hingga 700.000. Satu biji ditanam mengeluarkan tujuh tangkai, Masing-masing tangkai keluar 100 biji, dihitung seluruhnya menjadi 700. Sebagaimana Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261).
Infak yang kita berikan dilipatgandakan berlipat-lipat oleh Allah. Tetapi, kita diuji dengan pahala. Kalau para pedagang dan pengusaha. Keuntungannya langsung diterima. Namun, pahala wujudnya gaib, butuh iman dan keyakinan.
Pulang kita ke rumah, rasanya kita tidak membawa apa-apa. Memang begitulah ujiannya. Pahala bukan sesuatu yang dapat diindra, pahala sifatnya ruhiah. Yang dapat menerima pahala itu hanya orang yang beriman.
Berbeda dengan para pedagang, pulang dari pasar, toko, mol, dan kios membawa uang. Hasil dagangan langsung dapat dilihat, dipegang, dan dirasakan.
Ini sepertinya yang membuat malas orang shalat berjamaah di masjid. Seandainya, Allah langsung nampakkan wujud pahala, setelah shalat langsung Allah berikan pahala 27 derajat. Diganti dengan misalnya 27 juta rupiah. Setelah shalat langsung dibagikan. Mungkin akan banyak yang tidak akan meninggalkan shalat berjamaah.
Karena wujud pahala tidak terlihat, kita sering merasa tidak termotivasi. Jangankan rumah yang agak jauh, seseorang yang rumahnya berdampingan dengan Masjid, perjalanan hanya sejingkal saja berat bagi seseorang untuk memenuhi panggilan Allah.
Apa yang menyebabkan itu, jawabannya adalah iman dan taqwa. Imbalan pahala tidak terlihat. Pahala hanya bisa dilihat oleh seseorang yang telah memiliki iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa seseorang akan mudah mengkalkulator amal ibadah yang dilakukannya. Sebagaimana para pedagang mampu mengkalkulator keuntungan usahanya.
Semoga Allah memberkahi dan memudahkan langkah kita dalam melaksanakan perintah Allah dan diberi ganjaran yang sesuai dengan keikhlasan kita. Aamiin.






