Syafari Dakwah: Khutbah Jum'at, Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa
Dakwah merupakan perintah Allah yang sepatutnya dipahami oleh setiap orang Islam sebagai kewajiban. Jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwah melalui Khutbah, Ceramah, Kajian, dan diskusi-diskusi keagamaan Islam. Ia bisa berdakwah dengan harta dan aspek yang nampak dari dirinya, misalnya senyuman, cara berpakaian, sikap baik, dan sapaan salam itu termasuk dakwah.
Syafari dakwah kali ini, bertepatan pada Hari Jum'at, (10/10/2025) Ust. Anin Lihi, S. A., S.Fil. I., M. Ag. diberi kesempatan oleh Allah mengisi khutbah di Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa.
Apa yang melatar belakangi tema khutbahnya yaitu sering kali ketika ia datang di suatu tempat, masjid, kantor, komplek, dusun, desa dan berbagai tempat lainnya. Seringkali suasana begitu kaku dan tegang. Saat disapa dengan salam, lalu bersalaman dan senyuman. Sapaan, salaman, dan senyuman itu terkadang tidak dibalas. Wajah tetap kaku dan tegang. Padahal menjawab salam itu wajib, bersalaman itu menggugurkan dosa, dan senyum itu sedekah. Bahkan ketiga hal ini dijadikan oleh nabi sebagai ciri umat Islam yang baik. Berdasarkan realitas inilah ust Anin Lihi berpikir bahwa tema yang tepat menurutnya "Khutbah Singkat: Dalam Dirimu Ada Sedeqah."
Dalam proses khutbah sebagaimana kebiasaan, ia memulai dengan salam, lalu puji-pujian kepada Allah, shalawat, syahadat dan pesan taqwa. Lalu mengucapkan.
Jamaah Shalat Jum'at Rahimakumullah
Siang ini patut kita bersyukur kepada Allah, kita termasuk orang-orang yang dipilih, dimudahkan dalam beribadah, dibuka hatinya menerima iman, dan telinganya senang mendengarkan azan. Karena itulah, hari ini kita rela dan ikhlas meninggalkan seluruh aktifitas kita memenuhi panggilan Allah.
Kita hadir di masjid ini menjadi tamu-tamu yang dijamu dan dilayani Allah. Kedatangan kita diganjari imbalan yang berlipat ganda.
Namun, kita juga tidak luput dari pengamatan Allah. Mana diantara kita yang datang membawa keikhlasan dan mana yang hadir membawa kemunafikan. Yang ikhlas pulang membawa pahala dan munafik pulang membawa dosa. Yang ikhlas pulang membawa ketenangan jiwa dan yang munafik pulang tetap dalam kegalauan. Olehnya itu, hadirkan ikhlas karena Allah dalam beribadah.
Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah
Perlu diketahui bahwa Allah memberikan ganjaran pahala sebenarnya secara cash. Hanya saja wujudnya tidak nampak. Orang yang shalat berjamaah diberikan ganjaran 27 pahala dan bagi yang datang diawal waktu diberi hadiah onta yang sangat mahal. Perumpaan ini berfungsi sebagai motivasi bagi kita. Dan diyakini ganjaran pahala itu pasti adanya sekecil apapun, walaupun hanya sebesar biji zarrah.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ ۚ وَاِ نْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا
"Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 40).
Terutama bagi kehadiran kita hari ini, pulang kita minimal bisa membawa ketenangan.
Semua orang menghadapi problem, masalah, dan ujian. Gundah gulana, galau, gelisah, resah, stres, pusing dan kecewa pasti adanya. Semua itu hanya bisa ditangani dengan kedekatan kepada Allah dan masjid itulah tempat terbaiknya. Dengan shalat kita selesaikan seluruh problem kita.
Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan senantiasa mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Sebagaimana tema yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Sedekah tidak boleh dibayangkan hanya pada infaq harta atau uang, dan pada waqaf tanah. Sikap baik kita bisa bernilai sedekah. Artinya seluruh aspek diri kita bisa bernilai sedekah. Misalnya, dengan fisik kita membantu pekerjaan Masjid, sebagai tukang pikul semen, bertugas menangani campuran, mengangkat ember, melipat besi tiang, memotong, dan merakit, memikul bambu, mengecet dan memasang tangga pengecoran semua itu sedekah. Pada nasehat, ucapan yang baik, salam, sapa, dan senyum itu semua sedekah.
Tabassamuka fi wajhi akhika laka shodaqah
"Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedeqah." (HR. Turmudzi, no. 1956) .
Jadi, pancaran wajah manis yang ditampakkan kepada saudara sesama muslim merupakan sedekah.
Tapi, terkadang kita mau senyum saat menjumpai atau dijumpai orang lain berat. Terkadang orang yang menyalami kita dengan senyum, muka kita masih tetap datar. Apalagi orang yang menjumpai kita belum kita kenal. Mungkin itu bukan kebiasaan kita atau tak biasa kita lakukan. Namun selaku umat muslim kepada muslim lainnya kita harus belajar.
Senyum dan bermuka manis harus disadari sebagai perintah Allah. Senyum atau bermuka manis itu bukan hanya kepada yang kita kenal, yang tidak kita kenalpun juga harus disapa dan disenyumin. Saat berpapasan ucapkan salam dan saat berjabat tangan senyum. Bikin muka manis. Mengapa?, karena nabi bersabda:
Jangan anggap remeh kebaikan, walaupun bikin muka manis (senyum) saat berbicara dengan saudaramu sesama muslim. Perbuatan tersebuk termasuk kebajikan. (HR. Abu Daud, no. 4084) .
Senyum merupakan cirikhas umat Islam, saat berjumpa, saling menghadap, berpapasan dimana saja, minimal kalau tidak mengucapkan salam dan berjabatan tangan, paling tidak senyum. Mengapa?, karena senyum yang terpancar dari wajah itu menyenangkan hati orang lain.
Yang dingini Allah dan nabi kita dengan ibadah, sedekah, shalat, dan ibadah lainnya dapat memancarkan sikap, perilaku atau akhlak yang baik. Apalah artinya shalat, puasa, zakat, infak, sedekah, dan ibadah jika dikomplek kita masih saling benci, dengki, dan bermusuh-musuhan. Tidak ada hasil ibadah, kecuali kita saling cinta dan sayang kepada satu dan lainnya.
Bagaimana cara agar kita saling cinta mencintai?, caranya senyum, salaman, ucapan salam, mendoakan keselamatan, dan mengucapkan kata-kata yang baik. Menanyakan kabar, mengucap selamat, mudah-mudahan Allah berkahi, umur Allah perpanjang, dan dimudahkan rezekinya, itu ucapan sepeleh. Tapi, semua itu berorientasi menyenangkan hati orang lain. Bersedekah bukan melulu harta, senyum itu sedekah dan memiliki banyak pahala.
Tapi, kalau kita ingin menginfakkan harta atau mewakafkannya itu jauh lebih bagus. Sebab, orang yang berani mengeluarkan hartanya akan diberi balasan berlipat ganda oleh Allah. Dari 1000 rupiah bisa berlipat menjadi 70.000 hingga 700.000. Satu biji ditanam mengeluarkan tujuh tangkai, Masing-masing tangkai keluar 100 biji, dihitung seluruhnya menjadi 700. Sebagaimana Allah berfirman:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261).
Infak yang kita berikan dilipatgandakan berlipat-lipat oleh Allah. Tetapi, kita diuji dengan pahala. Kalau para pedagang dan pengusaha. Keuntungannya langsung diterima. Namun, pahala wujudnya gaib, butuh iman dan keyakinan.
Pulang kita ke rumah, rasanya kita tidak membawa apa-apa. Memang begitulah ujiannya. Pahala bukan sesuatu yang dapat diindra, pahala sifatnya ruhiah. Yang dapat menerima pahala itu hanya orang yang beriman.
Berbeda dengan para pedagang, pulang dari pasar, toko, mol, dan kios membawa uang. Hasil dagangan langsung dapat dilihat, dipegang, dan dirasakan.
Ini sepertinya yang membuat malas orang shalat berjamaah di masjid. Seandainya, Allah langsung nampakkan wujud pahala, setelah shalat langsung Allah berikan pahala 27 derajat. Diganti dengan misalnya 27 juta rupiah. Setelah shalat langsung dibagikan. Mungkin akan banyak yang tidak akan meninggalkan shalat berjamaah.
Karena wujud pahala tidak terlihat, kita sering merasa tidak termotivasi. Jangankan rumah yang agak jauh, seseorang yang rumahnya berdampingan dengan Masjid, perjalanan hanya sejingkal saja berat bagi seseorang untuk memenuhi panggilan Allah.
Apa yang menyebabkan itu, jawabannya adalah iman dan taqwa. Imbalan pahala tidak terlihat. Pahala hanya bisa dilihat oleh seseorang yang telah memiliki iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa seseorang akan mudah mengkalkulator amal ibadah yang dilakukannya. Sebagaimana para pedagang mampu mengkalkulator keuntungan usahanya.
Semoga Allah memberkahi dan memudahkan langkah kita dalam melaksanakan perintah Allah dan diberi ganjaran yang sesuai dengan keikhlasan kita. Aamiin.





