Friday, 22 January 2021

IMPLEMENTASI BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM BINGKAI QUR’AN-HADITS DAN MULTIKULTURAL : KHUTBAH JUM'AT

 

Oleh: Anin Lihi



Jamaah Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Memang tak bisa dipungkiri bahwa perpecahan telah terjadi sejak awal manusia diciptakan. Tapi, apakah ini yang diinginkan Tuhan dan fitrah keimanan manusia. Tentu bukan kalau kita baca Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an kita temukan bahwa yang diinginkan Allah swt dan fitrah keimanan manusia sebenarnya adalah persatuan, kasih sayang dan cinta. Ketiga konsepsi ini hanya bisa diwujudkan melalui jalan ibadah yang benar. Dengan ibadah yang benar kita dapat memetik akhlak. Dengan akhlak persatuan dapat ditumbuhkan. Semua ini taqwa telah membalutnya. Maka karena taqwa kita dimuliakan dan memuliakan.

“Nabi Saw., bersabda: “Dari Muhammad bin Habib bin Kharrays al-Asriy dari ayahnya, sesungguhnya dia telah mendengar Nabi Saw., bersabda: Orang-orang muslim bersaudara, tidak ada kemuliaan bagi seseorang atas yang lain kecuali taqwa”. (HR. Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jilid 4, h. 25)  Bukanlah hal-hal lain, tapi taqwa.  Karena itulah al-Qur’an hadir sebagai pengatur, penerang jalan supaya terwujud manusia yang baik dan benar, bertaqwa dan berakhlak dan menjiwai persaudaraan.

Ketika A’isyah ditanyai tentang perihal akhlak Rasulullah, dengan singkat A’isyah menjawab, “akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Nah, sekarang bagaimana caranya agar manusia mencapainya, Allah swt telah memberikan mesin penimbang yang kita sebut sebagai “akal”. Fungsi alat ini mengkalkulasi, menyaring tiap-tiap konsep, memilih dan memilah mana yang seharusnya dipelajari dan diamalkan. Tentu jika alat ini sudah digunakan dengan benar maka aksiologinya bisa terwujud pada manusia dan masyarakat yakni keselamatan dunia dan akhirat bersama dan kenikmatan dunia dan akhirat bersama. Akan ada pemahaman bahwa surga bukan milik person, bukan pula milik kelompok dan golongan tertentu. Tapi, milik semua masyarakat beriman dan bertaqwa. Begitupula kesejahteraan dan kedamaian di negara dan bangsa kita indonesia juga milik kita bersama.

Tuhan tidak menginginkan perpecahan, perkelahian, permusuhan. Olehnya itu, terjadinya perpecahan sebenarnya berasal dari kita sendiri, dari ego, dari hawa nafsu, dari kecenderungan mengikuti penyakit-penyakit hati, (sombong, angkuh, dengki, hasad, riya’, fitnah dan lain sebagainya). sifat-sifat jelek inilah yang menjadi jurang pemisah kebersamaan dan pemecah persatuan. Maka inilah penting yang harus diawasi dengan maksimal.

Jamaah shalat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Tidak kurang bimbingan Nabi Muhammad saw., kepada kita, bahkan sampai pada taraf pemberian informsi ancaman. Sombong dan angkuh jangan, sebab ia menjauhkan engkau dari kenikmatan pribadimu dan kelompok masyarakat baik dunia maupun akhirat.  Dengki dan hasad jangan, sebab keduanya merusak dirimu dan orang lain, bahkan seluruh amal kebaikanmu hilang bagai kayu dan daun yang dilahap kayu bakar menjadi debu akhirnya habis diterbangkan angin dan karena keduanya pula engkau sakit dan menyakiti orang lain, sebab hasad dan dengki membuat perasaan dan jiwa mudah amarah. Janganlah fitnah sebab sama saja engkau telah membunuh saudaramu, bahkan bangkainya telah engkau lahap mentah-mentah hingga karenanya engkau akan saling merusakkan dan akhirnya bermusuhan dan berbunuh-bunuhan dengan sesamamu. Janganlah engkau mengkonsumsi yang haram, sebab itu menjadi jalan permusuhan, menjauhkan engkau dari Allah, malas untuk beribadah dan jasadmu didalamnya akan membusuk. Jadi janganlah hawa nafsu menjadi perahu yang ditumpangi.

Nabi kita Muhammad Saw., tentu kita pahami apa yang dikatakannya adalah pengajaran Tuhan dan  bukan hawa nafsunya. Karenanya apa yang tidak diingini Tuhan beliaupun tak menginginkannya. Jadi, jika Tuhan menginginkan persatuan, maka Nabi Muhammad demikian pula, karenanya Muhammad Saw., mengajarkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Nabi bersabda:

 “Perumpaan orang-orang Mukmin dalam persahabatan, kasih sayang, dan perhatiannya bagaikan satu jasad, jika salah satu terasa sakit, maka semua anggota tubuhnya terasa sakit dengan gelisah (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR. Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 2, Hal. 238).

Begitu besarnya persaudaraan dan persatuan. Saudara yang tersakiti menjadi beban pikiran, sakitnya menjadi sakit kita, demamnya menjadi demam kita, dan susahnya menjadi susah kita. Pantaslah Nabi Saw begitu tegas mengajarkan cinta sesama, “layu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi” Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai kalian mencintai saudara kalian melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri” (Hr. Bukhari dan Muslim). Maka menjadi pincang iman kita lantaran memutuskan persatuan.  

Senada dengan sabda Nabi Saw., IAIN Ambon dalam Visi Misinya pada poin ke empat menghendaki seluruh masyarakat kampus supaya menghasilkan karya-karya pengabdian masyarakat yang berbasis multikultural, bertolak dari visi itu tentu tujuannya untuk mewujudkan Nilai saling menghormati, nilai saling menghargai, nilai toleransi, nilai persatuan, nilai kerjasama dan nilai solidaritas antara etnis. Maka fanatisme keduniaan harus dibuang sejauh-jauhnya. Fanatisme Suku, etnis, kedaerahan harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika kita ingin al-Qur’an, hadits dan Bhineka Tunggal Ika dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah Swt

Indonesia bukanlah bangsa yang menyendiri, sebagaimana yang dikobarkan oleh eropa bahwa katanya “tidak ada yang setinggi jerman, katanya bangsanya minolya berambut jagung dan bermata biru. Bangsa Aria yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tak ada harganya. Jangan berpaham seperti ini.  Yang namanya bangsa indonesia dan kaum muslimin semua telah mufakat semua buat semua, bukan buat satu orang, bukan juga untuk satu golongan, bukan untuk si kaya atau si miskin. Tapi memiliki kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Itulah sebagian ungkapan sang pejuang (Bungkarno).

Soekarno, tak ingin ada klaim, saya suku yang hebat, kota dan kabupaten yang besar, kampung yang luar biasa dan dusun yang tinggi melebihi apapun di dunia ini. Menjadi hebat ia boleh, tapi sifat angkuh dan sombong harus dibuang jauh-jauh, karena sifat itu adalah akar dari segala kerusakan. Tuhanpun tak menyukainya.

Jamaah sholat jum’at yang di muliakan Allah Swt

Jadi yang kita ingin didalam negara dan bangsa kita, dalam kabupaten dan kota kita, dalam desa dan dusun kita dan dalam suku dan keluarga kita adalah penerapan undang-undang nomor 43 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 24 tahun 2009. Yakni bangsa indonesia harus menyadari bahwa keragaman, baik suku bangsa, agama, ras, antar golongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor potensi atau modal terbentuknya persatuan. Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan indonesia yang semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah semangat kedaerahan hanya akan memecah belah persatuan sehingga mudah diperdayakan. Bangsa Indonesia harus menyadari sepenuhnya  bahwa Bhineka Tunggal Ika salah satu pilar demi kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konesp seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

Dengan memakai nida Allah swt memanggil, menyeru dan menyampaikan kepada seluruh manusia bukan kepada satu kelompok, golongan, bangsa dan suku. Secara fitrah kalau kita pahami ayat ini memang penciptaan manusia menurut takdirnya diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bengsa. Namun, perbedaan suku bangsa bukanlah sebab perkelahian dan permusuhan. Akan tetapi, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena itu, seharusnya kita bisa saling mencintai dan menyangi. Merasakan bahwa kita lahir dari rahim yang sama yakni Ibu, setiap ibu pasti merasakan sakit yang sama. Kita yakin bahwa kita diciptakan dari unsur dasar yang sama yaitu tanah. Olehnya itu janganlah tanah yang kita pijak dan Tuhan yang menciptakan kita menjadi murka kepada manusia.

Dalam bangsa, kita harus saling menghargai, Islam, Kristen, Hindu dan Budha, jika dalam perkara-perkara sosial mestinya kita bergotong royong. Kita juga tak boleh merusak agama seseorang dan seluruh atribut simbol keagamaannya. Sebab, kalau itu terjadi, justru kita malah menjauhkan mereka dari hidayah Allah swt. Jadi, terapkan lakum diinukum waliyadin pada mereka yang berbeda agama dengan kita. Biarkan mereka merayakan hari-hari besarnya, tapi jangan kita ikut-ikutan merayakannya, janganpula kita merusak dan membuat kekacauan pada mereka. Hidupkan sikap berakhlak, niscaya dengan akhlak orang akan berbondong menuju Allah Swt. Terapkan nilai taqwa qur’ani, agar semua tau bahwa hakikat Islam sebenarnya seperti itu.

Adapun Muslim, dalam Agama kita adalah seaqidah, seiman dan seislam. Kita boleh berbeda suku, tempat lahir, marga dan keluarga. Namun, dalam aqidah kita harus bersatu. Nah ini yang harus di jiwai. Jangan karena sesuap  nasi, segelas teh, sederet pangkat atau jabatan dan secuil harta lantas rela mengorbankan saudara seaqidah, seiman dan seislam seagama kita. Apalagi seaqidah dalam satu bangsa, tentu kasih sayang dan cinta mestinya lebih kita tumbuhkan. Kalau yang lain lapar, maka yang lain ikut lapar, dan jika kenyang yang lainpun merasakan hal yang sama. Kita saudara seaqidah, seagama, sekeyakinan, seiman dan seislam yang menyembah Tuhan yang Maha Esa.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

 Maka rahmat Allah terletak pada persatuan, rahmat Allah terletak pada saling sayang dan saling cinta. Tanamkan budaya malu melakukan kerusakan kepada sesama, sebab kita nantinya ditertawakan. Takutlah menjadi pemecah belah, dan tumbuhkan jiwa Bhineka Tunggal Ika.

Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: