Friday, 20 May 2022

ASYFA FATIHAH SYAUQILLAH LIHI DAN PERMAIAN DI MCM

 

Kisahku di Bulan  Desember 2021 (01 Desember 20210


Saat aku sedang membaca buku, menulis dan  melakukan pekerjaanku didalam rumah, anakku (Asyfa) sering datang. Asyfa terkadang berdiri di belakangku, naik diatas pahaku, menggigit pundakku, menggigit kakikku, mencubit leherku dan mencium pipiku. Jika aku sedang mengetik  tombol labtop, dia juga mengetiknya, saat merapikan buku di raknya, dia membongkarnya, saat ibunya sedang berbaring dia naik di atas perut ibunya, diatas kepala ibunya, mencubit ibunya, menggigit ibunya, bahkan mencium ibunya. Begitulah aktifitas Asyfa saat kami bersamanya di rumah. Tapi, Ibunya senang dengan tingkah Asyfa, ibunya tidak pernah marah, sebaliknya malah mendoakan kebaikan kepadanya. Umur Asyfa baru setahun. Ia mulai aktif beraktifitas, didalam kamar ia senang menurunkan buku dari raknya, jug sesekali menurunkan peralatan dapur dari raknya, dan mengalirkan air galon dari krannya. Tetapi, setiap ia melakukan aktifitas, seperti membongkar buku dari rak, Aku selalu mengatakan “masya Allah, kaka Asyfa sedang merapikan buku dan suka membacanya”. saat ia membongkar peralatan dapur, aku mengatakan, “masya Allah, kaka Asyfa sedang merapikan piring atau gelas di raknya.” Semua aktifitasnya, kami tanggapi sebagai perilaku positif, seperti itu yang kami maknai dari aktifitas Asyfa. Harapannya kelak dia bisa tumbuh menjadi anak yg rajin membaca buku, cerdas, dan sholehah.

Aku tidak hanya menghabiskan waktuku untuk belajar, menulis, membaca, mengajar, dan mengisi kajian. Aku sering menemani anakku bermain, belajar sambil menggedongnya, mengetik sambil meletakkannya di pangkuanku, dan menaikkannya di ayunan dan menggoyang ayunanya hingga ia tertidur. Aku juga bermain lempar bola-bola kecil denganya, menggendongnya sambil bermain, dan menaruhnya di atas punggungku bermain kuda-kudaan sembari ibunya terkadang yang memegangnya, terkadang aku sendiri yang memegangnya. Beberapa hari di rumah, anakku bermain boneka-boneka, aku juga sering menemani meletakkan boneka itu dihadapannya. Tapi, malam ini permainannya berbeda, setelah aku dan istriku membelikan seranjang bola-bola kecil warna warni. Aku melihatnya sedang asyik melempar bola-bola kecilnya yang baru kami beli sore tadi, untuk menambah semangatnya aku lantas menemaninya, melemparkan bola disampingnya. Melihatku melakukan itu, Asyfa kegirangan. Ia sampai mengoyang-goyangkan badanya dan bersorak sambil senyum. Ia sangat bahagia dan senang ketika aku bermain bersamanya. Selain menemaninya bermain di rumah, aku dan istriku juga berkeinginan membawanya ke MCM, di tempat permainan anak-anak. Alhamdulillah, hari ini keinginan itu baru terkabul, inilah kali pertama kami membawa Asyfa di tempat itu. Tentu, tujuan kami hanya ingin menghiburnya. Selain itu ada pelajaran penting yang bisa menjadi pengetahuan baginya, walaupun ia sendiri belum memahami makna permainan itu.

Sebelum kami ke tempat permainan, bertepatan pada jam 11 lebih beberapa menit, kami berpijak dari toko buku NN menuju parkiran motor. Sewa parkiran sebesar 3000 rupiah, adapun yang menjaga parkiran itu semua beragama kristen. Sementara kios kecil di sampin parkiran itu ternyata pemilik kios itu orang Buton, aku mengenal pemilik kios itu, karena aku sering khutbah di masjid itu, dan beliau menjadi salah satu pengurus masjid itu.

Setelah membayar uang parkir, kamipun beranjak pergi, sampai di tengah jalan, masih di atas motor, di dekat lampu merah depan lapangan merdeka, istriku bergumam,”sayang, aku lapar?”, keluhan istriku itu langsung menggerakkan bibirku berucap, “ia sayang, segera kita cari tempat makan, kita ke rumah makan milik orang buton yang ada di Pantai Losari saja, yang didalam pagar itu, rumah makan itu yang langsung terlintas di benakku. istriku ternyata menyetujui masukanku makan di warung itu. Kami memang biasa makan di warung itu, selain enak, nasinya banyak, ikannya besar dan kami juga sudah akrab dengan pemiliknya.  Yaitu seorang ibu tua, yang bersifat baik dan berhati lembut. Setiap kali kami datang dengan Asyfa ibu itu selalu menggendong Asyfa, baik disaat kami makan di tempat itu atau tidak. Yang lebih menarik dari itu semua, harga makanan i warung itu murah meriah, tidak ada tempat makan menurutku yang pernah aku datangi semurah dan sebanyak makanan yang disajikan di rumah makan itu menurutku di kota Ambon. Aku mengatakan itu, karena aku sudah banyak mendatangi tempat makanan, baik karena diajak teman-temanku atau aku sendiri maupun bersama istriku, jia ada keinginan untuk makan di luar.  

Tidak menunggu lama, Istriku langsung memesan makanannya, penjaga warung langsung membawa dua piring nasi, sayur dan ikan dibawa belakangan. Tapi, aku memberitahukan kalau aku tidak makan, karena hari itu aku sedag puasa, pelayan itu lantas meminta maaf, sekaligus merasa berdosa katanya, karena ketidak tahuannya. Akupun menimpali, “ah tidak apa-apa.” Sepiring nasi, semangkok sayur, dan seekor ikan goreng sedang sudah berada di atas meja, istriku langsung melahapnya, sambil menyuapi anaknya yang sendang kugendong disampingnya (Asyfa). Alhamdulillah, belum lama kami duduk di rumah makan itu, bunyi lantunan ayat suci al-Qur’an mulai menggema dari masjid-masjid dari setiap sudu kota, tanda waktu zuhur sudah dekat. Akupun menyampaikan kepada istriku “sayang, setelah makan kita langsung menuju MCM yah, kita sholat di musholah MCM saja?” ia langsung menganggukkan kepala, “iya sayang”, kata isrtriku. Rasa kenyang yang terdengar bunyinya dari mulut istriku menandakan ia sudah kenyang, piring nasi, mangkuk sayur, seekor ikan itu habis disantapnya. Alhamdulillah, istriku sudah kenyang. Kamipun langsung keluar setelah ia makan, lalu melanjutkan perjalanan ke MCM.

Sampai di MCM kami terlebih dahulu menuju mushollah, memenuhi kewajiban kami sebagai seorang muslim. Setelah sholat,  lansung kami beranjak menuju Gramedia untuk melihat buku yang berjudul “Multikultural di Pesantren” yang di pesan ponakanku (Sri Endriani Lihi) yang biasa kami sapa dengan nama Indri. Tetapi, buku itu tidak ada. Tidak membuang-buang waktu, kami langsung turun menuju tempat permainan, hari ini kami harus memenuhi niat kami membawa Asyfa ke tempat permainan anak-anak di MCM itu. Alhamdulillah, sampailah akhirnya, kami didepan tempat permainan itu, kami langsung mendekati tempat pembayarannya, tetapi dikasir itu kami tidak melihat orang, penjaga pintu masuk tempat permainan yang berada di sebelah kiri kami lansung berdiri menuju kasir, setelah kami berdiri, iapun memanggil penjaga kasir, ternyata penjaga kasir itu ada didalam ruangannya, ia tidak menyahuti panggilan kami, oh rupanya ia sedang makan. Kamipun memohon maaf, karena kami tidak tau dia sedang makan, kalau kami tidak didatangi penjaga pintu masuk itu, mungkin kami akan duduk menunggu sampai ia selesai makan. Tetapi, penjaga kasir itu langsung berdiri melayani kami. Alhamdulillah.

Penjaga Kasir itu bertanya, “sudah pernah masuk di sini”, “belum”, jawab kami. “Oh ia” katanya. “berapa orang yang menemani anaknya bermain”, tanyanya, “Dua orang” kami menjawab, “lalu kaos kaki ada”, aku menjawab “aku belum punya”, istriku menimpali “kalau aku sudah”, “anaknya?” bertanya penjaga kasir, “kalau dia pakai sepatu” jawab kami, penjaga kasir bertanya lagi “kalau begitu, kaos kaki satu yah, soalnyaa di sini wajib memakai kaos kaki”, “oh ia” serentak kami berdua menjawab, kami bertanya “lalu berapa harganya mba’?” “90 ribu” katanya, “oh ia sudah”. Setela istriku membayarnya, kami langsung masuk, penjaga pintu masuk langsung menyodor kaos kaki hitam putih kepadaku, aku langsung memakainya, istri dan anakku sudah duluan berada didalam sementara aku masih memakai kaos kaki.

Melihat beberapa tempat permainan itu dipenuhi bola-bola kecil, Asyfa kelihatan sudah tidak sabar masuk ke dalam tempat permainan itu. Asyfa begitu senang bermain didalam tempat yang dipenuhi bola. Seakan-akan Asyfa sedang mandi bola. Beberapa anak-anak juga memiliki rasa senang yang sama.

Setelah Asyfa merasa letih bermain, akupun juga sama letihnya menemaninya bermain, kamipun keluar dari tempat permainan itu. Hampir dua jam kami didalam. Ternyata, lumayan sebuah pekerjaan yang cukup meletihkan. Akhirnya kami kembali ke rumah.

 

                                                              Foto Pribadi : 

"Ya Allah tolong hadirkan kasih dan sayang kepada kami, agar kami hidup sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, yang kami bisa pertahankan di dunia ini hingga akhirat kelak".



Sunday, 12 December 2021

Pisabha sebagai Wadah Pembentukan Karakter dan Akhlak

 




Akhlak termasuk sifat manusia yang unggul, baik, dan menimbulkan rasa persaudaraan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Mengenai hal ini telah diajarkan dalam tradisi pisabha. Pisabha termasuk salah satu media untuk mempelajari akhlak, sebab dalam proses melaksanakan pisabha para gadis itu telah diberikan penguatan-penguatan tentang pentingnya Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, menaati kedua orang tua, berbuat baik kepada keluarga dekat dan tetangga, dan harus bersikap baik terhadap semua orang, keempat hal ini kata Imam Surima merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya yang tertera didalam al-Qur’an dan sunah-sunah nabi-Nya. Selain itu, mereka berzikir dan belajar  untuk mengisi pengetahuan dalam hati dan otak mereka. Dan perlu diketahui bahwa akhlak hanya bisa diraih dengan ibadah, sementara karakter dapat didapatkan dari ilmu. Kedua cara perolehan pendidikan karakter dan akhlak ini sudah diajarkan didalam pisabha. Para gadis yang melakukan pisabha diberikan sugesti untuk senantiasa berbuat baik kepada Allah dan kepada seluruh manusia.

Ajaran tentang pembentukan karakter tidak hanya terbatas pada pendidikan orang tua berupa nasihat pribadi, melainkan terbentuk dalam suatu tradisi. Didalam proses menjalani pisabha pendidikan yang diterima gadis pisabha tentang pembentuk sikap dan karakter baik yang diperbuat, terutama tentang akhlak kepada sesama manusia, kepada orang tua, dan  kepada Allah SWT. Imam Surima menyampaikan bahwa.

“Selagi masih kanak-kanak, mangkali tomalawae mansuana, atawa tatalaksanae agama, jari natalapaisie, kemudian noanuaka mai tetangga, atau nopiwau kesalahan, toadarie ana-ana.

Artinya: “selagi masih kanak-kanak, barangkali anak itu pernah melawan orang tuanya, atau anak itu tidak melaksanakan ajaran agama, atau melepaskan agama, kemudian anak itu memiliki kesalahan dengan tetangga, itulah sebabnya anak itu harus dididik. 

Olehnya itu, Imam La Abdullah Mustafa menyampaikan agar anak itu dipisabha, nanti didalam proses pelaksanaan pisabha anak itu bisa diberikan pengajaran sikap, karakter dan akhlak sehingga memiliki perangai yang baik dan terhindar dari perangai yang buruk, agar sang gadis itu suci dan putih hatinya dari sifat-sifat jahat seperti kain putih.

Inilah hal penting yang harus diketahui oleh gadis pisabha bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya dari sifat-sifat buruk, pisabha yang telah dilakukannya menjadi salah satu bukti kepedulian masyarakat kepadanya. Pendidikan itu tidak hanya menjadi kewajiban orang tua secara pribadi, tetapi juga tanggung jawab tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Sebab, gadis yang telah beralih statusnya menjadi dewasa bukan hanya menjadi kebanggaan, kegembiraan orang tua, tetapi kegembiraan, kebanggaan dan rasa senang seluruh masyarakat. Dia yang membawa nama harum daerah dan keluarganya. 

Friday, 10 December 2021

Pisabha Sebagai Penyucian Jasmani dan Rohani

 

Dalam proses pelaksanaan pisabha, gadis remaja diberikan pengajaran tentang taharah, yang didalamnya berisi penjabaran tentang Istinja, Mandi dan Wudhu. Taharah adalah proses untuk menyucikan diri dari kotoran-kotoran atau najis yang menempel di badan. Untuk memperkuat keyakinan sang gadis, para sando lantas memberikan pengajaran doa-doa istinja dan sekaligus maknanya. Tujuannya supaya mereka benar-benar memahami nilai dari kebersihan diri, dan diyakini bahwa itu perintah Allah SWT. Jamia menyampaikan agar gadis-gadis remaja mempelajari teori-teori istinja dengan baik, yaitu piguru misa (belajar terlebih dahulu) mulai dari tata cara istinja hingga menghafal dan memahami akna doa-doanya. Dan kesempatan itu dilakukan dalam melaksanakan pisabha. Artinya, mereka bisa konsetrasi mendengarkan pembinaan dan menghafal doa-doa istinja yang diajarkan. Bahkan dalam kitab-kitab fikih, pembahasan taharah menduduki urutan pertama yang harus diketahui. Nilai-nilai penyucian diri inilah yang dilakukan oleh masyarakat Buton ketika melakukan tradsisi pisabha, khususnya bagi anak-ana gadis mereka. 

Ketika para gadis pisabha berada didalam kurungan mereka dipakaikan lulur kecantikan, lulur ini berfungsi untuk menghaluskan dan memutihkan kulit gadis-gadis remaja yang melakukan pisabha. Sehingga mereka selalu terlihat cantik dan bersih. Dan keberishan termasuk bagian dari Iman “attuhuru syatrul iiman”. Selain pemakaian lulur sebagai media pembersihan kulit. Mereka juga diajarkan istinja, ini perkara yang dianggap penting bagi mayarakat Islam. Kesucian jasmani terkafer pada makna kain putih. Imam Surima mengatakan bahwa gadis remaja yang sudah melakukan pisabha jasmani dan rohaninya akan suci bagai kain putih.

Kain putih selain melambangkan kesucian jasmani, juga melambangkan kesucian rohani, kenapa gadis pisabha juga mendapatkan kesucian rohani, karena ketika didalam kurungan mereka berzikir, mereka melakukan itu karena zikir adalah salah satu perintah yang harus dilakukan ketika melakukan pisabha, zikir diyakini sebagai aktifitas ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi haid. Anjuran berzikir ini, telah disampaikan oleh Umi Sumiyati selaku sando. 

Umi Sumiyati mengungkapkan bahwa gadis pisabha harus melakukan zikir selama berada didalam kurungan, mereka harus senantiasa mengucapkan istighfar dan berbagai zikir lain yang berfungsi untuk senantiasa mengingat Allah dan menggugurkan dosa-dosa, dan ini harus dilakukan dalam keadaan ikhlas. 

Zikir juga bisa mendatangkan ketenangan dan kedamaian hati, tentu gadis remaja pasti medapatkan itu. Al-Qur’apun telah mengungkapkan perintah ini dalam QS. Ar-Ra’du/13:28.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Ayat-ayat tentang zikir dan jabarannya sangat luas dan banyak, jika diurai dalam pembahasan ini tidak akan muat, cukuplah bisa dipahami dari ayat ini bahwa zikir berfungsi untuk menentramkan hati dan menyucikan diri. Maka harapannya kesucian dan ketenangan hati itu tidak hanya didapatkan saat melaksanakan tradisi pisabha, tetapi bisa menjadi pendidikan yang dapat direalisasikan hingga kehidupan berakhir.



Wednesday, 8 December 2021

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

 Proses pensyahadatan telah mewakili satu pemahaman tentang pentingnya menanamkan keyakinan untuk beriman kepada Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Gadis remaja yang melakukan pisabha diharapkan mampu menjadi insan yang memiliki kekuatan Iman. Agar keyakinan mereka kepada Allah tidak goyah. Proses penyembahan kepada Allah tidak boleh dicampur adukkan dengan keyakinan lain, apalagi melakukan kesyirikan. Dan aktifitas dalam kehidupan harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Inilah harapan yang diinginkan setelah proses pisabha selesai. Pengakuan tauhid kata Imam Surima, dengan mengikuti seluruh perintah Allah SWT itu menjadi syarat bagi seorang gadis setelah disyahadatkan. Ia menerima sepenuh hati bahwa ia akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dengan pemahaman dua kalimat syahadat, terbentuklah kepribadian dan kehati-hatian dalam melakukan aktifitas hidup. Apalagi gadis itu telah berubah statusnya menjadi dewasa. Artinya, pengawasan dan perlindungan tidak hanya bermuara lagi dari orang tua, tetapi langsung dari Allah SWT. sehingga kekhawatiran tentang terjerumusnya gadis itu kedalam perbuatan zina dan hamil diluar nikah tidak terjadi. Apalagi ini merupakan salah satu tujuan diantara banyak tujuan lain bagi bentuk pendidikan dalam tradisi pisabha. Diungkapkan oleh salah seorang tokoh adat, La Isiadi. 


“Ande ana-ana notowaho (haid) khususno mowine, habe nakalaporaisie mancuana, ngalaho nakapisabhaisie dhiani, ande ciae, tosasu bho nokohawa i luara, jari mansuana habe nalaporae i toko adat, ande ciae berdosa mancuana.”

Artinya: “Kalau anak-anak perempuan sudah besar (haid), harus dilaporkan kepada orang tua-tua, supaya dilakukan pisabha, dikhawatirkan jika pisabha tidak dilaksanakan, maka kemungkinan besar akan terjadi hamil di luar nikah. Jadi, ayah dan ibunya harus melaporkan tanda kedewasaan itu kepada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, kalau kedua orangnya tidak melaporkannya, maka mereka berdua berdosa.”


Hasil wawancara yang diungkapkan La Isiadi ini, menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk menjaga anak-anak perempuan tidak hanya terletak kepada kedua orang tua atau keluarga mereka. Seluruh masyarakat juga memiliki peran penjagaan. Artinya, jika terjadi hal buruk dan memalukan seperti yang dijelaskan La Isiadi itu, rasa malu tidak hanya diderita si gadis itu, kedua orang tuanya, dan keluarganya, tetapi juga diderita oleh masyarakat. Terutama tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, selaku masyarakat pemerintahan.


Kesucian diri seorang gadis harus selalu terjaga, dan paling utama dari penjagaan itu adalah Allah SWT, Dialah yang memiliki kekuatan besar untuk menjaga mereka. Penanaman nilai-nilai tauhid ini begitu penting. Yakni beriman kepada Allah SWT dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Keyakinan sang gadis kepada Allah SWT harus selalu putih sebagaimana kain putih yang didudukinya di atas peti itu. Maksudnya ia harus selalu bercahaya. Keyakinan itu tidak boleh berubah menjadi hitam dan terbagi. Sang gadis harus selalu menjaganya dari kemurniannya. Dengan senantiasa menjaga dirinya dari kemaksiatan. 

Penanaman nilai-nilai syahadat harus senantiasa terkafer dalam kehidupan sehari-hari, sebab pemahaman syahadat berpengaruh tehadap kebermaknaan hidup dan terjaganya kehormatan. Dengan syahadat kepribadian terbentuk, perbuatannya selalu baik, dan senantiasa menimbulkan perilaku mulia. Bahkan ini diajarkan langsung oleh sando. Metode pengajarannya bisa dikatakan mirip dengan pengajaran Malaikat Jibril ketika mengajari nabi Muhammad SAW konteks Iman, Islam, dan Ihsan yang tertera dalam hadits muslim yang telah saya uraikan sebelumnya. Dimana Jibril mendekatkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW saat mengajarkan rukun Iman dan Islam itu. Konotasi metode ini dengan pendidikan yang diajarkan dalam pisabha yakni antara sando dan gadis yang dipisabha, tidak ada sekat yang memisahkan, pendidikan tauhid diajarkan di tempat yang sangat tertutup dan jauh dari kebisingan dan gangguan sehingga ucapan dan nasehat pengajaran yang diberikan bisa didengar dan dipahami secara jelas karena dekatnya.

Demikian pentingnya syahadat, orang Buton lantas menjadikan tradisi pisabha sebagai media pendidikan tauhid kepada anak-anak perempuan mereka. Sehingga mereka bisa memahami hakikat Islam yang sebenarnya.

Saturday, 27 November 2021

Sekilas Proses Pelaksanaan Pisabha di 19 Dusun Huamual

 Setelah kedua orang tua sang gadis remaja itu mengetahui bahwa anaknya sudah mengalami haid, kedua orangtuanyapun melaporkan kondisi itu kepada sando (guru pisabha), kepada kasisi (tokoh agama), dan parabhela (tokoh adat). Segera setelah pemberitahuan itu, dilakukanlah negosiasi keluarga untuk menyapakati waktu berapa hari pelaksanaan tradisi pisabha

Apabila sudah disepakati jumlah hari pelaksanaannya. Diberitahukanlah kembali kepada sando supaya ia mempersiapkan perangkat-perangkat adat, seperti gunting, silet, baju adat dengan segala mahkotanya, peti atau bantal khusus, beras, kunyit, kain putih, tempayang, dan seluruh perelengkapan lainnya. Seluruh alat-alat itu kemudian diletakkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan dan seluruh alat-alat itu diletakkan setelah dimantra-mantrai oleh sando.

Adapun tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat pada sore atau malamnya, mereka mulai bekerjasama melakukan pembacaan tahlil dan doa selamat, proses ini dilakukan sebelum sang gadis dimasukkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan, biasanya di rumah gantung (kana tadha), namun sesuai perkembangan zaman kamar rumah gantung hampir tidak lagi ditemukan, walaupun masih ada yang melakukannya di rumah gantung. Namun rumah gantung tidak menjadi syarat mutlak, artinya sebagian masyarakat Buton boleh mengurung anak gadis mereka didalam kamar rumah batu, asalkan tempatnya tertutup dari penghilatan orang banyak. Tahlil dan doa selamat yang dilakukan itu sebagai bentuk munajat kepada Allah SWT agar memberikan keselamatan kepada gadis remaja dan kelancaran acara tradisi pisabha hingga selesai. Pembacaan tahlil dan doa selamat ini dilakukan sebanyak tiga kali, yakni ketika baru mau dikurung, dimandikan, dan dikeluarkan dari kurungan untuk diperkenalkan kepada khalayak umum. 

Bacaan tahlil yang dipanjatkan dimulai dari surat al-Fatihah sekali, al-Ikhlas tiga kali dibaca, al-Falaq dan an-Nas masing-masing sekali saja, pada setiap akhir bacaan surat ditambahkan dengan kalimat takbir Allahu Akbar. Lalu dilanjutkan dengan al-Fatihah, al-Baqarah ayat 1-5, ayat kursi dan ayat rukun iman dan beberapa zikir lainnya seperti tahlil yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.


Setelah bacaan tahlil dan doa selamat selesai dilakukan, sando yang dibantu oleh kawan-kawannya mulai memakaikan lulur kepada gadis remaja itu, mulai pula diarahkahan untuk bersabar, karena selama didalam kurungan mereka tidak diperkeankan mandi, makanan mereka dikurangi, bahkan mereka akan berpuasa, mereka juga akan diperintahkan untuk berzikir, selain itu akan diberikan wejangan atau nasehat keagamaan. Mereka akan diberikan pendidikan layaknya orang yang sedang melakukan pelatihan atau diklat selama hari yang telah ditentukan. Kurikulum pertama yang harus diterima adalah ajaran tentang taharah didalamnya meliputi istinja, wudhu, dan mandi, kedua pembinaan tauhid, dan ketiga pembinaan karakter. Adapun lulur yang dipakaikan kepada mereka berupa beras yang dicampur dengan kunyit.


Sumber Foto: Fb Caca Kutub

Sesuai kesepakatan sando, tokoh agama, dan tokoh adat, jika pisabha dilakukan selama delapan hari, maka pada hari ke empat mulai dilakukan pembalikan arah tidur. Pada empat hari pertama mereka menghadap ke kiri, maka empat hari setelahnya mereka harus memulai tidurnya dari arah kanan. Pembalikan arah tidur ini bertujuan untuk mendidik kesabaran dan konsistensi mereka dalam menjalani kebaikan, termasuk mengikuti proses pelaksanaan pisabha sampai selesa.

Setiap pagi setelah bangun tidur dan sore menjelang magrib, mereka mencuci muka dengan ee pireku yang langsung diberikan oleh sando. Air itu sebelumnya telah dibacakan doa selamat oleh salah satu kasisi (tokoh agama), misalnya bapak Imam, bapak Khatib, atau bapak Modim. Ee pireku ini diberikan setiap pagi dan sore selama jumlah hari pada proses pelaksanaan pisabha. Tentu, sando diberikan upah sebagai bentuk penghargaan baginya, karena telah bersedia mengurus dan melakukan pengarahan selama proses pisabha berlangsung.


Setelah dipastikan selama tujuh hari full si gadis sudah bersih dari haidnya, mulailah disampaikan kepada keluarga untuk mengundang para kasisi membacakan doa selamat pertanda bahwa proses mandi akan dilakukan, pembacaan doa itu dilakukan sore hari pada hari ke tujuh, dan malam ke delapan akan dimandikan. Sebab, esok harinya, tepat pada hari ke delapan masuk pada acara puncak.


Sebelum para gadis melakukan mandi bersih, terlebih dahulu mereka berwhudu sesuai yang telah diajarkan oleh sando. Kata sando Mimi Aco Hart bahwa sebelum mandi bersih dilakukan hendaknya dan dianjurkan bagi para gadis berwudhu.[1] Lalu para gadis pisabha membaca niat mandi bersih masing-masing. Namun, setelah wudhu, terlebih dahulu mereka dimandikan dengan air khusus yang sudah dipersiapkan oleh sando yang telah dimantrai dengan doa mandi bersih. Barulah kemudian para gadis pisabha itu melakukan sendiri mandi bersih sesuai ketentuan yang telah diajarkan. Setelah mandi bersih, mereka mulai dikeluarkan dari kamar ke ruang tamu, sambil diiringi sando, namun para gadis pisabha ini masih dalam kondisi tertutup, belum bisa dilihat, dengan disaksikan oleh kasisi/parabhela, tokoh adat dan keluarga. Mereka mulai dilatih ikrar syahadat yang dipimpin oleh salah seorang kasisi. Ikrar latihan ini, dilakukan guna melatih mereka agar tidak keliru dan gugup dalam membaca kalimat itu ketika ditampilkan di acara puncak esok harinya nanti.

Keesokan harinya, tepat pada hari ke delapan, di puncak acara itu, para gadis remaja mulai melakukan mandi dengan sebersih-bersihnya, tentu masih dalam pengarahan sando. Setelah mandi pagi, semua gadis pisabha diarahkan kekamar kurung mereka semula, untuk dilakukan ritual pibhindu yaitu; pendandanan, pengguntingan, pencukuran, pemakaian baju adat, pemakaian wangi-wangian dan lain-lain.


Pada baruga (tenda) telah disiapkan peti atau bantal yang ditutup dengan kain putih, parabhela/kasisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda telah mengambil posisi mereka masing-masing didalam baruga, para penontonpun juga sudah berserakan disamping, didepan, dan di belakang baruga. Para kasisi tepat di depan peti yang akan diduduki gadis-gadis pisabha. Mereka telah menyiapkan seluruh hal yang akan dilakukan saat proses pensyahadatan berlangsung.


Akhirnya, beberapa menit setelah proses pibhindu, para gadis pisabhapun dikeluarkan, mereka berjalan beriringan tepat di belakang sando, kemudian sando mengarahkan mereka duduk di atas peti, sando lalu berdiri dan duduk kembali dibelakang para gadis pisabha sambil memegang kepala-kepala mereka dengan kondisi mulut berkomat kamit. Mungkin membacakan doa agar para gadis pisabha tidak gugup. Merekapun langsung dituntun oleh kasisi mengucapkan beberapa kalimat nasehat yang harus mereka lakukan sebagai gadis yang telah dewasa saat menjalani kehidupan. Kalimat nasehat itu adalah berbakti kepada Allah SWT, berbuat baik kepada kedua orang tua, menghargai sesama manusia, menyayangi makhluk lainnya, dan menjaga diri dari segala kemaksiatan.


Setelah mentalkinkan nasehat, merekapun dituntun mengucapkan istighfar tiga kali, lalu membaca kalmat pengakuan iman yang tertera dalam hadits iman, Islam, dan ihsan dan salah satu ayat dari surat al-baqarah, pada ayat ke 285. Adapun hadits yang berkaitan dengan pengakuan iman tersebut adalah sebagai:

أَنْتُؤْمِنُ بِاللهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الأخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ . رواه مسلم[2]

 

Artinya: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada taqdir, baiknya taqdir dan buruknya taqdir. (Hr. Muslim).

z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u šøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ  

Terjemahnya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.S. al-Baqarah/2:125).[3]

Potongan ayat inilah yang ditalkinkan dan dibaca gadis pisabha sebelum proses pensyahadatan berlansung. Pada proses pensyahadatan itu, gadis remaja harus mengangkat jari telunjuknya, bahkan ada yang lansung menunjuk mulutnya sendiri. Menunjukkan bahwa pengakuan Iman harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, jika Allah menyuruh mengaji, shalat, puasa, zakat, kebaikan, taat orang tua, sayangi sesama, itu harus dilakukan hingga ia meninggalkan dunia. Apalagi arti syadat sendiri adalah tasdiqu bil qalbi (diyakini dengan hati), waiqraru bil lisan (diucapkan dengan lisan), dan wa’amalun bil arkan (diamalkan dengan perbuatan). Artinya, syahadat sekedar diucapkan, tetapi harus diyakini dan dimalkan seluruhnya, yakni pengamalan taqwa.

Setelah proses syahadat, dilanjutkan dengan pembacaan doa, pertanda bahwa acara pensyahadatan selesai. Kemudian, para gadis itu diarakkan keluar oleh sando, lalu diikuti seseorang kasisi yang sudah ditunjuk untuk menyentuhkan tanah dan menyiramkan air laut kepada gadis pisabha tersebut. Setelah penyiraman itu, para gadis pisabha lalu dibawa ke lapangan untuk melakukan tarian pangibi (tarian adat), sebagai bentuk hiburan, masyarakat diperkenaan untuk menari disamping gadis-gadis pisabha dengan syarat harus menaruh uang saweran ke baskom yang telah disiapkan. Para undangan yang ada didalam baruga lantas menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Setelah pangibi usai, maka berakhirlah acara pisabha.


[1] Mimi Aco Hart, (53 Tahun), sando/guru pisabha, wawancara, Ahamolu Hatawano, Pesisir Huamual, 24 Oktober 2017.

[2] Al-Imam Abi Husein Muslim Ibnu al-Hajjaj al-Qusairy al-Naisabury, Sohih Muslim, juz I. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992 M/1413 H), h. 1-3.

[3] Kementrian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sgma Eksagrafika, 2009), h. 49.