Wednesday, 8 December 2021

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

 Proses pensyahadatan telah mewakili satu pemahaman tentang pentingnya menanamkan keyakinan untuk beriman kepada Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Gadis remaja yang melakukan pisabha diharapkan mampu menjadi insan yang memiliki kekuatan Iman. Agar keyakinan mereka kepada Allah tidak goyah. Proses penyembahan kepada Allah tidak boleh dicampur adukkan dengan keyakinan lain, apalagi melakukan kesyirikan. Dan aktifitas dalam kehidupan harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Inilah harapan yang diinginkan setelah proses pisabha selesai. Pengakuan tauhid kata Imam Surima, dengan mengikuti seluruh perintah Allah SWT itu menjadi syarat bagi seorang gadis setelah disyahadatkan. Ia menerima sepenuh hati bahwa ia akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dengan pemahaman dua kalimat syahadat, terbentuklah kepribadian dan kehati-hatian dalam melakukan aktifitas hidup. Apalagi gadis itu telah berubah statusnya menjadi dewasa. Artinya, pengawasan dan perlindungan tidak hanya bermuara lagi dari orang tua, tetapi langsung dari Allah SWT. sehingga kekhawatiran tentang terjerumusnya gadis itu kedalam perbuatan zina dan hamil diluar nikah tidak terjadi. Apalagi ini merupakan salah satu tujuan diantara banyak tujuan lain bagi bentuk pendidikan dalam tradisi pisabha. Diungkapkan oleh salah seorang tokoh adat, La Isiadi. 


“Ande ana-ana notowaho (haid) khususno mowine, habe nakalaporaisie mancuana, ngalaho nakapisabhaisie dhiani, ande ciae, tosasu bho nokohawa i luara, jari mansuana habe nalaporae i toko adat, ande ciae berdosa mancuana.”

Artinya: “Kalau anak-anak perempuan sudah besar (haid), harus dilaporkan kepada orang tua-tua, supaya dilakukan pisabha, dikhawatirkan jika pisabha tidak dilaksanakan, maka kemungkinan besar akan terjadi hamil di luar nikah. Jadi, ayah dan ibunya harus melaporkan tanda kedewasaan itu kepada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, kalau kedua orangnya tidak melaporkannya, maka mereka berdua berdosa.”


Hasil wawancara yang diungkapkan La Isiadi ini, menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk menjaga anak-anak perempuan tidak hanya terletak kepada kedua orang tua atau keluarga mereka. Seluruh masyarakat juga memiliki peran penjagaan. Artinya, jika terjadi hal buruk dan memalukan seperti yang dijelaskan La Isiadi itu, rasa malu tidak hanya diderita si gadis itu, kedua orang tuanya, dan keluarganya, tetapi juga diderita oleh masyarakat. Terutama tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, selaku masyarakat pemerintahan.


Kesucian diri seorang gadis harus selalu terjaga, dan paling utama dari penjagaan itu adalah Allah SWT, Dialah yang memiliki kekuatan besar untuk menjaga mereka. Penanaman nilai-nilai tauhid ini begitu penting. Yakni beriman kepada Allah SWT dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Keyakinan sang gadis kepada Allah SWT harus selalu putih sebagaimana kain putih yang didudukinya di atas peti itu. Maksudnya ia harus selalu bercahaya. Keyakinan itu tidak boleh berubah menjadi hitam dan terbagi. Sang gadis harus selalu menjaganya dari kemurniannya. Dengan senantiasa menjaga dirinya dari kemaksiatan. 

Penanaman nilai-nilai syahadat harus senantiasa terkafer dalam kehidupan sehari-hari, sebab pemahaman syahadat berpengaruh tehadap kebermaknaan hidup dan terjaganya kehormatan. Dengan syahadat kepribadian terbentuk, perbuatannya selalu baik, dan senantiasa menimbulkan perilaku mulia. Bahkan ini diajarkan langsung oleh sando. Metode pengajarannya bisa dikatakan mirip dengan pengajaran Malaikat Jibril ketika mengajari nabi Muhammad SAW konteks Iman, Islam, dan Ihsan yang tertera dalam hadits muslim yang telah saya uraikan sebelumnya. Dimana Jibril mendekatkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW saat mengajarkan rukun Iman dan Islam itu. Konotasi metode ini dengan pendidikan yang diajarkan dalam pisabha yakni antara sando dan gadis yang dipisabha, tidak ada sekat yang memisahkan, pendidikan tauhid diajarkan di tempat yang sangat tertutup dan jauh dari kebisingan dan gangguan sehingga ucapan dan nasehat pengajaran yang diberikan bisa didengar dan dipahami secara jelas karena dekatnya.

Demikian pentingnya syahadat, orang Buton lantas menjadikan tradisi pisabha sebagai media pendidikan tauhid kepada anak-anak perempuan mereka. Sehingga mereka bisa memahami hakikat Islam yang sebenarnya.

Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: