Remaja Masjid IAIN Ambon gelar dialog mengenang jasa para pahlawan, harapannya Masjid Menjadi pusat lahirnya rohani kebangsaan bagi masyarakat. Sehingga tumbuh persatuan dan ukhuwah bagi masyarakat dan bangsa serta lahirnya orang-orang jujur dan adil dalam mengelola negara. Dialog ini dihadiri Pakar Hukum Dr. Nasarudin Umar, M.H. Imam Masjid IAIN Ambon Ustadz Syafril Majapahit, M.Pd. Ketua Takmir Masjid IAIN Ambon Dr. Syarifuddin, M.Sos dan Perwakilan BKPRMI Maluku Ustadz Anin Lihi, M.Ag.
Syarifuddin saat membuka dialog dan dikuatkan alasannya setelah diwawancarai menyatakan bahwa dialog rohani kebangsaan dilakukan sebagai bentuk penguatan rohani kebangsaan. Mengingat Bangsa Indonesia sedang redup cahaya, karena ulama dan negara dibenturkan. Sehingga membutuhkan semacam Rohani Kebangsaan yang dimulai dari Masjid. Masjid sebagai pusat edukasi, pusat pembelajaran, pusat pencerdasan dan pusat pencerahan rohani kebangsaan. Semakin tangguh rohani kebangsaan, maka semakin tangguh persatuan dan persaudaraan kita.
Ketika Rohani Kebangsaan tidak dibenahi sulit rasanya persatuan dan persaudaraan itu terpupuk rapi dan tidak bisa tumbuh subur akibat rohani kebangsaan kita. Semakin krisis rohani kebangsaan bisa melahirkan perpecahan, pertikaian sehingga nasionalisme dan patriotisme semakin menurun. Ketika pendidikan rohani kebangsaan tidak dibiasakan dan tidak ditradisikan dengan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Rohani Kebangsaan dari Indonesia. Ketika rohani kebangsaan tidak didik di Masjid, maka banyak orang memanfaatkan agama dibenturkan dengan negara, padahal ini tidak boleh dibenturkan, agama dan negara seperti jasmani dan rohani tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, penguatan rohani kebangsaan adalah satu perspektif untuk menjaga dan melindungi stabilitas sosial kita, melindungi stabilitas keamanan kita dari terpaan-terpaan krisis ideologi dan krisis kebangsaan. Tema penguatan rohani kebangsaan adalah jalan menuju rohani kebangsaan yang pari purna untuk memperkokoh Indonesia yang lebih baik. Indonesia sehat, Indonesia Cerdas, Indonesia dan Indonesia tangguh. Itu yang akan kita raih dengan penguatan rohani kebangsaan. Lebih lanjut Dr. Syarifuddin.
Anin Lihi, menambahkan, tentu kita tidak menafikan perjuangan basudara dari agama Hindu, Budha, Kristen dan lainnya. Sedikitnya mereka barangkali punya konstribusi juga melawan penjajah. Namun, kalau kita amati justru yang paljng menonjol umat Islam. Bahkan, penelitian tarekat menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya sekedar menang karena bambu runcing. Melainkan ada kekuatan spiritual ketuhanan pada jiwa-jiwa pejuang, terutama para ulama. Artinya, suatu yang tak masuk logika bambu runcing mampu mengalahkan senjata-senjata. Warga Indonesia saat itu sedang dijajah, sedang dizolimi. Karenanya doa yang mereka panjatkan khususnya para ulama tak ada penghalang sedikitpun, ditambah lagi peran metafisika (sifat gaib) saat itu begitu kental, girah perjuangan yang dilakukan sebagai bentuk jihad dan semangat timbul karena Allahu Akbar, bergetar hati mereka, iman mereka menambah. Ketika nama Allah disebut timbul rasa tak gentar dan tak ada rasa takut. Artinya, perjuangan benar-benar lahir dari rohani kebangsaan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dilihat dari konstribusi para pejuang, fakta menunjukan umat Islam begitu banyak yang menjadi pejuang. Alasan ini membuktikan bahwa umat Islam sudah mayoritas di Nusantara. Terlepas dari bali, maluku dan papua. Dan keislaman ini juga diakui oleh orang-orang kristiani Maluku, seperti buru dan daerah maluku lainnya. Ketika saya dirumah sakit Umum Kudamati, seorang yang sedang menjaga anaknya, saat kami bercerita, ia berkata nenek moyang kami dulu itu Islam, tapi karena terjadi kristenisasi. Setidaknya, mereka mengakui kalau mereka awalnya Islam, namun kembali ke Islam sudah sulit bagi mereka. wallahu a'lam. Tutur, Anin Lihi
Anin Lihi menegaskan, Selain itu, kita bisa analisi dari pancasila dan UUD yang sering dibaca pada upacara 17 Agustus bahwa berkat Rahmat Allah. Kata Allah disini sangat memiliki konotasi dengan kata Tuhan yang Maha Esa. Yang sebelumnya rumusan pancasila mirip dengan piagam Madinah yang kita kenal dengan piagam jakarta. Artinya, jiwa kebangsaan murni diraih dari dorongan kalimat Tauhid. Jiwa rohani kebangsaan benar-benar terlihat dan kental pada wajah-wajah para pejuang. Atas dasar inipula mestinya umat Islam tidak boleh melakukan sikap main hakim sendiri membom dan membunuh secara serampangan terhadap umat lain. Sebab hukum ketata negaraan sudah berlaku. Teroris dan jenis kejahatan lain itu benar-benar bukan cerminan umat Islam dan nilai Tauhid. Begitu pula pejabat negara apapun agamanya harus menjiwai dan menanam sikap rohani kebangsaan pada dirinya. Sehingga terhindar dari korupsi, ketidak adilan, penghakiman dan lain-lain. Supaya Nilai Tauhid yang lahir dari Ketuhanan yang Maha Esa dari cerminan keimanan menimbulkan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW, Negara Madinah, walaupun mereka hidup dalam beragam agama, yang negaranya dikelola berdasarkan hukum Islam, tetap dilindungi dan dijamin hak-hak agama lain.
Sikap ini khususnya untuk umat Islam bisa terwujud dengan baik kecuali umat Islam sudah benar-benar memakmurkan masjid, didalamnya mereka melakukan sholat, zikir dan pengkajian ilmu yang benar-benar dapat diwujudkan dari rasa ketuhanan dan nilai rohani kebangsaan. Maka remaja masjid memiliki peran fundamental, juga dukungan BKPRMI agar generasi yang baik bisa disiapkan untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya.
Adapun dari sisi perpektif Qur'an, Wildan Majapahit melihat bahwa kemerdekaan Indonesia termasuk pemberian Allah SWT. Ini tidak bisa dibantah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْم
Artinya: "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal/8: Ayat 17) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com
Ayat ini cukup jelas menerangkan kepada kita, bahkan menariknya penanggalan dan bulan kemerdekaan Indonesia persis dan sama dengan nomor surat pada ayat ini. Benar menakjubkan karunia Allah ini.
Sementara pakar Hukum, Nasaruddin Umar menyatakan bahwa tema "Rohani Kebangsaan" kelihatannya bertentangan dengan sikap pejabat negara. Juga klaim Rohani Kebangsaan bukan satu-satunya cara membangun jiwa pancasila, sebab ada kedaulatan-kedaulatan hukum yang sudah mengaturnya, bahkan sampai pada kedaulatan adat istiadat masyarakat. Walau demikian, memang Rohani Kebangsaan tetap diterima. Karena sikap pejabat negara terkadang tidak mengindahkan nilai-nilai agama yang diajarkan di Masjid. Terkadang nilai kejujuran dan keadilan harus bergeser sedikit bahkan sampai hilang sama sekali ketika berbenturan dengan kepentingan-kepentingan pejabat-pejabat negara.
Berdasarkan pikiran singkat yang dijabarkan oleh Nasaruddin Umar ini, maka jelas pada posisi tertentu nilai pancasila terpinggirkan.

