Adapun kesalahan kedua adalah kelupaan Nabi Adam as. Ia melupakan perjanjian yang telah diikrarkan untuk tidak memakan buah khuldi. Sikap itu mengundang kemurkaan Allah pula. Ia akhirnya diturunkan dari surga ke dunia. Murka Allah alhamdulillah tidak berujung lama. Ia bertobat dan tobatnya diterima sebab penyesalannya yang sangat atas kesalahan yang dilakukannya.
Berdasarkan kedua pragraf di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kesalahan akan selalu ada, seiring keberadaan manusia. Siapa sih yang tidak pernah berbuat kesalahan. Tentu kita semua pernah yah. Tapi ingat yah, keberadaan kesalahan besar itu, hanya dapat ditebus dengan taubat nasuha (menyesal dan bertekad untuk tidak melakukannya). Taubat ini sebagai tebusan atas kesalahan besar yang dilakukan manusia.
Mohon maaf, saya tidak terlalu detail membicarakan tentang kesalahan iblis laknatulllah dan Nabi Adam as. Tapi, paling tidak kedua pragraf di atas sudah menjadi pembuka jalan pikiran bahwa manusia pasti melakukan kesalahan.
Ada dua jenis kesalahan yakni besar dan kecil. Kesalahan ini disebut pula sebagai dosa besar. Misalnya, Syirik dan Sihir. Kedua dosa ini hanya bisa digugurkan dengan taubat nasuha. Jika kedua dosa ini tidak digugurkan sebelum meninggalkan dunia. Maka seseorang akan mendapatkan kesensaraan abadi sebagaimana kesengsaraan yang akan dialami Iblis nantinya. Itu sedikit contoh tentang dosa besar.
Sedangkan dosa-dosa kecil, yang disengaja maupun yang tidak dilakukan dengan sengaja. Misalnya berkata jorok, dan jenis dosa kecil lainnya. Ini akan gugur dengan ibadah sholat yang kita lakukan dan istighfar kita. Makanya, nabi mengajarkan agar beristighfar setelah sholat, minimal tiga kali. Namun, kita perlu juga berhati-hati. Sebab, dosa-dosa kecil jika ditumpuk-tumpuk akan menjadi besar pula. Karenanya, sebagai bentuk ikhtiar, Nabi Saw mengikhtiarkan dosa-dosa dengan senantiasa beristighfar. Bahkan, Nabi saw bertobat setiap harinya 100 kali.
Khususnya sholat, ada pengantar penggugur dosa yang kita lakukan. Yaitu wudhu, aktifitas ini jika dilakukan dengan sempurna maka dosa-dosa kecil kita sebagian akan digugurkan. Wudhu ini menjadi pembuka sholat. Adapun, diterimanya sholat kita bergantung pada kebersihan diri (tharah:bersih badan dan hati) baik bersihnya dari hadas kecil atau besar. Kedua hadas ini harus dihilangkan terlebih dahulu sebelum seseorang melaksanakan sholat. Jika ini tidak dihilangkan maka sholat menjadi sia-sia. Misalnya seseorang harus mandi wajib terlebih dahulu ketika ia sedang junub sebelum berwudhu dan melaksanakan sholat pada umunya.
Karena kita membicarakan tentang hari jum'at. Maka perlu diketahui bahwa pada saat sebelum sholat jum'at dilaksanakan, dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu. Bahkan mandinya sebagaimana mandi wajib, detailnya telah saya jelaskan pada artikel dibawah ini.
Buka linknya di sini: https://www.aninlihi.com/2021/09/keutamaan-hari-jumat-dan-kerugian-bagi.html?m=1
Ketiga perkara ini, mandi wajib, wudhu dan sholat tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Ketiganya harus saling mendukung. Mandi dan wudhu berfungsi sebagai media untuk menyucikan seluruh anggota tubuh kita dari kotoran dan najis, begitu pula dosa-dosa yang sifatnya gaib. Sedangkan sholat berfungsi sebagai penyuci dosa-dosa kita yang gaib dan menciptakan sikap yang terpuji. Sikap terpuji timbul dan dosa-dosa berguguran.
Nabi Saw bersabda: "Dari Sahabat Abi Dzar ra. bahwasannya Baginda Rasulullah Saw. pernah keluar dari rumahnya ketika musim gugur. Beliau mengambil setangkai ranting pohon dan daun-daunnya langsung berguguran. Beliau berkata: "wahai Abu Dzar?., Abu Dzar menyahut, labbaik (aku siap sedia) ya Rasulullah!. Seorang muslim yang menunaikan sholatnya semata-mata karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran dari rantingnya. (HR. Ahmad).
Hadits ini cukup jelas bagi kita. Sholat mampu mengugurkan dosa-dosa kita bagaikan daun-daun yang berguguran. Tapi, ingat yah!. "Ikhlas". Lihat Qur'an surat al-Baiyyinah tentang perintah agar sholat dengan ikhlas.
Jenis sholat tentu banyak, ada sholat sunnah dan ada yang wajib. Nah, yang wajib ini ada harian dan ada pekananan. Memang semuanya bermuara pada pengguguran dosa. Tapi, ada yang berbeda dengan satu sholat ini (jum'at). Sholat ini dilakukan dalam sepekan satu kali dan dilakukan mungkin hanya lebih dari satu jam, namun tahukah kita jika kita hubungkan dengan hadits yang saya sebutkan tadi, maka keuntungannya begitu besar. Dikerjakan hanya se jam lebih, tapi bisa menggugurkan dosa-dosa kita lebih dari sepekan. Simak hadits Nabi Saw di bawah ini.
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian mendatangi sholat jum'at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampuni dosa-dosanya yang dilakukan antara hari itu sampai pada hari jum'at berikutnya dan ditambah dengan tiga hari. Dan barangsiapa yang bermain-main kerikil, maka sia-sialah jum'atnya. (HR. Muslim).
Berdasarkan kedua hadits yang telah saya kemukakan. Menunjukkan bahwa sholat yang dilakukan hendaknya dengan ikhlas, wudhu dengan sempurna, konsetrasi ketika mendengarkan khutbah dan sholat sesuai dengan petunjuk yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw (sholat itu tentu berdasarkan pemahaman ahlinya.
Setelah beberapa hal ini terpenuhi dengan baik. Berguguranlah dosa-dosa yang kita lakukan selama lebih dari sepekan. Masya Allah. Tentu, saya, kita dan engkau pasti mau. Sungguh setelah kita mengetahui perintah ini. Maka marilah kita mencoba untuk memaksimalkan waktu yang singkat itu. Jangan kita sia-siakan.
Selamat melaksanakan sholat jum'at.

