Kisahku di Bulan Desember 2021 (01 Desember 20210
Saat aku sedang membaca buku, menulis dan melakukan pekerjaanku didalam rumah, anakku (Asyfa)
sering datang. Asyfa terkadang berdiri di belakangku, naik diatas pahaku,
menggigit pundakku, menggigit kakikku, mencubit leherku dan mencium pipiku. Jika
aku sedang mengetik tombol labtop, dia
juga mengetiknya, saat merapikan buku di raknya, dia membongkarnya, saat ibunya
sedang berbaring dia naik di atas perut ibunya, diatas kepala ibunya, mencubit
ibunya, menggigit ibunya, bahkan mencium ibunya. Begitulah aktifitas Asyfa saat
kami bersamanya di rumah. Tapi, Ibunya senang dengan tingkah Asyfa, ibunya
tidak pernah marah, sebaliknya malah mendoakan kebaikan kepadanya. Umur Asyfa baru
setahun. Ia mulai aktif beraktifitas, didalam kamar ia senang menurunkan buku
dari raknya, jug sesekali menurunkan peralatan dapur dari raknya, dan
mengalirkan air galon dari krannya. Tetapi, setiap ia melakukan aktifitas, seperti
membongkar buku dari rak, Aku selalu mengatakan “masya Allah, kaka Asyfa sedang
merapikan buku dan suka membacanya”. saat ia membongkar peralatan dapur, aku
mengatakan, “masya Allah, kaka Asyfa sedang merapikan piring atau gelas di
raknya.” Semua aktifitasnya, kami tanggapi sebagai perilaku positif, seperti
itu yang kami maknai dari aktifitas Asyfa. Harapannya kelak dia bisa tumbuh
menjadi anak yg rajin membaca buku, cerdas, dan sholehah.
Aku tidak hanya menghabiskan waktuku untuk belajar, menulis, membaca,
mengajar, dan mengisi kajian. Aku sering menemani anakku bermain, belajar
sambil menggedongnya, mengetik sambil meletakkannya di pangkuanku, dan
menaikkannya di ayunan dan menggoyang ayunanya hingga ia tertidur. Aku juga
bermain lempar bola-bola kecil denganya, menggendongnya sambil bermain, dan
menaruhnya di atas punggungku bermain kuda-kudaan sembari ibunya terkadang yang
memegangnya, terkadang aku sendiri yang memegangnya. Beberapa hari di rumah,
anakku bermain boneka-boneka, aku juga sering menemani meletakkan boneka itu
dihadapannya. Tapi, malam ini permainannya berbeda, setelah aku dan istriku
membelikan seranjang bola-bola kecil warna warni. Aku melihatnya sedang asyik
melempar bola-bola kecilnya yang baru kami beli sore tadi, untuk menambah
semangatnya aku lantas menemaninya, melemparkan bola disampingnya. Melihatku
melakukan itu, Asyfa kegirangan. Ia sampai mengoyang-goyangkan badanya dan
bersorak sambil senyum. Ia sangat bahagia dan senang ketika aku bermain
bersamanya. Selain menemaninya bermain di rumah, aku dan istriku juga
berkeinginan membawanya ke MCM, di tempat permainan anak-anak. Alhamdulillah,
hari ini keinginan itu baru terkabul, inilah kali pertama kami membawa Asyfa di
tempat itu. Tentu, tujuan kami hanya ingin menghiburnya. Selain itu ada pelajaran
penting yang bisa menjadi pengetahuan baginya, walaupun ia sendiri belum
memahami makna permainan itu.
Sebelum kami ke tempat permainan, bertepatan pada jam 11 lebih beberapa
menit, kami berpijak dari toko buku NN menuju parkiran motor. Sewa parkiran
sebesar 3000 rupiah, adapun yang menjaga parkiran itu semua beragama kristen.
Sementara kios kecil di sampin parkiran itu ternyata pemilik kios itu orang
Buton, aku mengenal pemilik kios itu, karena aku sering khutbah di masjid itu,
dan beliau menjadi salah satu pengurus masjid itu.
Setelah membayar uang parkir, kamipun beranjak pergi, sampai di tengah
jalan, masih di atas motor, di dekat lampu merah depan lapangan merdeka, istriku
bergumam,”sayang, aku lapar?”, keluhan istriku itu langsung menggerakkan
bibirku berucap, “ia sayang, segera kita cari tempat makan, kita ke rumah makan
milik orang buton yang ada di Pantai Losari saja, yang didalam pagar itu, rumah
makan itu yang langsung terlintas di benakku. istriku ternyata menyetujui
masukanku makan di warung itu. Kami memang biasa makan di warung itu, selain
enak, nasinya banyak, ikannya besar dan kami juga sudah akrab dengan
pemiliknya. Yaitu seorang ibu tua, yang
bersifat baik dan berhati lembut. Setiap kali kami datang dengan Asyfa ibu itu selalu
menggendong Asyfa, baik disaat kami makan di tempat itu atau tidak. Yang lebih
menarik dari itu semua, harga makanan i warung itu murah meriah, tidak ada
tempat makan menurutku yang pernah aku datangi semurah dan sebanyak makanan yang
disajikan di rumah makan itu menurutku di kota Ambon. Aku mengatakan itu,
karena aku sudah banyak mendatangi tempat makanan, baik karena diajak
teman-temanku atau aku sendiri maupun bersama istriku, jia ada keinginan untuk
makan di luar.
Tidak menunggu lama, Istriku langsung memesan makanannya, penjaga warung
langsung membawa dua piring nasi, sayur dan ikan dibawa belakangan. Tapi, aku
memberitahukan kalau aku tidak makan, karena hari itu aku sedag puasa, pelayan
itu lantas meminta maaf, sekaligus merasa berdosa katanya, karena ketidak
tahuannya. Akupun menimpali, “ah tidak apa-apa.” Sepiring nasi, semangkok
sayur, dan seekor ikan goreng sedang sudah berada di atas meja, istriku langsung
melahapnya, sambil menyuapi anaknya yang sendang kugendong disampingnya (Asyfa).
Alhamdulillah, belum lama kami duduk di rumah makan itu, bunyi lantunan ayat
suci al-Qur’an mulai menggema dari masjid-masjid dari setiap sudu kota, tanda
waktu zuhur sudah dekat. Akupun menyampaikan kepada istriku “sayang, setelah
makan kita langsung menuju MCM yah, kita sholat di musholah MCM saja?” ia
langsung menganggukkan kepala, “iya sayang”, kata isrtriku. Rasa kenyang yang
terdengar bunyinya dari mulut istriku menandakan ia sudah kenyang, piring nasi,
mangkuk sayur, seekor ikan itu habis disantapnya. Alhamdulillah, istriku sudah
kenyang. Kamipun langsung keluar setelah ia makan, lalu melanjutkan perjalanan
ke MCM.
Sampai di MCM kami terlebih dahulu menuju mushollah, memenuhi kewajiban
kami sebagai seorang muslim. Setelah sholat, lansung kami beranjak menuju Gramedia untuk
melihat buku yang berjudul “Multikultural di Pesantren” yang di
pesan ponakanku (Sri Endriani Lihi) yang biasa kami sapa dengan nama Indri.
Tetapi, buku itu tidak ada. Tidak membuang-buang waktu, kami langsung turun
menuju tempat permainan, hari ini kami harus memenuhi niat kami membawa Asyfa
ke tempat permainan anak-anak di MCM itu. Alhamdulillah, sampailah akhirnya,
kami didepan tempat permainan itu, kami langsung mendekati tempat pembayarannya,
tetapi dikasir itu kami tidak melihat orang, penjaga pintu masuk tempat
permainan yang berada di sebelah kiri kami lansung berdiri menuju kasir,
setelah kami berdiri, iapun memanggil penjaga kasir, ternyata penjaga kasir itu
ada didalam ruangannya, ia tidak menyahuti panggilan kami, oh rupanya ia sedang
makan. Kamipun memohon maaf, karena kami tidak tau dia sedang makan, kalau kami
tidak didatangi penjaga pintu masuk itu, mungkin kami akan duduk menunggu
sampai ia selesai makan. Tetapi, penjaga kasir itu langsung berdiri melayani
kami. Alhamdulillah.
Penjaga Kasir itu bertanya, “sudah pernah masuk di sini”, “belum”, jawab
kami. “Oh ia” katanya. “berapa orang yang menemani anaknya bermain”, tanyanya,
“Dua orang” kami menjawab, “lalu kaos kaki ada”, aku menjawab “aku belum
punya”, istriku menimpali “kalau aku sudah”, “anaknya?” bertanya penjaga kasir,
“kalau dia pakai sepatu” jawab kami, penjaga kasir bertanya lagi “kalau begitu,
kaos kaki satu yah, soalnyaa di sini wajib memakai kaos kaki”, “oh ia” serentak
kami berdua menjawab, kami bertanya “lalu berapa harganya mba’?” “90 ribu”
katanya, “oh ia sudah”. Setela istriku membayarnya, kami langsung masuk,
penjaga pintu masuk langsung menyodor kaos kaki hitam putih kepadaku, aku
langsung memakainya, istri dan anakku sudah duluan berada didalam sementara aku
masih memakai kaos kaki.
Melihat beberapa tempat permainan itu dipenuhi bola-bola kecil, Asyfa
kelihatan sudah tidak sabar masuk ke dalam tempat permainan itu. Asyfa begitu
senang bermain didalam tempat yang dipenuhi bola. Seakan-akan Asyfa sedang
mandi bola. Beberapa anak-anak juga memiliki rasa senang yang sama.
Setelah Asyfa merasa letih bermain, akupun juga sama letihnya menemaninya
bermain, kamipun keluar dari tempat permainan itu. Hampir dua jam kami didalam.
Ternyata, lumayan sebuah pekerjaan yang cukup meletihkan. Akhirnya kami kembali
ke rumah.

0 comments: