Friday, 20 May 2022

ASYFA FATIHAH SYAUQILLAH LIHI DAN PERMAIAN DI MCM

 

Kisahku di Bulan  Desember 2021 (01 Desember 20210


Saat aku sedang membaca buku, menulis dan  melakukan pekerjaanku didalam rumah, anakku (Asyfa) sering datang. Asyfa terkadang berdiri di belakangku, naik diatas pahaku, menggigit pundakku, menggigit kakikku, mencubit leherku dan mencium pipiku. Jika aku sedang mengetik  tombol labtop, dia juga mengetiknya, saat merapikan buku di raknya, dia membongkarnya, saat ibunya sedang berbaring dia naik di atas perut ibunya, diatas kepala ibunya, mencubit ibunya, menggigit ibunya, bahkan mencium ibunya. Begitulah aktifitas Asyfa saat kami bersamanya di rumah. Tapi, Ibunya senang dengan tingkah Asyfa, ibunya tidak pernah marah, sebaliknya malah mendoakan kebaikan kepadanya. Umur Asyfa baru setahun. Ia mulai aktif beraktifitas, didalam kamar ia senang menurunkan buku dari raknya, jug sesekali menurunkan peralatan dapur dari raknya, dan mengalirkan air galon dari krannya. Tetapi, setiap ia melakukan aktifitas, seperti membongkar buku dari rak, Aku selalu mengatakan “masya Allah, kaka Asyfa sedang merapikan buku dan suka membacanya”. saat ia membongkar peralatan dapur, aku mengatakan, “masya Allah, kaka Asyfa sedang merapikan piring atau gelas di raknya.” Semua aktifitasnya, kami tanggapi sebagai perilaku positif, seperti itu yang kami maknai dari aktifitas Asyfa. Harapannya kelak dia bisa tumbuh menjadi anak yg rajin membaca buku, cerdas, dan sholehah.

Aku tidak hanya menghabiskan waktuku untuk belajar, menulis, membaca, mengajar, dan mengisi kajian. Aku sering menemani anakku bermain, belajar sambil menggedongnya, mengetik sambil meletakkannya di pangkuanku, dan menaikkannya di ayunan dan menggoyang ayunanya hingga ia tertidur. Aku juga bermain lempar bola-bola kecil denganya, menggendongnya sambil bermain, dan menaruhnya di atas punggungku bermain kuda-kudaan sembari ibunya terkadang yang memegangnya, terkadang aku sendiri yang memegangnya. Beberapa hari di rumah, anakku bermain boneka-boneka, aku juga sering menemani meletakkan boneka itu dihadapannya. Tapi, malam ini permainannya berbeda, setelah aku dan istriku membelikan seranjang bola-bola kecil warna warni. Aku melihatnya sedang asyik melempar bola-bola kecilnya yang baru kami beli sore tadi, untuk menambah semangatnya aku lantas menemaninya, melemparkan bola disampingnya. Melihatku melakukan itu, Asyfa kegirangan. Ia sampai mengoyang-goyangkan badanya dan bersorak sambil senyum. Ia sangat bahagia dan senang ketika aku bermain bersamanya. Selain menemaninya bermain di rumah, aku dan istriku juga berkeinginan membawanya ke MCM, di tempat permainan anak-anak. Alhamdulillah, hari ini keinginan itu baru terkabul, inilah kali pertama kami membawa Asyfa di tempat itu. Tentu, tujuan kami hanya ingin menghiburnya. Selain itu ada pelajaran penting yang bisa menjadi pengetahuan baginya, walaupun ia sendiri belum memahami makna permainan itu.

Sebelum kami ke tempat permainan, bertepatan pada jam 11 lebih beberapa menit, kami berpijak dari toko buku NN menuju parkiran motor. Sewa parkiran sebesar 3000 rupiah, adapun yang menjaga parkiran itu semua beragama kristen. Sementara kios kecil di sampin parkiran itu ternyata pemilik kios itu orang Buton, aku mengenal pemilik kios itu, karena aku sering khutbah di masjid itu, dan beliau menjadi salah satu pengurus masjid itu.

Setelah membayar uang parkir, kamipun beranjak pergi, sampai di tengah jalan, masih di atas motor, di dekat lampu merah depan lapangan merdeka, istriku bergumam,”sayang, aku lapar?”, keluhan istriku itu langsung menggerakkan bibirku berucap, “ia sayang, segera kita cari tempat makan, kita ke rumah makan milik orang buton yang ada di Pantai Losari saja, yang didalam pagar itu, rumah makan itu yang langsung terlintas di benakku. istriku ternyata menyetujui masukanku makan di warung itu. Kami memang biasa makan di warung itu, selain enak, nasinya banyak, ikannya besar dan kami juga sudah akrab dengan pemiliknya.  Yaitu seorang ibu tua, yang bersifat baik dan berhati lembut. Setiap kali kami datang dengan Asyfa ibu itu selalu menggendong Asyfa, baik disaat kami makan di tempat itu atau tidak. Yang lebih menarik dari itu semua, harga makanan i warung itu murah meriah, tidak ada tempat makan menurutku yang pernah aku datangi semurah dan sebanyak makanan yang disajikan di rumah makan itu menurutku di kota Ambon. Aku mengatakan itu, karena aku sudah banyak mendatangi tempat makanan, baik karena diajak teman-temanku atau aku sendiri maupun bersama istriku, jia ada keinginan untuk makan di luar.  

Tidak menunggu lama, Istriku langsung memesan makanannya, penjaga warung langsung membawa dua piring nasi, sayur dan ikan dibawa belakangan. Tapi, aku memberitahukan kalau aku tidak makan, karena hari itu aku sedag puasa, pelayan itu lantas meminta maaf, sekaligus merasa berdosa katanya, karena ketidak tahuannya. Akupun menimpali, “ah tidak apa-apa.” Sepiring nasi, semangkok sayur, dan seekor ikan goreng sedang sudah berada di atas meja, istriku langsung melahapnya, sambil menyuapi anaknya yang sendang kugendong disampingnya (Asyfa). Alhamdulillah, belum lama kami duduk di rumah makan itu, bunyi lantunan ayat suci al-Qur’an mulai menggema dari masjid-masjid dari setiap sudu kota, tanda waktu zuhur sudah dekat. Akupun menyampaikan kepada istriku “sayang, setelah makan kita langsung menuju MCM yah, kita sholat di musholah MCM saja?” ia langsung menganggukkan kepala, “iya sayang”, kata isrtriku. Rasa kenyang yang terdengar bunyinya dari mulut istriku menandakan ia sudah kenyang, piring nasi, mangkuk sayur, seekor ikan itu habis disantapnya. Alhamdulillah, istriku sudah kenyang. Kamipun langsung keluar setelah ia makan, lalu melanjutkan perjalanan ke MCM.

Sampai di MCM kami terlebih dahulu menuju mushollah, memenuhi kewajiban kami sebagai seorang muslim. Setelah sholat,  lansung kami beranjak menuju Gramedia untuk melihat buku yang berjudul “Multikultural di Pesantren” yang di pesan ponakanku (Sri Endriani Lihi) yang biasa kami sapa dengan nama Indri. Tetapi, buku itu tidak ada. Tidak membuang-buang waktu, kami langsung turun menuju tempat permainan, hari ini kami harus memenuhi niat kami membawa Asyfa ke tempat permainan anak-anak di MCM itu. Alhamdulillah, sampailah akhirnya, kami didepan tempat permainan itu, kami langsung mendekati tempat pembayarannya, tetapi dikasir itu kami tidak melihat orang, penjaga pintu masuk tempat permainan yang berada di sebelah kiri kami lansung berdiri menuju kasir, setelah kami berdiri, iapun memanggil penjaga kasir, ternyata penjaga kasir itu ada didalam ruangannya, ia tidak menyahuti panggilan kami, oh rupanya ia sedang makan. Kamipun memohon maaf, karena kami tidak tau dia sedang makan, kalau kami tidak didatangi penjaga pintu masuk itu, mungkin kami akan duduk menunggu sampai ia selesai makan. Tetapi, penjaga kasir itu langsung berdiri melayani kami. Alhamdulillah.

Penjaga Kasir itu bertanya, “sudah pernah masuk di sini”, “belum”, jawab kami. “Oh ia” katanya. “berapa orang yang menemani anaknya bermain”, tanyanya, “Dua orang” kami menjawab, “lalu kaos kaki ada”, aku menjawab “aku belum punya”, istriku menimpali “kalau aku sudah”, “anaknya?” bertanya penjaga kasir, “kalau dia pakai sepatu” jawab kami, penjaga kasir bertanya lagi “kalau begitu, kaos kaki satu yah, soalnyaa di sini wajib memakai kaos kaki”, “oh ia” serentak kami berdua menjawab, kami bertanya “lalu berapa harganya mba’?” “90 ribu” katanya, “oh ia sudah”. Setela istriku membayarnya, kami langsung masuk, penjaga pintu masuk langsung menyodor kaos kaki hitam putih kepadaku, aku langsung memakainya, istri dan anakku sudah duluan berada didalam sementara aku masih memakai kaos kaki.

Melihat beberapa tempat permainan itu dipenuhi bola-bola kecil, Asyfa kelihatan sudah tidak sabar masuk ke dalam tempat permainan itu. Asyfa begitu senang bermain didalam tempat yang dipenuhi bola. Seakan-akan Asyfa sedang mandi bola. Beberapa anak-anak juga memiliki rasa senang yang sama.

Setelah Asyfa merasa letih bermain, akupun juga sama letihnya menemaninya bermain, kamipun keluar dari tempat permainan itu. Hampir dua jam kami didalam. Ternyata, lumayan sebuah pekerjaan yang cukup meletihkan. Akhirnya kami kembali ke rumah.

 

                                                              Foto Pribadi : 

"Ya Allah tolong hadirkan kasih dan sayang kepada kami, agar kami hidup sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah, yang kami bisa pertahankan di dunia ini hingga akhirat kelak".



Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: