Manusia merupakan makhluk Allah yang terdiri dari jasad dan jiwa. Menurut al-Ghazali, jasad dianggap sebagai unsur yang gelap, tebal, termasuk dalam kategori wujud, bersifat rusak, tersusun dan berdebu. Unsur ini tidak bisa disempurnakan kecuali ada unsur lain yang melengkapinya. Al-Ghazali menyebut unsur kedua ini sebagai jiwa yang bersifat jauhar (subtansi), yang menerangi, menemukan, mengerjakan, menggerakkan dan menyempurnakan berbagai alat dan jasa.
Al-Ghazali menyebut jiwa sebagai jauhar yang bersifat sempurna dan tunggal, keberadaannya hanya untuk berzikir, menghafal, berpikir, dan membedakan, juga menerima semua ilmu dan tidak jemu menangkap fenomena dan ilustrasi non material. Jauhar inilah kata al-Ghazali sebagai pemimpin ruh-ruh dan raja yang kuat. Semuanya melayani jauhar dan melaksanakan perintahnya.
Jika demikian penjelasan al-Ghazali tentang jauhar itu, maka dapat saya katakan ia semacam unsur yang memerintah, ia menjadi pemimpin dari keinginan-keinginan manusia. Senada dengan penjelasan ini, al-Ghazali mengutip pendapat para hukama menyebut jauhar itu dengan an-nafs an-nathiqah, al-Qur'an menyebutnya an-nafs al-muthmainnah (jiw yang tenang), ruhul amri dan para sufi menamakannya qalbu.
Artinya, perbedaan jauhar ini hanya pada nama, sedangkan maknanya sama. Adapun qalbu dan ruh berbeda hanya pada pandangan manusia. Jadi, al-muthmainnah, merupakan nama-nama an-nafs an-natiqah, ruh atau qalbu. Inilah yang disebut sebagai jauhar yang hidup, kreatif dan menemukan sesuatu.
Maka jelas bahwa para ulama menamakan jauhar itu dengan ibarat yang berbeda-beda. Ulama ahli kalam mengatakan bahwa jauhar adalah jism yang halus. Mereka tidak melihat perbedaan ruh dan jasat, kecuali dengan sebutan antara yang halus dan ketebalan atau al-lathafah wal kasyafah.
Benarlah kiranya apa yang terdapat didalam ilmu-ilmu hikmah yang disertai dalil-dalil pasti dan bukti nyata bahwa an-nas an-natiqah bukan berupa fisik dan tidak pula benda. Sebab, ruh merupakan urusan Allah. Allah berfirman:
وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku. "(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85).
Didukung oleh ayat ini:
يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27).
ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً
"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)
Penyebutan ruh dan jiwa pada kedua ayat ini, jika dikaji secara mendalam memiliki makna yang sama. Namun, spesifiknya ruh atau jiwa merupakan urusan Allah. Ruh dan jiwa bukan termasuk jism dan bukan pula benda, bahkan ia disebut jauhar yang akan senantiasa ada untuk selamanya tanpa mengalami kerusakan.

The King Casino | Slot Games - Herzaman India
ReplyDeletePragmatic kadangpintar Play's new online slots are herzamanindir.com/ available on the online https://septcasino.com/review/merit-casino/ casino's website and communitykhabar can be played on your phone from septcasino anywhere.