Thursday, 16 September 2021

Jiwa dan Ruh Manusia Menurut al-Ghazali

www.tongkonganislami.net
 

Manusia merupakan makhluk Allah yang terdiri dari jasad dan jiwa. Menurut al-Ghazali, jasad dianggap sebagai unsur yang gelap, tebal, termasuk dalam kategori wujud, bersifat rusak, tersusun dan berdebu. Unsur ini tidak bisa disempurnakan kecuali ada unsur lain yang melengkapinya. Al-Ghazali menyebut unsur kedua ini sebagai jiwa yang bersifat jauhar (subtansi), yang menerangi, menemukan, mengerjakan, menggerakkan dan menyempurnakan berbagai alat dan jasa. 

Al-Ghazali menyebut jiwa sebagai jauhar yang bersifat sempurna dan tunggal, keberadaannya hanya untuk berzikir, menghafal, berpikir, dan membedakan, juga menerima semua ilmu dan tidak jemu menangkap fenomena dan ilustrasi non material. Jauhar inilah kata al-Ghazali sebagai pemimpin ruh-ruh dan raja yang kuat. Semuanya melayani jauhar dan melaksanakan perintahnya.






 

Jika demikian penjelasan al-Ghazali tentang jauhar itu, maka dapat saya katakan ia semacam unsur yang memerintah, ia menjadi pemimpin dari keinginan-keinginan manusia. Senada dengan penjelasan ini, al-Ghazali mengutip pendapat para hukama menyebut jauhar itu dengan an-nafs an-nathiqah, al-Qur'an menyebutnya an-nafs al-muthmainnah (jiw yang tenang), ruhul amri dan para sufi menamakannya qalbu. 

Artinya, perbedaan jauhar ini hanya pada nama, sedangkan maknanya sama. Adapun qalbu dan ruh berbeda hanya pada pandangan manusia. Jadi, al-muthmainnah, merupakan nama-nama an-nafs an-natiqah, ruh atau qalbu. Inilah yang disebut sebagai jauhar yang hidup, kreatif dan menemukan sesuatu.

Maka jelas bahwa para ulama menamakan jauhar itu dengan ibarat yang berbeda-beda. Ulama ahli kalam mengatakan bahwa jauhar adalah jism yang halus. Mereka tidak melihat perbedaan ruh dan jasat, kecuali dengan sebutan antara yang halus dan ketebalan atau al-lathafah wal kasyafah. 

Benarlah kiranya apa yang terdapat didalam ilmu-ilmu hikmah yang disertai dalil-dalil pasti dan bukti nyata bahwa an-nas an-natiqah bukan berupa fisik dan tidak pula benda. Sebab, ruh merupakan urusan Allah. Allah berfirman:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku. "(QS. Al-Isra' 17: Ayat 85).

Didukung oleh ayat ini: 

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ 

"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27).

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً 

"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."(QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)

Penyebutan ruh dan jiwa pada kedua ayat ini, jika dikaji secara mendalam memiliki makna yang sama. Namun, spesifiknya ruh atau jiwa merupakan urusan Allah. Ruh dan jiwa bukan termasuk  jism dan bukan pula benda, bahkan ia disebut jauhar yang akan senantiasa ada untuk selamanya tanpa mengalami kerusakan.

Saturday, 11 September 2021

Antara Iman dan Kema'muran Masjid: Wujud Memanfaatkan Waktu Kepada Allah



"Iman", kata ini memang pendek diucap lidah. Tapi, besar manfaatnya bagi manusia. Ketika iman tumbuh didalam relung jiwa dan hati. Maka jiwa menjadi hidup dan hati menjadi tenang. Iman senantiasa mendorong pada kedekatan kepada Allah. Mendorong pada cinta. Bahkan cinta bisa terwujud pada tempat yang tepat jika iman menyertainya. Sehingga iman adalah perisai yang membuat manusia hidup dalam kedamaian dan kenikmatan. Dengan iman Agama menjadi ringan terlaksana dan tanpa beban.

Iman membawa seseorang pada kehati-hatian. Hati-hati dalam berpikir, hati-hati dalam menaruh perasaan, hati-hati dalam melihat, hati-hati dalam berbicara, hati-hati dalam melangkah, hati-hati dalam mengambil, hati-hati dalam berbuat, dan hati-hati dalam segala hal.







Jika seseorang telah memiliki iman dengan sempurna, maka  tidak ada lagi kata bohong, cacian dan makian. Yang ada hanyalah ucapan yang menyenangkan, tutur kata yang baik, dan perkataan yang berfaedah. 

Iman berfungsi untuk membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak, dan berkepribadian unggul. Pasalnya, tidak ada lagi kata untuk menyianyiakan waktu bagi orang-orang yang beriman. Iman selalu mendorong seseorang memanfaatkan setiap waktu pada aktifitas yang menguntungkan. Senantiasa Belajar dan beramal soleh. 
 
Allah Swt berfirman:
وَا لْعَصْرِ
اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

Demi masa (waktu), seungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. QS. al-Ashr/103:1-3.

Itulah iman, ia menjadi pembuka bagi seseorang dalam melakukan amal, menggerakan seseorang untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.








Iman mampu mendorongan seseorang untuk memanfaatkan dan memaksimalkan ibadah. Sholat jadi tepat waktu dan kemakmuran masjidpun juga terjaga. Maka orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang hatinya ada iman. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ فَعَسٰۤى اُولٰٓئِكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ


"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah 9: Ayat 18).

Demikianlah pentingnya iman. Iman menjadikan masjid hidup. Kegiatan-kegiatan masjid terlaksana, suara bacaan al-Qur'an menggema dan adzanpun demikian. Imanlah yang menjadi jalan penghubung kepada Allah. Sholat menjadi rutin sebagai kendraannya. Taqwa menjadi aktifitas untuk bertemu dengan yang diimani (Allah swt).








Akhirnya, orang yang beriman tidak ada rasa takut pada mereka kecuali kepada Allah, mereka tidak bersedih hati. Allah senantiasa bersama dengan mereka. Itulah orang-orang yang beriman.