Friday, 1 July 2016

KETIKA SHOLAT TERDORONG TANPA ADA YANG MENDORONG


Penulis: Anin Lihi
Pada hari kamis, 30 Juni 2016 Disebuah Masjid di Kampung Amaholu, Saya sedang berdiri melaksanakan Shalat, saat itu saya bersebelahan dengan teman saya Risman, Tibab-tiba datang seseorang mendorong saya, mau membanting saya agar saya jatuh, namun ia tidak bisa melakukan itu. Karena saya masih dalam keadaan konsetrasi Shalat, kedua kalinya dia mendorog saya lagi hingga tiba-tiba saya berada di saf depan masjid pada menit itu pula, rupanya saya sedikit tergelincir dan konsentrasi saya hilang hingga tidak mampu membendung perilaku si dia itu.
Anehnya tidak ada yang melihat siapa yang melakukan itu, bahkan Rismanpun kaget kenapa tiba-tiba saya sudah berada di saf depan Masjid, apalagi hal itu bukan di sengaja melangkah. Ternyata yang mendorong saya itu adalah Jin (Makhluk halus) tidak diketahui namanya. Ketiga kalinya Jin itu mau mendorong saya lagi, saya melihat didepan Majsid itu ada sebuah Gua, di dalam Gua itu sepertinya gelap sekali, tidak ada lampu atau pelita, bahkan cahaya sedikitpun, sepertinya Jin itu ingin agar saya di masukan kedalam Gua itu, tidak di ketahui untuk apa jin melakukan itu dan mau memasukan saya didalam Gua itu.
Tidak menyerah sampai di situ, keempat kalinya jin itu mendorong saya lagi, al-Hamdulillah Jin itu tak mampu lagi mendorong saya, mungkinn disebabkan karena kekhusyuan saya menghadap sang maha segalanya (Allah), ternyata Jinpun tak mampu jika kita bertawakkal kepada Allah. Tak lama kemudian, bahkan membuat saya heran terlengah-lengah, Jin itu tiba-tiba menampakkan dirinya. dengan mata telanjang saya dapat melihatnya. Rupanya Jin itu adalah Jin suruhan, ada orang yang mencoba ingin menyihir saya dengan menyuruh seorang Jin, tidak tau siapa nama Jin itu. Karena tidak mampu Jin suruhan itu mendorong saya, tak lama kemudian wujud asli dari penyihir itu Nampak, mungkin itu tuannya, wajahnya sudah tua, rambutnya panjang dan memakai penutup kepala berwarna putih. Keinginan dari sipenyihir itu ternyata ingin  mengetes Ilmunya kepada  saya, ya mungkinn karena ada sedikit ilmu agama yang saya fahami, dan perkiraan orang tua itu mungkinn saya mempunyai Ilmu semacam Ilmu Ruqyah begitu. Kemudian orang tua itu mencoba menantang saya. Bahkan dikuatkan dengan perkataannya; “ayo lawan saya, orang tua itu bahkan memuji dirinya sendiri, katanya, tidak akan ada yang dapat melawan saya, Ilmu saya hebat, dan saya kuat. dan ilmu yang dimiliki orang Tua itu adalah ilmu Hitam.
Risman teman saya berkata, tidak usah engkau ladeni dan melawannya berilah saja nasehat, kemudian panggil orang tua itu, setelah kupanggil orang tua itu tiba-tiba sudah menjadi dua orang, seumuran dengannya, memakai baju berwarna biru, rambutnya juga panjang dan memakai penutup kepala. Secara kasat mata wajahnya berbeda dengan orang tua yang pertama tadi. Sebelum orang tua itu pergi, kupanggil, hai orang tua, kesini dulu sebentar, jangan dulu pergi, diam dan jangan berkata-kata dulu, Mohon maaf pak tua, begini saja, kami mengakui Ilmu kami sedikit dan tak sekuat ilmu Bapak tetapi sadarlah, ingatlah Allah, ilmu seperti itu tidak ada gunannya dimata Allah, bertobatlah. Namun orang tua itu tidak mempedulikan nasehat itu  bahkan mengatakan akhhhhh……kemudian pergi. Ibarat sekarang ini, kincing belum lurus mau nasehat-nasehat orang tua lagi, pergi belajar dulu banyak-banyak baru nasehati saya, kata orang tua itu.
 
 


Beberapa jam kemudian, saya masih mengobrol dengan teman saya Risman, kemudian datang lagi orang tua itu, dan sudah menjadi empat orang  tua, dengan perawakan yang sama. Datang  menghampiri kami, akhirnya saya lari bersembunyi, sementara risman teman saya tetap diam di tempatnya, dan keempat orang berperawakan sama itu tidak mengganggu Risman justru mencari-cari saya dan hanya ingin mengganggu saya, dan mau menakut-nakuti saya dengan Ilmu Hitam yang mereka punya.
Saat itulah Kuambil sebongkah kertas putih, entah dari mana asalnya, tulisannya berwarna merah, sepertinya tulisan itu ayat al-Qur’an dan doa-doa dari Nabi. Di samping itu, dalam benak kuingat dulu saya mmiliki satu buku kecil tentang Ruqyah (penangkal sihir), kemudian kucari, buku itu, buku yang berjudul “Metode Pengobatan Ruqyah” ditulis oleh Tim Wahdah kota Palu, teman saya Ust. Busman yang memberikan saya. di dalam buku itu berisi keterangan tentang cara-cara meruqyah diri sendiri juga orang lain. Bertujuan untuk mencegah, menghilangkan dan membentengi diri dari sihir para penyihir atau orang yang bersekutu dengan Jin. Peristiwa diataslah yang mendorong membetik hati saya, Hafallah itu untuk membentengi dirimu dari gangguan Jin dan sihir.
Suatu ketika disebuah rumah, berukuran besar, berdinding tehel, pintu depan juga dibuat dari tehel persis seperti dindingnya, dan jika diutup pintu itu kita terkadang bingung mana pintu dan dindingnya, sebab modelnya sama dengan dindingnya. Rumah besar ini dihuni oleh seorang wanita tua. Ditiris rumah disampingnya dibuat juga rumah, pintu belakang dan depan rumah itu sama besar dengan warna cet yang sama. Dibelakang rumah itu di kelilingi air yang sangat jernih, sebuah sungai besar. Didalam rumah tiris itu dihuni seorang lelaki bernama pak dedi.
Pada paruh waktu, saya berjalan di sebuah kota sepertinya kota itu kota ambon, tiba-tiba saya bertemu dengan teman, Rizal Palirone dan beberapa teman perempuan Ariati Tudding dan Nurdiana, masih banyak sebenarnya teman-teman saya, namun hanya beberapa teman saya itu saja kebetulan saya ketemu. Kemudian, Rizal Palirone mengatakan kepada saya: “Hubungkanlah Facebook atau Blogmu agar Tulisanmu bisa di Apload di Fecbook saya juga, supaya saya bisa membaca tulisanmu. Satu pesan yang ia berikan kepada saya adalah “jadilah penulis yang hebat, mungkin terkadang kondisi tubuh kita tidak memungkinkan untuk kita terkenal atau dikenal diluar sana”, Yuniar Masawoy salah seorang teman di Madrasah Aliyah Negeri  (MAN 1 Ambon) yang kebetulan juga ada di situ, kemudian mengatakan “betul apa yang dikatakan Palirone Itu”. Setelah saya menganjak pergi dan kembali meninggalkan  teman-teman saya, saya langsung berangkat menuju rumah nenek tua itu, maksud tujuan saya sebenarnya  ke rumah tiris disebelah rumah besar itu, ingin bertemu dengan pak Dedi atau sering di sapa pak Dedi Ban. Pak Dedi ini memiliki satu toko didalamnya dijual Ban dan Pelak Mobil, toko yang tidak berukuran terlalu besar.
Dirumah Tiris itulah Pak Dedi Ban bercerita, dulu waktu saya sekolah, saya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dari Rumah, padahal jarak antara Rumah dan sekolah itu jauh, bahkan juga melewati satu sungai besar. Namun jauh dan sungai besar itu tidak membuat saya malas ke sekolah, juga tidak membuat saya mengeluh minta  itu minta ini kepada ibu saya.
Kalau kita bandingkan cerita pak Dedi di atas, sepertinya sudah jauh berbeda dengan anak-anak sekolah sekarang. mungkin ada juga anak-anak seperti pak Dedi tapi sepertinya sudah jarang sekali bahkan hampir tidak ada lagi. Terkadang anak sekarang bapak dan Ibunya kewalahan memberi nasehat.
Pernah suatu  ketika di masjid Dar al-Khair kami sedang ngobrol, sebut saja Pak Dedi, Ust. Makmur dan Anin Lihi, Si Anin sedikit menceritakan pengalamannya dulu waktu di Ambon, “ada salah seorang Ibu berkata: Wuh anak-anak sekarang ini tidak ada motor tidak sampai di sekolah dan setelah dibelikan motor sudah dilewati sekolahnya, pusing juga dengan anak-anak sekarang”. Okelah mungkin tidak semua anak, tapi cerita ini adalah salah satu keluhan ibu yang tidak di pahami oleh seorang anaknya.
Kembali ke cerita awal, orang tua berambut panjang itu ternyata dengan ilmu Hitamnya  ingin agar saya menjauhi Allah, namun al-Hamdulillah Allah masih melindungi saya, sampai disitulah kemudian saya bangun dari tidur saya, ternyata itu hanya mimpi.
Akan tetapi mimpi ini sebenarnya bisa di jadikan bahan renungan agar kita dapat berhati-hati dari gangguan Jin dan Syetan serta orang-orang yang memiliki ilmu sihir yang menyihir kita, dan berlindung kepada Allah agar kita selalu dekat kepada-Nya. Mungkin tulisan ini menurut pembaca kurang nyambung, akan tetapi jika pembaca mampu memahami dengan baik terdapat satu motivasi besar terhadap kemandirian teman-teman untuk memotivasi diri menuju kesuksesan teman-teman. Sekian dan terima kasih mohon maaf lahir dan bathin, jika ada kata-kata yang salah tolong dikoreksi sebab itu datangnya dari saya pribadi dan benarnya datangnya dari Allah. Wallahu A’lam Bishowab.