Penulis:
Anin Lihi
Pada
hari kamis, 30 Juni 2016 Disebuah Masjid di Kampung Amaholu, Saya sedang
berdiri melaksanakan Shalat, saat itu saya bersebelahan dengan teman saya
Risman, Tibab-tiba datang seseorang mendorong saya, mau membanting saya agar
saya jatuh, namun ia tidak bisa melakukan itu. Karena saya masih dalam keadaan
konsetrasi Shalat, kedua kalinya dia mendorog saya lagi hingga tiba-tiba saya berada
di saf depan masjid pada menit itu pula, rupanya saya sedikit tergelincir dan
konsentrasi saya hilang hingga tidak mampu membendung perilaku si dia itu.
Anehnya
tidak ada yang melihat siapa yang melakukan itu, bahkan Rismanpun kaget kenapa
tiba-tiba saya sudah berada di saf depan Masjid, apalagi hal itu bukan di
sengaja melangkah. Ternyata yang mendorong saya itu adalah Jin (Makhluk halus)
tidak diketahui namanya. Ketiga kalinya Jin itu mau mendorong saya lagi, saya
melihat didepan Majsid itu ada sebuah Gua, di dalam Gua itu sepertinya gelap
sekali, tidak ada lampu atau pelita, bahkan cahaya sedikitpun, sepertinya Jin
itu ingin agar saya di masukan kedalam Gua itu, tidak di ketahui untuk apa jin
melakukan itu dan mau memasukan saya didalam Gua itu.
Tidak
menyerah sampai di situ, keempat kalinya jin itu mendorong saya lagi,
al-Hamdulillah Jin itu tak mampu lagi mendorong saya, mungkinn disebabkan
karena kekhusyuan saya menghadap sang maha segalanya (Allah), ternyata Jinpun
tak mampu jika kita bertawakkal kepada Allah. Tak lama kemudian, bahkan membuat
saya heran terlengah-lengah, Jin itu tiba-tiba menampakkan dirinya. dengan mata
telanjang saya dapat melihatnya. Rupanya Jin itu adalah Jin suruhan, ada orang yang
mencoba ingin menyihir saya dengan menyuruh seorang Jin, tidak tau siapa nama
Jin itu. Karena tidak mampu Jin suruhan itu mendorong saya, tak lama kemudian
wujud asli dari penyihir itu Nampak, mungkin itu tuannya, wajahnya sudah tua,
rambutnya panjang dan memakai penutup kepala berwarna putih. Keinginan dari sipenyihir
itu ternyata ingin mengetes Ilmunya
kepada saya, ya mungkinn karena ada
sedikit ilmu agama yang saya fahami, dan perkiraan orang tua itu mungkinn saya
mempunyai Ilmu semacam Ilmu Ruqyah begitu. Kemudian orang tua itu mencoba
menantang saya. Bahkan dikuatkan dengan perkataannya; “ayo lawan saya, orang
tua itu bahkan memuji dirinya sendiri, katanya, tidak akan ada yang dapat
melawan saya, Ilmu saya hebat, dan saya kuat. dan ilmu yang dimiliki orang Tua itu
adalah ilmu Hitam.
Risman
teman saya berkata, tidak usah engkau ladeni dan melawannya berilah saja
nasehat, kemudian panggil orang tua itu, setelah kupanggil orang tua itu
tiba-tiba sudah menjadi dua orang, seumuran dengannya, memakai baju berwarna
biru, rambutnya juga panjang dan memakai penutup kepala. Secara kasat mata
wajahnya berbeda dengan orang tua yang pertama tadi. Sebelum orang tua itu
pergi, kupanggil, hai orang tua, kesini dulu sebentar, jangan dulu pergi, diam
dan jangan berkata-kata dulu, Mohon maaf pak tua, begini saja, kami mengakui Ilmu
kami sedikit dan tak sekuat ilmu Bapak tetapi sadarlah, ingatlah Allah, ilmu
seperti itu tidak ada gunannya dimata Allah, bertobatlah. Namun orang tua itu
tidak mempedulikan nasehat itu bahkan
mengatakan akhhhhh……kemudian pergi. Ibarat sekarang ini, kincing belum lurus
mau nasehat-nasehat orang tua lagi, pergi belajar dulu banyak-banyak baru
nasehati saya, kata orang tua itu.
Beberapa
jam kemudian, saya masih mengobrol dengan teman saya Risman, kemudian datang lagi
orang tua itu, dan sudah menjadi empat orang
tua, dengan perawakan yang sama. Datang
menghampiri kami, akhirnya saya lari bersembunyi, sementara risman teman
saya tetap diam di tempatnya, dan keempat orang berperawakan sama itu tidak
mengganggu Risman justru mencari-cari saya dan hanya ingin mengganggu saya, dan
mau menakut-nakuti saya dengan Ilmu Hitam yang mereka punya.
Saat
itulah Kuambil sebongkah kertas putih, entah dari mana asalnya, tulisannya
berwarna merah, sepertinya tulisan itu ayat al-Qur’an dan doa-doa dari Nabi. Di
samping itu, dalam benak kuingat dulu saya mmiliki satu buku kecil tentang
Ruqyah (penangkal sihir), kemudian kucari, buku itu, buku yang berjudul “Metode Pengobatan Ruqyah” ditulis oleh
Tim Wahdah kota Palu, teman saya Ust. Busman yang memberikan saya. di dalam
buku itu berisi keterangan tentang cara-cara meruqyah diri sendiri juga orang
lain. Bertujuan untuk mencegah, menghilangkan dan membentengi diri dari sihir
para penyihir atau orang yang bersekutu dengan Jin. Peristiwa diataslah yang
mendorong membetik hati saya, Hafallah itu untuk membentengi dirimu dari
gangguan Jin dan sihir.
Suatu
ketika disebuah rumah, berukuran besar, berdinding tehel, pintu depan juga
dibuat dari tehel persis seperti dindingnya, dan jika diutup pintu itu kita terkadang
bingung mana pintu dan dindingnya, sebab modelnya sama dengan dindingnya. Rumah
besar ini dihuni oleh seorang wanita tua. Ditiris rumah disampingnya dibuat
juga rumah, pintu belakang dan depan rumah itu sama besar dengan warna cet yang
sama. Dibelakang rumah itu di kelilingi air yang sangat jernih, sebuah sungai
besar. Didalam rumah tiris itu dihuni seorang lelaki bernama pak dedi.
Pada
paruh waktu, saya berjalan di sebuah kota sepertinya kota itu kota ambon, tiba-tiba
saya bertemu dengan teman, Rizal Palirone dan beberapa teman perempuan Ariati
Tudding dan Nurdiana, masih banyak sebenarnya teman-teman saya, namun hanya
beberapa teman saya itu saja kebetulan saya ketemu. Kemudian, Rizal Palirone mengatakan
kepada saya: “Hubungkanlah Facebook atau Blogmu agar Tulisanmu bisa di Apload
di Fecbook saya juga, supaya saya bisa membaca tulisanmu. Satu pesan yang ia
berikan kepada saya adalah “jadilah
penulis yang hebat, mungkin terkadang kondisi tubuh kita tidak memungkinkan
untuk kita terkenal atau dikenal diluar sana”, Yuniar Masawoy salah seorang
teman di Madrasah Aliyah Negeri (MAN 1
Ambon) yang kebetulan juga ada di situ, kemudian mengatakan “betul apa yang dikatakan Palirone Itu”. Setelah
saya menganjak pergi dan kembali meninggalkan teman-teman saya, saya langsung berangkat menuju
rumah nenek tua itu, maksud tujuan saya sebenarnya ke rumah tiris disebelah rumah besar itu, ingin
bertemu dengan pak Dedi atau sering di sapa pak Dedi Ban. Pak Dedi ini memiliki
satu toko didalamnya dijual Ban dan Pelak Mobil, toko yang tidak berukuran
terlalu besar.
Dirumah
Tiris itulah Pak Dedi Ban bercerita, dulu waktu saya sekolah, saya pergi ke
sekolah dengan berjalan kaki dari Rumah, padahal jarak antara Rumah dan sekolah
itu jauh, bahkan juga melewati satu sungai besar. Namun jauh dan sungai besar
itu tidak membuat saya malas ke sekolah, juga tidak membuat saya mengeluh minta
itu minta ini kepada ibu saya.
Kalau
kita bandingkan cerita pak Dedi di atas, sepertinya sudah jauh berbeda dengan
anak-anak sekolah sekarang. mungkin ada juga anak-anak seperti pak Dedi tapi
sepertinya sudah jarang sekali bahkan hampir tidak ada lagi. Terkadang anak
sekarang bapak dan Ibunya kewalahan memberi nasehat.
Pernah
suatu ketika di masjid Dar al-Khair kami
sedang ngobrol, sebut saja Pak Dedi, Ust. Makmur dan Anin Lihi, Si Anin sedikit
menceritakan pengalamannya dulu waktu di Ambon, “ada salah seorang Ibu berkata:
Wuh anak-anak sekarang ini tidak ada motor tidak sampai di sekolah dan setelah
dibelikan motor sudah dilewati sekolahnya, pusing juga dengan anak-anak
sekarang”. Okelah mungkin tidak semua anak, tapi cerita ini adalah salah satu
keluhan ibu yang tidak di pahami oleh seorang anaknya.
Kembali
ke cerita awal, orang tua berambut panjang itu ternyata dengan ilmu Hitamnya ingin agar saya menjauhi Allah, namun
al-Hamdulillah Allah masih melindungi saya, sampai disitulah kemudian saya
bangun dari tidur saya, ternyata itu hanya mimpi.
Akan
tetapi mimpi ini sebenarnya bisa di jadikan bahan renungan agar kita dapat
berhati-hati dari gangguan Jin dan Syetan serta orang-orang yang memiliki ilmu
sihir yang menyihir kita, dan berlindung kepada Allah agar kita selalu dekat
kepada-Nya. Mungkin tulisan ini menurut pembaca kurang nyambung, akan tetapi
jika pembaca mampu memahami dengan baik terdapat satu motivasi besar terhadap
kemandirian teman-teman untuk memotivasi diri menuju kesuksesan teman-teman.
Sekian dan terima kasih mohon maaf lahir dan bathin, jika ada kata-kata yang
salah tolong dikoreksi sebab itu datangnya dari saya pribadi dan benarnya
datangnya dari Allah. Wallahu A’lam Bishowab.

