Monday, 6 September 2021

Fungsi Masjid Ala Nabi SAW Sudahkah Diikuti: Menuju Masjid Solutif



Nabi Muhammad Saw telah mengetahui keutamaan membangun masjid. Karenanya beliau memberi motivasi bagi orang-orang yang membangun masjid. Beliau bersabda:


"Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan baginya semisal itu di surga." (HR. Bukhari, no 450 dan Muslim no 533). Demikian pula dalam Hadits Ibnu Majah. "Barangsiapa membangun masjid Allah di bumi, walaupun hanya seperti rumah burung belibis pasir, maka akan Allah bangunkan satu rumah baginya di surga." (HR. Ibnu Majah, no.73). 

Sungguh sangat senang hati ini jika kita dibangunkan sebuah rumah di surga. Jangankan rumah, dapat emperan surga saja kata sebagian orang sudah sangat senang.

Termasuk motivasi ini bagi yang terlibat dalam pekerjaan masjid. Kalau masjid dalam hadits ini dipahami sebesar rumah burung, tentu itu seuatu yang mustahil. Jadi, hadits ini dapat kita pahami sebagai konstribusi kita terhadap pembuatan masjid walaupun sedikit. Nah, ganjaran yang sedikit itu dibalas dengan  dibangunkan sebuah rumah. Asalkan kita ikhlas dalam bekerja. Demikian barangkali yang saya pahami tentang hadits ini.

Namun, perlu diketahui bahwa capaian rumah di surga tidak bisa didapat hanya karena sudah membangun masjid. Tetapi, butuh keikhlasan dan menekan riya. 

Kalau kita lihat hadits ini. Kita wallahu 'a'lam barangkali bisa menganalisis hadits ini kepada pemikiran yang lebih dalam lagi. Ada dua kata yang saya garis bawahi yakni "Rumah" dan "Surga". Bicara rumah, itu bicara tempat berdiam diri dan bicara surga bicara tentang ketenangan diri. Artinya, masjid berfungsi sebagai tempat untuk memberikan ketenangan. Ketenangan ini muncul dari hasil spiritual yang dilakukan oleh seorang hamba di masjid. Berzikir, Sholat dan Membaca al-Qur'an. Ketiga aktifitas ini merupakan alat komunikasi langsung kepada Pemilik Masjid. Sebab, sang pemilik itulah yang memberi ketenangan jiwa pada tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.








Tahukah kita bahwa masjid itu rumah sang pencipta yang penuh berkah dan yang penuh kesejukan. Maka yang membangun maupun yang menjadi tamu Allah di Masjid pasti juga diberi keberkahan dan ketenangan. Jika, kita ingin membahas masalah kampung, Desa, Kecamatan, bahkan negara. Di Masjid jauh lebih cocok. Pembicaraan kita didalamnya menjadi berkah dan hasilnyapun juga bisa menjadi berkah. Karenanya tercipta negara, kota, kabupaten, atau kampung yang baldatun toiyyibatun warabbun ghafuur. Negara aman, damai dan sejahtera. Mereka menjadi orang-orang yang berani dan tanpa rasa takut. 

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.""
(QS. Fussilat 41: Ayat 30)







Membangun masjid telah menjadi rencana utama Baginda Nabi Muhammad saw. Olehnya itu,  ketika beliau hijrah ke Madinah aktifitas pertama yang dilakukan nabi adalah membangun masjid. Pikiran ini memberi pengetahuan bagi kita bahwa masjid adalah ujung tombak peradaban atau pusat peradaban besar bagi kemajuan umat Islam. Ditempat inilah segala urusan umat dibahas dan dibicarakan. 

Lantas bagaimanakah fungsi masjid ala nabi itu?. Apakah hanya sekedar sebagai tempat ritual semata sebagaimana yang sudah saya uraikan di atas?. Tentu tidak hanya itu. 

Nabi menjadikan masjid sebagai wadah multi fungsi. Tentu, fungsi yang dimaksud sangat berkaitan dengan kebaikan umat yang diayomi. Hal ini dapat dilihat dari proses yang dilakukan nabi didalam masjid saat beliau membangun Negara Madinah. Adapun beberapa fungsi masjid  ala Nabi saw adalah sebagai berikut:




1. Tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Masjid sebagai tempat menemui Allah. Melakukan segala aktifitas ibadah spiritual.


2. Tempat pendidikan. Maksudnya tempat untuk menerima pengajaran Islam dan bimbingan yang berkaitan dengannya. 

Melihat fenomena masjid di Indonesia dan khususnya Maluku. Walaupun sebagian masjid sudah membuat kajian hadits, fiqih, tafsir, aqidah, tajwid dan ilmu lain yang mendukung kemajuan pendidikan Islam bagi masyarakat dengan model ceramah atau kajian ilmiah seperti seminar, tabliq akbar dan halaqoh-halaqoh. Namun, kegiatan seperti ini belum maksimal dilakukan. Bahkan ada yang tidak melakukan kegiatan seperti ini sama sekali.

Pengurus masjid kelihatannya tidak kreatif melakukan kegiatan untuk mencerdaskan jamaah dan masyarakat disekitar masjid. Padahal, dana yang dimiliki banyak dan bisa diolah dengan mendatangkan para pakar untuk memberi kajian-kajian ilmu agama. Jelas dipengumuman sebelum khutbah jum'at. Ada yang dananya 50, 100, 200 juta bahkan 1 milyar. Tapi, menghidupkan kajian-kajian Islam di masjid kok begitu susah. 

3. Balai Pertemuan dan Tempat untuk Mempersatukan berbagai unsur kabilah dan sisa perselisihan pada masa jahiliyah.

Kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak pulau, beragama suku, daerah dan kampung. Konflik suku dan kampung sering kita saksikan terjadi. Kalau di Maluku ini bukan hal tabu lagi. Bahkan senyawa lingkungan dan karakter orang maluku hampir mirip dengan kondisi sosial arab dahulu. Sebagaimana pada masa arab lampau, maluku juga sering konflik antar suku dan kampung. Padahal notabenenya suku dan kampung itu ada hubungan persaudaraan. Baik saudara dalam rumpun suku maupun saudara seaqidah (sesama muslim).
Untuk menyelesaikan konflik semacam ini sebenarnya bisa dilakukan musyawarah damainya di masjid. 

4. Tempat pengatur segala urusan dan sekaligus menjadi gedung parlemen untuk bermusyawarah dalam menjalankan roda pemerintahan. 
Benarlah bahwa Islam itu mengurus kemaslahatan umat dari yang terkecil hingga yang terbesar. Sayangnya ada oknum bejat ingin memisahkan antara hubungan negara dan masjid. Negara tak usah dibahas di masjid. Masjid khusus tempat ibadah doang, ritual doang, dan tempat buang dosa. 

Pantas saja negara susah diurus kesejahteraannya, kebagusan ekonominya, kemakmuran rakyatnya, dan kedamaian negaranya. Pantas saja rakyat ditindas dan pemimpin difitnah. Memisahkan masjid dan negara itu perkara bahaya. Apalagi membenturkan ulama dan negara. Jadi, sudah saatnya mengembalikan ruh musyawarah parlemen dalam masjid. Kan kalau di masjid berbohong pasti takut dosa. Sebab, masjid itu punya sugesti kuat pada kenyamanan hati. Ruang berbohong hanya pada mereka yang munafik. 

5. Tempat tinggal orang-orang muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak mempunyai kerabat, dan masih bujangan. 

Masjid menjadi sarana bagi orang-orang miskin. Patut diacungi jempol jika ada pengurus masjid yang mampu mengelola keuangan masjid dengan menyedekahkan makanan kepada orang-orang miskin yang ada disekitar. 

Luar biasa Masjid Joko Karyan, patut diberi apresiasi. Patut dicontohi. Kas masjid selalu nol. Pantas saja. Uangnya selalu diputar untuk kepentingan masjid dan fasilitas penyenangan jamaah. Tamupun dibuatkan penginapan, bahkan ada yang dari jauh dipersilahkan tinggal dipenginapan masjid itu gratis, makan juga gratis dan sampai pulangpun dibelikan tiketnya. 

Apagunanya masjid megah, segala fasilitas masjid sudah terpenuhi, uang kasnya miliaran, tapi banyak masyarakat yang ada disekeliling masjid kelaparan dan tak punya tempat tidur. Lebih aneh lagi, kalau uang masjid dikorupsi hanya untuk kepentingan pribadi pengurus masjid. Kasihan. 

Saya sangat berharap fungsi masjid ala Nabi saw ini dilakukan. Jangan dulu dalam ruang lingkup negara. Coba diawalilah dari kampung-kampung, dusun-dusun, desa-desa, kecamatan-kecamatan, kabupaten-kabupaten dan kota-kota. Jadikan masjid sebagai tempat kita untuk menimba ilmu, bermusyawarah untuk kemajuan daerah, dan membantu meringankan beban fakir miskin serta membantu kekurangan masjid-masjid lainnya yang ada disekitar masjid kita. Jangan seakan-akan masjid ini dan masjid sana tidak saling membantu. 






Setelah kita melihat beberapa fungsi masjid ala nabi ini. Barulah kita sadar, bahwa pengurus masjid dituntut kreatif dalam mengelolanya. Kreatifitas itu  menjadi bentuk motivasi bagi jamaah untuk memakmurkan masjid. Apalagi kita dengar masjid sekarang ini memiliki banyak uang. Teman-teman pasti dengar sendiri ketika uang kas masjid itu dilaporkan. Ada yang ratusan juta, bahkan miliaran. Masjidnya sudah mewah. Namun, kasihan, minim kajian keagamaan, kurang manajemen pengelolaan keuangan, pengelola tidak peka terhadap pentingnya pemakmuran masjid dengan melakukan beragam kegiatan dan lain sebagainya.

Semoga kita bisa berkaca dari ide Nabi saw ini dan menjadikannya sebagai contoh dalam membangun perdaban umat sekarang ini. Mulai dari masjid dan berakhir dari masjid.  

 

Tuesday, 17 August 2021

Remaja Masjid IAIN Ambon Sukseskan 17 Agustus 1945 dengan Dialog Rohani Kebangsaan

 

Remaja Masjid IAIN Ambon gelar dialog mengenang jasa para pahlawan, harapannya Masjid Menjadi pusat lahirnya rohani kebangsaan bagi masyarakat. Sehingga tumbuh persatuan dan ukhuwah bagi masyarakat dan bangsa serta lahirnya orang-orang jujur dan adil dalam mengelola negara. Dialog ini dihadiri Pakar Hukum Dr. Nasarudin Umar, M.H. Imam Masjid IAIN Ambon Ustadz Syafril Majapahit, M.Pd.  Ketua Takmir Masjid IAIN Ambon Dr. Syarifuddin, M.Sos dan Perwakilan BKPRMI Maluku Ustadz Anin Lihi, M.Ag. 



Syarifuddin saat membuka dialog dan dikuatkan alasannya setelah diwawancarai menyatakan bahwa dialog rohani kebangsaan dilakukan sebagai bentuk penguatan rohani kebangsaan. Mengingat Bangsa Indonesia sedang redup cahaya, karena ulama dan negara dibenturkan. Sehingga membutuhkan semacam Rohani Kebangsaan yang dimulai dari Masjid. Masjid sebagai pusat edukasi, pusat pembelajaran, pusat pencerdasan dan pusat pencerahan rohani kebangsaan. Semakin tangguh rohani kebangsaan, maka semakin tangguh persatuan dan persaudaraan kita.

Ketika Rohani Kebangsaan tidak dibenahi sulit rasanya persatuan dan persaudaraan itu terpupuk rapi dan tidak bisa tumbuh subur akibat rohani kebangsaan kita. Semakin krisis rohani kebangsaan bisa melahirkan perpecahan, pertikaian sehingga nasionalisme dan patriotisme semakin menurun. Ketika pendidikan rohani kebangsaan tidak dibiasakan dan tidak ditradisikan dengan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Rohani Kebangsaan dari Indonesia. Ketika rohani kebangsaan tidak didik di Masjid, maka banyak orang memanfaatkan agama dibenturkan dengan negara, padahal ini tidak boleh dibenturkan, agama dan negara seperti jasmani dan rohani tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, penguatan rohani kebangsaan adalah satu perspektif untuk menjaga dan melindungi stabilitas sosial kita, melindungi stabilitas keamanan kita dari terpaan-terpaan krisis ideologi dan krisis kebangsaan. Tema penguatan rohani kebangsaan adalah jalan menuju rohani kebangsaan yang pari purna untuk memperkokoh Indonesia yang lebih baik. Indonesia sehat, Indonesia Cerdas, Indonesia dan Indonesia tangguh. Itu yang akan kita raih dengan penguatan rohani kebangsaan. Lebih lanjut Dr. Syarifuddin.

Anin Lihi, menambahkan, tentu kita tidak menafikan perjuangan basudara dari agama Hindu, Budha, Kristen dan lainnya. Sedikitnya mereka barangkali punya konstribusi juga melawan penjajah. Namun, kalau kita amati justru yang paljng menonjol umat Islam. Bahkan, penelitian tarekat menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya sekedar menang karena bambu runcing. Melainkan ada kekuatan spiritual ketuhanan pada jiwa-jiwa pejuang, terutama para ulama. Artinya, suatu yang tak masuk logika bambu runcing mampu mengalahkan senjata-senjata. Warga Indonesia saat itu sedang dijajah, sedang dizolimi. Karenanya doa yang mereka panjatkan khususnya para ulama tak ada penghalang sedikitpun, ditambah lagi peran metafisika (sifat gaib) saat itu begitu kental, girah perjuangan yang dilakukan sebagai bentuk jihad dan semangat timbul karena Allahu Akbar, bergetar hati mereka, iman mereka menambah. Ketika nama Allah disebut timbul rasa tak gentar dan tak ada rasa takut. Artinya, perjuangan benar-benar lahir dari rohani kebangsaan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Dilihat dari konstribusi para pejuang, fakta menunjukan umat Islam begitu banyak yang menjadi pejuang. Alasan ini membuktikan bahwa umat Islam sudah mayoritas di Nusantara. Terlepas dari bali, maluku dan papua. Dan keislaman ini juga diakui oleh orang-orang kristiani Maluku, seperti buru dan daerah maluku lainnya. Ketika saya dirumah sakit Umum Kudamati, seorang yang sedang menjaga anaknya, saat kami bercerita, ia berkata nenek moyang kami dulu itu Islam, tapi karena terjadi kristenisasi. Setidaknya, mereka mengakui kalau mereka awalnya Islam, namun kembali ke Islam sudah sulit bagi mereka.  wallahu a'lam. Tutur, Anin Lihi

Anin Lihi menegaskan, Selain itu, kita bisa analisi dari pancasila dan UUD yang sering dibaca pada upacara 17 Agustus bahwa berkat Rahmat Allah. Kata Allah disini sangat memiliki konotasi dengan kata Tuhan yang Maha Esa. Yang sebelumnya rumusan pancasila mirip dengan piagam Madinah yang kita kenal dengan piagam jakarta. Artinya, jiwa kebangsaan murni diraih dari dorongan kalimat Tauhid. Jiwa rohani kebangsaan benar-benar terlihat dan kental pada wajah-wajah para pejuang. Atas dasar inipula mestinya umat Islam tidak boleh melakukan sikap main hakim sendiri membom dan membunuh secara serampangan terhadap umat lain. Sebab hukum ketata negaraan sudah berlaku. Teroris dan jenis kejahatan lain itu benar-benar bukan cerminan umat Islam dan nilai Tauhid. Begitu pula pejabat negara apapun agamanya harus menjiwai dan menanam sikap rohani kebangsaan pada dirinya. Sehingga terhindar dari korupsi, ketidak adilan, penghakiman dan lain-lain. Supaya Nilai Tauhid yang lahir dari Ketuhanan yang Maha Esa dari cerminan keimanan menimbulkan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW, Negara Madinah, walaupun mereka hidup dalam beragam agama, yang negaranya dikelola berdasarkan hukum Islam, tetap dilindungi dan dijamin hak-hak agama lain.

Sikap ini khususnya untuk umat Islam bisa terwujud dengan baik kecuali umat Islam sudah benar-benar memakmurkan masjid, didalamnya mereka melakukan sholat, zikir dan pengkajian ilmu yang benar-benar dapat diwujudkan dari rasa ketuhanan dan nilai rohani kebangsaan. Maka remaja masjid memiliki peran fundamental, juga dukungan BKPRMI agar generasi yang baik bisa disiapkan untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya.

Adapun dari sisi perpektif Qur'an, Wildan Majapahit melihat bahwa kemerdekaan Indonesia termasuk pemberian Allah SWT. Ini tidak bisa dibantah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْم

Artinya: "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal/8: Ayat 17) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com

Ayat ini cukup jelas menerangkan kepada kita, bahkan menariknya penanggalan dan bulan kemerdekaan Indonesia persis dan sama dengan nomor surat pada ayat ini. Benar menakjubkan karunia Allah ini. 

Sementara pakar Hukum, Nasaruddin Umar menyatakan bahwa tema "Rohani Kebangsaan" kelihatannya bertentangan dengan sikap pejabat negara. Juga klaim Rohani Kebangsaan bukan satu-satunya cara membangun jiwa pancasila, sebab ada kedaulatan-kedaulatan hukum yang sudah mengaturnya, bahkan sampai pada kedaulatan adat istiadat masyarakat. Walau demikian, memang Rohani Kebangsaan tetap diterima. Karena sikap pejabat negara terkadang tidak mengindahkan nilai-nilai agama yang diajarkan di Masjid. Terkadang nilai kejujuran dan keadilan harus bergeser sedikit bahkan sampai hilang sama sekali ketika berbenturan dengan kepentingan-kepentingan pejabat-pejabat negara. 

Berdasarkan pikiran singkat  yang dijabarkan oleh Nasaruddin Umar ini, maka jelas pada posisi tertentu nilai pancasila terpinggirkan.