Friday, 22 January 2021

BELAJAR DARI MALAIKAT DALAM MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH

 Oleh: Anin Lihi

Kita telah membaca dan mendengarkan kisah-kisah yang diajarkan didalam al-Qur’an. Darinya diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan terbaik dibanding makhluk lainnya, hatta Malaikat sekalipun. Manusia itu cerdas, manusia itu gagah, manusia itu indah, manusia itu taat. Itulah gelar sepatutnya dimiliki manusia. Walaupun ia dianggap sebagai makhluk terbaik dan memiliki semua kesempurnaan itu, belajar tetap menjadi suatu keharusan. Baik mempelajari ilmu duniawi maupun ukhrawi. Masing-masing punya nilai manfaat dan saling mendukung. Namun yang paling diutamakan adalah ilmu ukhrawi (agama). Seseorang boleh saja berguru kepada sesama manusia, kepada alam bahkan Malaikat. Belajar kepada Malaikat termasuk perintah yang diajarakan oleh Rasulullah Saw. Terutama yang dipelajari adalah sikap ketaatannya kepada Allah Swt.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Malaikat termasuk makhluk yang paling ta’at, rapi dan selalu benar. Malaikat tidak pernah malas dan membangkang terhadap perintah Allah Swt. Sekali diperintah, langsung diselesaikan dan tidak menunda-nundanya. Saat itu diperintah, saat itupula dikerjakan. Jam dan hari itu diperintah, jam dan hari itupula dilaksanakan. Apapun yang dikerjakannya tidak pernah salah dan keliru. Mereka tidak ribut ketika berada dalam jamaah. Intinya, para malaikat itu disiplin, rapi, rajin, tenang, tepat waktu dan selalu dalam kebenaran. Status kelurbiasaan Malaikat ini bisa dilewati oleh manusia, jika manusia mampu menyadari fitrah potensi keluarbiasaannya. Inilah alasan bahwa manusia bisa lebih baik daripada Malaikat dan bisa pula lebih buruk dari setan. Karenanya belajar dari malaikat itu juga penting dan harus diketahui.

Para malaikat merapikan barisan-barisannya dengan sempurna. Barisan mereka ketika mengahadap Allah Swt., tidak bengkok-bengkok dan tidak renggang satu sama lain. “Dan datanglah Tuhanmu dan Malaikat berbaris-baris” (QS al-Fajr/89: 22). Didalam barisan-barisan itu mereka tidak saling berkata-kata, mereka tenang. Kecuali mereka yang dizinkan oleh Allah Swt., untuk berbicara.  Barisan mereka rapat, rapi dan tidak ada cela-celanya sedikitpun. Satu sama lain saling berhimpitan bak rapatnya dua pintu kebaya. Shaf-shaf mereka rapi, rapat dan lurus. Para malaikat tidak membuat barisan di belakang sendiri sebelum barisan yang pertama sempurna. Begitulah Nabi Saw., mengajarkan tatacara berbaris didalam shalat berjamaah kepada umatnya. Beliau Saw., bersabda:

عَنْ جَابِرِبْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فّقّالَ: أَلَا تَصُوْفُوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ:يُتِمُّوْنَ صُفُوْفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُوْنَ فِصَّفِّ (رواه مسلم).

Dari Jabir bin Samurah ra., berkata: Pernah Rasulullah Saw., keluar menemui kami lalu besabda: ‘mengapa kamu sekalian tidak berbaris seperti malaikat berbaris dihadapan Tuhan-Nya?’ Kami lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Bagaimanakah para Malaikat itu berbaris dihadapan Tuhan-Nya? Beliau bersabda: ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan merapatkan shaf. (HR. Muslim, no. 430).

Nabi Saw., mengajukan pertanyaan yang tegas, lugas dan singkat kepada sahabatnya. Singkat namun sarat makna. Olehnya itu, supaya para sahabat bisa memahami makna dari ungkapan yang dikemukakannya, mereka bertanya. Para sahabat belum tau, bagaimanakah para malaikat itu bershaf-shaf. Apalagi status Malaikat itu gaib. Tentu hanya Nabi Muhammad Saw., yang lebih banyak tau ihwal kehidupan para Malaikat. Karena itu, mereka bertanya dengan penuh harap, agar bisa mendapatkan jawaban dan memahami maksud dari ucapan Nabi saw., tersebut. Para sahabat orang yang cerdas. Tetapi, kecerdasan itu bukanlah alasan bagi mereka untuk beramal atas keinginan sendiri. Mereka melakukan amalan-amalan ibadah bukan atas dasar hawa nafsu. Namun, beramal di atas bimbingan Nabi Saw., dengan pengetahuan yang sempurna. Beramal di atas pundak ilmu, iman dan ketaqwaan. Itulah sebabnya, mereka bertanya kepada orang yang mengetahuinya dan memahaminya.

Para sahabat paham bahwa al-Qur’an mengajarkan kepada setiap manusia untuk bertanya jika tidak memahami pesan dan nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.

!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  

Dan kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl/16: 43).

Sahabat-sahabat tau bahwa Nabi Saw., tidak beramal atas dasar hawa nafsu. Melainkan beramal di atas pundak wahyu Ilahi. Artinya, pengetahuan Nabi Saw., tentang Malaikat murni ajaran Allah Swt. Beradasarkan pemahaman ini, Nabi Saw., adalah orang yang tepat untuk diberi pertanyaan tentang sikap Malaikat. Ini bukan hanya cerita dongen melainkan realitas yang dialami Nabi Saw.  Lantas bertanyalah para sahabat. Bagaimanakah para malaikat itu bershaf-shaf dihadapan Allah Swt., Ya Rasul Allah?.

Beliaupun menjelaskannya dengan redaksi yang singkat. Singkat, tapi sarat keutamaan dan mudah dipahami. Wahai sahabatku, para malaikat ketika bershaf-shaf dihadapan Allah Swt., mereka menyempurnakan shaf pertama dan rapat. Shaf pertama terisi penuh, rapat, rapi dan lurus barulah shaf kedua, ketiga hingga shaf-shaf seterusnya. Para malaikat itu merapatkan shaf-shaf sehingga cela-cela shaf tertutup samasekali. Kalau saya ilustrasikan, rapatnya barisan mereka seperti rapatnya dua pintu kebaya saat ditutup.

Perintah untuk mengikuti cara para Malaikat ketika berbaris dihadapan Allah SWT merupakan satu keutamaan yang membedakan Umat Islam dengan umat-umat yang lain. Hal ini disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari riwayat Muslim bahwa ju'ilats shufuufana kasufuufi malaikah dijadikan barisan kita seperti barisannya para Malaikat. ini dijelaskan ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat wainna lanahnushoofuun "dan kami benar-benar berbasis ketika melaksanakan perintah Allah Swt. Maksudnya Allah SWT telah menjadikan barisan Umat Islam ketika mereka sholat seperti barisan para Malaikat ketika beribadah kepada Allah. Perintah ini telah diamalkan oleh Nabi SAW dan para sahabat yang hidup sezaman dengannya. Juga diikuti Khalifah Abu Baqar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan sahabat Bilal bin Raba dan hingga ahli hadits seperti Imam Bukhari. bahkan dikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab ra menjadi Imam, beliau menghadap kepada para jamaah seraya menyeru "sesungguhnya Allah hendak menjadikan barisan shalat kalian seperti barisannya para malaikat" dan Umar bin Khattab tidak akan memulai takbir sebelum barisan-barisan ma'mumnya lurus, rapat sejajar dan rapi.

Hadits di atas mengajarkan anjuran untuk menyerupai para malaikat, karena para malaikat itu ma’sum yakni terjaga dari kesalahan. Adapun menyerupai yang ma’shum menyebabkan seseorang dapat menyerupai kesempurnaan amal.

Kema’suman itu berimplikasi pada ketaatan, melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan. Beramal atas dasar ajaran Agama dan berhukum atas dasar syari’at. Belajar pada jalan yang benar, dan mengambil ilmu yang tepat. Maka jadilah mereka bersih dari dosa dan kesalahan serta jauh dari kemaksiatan. Karena itulah ilmu mereka penuh dengan cahaya hikmah dan amal mereka berada dalam kesempurnaan. Disebutlah mereka orang-orang yang mukhlis. Dibelahnya Dada Nabi Saw., lantas dibersihkan kotor-kotoran hati dalam dadanya oleh Malaikat Jibril supaya jadilah ia ma’sum dan bersih dari dosa-dosa.

Adapun cara yang tepat bagi seluruh umat Islam untuk menjadi orang-orang yang bersih dari dosa adalah memperbagus tauhid dan senantiasa beribadah di atas ilmu yang benar. Terutama, memaksimalkan ingatan kepada Allah Swt., dengan senantiasa menyempurnakan seluruh ibadah, shalat paling utama, kemudian senantiasa berzikir kepada Allah Swt.