Bagi
pemuda yang normal, nafsu kepada Perempuan itu biasa bahkan sudah menjadi
sesuatu yang wajar. Sebab nafsulah yang mampu mendorong pemuda untuk mengarungi
sebuah bahtera Rumah Tangga. Nafsu secara harfiah adalah keinginan kepada
segala sesuatu (misalnya: nafsu makan, nafsu syetan dan lain-lain), karenanya
berbicara tentang nafsu maka ia menjurus kepada banyak hal, itulah sebabnya
tulisan ini kami batasi pada satu permasalahan saja yaitu: “mengenai nafsu pemuda kepada Perempuan”.
Sebagaimana
telah dijelaskan diatas, bahwa pemuda yang normal pasti ada kecenderungan (nafsu)
kepada Perempuan, nafsu dalam arti keinginan untuk melakukan hubungan biologis.
Berkaitan dengan hubungan biologis sudah menjadi satu ciptaan Allah Swt., yang
diberikan kepada seluruh makhluk termasuk pemuda itu sendiri. Tanpa Allah
ciptakan nafsu, bagaimana mungkin makhluk mampu melakukan hubungan biologis dan
bisa menciptakan keturunan.
Nafsu
sudah menjadi fitrah manusia sejak azali, sejak manusia pertama di ciptakan,
dalam sejarah Nabi Adam AS., pernah dikisahkan. setelah Nabi Adam AS., di
ciptakan oleh Allah Swt., Nabi Adam AS.,
diberikan kebebasan untuk menikmati seluruh kenikmatan yang ada disurga (tempat
tinggal Adam AS. Saat itu), terkecuali satu pohon yaitu pohon Khuldi, pohon ini tidak boleh didekati
apalagi memetik dan memakan buahnya.
Seiring
berjalannya waktu, dengan kehidupan yang begitu mewah, serba ada, tidak perlu
bersusah payah mencari dan bekerja, Adam As., menikmati seluruh kemewahan. Namun
kemewahan itu justru tidak memberikan Adam AS., kebahagiaan, masih ada
keinginan lain yang menjadikan Adam AS., murung termenung. Tiba-tiba Nabi Adam
AS., merasa kesepian.
Oleh
Allah Swt., mengerti, akhirnya diciptakannlah hawa sebagai pasangannya, dari
tulang rusuknya. Nabi Adam AS., kaget
dengan nada tanya siapa ini, melihat
hawa. Serentak Adam ingin memegang Hawa, kata Allah Swt. Eh Adam sebelum kau memegang
Hawa kau harus memberi maharnya dulu (artinya Nikah dulu Bos), kata Adam apa
maharnya ya Allah, Maharnya “antushollia ‘ala Muhammad” engkau harus bersholawat
kepada Nabi Muhammad Saw., setelah Nabi Adam AS., memberi sholawat kepada Nabi
Muhammad Saw., maka halallah Hawa bagi Nabi Adam AS., untuk menyentuh hawa.
Cerita
Nabi Adam di atas memberikan satu konstribusi, bahwa manusia aapabila telah baliq
maka sudah pasti dan jelas memiliki perasaan seperti yang di alami Nabi Adam AS.
Berkaitan
dengan nafsu pemuda kepada Perempuan, rupanya telah dijelaskan dalam al-Qur’an. hal ini dapat dibuka dalam
al-Qur’an surat al-Imran (3):34. Secara khusus, memang ayat ini tidak menyebut
tentang nafsu pemuda, akan tetapi secara umum semua makhuk apalagi manusia pasti
terdapat kecenderungan terhadap perempuan. “hubbusyahawi minannisai: kami
jadikan kamu untuk menyukai wanita” Dalam hal ini Allah Swt., ingin
menjadikan pemuda untuk menetapkan pasangannya kepada Perempuan. Bukan seperti
dalam istilah seperti LGBT yang berkambang sekarang ini.
Nafsu,
selain menjadi satu fitrah bagi pemuda. ternyata juga menjadi sebuah ujian besar bagi pemuda,
sehingga nafsu harus dibentengi dengan benteng yang kuat, apalagi bagi pemuda
yang belum menikah, jika nafsu tidak dibentengi kesabaran, sementara keinginan sudah memuncak.
Maka yang menjadi sasaran adalah Kerbau maksudnya kumpul Kebo, barangkali Kebo
hanya mewakili saja, disebut kumpul Kambing
juga bisa.
Jadi,
tidaklah terdapat larangan atau keharaman untuk menyukai, memiliki, dan
berkumpul dengan wanita, dan itu akan terjadi jika pemenuhan syarat-syaratnya kehalalan
dalam Agama telah terpenuhi sehingga terbuka pintu kehalalan, sebagaiamana kakek
kita Adam AS pada sekelumit cerita di atas.
Minggu 28 Juli 2016.
Penulis: Anin Lihi
0 comments: