Saturday, 7 January 2017

Janganlah Menodai Tarekat

Islam adalah Agama yang menjelaskan beragam ibadah yang harus dijalankan. Ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sudah menempuh jalan yang ditunjuk oleh agama, maka orang tersebut akan selalu terarahkan pada jalan yang tepat. Adapun jalan yang maksudkan pada pembahasan kali, yakni jalan yang sering dipahami oleh ahli-ahli tarekat. Pada konteks tasawuf jalan memilki makna tarekat. Kata ini kemudian dibahasa indonesiakan lalu dinisbatkan pada sebuah kumpulan, yang sekarang kita kenal tarekat. Adapun maksud dari Tarekat ialah cara yang di tempuh untuk mencapai maqam agar mencapai Ma’rifat Allah, Ma’rifat ini dapat di capai melalui dengan berbagai cara. Bisa dengan zikir, shalawat, selalu menghatamkan al-Qur’an, shalat tepat pada waktunya dan lain sebagainya.
Banyak sekali tarekat-tarekat yang berkembang di Negeri ini, yang dibentuk sebagai wadah tariqah untuk mencapai kesucian hati guna menembus cakrawala ke-Tuhanan. Setiap orang pasti menginginkan hal ina, namun sayangnya tidaklah mudah untuk dapat menembusnya dengan keadaan biasa-biasa saja. Ia membutuhkan kesucian hati dan kejujuran, dalam tarekat hanya itulah yang mampu membuka untuk menembus cakrawala ke-Tuhanan tersebut.
Ajaran dasar tarekat ialah kesucian hati dan kejujuran ini, hingga tidak heran tarekat-tarekat yang sesuai dengan syari’at dapat menelurkan orang-orang sakti, sebagaimana Syekh Yusuf al-Makassari, “dengan karomahnya, ia dapat membakar rokok di dalam air” yang mencengangkan saat itu. Dan karena kesaktian inilah, orang belanda mengatakan, seperti yang disampaikan oleh Ibu, Dr. Hj. Nurnaningsi, M.Ag. Katanya: kemerdekaan Indonesia terletak pada kehebatan tarekat bukan pada bambu runcing yang selama ini beritanya telah terkenal luas di kalangan masyarakat.
Ajaran-ajaran tarekat berpusat pada zikir, dua perbedaan umum yang melekat pada konsep ajaran zikir ini dalam tarekat, yaitu zikir Sir (dengan suara yang rendah sekali, hampir-hampir tidak kedengaran, bahkan ada yang tidak kedengaran sama sekali) dan zikir Jahr (dengan suara yang keras, bahkan ada yang sampai badannya ikut tergoyang). Persamaan umum pada zikirnya terletak dalam kalimat Tauhid lalilaha illah (tiada tuhan Selain Allah) atau biasa disebut (kalimat tahlil) dan lafaz Allah itu sendiri.
Namun pada perkembangannya, tarekat telah mengalami distorsi, hal ini dipengruhi oleh pemahaman terhadap tarekat yang tidak utuh, sehingga lahirlah pendapat, “saya biar tidak Shalat di  Masjid, duduk saja sudah shalat, atau ketika mendengar azan langsung sujud ditempat di mana dia berada”, jika pemahaman seperti ini yang di pahami, maka pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, yang semestinya perlu di luruskan, atau perlu di utuhkan dengan perbaikan bil hikmah wajaadilhum hiya akhsan. Sebab di anatara konsep syariat tidak dapat di pisahkan dengan hakikat, yang juga dipengaruhi oleh Tsawuf.
Sumber gambar: jalanakhirat.wordpress.com

Adapun, Tarekat dan tasawuf pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Sebab kedua ilmu ini memilik tokoh yang sama, tokoh-tokoh tarekat itulah tokoh-tokoh tasawuf. Dengan demikian, ajaran-ajaran yang ada dalam tarekat sedikit banyaknya memiliki kemiripan dengan tasawuf, yaitu “tazkiatun Nafs” penyucian diri yang memiliki hubungan dengan kesucin hati dn kejujuran atau dalam konsep Qur’an disebut Mukhlis, dengan itulah para ahli tasawuf semacam al-Ghazali juga memiliki banyak keahlian dan kemampuan melalui karomahnya. Padahal beliau adalah seorang Sufi bukan seorang tarekat.
Ada satu hal yang perlu di ketahui adalah, “dalam ajaran tasawuf maupun tarekat memiliki prinsip dasar, yaitu kesucian dan kejujuran, namun kedua hal ini dapat di capai dengan sempurna jika seseorang telah memposisikan dirinya pada kemampuan memperpadukan antara Syari’at dan Hakikat. Menjawab ini, dalam buku Hakikat tasawuf oleh Syekh Abdul Qadir Isa “ahli tasawuf mengatakan, janganlah kita mempercayai seseorang yang mampu berjalan di atas air, terbang di atas udara dan memiliki kelebihan lain sebelum kita mengetahui orang itu mengamalkan sunnah” artinya, mengamalkan ajaran Rasul dan al-Qur’an secara syari’at dan hakikatnya, sebagai pengamalan Iman, Islam, Ihsan atau tasdiqu bil Qalbi, wa Iqraru bil-Lisan dan Wa ‘Amalun bil ar-Kan.  bukan mendapatkan sedikit potongan pemhaman lalu mengatakan duduk-duduk sudah shalat, berdoa saja sudah shalat, shalat itu tidak perlu di Masjid atau yang lainya.
Dengan demikian, sebagai insan yang ingin mencari kedudukan menjadi insan kamil, maka sepatutnyalah merealisasikan perintah sebagaimana disebutkan dalam, (hadits sahih lighairihi riwayat Ibnu Majah  No.224.  “utlubul ilmi Faridhatun ‘ala kulli Muslimin” artinya: menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Setelah mengetahui hadits ini, maka tidaklah cukup bagi kita duduk diam dan tidak berusaha bangun untuk menuntut ilmu.

Maksudnya memperbanyak ilmu Agama yaitu Syari’at dan hakikatnya, tidak berhenti menuntut ilmu hingga kematian yang membatasinya, dengan berusaha mengamalkan ilmu yang telah di pelajari semaksimal mungkin.

Friday, 6 January 2017

DIFFERENCE OF THE BELIEVERS AND PEOPLE THAT WICKED (infidels) (PERSPECTIVE QS. Sajdah [32]).

Departing from a basic question, of paragraph 18 letter Sajda. "So Did those who believe such wicked people (unbelievers) ?, no-nonsense anyway this paragraph answer! of course, "they are not the same".
In the previous paragraph, paragraph 2 of the letter Sajda Similarly, Allah describes the "fall of the Qur'an is no doubt, (ie) of the Lord of the Worlds". This verse has relevancy with paragraphs 2 and 3 of the letter of al-Baqarah is "the book of the Koran that there is no doubt a clue to those who fear Him, to those who believe in the Unseen, perform prayers, and our sustenance partly mengifakkan give them ".
For people who have faith in his heart, then they will not hesitate one bit to say and defend the truth of the Qur'an, where all events diceritkan Qur'an they Imani. They believe that the Koran is the book of God, as the book of human mentor, who revealed to Muhammad

that is, those who believe, capable of conveying all the commands of the Koran, in order that the instructions of the Koran until dtelinga all creatures to follow or believe in the Qur'an and Pencitanya. At all for those who believe there is no sense of doubt, they are immune from the hoax sweet words any scientific, secularism, hedonism, pluralism Multiculturalism or isms others, for those who believe, all the isms that only a small part of science the least well studied, but bigger than it is to understand the Qur'an in depth. Isms were simply the product of penanding absoluteness of God (Allah) the Worlds, or no more than an ideology which mislead people who do not understand the histories of this ideology. The believer will say, that there is nothing absolute in addition to the absoluteness of God, which they believe from the guidance of the Qur'an.
While the wicked (disbelievers) see the Qur'an as artificial prophet Muhammad and alleged that Muhammad fetched Ngada referred to paragraph 3 of this Sajda letter "but why unbelievers say He (Muhammad) has fabricated ngadakannya (al- Koran) ". those people (Wicked / Kafir) that follows the steps satan, will be looking for reasons to reinforce their opinion that the Koran was made by Muhammad or look for other reasons that people do not believe in the Qur'an as a guide in guiding human , to later in the meeting will enjoy the beauty of God and entering, enjoying his surge, the brand will also be looking for a reason that the Qur'an is a book that contains a lie.
For unbelievers, even though God had said, as mentioned in the letter al-Baqarah verse 23 "if you doubt the Qur'an that we sent down to Our servant Muhammad, then make a single letter such as al-Qur'an, and Engage helpers if you are truthful "God then add it again with the letter l-Isra verse 88" say, in fact if humans and Jin come together to make the serup with this Qur'an, they will not be able to make a similar dengannnya , even if they help each other ". Strengthening this paragraph again Allah mentioned again in the letter al-Baqarah verse 24, "If you are not able to make it, surely you will not be able to make it".
The believer believes some of the above paragraph, as the altitude challenge the science contained in the Qur'an, challenging anyone he will not be able to write a paragraph that has the beauty of the writing, reading, grammar diversity and depth of meaning. But again people (wicked / infidels), keep their hearts for deception devil laknatullah insist that controls them, not impervious kebenarana al-Qur'an warns them, Allah said: "the real people orng Kfir, the same to them, Muhammad thou warn them or thou tudak pernigatan give, they will not believe, God has locked hearts and their hearing, their sight was closed and they will receive a severe penalty "they will always find ways to keep the whole man of truth al- Qur'an. for today I hope people find fault Koran obtain guidance. Because of my discussion of the difference of the faithful at the disbelievers (obviously) does not refer to a group keagmaan.
Conversely To mempekuat argument, people are unbelievers will say as in the continuation of paragraph 3 of the letter Sajda "No, the Koran is the truth (coming) from your Lord so that you may give warning to a people who have never been in visiting people who give a warning before thou, so they get a clue ". Furthermore, they also were faithful even when hearing the verses of the Koran as mentioned further paragraph, paragraph 15 letter Sajda, "those who believe in the verses of us, only those who, when dipernigatkan him (verses we ), they fall down prostrate and praising their Lord bertsbih nd they are not arrogant ".
By him who believe adrift of their belief in the truth of the Qur'an from God through the prophet Muhmmad, they are, let alone reading, studying, and living the Qur'an with the ability to examine the Koran. heard the verse, if there are people who deliver a warning of the Koran, they immediately hymn praising the greatness of God who has lowered the Qur'an glorious.

That bit of difference in those who believe and those who disbelieve in the Qur'an letter Sajda. May be useful.

PERBEDAAN ORANG YANG BERIMAN DAN ORANG YANG FASIK (KAFIR) (PERSPEKTIF QS. SAJDAH [32]).

Berangkat dari sebuah pertanyaan yang mendasar, dari ayat 18 surat sajdah. “Maka Apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?, tidak basa basi lanjtan dari ayat ini menjawab! tentunya  “mereka tidak sama”.
Pada ayat sebelumnya, ayat 2 dari surat sajdah pula, Allah menjelaskan “Turunya al-Qur’an itu tidak ada keraguan, (yaitu) dari Tuhan seluruh Alam”. Ayat ini memiliki relefansi dengan ayat 2 dan 3 dari surat al-Baqarah yaitu “kitab al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan mengifakkan sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka”.
Bagi orang-orang yang dalam hatinya memiliki iman, maka mereka tidak akan ragu sedikitpun mengatakan dan membela kebenaran al-Qur’an, dimana seluruh peristiwa yang diceritkan al-Qur’an mereka Imani. Mereka yakin bahwa al-Qur’an adalah kitab dari Tuhan, sebagai kitab pembimbing manusia, yang diturunkan kepada Muhammad yaitu orang yang dipercayai, yang mampu menyampaikan seluruh perintah al-Qur’an, dengan tujuan agar petunjuk al-Qur’an itu sampai dtelinga seluruh makhluk untuk mengikutinya atau beriman kepada al-Qur’an dan Pencitanya. Sedikitpun bagi orang yang beriman tidak ada rasa ragu, mereka kebal dari tipuan kata-kata manis ilmiah apapun, Sekularisme, Hedonisme, Pluralisme Multikulturalisme atau isme-isme yang lainya, bagi mereka yang beriman, semua isme-isme itu hanyalah bagian kecil dari ilmu yang sedikitnya juga dipelajari, tetapi yang lebih besar dari itu ialah memahami al-Qur’an secara mendalam. Isme-isme itu hanyalah produk penanding kemutlakan Tuhan (Allah) semesta alam, atau tidak lebih dari sebuah ideology yang menyesatkan manusia yang belum memahami sejarah-sejarah faham ini. Orang yang beriman akan mengatakan, bahwa tiada kemutlakan selain kemutlakan Allah, yang mereka yakini dari petunjuk al-Qur’an.
Sementara orang-orang fasik (kafir) melihat al-Qur’an sebagai buatan nabi Muhammad dan menuduh bahwa Muhammad mengada-ngada sebagaimana disebut dari ayat 3 surat sajdah ini “tetapi mengapa orang kafir mengatakan Dia (Muhammad) telah mengada-ngadakannya (al-Qur’an)”. mereka orang (Fasik/Kafir) yang mengikuti langkah-langkah syetan, akan mencari alasan untuk menguatkan pendapat mereka bahwa al-Qur’an adalah buatan Muhammad atau mencari alasan lain agar orang-orang tidak meyakini al-Qur’an sebagai petunjuk dalam membimbing manusia, untuk kelak nantinya menikmati keindahan dalam bertemu Allah serta memasuki, menikmati surge-Nya, merek juga akan mencari alasan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang mengandung kebohongan.
Bagi orang-orang kafir, meskipun Tuhan telah mengatakan sebagaimana disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 23 “jika kamu ragu terhadap al-Qur’an yang kami turunkan kepada hamba kami Muhammad, maka buatlah satu surat saja semacam al-Qur’an, dan ajaklah penolong-penolongmu jika kamu orang yang benar” Tuhan kemudian menambahkannya lagi dengan surat l-Isra ayat 88 “katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serup dengan  al-Qur’an ini, mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengannnya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”. Memperkuat ayat ini lagi Allah sebutkan lagi dalam surat al-Baqarah ayat 24 “jika kamu tidak mampu membuatnya, pasti kamu tidak akan mampu membuatnya”.
Orang yang beriman meyakini beberapa ayat di atas, sebagai tantangan ketinggian ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an, yang menantang siapapun dia tidak akan mampu menuliskan satu ayat yang memiliki keindahan Tulisan, Bacaan, keragaman tata bahasa, dan kedalaman maknanya. Namun sekali lagi orang-orang (fasik/kafir), tetap hati mereka bersikeras karena tipuan iblis laknatullah yang menguasai mereka, tidaklah mempan kebenarana al-Qur’an memperingati mereka, Allah berfirman: “sesungguhnya orang-orng kfir, sama saja bagi mereka, engkau Muhammad beri peringatan atau tudak engkau beri pernigatan, mereka tidak akan beriman, Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup dan mereka akan mendapat azab yang keras” mereka akan selalu mencari-cari cara untuk menjauhkan seluruh manusia dari kebenaran al-Qur’an. untuk zaman sekarang semoga  orang-orang yang mencari-cari kesalahan al-Qur’an mendapatkan hidayah. Sebab pembahasan saya mengenai perbedaan orang beriman sama orang kafir (jelas) tidak merujuk pada satu kelompok keagmaan.
Sebaliknya Untuk mempekuat argumennya, orang yang berimana akan berkata sebagaimana dalam lanjutan ayat 3 dari surat sajdah “Tidak, al-Qur’an itu kebenaran (yang datang)  dari Tuhanmu agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum pernah di datangi orang yang memberi peringatan sebelum engkau, agar mereka mendapat petunjuk”. bahkan Selanjutnya merekapun yang beriman ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana disebutkan ayat lanjutan, ayat 15 surat sajdah, “orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami, hanyalah orang-orang yang apabila dipernigatkan dengannya (ayat-ayat kami), mereka menyungkur sujud serta bertsbih memuji Tuhannya dn mereka tidak menyombongkan diri”.
Olehnya orang yang beriman terpaut keyakinan mereka terhadap kebenaran al-Qur’an dari Tuhan melalui nabi Muhmmad, mereka itu, jangankan membaca, mendalami, dan menghayati al-Qur’an dengan kemampuannya meneliti al-Qur’an. mendengarnya ayatnya saja, jika ada orang yang menyampaikan peringatan al-Qur’an, mereka langsung bertasbih memuji kebesaran Allah yang telah menurunkan al-Qur’an yang mulia itu.

Itulah sekelumit perbedaan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir dalam al-Qur’an surat Sajdah. Semoga bermanfaat.

Keharusan Menganut Islam Menurut Mantan Pendeta


Oleh: Sarwan Sarwan UR.
Menurut prof. Rev. David Benjamin Keldani, B.D. (Abdul Ahad Dawud)Seorang mantan pendeta katolik roma sekte uniate chaldean (1895), mengatakan "kembalinya saya ke islam tak lain karena hidayah Allah yg Maha Kuasa. Tanpa bimbingannya, semua pengetahuan, penelitian, dan usaha-usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui ke Esaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad Saw pun menjadi contoh pola sikap dan perilaku saya".
Buku di bawah inilah penelitian seorang mantan pendeta, setelah dia meneliti bible, diapun  berkesimpulan bahwa Islam lah agama yg harus di anut seluruh umat manusia. kebenaran ajaran Islam yg di turunkan Allah kepada Muhammad seperti yang telah di paparkan dalam buku ini, menguak tentang kebenaran nabi Muhammad dalam kitab injil. Nabi Muhammad telah di akui dan dinubuatkan  dengan doa yesus/nabi isa as dalm kitab injil "aku akan meminta kepada bapa,dan ia akan memberikan kepadamu seorng penolong, supaya dia menyertai kamu selama-lamanya". Ini adalah argument yg tak terbantahkan dari peneliatiannya yg menguak misteri Muhammad dalam kitab Injil  ( mantan pendeta yaitu Abdul Ahad Dawud "Prof. Rev. Benjamin Keldani, B.D.").

Sunday, 1 January 2017

PEMIKIRAN SYAKH WLIYULLAH AD-DHLAWI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.
Pada awal abad ke 18 muncul dua tokoh Islam yang mempunyai pengaruh cukup besar di dunia Islam, yaitu Muhammad bin ‘Abdul al-Wahhab di Saudi Arabia dan Syakh Waliyullah al-Dahlawi”di India,[1] kedua tokoh ini mepunyai tujuan yang sama, yaitu berkeinginan untuk memperbaiki keadaan umat Islam yang menurut mereka telah mengalami kemunduran akibat penyimpangan terhadap ajaran agama.[2]
Walaupun kedua tokoh tersebut mempunyai tujuan yang sama, tetapi keduanya memiliki perbedaan pada corak pemikiran yang dibawanya. ‘Abdul al-Wahhab kemudian melahirkan gerakan Wahhabiyah yang lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada keadaan sosial keagamaan. Sedangkan gerakan Syakh Waliyulllah al-Dahlawi selain bersifat sosial keagamaan juga menyangkut sosial politik dan ekonomi umat. Lebih dari itu, jika Abdul al-Wahhab menyerang sufisme tanpa ampun, maka Syakh Waliyullah masih mengakomodasinya dalam banyak hal, gagasan pembaruan yang dilancarkan Syakh Waliyullah diilhami oleh kondisi sosial-politik dan keagamaan umat Islam pada masanya.
Pada tahun 1732 Syakh Walliyullah al-Dahlawi kembali ke delhi dan berupaya menyebarkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan meneruskan pekerjaan lamanya sebagai guru. Ketika melihat perkembangan pesat sekolah yang dipimpinya, maka Sultan Muhammad Syakh memberikan sebuah sekolah besar yang kemudian terkenal dengan nama Dar al-‘Ulum. Dari sekolah inilah banyak menghasilkan ulama dan ilmuan besar dari berbagai bidang ilmu. Disamping itu Syakh Waliyullah al-Dahlawi sangat hobi menulis dan mengarang buku, sudah lebih dari seratus judul buku yang berbahasa Arab dan Persia berhasil ia tulis, darsi seluruh jumlah tersebut, duapuluh diantaranya masih bisa dijumpai di dunia Islam sekarang ini.[3]
Dari latar belakang di atas maka dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan yang akan menjadi kajian khusus dalam makalah ini. Sebagaimana tercantum pada bagian B.
B.     Rumusan Masalah.
1.      Bagaimana Biografi Singkat Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
2.      Apa Saja Karya-Karya Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
3.      Bagaimana Corak Pemikiran Kalam Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
C.     Tujuan Penulisan.
Dalam pembahasan makalah ini secara umum bertujuan untuk mengetahuai seluk-seluk beluk kehidupan Syakh Waliyullah al-Dahlawi dan memenuhi tugas mata kuliah Pemikiran Kalam Pasca al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Namun secara khusus makalah ini bertujuan:
1.      Agar pemakalah dan teman-teman mahasiswa Mengetahui bagaimana Biografi Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
2.      Ingin menyebutkan buku-buku Syakh Waliyullah al-Dahlawi sesuai dengan pengetahuan pemakalah.
3.      Menjelaskan dan mengkaji bagaimana corak Pemikiran Kalam Syakh Waliyullah al-Dahlawi.





BAB II
PEMBAHASAN
1.      Biografi Singkat Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
a.       Riwayat Hidup
Al-Dahlawi memiliki nama lengkap Qutubuddin Ahmad bin Abdurrahim bin Walihuddin al-Umriy al-Dahlawi. Ayahnya merupakan seorang ulama terkemuka di dheliy yang menguasai ilmu Dzahir dan Bathin serta memiliki derajat yang tinggi dalam thariqah sufi. Gelar Waliyullah yang ia peroleh karena kedalaman ilmu Agamanya.[4] Adapun yang memberikan Gelar Waliyullah kepada beliau ialah
Al-Dahlawi lahir dari keluarga Ulama dan Shufi pada hari rabu tanggal 14 Syawal tahun 1114 H atau 1703 M. al-Dahlawi, tidak hanya dikenal sebagai Ulama ahli Hukum, Mufasir, dan juga Muhadis, tetapi dia juga dikenal sebagai seorang sufi, dan juga Mujaddid.  Oleh karena itu “Syakh Waliyullah al-Dahlawi termasuk salah seorang tokoh besar tarikat Naksabandiah di India, terutama Naqsabandiah Mudzahairiah. Kalau dilihat dari silsilahnya “Syakh waliyullah al-Dahlawi” memiliki garis ketrurunan yang nyambung kepada Umar Ibn Khathab, itulah sebabnya selain kata al-dahlawi dibelakang namanya, sering juga dilengkapi dengan al-Umari dan al-Faruqi, gelar ini dilihat dari garis ayahnya, sementara jika dilihat dari garis ibunya “Syakh Waliyullh al-Dahlawi” nyambung kepada Ali ibn Thalib.[5] Al-Dahlawi meninggal pada hari Sabtu siang Bulan Muharram 1176 H. di kota Dheli. jadi umur Syakh Waliyullah al-Dahlawi kurang lebih 62 tahun.
Syakh Waliyullah memilki dua orang istri. Istri kedua di nikahinya setelah beberapa saat kepulangannya dari hijaz. Dari istri pertama ia mendapatkan seorang putra bernama Shah Muhammad (1730-1793) dan seorang putri Ammatul Aziz sedangkan dari Istri kedua ia memperoleh empat orang putra, Shah Abdul Aziz Muhaddith Dehlavi, Shah Rafi’ al-Din, Shah Abdul Qadir dan Shah Abdul Ghani dan seorang Putri.[6]
b.      Riwayat Pendidikan.
Al-Dahlawi pada waktu kecil mulai belajar secara teratur kepada ayahnya sendiri. Ketika mencapai usia sepuluh tahun beliau mempelajari Syarh al-Kafiyah karya al-Jami’ serta mempelajari tafsir Baidhawi hingga berusia duapuluh lima tahun,dan banyak kitab-kitab lainnya dalam bidang hadits,fiqh, ushul fiqh, akhlaq, mantiq, ilmu kalam, tasawwuf, hikmah, ma’ani, kedokteran, dan lain-lain. Semuanya beliau pelajari dari ayahnya, kecuali hadits beliau mengambil riwayat dari imam hadits dizamannya, Muhammad Afdhal al-Sialkuti. Pada tahun 1143 beliau pergi ke haramain untuk menunaikan ibadah haji bersama paman dari ibunya Syakh Ubaidilah al-Barhuwi, sepupunya Muhammad ‘Asyiq serta sahabat yang lainnya. Al-Dhalawi berada di haramain selama dua tahun dan menjadi murid dari Syakh Abi Thahir Muhammad bin Ibrahim di Madinah Munawwarah, al-Dahlawi berlajar kepadanya, hingga hatam Shahih Bukhari dengan cara Qiraah dan Sima’i. Beberapa dari Shahih Muslim, Jami’ Turmudzi, Sunan Abi Daud, Sunan Ibn Majah, Muwatta` Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, ar-Risalanya Imam Syafi’i, Jamiil Kabir. Dan hanya mendengarkan (Sima’i) dari Syakh abi Thahir Muhammad kitab Musnad Al-Hafid Al-Darimidari mulai awal sampai akhir dalam sepuluh kali pertemuan didalam masjid Nabawi disamping Mihrab Usmani mengahadap makam Nabi. Al-Dahlawi merupakan pelajar yang cerdas dan ulet sehingga tak ayal Syakhnya di Madinah mengatakan bahwa “dia (al-Dahlawi) mengambil sanad dari lafadz dan saya hanya membenarkan maknanya” bermodal kepintarannya semasa belajar lahirlah bermacam-macam karya dari tangan beliau yang menunjukkan betapa luas ilmu yang dikuasainya. Terkait dengan Karya akan di ulaskan pada Bagian 2.
2.      Kary-Karya al-Dahlawi.
Penulis tidak ingin panjang lebar menjelaskan bagaimana isi karya-karya beliau, penulis hanya ingin mengunkapkan beberapa kitab beliau dalam beberapa bidang, adapun kitab beliau adalah sebagai berikut:
       I.            Bidang Ulum al-Qur’an.
1.      Fathu ar-Rahman fi tarjamah al-Quran dengan bahasa prancis.
2.      Az-Zahrawin fi tafsir surah al-Baqarah wa al-Imran.
3.      Al-fauzul Kabir fi ushul at-Tafsir. Menerangkan lima dasar al-quran dan ta’wil huruf muqatha’ah.
4.      Ta`wil al-ahadits. Berbicara tentang kisah para nabi dan menerangkan dasar diutusnya bersama kehidupan sebelum kenabian bersama kabilah kaumnya, dan juga memaparkan hikmah ilahiyah di zaman mereka.
5.      Al-fath al-Khabir. Sama dengan bagian kelima dari kitab al-fauzul Kabir fi ushul at-Tafsir dengan menitik beratkan kepada gharib al-Qur`an dan tafsirnya yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Abbas R.A.
6.      Qawanin at-Tarjamah. Menjelaskan metode terjemah al-Quran serta solusi problematika didalamnya.
    II.            Dalam bidang Hadits wa Ulumihi:
1.      Al-Musthafa syarh al-Muwatha.
2.      Al-Maswa syarh al-Muwatha` ditulis dengan bahasa arab dengan disertai perbedaan madzhab dan penjelasan lafadz-lafadz yang gharib.
3.      Syarh tarajim abwab al-bukhari.
4.       An-nawadir min ahadits sayyid al-awail wa al-akhirin.
5.      Arbain. Kumpulan empat puluh hadits yang diriwayatkan dari gurunya abi thahir dengan sanad yang muttashil kepada ali bin abi thalib, R.A.
6.      Ad-dar ats-tsamin fi mubasyarat an-nabi al-amien.
7.       Al-irsyad ila muhimmat al-isnad.
8.      Risalah basyithah fi al-asanid. Ditulis dengan bahasa prancis.
 III.            Dalam bidang ushul ad-Din:
1.      Hujjatullah al-Balighah. Kitab yang membahas ilmu asrar asy-syariah dan hukumnya.
2.      Izalah al-khafa` an khilafah al-khulafa`. Dalam bahasa arab.
3.      Husn al-Aqidah.
4.      Al-Inshaf fi bayan asbab al-Ikhtilaf.
5.      Aqd al-Jayyid fi ahkam al-ijtihad wa at-Taqlid.
6.      Al-budur al-Bazighah.
7.      Al-muqaddimat as-sunniyah fi intishar al-Firqah sunniyah.
 IV.            Bidang Ilmu Hakikat dan Behaviourisme:
1.      Al-maktub al-Madani.
2.     Althaf al-Quds fi abayan lathaif an-Nafs.
3.     Al-Qawl al-Jamil fi Bayan sawa`i as-Sabil.
4.     Al-Intibah fi Salasil Awliya`Illah.
5.     Hama’at.
6.     Lama’at.
7.     Satha’at.
8.     Hawami’. Syarah Hizb al-Bahr.
9.     Syifa` al-Qulub.
10.  Khair al-Katsir.
11.  At-Tafhimat. Al-Ilahiyah.
12.  Fuyud al-haramain.
    V.            Bidang Sejarah dan Sastra:
1.  Surur al-Mahzun. Dalam bahasa prancis. Ringkasa kitab Nur al-Uyun fi talkhis sir al-amien wa al-Ma`mun.
2.  Anfas al-Arifin. Kitab yang berisi biografi sesepuh beliau dan pembesar keluarganya.
3.   Insan al-ain fi Masyayikh al-Haramain.
4.   Diwan asy-syi’ri al-Arabi.[7]

3.      Pemikiran Kalam al-Dahlawi.
Menurutl Syakh Waliyullah al-Dahlawi, Umat Islam dengan adanya keputusan Ilmu Kalam dan memahaminya berdasarkan falsafah Yunani, ia menganggap ini dapat merusak Tauhid, selain itu tasawuf dengan ajaran hulul membuat umat islam mundur, apalagi ditambah dengan pendapat memutlakkan satu mazhab dalam suasana seperti inilah umat Islam tidak mau membuka dan menggali al-Qur’an dan sunnah secara langsung.
Menurut Syafieh, al-Dahlawi tampaknya lebih menekankan pada aspek subjek  pembuatan keputusan sebagai pemicu perbedaan pendapat di kalangan Mutakallaimin, penekanan al-Dahlawi sama dengan apa yang di katakana Imam Nubawwir Is, perbedaan pendapat dalam Islam lebih menyangkut beberapa hal, menyangkut kapasitas dan figur pembuat keputusan.[8] Itulah sebabnya al-Dahlawi ingin menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.
a.       Pemikiran al-Dahlawi tentang al-Qur’an dan Hadits.
Gagasan yang pertama kali diserukan oleh Syakh Waliyullah al-Dahlawi adalah “kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist”.[9] Menurutnya, kedua sumber utama ini harus menjadi pegangan pokok umat Islam, bukan buku-buku Fiqih, Tafsir, Ilmu Kalam dan sebagainya. Untuk memahami Al-Qur’an, maka Syakh Waliyullah al-Dahlawi menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Persia beserta komentarnya. Dan jika berbicara mengenai Hadist, Syakh Waliyullah al-Dahlawi menegaskan dalam pendahuluan al-Hujat al-Baligah, bahwa hadist merupakan dasar bagi semua cabang ilmu agama.[10]
Argumen di atas memberi konstribusi bahwal ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama maka al-Qur’an dan hadits sudah sepatutnya dijadikan sebagai rujukan atau sandaran utama, sebagai dalil dalam memperkuat ilmu-ilmu lain semacam fiqih, Aqidah, Akhlaq, Tafsir, Teologi dan Kalam yang sesuai dengan kebenarannya tanpa ada interfensi. Sebagaimana yang dilakukan oleh para mutakallimin dimana ada yang memprioritaskan kebebasan akal secara mutlak.
Selanjutnya menurut Syakh Waliyullah al-Dahlawi, perbedaan hasil ketetapan hukum dikalangan empat mahzab hukum akan lebih menunjukkan persamaan, jika hal-hal itu dicocokkan dengan sumber utama ilmu fiqih yaitu hadist. Di samping itu, dia juga mendorong kepada ilmu baru terhadap ilmu hadist yang memberantas jalan kepada pembentukan suatu mahzab pemikiran baru, yang terkenal dengan nama kaum ‘adist, yaitu aliran orang-orang yang menolak bertaklid kepada para ahli hukum dan mencari bimbingan langsung dari hadist mengenai hukum Islam.[11]
Disisi lain, Syakh Waliyullah al-Dahlawi Rupanya tidak ingin, seseorang atau siapapun memiliki sifat taqlid secara langsung kepada para mazhab hukum (taqlid Buta), justru ia menginginkan seseorang harus mencari bimbingan langsung dari hadits untuk mempelajari penjelasan hdits terkait dengan permasalahan hukum-hukum Islam.
Menurut saya pendapat seperti ini, disisi lain di tolak dan juga pada sisi lain di terima, diterimanya argumen di atas, agar umat islam keseluruhannya dapat berusaha dan gigih dalam mempelajari kitab-kitab hadits. Sehingga umat Islam tidak ketinggalan dalam segi keilmuan, tujuannya agr mereka akan berbalik arah menjadi orang-orang yang cerdas. Adapun pada sisi yang ditolak, Pertama: Keterbatasan dana untuk membeli kitab-kitab hadits dan jauhnya jangkauan guru-guru yang memahami hadits secara bai, permasalahan khusus bagi masyarakat Kampung. Kedua: Keterbatasan kemampuan dalam memahami hadits. Dengan itulah maka ada sebagian orang membutuhkan yang namanya taqlid akan tetapi bukan taqlid buta. Meskipun demikian, masyarakat Islam harus mengadakan pengkalisifiksian terhadap pemilihan dari keempat Mazhab yang terkenal, artinya mazhab yang mana ia merasa cocok padanya, yang harus ia ikuti dalam Islam. Pemahaman ini berbeda dengan orang-orang dari kalangan Akademis dan Pesantrenis.
Dalam pandangan Syakh Waliyullah al-Dahlawi, pengertian Islam dapat membedakan antara Islam universal dan Islam lokal. Islam universal mengandung ajaran-ajaran dasar dan global, sedangkan Islam lokal mempunyai corak yang ditentukan oleh kondisi tempat yang bersangkutan. Menurutnya, yang dipertahankan adalah ajaran-ajaran dasar yang universal, sedangkan interprestasinya dan aplikasinya dapat berbeda-beda sesuai dengan tempat dan zaman yang berlaku.[12]
Ajaran Islam Universal yang di maksud disini adalah ajaran Islam yang telah menjadi suatu yang Umum sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah seperti Rukun Iman, Rukun Islam, Tauhid, Zinah, Jihad, Qisas, dan juga masih ada lagi yang tidak disebutkan.
Kendatipun Syakh Waliyullah al-Dahlawi mengakui adanya pengertian Islam universal dan Islam lokal, tetapi lebih lanjut dia menambahkan, bahwa apa yang dihalalkan dan diharamkan dalam Islam dibolehkan dan dilarang pula dalam masyarakat-masyarakat lain. Sebab hati nurani manusia mengenai moral sama disemua agama dan masyarakat.[13] Ia tidak sependapat dengan sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum-hukum agama tidak ada sangkut pautnya dengan akal yang sehat dan kebutuhan manusia. Syakh Waliyullah al-Dahlawi mengibaratkan etika dan agama sebagai dokter yang memberikan batasan-batasan dalam makanan kepada si pasien untuk menyembuhkan penyakitnya.[14]
Selanjutnya pemahaman Syakh Waliyullah al-Dahlawi tentang al-Qur’an, memiliki pemahaman mengenai Ide Asbab al-Nuzul makro.
Ide Asbab Al-Nuzul makro sebenarnya telah diperkenalkan oleh al-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat Fi Ushul Asy-Syariáh, al-Syatibi mendefinisikan Asbab Al-Nuzul sebagai situasi dan kondisi yang melingkupi orang yang mengajak bicara, orang yang diajak bicara dan pembicaraanya.[15]
Ide tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh Syakh Waliyullah al-Dahlawi, dengan tujuan pokok diturunkannya al-Qur’an adalah untuk mendidik jiwa manusia dan memberantas kepercayaan, kekeliruan dan perbuatan jahat lainnya.[16] Tema-tema dalam al-Qur’an menurut ad-Dahlawi, sebagaimana dikutip Hamim Ilyas menunjuk pada lima pengetahuan, yaitu:
1.      Pengetahuan hukum ibadah, muámalah, dan lain-lain (ilm al-ahkam).
2.      Pengetahuan mengenai bantahan terhadap empat kelompok sesat; Yahudi, Nasrani, munafik dan musrik (ilm al-mukhasamat).
3.      Pengetahuan mengenai peringatan akan nikmat-nikmat Allah (ilm al-tadkir bi ni’mat Allah).
4.      Pengetahuan mengenai peringatan akan hari-hari Allah (ilm al-tadkir bi ayyam Allah).
5.      Pengetahuan mengenai peringatan akan kematian dan masa sesudahnya (ilm al-tadkir bi al-maut wa ma ba’da).[17]
Gagasan di atas sebenarnya menurut penulis, dalam memahami al-Qur’an harus mengetahui Asbabun Nuzul agar menafsirkan al-Qur’an dalam mengistimbatkan hukum dapat sesuai dan tidak melenceng sedikitpun dari tujuan syari’at al-Qur’an dan Hadits.
Pemikiran keagamaan Syakh Waliyullah al-Dahlawi, yang juga penting adalah gagasan-gagasan awalnya yang mengandung benih-benih teori agama alamiah, yang belakangan dikembangkan lebih cerdas dan jelas oleh Sayyid Ahmad Khan. Konsep Syakh Waliullah ini membagi organisasi masyarakat menjadi empat bagian yaitu:
§  Masyarakat primitiif dan nomaden.
§  Masyarakat yang menbentuk perkampungan dan mempunyai pasar,
§  Taraf kehidupan yang membutuhkan organisasi sosial yang lebih besar, dan Tingkat kehidupan manusia yang mengembangkan hukum internasional dalam menyelesaikan persoalan. [18]
Terkait dengan Masyarakat primitif dan beberapa bagian dari poin pemikiran yang dikembangkan oleh Sayyid Ahmad Khan di atas, pemakalah tidak ingin lebih dalam menyinggungnya, hal ini karena makalah tidak membahas mengeni gagasan ketiga poin di atas, melainkan pembicaraannya pemakalah lebih pada pemikiran Kalam, saya kira ini tujuan pembahasan utama yang harus lebih diperhatikan agar tidak terlalu panjang lebar.
b.      Pemikiran Syakh Waliyullah al-Dahlawi tentang Manusia.
1.      Menurut Syakh Waliyullah al-Dahlawi Manusia mempunya tiga perangkat ruhani dengan sifat-sifatnya yang khas, yaitu:
a.      العقل, akal adalah perangkat yang mampu menangkap hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh indra, akallah yang mampu menciptakan khayalan, dan mampu mewujudkan pertimbangan yang dapat memerintah terhadap jasmani dan ruhani serta mampu menciptakan perenungan yang baik.
b.      القلب, hati adalah perangkap yang mampu menangkap dan mempertimbangkan sifat-sifat yang menonjol dalam diri manusia, yaitu berupa Kasih sayang, Cinta, Ridha, Marah, Benci, Kikir. Cinta pangkat dan harta, hati juga dapat menghentikan baik buruknya manusia.
c.       النفس, nafsu adalah merupakan prangkat ruhani yang mampu menimbulkan rangsangan-rangsangan melalui kebutuhan perut dan seksual.
Ketiga perangkat tubuh manusia di atas sebenarnya tidak dapat di lepas pisahkan, dimana ketiganya ialah perangkat yang saling membutuhkan.
2.    Pendapat Syakh Waliyullah Mengenai penyangga Ihsan dalam kehidupan seseorang muslim.
a.      النظافة (kebersihan), adalah Untuk membersihkan manusia dapat dilakukan dengan wudhu, dan mandi sebagai mana yang diperintahkan dalam agama islam, namun kebersihan ruhani dari segala kotoran yang dapat mengakibatkan dosa.
b.      أقم الصلاة (Mendirikan sholat), dengan mendirikan sholat seseorang selalu mendapat lindungan dari Allah SWT,  dan juga di dalam sholat juga terwujud zikir yang mendalam, dan do’a intensif dalam kehadiran ruhani dan jasmani serentak.
c.       تطبيق كريم  (berlaku murah hati), sifat murah hati ini yang terdapat dalam dri manusia dapat mengatasi segala nafsu serakah yang mengancam kebersihan ruhani.
d.      ينصف  (berbuat adil) berbuat adil disini mengarah untuk umun, diri sendri, keluarga dan kepada semua mahluk, dan ini merupakan ajaran pokok agama islam.[19]
Waliyullah mencoba menjelaskan derajat tertinggi dari proses mengenal Tuhan melalui konsep Ihsan, pengenalan terhadap Tuhan ini dapat di capai jika manusia sudah menjadi Insan Kamil dengan memenuhi syarat yang telah waliyullah gambarkan.
Dengan pemenuhan keempat penyanggah Ihsan di atas, seseorang dapat mencapai ketetapan iman jika penyanggah ini selalu di pakai oleh setiap Manusia dalam Islam.





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan.
1.      Mengenai biografi Syakh Waliyullah al-Dahlawi, ia adalah sosok yang luar biasa tidak heran jika ia bisa menjadi seorang pemikir hebat, sebab dari nasabnya saja ia lahir dari kalangan orang-orang yang taat beragama dan berilmu tinggi, dengan itu maka percikan kecerdasan dan keuletan serta ketatan tentulah juga terpercik kepadanya sehingga ia dapat menjadi ulama hebat dan pembaharu di dunia Islam selain itu, juga dikenal di Barat.
2.      Karya-karyanya sangat banyak disebabkan rajinya ia menulis, menggali, meneliti ilmu-ilmu, serta keinginannya untuk memajukan Islam, dan untuk memajukan Islam salah satu caranya ialah menulis banyak buku-buku.
3.      Terkait dengan pemikiran Kalam, Syakh Waliyullah al-Dahlawi menilai permasalahan kalam terletak pada para pembuat keputusan dalam kalam, dimana setiap permasalahan harus dikembalikan kepada al-Qur’an dan Sunnah.
a.       Setiap manusia harus mempelajari al-Qur’an dan Hadits untuk dijadikan pusat dari seluruh keilmun. Al-Qur’an ini dapat di pahami melalui asbab al-Nuzul Mikro dan Makro.
b.      Manusia memiliki tiga pokok unsur, ‘aqlun, Qalbun dan Nafs. Ketiganya memilki fungsi masing-masing sesuai dengan fungsinya.
B.     Saran dan Kritik.
Sebagai manusia biasa pasti tidak terlepas dari keplesetan sebab kekeliruan, dengan itu tentunya dalam makalah ini masih terdapat kekurangan. Olehnya itu, penulis sangat membutuhkan kritikkan dan saran sebagai wujud apresiasi pembaca, dengan tujuan makalah ini bisa dikoreksi, sehingga kekurangannya dapat di perbaiki agar bisa menjadi makalah yang berkualitas.



[1] Harun Nasution, Pembaruan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)., h. 20.
[2] H. Ali Mudhori, Al-Tahrir Jurnal Pemikiran Islam: kajian terhadap pemikiran Syah Waliyullah al-Dahlawi,(Ponorogo: STAIN, 2002)., h. 84
[3] H. Ali Mudhori, kajian terhadap pemikiran Shakh Waliyullah al-Dahlawi, dalam jurnal Al-Tahrir, pemikiran Islam, (Vol. 2 No.1 Januari 2002)., h. 93
[4]Bayu Agustiar, Ushuluddin Corner, Syekh Waliyullah al-Dahlawi, bayuagustiar.blogspot.co.id/2011/07/syekh-waliyullah-ad-dahlawi.html. (di akses 23/11/2016).
[5]Ziedy M., Pemikiran Kalam Ulama Modern, ziedymu.blogspot.co.id/2012/11/pemikiran-kalam-ulama-modern.html. (di akses 10/11/2016).
[6]Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin Muhammad, (Bandung: Pustak, 2003)., h. 297. Dalam Gaby Gabriella, Pemikiran Syakh Waliyullah, (gnomepath.blogspot.co.id/2015/19/pemikiran-syaikh-waliyullah.html?=1. (02-12-2016).
[7]Bayu Agustiar, Ushuluddin Corner,…
[8]Syafieh, Tauhid Ilmu Kalam (Krangka Befikir Aliran-Aliran Ilmu Kalam), syafieh.blogs[ot.co.id/2013/02/tauhid-ilmu-kalam-kerangka-berfikir.html?m=1, (02-12-2016).A
[9]Ali Muddin Hassan, Makalah Perkembangan Teknologi Modern (Pekanbaru, 1998)., h. 5.
[10]Muktafi Sahal, M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag, Teknologi Islam Modern (Surabaya: Gitamedia Press), 65.
[11]Ali Muddin Hassan,..6.
[12]Muktafi Sahal, M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag,..63.
[13]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 22.
[14]Muktafi Sahal, M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag,..63.
[15]Hamim Ilyas, Asbab an-Nuzul Dalam Studi Al-Qurán, dalam Yudian W. Asmin (ed.), Kajian Tentang Al-Qurán dan Hadis : Mengantar Purna Tugas Prof. Drs. H.M. Husein Yusuf (Yogyakarta: Forum Studi Hukum Islam Fakultas Syariáh IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994), hlm. 73.
[16]Amirul Muttaqin, Syekh Waliyullah al-Dahlawi, http://gus-aam.blogspot.co.id/2012/05/syekh-waliyullah-ad-dahlawi.html. (di akses 30/11/2016).
[17]Bayu Agustiar. Ushuluddin Corner,…
[18]Muktafi Sahal, M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag,..63.
[19]Muhamad Abdul Mujib, Ahmad Ismail dan Syafi’ah, Ensiklopedia Tasawuf Imam al-Gazali, (jakarta: Hikmah, 2009),. h. 88-89.