Saturday, 7 January 2017

Janganlah Menodai Tarekat

Islam adalah Agama yang menjelaskan beragam ibadah yang harus dijalankan. Ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sudah menempuh jalan yang ditunjuk oleh agama, maka orang tersebut akan selalu terarahkan pada jalan yang tepat. Adapun jalan yang maksudkan pada pembahasan kali, yakni jalan yang sering dipahami oleh ahli-ahli tarekat. Pada konteks tasawuf jalan memilki makna tarekat. Kata ini kemudian dibahasa indonesiakan lalu dinisbatkan pada sebuah kumpulan, yang sekarang kita kenal tarekat. Adapun maksud dari Tarekat ialah cara yang di tempuh untuk mencapai maqam agar mencapai Ma’rifat Allah, Ma’rifat ini dapat di capai melalui dengan berbagai cara. Bisa dengan zikir, shalawat, selalu menghatamkan al-Qur’an, shalat tepat pada waktunya dan lain sebagainya.
Banyak sekali tarekat-tarekat yang berkembang di Negeri ini, yang dibentuk sebagai wadah tariqah untuk mencapai kesucian hati guna menembus cakrawala ke-Tuhanan. Setiap orang pasti menginginkan hal ina, namun sayangnya tidaklah mudah untuk dapat menembusnya dengan keadaan biasa-biasa saja. Ia membutuhkan kesucian hati dan kejujuran, dalam tarekat hanya itulah yang mampu membuka untuk menembus cakrawala ke-Tuhanan tersebut.
Ajaran dasar tarekat ialah kesucian hati dan kejujuran ini, hingga tidak heran tarekat-tarekat yang sesuai dengan syari’at dapat menelurkan orang-orang sakti, sebagaimana Syekh Yusuf al-Makassari, “dengan karomahnya, ia dapat membakar rokok di dalam air” yang mencengangkan saat itu. Dan karena kesaktian inilah, orang belanda mengatakan, seperti yang disampaikan oleh Ibu, Dr. Hj. Nurnaningsi, M.Ag. Katanya: kemerdekaan Indonesia terletak pada kehebatan tarekat bukan pada bambu runcing yang selama ini beritanya telah terkenal luas di kalangan masyarakat.
Ajaran-ajaran tarekat berpusat pada zikir, dua perbedaan umum yang melekat pada konsep ajaran zikir ini dalam tarekat, yaitu zikir Sir (dengan suara yang rendah sekali, hampir-hampir tidak kedengaran, bahkan ada yang tidak kedengaran sama sekali) dan zikir Jahr (dengan suara yang keras, bahkan ada yang sampai badannya ikut tergoyang). Persamaan umum pada zikirnya terletak dalam kalimat Tauhid lalilaha illah (tiada tuhan Selain Allah) atau biasa disebut (kalimat tahlil) dan lafaz Allah itu sendiri.
Namun pada perkembangannya, tarekat telah mengalami distorsi, hal ini dipengruhi oleh pemahaman terhadap tarekat yang tidak utuh, sehingga lahirlah pendapat, “saya biar tidak Shalat di  Masjid, duduk saja sudah shalat, atau ketika mendengar azan langsung sujud ditempat di mana dia berada”, jika pemahaman seperti ini yang di pahami, maka pemahaman ini adalah pemahaman yang keliru, yang semestinya perlu di luruskan, atau perlu di utuhkan dengan perbaikan bil hikmah wajaadilhum hiya akhsan. Sebab di anatara konsep syariat tidak dapat di pisahkan dengan hakikat, yang juga dipengaruhi oleh Tsawuf.
Sumber gambar: jalanakhirat.wordpress.com

Adapun, Tarekat dan tasawuf pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Sebab kedua ilmu ini memilik tokoh yang sama, tokoh-tokoh tarekat itulah tokoh-tokoh tasawuf. Dengan demikian, ajaran-ajaran yang ada dalam tarekat sedikit banyaknya memiliki kemiripan dengan tasawuf, yaitu “tazkiatun Nafs” penyucian diri yang memiliki hubungan dengan kesucin hati dn kejujuran atau dalam konsep Qur’an disebut Mukhlis, dengan itulah para ahli tasawuf semacam al-Ghazali juga memiliki banyak keahlian dan kemampuan melalui karomahnya. Padahal beliau adalah seorang Sufi bukan seorang tarekat.
Ada satu hal yang perlu di ketahui adalah, “dalam ajaran tasawuf maupun tarekat memiliki prinsip dasar, yaitu kesucian dan kejujuran, namun kedua hal ini dapat di capai dengan sempurna jika seseorang telah memposisikan dirinya pada kemampuan memperpadukan antara Syari’at dan Hakikat. Menjawab ini, dalam buku Hakikat tasawuf oleh Syekh Abdul Qadir Isa “ahli tasawuf mengatakan, janganlah kita mempercayai seseorang yang mampu berjalan di atas air, terbang di atas udara dan memiliki kelebihan lain sebelum kita mengetahui orang itu mengamalkan sunnah” artinya, mengamalkan ajaran Rasul dan al-Qur’an secara syari’at dan hakikatnya, sebagai pengamalan Iman, Islam, Ihsan atau tasdiqu bil Qalbi, wa Iqraru bil-Lisan dan Wa ‘Amalun bil ar-Kan.  bukan mendapatkan sedikit potongan pemhaman lalu mengatakan duduk-duduk sudah shalat, berdoa saja sudah shalat, shalat itu tidak perlu di Masjid atau yang lainya.
Dengan demikian, sebagai insan yang ingin mencari kedudukan menjadi insan kamil, maka sepatutnyalah merealisasikan perintah sebagaimana disebutkan dalam, (hadits sahih lighairihi riwayat Ibnu Majah  No.224.  “utlubul ilmi Faridhatun ‘ala kulli Muslimin” artinya: menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. Setelah mengetahui hadits ini, maka tidaklah cukup bagi kita duduk diam dan tidak berusaha bangun untuk menuntut ilmu.

Maksudnya memperbanyak ilmu Agama yaitu Syari’at dan hakikatnya, tidak berhenti menuntut ilmu hingga kematian yang membatasinya, dengan berusaha mengamalkan ilmu yang telah di pelajari semaksimal mungkin.
Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: