Sunday, 12 December 2021

Pisabha sebagai Wadah Pembentukan Karakter dan Akhlak

 




Akhlak termasuk sifat manusia yang unggul, baik, dan menimbulkan rasa persaudaraan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Mengenai hal ini telah diajarkan dalam tradisi pisabha. Pisabha termasuk salah satu media untuk mempelajari akhlak, sebab dalam proses melaksanakan pisabha para gadis itu telah diberikan penguatan-penguatan tentang pentingnya Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, menaati kedua orang tua, berbuat baik kepada keluarga dekat dan tetangga, dan harus bersikap baik terhadap semua orang, keempat hal ini kata Imam Surima merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya yang tertera didalam al-Qur’an dan sunah-sunah nabi-Nya. Selain itu, mereka berzikir dan belajar  untuk mengisi pengetahuan dalam hati dan otak mereka. Dan perlu diketahui bahwa akhlak hanya bisa diraih dengan ibadah, sementara karakter dapat didapatkan dari ilmu. Kedua cara perolehan pendidikan karakter dan akhlak ini sudah diajarkan didalam pisabha. Para gadis yang melakukan pisabha diberikan sugesti untuk senantiasa berbuat baik kepada Allah dan kepada seluruh manusia.

Ajaran tentang pembentukan karakter tidak hanya terbatas pada pendidikan orang tua berupa nasihat pribadi, melainkan terbentuk dalam suatu tradisi. Didalam proses menjalani pisabha pendidikan yang diterima gadis pisabha tentang pembentuk sikap dan karakter baik yang diperbuat, terutama tentang akhlak kepada sesama manusia, kepada orang tua, dan  kepada Allah SWT. Imam Surima menyampaikan bahwa.

“Selagi masih kanak-kanak, mangkali tomalawae mansuana, atawa tatalaksanae agama, jari natalapaisie, kemudian noanuaka mai tetangga, atau nopiwau kesalahan, toadarie ana-ana.

Artinya: “selagi masih kanak-kanak, barangkali anak itu pernah melawan orang tuanya, atau anak itu tidak melaksanakan ajaran agama, atau melepaskan agama, kemudian anak itu memiliki kesalahan dengan tetangga, itulah sebabnya anak itu harus dididik. 

Olehnya itu, Imam La Abdullah Mustafa menyampaikan agar anak itu dipisabha, nanti didalam proses pelaksanaan pisabha anak itu bisa diberikan pengajaran sikap, karakter dan akhlak sehingga memiliki perangai yang baik dan terhindar dari perangai yang buruk, agar sang gadis itu suci dan putih hatinya dari sifat-sifat jahat seperti kain putih.

Inilah hal penting yang harus diketahui oleh gadis pisabha bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya dari sifat-sifat buruk, pisabha yang telah dilakukannya menjadi salah satu bukti kepedulian masyarakat kepadanya. Pendidikan itu tidak hanya menjadi kewajiban orang tua secara pribadi, tetapi juga tanggung jawab tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Sebab, gadis yang telah beralih statusnya menjadi dewasa bukan hanya menjadi kebanggaan, kegembiraan orang tua, tetapi kegembiraan, kebanggaan dan rasa senang seluruh masyarakat. Dia yang membawa nama harum daerah dan keluarganya. 

Friday, 10 December 2021

Pisabha Sebagai Penyucian Jasmani dan Rohani

 

Dalam proses pelaksanaan pisabha, gadis remaja diberikan pengajaran tentang taharah, yang didalamnya berisi penjabaran tentang Istinja, Mandi dan Wudhu. Taharah adalah proses untuk menyucikan diri dari kotoran-kotoran atau najis yang menempel di badan. Untuk memperkuat keyakinan sang gadis, para sando lantas memberikan pengajaran doa-doa istinja dan sekaligus maknanya. Tujuannya supaya mereka benar-benar memahami nilai dari kebersihan diri, dan diyakini bahwa itu perintah Allah SWT. Jamia menyampaikan agar gadis-gadis remaja mempelajari teori-teori istinja dengan baik, yaitu piguru misa (belajar terlebih dahulu) mulai dari tata cara istinja hingga menghafal dan memahami akna doa-doanya. Dan kesempatan itu dilakukan dalam melaksanakan pisabha. Artinya, mereka bisa konsetrasi mendengarkan pembinaan dan menghafal doa-doa istinja yang diajarkan. Bahkan dalam kitab-kitab fikih, pembahasan taharah menduduki urutan pertama yang harus diketahui. Nilai-nilai penyucian diri inilah yang dilakukan oleh masyarakat Buton ketika melakukan tradsisi pisabha, khususnya bagi anak-ana gadis mereka. 

Ketika para gadis pisabha berada didalam kurungan mereka dipakaikan lulur kecantikan, lulur ini berfungsi untuk menghaluskan dan memutihkan kulit gadis-gadis remaja yang melakukan pisabha. Sehingga mereka selalu terlihat cantik dan bersih. Dan keberishan termasuk bagian dari Iman “attuhuru syatrul iiman”. Selain pemakaian lulur sebagai media pembersihan kulit. Mereka juga diajarkan istinja, ini perkara yang dianggap penting bagi mayarakat Islam. Kesucian jasmani terkafer pada makna kain putih. Imam Surima mengatakan bahwa gadis remaja yang sudah melakukan pisabha jasmani dan rohaninya akan suci bagai kain putih.

Kain putih selain melambangkan kesucian jasmani, juga melambangkan kesucian rohani, kenapa gadis pisabha juga mendapatkan kesucian rohani, karena ketika didalam kurungan mereka berzikir, mereka melakukan itu karena zikir adalah salah satu perintah yang harus dilakukan ketika melakukan pisabha, zikir diyakini sebagai aktifitas ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi haid. Anjuran berzikir ini, telah disampaikan oleh Umi Sumiyati selaku sando. 

Umi Sumiyati mengungkapkan bahwa gadis pisabha harus melakukan zikir selama berada didalam kurungan, mereka harus senantiasa mengucapkan istighfar dan berbagai zikir lain yang berfungsi untuk senantiasa mengingat Allah dan menggugurkan dosa-dosa, dan ini harus dilakukan dalam keadaan ikhlas. 

Zikir juga bisa mendatangkan ketenangan dan kedamaian hati, tentu gadis remaja pasti medapatkan itu. Al-Qur’apun telah mengungkapkan perintah ini dalam QS. Ar-Ra’du/13:28.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Ayat-ayat tentang zikir dan jabarannya sangat luas dan banyak, jika diurai dalam pembahasan ini tidak akan muat, cukuplah bisa dipahami dari ayat ini bahwa zikir berfungsi untuk menentramkan hati dan menyucikan diri. Maka harapannya kesucian dan ketenangan hati itu tidak hanya didapatkan saat melaksanakan tradisi pisabha, tetapi bisa menjadi pendidikan yang dapat direalisasikan hingga kehidupan berakhir.



Wednesday, 8 December 2021

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

 Proses pensyahadatan telah mewakili satu pemahaman tentang pentingnya menanamkan keyakinan untuk beriman kepada Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Gadis remaja yang melakukan pisabha diharapkan mampu menjadi insan yang memiliki kekuatan Iman. Agar keyakinan mereka kepada Allah tidak goyah. Proses penyembahan kepada Allah tidak boleh dicampur adukkan dengan keyakinan lain, apalagi melakukan kesyirikan. Dan aktifitas dalam kehidupan harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Inilah harapan yang diinginkan setelah proses pisabha selesai. Pengakuan tauhid kata Imam Surima, dengan mengikuti seluruh perintah Allah SWT itu menjadi syarat bagi seorang gadis setelah disyahadatkan. Ia menerima sepenuh hati bahwa ia akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dengan pemahaman dua kalimat syahadat, terbentuklah kepribadian dan kehati-hatian dalam melakukan aktifitas hidup. Apalagi gadis itu telah berubah statusnya menjadi dewasa. Artinya, pengawasan dan perlindungan tidak hanya bermuara lagi dari orang tua, tetapi langsung dari Allah SWT. sehingga kekhawatiran tentang terjerumusnya gadis itu kedalam perbuatan zina dan hamil diluar nikah tidak terjadi. Apalagi ini merupakan salah satu tujuan diantara banyak tujuan lain bagi bentuk pendidikan dalam tradisi pisabha. Diungkapkan oleh salah seorang tokoh adat, La Isiadi. 


“Ande ana-ana notowaho (haid) khususno mowine, habe nakalaporaisie mancuana, ngalaho nakapisabhaisie dhiani, ande ciae, tosasu bho nokohawa i luara, jari mansuana habe nalaporae i toko adat, ande ciae berdosa mancuana.”

Artinya: “Kalau anak-anak perempuan sudah besar (haid), harus dilaporkan kepada orang tua-tua, supaya dilakukan pisabha, dikhawatirkan jika pisabha tidak dilaksanakan, maka kemungkinan besar akan terjadi hamil di luar nikah. Jadi, ayah dan ibunya harus melaporkan tanda kedewasaan itu kepada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, kalau kedua orangnya tidak melaporkannya, maka mereka berdua berdosa.”


Hasil wawancara yang diungkapkan La Isiadi ini, menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk menjaga anak-anak perempuan tidak hanya terletak kepada kedua orang tua atau keluarga mereka. Seluruh masyarakat juga memiliki peran penjagaan. Artinya, jika terjadi hal buruk dan memalukan seperti yang dijelaskan La Isiadi itu, rasa malu tidak hanya diderita si gadis itu, kedua orang tuanya, dan keluarganya, tetapi juga diderita oleh masyarakat. Terutama tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, selaku masyarakat pemerintahan.


Kesucian diri seorang gadis harus selalu terjaga, dan paling utama dari penjagaan itu adalah Allah SWT, Dialah yang memiliki kekuatan besar untuk menjaga mereka. Penanaman nilai-nilai tauhid ini begitu penting. Yakni beriman kepada Allah SWT dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Keyakinan sang gadis kepada Allah SWT harus selalu putih sebagaimana kain putih yang didudukinya di atas peti itu. Maksudnya ia harus selalu bercahaya. Keyakinan itu tidak boleh berubah menjadi hitam dan terbagi. Sang gadis harus selalu menjaganya dari kemurniannya. Dengan senantiasa menjaga dirinya dari kemaksiatan. 

Penanaman nilai-nilai syahadat harus senantiasa terkafer dalam kehidupan sehari-hari, sebab pemahaman syahadat berpengaruh tehadap kebermaknaan hidup dan terjaganya kehormatan. Dengan syahadat kepribadian terbentuk, perbuatannya selalu baik, dan senantiasa menimbulkan perilaku mulia. Bahkan ini diajarkan langsung oleh sando. Metode pengajarannya bisa dikatakan mirip dengan pengajaran Malaikat Jibril ketika mengajari nabi Muhammad SAW konteks Iman, Islam, dan Ihsan yang tertera dalam hadits muslim yang telah saya uraikan sebelumnya. Dimana Jibril mendekatkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW saat mengajarkan rukun Iman dan Islam itu. Konotasi metode ini dengan pendidikan yang diajarkan dalam pisabha yakni antara sando dan gadis yang dipisabha, tidak ada sekat yang memisahkan, pendidikan tauhid diajarkan di tempat yang sangat tertutup dan jauh dari kebisingan dan gangguan sehingga ucapan dan nasehat pengajaran yang diberikan bisa didengar dan dipahami secara jelas karena dekatnya.

Demikian pentingnya syahadat, orang Buton lantas menjadikan tradisi pisabha sebagai media pendidikan tauhid kepada anak-anak perempuan mereka. Sehingga mereka bisa memahami hakikat Islam yang sebenarnya.