Amel dan Anin
Suatu hari, burung bangau berlibur di Hutan menikmati indahnya
cuaca pagi yang cerah dan menghayati kicau burung-burung lain yang merdu bagai music
Mozart yang menyentuh hati, ditengah perjalan ia bertemu dengan seekor burung
Camar, merekapun berkenalan dan akhirnya menjadi teman akrab.
Burung Bangau memiliki bulu yang sangat cantik dan lembut, burung Camar
sendiri tertarik melihatnya, burung camar kagum dan berpikir, sekiranya aku
memiliki bulu yang indah seperti burung Bangau alangkah senangnya hatiku.
Pada suatu waktu, tidak tera menahan rasa, ingin seperti burung
Bangau, burung Camarpun menyeru “wahai burung Bangau bulumu sangat cantik dan
indah dipandang, ingin rasanya aku sepertimu?”. Mendengar itu, burung bangau
tertawa “hahahahahaha” dan kemudian berkata: “tahukah kamu, buluku seperti ini,
karena berkat ramuan nenek moyangku dulu, yang di wariskan secara turun
temurun. Namun, Karena hari sudah sore merekapun kembali ke sarangnya
masing-masing.
Keesokan harinya, burung Camar ingin menemui burung bangau dengan
maksud ingin mempertanyakan sekaligus meminta ramuan tersebut, burung Camarpun
pergi dan menemui Burung Bangau yang sedang duduk di atas dahan pohon cemara.
setelah bertemu, burung Camar kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, burung
Bangau berkata “bolehkah aku mencoba ramuan nenek moyangmu?, agar buluku juga
bisa cantik, indah dan lembut sepertimu. Burung Bangau kemudian menjawab dengan
nada tolak, “tidak boleh, aku tidak bisa memberikanmu, nenek moyangku tidak
ingin ramuan itu diberikan kepada selain keturunan burung Bangau, itu warisan
yang di titipkan secara turun temurun, yang di janjikan untuk tidak diberikan kepada
siapapun selain keturunannya. Cari saja ramuan yang lain, jangan pernah
mengharapkan aku bisa memberikan ramuan itu.
Mendengar itu, burung Camarpun mengakui kalau dia memang bukan satu
keturunan dengan burung Bangau, sebenarnya dia sempat berpikir, Burung Bangau
pasti memberikannya karena dia sudah lama menjadi teman akrabnya, ternyata
pikirnya salah. Camar berkata tidak usah aku memaksakan diri, aku harus ikhlas
menerima serta mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku.
Burung Camar memang menerima itu, tetapi ia kemudian pergi mencari
ramuan yang cocok untuknya, dia melakukan penelitian-penelitian dan pada
khirnya ia juga menemukan ramuan yang dapat menjadikan bulunya indah dan
bersih, ramuan itu ialah mandi di air yang jernih lima kali sehari.

0 comments: