Kampung
Amaholu berada diujung Pulau Seram Bagian Barat, terletak di pesisir pantai Huamual. Kampung ini bersebelahan dengan Kampung Losi dan Hatawano. Jumlah Kepala
Keluarga Kampung Amaholu sebanyak 200 lebih KK.
Masyarakat kampung Amaholu dikenal sebagai
masyarakat yang taat ber-Agama. Ketaatan ini telah di benarkan oleh seluruh kampung-kampung di Pesisir Huamual Barat. Selain itu, dibuktikan dengan banyaknya jamaah di Masjid saat sholat berlangsung. Bahkan, ada yang mencoba memprediksi bahwa Amaholu akan menjadi kampung ulama. Pasalnya, minat agama tidak hanya dimiliki orang tua, tetapi juga anak-anak, remaja dan pemuda. Banyak anak-anak di kampung Amaholu yang menimba ilmu di pesantren. Mempelajari Bahasa Arab, Nahu, Shorof, Hadits, Tafsir dan ilmu-ilmu agama lain yang menunjang. Bahkan beberapa orang selain telah mengahafal 30 juz al-Qur'an, juga sudah mampu mengisi kajian dengan menggunakan kitab gundul.
Adapun
pekerjaan Masyarakat Kampung Amaholu sangat berragam. Ada yang menjadi petani, pelayar, petani-pelayar, Guru, Dosen, dan Tukang.
Khusus mengenai pelayaran. Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Sejak layar sampai mesin dan sejak kayu sampai fiber.
Perahu layar yang mereka pakai untuk berlayar adalah perahu Bhangka (Mensinya menggunakan kekuatan angin) dan perahu Piber. Perahu Bangka dulu dipakai untuk memuat Kayu, Kaladi, Pisang, cengkih, coklat, copra dan berbagai barang pecah belah. Adapun Perahu Piber dipakai untuk memuat minyak Bensin, Solar, dan Minyak
Tanah, bahan bakar ini mereka beli di Tahuku dan mereka jual di pesisir Huamual
dan sekitarnya.
Sebagaimana papalele keladi, minyak juga dijual dengan cara yang sama. Dijual dari kampung ke kampung dan dari pulau ke pulau. Bahkan mengeliling pulau seram dan melintas ke pulau buru, Kelang, Manipa, Buano, hingga di Maluku Utara. Aktifitas ini masih dilakukan hingga sekarang. Adapun perahu layar sisa sedikit peninggalannya dan cerita saja.
Selain propesi pelayar masyarakat amaholu adalah petani. Mereka menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Ada yang jangka panjang dan ada yang jangka pendek. Tanaman jangka panjang seperti Cengkeh, Pala, Durian, Coklat, Mangga, Kelapa, dan lain-lain. Namun, dari beberapa tanaman jangka panjang ini. Pala dan cengkih menjadi tanaman favorit. Rata- rata setiap rumah memiliki lahan cengkih.
Adapun tanaman jangka pendek adalah Kasubi (Singkong/Ubi kayu). Kasubi ini terdiri empat, yaitu Kasubi Bogor, Kasubi Kampaki, Kasubi Runga (Lombo) dan Kasubi
Kalambe. Bebrapa Kasubi inilah yang menjadi makanan pokok Masyarakat Amaholu dan kampung-kampung Buton yang berada di pesisir Huamual.
Kasubi itu kemudian diolah menjadi sangkola atau masyarakat pada umumnya menyebut Sangkola itu sebagai suami. Sangkola inilah yang lebih di
sukai Masyarakat Amaholu dan Kampung-Kampung yang ada di sekitar pesisir Huamual. Seperti, Kampung Hatawano, Losi, Mange-Mangge, Asam
Jawa, Batu Lubang, Eli kecil dan Besar, Air Papaya, Wayasel, Talaga, Nasiri,
Lirang, limboro, Temi, Erang, Tapinalu
dan Olatu.
Kasubi,
Cengkeh, Pala, Durian, dan beberapa tanaman lainnya, masyarakat Amaholu menanamnya di beberapa gunung tanam di Huamual Barat.
Pada pembahsan kami hanya akan fokus pada sejarah penamaan gunung yang ada di Kampung Amaholu. Gunung-gunung yang ditanami Kasubi, Cengkeh, Pala dan tanaman lainnya. Adapun namq-nama gunung itu adalah sebagai berikut:
1.
Gunung
Kabompocu.
Kabompocu berasal dari kata kabom dan pocu. Kabom berati kebun dan pocu artinya kepala. Berdasarkan tuturan lisan, gunung ini dinamakan Kabompocu karena adanya kepala di tempat itu. Ada juga yang
mengatakan, karena adanya kepala yang sering menggelinding disekitar gunung itu. Masyarakat Amaholu menyebut kepala yang menggelinding itu dengan kandondoopocu. Konon kandondoopocu diyakini sebagai makhluk gaib. Kabompocu atau Kepala
manusia itulah yang menjadi cikal bakal penamaan gunung Amaholu. Terkenallah kemudian pada masyarakat kampung Amaholu dengan gunu Kabompocu (bahasa Daerah).
Ada informasi lain, bahwa kepala itu konon merupakan tengkorak
orang-orang Portugis, Belanda atau Jepang yang meninggal di sana. Namun, ini butuh penelitian lebih dalam lagi.
2.
Gunung
Talaga.
Gunung Talaga di
Kampung Amaholu terbagi 3, Pertama: Gunung Talaga Rata, dinamakan demikian
karena memang tempatnya yang rata, Kedua: Gunung Talaga Iwawo, maksudnya Gunung
Talaga yang paling atas, Iwawo sendiri terbagi dua kata, I=di dan Wawo= atas,
jadi Iwawo berarti di atas artinya gunung talag yang terletak di bagian atas,
dan ketiga: Gunung Talaga Koee, dalam bahasa Daerah Amaholu Talaga berarti
Kolam atau Danau, sementara Koee berarti tempat yang di dalamnya ada air, Koee
sendiri terbagi dua kata Ko dan Ee, Ko bearti mempunyai atau ada sedangkan Ee
berarti air, jadi Talaga Koee bearti Kolam yang di dalamnya ada atau mempunyai
air.
3.
Gunug
La Ama.
Gunung La Ama
termasuk gunung yang paling dekat dengan tempat kediaman masyarakat Amaholu,
jaraknya sekitar 100 M dari Kampung, untuk sampai di sana harus mampu melewati tanjakan
seperti gunung-gunung lain yang ada disana. Adapun penamaan Gunung La Ama
diambil dari salah seorang keluarga yang tinggal di La Ama yaitu Bapa La Bai,
di gunung itulah Bapa La Bai membuat rumah dan hidup bersama Istrinya Wa Ina
Komba, karena dulu orang sering memanggil Bapa Bai dengan sebutan La Ama, Maka
panggilan Bapa La Bai sebagai La Ama akhirnya melekat kepadanya dan lambat laun
panggilan La Ama itu akhirnya di Nisbatkan kepada Gunung oleh masyarakat Kampung
Amaholu, karena itulah di sebut sebagai Gunung La Ama.
4.
Gunung
Kota.
Gunung Kota bersebelahan
dengan Gunung La Ama, namun jaraknya lebih di atas, sekitar 1 kilo meter perjalanan
jalan kaki, dinamakan Gunung Kota karena di tempat itu ada Batu Besar yang
menjulang Tinggi seperti benteng besar yang terlihat seperti Kota, tepat di
Atas kampung Amaholu.Selain itu di temukan didalam lubang batu (goa) di Gunung
Kota, berupa Meja yang Licin seperti meja biasanya yang diukir dari batu, Meja itu
juga memiliki empat kaki, menurut perkiraan Masyarakat setempat, Meja itu kemungkinan
merupakan peninggalan belanda atau jepang atau portugis. Namun, meja itu
sekarang kakinya telah patah. Karena Batu Besar seperti benteng yang menopang
kota dan peninggalan kuno itulah sehingga orang menyebutnya Gunung Kota.
5.
Gunung
Tanita.
Gunung Tanita
bersebelahan dengan gunung kota, Tanita dalam bahasa daerah di sana di sebut
Puncak Gunung, karena tempat ini berada di puncak gunung maka disebutlah gunung
tanita.
6.
Gunung
Salawako.
Lebih di atas
dari gunung Kota, gunung ini Bisa di lalui dari gunung Talaga atau Gunung La
Ama, Gunung Salawako merupakan pusat munculnya air minum yang di pakai
masyarakat Kampung Amaholu. Dinamakan Gunung Salawako, karena didukung oleh
banyaknya pohon Salwako dulu yang tumbuh di gunung itu. Namun pohon-pohon Salawako
itu sekarang sudah banyak yang punah, hingga hampir tidak ada lagi, disebabkan
pembabatan masyarakat untuk di tanami cengke dan beberapa pohon yang bisa di
konsumsi buahnya.
7.
Gunung
Kamba Pua.
Penamaan gunung
ini di ambil dari nama pohon, yaitu pohon Kamba Pua, di gunung ini banyak
sekali memang pohon kamba puanya. Pohon inilah yang di tebang masyarakat
kampung di Kampung Amaholu sebagai penyanggah pagar-pagar kebun mereka. kayu
Kamba Pua di anggap sebagai bagian dari kayu yang agak kuat daripada kayu-kayu
yang lain. Tidak di ketahui kenapa dinamakan poho Kamba Pua.
8.
Gunung
Warau dan Gunung Luhu Lama.
Di atas kedua
gunung ini masyarakat Amaholu banyak sekali yang menanam cengkeh, gunung Warau
dan Luhu Lama saling bersebelahan, Gunung Luhu Lama terletak di sebelah Kanan jika
dilalu dari jalur Gunung Tanita dan Salawako sedangkan Gunung Warau di lalui
dari jalur kiri dari gunung Tanita dan Salawako. Di namakan Gunung luhu lama
karena memang terletak, tepat di Atas Kampung Luhu Lama demikian juga di
Namakan Gunung Warau karena terletak di atas gunung Warau.
Demikianlah nama dan sejarah gunung
yang ada di Kampung Amaholu Huamual Barat pulau Seram Maluku. Masih Bisa
ditambah refrensinya. Waalahu a’lam.


0 comments: