Sunday, 6 November 2016

Sejarah Nama-nama Gunung di Kampung Amaholu



Kampung Amaholu berada diujung Pulau Seram Bagian Barat, terletak di pesisir pantai Huamual. Kampung ini bersebelahan dengan Kampung Losi dan Hatawano. Jumlah Kepala Keluarga Kampung Amaholu sebanyak 200 lebih KK. 

Masyarakat kampung Amaholu dikenal sebagai masyarakat yang taat ber-Agama. Ketaatan ini  telah di benarkan oleh seluruh kampung-kampung di Pesisir Huamual Barat. Selain itu, dibuktikan dengan banyaknya jamaah di Masjid saat sholat berlangsung. Bahkan, ada yang mencoba memprediksi bahwa Amaholu akan menjadi kampung ulama. Pasalnya, minat agama tidak hanya dimiliki orang tua, tetapi juga anak-anak, remaja dan pemuda. Banyak anak-anak di kampung Amaholu yang menimba ilmu di pesantren. Mempelajari Bahasa Arab, Nahu, Shorof, Hadits, Tafsir dan ilmu-ilmu agama lain yang menunjang. Bahkan beberapa orang selain telah mengahafal 30 juz al-Qur'an, juga sudah mampu mengisi kajian dengan menggunakan kitab gundul. 

 


Adapun pekerjaan Masyarakat Kampung Amaholu sangat berragam. Ada yang menjadi petani, pelayar, petani-pelayar, Guru, Dosen, dan Tukang. 

Khusus mengenai pelayaran. Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Sejak layar sampai mesin dan sejak kayu sampai fiber. 

Perahu layar yang mereka pakai untuk berlayar adalah perahu Bhangka (Mensinya menggunakan kekuatan angin) dan perahu Piber. Perahu Bangka dulu dipakai untuk memuat Kayu, Kaladi, Pisang, cengkih, coklat, copra dan berbagai barang pecah belah. Adapun Perahu Piber dipakai untuk memuat minyak Bensin, Solar, dan Minyak Tanah, bahan bakar ini mereka beli di Tahuku dan mereka jual di pesisir Huamual dan sekitarnya. 

Sebagaimana papalele keladi, minyak juga dijual dengan cara yang sama. Dijual dari kampung ke kampung dan dari pulau ke pulau. Bahkan mengeliling pulau seram dan melintas ke pulau buru, Kelang, Manipa, Buano,  hingga di Maluku Utara. Aktifitas ini masih dilakukan hingga sekarang. Adapun perahu layar sisa sedikit peninggalannya dan cerita saja.


Selain propesi pelayar masyarakat amaholu adalah petani. Mereka menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Ada yang jangka panjang dan ada yang jangka pendek. Tanaman jangka panjang seperti Cengkeh, Pala, Durian, Coklat, Mangga, Kelapa, dan lain-lain. Namun, dari beberapa tanaman jangka panjang ini. Pala dan cengkih menjadi tanaman favorit. Rata- rata setiap rumah memiliki lahan cengkih. 

Adapun tanaman jangka pendek adalah Kasubi (Singkong/Ubi kayu). Kasubi ini terdiri empat, yaitu Kasubi Bogor, Kasubi Kampaki, Kasubi Runga (Lombo) dan Kasubi Kalambe. Bebrapa Kasubi inilah yang menjadi makanan pokok Masyarakat Amaholu dan kampung-kampung Buton yang berada di pesisir Huamual.

Kasubi itu kemudian diolah menjadi sangkola atau masyarakat pada umumnya menyebut Sangkola itu sebagai suami. Sangkola inilah yang lebih di sukai Masyarakat Amaholu dan Kampung-Kampung yang ada di sekitar pesisir Huamual. Seperti, Kampung Hatawano, Losi, Mange-Mangge, Asam Jawa, Batu Lubang, Eli kecil dan Besar, Air Papaya, Wayasel, Talaga, Nasiri, Lirang,  limboro, Temi, Erang, Tapinalu dan Olatu.


Kasubi, Cengkeh, Pala, Durian, dan beberapa tanaman lainnya, masyarakat Amaholu menanamnya di beberapa gunung tanam di Huamual Barat.

Pada pembahsan kami hanya akan fokus pada sejarah penamaan gunung yang ada di Kampung Amaholu. Gunung-gunung yang ditanami Kasubi, Cengkeh, Pala dan tanaman lainnya. Adapun namq-nama gunung  itu adalah sebagai berikut:






1.      Gunung Kabompocu.

Kabompocu berasal dari kata kabom dan pocu. Kabom berati kebun dan pocu artinya kepala. Berdasarkan tuturan lisan, gunung ini dinamakan Kabompocu karena adanya kepala di tempat itu. Ada juga yang mengatakan, karena adanya kepala yang sering menggelinding disekitar gunung itu. Masyarakat Amaholu menyebut kepala yang menggelinding itu dengan kandondoopocu. Konon kandondoopocu diyakini sebagai makhluk gaib. Kabompocu atau Kepala manusia itulah yang menjadi cikal bakal penamaan gunung Amaholu. Terkenallah kemudian pada masyarakat kampung Amaholu dengan gunu Kabompocu (bahasa Daerah). 

Ada informasi lain, bahwa kepala itu konon merupakan tengkorak orang-orang Portugis, Belanda atau Jepang yang meninggal di sana. Namun, ini butuh penelitian lebih dalam lagi.







2.      Gunung Talaga.
Gunung Talaga di Kampung Amaholu terbagi 3, Pertama: Gunung Talaga Rata, dinamakan demikian karena memang tempatnya yang rata, Kedua: Gunung Talaga Iwawo, maksudnya Gunung Talaga yang paling atas, Iwawo sendiri terbagi dua kata, I=di dan Wawo= atas, jadi Iwawo berarti di atas artinya gunung talag yang terletak di bagian atas, dan ketiga: Gunung Talaga Koee, dalam bahasa Daerah Amaholu Talaga berarti Kolam atau Danau, sementara Koee berarti tempat yang di dalamnya ada air, Koee sendiri terbagi dua kata Ko dan Ee, Ko bearti mempunyai atau ada sedangkan Ee berarti air, jadi Talaga Koee bearti Kolam yang di dalamnya ada atau mempunyai air.







3.      Gunug La Ama.
Gunung La Ama termasuk gunung yang paling dekat dengan tempat kediaman masyarakat Amaholu, jaraknya sekitar 100 M dari Kampung, untuk sampai di sana harus mampu melewati tanjakan seperti gunung-gunung lain yang ada disana. Adapun penamaan Gunung La Ama diambil dari salah seorang keluarga yang tinggal di La Ama yaitu Bapa La Bai, di gunung itulah Bapa La Bai membuat rumah dan hidup bersama Istrinya Wa Ina Komba, karena dulu orang sering memanggil Bapa Bai dengan sebutan La Ama, Maka panggilan Bapa La Bai sebagai La Ama akhirnya melekat kepadanya dan lambat laun panggilan La Ama itu akhirnya di Nisbatkan kepada Gunung oleh masyarakat Kampung Amaholu, karena itulah di sebut sebagai Gunung La Ama.






4.      Gunung Kota.
Gunung Kota bersebelahan dengan Gunung La Ama, namun jaraknya lebih di atas, sekitar 1 kilo meter perjalanan jalan kaki, dinamakan Gunung Kota karena di tempat itu ada Batu Besar yang menjulang Tinggi seperti benteng besar yang terlihat seperti Kota, tepat di Atas kampung Amaholu.Selain itu di temukan didalam lubang batu (goa) di Gunung Kota, berupa Meja yang Licin seperti meja biasanya yang diukir dari batu, Meja itu juga memiliki empat kaki, menurut perkiraan Masyarakat setempat, Meja itu kemungkinan merupakan peninggalan belanda atau jepang atau portugis. Namun, meja itu sekarang kakinya telah patah. Karena Batu Besar seperti benteng yang menopang kota dan peninggalan kuno itulah sehingga orang menyebutnya Gunung Kota.
5.      Gunung Tanita.
Gunung Tanita bersebelahan dengan gunung kota, Tanita dalam bahasa daerah di sana di sebut Puncak Gunung, karena tempat ini berada di puncak gunung maka disebutlah gunung tanita.
6.      Gunung Salawako.
Lebih di atas dari gunung Kota, gunung ini Bisa di lalui dari gunung Talaga atau Gunung La Ama, Gunung Salawako merupakan pusat munculnya air minum yang di pakai masyarakat Kampung Amaholu. Dinamakan Gunung Salawako, karena didukung oleh banyaknya pohon Salwako dulu yang tumbuh di gunung itu. Namun pohon-pohon Salawako itu sekarang sudah banyak yang punah, hingga hampir tidak ada lagi, disebabkan pembabatan masyarakat untuk di tanami cengke dan beberapa pohon yang bisa di konsumsi buahnya.
7.      Gunung Kamba Pua.
Penamaan gunung ini di ambil dari nama pohon, yaitu pohon Kamba Pua, di gunung ini banyak sekali memang pohon kamba puanya. Pohon inilah yang di tebang masyarakat kampung di Kampung Amaholu sebagai penyanggah pagar-pagar kebun mereka. kayu Kamba Pua di anggap sebagai bagian dari kayu yang agak kuat daripada kayu-kayu yang lain. Tidak di ketahui kenapa dinamakan poho Kamba Pua.




8.      Gunung Warau dan Gunung Luhu Lama.
Di atas kedua gunung ini masyarakat Amaholu banyak sekali yang menanam cengkeh, gunung Warau dan Luhu Lama saling bersebelahan, Gunung Luhu Lama terletak di sebelah Kanan jika dilalu dari jalur Gunung Tanita dan Salawako sedangkan Gunung Warau di lalui dari jalur kiri dari gunung Tanita dan Salawako. Di namakan Gunung luhu lama karena memang terletak, tepat di Atas Kampung Luhu Lama demikian juga di Namakan Gunung Warau karena terletak di atas gunung Warau.


Demikianlah nama dan sejarah gunung yang ada di Kampung Amaholu Huamual Barat pulau Seram Maluku. Masih Bisa ditambah refrensinya. Waalahu a’lam.
Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: