Setelah kedua orang tua sang gadis remaja itu mengetahui bahwa anaknya sudah mengalami haid, kedua orangtuanyapun melaporkan kondisi itu kepada sando (guru pisabha), kepada kasisi (tokoh agama), dan parabhela (tokoh adat). Segera setelah pemberitahuan itu, dilakukanlah negosiasi keluarga untuk menyapakati waktu berapa hari pelaksanaan tradisi pisabha.
Apabila sudah disepakati jumlah hari pelaksanaannya. Diberitahukanlah kembali kepada sando supaya ia mempersiapkan perangkat-perangkat adat, seperti gunting, silet, baju adat dengan segala mahkotanya, peti atau bantal khusus, beras, kunyit, kain putih, tempayang, dan seluruh perelengkapan lainnya. Seluruh alat-alat itu kemudian diletakkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan dan seluruh alat-alat itu diletakkan setelah dimantra-mantrai oleh sando.
Adapun tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat pada sore atau malamnya, mereka mulai bekerjasama melakukan pembacaan tahlil dan doa selamat, proses ini dilakukan sebelum sang gadis dimasukkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan, biasanya di rumah gantung (kana tadha), namun sesuai perkembangan zaman kamar rumah gantung hampir tidak lagi ditemukan, walaupun masih ada yang melakukannya di rumah gantung. Namun rumah gantung tidak menjadi syarat mutlak, artinya sebagian masyarakat Buton boleh mengurung anak gadis mereka didalam kamar rumah batu, asalkan tempatnya tertutup dari penghilatan orang banyak. Tahlil dan doa selamat yang dilakukan itu sebagai bentuk munajat kepada Allah SWT agar memberikan keselamatan kepada gadis remaja dan kelancaran acara tradisi pisabha hingga selesai. Pembacaan tahlil dan doa selamat ini dilakukan sebanyak tiga kali, yakni ketika baru mau dikurung, dimandikan, dan dikeluarkan dari kurungan untuk diperkenalkan kepada khalayak umum.
Bacaan tahlil yang dipanjatkan dimulai dari surat al-Fatihah sekali, al-Ikhlas tiga kali dibaca, al-Falaq dan an-Nas masing-masing sekali saja, pada setiap akhir bacaan surat ditambahkan dengan kalimat takbir Allahu Akbar. Lalu dilanjutkan dengan al-Fatihah, al-Baqarah ayat 1-5, ayat kursi dan ayat rukun iman dan beberapa zikir lainnya seperti tahlil yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.
Setelah bacaan tahlil dan doa selamat selesai dilakukan, sando yang dibantu oleh kawan-kawannya mulai memakaikan lulur kepada gadis remaja itu, mulai pula diarahkahan untuk bersabar, karena selama didalam kurungan mereka tidak diperkeankan mandi, makanan mereka dikurangi, bahkan mereka akan berpuasa, mereka juga akan diperintahkan untuk berzikir, selain itu akan diberikan wejangan atau nasehat keagamaan. Mereka akan diberikan pendidikan layaknya orang yang sedang melakukan pelatihan atau diklat selama hari yang telah ditentukan. Kurikulum pertama yang harus diterima adalah ajaran tentang taharah didalamnya meliputi istinja, wudhu, dan mandi, kedua pembinaan tauhid, dan ketiga pembinaan karakter. Adapun lulur yang dipakaikan kepada mereka berupa beras yang dicampur dengan kunyit.
Sesuai kesepakatan sando, tokoh agama, dan tokoh adat, jika pisabha dilakukan selama delapan hari, maka pada hari ke empat mulai dilakukan pembalikan arah tidur. Pada empat hari pertama mereka menghadap ke kiri, maka empat hari setelahnya mereka harus memulai tidurnya dari arah kanan. Pembalikan arah tidur ini bertujuan untuk mendidik kesabaran dan konsistensi mereka dalam menjalani kebaikan, termasuk mengikuti proses pelaksanaan pisabha sampai selesa.
Setiap pagi setelah bangun tidur dan sore menjelang magrib, mereka mencuci muka dengan ee pireku yang langsung diberikan oleh sando. Air itu sebelumnya telah dibacakan doa selamat oleh salah satu kasisi (tokoh agama), misalnya bapak Imam, bapak Khatib, atau bapak Modim. Ee pireku ini diberikan setiap pagi dan sore selama jumlah hari pada proses pelaksanaan pisabha. Tentu, sando diberikan upah sebagai bentuk penghargaan baginya, karena telah bersedia mengurus dan melakukan pengarahan selama proses pisabha berlangsung.
Setelah dipastikan selama tujuh hari full si gadis sudah bersih dari haidnya, mulailah disampaikan kepada keluarga untuk mengundang para kasisi membacakan doa selamat pertanda bahwa proses mandi akan dilakukan, pembacaan doa itu dilakukan sore hari pada hari ke tujuh, dan malam ke delapan akan dimandikan. Sebab, esok harinya, tepat pada hari ke delapan masuk pada acara puncak.
Sebelum para gadis melakukan mandi bersih, terlebih dahulu mereka berwhudu sesuai yang telah diajarkan oleh sando. Kata sando Mimi Aco Hart bahwa sebelum mandi bersih dilakukan hendaknya dan dianjurkan bagi para gadis berwudhu.[1] Lalu para gadis pisabha membaca niat mandi bersih masing-masing. Namun, setelah wudhu, terlebih dahulu mereka dimandikan dengan air khusus yang sudah dipersiapkan oleh sando yang telah dimantrai dengan doa mandi bersih. Barulah kemudian para gadis pisabha itu melakukan sendiri mandi bersih sesuai ketentuan yang telah diajarkan. Setelah mandi bersih, mereka mulai dikeluarkan dari kamar ke ruang tamu, sambil diiringi sando, namun para gadis pisabha ini masih dalam kondisi tertutup, belum bisa dilihat, dengan disaksikan oleh kasisi/parabhela, tokoh adat dan keluarga. Mereka mulai dilatih ikrar syahadat yang dipimpin oleh salah seorang kasisi. Ikrar latihan ini, dilakukan guna melatih mereka agar tidak keliru dan gugup dalam membaca kalimat itu ketika ditampilkan di acara puncak esok harinya nanti.
Keesokan harinya, tepat pada hari ke delapan, di puncak acara itu, para gadis remaja mulai melakukan mandi dengan sebersih-bersihnya, tentu masih dalam pengarahan sando. Setelah mandi pagi, semua gadis pisabha diarahkan kekamar kurung mereka semula, untuk dilakukan ritual pibhindu yaitu; pendandanan, pengguntingan, pencukuran, pemakaian baju adat, pemakaian wangi-wangian dan lain-lain.
Pada baruga (tenda) telah disiapkan peti atau bantal yang ditutup dengan kain putih, parabhela/kasisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda telah mengambil posisi mereka masing-masing didalam baruga, para penontonpun juga sudah berserakan disamping, didepan, dan di belakang baruga. Para kasisi tepat di depan peti yang akan diduduki gadis-gadis pisabha. Mereka telah menyiapkan seluruh hal yang akan dilakukan saat proses pensyahadatan berlangsung.
Akhirnya, beberapa menit setelah proses pibhindu, para gadis pisabhapun dikeluarkan, mereka berjalan beriringan tepat di belakang sando, kemudian sando mengarahkan mereka duduk di atas peti, sando lalu berdiri dan duduk kembali dibelakang para gadis pisabha sambil memegang kepala-kepala mereka dengan kondisi mulut berkomat kamit. Mungkin membacakan doa agar para gadis pisabha tidak gugup. Merekapun langsung dituntun oleh kasisi mengucapkan beberapa kalimat nasehat yang harus mereka lakukan sebagai gadis yang telah dewasa saat menjalani kehidupan. Kalimat nasehat itu adalah berbakti kepada Allah SWT, berbuat baik kepada kedua orang tua, menghargai sesama manusia, menyayangi makhluk lainnya, dan menjaga diri dari segala kemaksiatan.
Setelah mentalkinkan nasehat, merekapun dituntun mengucapkan istighfar tiga kali, lalu membaca kalmat pengakuan iman yang tertera dalam hadits iman, Islam, dan ihsan dan salah satu ayat dari surat al-baqarah, pada ayat ke 285. Adapun hadits yang berkaitan dengan pengakuan iman tersebut adalah sebagai:
أَنْتُؤْمِنُ بِاللهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الأخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ . رواه مسلم[2]
Artinya: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada taqdir, baiknya taqdir dan buruknya taqdir. (Hr. Muslim).
z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur w ä-ÌhxÿçR ú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY/u øs9Î)ur çÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ
Terjemahnya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.S. al-Baqarah/2:125).[3]
Potongan ayat inilah yang ditalkinkan dan dibaca gadis pisabha sebelum proses pensyahadatan berlansung. Pada proses pensyahadatan itu, gadis remaja harus mengangkat jari telunjuknya, bahkan ada yang lansung menunjuk mulutnya sendiri. Menunjukkan bahwa pengakuan Iman harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, jika Allah menyuruh mengaji, shalat, puasa, zakat, kebaikan, taat orang tua, sayangi sesama, itu harus dilakukan hingga ia meninggalkan dunia. Apalagi arti syadat sendiri adalah tasdiqu bil qalbi (diyakini dengan hati), waiqraru bil lisan (diucapkan dengan lisan), dan wa’amalun bil arkan (diamalkan dengan perbuatan). Artinya, syahadat sekedar diucapkan, tetapi harus diyakini dan dimalkan seluruhnya, yakni pengamalan taqwa.
Setelah proses syahadat, dilanjutkan dengan pembacaan doa, pertanda bahwa acara pensyahadatan selesai. Kemudian, para gadis itu diarakkan keluar oleh sando, lalu diikuti seseorang kasisi yang sudah ditunjuk untuk menyentuhkan tanah dan menyiramkan air laut kepada gadis pisabha tersebut. Setelah penyiraman itu, para gadis pisabha lalu dibawa ke lapangan untuk melakukan tarian pangibi (tarian adat), sebagai bentuk hiburan, masyarakat diperkenaan untuk menari disamping gadis-gadis pisabha dengan syarat harus menaruh uang saweran ke baskom yang telah disiapkan. Para undangan yang ada didalam baruga lantas menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Setelah pangibi usai, maka berakhirlah acara pisabha.[1] Mimi Aco Hart, (53 Tahun), sando/guru pisabha, wawancara, Ahamolu Hatawano, Pesisir Huamual, 24 Oktober 2017.
[2] Al-Imam Abi Husein Muslim Ibnu al-Hajjaj al-Qusairy al-Naisabury, Sohih Muslim, juz I. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992 M/1413 H), h. 1-3.
[3] Kementrian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sgma Eksagrafika, 2009), h. 49.
