Manusia memang diciptakan Allah S.W.T. sebagai khalifah di muka bumi. Mereka yang akan memimpin semua makhluk yang ada di bumi. Mereka yang akan mengelola semua bahan-bahan yang diciptakan Allah dengan sebenar dan setepat-tepatnya pengelolaan. Mengelola darat, laut dan udara. Semua mereka kelola, emas, perak, tembaga, minyak bumi, tumbuhan, hewan, dan seluruh isi darat, ikan, mutiara, terumbu karang, dan seluruh isi laut, membuat pesawat udara, gas, dan seluruh fasilitas udara. Selain tugas terkait alam semesta, mereka juga bertugas untuk menjadi nasir dan basyir, untuk menyempurnakan akhlak dan menghilangkan debu-debu kesyirikan di tengah-tengah kerumunan masyarakat.
Tentang penciptaan manusia dan tujuan diciptakannya sebagai khalifah ini, telah dijelaskan dan diabadikan Allah S.W.T. di dalam al-Qur'an.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.""
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Terlepas dari skenario lain, hingga apakah akhirnya manusia benar-benar melakukan kerusakan sebagaimana analisis Malaikat atau sebaliknya manusia senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan. Pembahasan demikian kita kesampingkan dulu, lalu kita kutip "aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi". Sekali lagi "Khalifah di muka bumi". Kalimat inilah yang harus digarisbawahi "khalifah".
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَكَذَّبُوْهُ فَنَجَّيْنٰهُ وَمَنْ مَّعَهٗ فِى الْـفُلْكِ وَجَعَلْنٰهُمْ خَلٰٓئِفَ وَاَ غْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُنْذَرِيْنَ
"Kemudian, mereka mendustakannya (Nuh), lalu Kami selamatkan dia dan orang yang bersamanya di dalam kapal, dan Kami jadikan mereka itu khalifah dan Kami tenggelamkan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu." (QS. Yunus 10: Ayat 73).
Dapat digaris bawahi salah satu inti dari ayat ini, yakni, orang-orang yang bersama nabi Nuh di dalam kapal yang diberi gelar khalifah oleh Allah S.W.T. maksudnya adalah orang-orang yang senantiasa menghambakan diri kepada Allah S.W.T, karena mengikuti ajaran Rasul yang terdapat dalam risalah.
Jadi, seseorang bisa disebut khalifah jika mampu menjadikan dirinya beriman kepada Allah dan menjadikan seluruh anggota indranya digunakan untuk mengkaji dan menerima ajaran Allah S.W.T.
Seorang khalifah sudab pasti menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, dan Nabi Muhammad S.A.W. menjadi panutannya. Seorang khalifah selalu menjaga kemurnian Tauhid, Ibadah dan Muamalah. Mereka tidak melakukan kesyirikan dan juga menebarkan keburukan di tengah-tengah masyarakat. Sedikitpun mereka tidak ragu terhadap al-Qur'an.
Khalifah memiliki aktifitas menguntungkan dan menyenangkan Allah, khalifah senantiasa meningkatkan akhlak mulia, khalifah senantiasa berusaha menjadikan dirinya memiliki kepribadian unggul ditengah masyarakat, Khalifah senantiasa melakukan perbuatan terpuji. Khalifah tidak mencari pujian, mereka selalu ikhlas, tawadhu, dan punya sifat hati-hati.
Wajah seorang khalifah berseri-seri karena selalu menebar senyuman ketika bertemu dengan orang, tutur katanya lembut, kalimatnya menyenangkan didengar, intonasinya tidak membuat kuping kesakitan, dan jelas dalam berucap.
Khalifah sabar, qonaah, istiqamah dalam kebaikan, jujur, amanah, dan senantiasa dalam taqwa.
Semoga kita dijadikan sebagai khalifah. Aamiin.

0 comments: