Saturday, 20 November 2021

Sejarah Ringkas Tradisi Pisabha

Pada awalnya tradisi pisabha dilakukan untuk menghindari terjadinya kerusakan tanaman, baik yang ditanam di pekarangan rumah maupun di kebun-kebun. Sebelum Islam menjadi agama yang mereka anut sekarang ini, keyakinan mereka masih dipengaruhi oleh keyakinan mistis dan takhayul. Keyakinan ini barangkali tidak hanya dialami oleh masyarakat Buton ketika itu, namun juga hampir seluruh warga Indonesia dari berbagai suku. Karena agama yang mereka anut adalah animisme-dinamisme dan sebagian dipengaruhi keyakinan agama Hindu dan Budha. Bagi masyarakat Buton pisabha menjadi salah satu solusi untuk menjaga kemarahan alam karena sesuatu yang kotor. Mayarakat Buton meyakini waktu itu bahwa seorang anak perempuan ketika haid dianggap kotor dan aroma haidnya menyengat. Karenanya ia harus dikurung selama haid didalam sebuah rumah kecil yang telah disiapkan atau didalam kamar. Supaya tidak berkeliaran ke mana-mana dan supaya cairan yang keluar dari tubuh gadis remaja tidak jatuh di tanah dan di tengah-tengah perkebunan dan aroma haidnya yang menyengat itu tidak dihirup tanaman yang ada di sekelilingnya yakni di pekarangan atau di kebun. 

Mimi Aco Hart mengungkapkan bahwa masyarakat Buton waktu itu meyakini kondisi haid seorang gadis sangat mempengaruhi kondisi alam. Pengurungan itu dilakukan guna menghindari datangnya hama yang disebabkan oleh keadaan gadis remaja yang sedang haid. Keadaan itu menyebabkan ubi kayu tidak berisi dan buah-buahan gugur. Bahkan binatang akan semakin buas karena pengaruh haid untuk memakan hasil-hasil kebun. Alam bagi masyarakat Buton ketika itu akan marah jika gadis remaja itu tidak dilakukan tradisi pisabha atau dipisabha. Olehnya itu, pisabha harus dilakukan.

Selain pengaruhnya terhadap kerusakan tanaman, diyakini pula bahwa gadis remaja itu tidak boleh ke laut dalam kondisi haid, apabila gadis remaja itu ke laut, maka dirinya bisa membuat laut marah dan akhirnya bisa menimbulkan bahaya bagi dirinya dan masyarakat seumur hidup. Agar musibah laut tidak menimpa dirinya dan masyarakat, maka ia harus menjalankan tradisi yang sudah disepekati itu. Seorang gadis remaja harus tunduk dan patuh untuk melaksanakan pisabha demi menjaga keselamatan keluarga dan masyarakat.


Latar belakang sejarah pisabha juga dipengaruhi kedudukan ratu Wa Kaakaa sebagai pemimpin pertama di Kerajaan Buton. 

Secara garis historis Wa kaakaa mewariskan kekuasaan dalam kerajaan Buton yang disebut kaumu. Sebelum Wa Kaakaa di turunkan dari gunung atau tempat peraduannya saat itu sebelum ia menjadi ratu, Wa Kaakaa baru beranjak dewasa. Digambarkan Wa Kaakaa saat diturunkan dari gunung rambutnya sudah panjang. Ini sudah bisa dibayangkan umurnya, apalagi rambutnya itu sudah menutupi wajahnya. Saat Wa Kaakaa dibawa turun oleh Sibarata/Betoambari dari tempat ia ditemukan. Wa Kaakaa tidak ingin turun jika ia tidak dipayungi dengan segala kebesarannya. Bahkan ia menolak tidak mau berbicara jika payung kebesaran itu tidak disiapkan. Wa Kaakaa minta ingin dihormati secara sosial maupun kutural. Supaya Wa Kaakaa turun Batara/Betoambari dan kawan-kawannya mulai melakukan negosiasi, “apa gerangan yang bisa mereka sampaikan hingga Wa Kaakaa mengikuti ajakan mereka”, sampailah pada solusi yakni dibawakan perangkat-perangkat kerajaan, di antaranya payung, dan benda macam-macamnya barulah ia turun.


Peristiwa perpindahan itu ditafsirkan oleh seorang pakar sejarah Buton, Abd Rahman Hamid sebagai fase perpindahan status seorang gadis dari remaja ke dewasa atau masa kesendiriannya akan pindah ke masyarakat yang luas dalam dunia masyarakat Buton atau dari ruang kecil ke ruang yang besar. Sebab tradisi pisabha itu, sebenarnya bagian dari proses perkenalan bagi perempuan itu ke khalayak umum bahwa perempuan itu sudah dewasa.


Dipahamilah bahwa tradisi pisabha bermula dari keyakinan Buton terhadap pengaruh-pengaruh buruk dari haid dan aromanya, lalu dilestarikan secara besar-besaran setelah pengangkatan Wa Kaakaa sebagai ratu. Supaya perempuan yang melakukan pisabha tidak jenuh, maka dilakukanlah ritual-ritual khusus bagi sang gadis. Yakni, selama dalam kurungan ia tidak boleh mandi, ia juga harus diluluri, dan saat ia dikeluarkan tempat  kurungannya maka dilakukan acara makan-makan secara besar-besaran, ia juga dihibur dengan bunyi-bunyi gendang dan gambus lalu melakukan tarian pangibi. 

Setelah Islam masuk di Buton pada tahun 948 H/1511 M terjadilah akulturasi budaya, nilai-nilai budaya lokal lambat-laun bercampur aduk saling memperkuat. Nilai-nilainya mulai ditambahkan. Tadinya, aktifitas dalam proses  pisabha hanya sebatas pemakaian lulur, mandi, penarikan ketupat dan pelemparan mencadu sebaga penentuan jodoh, penyiraman air laut, penyentuhan tanah, penyukuran kening, pengguntingan rambut, pendidikan adat seperti menghormati sesama, berbuat baik kepada orang tua, menghormati tatanan adat, menaati raja, dan hal lainnya. Sekarang mulai ditambahkan dengan nilai-nilai Islam. Artinya, seorang gadis setelah melakukan pisabha tidak hanya sekedar tau adat, namun juga mengetahui semua tuntunan syariat agama dan meyakini karuani Allah SWT. akhirnya, tradisi pisabha dengan muatan nilai-nilai pendidikan setelah Islam mempengaruhinya, maka nilai-nilai itu dilaksanakan hingga sekarang.

Perantauan orang Buton ke Huamual waktu itu dan hingga sekarang mereka telah menjadi warga asli di sana, diperkirakan kedatangan leluhurnya sudah lebih dari tujuh generasi di Huamual. Namun, waktu yang cukup lama itu, tidak menghilangkan tradisi nenek moyang mereka, di antara tradsisi yang ada adalah tradisi pisabha.  Bahkan hingga sekarang tradisi itu masih dilakukan di Huamual. Dan nilai-nilai Islam yang ada dalam tradisi pisabha semakin kuat, sebab banyak diantara tokoh-tokoh adat, sando, apalagi tokoh agama telah memiliki pengetahuan Islam yang boleh dikatakan sudah cukup baik. sehingga nilai kebaikan yang diajarkan dalam tradisi pisabha sangat dibutuhkan masyarakat. Olehnya itu, tradisi pisabha masih bisa dijaga kelestariannya. 



Monday, 11 October 2021

LETAK GEOGRAFIS JAZIRAH ARAB

 



Jazirah  Arab memiliki peranan yang sangat besar karena kondisi alam dan letak geografisnya.  Gurun dan padang pasir yang mengelingi lingkungan Arab telah menjadi benteng yang kokoh dari kemungkinan adanya serangan dari luar yang ingin menjajah daerah Arab.  Kenyataan itu memang tidak dialami Bangsa Arab. Padahal Jazirah Arab diapit oleh dua imperium besar, yakni, Romawi dan Persia. Dan jika kedua imperium besar ini menyerang mungkin saja serangannya tidak bisa dihadang bila tidak ada benteng pertahanan itu. Benteng pertahanan itu telah menjadikan Bangsa Arab hidup merdeka.

Karena kondisi lingkungan arab yang dikeliligi padang pasir, gurun dan tanahnya yang gundul inilah daerah jazirah itu diberi nama arab. Olehnya itu, arab secara bahasa berarti padang pasir, tanah gundul dan gersang. Jadi, kata arab adalah gambaran sebuah daerah yang tidak memiliki air dan tanaman. Istilah ini sudah diberikan sejak lama.


Dilihat dari letak geografisnya, sebelah barat Jazirah Arab di batasi Laut Merah dan Gurun Sinai, Teluk Arab, dan sebagian besar negeri Iraq selatan di sebelah timur. Di sebelah Selatan berbatasan dengan laut arab yang bersambung dengan Samudra Hindia. Di sebelah utara berbatasan dengan negeri Syam  dan sebagian kecil dari negeri Iraq. Luas daerah Jazirah Arab membentang anatara satu kali satu koma tiga juta mil persegi.

 Jazirah Arab terletak di benua yang sudah dikenal sejak dahulu kala, hubungannya dengan dunia luar mempertautkan daratan dan lautan. Setiap benua mempertemukan laut Jazirah Arab, karenanya setiap kapal laut yang berlayar pasti akan bersandar di pinggiran wilayahnya. Di sebelah barat merupakan pintu masuk ke benua Afrika, Sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke Benua Eropa dan sebelah timur adalah pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-arab, Timur Tengah, Timur Dekat, terus membentang ke India dan China. Atas kondisi inilah bangsa arab banyak yang menjadi pedagang dan pengusaha.

Sunday, 26 June 2016

AMAHOLU: KOMUNITAS MARITIM DI PANTAI BARAT HOAMUAL


Penulis: Kasman Renyaan

Keberanian dan ketangguhan orang Buton di Dusun Amaholu dalam mengarungi ruang samudra, tidak bisa lagi diragukan. Menghadapi berbagai peristiwa alam seperti, angin kencang, gelombang laut, atau cuaca buruk, pada musim barat dan musim timur, sudah dianganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja, dan bukan sesuatu yang menakutkan. Mereka sudah sepatutnya, dan sepantasnya, mendapatkan julukan sebagai “Komunitas Maritim” di Kabupaten SBB khususnya, dan Indonesia umumnya sebagai negara kepulaun (Maritim).


Betapa tidak? para pelayar di Dusun Amaholu ini, telah melakukan pelayaran ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, nenek moyang mereka (Binongko) dalam kurun niaga, sudah berlayar dengan perahu BANGKA, dan membangun kontak jaringan perdagangan maritim menjangkau wilayah mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Filipina Selatan, Deli, Palau disebelah timur Filipina, dan jalur pelayaran itu dianggap sebagai rutinitas biasa. 



Kedatangan orang Buton di Pulau Seram, termasuk di Dusun Amaholu pun, tidak terlepas dari sejarah pelayaran tradisional dan perniagaan itu sendiri.


Wilayah timur seperti Irian, Nusa tenggara Timur, (Flores) Nusa Tenggara Barat (Bima), kepulauan Maluku, Maluku Utara, dan pulau-pulau terdepan dan terluar, dan wilayah Barat seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali. Wilayah Indonesia tengah, seperti Sulawesi Selatan, (Makassar) Sulawesi Tenggara (Kepulauan Buton, Bau-Bau dan Kendari), Sulawesi tengah (banggai, dan luwuk), Sulawesi Utara (Manado dan Bitung) dan hampir seluruh kepulauan Indonesia, telah dijangkau oleh para pelayar Buton di Dusun Amaholu. Wilayah tersebut termasuk bagian dari jalur pelayaran dan perniagaan mereka.


Para pelayar ini telah mendekatkan pulau-pulau dalam konteks geografi, dan ruang kulrutal yang utuh tentang Indonesia. Hal itu, terdengar dari cerita-certia yang terekam dalam ingatan kolektif para pelayar sebagai pelaku sejarah di Dusun Amaholu. 


Mereka dengan gampangnya menyebut nama daerah, jenis angin, sebaran karang di laut, dan krateristik masyarakatnya, di tempat yang pernah di kunjungi. Fakta ini membuktikan, bahwa aktivitas berlayar orang Buton di Dusun Amaholu, dalam mengarungi laut telah mendekatkan ruang komunikasi. Mereka pun dapat membentuk jaringan dagang (mencari sabangka) dengan berbagai etnis di kepulauan Indonesia.