Penulis: Kasman Renyaan
Keberanian dan ketangguhan orang Buton di Dusun Amaholu dalam
mengarungi ruang samudra, tidak bisa lagi diragukan. Menghadapi berbagai
peristiwa alam seperti, angin kencang, gelombang laut, atau cuaca buruk, pada
musim barat dan musim timur, sudah dianganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa
saja, dan bukan sesuatu yang menakutkan. Mereka
sudah sepatutnya, dan sepantasnya, mendapatkan julukan sebagai “Komunitas
Maritim” di Kabupaten SBB khususnya, dan Indonesia umumnya sebagai negara
kepulaun (Maritim).
Betapa tidak? para pelayar di Dusun Amaholu ini, telah melakukan
pelayaran ke berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, nenek moyang mereka
(Binongko) dalam kurun niaga, sudah berlayar dengan perahu BANGKA, dan
membangun kontak jaringan perdagangan maritim menjangkau wilayah mancanegara,
seperti Malaysia, Singapura, Filipina Selatan, Deli, Palau disebelah timur
Filipina, dan jalur pelayaran itu dianggap sebagai rutinitas biasa.
Kedatangan
orang Buton di Pulau Seram, termasuk di Dusun Amaholu pun, tidak terlepas dari
sejarah pelayaran tradisional dan perniagaan itu sendiri.
Wilayah timur seperti Irian, Nusa tenggara Timur, (Flores) Nusa
Tenggara Barat (Bima), kepulauan Maluku, Maluku Utara, dan pulau-pulau terdepan
dan terluar, dan wilayah Barat seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali.
Wilayah Indonesia tengah, seperti Sulawesi Selatan, (Makassar) Sulawesi
Tenggara (Kepulauan Buton, Bau-Bau dan Kendari), Sulawesi tengah (banggai, dan
luwuk), Sulawesi Utara (Manado dan Bitung) dan hampir seluruh kepulauan
Indonesia, telah dijangkau oleh para pelayar Buton di Dusun Amaholu. Wilayah
tersebut termasuk bagian dari jalur pelayaran dan perniagaan mereka.
Para
pelayar ini telah mendekatkan pulau-pulau dalam konteks geografi, dan ruang
kulrutal yang utuh tentang Indonesia. Hal itu, terdengar dari cerita-certia
yang terekam dalam ingatan kolektif para pelayar sebagai pelaku sejarah di
Dusun Amaholu.
Mereka dengan gampangnya menyebut nama daerah, jenis angin,
sebaran karang di laut, dan krateristik masyarakatnya, di tempat yang pernah di
kunjungi. Fakta ini membuktikan, bahwa aktivitas berlayar orang Buton di Dusun Amaholu,
dalam mengarungi laut telah mendekatkan ruang komunikasi. Mereka pun dapat
membentuk jaringan dagang (mencari sabangka) dengan berbagai etnis di kepulauan
Indonesia.

0 comments: