Penulis. Anin Lihi.
Soppeng adalah sebuah kabupaten yang tanahnya berwarna merah dan hitam berpasir, terletak di Sulawesi selatan, bersebelahan dengan Kabupaten Bone dan Wajo. Menurut cerita rakyat Sulawesi Selatan, Bone, Soppeng dan Wajo adalah satu kesatuan utuh dalam persaudaraan. Bukti persaudaraan ketiga kabupaten ini dikuatkan oleh satu perusahaan terbesar di Makassar. Yaitu, Perusahaan BOSOWA (Bone Soppeng Wajo), singkatan ini diambil dari ketiga nama kabupaten tersebut. Daerah Soppeng berdataran pegunungan. Namun, meskipun begitu tidak kekurangan air, bahkan Soppeng justru sering dijuluki sebagai salah satu kabupaten penghasil air terbanyak. Air itu tertampung didalam sebuah bendungan yang bernama Irigasi Langkeme.[1] Irigasi Langkeme terletak di Desa Watu. Irigasi ini dijuluki sebagai irigasi terpanjang di Soppeng, bahkan mungkin di Daerah Sulawesi Selatan. Panjangnya kurang lebih 90 km, yang bersambung dengan Sungai Walannaa dan mengalir ke Danau Tempe di Kabupaten Wajo. Irigasi inilah yang mengairi sawah kurang lebih 6400 hektar sawah, terletak di Desa Watu. Desa watu adalah salah satu desa yang memiliki sawah berkualitas tinggi khususnya pada Dusun Walattasi. Dusun yang menghasilkan gabah kurang lebih 10 ton/hektar. Di Desa Watu inilah terdapat kurang lebih 1500 hektar sawah. Jika dikalikan maka akan menghasilkan 15000 ton gabah dalam jangka waktu kurang lebih 4 bulan sekali panen. Panen padi oleh petani dilakukan dua kali pertahun, jadi total hasil dalam setahun kurang lebih 30.000 ton gabah.
Adapun proses penanaman padi dilakukan pada bulan Sembilan (September). Pada bulan 1 (Januari) padi itupun dipanen. Masyarakat Soppeng menyebut proses pemanenan ini dengan Panen Raya. Disebut Panen Raya karena pada bulan inilah gabah atau hasil panen padi itu meningkat pesat. Selain panen raya, ada juga panen kedua. Tetapi hasil panen tidak sebanyak Panen Raya, panen kedua ini dilakukan pada bulan 7 (tujuh).
Menurut Pak Dedi, pada musim kemarau Petani Soppeng tetap melakukan penanaman padi. Hal ini, di karenakan musim kemarau itu tidak mengurangi kadar air dan hasil olah petani. Bahkan penduduk Daerah Soppeng memberi keterangan bahwa semakin musim kemarau justru semakin disukai. Sebab, musim kemarau justru memberi peningkatan gabah. Musim kemarau ini mampu mengurangi hama yang menyerang padi.
Petani Soppeng selalu merasa takut jika didalam rumahnya hanya terdapat 10 gabah kering, rasa takut inilah yang mendorong semangat para petani soppeng hingga rajin menggarap sawah, mereka tidak pernah merasa lelah dan letih. Jadi, warga soppeng termasuk petani tangguh dan hebat.
Penulis menyebut soppeng sebagai daerah petani, karena dikuatkan dengan lambang Burung Kakatua yang memegang padi dan kapas. Lambang ini menuturkan soppeng sebagai daerah yang harus berpengahsilan makanan, agar penduduk soppeng tidak pernah kelaparan dan mampu memberi makan tamu jika ada tamu yang datang. Sejarah Soppeng selalu dilambangkan dengan makanan, makanan ini menjadi lambang bahwa Soppeng bisa dikatakan sebagai kabupaten petani.
Salah satu kebiasaan yang perlu dicontohi adalah kebiasaan masyarakat menyambut tamu yang datang. Ketika tamu datang, seluruh warga diwajibkan untuk menghormati tamunya dengan menjamin makan setiap tamu yang datang itu, kebiasaan ini sudah ada semenjak nenek moyang mereka ada dan hingga kini adat itu tetap menjadi kebiasaan yang dipertahankan. [2]
Makassar, 22 Juni 2016
Senin, Pukul 12:30 Wit.
gambar: Fb. Dedi Ban
[1] menurut pepatah nenek moyang Masyarakat Soppeng. Irigasi ini dinamakan langkeme (meresap) karena ada salah satu kerbau yang diserap/dihisap oleh tanah yang berada disebelah bendungan, hal inilah yang melatar belakangi penamaan bendungan irigasi ini.
[2] Artikel ini ditulis di Masjid Dar al-Khair Sama Gowa, ketika duduk ngobrol bersama Pak Dedi selaku warga soppeng, kebetulan sudah beberapa minggu saya mengenal beliau. Artikel ditulis hanya ingin mengisih ruang yang kosong dan menjadi kenangan penting bagi saya karena sudah diperkenalkan dengan Pak Dedi. Bersyukur pada Allah semata, karena takdir-Nyalah saya bisa diperkenalkan dengan orang sebaik Pak Dedi.

0 comments: