Penulis: Anin Lihi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu nahwu dan ilmu shorof adalah satu kesatuan yang saling mendukung, tidak boleh keduanya dipisahkan satu dengan yang lainnya, ilmu Nahwu membahas perubahan harokat bagian belakang kalimat dan yang lain membahas bagian depan kalimat, meski ilmu nahwu dan shorof ini memang hanya sebahagian ilmu untuk memahami bahasa arab, tetapi sangat penting sekali, apalagi bagi pelajar yang memiliki konsetrasi bahasa arab atau Tafsir, maka menurut saya wajib hukumnya bagi mahasiswa itu untuk mendalaminya.
Ilmu Nahwu dan Shorof memiliki cukup banyak bagian-bagian yang perlu dibahas dan dijelaskan, tetapi karena tugas ini sudah dibagikan masing-masing bagian itu kepada masing-masing mahasiswa maka penulis lebih memfokusan pembahasan pada bagian penulis sendiri yaitu khusus membahas I’rab dan Pembagiannya saja, menurut pemakalah I’rab adalah bagian yang terpenting dalam pembahasan ilmu nahwu untuk mengharokati, umpamanya memberi harokat pada tiap-tiap kalimat bahasa arab yang belum memiliki harokat atau Kitab al-Qur’an, Kitab Kuning atau yang berkaitan dengan itu. Namun perlu diketahui bahwa I’rab hanya fokus pada perubahan akhir kalimat.
Dari latar belakang permaslahan diatas, maka dapat ditarik beberapa permasalahan yang akan diajdikan sebagai bahan kajian selanjutnya. Adapun permasalahan tersebut ialah tercantum dalam rumusan masalah dibawah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengertian dan macam-macam I’rab serta Pembagiannya..?
2. Bagaimana cara mengetahui Tanda-Tanda I’rab..?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan kepada pendengar hingga dapat sedikit memahami apa yang dimaksud dengan I’rab serta Mengemukakan macam dan pembagian I’rab, agar pemakalah dapat mengetahui dan bisa memberikan sedikit penjelasan terkait dengan pertanyaan yang belum dimengerti oleh penanya.
2. Untuk mengetahui tanda-tanda I’rab dimana saja ditempatkan.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1. Pengertian serta macam-macam I’rab dan Pembagiannya
a. Pengertian I’rab
I’rab adalah perubahan yang terjadi pada akhir kalimat-kalimat karena ada amil yang mempengaruhinya baik berubah di dalam lafadznya atau dalam perkiraannya. Berubah lafaz adalah perubahan akhirnya kalimat yang ditandai dengan alamat I’rabnya secara jelas. Sedangkan berubah perkiraan adalah perubahan akhirnya kalimat yang ditandai dengan kalimat I’rabnya secara tidak jelas. Apakah itu berupa isim atau fi’il.[1]
Contoh: kalimat yang berubah Lafaz adalah isim sohih akhir dan fi’il mudhori sohih akhir, (لم يَضْرِبْ , يَضْرِبَ لَنْ ,يَضْرِبُ ,بِزَيْدٍ مَرَرْتُ ,ازَيْدً رَأَيْتُ , زَيْدٌ جَاءَ ). Sedangkan berubah perkiraan contohnya, يَخْشَى لَنْ,يَخْشَى ,لْفَتَى بِ مَرَرْتُ,الْفَتَى رَأَيْتُ ,الْفَتَى جَاءَ. Hal ini disesuaikan dengan kosa katanya
Selanjutnya Karena pengertian I’rab sempat menyebut amil maka perlu dijelaskan pengertian dari amil itu sendiri, jadi amil ialah perkara yang menentukan akhirnya suatu kalimat.
Pengertian lain terkait dengan I’rab penulis kutip dalam kitab yang dikarang oleh syekh Syamsuddin Muhammad Araa’ini, sebagaimana diterjemahkan oleh K.H. Moch Anwar, sebenarnya kedua pendefinisian I’rab sama maknanya namun barangkali berbeda kalimat dalam kata-katanya, hal ini penulis kutip sebagai penguat bahwa ilmu ini memang telah banyak dibahas dan dipakai oleh para ulama sekaligus penting untuk diketahui, sebagai alat bantu untuk memahami bahasa. Araa’ini menjelaskan bahwa:
الاعْرَابُ هُوَ تَغَيْيِرُ أَوَاخِرِالْكَلِمِ لِاخْتِلَافِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظًا أَوْتَقْدِيْرًا
I’rab ialah perubahan akhir kata karena perbedaan amil yang memasukinya, baik secara lafazh atau secara diperkirakan keberadaanya.[2]
Maksudnya perubahan yang terjadi pada I’rab bisa berubah akhirnya ditandai dengan berubahnya lafaz dan perkiraan sebagai telah di contohkan pada pengertian pertama.
b. Macam-macam I’rab dan pembagiaanya.
I’rab terbagi empat macam, I’rab Rofa, Nashob, Jer dan Jazem Untuk mempermudah pembaca maka penulis membuat sebuah tabel pembagian I’rab sebagaimana dibawah ini.
I’rab
|
Rofa’
|
Bisa masuk pada isim dan fi’il
|
Nashob
| ||
Jer
|
Hanya masuk pada isim saja
| |
Jazem
|
Hanya masuk pada fi’il saja
|
Dari penjelasan tabel diatas, maka terlihat jelaslah pembagian I’rab, dimana I’rab rofa dan Nashob keduanya dapat memasuki kata kerja (fiil) dan kata benda (isim), sedangkan jer dan jazem tidak, masing-masing keduanya hanya khusus pada satu saja, jer hanya masuk pada Kata bendan (isim) saja, dan Jazem hanya masuk pada kata benda (fiil) saja.
Jadi kalau kita bagi maka I’rabnya kalimat yang dibutuhkan isim ialah: Rofa’, Nashob, dan Jer. Sedangkan I’rabnya kalimat yang dibutuhkan Fi’il ada 3 juga, yaitu: Rofa’ Nashob dan Jazem.[3] Dari penjelasan singkat ini maka kita sudah bisa memahami macam-macam serta pembagian I’rab yang masuk pada isim dan yang masuk pada Fi’il.
2. Tanda-tanda I’rab.[4]
Pembagian I’rab diatas mempunyai tanda-tanda, yang akan dibahas dibawah ini yaitu:
(1) I’rab Rofa’.
a. Dhommah Tandanya I’rab rofa’ yang asli berada didalam empat tempat, yaitu:
1. Isim Mufrod (satu benda).
2. Jama’taksir (bermakna banyak).
3. Jama’ Muannats Salim (Kumpulan wanita).
4. Fi’il Mudhari yang akhirnya tidak bertemu dengan sesuatu.
b. Wawu menjadi tandanya I’rab rofa’ sebagai gantinya dlomah berada didalam dua tempat, yaitu:
1. Jama’ Mudzakkar Salim (Kumpulan laki-laki).
2. Asma’ul Khomsah (lima kalimat isim).
c. Alif menjadi tandanya I’rab rofa’ sebagai gantinya dlomah berada di dalam satu tempat, yaitu:
1. Isim tasniyah (dua benda)
d. Tsubutu Nun (tetapnya huruf Nun) menjadi tandanya I’rab rofa sebagai gantinya dlomah berada didalam satu tempat, yaitu:
1. Af’alul Khomsah (lima wazan Fi’il).
(2) I’rab Nashob.
a. Fathah Tandanya I’rab Nashob yang asli berada di dalam tiga tempat, yaitu:
1. Isim Mufrad (satu benda).
2. Jama’ Taksir (bermakna banyak)
3. Fi’il Mudhari yang kemasukan amil Nashib (yang menashabkan) dan akhirnya tidak bertemu dengan sesuatu.
b. Alif menjadi tandanya I’rab nashab sebagai gantinya fathah didalam satu tempat, yaitu: Asma’ul khom,sah (lima kalimat isim)
c. Kasroh menjadi tandanya I’rabv nashob sebagai gantinya fathah berada didalam satu tempat, yaitu: jama’ Muannats salim (Kumpulan perempuan).
d. Ya’ menjadi tandanya I’rab nashob sebagai gantinya fathah berada didalam dua tempat, yaitu:
1. Isim tastniyah (dua benda).
2. Jama’ Muzakkar Salim (Kumpulan laki-laki).
e. Hadzfu Nun (buang huruf Nun) menjadi tandanya I’rab nashob sebagai gantinya fathah berada didalam satu tempat, yaitu: Af’alul Khomsah (lima kalimat Fi’il).
(3) I’rab Jar.
a. Kasroh menjadi tandanya I’rab jer yang asli berada didalam tiga tempat, yaitu:
1. Isim Mufrad Munshorif (Isim mufrad yang menerima tanwin).
2. Jama’ Taksir Munsharif (Jama’ Taksir yang menerima tanwin).
3. Jama’ Muannats Salim (kumpulan perempuan).
b. Ya’ menjadi tandanya I’rab jer sebagai gantinya kasroh berada didalam tiga tempat, yaitu:
1. Isim tastniyah (dua benda).
2. Jama’ Muzakkar Salim (kumpulan laki-laki).
3. Asma ul Khomsah (lima kalimat isim).
c. Fathah menjadi tandanya I’rab jer sebagai gantinya kasrah berada didalam satu tempat, yaitu: isim ghairi munsharif (isim yang tidak menerima tanwin).
(4) I’rab Jazem. [5]
a. Sukun menjadi tandanya I’rab jazem yang asli berada didalam satu tempat, yaitu:
Fi’il mudhari sohih akhir (sehat huruf akhirnya) yang kemasukan ‘amil jawazim.
b. Hadzfu (membuang) menjadi tandanya I’rab jazem sebagai gantinya sukun berada didalam dua tempat, yaitu:
1. Fi’il Mudhari mu’tal Akhir (Penyakit huruf akhirnya).
2. Af’alul khomsah (lima wazan fi’il).
Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini yang ditulis beserta contohnya langsung.
Tanda I’rab Rofa.
الأمثلة
|
الموضع
|
العلامة
|
النمرة
|
جَاءَ زَيْدٌ وَالْفَتَى وَالْقَضى
|
مفرد اسم
|
ضمة
|
1
|
جَاءَ الرجَال والْأُسَارَى
|
تكسيرجمع
| ||
جَائَتْ الهِنْدَاتُ وَالْمُسْلِمَاتُ
|
سالممؤنثجمع
| ||
يَضْرِبُ زَيْدٌ وَيَخْشَ عَمْرٌ ويَرْمِى بَكْرٌ وَيَدْعُو مُحَمدٌ
|
شئبأخرهيتصلالذلم مضارعفعل
| ||
جَاءَ زَيْدُوْن وَالْمُسْلِمُوْنَ
|
سالممذكرجمع
|
واو
|
2
|
جَاءَ أَبُوْكَ, وأَخُوْكَ, وَحَمُوْكَ, وَفُوْكَ, وَذُوْمَالٍ
|
الخمسةالسماء
| ||
جَاءَالزيْدانِ
|
تثنيةاسم
|
ألف
|
3
|
يَفْعَلَانِ, تَفْعَلَانِ, يَفعَلُوْنَ, تَفْعَلُوْن, تَعَليْنَ
|
الخمسةأفعال
|
نون
|
4
|
Tanda I’rab Nashob.
الأمثلة
|
اضعالمو
|
العلامة
|
النمرة
|
رَأَيْتُ زَيْدًا وَالْفَتَى وَالْقَاضِيَ
|
اِسِمْ مُفْرَدْ
|
فتحة
|
1
|
رَأَيْتُ الرِّجَالَ وَالْأُسَارَى
|
جَمَعْ تَكْسِيْر
| ||
لَنْ أَضْرِبَ, وَلَنْ أَخْشَى, وَلَنْ أَرْمِيَ, وَلَنْ عَدْعُوَ
|
فِعْل مُضاِرع اذا دَخَلَ عَلَيْهِ نَاصِبٌ وَلَمْ يَتَّصِلْ بِأَخِرِهِ شَيْئٌ.
| ||
خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ
|
أَسْمَاءُالْخَمْسَة
|
الف
|
2
|
رَأَيْتُ الزَّيْدَيْنِ
|
جَمَعْ مُؤَنَثْ سَالِمٍ
|
كسرة
|
3
|
رَأَيْتُ الزَّيْدِيْنَ
|
اِسِمْ تَثْنِيَة
|
ياء
|
4
|
لَنْ يَفْعَلَا, لَنْ تَفْعَلَا, لَنْ يَفْعَلُوا, لَنْ تَفْعَلُوا, لَنْ تَفْعَلِى
|
الْخَمْسَةُأفْعَلُ
|
نلنَّو احَزْفُ
|
5
|
Tanda I’rab jer.
الأمثلة
|
اضعالمو
|
العلامة
|
النمرة
|
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ وَالْفَتَي وَالْقَاضِي
|
اِسِمْ مُفْرَدْ مُنْصَرِف
|
كَسْرَتُ
|
1
|
مَرَرْتُ بِالرِّجَلِ وَالأُ سَارَى
|
جَمَعْ تَكْسِير مُنْصَرِف
| ||
مَرَرْتُ بِالْهِنْدَاتِ
|
جَمَع مُؤَنَثْ سَالِم
| ||
مَرَرْتُ بِأَبِيْكَ وَأَخِيْكَ وحَمِيْكَ وفِيْكَ وذِيْمَالٍ
|
أَسْمَاءُالْلْخَمْسَة
|
يَاءُ
|
2
|
مَرَرْتُ بِالزَّيْدَيْنِ
|
اِسِمْ تَثْنِيَّةِ
| ||
مَرَرْتُ بِالزَّيْدِيْنَ
|
جَمَع مُذَّ كَّرسَالِم
| ||
مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ وَاِبْراَهِيْمَ
|
اِسِمْ غَيْر مُنْصَرِف
|
فَتْحَةُ
|
3
|
Tanda I’rab Jazem
الأمثلة
|
اضعالمو
|
العلامة
|
النمرة
| |
لَمْ يَضْرِبْ وَلَمْ يَفْعُلْ
|
فِعْل مُضَارِع صَحِيْح أَخِيْر
|
سُكُوْن
|
1
| |
لَمْ يَخْشَ وَلَم يَرْمِ وَلَمْ يَغْزُ
|
فِعْل مُضَارِع مَعْتَل أَخِر
|
حُرف الْعِلَّة
|
حَزْفُ
|
2
|
لَمْ يَفْعَلَا وَلَمْ تَفْعَلَا و لَمْ يَفْعَلوْا وَلَمْ تَفْعَلُوا ولَمْ تَفْعَلِى
|
الْخَسَةأَفْعَلُ
|
النُّوْن
| ||
Perlu diketahui bahwa kalimat itu hukumnya terbagi dua, yaitu:
1) Mabni adalah kalimat yang tetap akhirnya walaupun kemasukan ‘amil.
Contoh: الذي , هذا , هو
2) Mu’rab adalah kalimat yang berubah akhirnya karea kemasukan ‘amil.
Contoh: زيد , محمد , سالم.
Jadi kalimat yang membutuhkan perubahan adalah Mu’rab sedangkan mabni tidak. Adapun kalimat yang di I’rabi dengan harokat, adalah: isim Mufrad, jama’ taksir, jama’muannats tsalim dan fi’il mudhari’ yang tidak bersambung dengan sesuatu. Sedangkan kalimat yang di I’rabi dengan huruf ialah: isim tasniyah, jama’mutzakkar salim, asma’ul khomsah dan af’alul khomsah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. I’rab ialah perubahan pada akhir kalimat dan perubahan itu dipengaruhi oleh ‘amil.
2. I’rab terbagi empat yaitu Rofa’ tanda aslinya dhommah, Nashob tanda aslinya Fathah, Jer tanda aslinya kasroh, dan jazm tanda aslinya sukun. I’rab yang khusus masuk pada Isim antar lain, Rofa’ Nashob dan jer, selanjutnya I’rab yang khusus masuk pada Fi’il yaitu: Rofa’ Nashob Jazem. Perubahan kalimat dapat berubah secara lafaz bisa secara harokat, semua itu telah ditentukan berdasarkan kedudukannya masing-masing.
B. Saran dan Kritik
Saran, semoga tulisan ini dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan dan kritik dari para pembaca kami sangat membutuhkan guna lebih membuka wawasan untuk perbaikan makalah selanjunya agar lebih baik lagi.
[1] Tanpa Nama Pengarang, kitab Pembantu Memahami Ilmu Nahwu, Syarah Kitab al-Ajrumiyah (Timboro Jawa Timur: Maktabah al-Barokah, tt., h. 5-6.
[2] Syekh Syamsuddin Muhammad Arra’ini, Ilmu Nahwu Terjemahan Mutammimah Ajrumiyyah, Terj. Moch. Anwar dan H. Anwar Abu Bakar, (Cet XI; Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2010)., h. 11.
[3]Gaziadin Djupri, Ilmu Nahwu Praktis, Terjemahan Matan al-Ajrumiah Beserta Contoh-Contoh Praktis, ( Surabaya: Apollo, t.th)., 15.
[4] Djawahir Djuha, Tata Bahasa Arab (Ilmu Nahwu) Terjemahan matan al-Ajrumiyah Berikut Penjelasannya, (Cet VI; Bandung: Sinar Baru Algesindo Offset, 2005)., h. 30.
[5]Moch Anwar, Ilmu Nahwu Terjemahan Matan al-Ajrumiyyah dan Imrity Berikut Penjelesannya, (Cet VI; Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995)., h. 41.

0 comments: