Tuesday, 28 June 2016

QALBU DALAM PANDANGAN AL-GHAZALI

Oleh: Anin Lihi[1]

ABSTRAK
Penelitian ini adalah penelitian tentang konsep Qalbu menurut pandangan al-Ghazali. Pokok permasalahan adalah apa yang dimaksud qalbu menurut al-Ghazali serta bagaimana  fungsinya terhadap pembentukan kepribadian manusia. Pembahasan ini dilihat dengan pendekatan sejarah dan tasawuf serta dibahas dengan menggunakan studi kepustakaan dengan analisis kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Qalbu menurut al-Ghazali, ialah wadah dan pusat dari tubuh manusia, ia yang memerintah tubuh untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan. Qalbu adalah sesuatu yang halus (al-Lathiifah) dan yang halus inilah hakikat dari diri manusia yang halus ini berkaitan dengan sifat–sifat manusia, ia yang merasakan kegundahan dan kebahagiaan. Apabila qalbu  baik maka akan baik pula seluruh tubuh manusia. Terdapat empat potensi yang mempengaruhi qalbu, yaitu: Fu’aad, Sadr, Hawa dan Nafs yang masing-masing memiliki potensi dan fungsi tersendiri untuk melakukan sesuatu. Qalbu dapat berfungsi membentuk kepribadian manusia dengan baik jika qalbu dan empat potensi yang mempengaruhi qalbu ini berada pada wilayah taqwa yaitu pendekatan diri dan selalu menyebut dan mengingat (zikir) kepada Allah swt., kepribadian manusia akan terbentuk dengan baik tergantung seberapa bersihnya qalbu itu dari sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit yang menjangkitinya.
Kata Kunci :
Qalbu, Pandangan, Al-Ghazali. Fungsi Qalbu, Pembentukan kepribadian.

 
sumber gambar: Wordpress.com
1.      PENDAHULUAN
Menurut al-Ghazali kaum empirisme telah membatasi pengetahuan atas indra, hal inilah yang mempersempit Rahmat Allah swt. yang luas, sehingga kesadaran untuk menemukan kebenaran sulit dipecahkan. begitu juga kaum rasionalisme, mereka sangat mengandalkan “akal”, padahal akal hanya menjelaskan pada lingkungan yang terbatas, seperti di katakan Ibnu Khaldun tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menilai persoalan–persoalan  ketuhanan, keadaan yang bersifat emosional, perkara–perkara akhirat dan semacamnya, jika dipaksakan maka seperti timbangan emas yang oleh pemiliknya digunakan untuk menimbang gunung. [2]
Menurut ahli psikologi sebagaimana dikutip dari Yusuf al-Qardlawi pengingkaran sebagian ahli “pikir” terhadap kebenaran Tuhan ( Allah swt. ) seperti tipu muslihat untuk membenarkan penyelwengan mereka dan untuk mempertahankan kebejatan moral, disamping itu untuk menutupi kelemahan dan ketakberdayaan terhadap hawa nafsu, dengan ini para nabi tidak lagi berkepentingan untuk membahas kebenaran Tuhan ( Allah swt. ) karena sudah diketahui dan diterima oleh seluruh umat Islam, dibalik itu tugas Nabi adalah membersihkan iman dari debu-debu kesyirikan menyuruh yang ma’ruf dalam membentuk kepribadian manusia.[3]
Allah berfirman:
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚ̍ôãr&ur Ç`tã šúüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ  
Artinya:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpaling dari pada orang-orang yang bodoh”. (Q.S. al-A’raaf [7]:199).[4]
Inilah yang paling penting yaitu menyuruh untuk berbuat baik dalam membentuk kepribadian manusia, melalui perbaikan hati dari penyakit-penyakit dan sifat-sifat yang mengotorinya.
berkaitan dengan hal yang mengotori hati, Nabi saw. memberikan gambaran:
عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغُةً أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
Dari ‘Amir berkata: saya telah mendengar Nu’man bin Basyir berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. dan apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).[5]
Jadi apabila hati manusia itu baik, maka baik pula manusia, dan jika hati manusia jelek maka jelek pula manusia. Sehingga hati memiliki peran yang sangat penting, perlu dirawat dan dijaga dengan baik karena hatilah yang menjadi barometer untuk membentuk kepribadian.
Dari penjelasan di atas, maka pemikiran al-Ghazali tentang qalbu dipandang perlu untuk dijadikan sebagai bahan kajian dalam penelitian ini, mengingat sebagian umat Islam sekarang, telah dikuasai hawa nafsu, kecintaan terhadap materi dunia, degradasi  moral dan kehampaan spiritual.
A.    Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
1)        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka penulis dapat  merumuskan permasalahan pokok yang menjadi inti permasalahan dalam skripsi ini yaitu Qalbu Dalam Pandangan al-Ghazali. Permasalahan tersebut dibagi dalam dua sub pokok bahasan yaitu:
1.        Bagaimana pandangan  al-Ghazali tentang qalbu.?
2.        Bagaimana fungsi qalbu dalam membentuk kepribadian manusia.?
2)        Batasan Masalah
Agar pembahasan ini tidak meluas, dan agar lebih terarah kajiannya, maka perlu ada batasan masalah. Permasalahan skripsi ini lebih difokuskan pada qalbu dalam pandangan al-Ghazali, dan fungsinya dalam membentukan kepribadian manusia.
B.     Tinjauan Teori
a.    Qalbu menurut bahasa adalah segumpal daging atau sesuatu yang dapat membalik atau berbolak balik, dalam bahasa arab disebut qalbun jamaknya qulubun.[6] Qalbu ini amat berpotensi untuk tidak konsisten al-Qur’an pun menggambarkan demikian, ada yang baik, adapula sebaliknya.[7]
b.    Sedangkan menurut istilah,
-          Al-Ghazali mendefinisikan qalbu sebagai tempat yang befungsi untuk menyerap ilmu pengetahuan atau yang disebut, sesuatu yang halus ( al-Lathiifah ), yaitu sebuah “Tempat” ( Ruang ) dimana ilmu dapat melekat padanya. Sesuatu yang halus inilah hakikat manusia yang tidak bisa diselami oleh akal dan pikiran, tetapi dengan perasaan, dan perasaan ini harus diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah supaya bisa terarah kepada kebenaran Allah swt.[8]
-          Syaikh Nasir Makarim Syirazi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, qalbu ialah pusat emosi, yaitu hati yang berada di sebelah kiri dada, ia yang membangkitkan emosi pertama kali dari diri manusia.[9]
-          Menurut Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy di dalam kitabnya "al-Ta'rifat": Qalbu adalah sifat lembutnya ketuhanan yang terdapat dalam jiwa manusia.[10]
-          Syekh Robert Frager Phd, seorang mursyid dari Amerika menjelaskan bahwa, yang dimaksud dengan qalbu ialah hati spiritual. Sedangkan menurut dasar disiplin-spiritual sufi lainya, qalbu ialah rumah Cinta.[11]
C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1)        Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui dan menguraikan pandangan al-Ghazali tentang qalbu.
2.    Untuk mengetahui fungsi qalbu dalam membentuk kepribadian manusia.
2)        Kegunaan
1.    Tulisan ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan terhadap para pembaca yang hendak mencari informasi yang berkaitan dengan persoalan yang dikaji.
2.    Agar dapat memberikan suatu konstribusi bagi umat Islam dalam kaitanya dengan pembentukan kepribadian manusia melalui qalbunya.
D.    Metode Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan ( library Research ) yaitu pengumpulan data dengan jalan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku–buku, tetapi juga berupa bahan–bahan, konsep–konsep, majalah, jurnal, laporan penelitian, dan lain-lain. yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Penekanan penelitian ini, ingin menemukan teori, pendapat, gagasan, dalil. Yang dapat dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti.
2.      Pendekatan
Pendekatan penelitian ini adalah Pendekatan sejarah/historis yaitu melihat sejarah masa lalu untuk dijadikan sebagai pegangan dalam merumuskan masalah, yaitu mendeskripsikan riwayat hidup serta sejarah perkembangan pemikiran al-Ghazali melalui sejarah biografi al-Ghazali.[12] Juga menggunakan pendekatan Tasawuf, dikarenakan dalam pembahasannya berkaitan dengan kajian tasawuf, dimana tasawuf adalah salah satu bidang studi ilmu keislaman yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia melalui qalbu, yang selanjutnya dapat menimbulkan kepribadian mulia.[13] Data–data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode kualitatif, selanjutnya di interprestasikan dengan Metode Deskriptif Analitis; yaitu pembahasan bertujuan untuk membuat gambaran terhadap data–data yang telah tersusun dan terkumpul dengan metode memberikan tafsiran.[14]
3.      Teknik Pengumpulan Data.
Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan sumber–sumber tertulis baik berupa dokumen, buku–buku pengetahuan, kitab–kitab, jurnal dan lainnya yang ditulis dan dicetak atau diterbitkan oleh penerbit baik yang dipublikasikan secara umum atau tidak. Karena penelitian ini adalah penelitian sejarah yaitu meneliti  kembali pemikiran al-Ghazali yang sudah berpuluh tahun yang lalu, maka dalam penelitian sejarah, kedudukan sumber primer dapat dipercaya. yang dimaksud dengan sumber primer adalah sumber yang ditulis dan dikemukakan sendiri pihak yang berperan langsung peristiwa tersebut.[15] dan Sumber sekunder dijadikan sebagai data tambahan yaitu tulisan mengenai sejarah berdasarkan bukti-bukti dari sumber pertama.
2. LATAR BELAKANG KEHIDUPAN AL-GHAZALI
A.      Riwayat Hidup al-Ghazali
Al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir yang sangat jenius, karena kejeniusannya al-Ghazali dapat meraih gelar Hujjah al-Islam (Pembela Agama), Zain al-Din (Hiasan Agama), Bahrun Muhriq (Lautan tak Bertepi). Namanya kadang diucapkan Ghazzali dengan dua Z, artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah al-Ghazali ialah tukang pintal benang. Sedangkan yang lazim disebut ialah Ghazali dengan satu Z, yang diambil dari kata Gazalah nama kampung kelahirannya. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058 M, di desa Thus, wilayah Khurasan ( Iran ). [16]
Al-Ghazali dikaruniai seorang anak laki–laki yang bernama Hamid, maka beliau dipanggil dengan panggilan akrab “Abu Hamid” (Bapak Si Hamid). Dengan itulah al-Ghazali dipanggil Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Thusi.[17]  Al-Ghazali wafat pada 14 Jumadil al-Akhir tahun 505 H ( 19 Desember 1111 M) setelah melalui zaman dalam kehidupan yang indah al-Ghazali mengakhiri hayatnya di tempat permulaanya.[18]
Jenazah al-Ghazali di kebumikan di makam al-Thabiran, berdekatan dengan makam al-Firdaus seorang ahli sya’ir yang termahsyur, sebelum meninggal, al-Ghazali pernah mengucapkan kata–kata yang kemudian diucapkan kembali oleh Francis Bacon seorang filosof Inggris, yaitu: “Kuletakan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa depan”.[19]
B.       Pendidikan
Sebelum ayah al-Ghazali wafat beliau mewasiatkan al-Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada sahabatnya seorang sufi dengan harapan agar kedua anaknya menjadi seorang fakih dan memberi nasehat kepada sesamanya. Namun setelah harta warisan ayahnya habis digunakan untuk biaya pendidikan sedang sahabatnya dalam keadaan melarat maka tidak ada jalan lain kecuali menganjurkan kepada kedua anak itu untuk masuk asrama (dengan ongkos percuma). Asrama yang dimaksud adalah asrama yang di dirikan oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk di kota kabupaten yang bernama Thus.[20] Al-Ghazali Belajar di beberapa kota antara lain:
a.         Thus: Kota Thuslah Mula–mula al-Ghazali belajar Agama, al-Ghazali belajar ilmu fikhi dengan tekun dari Syeh Ahmad bin Muhammad al-Razikani, dan belajar ilmu tasawuf kepada Yusuf al-Nassaj seorang sufi terkenal waktu itu.[21] Pada awal studinya al-Ghazali mengalami peristiwa yang kemudian mendorong kemajuannya dalam pendidikan, suatu  hari al-Ghazali dihadang segerombolan perampok, mereka merampas semua bawaan al-Ghazali, termasuk catatan kuliahnya, al-Ghazali meminta perampok itu agar mengembalikan catatannya yang baginya sangat bernilai, kepala perampok malah menertawakannya dan mengejeknya, Tanggapan al-Ghazali terhadap peristiwa itu positif, ejekan itu digunakan untuk mencambuk dirinya dan menajamkan ingatannya dengan menghafal semua catatan kuliahnya selama tiga tahun. [22]
b.        Jurjan: Pada tahun 465 H, al-Ghazali berangkat ke Jurjan untuk melanjutkan pelajaranya, berguru kepada Imam Abi Nashr al-Ismaili.[23] Pada tahun 470 al-Ghazali kembali lagi Thus, setelah itu terbesiklah hatinya untuk lebih memperdalam ilmunya, mencari sekolah yang lebih tinggi.[24]
c.       Naisabur: Pada tahun 473 H, al-Ghazali berangkat ke Naisabur memasuki Akademi Nizamiyah, dengan pimpinanya termahsyur dalam ilmu pengetahuan agama bernama Abu Ma’alin Phisauddin al-Juwaini yang diberi gelar kehormatan dengan “Imam Haramain” ( Imam dari dua kota Makkah dan Madinah ). Dari beliau inilah al-Ghazali memperoleh ilmu pengetahuan agama yang bermacam–macam, seperti ilmu fiqhi, ushul fiqhi, ilmu kalam dan filsafat secara terus menerus sehingga ia mampu bertukar pikiran dengan segala aliran dan agama, bahkan mulai mengarang buku–buku ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. [25]
d.      Bagdad: Pada tahun 484 Hijrah, Niżam al-Mulk melantik al-Ghazali sebagai professor di al-Madrasah al-Niżamiyyah, dalam usia 34 tahun al-Ghazali telah diberikan gelar Syaikh al-Islaam, yakni setinggi-tinggi pangkat dari segi akademik dan keagamaan yang rasmi.[26] Pada tahun 488 H/1095 M ia menderita krisis rohani sebagai akibat sikap kesangsiannya (Syak) yang oleh orang barat dikenal skeptisisme. Akibat sakit ini ia menderita sakit selama 2 bulan sehingga dokter kehabisan daya mengobatinya.[27]
e.         Makkah: Karena peristiwa itu al-Ghazali memutuskan untuk meletakan jabatan yang di pangkunya seperti Rektor dan Guru besar di Bagdad, ia mengembara ke Damaskus, mengisolasi diri ( ‘Uzlah ) untuk beribadah selama dua tahun. Lalu pada tahun 490 H/1098 M, ia menuju Palestina berdoa disamping kuburan Nabi Ibrahim a.s. kemudian ia berangkat menuju tanah suci Makkah al-Mukarramah guna menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam., akhirnya ia terlepas dari goncangan jiwa ini dengan jalan tasawuf.[28]
C.      Perkembangan Pemikiran al-Ghazali
Kondisi pemikiran Islam pada masa al-Ghazali banyak diwarnai pertentangan berbagai aliran. Dari semua aliran, mengklaim pendapat mereka adalah benar. Al-Ghazali mengklasifikasikan kelompok aliran tersebut pada:
1.      Teologi/Ilmu kalam
Al-Ghazali mengkritik aliran dalam ilmu kalam, seperti aliran Mu’tazilah yang di pelopori oleh Washil bin Atha dan Amar bin ‘Ubaid, kedua tokoh ini berpendapat bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar dia tidak kafir tidak mu’min tapi berada dalam dua posisi (al-Manzila baina al-Manzilatain ), pendapat ini sangat berbeda dengan pendapat kaum muslimin pada umumnya. saat itu, Washil bin Atha memisahkan diri dengan gurunya Hasan al-Bashri dan membangun aliran teologi.[29]
Aliran ini mendapat pengaruh kuat dari orang–orang Yahudi dan Nasrani, aliran ini mempelajari filsafat Yunani. Aliran ini mengutamakan akal, al-Qur’an dan Hadits dijadikan bahan kedua, hal ini tampak dalam ajarannya, seperti kebaruan al-Qur’an, Manusia dengan akalnya semata dapat mengetahui adanya Tuhan, cara–cara pembenaran agama dengan alasan pikiran Inilah yang dikoreksi dan dikritik al-Ghazali. Contoh lain adalah aliran Asy’ariah, yang dipelopori oleh Abu al-Hasan Ali Asy’ari. diantara ajaran yang dibawakan oleh tokoh ini yang berbeda dengan pandangan al-Ghazali adalah taqlid buta yang melekat di dada para pengikutnya. Akibat dari kefanatikannya yang sering menimbulkan tuduhan kafir kepada orang lain yang berbeda pendirian. al-Ghazali juga tidak membentuk aliran baru dalam ilmu kalam, karena menurut al-Ghazali menumbuhkan itu semua hanya akan melemahkan umat. Memahami Islam cukup dengan tiga warisan; al-Qur’an, Hadits, dan Ulama.[30]
Ketiga hal di atas sanggup mengantarkan manusia menuju tujuannya yaitu sebagaimana firman Allah swt. :
xx$­ƒÎ) ßç7÷ètR y$­ƒÎ)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ    
Artinya:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”. (Q.S. al-Fatihah [1]: 5)[31]
Al-Ghazali meletakan warisan Rasul sebagai standar untuk menilai semua mazhab dan aliran dalam kalangan mutakallimin yang berkembang saat itu, tanpa ragu al-Ghazali menentang ajaran yang tidak sesuai dengan sumber Islam atau ajaran yang diterimannya secara taqlid. Al-Ghazali berkata: aku tidak ragu atas keberhasilan mutakallimin dalam mengadakan pembaruan yang hanya diterima oleh sebagian kelompok. Tapi perlu diingat, bahwa keberhasilan itu sudah demikian kaburnya dan telah bercampur aduk dengan taqlid.[32]

1.         Filosof
Setelah mengadakan koreksi terhadap kaum mutakallimin al-Ghazali mulai berfikir dan mendalami filsafat. Yang menjadi perbincangan al-Ghazali tentang filsafat adalah cara pandang para filosof dalam mengkaji suatu permaslahan. Al-Ghazali melontarkan sanggahan yang sangat keras terhadap para filosof, dalam hal ini kepada Aristoteles dan Plato, juga al-Farabi dan Ibnu Sina karena kedua filosof ini harus bertanggung jawab atas penerimaan dan penyebarluasan filosof Yunani ke dunia Islam. Adapun penyebar luasan filsafat Aristoteles oleh al-Farabi dan Ibnu Sina adalah sebagai berikut:
1.      Filsafatnya tidak perlu disangkal, dengan arti dapat diterima,
2.      Filsafatnya yang harus dipandang bid’ah,
3.      Filsafatnya yang harus dipandang kafir.
Menurut al-Ghazali filsafat dapat di kelompokan menjadi beberapa bagian yakni matematika, logika, fisika, etika dan metafisika (ketuhanan). Selain masalah ketuhanan, ilmu–ilmu itu dapat diterima karena tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ada dua puluh masalah yang dikritik oleh al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah, namun hanya tiga dari dua puluh masalah tersebut yang disangkal al-Ghazali menyalahi nash syar’i, selain dari itu,  mengatakan para filosof telah berbuat “bid’ah”.[33]
Tiga masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Masalah keqadiman alam.
2.    Allah tidak mengetahui partikularia-partikularia ( hal-hal kecil ).
3.    Pengingkaran para filosof akan kebangkitan jasmani pada hari akhir.
Atas dasar inilah al-Ghazali menentang para filosof, karena bertentangan dengan prinsip agama.
4.    Aliran Kebatinan
Setelah Rasulullah saw. wafat, tidak ada lagi Nabi yang patut dijadikan pedoman hidup kecuali tiga perkara: al-Qur’an, Hadits dan Ulama. Tetapi terhadap ketiga nas di atas, pertama dan kedua tidak menjadi persoalan, karena keduannya jelas. Namun terhadap yang ketiga (Ulama), sebagian umat Islam menganggap ulama sebagai pewaris para nabi “عُلَمَاءُ وَرَسَةُ الْأَمْبِيَاْءِ yaitu orang alim yang persis seperti nabi: suci dari dosa (ma’sum min al-dzunuub) atau dalam istilah kebatinan (Mahfudh). Inilah fatwa–fatwanya yang wajib diikuti. Selain dari mereka, tidak benar.[34]
Mula–mula al-Ghazali melakukan penelitian terhadap kitab-kitab yang dijadikan dasar oleh kaum kebatinan, kemudian al-Ghazali menanyakan dimana Imam Ma’sum yang dianggap suci itu dan kapan bisa dijumpai, ternyata tidak satupun pengikut aliran  kebatinan yang mampu menunjukkannya. Ketidak mampuan pengikut aliran kebatinan untuk mengemukakan argumen dan menunjukan bukti dimana Imam Ma’sum itu, maka al-Ghazali berkesimpulan bahwa yang dimaksud Imam Ma’sum oleh kaum kebatinan itu hanyalah ada dalam angan-angan saja tidak dalam kenyataan.[35]


5.         Sufi
Tasawuf atau sufisme adalah bagian dari Syari’ah Islamiah. Tasawuf bermanfaat untuk menciptakan sikap mental dalam membersihkan hati dan beribadah, sederhana dan memperoleh hubungan yang baik dengan Allah.[36]
Ada tiga prinsip utama yang ditulias oleh al-Ghazali dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. yaitu: Khauf  ( Takut ) adalah cabang ilmu, Raja’ (Berharap) adalah cabang keyakinan dan Hub ( Cinta ) adalah cabang dari mengenal. Bukti Khauf adalah lari dari dosa, bukti Raja’ adalah mencari Allah swt. dan bukti Hub adalah memutlakkan atau mengutamakan zat yang dicintai. Perumpamaan tiga hal ini adalah Masjid al-Haram, masjid, dan ka’bah. Barang siapa masuk Masjid al-Haram, maka ia pasti aman dari gangguan makhluk. Barang siapa masuk masjid ( masjid umum ), tubuhnya harus dijaga dari melakukan maksiat. Barang siapa masuk Ka’bah, maka hatinya aman dari mengingat selain Allah swt.[37]
D.      Karya-Karya al-Ghazali
Dr. ‘Abd al-Rahman Badawi mencatat, bahwa karya oleh sang Hujjah al-Islam al-Ghazali mencapai, setidaknya 457 buah, dan berisi kajian dengan ragam pendekatan.[38] Namun hanya sebagian karya–karya al-Ghazali yang diketahui.[39]

Bidang Filsafat

1.         Maqasid al-Falasifah
2.         Tahafut al-Falasifah
3.         Al-Ma’arif al-‘Aqliyah
4.         Fajsal al-Tafriqa bajna al-Zindiqah

Bidang Agama
1.    Aqidah ( Ilmu kalam )
a.    Al-Risalah al-Qudsiyah
b.    Al-Qithas al-Mustaqiim
c.    Faisal al-Tafriqah al-Islam wa al-Zindiqah
d.   Iljam al-Awwal min Ilm al-Kalam
e.    Qawaia’ al-Aqa’id
f.     Al-Istiqshad fi al-A’tiqad
2.    Fiqih
a.   Al-Mustasfa min Ushul Fiqh
a.    Kamiya-u Saadat
b.    Tibru al-Mabu
c.    Ayyub al-Walad
3.    Akhlak dan Tasawuf
d.   Ihya’ ‘Ulumuddin
e.    Al-Munqiz Min al-Dhalal
f.     Al-Adab fi al-Din
g.    Al-Qawaid al-Anshara
h.    Maqashid al-Hasan Syarh Asma Ilahy al-Husna
i.      Minhaj al-Abidin
j.      Nasihat al-Talmiz
4.      HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Penegertian Qalbu.
Al-Ghazali membagi qalbu pada dua pengertian:
a)    Makna kata yang pertama: daging yang berbentuk pohon cemara atau kerucut[40] yang terletak disisi kiri dada dan di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam. Ia merupakan sumber dan pusat dari ruh. Hati dalam pengertian ini, juga ada di dalam jasad binatang dan orang yang sudah meninggal.[41] Sehingga pengertian qalbu yang pertama tidak menjadi fokus pembahasan.
b)      Makna kedua: sesuatu yang halus (al-Lathiifah), ketuhanan (Rabbaniyah) dan kerohanian (rohaniah) yang memiliki hubungan dengan daging ( hati ) dalam pengertian pertama  di atas, namun hubungan diantara keduanya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena berada pada wilayah perasaan pribadi seseorang, hati yang haluslah hakikat manusia, dialah yang mengetahui dan yang mengenal dan memerintah[42] Hati dalam pengertian inilah yang mengenal Allah swt. dan menangkap sesuatu yang tidak bisa ditangkap khayalan. Allah swt. berfirman:
¨bÎ) Îû y7Ï9ºsŒ 3tò2Ï%s! `yJÏ9 tb%x. ¼çms9 ë=ù=s%  ÇÌÐÈ 
Artinya:
“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati (qalbu)” (Q.S. al-Qaaf [17]: 37).[43]
Qalbu berada dalam hati badaniah berkaitan dengan yang halus (lathiifah)[44]  dan yang halus ialah hakikat manusia.[45] terdapat empat unsur yang mempengaruhi qalbu dan masing-masing memiliki potensi tersendiri.
1.      Fu’aad: disebut juga hati yang murni[46] merupakan potensi qalbu yang berkaitan dengan indrawi, mengolah informasi yang selalu dilambangkan berada dalam otak manusia. fungsi fu’aad mempunyai tanggung jawab intelektual yang jujur kepada apa yang dilihatnya, potensi ini cenderung dan selalu merujuk pada objektifitas dan jauh dari sifat kebohongan, Allah swt. berfirman:
$tB z>xx. ߊ#xsàÿø9$# $tB #r&u ÇÊÊÈ  
Artinya:
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya” ( Q.S. al-Najm [53]: 11)[47]

Fu’aad selalu bersikap jujur dan objektif ia selalu haus dengan kebenaran dan bertindak di atas rujukan yang benar pula. Fu’aad memberikan ruang untuk akal, berpikir, bertafakkur, memilih dan mengolah seluruh data yang masuk dalam qalbu manusia, sehingga melahirlah ilmu pengetahuan yang bermuatan moral dalam hal mengambil sikap atau keputusan.
2.      Shadr: dalam bahasa arab berarti “dada” Sebagai kata kerja yang berarti pergi, memimpin, dan juga melawan atau menentang. Karena terletak antara hati dan diri rendah hawa nafsu, shadr juga dapat di istilahkan hati terluar.[48] Shadr merupakan potensi qalbu yang berperan untuk merasakan dan menghayati dan mempunyai fungsi emosional (marah, benci, cinta ,indah, efektif). Potensi Shadr adalah dinding hati yang menerima limpahan cahaya keindahan, Sehingga mampu menterjemahkan segala sesuatu serumit apapun menjadi indah. Shadr mempunyai potensi besar untuk menyimpan hasrat, niat kebenaran, dan keberanian yang sama besarnya dengan kemampuan untuk menerima kejahatan dan kemunafikan.[49]
3.      Hawaa: Hawaa disebut juga desakan hati dan keinginan keras,[50] di dalamnya ada ambisi, kekuasaan, pengaruh dan keinginan untuk mendunia, Potensi Hawaa selalu cenderung untuk membumi dan merasakan nikmat dunia yang bersifat fana. Saluran qalbu yang paling berbahya adalah saluran Hawaa, Bahkan Allah swt. sendiri memberikan peringatan dan meminta perhatian yang teramat serius kepada umat manusia agar memperhatikan angin panas dari hawaa. Allah swt. berfirman:
|M÷ƒuäur& Ç`tB xsƒªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr'sùr& ãbqä3s? Ïmøn=tã ¸xÅ2ur ÇÍÌÈ  

Artinya:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya” (Q.S. al-Furqan [25]; 43).[51]
Potensi hawaa selalu membawa manusia kepada sikap-sikap yang rendah. Menggoda, merayu, dan menyesatkan, sekaligus memikat, walaupun cahaya di dalam qalbu pada fitrahnya selalu benderang, tetapi justru karena manusia mempuyai potensi saluran hawaa ini. Maka seluruh qalbu bisa menjadi rusak binasa karena keterpikatan dan bisikan yang di embuskan Syaitan kedalam potensi hawaa.
Perjuangan manusia adalah mempertahankan dan sekaligus membunuh bisikan Syaitan yang menyusup di dalam qalbu. Dengan cara melakukan tazkiyah (penyucian diri) dan tetap waspada (taqwa).
Hanya manusia yang mampu mensucikan diri, beriman, dan bertaqwalah bisa mengalahkan dan mengatasi Syaitan. Allah swt. berfirman:
žwÎ) šyŠ$t6Ïã ãNåk÷]ÏB šúüÅÁn=øÜßJø9$# ÇÍÉÈ  
Artinya:
“Kecuali hamba-hambamu yang mukhlis (suci) di antara mereka”.  (Q.S. al-hijr [15]: 40).[52]
Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah swt.
Al-Ghazali menyatakan bahwa, terhadap hawa, ada dua hal yang harus diwaspadai karena ia selalu bergandengan dengan nafsu.
a.    Nafsu adalah musuh yang datang dari dalam diri sendiri. Pencuri apabila dari dalam rumah, tentu sangat sulit di siasati dan amat menyusahkan.
b.    Nafsu itu musuh yang dicintai dan dikuasai, hal inilah manusia akan selalu menganggap baik setiap kejelekan yang datang dari diri. Dengan itulah, jangan terlalu ikuti hawa nafsu karena ia akan membinasakan.[53]
4.      Nafs: Saluran cahaya qalbu yang keempat adalah nafs yang sering di artikan dengan jiwa. Watak manusia atau aku sebagai persona, lorong ini menampung segala keinginan yang menjadi pendorong, nyala api yang siap membakar gelorah semangat, gairah yang mengedor serta menegur tetapi juga menampung segala kepedihan, penyesalan, dan rasa bersalah. Allah swt. berfirman:
Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ  
Artinya:
“Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.(Nafsu al- Lawwaamah)”. (Q.S. al-Qiyamah [75]: 2).[54]
Maksudnya: bila ia berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan.
Nafs merupakan keseluruhan atau totalitas dari diri manusia itu sendiri, di dalamnya berhimpun dua kekuatan baik dan buruk. Allah swt. berfirman:
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ   $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ  
Artinya:
“Dan Jiwa serta penyempurnaanya (Ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan kataqwaannya”. (Q.S. asy-syams:[91]: 7-8).[55]
Nafs adalah muara yang menampung hasil oleh fu’aad, Shadr dan hawaa, yang kemudian menampakan dirinnya dalam bentuk perilaku nyata di hadapan manusia lainya. Sebaliknya jiwa yang gelisah penuh api membara hanya mendapatkan gelar “ammarotun bi al-Suu”(suka menyuruh terhadap keburukan[56]) dia menjadi muara kejahatan karena menampung muara fu’aad yang cacat, rusak, dan busuk.[57]
Kewajiban fu’aad terlebih dahulu harus mampu mengendalikan dan menempatkan hawaa pada posisi positif, serta mendorong seluruh salurannnya yang terbuka untuk di isi oleh hub (cinta) yang memancar dari qalbu.
B.     Fungsi  Qalbu terhadap Pembentukan Kepribadian Manusia.
Kepribadian dalam bahasa Inggris disebut personality, dalam bahasa arab disebut al-Syakhshiyyatu[58] secara umum menunjuk bagaimana setiap individu menampilkan dirinya sehingga memberikan kesan tertentu bagi individu yang lain yang berinteraksi dengannya. Saleh Harja Sumarna dalam bukunya “Kepribadian Super” manusia adalah makhluk yang berkepribadian, dan kepribadian tersebut memberikan ciri khusus yang membedakannya dengan manusia lain, manusia tanpa kepribadian berarti bukan manusia.[59]
Pada dasarnya perbuatan kita sehari–hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu. ternyata ada unsur batin yang mengaturnya. Perasaan ini kemudian di sifatkan dengan suatu kedaan jiwa yang akan melahirkan perilaku-perilaku yang baik atau buruk.
Dalam sebuah hadits Nabi saw. menyampaikan:
عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغُةً أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
Dari ‘Amir berkata: saya telah mendengar Nu’man bin Basyir berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. dan apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).[60]
Maka ada dua fungsi qalbu disini: Pertama: menurut penulis Qalbu dapat berfungsi sebagai “al-lathiifah al-I’itiraaf dan al-Lathiifah al-Akhlaak[61] ( yaitu hati yang mampu membuat manusia sadar  dan hati yang dapat membentuk kepribadian manusia). Kedua: Qalbu dapat melahirkan sikap tawadhu’. baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia pada umumnya atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada khususnya dan Tark al-Ma’ashi yaitu menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Menurut Zaki Zamani Muhammad Syukron Maksum, tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah salah satu ajaran al-Qur’an.[62]
Terdapat empat sifat menurut al-Ghazali yang mempengaruhi qalbu terhadap kepribadian:
a.         Sifat kebuasan
b.         Sifat kebinatangan
c.         Sifat kesyaitanan
d.        Sifat ketuhanan[63]
Sifat kebuasan dan kebinatangan ini terdapat di dalam diri manusia, mereka selalu dekat dengan marah dan hawa nafsu, bila manusia itu dikuasai oleh kemarahan maka ia mengikuti sifat kebinatangan dan kebuasan, yaitu permusuhan, dan serangan terhadap manusia lain dengan pukulan dan makian. Bila manusia dikuasai hawa nafsu maka ia melakukan perbuatan–perbuatan hewan yaitu kerakusan dan lain–lain.[64]
Ketika seseorang menaati hawa nafsu, maka timbullah daripadanya sifat kurang malu, keji, boros, kikir, ria, rusak kehormatan, busuk hati, suka memaki dan lain-lain. Adapun menaati Syaitan yaitu mengikuti nafsu syahwat dan kemarahan. Maka menghasilkan sifat menggoda, menipu, mencari dalil, tipu muslihat, membuat contoh yang tidak-tidak, merusak, perkataan kotor dan sebagainya.
Apabila keadaan itu di balik dan semuanya di paksakan di bawah sifat ketuhanan (sifat Rabbaniyyah), niscaya tetaplah dalam hati sifat ketuhanan. Yaitu: ilmu kebaikan, hikmah, yakin, meliputi pengetahuaanya tentang hakikat segala sesuatu, mengetahui segala urusan menurut yang sebenarnya, Ia terlepas dari perbudakan hawa nafsu, dan kemarahan dan berkembanglah sifat-sifat mulia, lantaran terkunngkungnya hawa nafsu, dan kembalinya ke atas normal. Sifat-sifat mulia itu seperti sifat menjaga diri, merasa cukup dengan yang ada, tenang, zuhud, wara, taqwa, lapang dada, malu berbuat keburukan, ramah, bertolong-tolongan dan sebagainya. Dalam hal ini berkatalah Imam al-Ghazali:
“Tugas pertama manusia mendahulukan kesucian bathin dari kerendahan budi dari sifat-sifat tercela”. Sifat-sifat yang tercela ini ialah sifat-sifat yang rendah yaitu marah, hawa nafsu, dengki, busuk hati, takabbur, ‘ujub, dan sebagainya adalah anjing-anjing yang galak. Bagaimana ( kebaikan ) dapat masuk ke dalam hati”.[65]
Karena itu, qalbu bagaikan pohon dan seluruh anggota tubuh adalah cabang-cabang pohon itu, dimana baik cabang-cabang tersebut tergantung pada pohonnya. Qalbu juga bagaikan raja, sedangkan seluruh anggota tubuh mengikutinya. Kalau raja baik, maka baik pula rakyatnya dan kalau raja rusak, maka rusak pula semua rakyatnya. [66]
5.      Kesimpulan
Sesuai dengan pokok pembahasan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka penulis menyimpulkan dua permasalahan yaitu:
1.         Qalbu menurut al-Ghazali ialah wadah dan sesuatu yang halus (al-Lathiifah) dan yang halus ini berkaitan dengan sifat–sifat manusia, dan qalbu itulah hakikat manusia. Ada empat macam potensi qalbu yaitu: Fu’ad, Shadr, Hawaa, dan Nafs (jiwa) dan keempat potensi ini semuannya terkumpul di dalam qalbu manusia.
2.      Fungsi Qalbu.
a.     Qalbu dapat berfungsi membentuk kepribadian manusia dengan baik jika qalbu itu bersih dari sifat-sifat tercela dan di Ilhami oleh cahaya kebaikan serta selalu mendekatkan diri (taqwa) dan mengingat (zikir) kepada Allah swt.
b.    Qalbu dapat berfungsi merusak kepribadian manusia jika manusia itu selalu diliputi was-was dan mengikuti ajakan setan, hawa nafsu dan amarah serta dikuasai oleh sifat-sifat tercela yang mempengaruhi qalbu.
DAFTAR PUSTAKA

A.W. Munawir Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir Indonesia Arab Terlengkap. Surabaya:Pustaka Progresif, 2007.

al-Bukhari, al-Imam al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Sahih al-Bukhari. Terj. Muhammad Iqbal.  Jilid 1. No 52. Edisi Indonesia Cet I; Jakarta; Pustaka al-Sunnah, 2010.

Al-Ghazali ‘Ihya’ ‘Ulumiddin Terj: Ismail Yakub. Ihya’ al-Ghazali, Jilid I. Cet IX; Jakarta: CV Faizan, 1986.

                ,Hikmah Penciptaan Alam Semesta, Terj. Kamran As’ad Irsyady. Cetakan Pertama; Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2013.

                ,Ihya’ ‘Ulumiddin, Terj. Moh Zuhri, Muqoffin Mochtar dan Muqorrobin Misbah. Cetakan Pertama: Semarang: Asy Syifa, 1993.

                ,Ihya’ ‘Ulumuddin, Terj. Ismail Yakub. Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2. Cet V; Singapore: Kerjaya Printing Industries Pte Ltd, 1992.

                 ,Majmu’ah Rasa’il, Terj. Umar Faruq. Jalan Hidup Kaum Sufi. Cet I; Surabaya: Pustaka Media Press, 2004.

                ,Menyingkap Rahasia Keajaiban Ilmu Gaib Laduni, Terj. Abu Farhad. Surabaya: Amelia, t.th.

                ,Minhaj al-Aabidin, Terj. M. Adib Bisri, Meniti Jalan Menuju Surga. Jakarta: Pustaka Amani, t. th.

               ,Mukhtasar Ihya ‘Ulumuiddin. Terj. Abu Madyan al-Qurtubi. Cet Pertama; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2010.

               ,Rawdhah al-Thaalibin Wa ‘Umdah al-Salikiin (Taman dan Sandaran Pencari Kebenaran). Terj. Irwan Kurniawan. (Pilar-Pilar Rohani). Cetakan ke dua; Jakarta: Lentera Basritama, 2000.

                ,Tahdziib Mukaasyafah al-Quluub, Terj. Akhmad Siddiq dan A. Rofi’i Dimayati, Menyelami Isi Hati. Cetakan Pertama; Depok: Keira Publishing, 2014.

                 ,احياء علوم الدين  ,  Juz 3. Kairo: Daru Ihya’ Kutub al-‘Arabiyyah, t.th.

                 ,Tahafut al-Falaasifah, Terj. Ahmadi Toha, Kerancuan Para Filosof. Mesir: Dar el Ma’arif, 1966.

al-Jurjaniy, Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini, lihat dalam Gumawa, Apa Arti Hati dan atau Qalbu, http://www.kompasiana./nadanada/apa-arti-hati-dan atau qalbu?option= com _Conten&task=View&i=552b6edf6e=a834d4498=b45, (02 Nopember  2015).

al-Qardlawi, Yusuf, Eksistensi Allah. Terj. Mukhlisin Sa’ad, (td.).

Asrifin, Tokoh – Tokoh Sufi. Surabaya : Karya Utama, t.th.

Attamimi, Abuya Ashaari Muhammad, Iman dan Persoalannya. Cetakan IX ; t.t.: Giliran Timur Publishing.

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya Jakarta: PT Toha Putra Semarang, 1989.

Duriana, Serangan al-Ghazali Terhadap Para Filosof dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Filosof Islam. (Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1987).

Duriana, Tasawuf di Dunia Islam. Cet.Pertama;  Jakarta: Hiliana Press, 2007.

Fairuz, A.W. Munawir Muhammad, Kamus al-Munawir Indonesia Arab Terlengkap. Cet I; Yogyakarta : Pustaka Progresif, 2007.


Frager, Robert, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth Balance, and Harmony, Terj. Hasmiyah Rauf, Psikologi Sufi “ Untuk Transpormasi Hati, Jiwa dan Ruh”. Cetakan I: Jakarta: Zaman, 2014.

Fuad mahbub Siraj, Al-Ghazali Pembela Sejati Kemurnian Islam Cetakan Pertama Jakarta: Dian Rakyat, 2012.

Isma’il, Fu’ad Farid  & Abdul Hamid Mutawalli, Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam). Cet I; Jogjakarta: Ircisod, 2012.

Maksum, Zaki Zamani Muhammad  Syukron, Menghafal al-Qur’an itu Gampang “Belajar Pada Maestro al-Qur’an Nusantara”. Cetakan Pertama; Jagakarta: Mutiara Media, 2009.

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam  Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1998.
Nurdin, M. Amin, Sejarah Pemikiranm Islam Teologi Ilmu Kalam. Cetakan Pertama; Jakarta: Amzah, 2012.

Rusn, Abidin Ibnu, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan. Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1998.

Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Mizan Pustaka Khazanah Ilmu-Ilmu Islam, 1996.

Sumarna, Saleem Harja, Kepribadian Super “Kepribadian yang Lain Dicari dan Disukai Semua Orang”. Cetakan I; Jogjakarta: Galmas Publisher, 2014.

Syirazi, Syaikh Nasir Makarim, Tafsir al-Amtsal, Terj. Ahmad Sobandi, Husain Alkaf dan Irwan kurniawan. Jilid 1. Beirut: Mua’asasah al-Bi’itsah, 1992.

Tasmara, Toto, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence) Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional damn Berakhlak. Jakarta: Gema Insani, 2001.

Tidore, Burhanudin, dalam sebuah Jurnal Theologi Dialektika pada Jurusan Aqidah filsafat dan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (2008).


Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia  Bebas, Naskah sumber,  https://-id.-wikipedia.org/-wiki/Naskah_sumber (23 Nopember 2015).

Wikipedia, Ensiklopedia Bebas, Abu Hamid al-Ghazali http://wikipedia-ensiklopedia-bebas.blogspot.co.id/2013/07/abu-hamid-al-ghazali.html. (15 Nopember 2015).


[1]Anin Lihi Adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Akidah Fak. Ushuluddin & Dakwah IAIN Ambon.
[2]Fu’ad Farid Isma’il & Abdul Hamid Mutawalli, Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam) (Cet I; Jogjakarta: Ircisod, 2012), h. 189.
[3]Yusuf al-Qardlawi, Eksistensi Allah , Terj. Mukhlisin Sa’ad, (td.), h. 2.
[4]Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta: PT Toha Putra Semarang, 1989), h. 255.
[5]Al-Imam al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari. Terj. Muhammad Iqbal.  Jilid 1. No 52. Edisi Indonesia (Cet I; Jakarta; Pustaka al-Sunnah, 2010),  h. 112.
[6]A.W. Munawir Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir Indonesia Arab Terlengkap  (Cet I; Yogyakarta : Pustaka Progresif, 2007),  h. 314.
[7]M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung : Mizan Pustaka Khazanah Ilmu-Ilmu Islam, 1996), h. 381.
[8]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin Terj. Ismail Yakub, Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2 ( Cet II; Singapoera: Pustaka Nasional PTE. LTD, 1992), 899.
[9]Syaikh Nasir Makarim Syirazi, Tafsir al-Amtsal, Terj. Ahmad Sobandi, Husain Alkaf dan Irwan kurniawan. Jilid 1.  ( Beirut: Mua’asasah al-Bi’itsah, 1992), h. 77.
[10]Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy, lihat dalam Gumawa, Apa Arti Hati dan atau Qalbu, http://www.kompasiana./nadanada/apa-arti-hati-dan atau qalbu?option= com _Conten&task=View&i=552b6edf6e=a834d4498=b45, (02 Nopember  2015).
[11]Robert Frager, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth Balance, and Harmony, Terj. Hasmiyah Rauf, Psikologi Sufi “ Untuk Transpormasi Hati, Jiwa dan Ruh” (Cet. I: Jakarta: Zaman, 2014),  h. 32.
[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam  (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1998),  h.283.
[13] Ibid., h. 365.
[15]Lihat, Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia  Bebas, Naskah sumber,  https://-id.-wikipedia.org/-wiki/Naskah_sumber (23 Nopember 2015).
[16]Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1998), h. 9.
[17]Asrifin, Tokoh – Tokoh Sufi (Surabaya : Karya Utama, t.th.), h. 179.
[18]Burhanudin Tidore, dalam sebuah Jurnal Theologi Dialektika pada Jurusan Aqidah filsafat dan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (2008):  h. 360.
[19]Al-Ghazali ‘Ihya’ ‘Ulumiddin Terj: Ismail Yakub. Ihya’ al-Ghazali, Jilid I. (Cet IX; Jakarta: CV Faizan, 1986), h. 25.
[20]Duriana, Serangan al-Ghazali Terhadap Para Filosof dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Filosof Islam (Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1987), h. 32.
[21]Duriana, Ibid,. h. 33.
[22]Abidin Ibnu Rusn, op. cit,. h. 10.
[23]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, op. cit. h. 24.
[24]Lihat, Wikipedia, Ensiklopedia Bebas, Abu Hamid al-Ghazali http://wikipedia-ensiklopedia-bebas.blogspot.co.id/2013/07/abu-hamid-al-ghazali.html. (15 Nopember 2015).
[25]Fuad mahbub Siraj, Al-Ghazali Pembela Sejati Kemurnian Islam (Cetakan Pertama Jakarta : Dian Rakyat, 2012), h. 8.
[26]Lihat, Wikipedia, Ensiklopedia Bebas,….
[28]fiqkofallah,………
[29]M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiranm Islam Teologi Ilmu Kalam (Cetakan Pertama; Jakarta: Amzah, 2012), h. 52.
[30]Abidin Ibnu Rusn, op. cit., h. 14.
[31]Departemen Agama RI, op. cit.,  h. 1.
[32]Abidin Ibnu Rusn, op. cit,.  h. 15.
[33]Al-Ghazali,Tahafut al-Falaasifah, Terj. Ahmadi Toha, Kerancuan Para Filosof (Mesir: Dar el Ma’arif, 1966),  h. xvi.
[34]Abidin Ibnu Rusn, op. cit, . h.19.
[35]Abidin Ibnu Rusn, Ibid. h. 20.
[36]Duriana, Tasawuf di Dunia Islam  (Cet.Pertama;  Jakarta: Hiliana Press, 2007), h. 19.
[37]Imam al-Ghazali, Majmu’ah Rasa’il, Terj. Umar Faruq. Jalan Hidup Kaum Sufi  (Cet I; Surabaya: Pustaka Media Press, 2004 ),  h. 10.
[38]Al-Ghazali, Hikmah Penciptaan Alam Semesta, Terj. Kamran As’ad Irsyady. (Cetakan Pertama; Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2013), h. xiii.
[39]Al-Ghazali, Menyingkap Rahasia Keajaiban Ilmu Gaib Laduni, Terj. Abu Farhad (Surabaya: Amelia, t.th), h. vi.
43Al-Ghazali, Rawdhah al-Thaalibin Wa ‘Umdah al-Salikiin (Taman dan Sandaran Pencari Kebenaran). Terj. Irwan Kurniawan. (Pilar-Pilar Rohani). (Cetakan ke dua; Jakarta: Lentera Basritama, 2000), h. 40.
44Al-Ghazali, Mukhtasar Ihya ‘Ulumuiddin. Terj. Abu Madyan al-Qurtubi. (Cet Pertama; Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2010), h. 274.
[42]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, Terj. Moh Zuhri, Muqoffin Mochtar dan Muqorrobin Misbah. (Cetakan Pertama: Semarang: Asy Syifa, 1993),.h. 582.
[43]Departemen Agama RI, op. cit., h. 854.
47A.W. Munawir Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir Indonesia Arab Terlengkap (Surabaya:Pustaka Progresif), h. 307.
[45] Imam al-Ghazali, احياء علوم الدين  ,  Juz 3. (Kairo: Daru Ihya’ Kutub al-‘Arabiyyah, t.th.), h. 4.
[46]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Cet ke 4; Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 332.
[47]Departemen Agama RI, op. cit., h. 429.
[48]Robert Frager, op. cit., 66-67
52Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence) Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional damn Berakhlak (Jakarta: Gema Insani, 2001), h. 95.
[50]W.J.S. Poerwadarminta, op. cit., h. 412.
[51]Departemen Agama RI, op. cit., h. 565.
[52]Departemen Agama RI, Ibid., h. 408.
[53]Al-Ghazali, Minhaj al-Aabidin, Terj. M. Adib Bisri, Meniti Jalan Menuju Surga, (Jakarta: Pustaka Amani, t. th), h. 106.
[54]Departemen Agama RI, op. cit., h. 998.
[55]Departemen Agama RI, Ibid., h. 1064.
[56]Al-Ghazali, Tahdziib Mukaasyafah al-Quluub, Terj. Akhmad Siddiq dan A. Rofi’i Dimayati, Menyelami Isi Hati (Cetakan Pertama; Depok: Keira Publishing, 2014), h. 5.
[57]Toto Tasmara, op. cit., h. 111.
[58] A.W. Munawir Muhammad Fairuz, op. cit.,  h. 685.
[59]Saleem Harja Sumarna, Kepribadian Super “Kepribadian yang Lain Dicari dan Disukai Semua Orang” (Cetakan I; Jogjakarta: Galmas Publisher, 2014), 11.
63Al-Imam al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari. Op. cit., h. 112.
[61] A.W. Munawir Muhammad Fairuz, op. cit., h. 21 & 306.
[62]Zaki Zamani Muhammad  Syukron Maksum, Menghafal al-Qur’an itu Gampang “Belajar Pada Maestro al-Qur’an Nusantara” (Cetakan Pertama; Jagakarta: Mutiara Media, 2009),  h.26-27
[63]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Terj. Ismail Yakub. Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2. (Cet V; Singapore: Kerjaya Printing Industries Pte Ltd, 1992), h. 899.
[64]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Mengembangkan. Ibid,  h. 1917.
[65]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Mengembangkan, op. cit., h. 189.
[66]Al-Ghazali, Minhaj, op. cit.,  h. 197.

Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: