Oleh: Anin Lihi[1]
ABSTRAK
Penelitian ini
adalah penelitian tentang konsep Qalbu menurut pandangan al-Ghazali. Pokok
permasalahan adalah apa yang dimaksud qalbu menurut al-Ghazali serta
bagaimana fungsinya terhadap pembentukan
kepribadian manusia. Pembahasan ini dilihat dengan pendekatan sejarah dan
tasawuf serta dibahas dengan menggunakan studi kepustakaan dengan analisis kualitatif deskriptif. Berdasarkan hasil
penelitian ditemukan bahwa Qalbu menurut al-Ghazali, ialah wadah dan pusat dari
tubuh manusia, ia yang memerintah tubuh untuk melakukan sesuatu yang ia
inginkan. Qalbu adalah sesuatu yang halus (al-Lathiifah)
dan yang halus inilah hakikat dari diri manusia yang halus ini berkaitan dengan
sifat–sifat manusia, ia yang merasakan kegundahan dan kebahagiaan. Apabila
qalbu baik maka akan baik pula seluruh
tubuh manusia. Terdapat empat potensi yang mempengaruhi qalbu, yaitu: Fu’aad, Sadr, Hawa dan Nafs yang masing-masing
memiliki potensi dan fungsi tersendiri untuk melakukan sesuatu. Qalbu dapat
berfungsi membentuk kepribadian manusia dengan baik jika qalbu dan empat
potensi yang mempengaruhi qalbu ini berada pada wilayah taqwa yaitu pendekatan
diri dan selalu menyebut dan mengingat (zikir) kepada Allah swt., kepribadian
manusia akan terbentuk dengan baik tergantung seberapa bersihnya qalbu itu dari
sifat-sifat tercela dan penyakit-penyakit yang menjangkitinya.
Kata Kunci :
Qalbu, Pandangan, Al-Ghazali. Fungsi
Qalbu, Pembentukan kepribadian.
1. PENDAHULUAN
Menurut al-Ghazali
kaum empirisme telah membatasi pengetahuan atas indra, hal inilah yang
mempersempit Rahmat Allah swt. yang luas, sehingga kesadaran untuk menemukan
kebenaran sulit dipecahkan. begitu juga kaum rasionalisme, mereka sangat mengandalkan
“akal”, padahal akal hanya menjelaskan pada lingkungan yang terbatas, seperti
di katakan Ibnu Khaldun tidak
memiliki kapasitas yang cukup untuk menilai persoalan–persoalan ketuhanan, keadaan yang bersifat emosional,
perkara–perkara akhirat dan semacamnya, jika dipaksakan maka seperti timbangan
emas yang oleh pemiliknya digunakan untuk menimbang gunung. [2]
Menurut ahli psikologi sebagaimana
dikutip dari Yusuf al-Qardlawi pengingkaran sebagian ahli “pikir” terhadap
kebenaran Tuhan ( Allah swt. ) seperti tipu muslihat untuk membenarkan
penyelwengan mereka dan untuk mempertahankan kebejatan moral, disamping itu
untuk menutupi kelemahan dan ketakberdayaan terhadap hawa nafsu, dengan ini
para nabi tidak lagi berkepentingan untuk membahas kebenaran Tuhan ( Allah swt.
) karena sudah diketahui dan diterima oleh seluruh umat Islam, dibalik itu
tugas Nabi adalah membersihkan iman dari debu-debu kesyirikan menyuruh yang
ma’ruf dalam membentuk kepribadian manusia.[3]
Allah berfirman:
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
Artinya:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah
orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpaling dari pada orang-orang yang
bodoh”. (Q.S. al-A’raaf [7]:199).[4]
Inilah
yang paling penting yaitu menyuruh untuk berbuat baik dalam membentuk
kepribadian manusia, melalui perbaikan hati dari penyakit-penyakit dan
sifat-sifat yang mengotorinya.
berkaitan dengan hal yang mengotori
hati, Nabi saw. memberikan gambaran:
عن عامر قال سمعت
النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى
الْجَسَدِ مُضْغُةً أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
Dari ‘Amir
berkata: saya telah mendengar Nu’man bin Basyir berkata: saya telah mendengar
Rasulullah sallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya
di dalam tubuh ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah
seluruh tubuh. dan apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah
seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).[5]
Jadi
apabila hati manusia itu baik, maka baik pula manusia, dan jika hati manusia jelek
maka jelek pula manusia. Sehingga hati memiliki peran yang sangat penting,
perlu dirawat dan dijaga dengan baik karena hatilah yang menjadi barometer
untuk membentuk kepribadian.
Dari penjelasan di atas, maka
pemikiran al-Ghazali tentang qalbu dipandang perlu untuk dijadikan sebagai bahan
kajian dalam penelitian ini, mengingat sebagian umat Islam sekarang, telah
dikuasai hawa nafsu, kecintaan terhadap materi dunia, degradasi moral dan kehampaan spiritual.
A. Rumusan
Masalah dan Batasan Masalah
1)
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan
di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan
pokok yang menjadi inti permasalahan dalam skripsi ini yaitu Qalbu Dalam
Pandangan al-Ghazali. Permasalahan tersebut dibagi dalam dua sub pokok bahasan
yaitu:
1.
Bagaimana pandangan al-Ghazali tentang qalbu.?
2.
Bagaimana fungsi qalbu dalam membentuk
kepribadian manusia.?
2)
Batasan Masalah
Agar pembahasan ini tidak meluas,
dan agar lebih terarah kajiannya, maka perlu ada batasan masalah. Permasalahan
skripsi ini lebih difokuskan pada qalbu dalam pandangan al-Ghazali, dan
fungsinya dalam membentukan kepribadian manusia.
B. Tinjauan
Teori
a. Qalbu
menurut bahasa adalah segumpal daging atau sesuatu yang dapat membalik atau
berbolak balik, dalam bahasa arab disebut qalbun jamaknya qulubun.[6] Qalbu
ini amat berpotensi untuk tidak konsisten al-Qur’an pun menggambarkan demikian,
ada yang baik, adapula sebaliknya.[7]
b. Sedangkan
menurut istilah,
-
Al-Ghazali mendefinisikan qalbu sebagai
tempat yang befungsi untuk menyerap ilmu pengetahuan atau yang disebut, sesuatu
yang halus ( al-Lathiifah ), yaitu sebuah “Tempat” ( Ruang ) dimana ilmu dapat
melekat padanya. Sesuatu yang halus inilah hakikat manusia yang tidak bisa
diselami oleh akal dan pikiran, tetapi dengan perasaan, dan perasaan ini harus
diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah supaya bisa terarah kepada kebenaran Allah
swt.[8]
-
Syaikh Nasir Makarim Syirazi dalam
tafsirnya menjelaskan bahwa, qalbu ialah pusat emosi, yaitu hati yang berada di
sebelah kiri dada, ia yang membangkitkan emosi pertama kali dari diri manusia.[9]
-
Menurut
Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy di dalam
kitabnya "al-Ta'rifat": Qalbu adalah sifat lembutnya ketuhanan yang
terdapat dalam jiwa manusia.[10]
-
Syekh
Robert Frager Phd, seorang mursyid dari Amerika menjelaskan bahwa, yang
dimaksud dengan qalbu ialah hati spiritual. Sedangkan menurut dasar
disiplin-spiritual sufi lainya, qalbu ialah rumah Cinta.[11]
C. Tujuan
dan Kegunaan Penelitian
1)
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian
ini adalah:
1.
Untuk mengetahui dan menguraikan
pandangan al-Ghazali tentang qalbu.
2.
Untuk mengetahui fungsi qalbu dalam
membentuk kepribadian manusia.
2)
Kegunaan
1.
Tulisan ini diharapkan bisa menjadi
bahan masukan terhadap para pembaca yang hendak mencari informasi yang
berkaitan dengan persoalan yang dikaji.
2.
Agar dapat memberikan suatu konstribusi
bagi umat Islam dalam kaitanya dengan pembentukan kepribadian manusia melalui
qalbunya.
D. Metode Penelitian
1.
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan ( library Research
) yaitu pengumpulan data dengan jalan menghimpun data dari berbagai
literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku–buku, tetapi juga
berupa bahan–bahan, konsep–konsep, majalah, jurnal, laporan penelitian, dan
lain-lain. yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Penekanan
penelitian ini, ingin menemukan teori, pendapat, gagasan, dalil. Yang dapat
dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah yang diteliti.
2.
Pendekatan
Pendekatan penelitian ini adalah Pendekatan
sejarah/historis yaitu melihat sejarah masa lalu untuk dijadikan sebagai pegangan
dalam merumuskan masalah, yaitu mendeskripsikan riwayat hidup serta sejarah
perkembangan pemikiran al-Ghazali melalui sejarah biografi al-Ghazali.[12] Juga
menggunakan pendekatan Tasawuf, dikarenakan dalam pembahasannya berkaitan
dengan kajian tasawuf, dimana tasawuf adalah salah satu bidang studi ilmu
keislaman yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia
melalui qalbu, yang selanjutnya dapat menimbulkan kepribadian mulia.[13] Data–data
yang diperoleh kemudian diolah dengan metode kualitatif, selanjutnya di
interprestasikan dengan Metode Deskriptif Analitis; yaitu pembahasan bertujuan
untuk membuat gambaran terhadap data–data yang telah tersusun dan terkumpul
dengan metode memberikan tafsiran.[14]
3.
Teknik
Pengumpulan Data.
Dalam
penelitian ini penulis mengumpulkan sumber–sumber tertulis baik berupa dokumen,
buku–buku pengetahuan, kitab–kitab, jurnal dan lainnya yang ditulis dan dicetak
atau diterbitkan oleh penerbit baik yang dipublikasikan secara umum atau tidak.
Karena penelitian ini adalah penelitian sejarah yaitu meneliti kembali pemikiran al-Ghazali yang sudah
berpuluh tahun yang lalu, maka dalam penelitian sejarah, kedudukan sumber
primer dapat dipercaya. yang dimaksud dengan sumber primer adalah sumber yang
ditulis dan dikemukakan sendiri pihak yang berperan langsung peristiwa
tersebut.[15]
dan Sumber sekunder dijadikan sebagai data tambahan yaitu tulisan
mengenai sejarah berdasarkan bukti-bukti dari sumber pertama.
2. LATAR BELAKANG KEHIDUPAN
AL-GHAZALI
A.
Riwayat
Hidup al-Ghazali
Al-Ghazali
adalah seorang ulama dan pemikir yang sangat jenius, karena kejeniusannya
al-Ghazali dapat meraih gelar Hujjah al-Islam
(Pembela Agama), Zain al-Din (Hiasan
Agama), Bahrun Muhriq (Lautan tak
Bertepi). Namanya kadang diucapkan Ghazzali
dengan dua Z, artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah
al-Ghazali ialah tukang pintal benang. Sedangkan yang lazim disebut ialah Ghazali dengan satu Z, yang diambil dari
kata Gazalah nama kampung kelahirannya. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058
M, di desa Thus, wilayah Khurasan ( Iran ). [16]
Al-Ghazali dikaruniai seorang anak
laki–laki yang bernama Hamid, maka beliau dipanggil dengan panggilan akrab “Abu
Hamid” (Bapak Si Hamid). Dengan itulah al-Ghazali dipanggil Abu Hamid Muhammad
bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali al-Thusi.[17] Al-Ghazali wafat pada 14 Jumadil al-Akhir
tahun 505 H ( 19 Desember 1111 M) setelah melalui zaman dalam kehidupan yang
indah al-Ghazali mengakhiri hayatnya di tempat permulaanya.[18]
Jenazah
al-Ghazali di kebumikan di makam al-Thabiran, berdekatan dengan makam
al-Firdaus seorang ahli sya’ir yang termahsyur, sebelum meninggal, al-Ghazali
pernah mengucapkan kata–kata yang kemudian diucapkan kembali oleh Francis Bacon
seorang filosof Inggris, yaitu: “Kuletakan arwahku di hadapan Allah dan
tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali
menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa depan”.[19]
B.
Pendidikan
Sebelum ayah al-Ghazali wafat
beliau mewasiatkan al-Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada sahabatnya seorang
sufi dengan harapan agar kedua anaknya menjadi seorang fakih dan memberi
nasehat kepada sesamanya. Namun setelah harta warisan ayahnya habis digunakan
untuk biaya pendidikan sedang sahabatnya dalam keadaan melarat maka tidak ada
jalan lain kecuali menganjurkan kepada kedua anak itu untuk masuk asrama
(dengan ongkos percuma). Asrama yang dimaksud adalah asrama yang di dirikan
oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk di kota kabupaten yang bernama Thus.[20]
Al-Ghazali Belajar di beberapa kota antara lain:
a.
Thus: Kota Thuslah Mula–mula al-Ghazali
belajar Agama, al-Ghazali belajar ilmu fikhi dengan tekun dari Syeh Ahmad bin
Muhammad al-Razikani, dan belajar ilmu tasawuf kepada Yusuf al-Nassaj seorang
sufi terkenal waktu itu.[21]
Pada awal studinya al-Ghazali mengalami peristiwa yang kemudian mendorong
kemajuannya dalam pendidikan, suatu hari
al-Ghazali dihadang segerombolan perampok, mereka merampas semua bawaan al-Ghazali,
termasuk catatan kuliahnya, al-Ghazali meminta perampok itu agar mengembalikan
catatannya yang baginya sangat bernilai, kepala perampok malah menertawakannya
dan mengejeknya, Tanggapan al-Ghazali terhadap peristiwa itu positif, ejekan
itu digunakan untuk mencambuk dirinya dan menajamkan ingatannya dengan
menghafal semua catatan kuliahnya selama tiga tahun. [22]
b.
Jurjan: Pada tahun 465 H, al-Ghazali
berangkat ke Jurjan untuk melanjutkan pelajaranya, berguru kepada Imam Abi
Nashr al-Ismaili.[23] Pada
tahun 470 al-Ghazali kembali lagi Thus, setelah itu terbesiklah hatinya untuk
lebih memperdalam ilmunya, mencari sekolah yang lebih tinggi.[24]
c. Naisabur:
Pada tahun 473 H, al-Ghazali berangkat ke Naisabur memasuki Akademi Nizamiyah,
dengan pimpinanya termahsyur dalam ilmu pengetahuan agama bernama Abu Ma’alin
Phisauddin al-Juwaini yang diberi gelar kehormatan dengan “Imam Haramain” ( Imam dari dua kota Makkah dan Madinah ). Dari
beliau inilah al-Ghazali memperoleh ilmu pengetahuan agama yang bermacam–macam,
seperti ilmu fiqhi, ushul fiqhi, ilmu kalam dan filsafat secara terus menerus
sehingga ia mampu bertukar pikiran dengan segala aliran dan agama, bahkan mulai
mengarang buku–buku ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. [25]
d. Bagdad:
Pada tahun 484 Hijrah, Niżam al-Mulk
melantik al-Ghazali sebagai professor di al-Madrasah al-Niżamiyyah, dalam usia
34 tahun al-Ghazali telah diberikan gelar Syaikh al-Islaam, yakni
setinggi-tinggi pangkat dari segi akademik dan keagamaan yang rasmi.[26] Pada tahun 488 H/1095 M ia menderita krisis
rohani sebagai akibat sikap kesangsiannya (Syak)
yang oleh orang barat dikenal skeptisisme. Akibat sakit ini ia menderita sakit
selama 2 bulan sehingga dokter kehabisan daya mengobatinya.[27]
e.
Makkah: Karena peristiwa itu al-Ghazali
memutuskan untuk meletakan jabatan yang di pangkunya seperti Rektor dan Guru
besar di Bagdad, ia mengembara ke Damaskus, mengisolasi diri ( ‘Uzlah ) untuk beribadah selama dua
tahun. Lalu pada tahun 490 H/1098 M, ia menuju Palestina berdoa disamping
kuburan Nabi Ibrahim a.s. kemudian ia berangkat menuju tanah suci Makkah
al-Mukarramah guna menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah
sallallahu ‘alaihi wa sallam., akhirnya ia terlepas dari goncangan jiwa ini
dengan jalan tasawuf.[28]
C.
Perkembangan
Pemikiran al-Ghazali
Kondisi pemikiran Islam pada masa
al-Ghazali banyak diwarnai pertentangan berbagai aliran. Dari semua aliran,
mengklaim pendapat mereka adalah benar. Al-Ghazali mengklasifikasikan kelompok
aliran tersebut pada:
1. Teologi/Ilmu
kalam
Al-Ghazali mengkritik aliran dalam ilmu kalam,
seperti aliran Mu’tazilah yang di pelopori oleh Washil bin Atha dan Amar bin
‘Ubaid, kedua tokoh ini berpendapat bahwa orang mukmin yang melakukan dosa
besar dia tidak kafir tidak mu’min tapi berada dalam dua posisi (al-Manzila baina al-Manzilatain ),
pendapat ini sangat berbeda dengan pendapat kaum muslimin pada umumnya. saat
itu, Washil bin Atha memisahkan diri dengan gurunya Hasan al-Bashri dan
membangun aliran teologi.[29]
Aliran ini mendapat pengaruh kuat dari orang–orang
Yahudi dan Nasrani, aliran ini mempelajari filsafat Yunani. Aliran ini
mengutamakan akal, al-Qur’an dan Hadits dijadikan bahan kedua, hal ini tampak
dalam ajarannya, seperti kebaruan al-Qur’an, Manusia dengan akalnya semata
dapat mengetahui adanya Tuhan, cara–cara pembenaran agama dengan alasan pikiran
Inilah yang dikoreksi dan dikritik al-Ghazali. Contoh lain adalah aliran
Asy’ariah, yang dipelopori oleh Abu al-Hasan Ali Asy’ari. diantara ajaran yang
dibawakan oleh tokoh ini yang berbeda dengan pandangan al-Ghazali adalah taqlid
buta yang melekat di dada para pengikutnya. Akibat dari kefanatikannya yang
sering menimbulkan tuduhan kafir kepada orang lain yang berbeda pendirian.
al-Ghazali juga tidak membentuk aliran baru dalam ilmu kalam, karena menurut
al-Ghazali menumbuhkan itu semua hanya akan melemahkan umat. Memahami Islam
cukup dengan tiga warisan; al-Qur’an, Hadits, dan Ulama.[30]
Ketiga hal di atas sanggup mengantarkan manusia
menuju tujuannya yaitu sebagaimana firman Allah swt. :
xx$Î) ßç7÷ètR y$Î)ur ÚúüÏètGó¡nS ÇÎÈ
Artinya:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu
kami meminta pertolongan”. (Q.S. al-Fatihah [1]: 5)[31]
Al-Ghazali
meletakan warisan Rasul sebagai standar untuk menilai semua mazhab dan aliran dalam
kalangan mutakallimin yang berkembang saat itu, tanpa ragu al-Ghazali menentang
ajaran yang tidak sesuai dengan sumber Islam atau ajaran yang diterimannya
secara taqlid. Al-Ghazali berkata:
aku tidak ragu atas keberhasilan mutakallimin dalam mengadakan pembaruan yang
hanya diterima oleh sebagian kelompok. Tapi perlu diingat, bahwa keberhasilan
itu sudah demikian kaburnya dan telah bercampur aduk dengan taqlid.[32]
1.
Filosof
Setelah mengadakan koreksi terhadap kaum
mutakallimin al-Ghazali mulai berfikir dan mendalami filsafat. Yang menjadi
perbincangan al-Ghazali tentang filsafat adalah cara pandang para filosof dalam
mengkaji suatu permaslahan. Al-Ghazali melontarkan sanggahan yang sangat keras
terhadap para filosof, dalam hal ini kepada Aristoteles dan Plato, juga
al-Farabi dan Ibnu Sina karena kedua filosof ini harus bertanggung jawab atas
penerimaan dan penyebarluasan filosof Yunani ke dunia Islam. Adapun penyebar
luasan filsafat Aristoteles oleh al-Farabi dan Ibnu Sina adalah sebagai
berikut:
1. Filsafatnya
tidak perlu disangkal, dengan arti dapat diterima,
2. Filsafatnya
yang harus dipandang bid’ah,
3. Filsafatnya
yang harus dipandang kafir.
Menurut al-Ghazali filsafat dapat di
kelompokan menjadi beberapa bagian yakni matematika, logika, fisika, etika dan metafisika
(ketuhanan). Selain masalah ketuhanan, ilmu–ilmu itu dapat diterima karena
tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ada dua puluh masalah yang dikritik
oleh al-Ghazali dalam Tahafut
al-Falasifah, namun hanya tiga dari dua puluh masalah tersebut yang
disangkal al-Ghazali menyalahi nash syar’i, selain dari itu, mengatakan para filosof telah berbuat “bid’ah”.[33]
Tiga masalah tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Masalah
keqadiman alam.
2. Allah
tidak mengetahui partikularia-partikularia
( hal-hal kecil ).
3. Pengingkaran
para filosof akan kebangkitan jasmani pada hari akhir.
Atas dasar inilah
al-Ghazali menentang para filosof, karena bertentangan dengan prinsip agama.
4. Aliran
Kebatinan
Setelah
Rasulullah saw. wafat, tidak ada lagi Nabi yang patut dijadikan pedoman hidup
kecuali tiga perkara: al-Qur’an, Hadits dan Ulama. Tetapi terhadap ketiga nas
di atas, pertama dan kedua tidak menjadi persoalan, karena keduannya jelas.
Namun terhadap yang ketiga (Ulama), sebagian umat Islam menganggap ulama
sebagai pewaris para nabi “عُلَمَاءُ
وَرَسَةُ الْأَمْبِيَاْءِ yaitu orang alim yang persis seperti nabi: suci
dari dosa (ma’sum min al-dzunuub) atau
dalam istilah kebatinan (Mahfudh).
Inilah fatwa–fatwanya yang wajib diikuti. Selain dari mereka, tidak benar.[34]
Mula–mula al-Ghazali melakukan
penelitian terhadap kitab-kitab yang dijadikan dasar oleh kaum kebatinan,
kemudian al-Ghazali menanyakan dimana Imam Ma’sum yang dianggap suci itu dan
kapan bisa dijumpai, ternyata tidak satupun pengikut aliran kebatinan yang mampu menunjukkannya. Ketidak
mampuan pengikut aliran kebatinan untuk mengemukakan argumen dan menunjukan
bukti dimana Imam Ma’sum itu, maka al-Ghazali berkesimpulan bahwa yang dimaksud
Imam Ma’sum oleh kaum kebatinan itu hanyalah ada dalam angan-angan saja tidak
dalam kenyataan.[35]
5.
Sufi
Tasawuf atau sufisme adalah bagian
dari Syari’ah Islamiah. Tasawuf bermanfaat untuk menciptakan sikap mental dalam
membersihkan hati dan beribadah, sederhana dan memperoleh hubungan yang baik
dengan Allah.[36]
Ada tiga prinsip utama yang
ditulias oleh al-Ghazali dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. yaitu: Khauf ( Takut ) adalah cabang ilmu, Raja’ (Berharap) adalah cabang keyakinan
dan Hub ( Cinta ) adalah cabang dari
mengenal. Bukti Khauf adalah lari
dari dosa, bukti Raja’ adalah mencari
Allah swt. dan bukti Hub adalah
memutlakkan atau mengutamakan zat yang dicintai. Perumpamaan tiga hal ini
adalah Masjid al-Haram, masjid, dan ka’bah. Barang siapa masuk Masjid al-Haram,
maka ia pasti aman dari gangguan makhluk. Barang siapa masuk masjid ( masjid
umum ), tubuhnya harus dijaga dari melakukan maksiat. Barang siapa masuk
Ka’bah, maka hatinya aman dari mengingat selain Allah swt.[37]
D.
Karya-Karya
al-Ghazali
Dr.
‘Abd al-Rahman Badawi mencatat, bahwa karya oleh sang Hujjah al-Islam
al-Ghazali mencapai, setidaknya 457 buah, dan berisi kajian dengan ragam
pendekatan.[38]
Namun hanya sebagian karya–karya al-Ghazali yang diketahui.[39]
|
|
||
|
Bidang Filsafat
1.
Maqasid
al-Falasifah
2.
Tahafut
al-Falasifah
3.
Al-Ma’arif al-‘Aqliyah
4.
Fajsal
al-Tafriqa bajna al-Zindiqah
|
Bidang Agama
1.
Aqidah ( Ilmu kalam )
a.
Al-Risalah
al-Qudsiyah
b.
Al-Qithas
al-Mustaqiim
c.
Faisal
al-Tafriqah al-Islam wa al-Zindiqah
d.
Iljam al-Awwal
min Ilm al-Kalam
e.
Qawaia’
al-Aqa’id
f.
Al-Istiqshad
fi al-A’tiqad
2.
Fiqih
a.
Al-Mustasfa
min Ushul Fiqh
|
a.
Kamiya-u
Saadat
b.
Tibru al-Mabu
c.
Ayyub al-Walad
3.
Akhlak dan Tasawuf
d.
Ihya’
‘Ulumuddin
e.
Al-Munqiz Min
al-Dhalal
f.
Al-Adab fi
al-Din
g.
Al-Qawaid
al-Anshara
h.
Maqashid
al-Hasan Syarh Asma Ilahy al-Husna
i.
Minhaj
al-Abidin
j.
Nasihat
al-Talmiz
|
4.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Penegertian
Qalbu.
Al-Ghazali membagi qalbu pada dua pengertian:
a) Makna
kata yang pertama: daging yang berbentuk pohon cemara atau kerucut[40]
yang terletak disisi kiri dada dan di dalamnya terdapat rongga yang berisi
darah hitam. Ia merupakan sumber dan pusat dari ruh. Hati dalam pengertian ini,
juga ada di dalam jasad binatang dan orang yang sudah meninggal.[41]
Sehingga pengertian qalbu yang pertama tidak menjadi fokus pembahasan.
b) Makna
kedua: sesuatu yang halus (al-Lathiifah),
ketuhanan (Rabbaniyah) dan kerohanian (rohaniah)
yang memiliki hubungan dengan daging ( hati ) dalam pengertian pertama di atas, namun hubungan diantara keduanya
tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena berada pada wilayah perasaan
pribadi seseorang, hati yang haluslah hakikat manusia, dialah yang mengetahui
dan yang mengenal dan memerintah[42]
Hati dalam pengertian inilah yang mengenal Allah swt. dan menangkap sesuatu
yang tidak bisa ditangkap khayalan. Allah swt. berfirman:
¨bÎ) Îû y7Ï9ºs 3tò2Ï%s! `yJÏ9 tb%x. ¼çms9 ë=ù=s% ÇÌÐÈ
Artinya:
“Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar
terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati (qalbu)” (Q.S. al-Qaaf
[17]: 37).[43]
Qalbu berada dalam hati badaniah
berkaitan dengan yang halus (lathiifah)[44] dan yang halus ialah hakikat manusia.[45] terdapat
empat unsur yang mempengaruhi qalbu dan masing-masing memiliki potensi
tersendiri.
1.
Fu’aad:
disebut
juga hati yang murni[46]
merupakan potensi qalbu yang berkaitan dengan indrawi, mengolah informasi yang
selalu dilambangkan berada dalam otak manusia. fungsi fu’aad mempunyai tanggung jawab intelektual yang jujur kepada apa
yang dilihatnya, potensi ini cenderung dan selalu merujuk pada objektifitas dan
jauh dari sifat kebohongan, Allah swt. berfirman:
$tB z>xx. ß#xsàÿø9$# $tB #r&u ÇÊÊÈ
Artinya:
“Hatinya tidak
mendustakan apa yang telah dilihatnya” ( Q.S. al-Najm [53]: 11)[47]
Fu’aad
selalu bersikap jujur dan objektif ia selalu haus dengan kebenaran dan
bertindak di atas rujukan yang benar pula. Fu’aad
memberikan ruang untuk akal, berpikir, bertafakkur, memilih dan mengolah
seluruh data yang masuk dalam qalbu manusia, sehingga melahirlah ilmu pengetahuan
yang bermuatan moral dalam hal mengambil sikap atau keputusan.
2.
Shadr: dalam
bahasa arab berarti “dada” Sebagai
kata kerja yang berarti pergi, memimpin, dan juga melawan atau menentang.
Karena terletak antara hati dan diri rendah hawa nafsu, shadr juga dapat di istilahkan hati terluar.[48] Shadr
merupakan potensi qalbu yang berperan untuk merasakan dan menghayati dan
mempunyai fungsi emosional (marah, benci, cinta ,indah, efektif). Potensi Shadr adalah dinding hati yang menerima
limpahan cahaya keindahan, Sehingga mampu menterjemahkan segala sesuatu serumit
apapun menjadi indah. Shadr mempunyai
potensi besar untuk menyimpan hasrat, niat kebenaran, dan keberanian yang sama
besarnya dengan kemampuan untuk menerima kejahatan dan kemunafikan.[49]
3. Hawaa:
Hawaa disebut
juga desakan hati dan keinginan keras,[50] di
dalamnya ada ambisi, kekuasaan, pengaruh dan keinginan untuk mendunia, Potensi Hawaa selalu cenderung untuk membumi dan
merasakan nikmat dunia yang bersifat fana. Saluran qalbu yang paling berbahya
adalah saluran Hawaa, Bahkan Allah
swt. sendiri memberikan peringatan dan meminta perhatian yang teramat serius
kepada umat manusia agar memperhatikan angin panas dari hawaa. Allah swt. berfirman:
|M÷uäur& Ç`tB xsªB$# ¼çmyg»s9Î) çm1uqyd |MRr'sùr& ãbqä3s? Ïmøn=tã ¸xÅ2ur ÇÍÌÈ
Artinya:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara
atasnya” (Q.S. al-Furqan [25]; 43).[51]
Potensi hawaa selalu membawa manusia kepada sikap-sikap yang rendah.
Menggoda, merayu, dan menyesatkan, sekaligus memikat, walaupun cahaya di dalam qalbu
pada fitrahnya selalu benderang, tetapi justru karena manusia mempuyai potensi
saluran hawaa ini. Maka seluruh qalbu
bisa menjadi rusak binasa karena keterpikatan dan bisikan yang di embuskan Syaitan
kedalam potensi hawaa.
Perjuangan manusia adalah
mempertahankan dan sekaligus membunuh bisikan Syaitan yang menyusup di dalam qalbu.
Dengan cara melakukan tazkiyah (penyucian diri) dan tetap waspada (taqwa).
Hanya manusia yang mampu mensucikan
diri, beriman, dan bertaqwalah bisa mengalahkan dan mengatasi Syaitan. Allah swt.
berfirman:
wÎ) y$t6Ïã ãNåk÷]ÏB úüÅÁn=øÜßJø9$# ÇÍÉÈ
Artinya:
“Kecuali hamba-hambamu
yang mukhlis (suci) di antara mereka”.
(Q.S. al-hijr [15]: 40).[52]
Yang dimaksud dengan mukhlis ialah
orang-orang yang telah diberi taufiq untuk menaati segala petunjuk dan perintah
Allah swt.
Al-Ghazali menyatakan bahwa,
terhadap hawa, ada dua hal yang harus
diwaspadai karena ia selalu bergandengan dengan nafsu.
a. Nafsu
adalah musuh yang datang dari dalam diri sendiri. Pencuri apabila dari dalam
rumah, tentu sangat sulit di siasati dan amat menyusahkan.
b. Nafsu
itu musuh yang dicintai dan dikuasai, hal inilah manusia akan selalu menganggap
baik setiap kejelekan yang datang dari diri. Dengan itulah, jangan terlalu
ikuti hawa nafsu karena ia akan membinasakan.[53]
4.
Nafs:
Saluran
cahaya qalbu yang keempat adalah nafs yang sering di artikan dengan jiwa. Watak
manusia atau aku sebagai persona, lorong ini menampung segala keinginan yang
menjadi pendorong, nyala api yang siap membakar gelorah semangat, gairah yang
mengedor serta menegur tetapi juga menampung segala kepedihan, penyesalan, dan
rasa bersalah. Allah swt. berfirman:
Iwur ãNÅ¡ø%é& ħøÿ¨Z9$$Î/ ÏptB#§q¯=9$# ÇËÈ
Artinya:
“Aku bersumpah dengan
jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.(Nafsu al- Lawwaamah)”. (Q.S. al-Qiyamah
[75]: 2).[54]
Maksudnya: bila ia
berbuat kebaikan ia juga menyesal kenapa ia tidak berbuat lebih banyak, apalagi
kalau ia berbuat kejahatan.
Nafs
merupakan keseluruhan atau totalitas dari diri manusia itu sendiri, di dalamnya
berhimpun dua kekuatan baik dan buruk. Allah swt. berfirman:
<§øÿtRur $tBur $yg1§qy ÇÐÈ $ygyJolù;r'sù $yduqègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ
Artinya:
“Dan Jiwa serta
penyempurnaanya (Ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan kataqwaannya”. (Q.S. asy-syams:[91]: 7-8).[55]
Nafs
adalah muara yang menampung hasil oleh fu’aad,
Shadr dan hawaa, yang kemudian menampakan dirinnya dalam bentuk perilaku
nyata di hadapan manusia lainya. Sebaliknya jiwa yang gelisah penuh api membara
hanya mendapatkan gelar “ammarotun bi al-Suu”(suka
menyuruh terhadap keburukan[56])
dia menjadi muara kejahatan karena menampung muara fu’aad yang cacat, rusak, dan busuk.[57]
Kewajiban fu’aad terlebih dahulu harus mampu mengendalikan dan menempatkan hawaa pada posisi positif, serta
mendorong seluruh salurannnya yang terbuka untuk di isi oleh hub (cinta) yang memancar dari qalbu.
B. Fungsi Qalbu terhadap Pembentukan Kepribadian Manusia.
Kepribadian dalam
bahasa Inggris disebut personality, dalam bahasa arab disebut al-Syakhshiyyatu[58]
secara umum menunjuk bagaimana setiap individu menampilkan dirinya sehingga
memberikan kesan tertentu bagi individu yang lain yang berinteraksi dengannya.
Saleh Harja Sumarna dalam bukunya “Kepribadian Super” manusia adalah
makhluk yang berkepribadian, dan kepribadian tersebut memberikan ciri khusus
yang membedakannya dengan manusia lain, manusia tanpa kepribadian berarti bukan
manusia.[59]
Pada dasarnya perbuatan
kita sehari–hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu. ternyata ada unsur
batin yang mengaturnya. Perasaan ini kemudian di sifatkan dengan suatu kedaan
jiwa yang akan melahirkan perilaku-perilaku yang baik atau buruk.
Dalam sebuah hadits Nabi saw.
menyampaikan:
عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير
يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغُةً
أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ
أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
Dari ‘Amir berkata: saya telah mendengar Nu’man bin
Basyir berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh
ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. dan
apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh.
Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).[60]
Maka ada dua fungsi
qalbu disini: Pertama: menurut penulis Qalbu dapat berfungsi sebagai “al-lathiifah al-I’itiraaf dan al-Lathiifah al-Akhlaak”[61] (
yaitu hati yang mampu membuat manusia sadar
dan hati yang dapat membentuk kepribadian manusia). Kedua: Qalbu
dapat melahirkan sikap tawadhu’. baik dalam bermuamalah dengan sesama
manusia pada umumnya atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada khususnya dan Tark
al-Ma’ashi yaitu menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Menurut Zaki
Zamani Muhammad Syukron Maksum, tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah
salah satu ajaran al-Qur’an.[62]
Terdapat empat sifat menurut
al-Ghazali yang mempengaruhi qalbu terhadap kepribadian:
a.
Sifat kebuasan
b.
Sifat kebinatangan
c.
Sifat kesyaitanan
d.
Sifat ketuhanan[63]
Sifat kebuasan dan
kebinatangan ini terdapat di dalam diri manusia, mereka selalu dekat dengan
marah dan hawa nafsu, bila manusia itu dikuasai oleh kemarahan maka ia
mengikuti sifat kebinatangan dan kebuasan, yaitu permusuhan, dan serangan
terhadap manusia lain dengan pukulan dan makian. Bila manusia dikuasai hawa nafsu
maka ia melakukan perbuatan–perbuatan hewan yaitu kerakusan dan lain–lain.[64]
Ketika seseorang
menaati hawa nafsu, maka timbullah daripadanya sifat kurang malu, keji, boros,
kikir, ria, rusak kehormatan, busuk hati, suka memaki dan lain-lain. Adapun
menaati Syaitan yaitu mengikuti nafsu syahwat dan kemarahan. Maka menghasilkan
sifat menggoda, menipu, mencari dalil, tipu muslihat, membuat contoh yang
tidak-tidak, merusak, perkataan kotor dan sebagainya.
Apabila keadaan itu di
balik dan semuanya di paksakan di bawah sifat
ketuhanan (sifat Rabbaniyyah), niscaya tetaplah dalam hati sifat ketuhanan.
Yaitu: ilmu kebaikan, hikmah, yakin, meliputi pengetahuaanya tentang hakikat
segala sesuatu, mengetahui segala urusan menurut yang sebenarnya, Ia terlepas
dari perbudakan hawa nafsu, dan kemarahan dan berkembanglah sifat-sifat mulia,
lantaran terkunngkungnya hawa nafsu, dan kembalinya ke atas normal. Sifat-sifat
mulia itu seperti sifat menjaga diri, merasa cukup dengan yang ada, tenang, zuhud,
wara, taqwa, lapang dada, malu berbuat keburukan, ramah, bertolong-tolongan dan
sebagainya. Dalam hal ini berkatalah Imam al-Ghazali:
“Tugas pertama manusia mendahulukan
kesucian bathin dari kerendahan budi dari sifat-sifat tercela”. Sifat-sifat yang tercela ini ialah sifat-sifat
yang rendah yaitu marah, hawa nafsu, dengki, busuk hati, takabbur, ‘ujub, dan
sebagainya adalah anjing-anjing yang galak. Bagaimana ( kebaikan ) dapat masuk
ke dalam hati”.[65]
Karena
itu, qalbu bagaikan pohon dan seluruh anggota tubuh adalah cabang-cabang pohon
itu, dimana baik cabang-cabang tersebut tergantung pada pohonnya. Qalbu juga
bagaikan raja, sedangkan seluruh anggota tubuh mengikutinya. Kalau raja baik,
maka baik pula rakyatnya dan kalau raja rusak, maka rusak pula semua rakyatnya.
[66]
5.
Kesimpulan
Sesuai dengan pokok pembahasan
rumusan masalah dalam penelitian ini, maka penulis menyimpulkan dua permasalahan
yaitu:
1.
Qalbu menurut al-Ghazali ialah wadah dan
sesuatu yang halus (al-Lathiifah) dan yang halus ini berkaitan dengan sifat–sifat
manusia, dan qalbu itulah hakikat manusia. Ada empat macam potensi qalbu yaitu:
Fu’ad, Shadr, Hawaa, dan Nafs (jiwa) dan keempat potensi ini semuannya
terkumpul di dalam qalbu manusia.
2. Fungsi
Qalbu.
a. Qalbu dapat berfungsi membentuk kepribadian
manusia dengan baik jika qalbu itu bersih dari sifat-sifat tercela dan di
Ilhami oleh cahaya kebaikan serta selalu mendekatkan diri (taqwa) dan mengingat
(zikir) kepada Allah swt.
b. Qalbu
dapat berfungsi merusak kepribadian manusia jika manusia itu selalu diliputi
was-was dan mengikuti ajakan setan, hawa nafsu dan amarah serta dikuasai oleh sifat-sifat
tercela yang mempengaruhi qalbu.
DAFTAR
PUSTAKA
A.W.
Munawir Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir
Indonesia Arab Terlengkap. Surabaya:Pustaka
Progresif, 2007.
al-Bukhari,
al-Imam al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Sahih al-Bukhari. Terj. Muhammad
Iqbal. Jilid 1. No 52. Edisi Indonesia
Cet I; Jakarta; Pustaka al-Sunnah, 2010.
Al-Ghazali
‘Ihya’ ‘Ulumiddin Terj: Ismail Yakub. Ihya’ al-Ghazali, Jilid I. Cet IX; Jakarta: CV Faizan, 1986.
,Hikmah Penciptaan Alam Semesta, Terj.
Kamran As’ad Irsyady. Cetakan Pertama; Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2013.
,Ihya’ ‘Ulumiddin, Terj. Moh Zuhri, Muqoffin Mochtar dan
Muqorrobin Misbah. Cetakan Pertama: Semarang: Asy Syifa, 1993.
,Ihya’ ‘Ulumuddin, Terj. Ismail Yakub. Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2.
Cet V; Singapore: Kerjaya Printing Industries Pte Ltd, 1992.
,Majmu’ah
Rasa’il, Terj. Umar Faruq. Jalan Hidup Kaum Sufi. Cet I; Surabaya:
Pustaka Media Press, 2004.
,Menyingkap Rahasia Keajaiban Ilmu Gaib
Laduni, Terj. Abu Farhad. Surabaya: Amelia, t.th.
,Minhaj al-Aabidin, Terj. M. Adib Bisri, Meniti Jalan Menuju Surga. Jakarta:
Pustaka Amani, t. th.
,Mukhtasar Ihya ‘Ulumuiddin. Terj. Abu Madyan al-Qurtubi. Cet Pertama;
Kairo: Dar al-Fajr li al-Turats, 2010.
,Rawdhah al-Thaalibin Wa ‘Umdah al-Salikiin
(Taman dan Sandaran Pencari Kebenaran). Terj. Irwan Kurniawan.
(Pilar-Pilar Rohani). Cetakan ke dua; Jakarta: Lentera Basritama, 2000.
,Tahdziib Mukaasyafah al-Quluub, Terj.
Akhmad Siddiq dan A. Rofi’i Dimayati, Menyelami
Isi Hati. Cetakan Pertama; Depok: Keira Publishing, 2014.
,احياء علوم الدين , Juz 3. Kairo: Daru Ihya’ Kutub
al-‘Arabiyyah, t.th.
,Tahafut al-Falaasifah, Terj. Ahmadi
Toha, Kerancuan Para Filosof. Mesir: Dar el Ma’arif, 1966.
al-Jurjaniy,
Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini, lihat dalam Gumawa, Apa Arti Hati dan atau Qalbu, http://www.kompasiana./nadanada/apa-arti-hati-dan
atau qalbu?option= com _Conten&task=View&i=552b6edf6e=a834d4498=b45, (02
Nopember 2015).
al-Qardlawi,
Yusuf, Eksistensi Allah. Terj. Mukhlisin Sa’ad, (td.).
Asrifin,
Tokoh – Tokoh Sufi. Surabaya : Karya Utama, t.th.
Attamimi,
Abuya Ashaari Muhammad, Iman dan
Persoalannya. Cetakan IX ; t.t.: Giliran Timur Publishing.
Departemen
Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya Jakarta:
PT Toha Putra Semarang, 1989.
Duriana,
Serangan al-Ghazali Terhadap Para Filosof dan Dampaknya Terhadap
Perkembangan Filosof Islam.
(Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1987).
Duriana,
Tasawuf di Dunia Islam. Cet.Pertama; Jakarta: Hiliana Press, 2007.
Fairuz,
A.W. Munawir Muhammad, Kamus al-Munawir
Indonesia Arab Terlengkap. Cet I; Yogyakarta : Pustaka Progresif, 2007.
fiqkofallah,
http://warasatul-anbiyak.blogspot.co.id/2013/07/hujjatul-islam-imam-ghazali.html. (15 Nopember 2015).
Frager, Robert, Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth Balance, and
Harmony, Terj. Hasmiyah Rauf, Psikologi Sufi “ Untuk Transpormasi Hati,
Jiwa dan Ruh”. Cetakan I: Jakarta: Zaman, 2014.
Fuad
mahbub Siraj, Al-Ghazali Pembela Sejati
Kemurnian Islam Cetakan Pertama Jakarta: Dian Rakyat, 2012.
Isma’il,
Fu’ad Farid & Abdul Hamid Mutawalli,
Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan
Islam). Cet I; Jogjakarta: Ircisod, 2012.
Maksum,
Zaki Zamani Muhammad Syukron, Menghafal
al-Qur’an itu Gampang “Belajar Pada Maestro al-Qur’an Nusantara”. Cetakan
Pertama; Jagakarta: Mutiara Media, 2009.
Nata,
Abuddin, Metodologi Studi Islam Jakarta: Raja Grafindo Persada. 1998.
Nurdin,
M. Amin, Sejarah Pemikiranm Islam Teologi
Ilmu Kalam. Cetakan Pertama; Jakarta: Amzah, 2012.
Rusn,
Abidin Ibnu, Pemikiran al-Ghazali Tentang
Pendidikan. Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1998.
Shihab,
M. Quraish, Wawasan al-Qur’an: Tafsir
Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung : Mizan Pustaka Khazanah
Ilmu-Ilmu Islam, 1996.
Sumarna,
Saleem Harja, Kepribadian Super “Kepribadian yang Lain Dicari dan Disukai
Semua Orang”. Cetakan I;
Jogjakarta: Galmas Publisher, 2014.
Syirazi,
Syaikh Nasir Makarim, Tafsir al-Amtsal,
Terj. Ahmad Sobandi, Husain Alkaf dan Irwan kurniawan. Jilid 1. Beirut:
Mua’asasah al-Bi’itsah, 1992.
Tasmara,
Toto, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental
Intelligence) Membentuk Kepribadian Yang Bertanggung Jawab, Profesional damn
Berakhlak. Jakarta: Gema Insani, 2001.
Tidore,
Burhanudin, dalam sebuah Jurnal Theologi
Dialektika pada Jurusan Aqidah filsafat dan Sosiologi Agama Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (2008).
Unikom, Elib, Objek
dan Metode Penelitian, http://elib.-unikom.ac.id/-files/-disk1/534/jbpt-uni-kompp-gdl-gyanherlia-26682-6-unikom_g-i.pdf.
h. 39. lihat
pula, Idtesis. Com, https://-idtesis-.com-/-metode-deskriptif/, (23 Nopember 2015).
Wikipedia Bahasa Indonesia
Ensiklopedia Bebas, Naskah
sumber, https://-id.-wikipedia.org/-wiki/Naskah_sumber
(23 Nopember 2015).
Wikipedia,
Ensiklopedia Bebas, Abu Hamid al-Ghazali
http://wikipedia-ensiklopedia-bebas.blogspot.co.id/2013/07/abu-hamid-al-ghazali.html.
(15 Nopember
2015).
[1]Anin Lihi
Adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Akidah Fak. Ushuluddin & Dakwah IAIN Ambon.
[2]Fu’ad Farid
Isma’il & Abdul Hamid Mutawalli, Cara
Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam) (Cet I; Jogjakarta: Ircisod,
2012), h. 189.
[3]Yusuf
al-Qardlawi, Eksistensi Allah , Terj.
Mukhlisin Sa’ad, (td.), h. 2.
[4]Departemen
Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta:
PT Toha Putra Semarang, 1989), h.
255.
[5]Al-Imam
al-Hafiz Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih al-Bukhari. Terj. Muhammad
Iqbal. Jilid 1. No 52. Edisi Indonesia
(Cet I; Jakarta; Pustaka al-Sunnah, 2010),
h. 112.
[6]A.W. Munawir
Muhammad Fairuz, Kamus al-Munawir Indonesia
Arab Terlengkap (Cet I; Yogyakarta : Pustaka Progresif,
2007), h. 314.
[7]M. Quraish
Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Tematik
Atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung : Mizan Pustaka Khazanah Ilmu-Ilmu
Islam, 1996), h. 381.
[8]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin Terj. Ismail Yakub, Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2
( Cet II; Singapoera: Pustaka Nasional PTE. LTD, 1992), 899.
[9]Syaikh Nasir
Makarim Syirazi, Tafsir al-Amtsal,
Terj. Ahmad Sobandi, Husain Alkaf dan Irwan kurniawan. Jilid 1. ( Beirut: Mua’asasah al-Bi’itsah, 1992), h.
77.
[10]Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali
al-Husaini al-Jurjaniy, lihat dalam Gumawa, Apa Arti Hati dan atau Qalbu, http://www.kompasiana./nadanada/apa-arti-hati-dan
atau qalbu?option= com _Conten&task=View&i=552b6edf6e=a834d4498=b45,
(02 Nopember 2015).
[11]Robert Frager, Heart, Self, & Soul: The Sufi
Psychology of Growth Balance, and Harmony, Terj. Hasmiyah Rauf, Psikologi
Sufi “ Untuk Transpormasi Hati, Jiwa dan Ruh” (Cet. I: Jakarta: Zaman,
2014), h. 32.
[12] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada.
1998), h.283.
[13] Ibid., h. 365.
[14]Lihat,
Elib
Unikom, Objek dan Metode Penelitian, http://elib.-unikom.ac.id/-files/-disk1/534/jbpt-uni-kompp-gdl-gyanherlia-26682-6-unikom_g-i.pdf.
h. 39. lihat pula, Idtesis. Com, https://-idtesis-.com-/-metode-deskriptif/, (23 Nopember 2015).
[15]Lihat,
Wikipedia Bahasa Indonesia Ensiklopedia
Bebas, Naskah sumber, https://-id.-wikipedia.org/-wiki/Naskah_sumber
(23 Nopember 2015).
[16]Abidin Ibnu
Rusn, Pemikiran al-Ghazali Tentang
Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1998), h. 9.
[17]Asrifin, Tokoh – Tokoh Sufi (Surabaya : Karya
Utama, t.th.), h. 179.
[18]Burhanudin
Tidore, dalam sebuah Jurnal Theologi
Dialektika pada Jurusan Aqidah filsafat dan Sosiologi Agama Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (2008): h. 360.
[19]Al-Ghazali ‘Ihya’
‘Ulumiddin Terj: Ismail Yakub. Ihya’
al-Ghazali, Jilid I. (Cet IX; Jakarta: CV Faizan, 1986), h. 25.
[20]Duriana, Serangan
al-Ghazali Terhadap Para Filosof dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Filosof
Islam (Skripsi Fakultas Ushuluddin
IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1987), h. 32.
[21]Duriana, Ibid,. h. 33.
[22]Abidin Ibnu
Rusn, op. cit,. h. 10.
[23]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, op. cit. h. 24.
[24]Lihat, Wikipedia, Ensiklopedia Bebas, Abu
Hamid al-Ghazali
http://wikipedia-ensiklopedia-bebas.blogspot.co.id/2013/07/abu-hamid-al-ghazali.html.
(15 Nopember
2015).
[25]Fuad mahbub
Siraj, Al-Ghazali Pembela Sejati Kemurnian
Islam (Cetakan Pertama Jakarta : Dian Rakyat, 2012), h. 8.
[26]Lihat, Wikipedia, Ensiklopedia Bebas,….
[27]Lihat, fiqkofallah, http://warasatul-anbiyak.blogspot.co.id/2013/07/hujjatul-islam-imam-ghazali.html. (15 Nopember 2015).
[29]M. Amin Nurdin,
Sejarah Pemikiranm Islam Teologi Ilmu
Kalam (Cetakan Pertama; Jakarta: Amzah, 2012), h. 52.
[30]Abidin Ibnu
Rusn, op. cit., h. 14.
[31]Departemen
Agama RI, op. cit., h. 1.
[32]Abidin Ibnu
Rusn, op. cit,. h. 15.
[33]Al-Ghazali,Tahafut al-Falaasifah, Terj. Ahmadi
Toha, Kerancuan Para Filosof (Mesir:
Dar el Ma’arif, 1966), h. xvi.
[34]Abidin Ibnu
Rusn, op. cit, . h.19.
[35]Abidin Ibnu
Rusn, Ibid. h. 20.
[36]Duriana, Tasawuf di Dunia Islam (Cet.Pertama;
Jakarta: Hiliana Press, 2007), h. 19.
[37]Imam
al-Ghazali, Majmu’ah Rasa’il, Terj. Umar Faruq. Jalan Hidup
Kaum Sufi (Cet I; Surabaya: Pustaka
Media Press, 2004 ), h. 10.
[38]Al-Ghazali, Hikmah Penciptaan Alam Semesta, Terj.
Kamran As’ad Irsyady. (Cetakan
Pertama; Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2013), h. xiii.
[39]Al-Ghazali, Menyingkap Rahasia Keajaiban Ilmu Gaib
Laduni, Terj. Abu Farhad (Surabaya: Amelia, t.th), h. vi.
[42]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, Terj. Moh Zuhri, Muqoffin Mochtar dan
Muqorrobin Misbah. (Cetakan Pertama: Semarang: Asy Syifa, 1993),.h. 582.
[43]Departemen
Agama RI, op. cit., h. 854.
[45] Imam
al-Ghazali, احياء علوم الدين , Juz
3. (Kairo: Daru Ihya’ Kutub al-‘Arabiyyah, t.th.), h. 4.
[46]W.J.S.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Cet ke 4; Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 332.
[47]Departemen
Agama RI, op. cit., h. 429.
[48]Robert Frager, op. cit., 66-67
[50]W.J.S.
Poerwadarminta, op. cit., h. 412.
[51]Departemen
Agama RI, op. cit., h. 565.
[52]Departemen
Agama RI, Ibid., h. 408.
[53]Al-Ghazali, Minhaj al-Aabidin, Terj. M. Adib Bisri, Meniti Jalan Menuju Surga, (Jakarta:
Pustaka Amani, t. th), h. 106.
[54]Departemen
Agama RI, op. cit., h. 998.
[55]Departemen
Agama RI, Ibid., h. 1064.
[56]Al-Ghazali, Tahdziib Mukaasyafah al-Quluub, Terj.
Akhmad Siddiq dan A. Rofi’i Dimayati, Menyelami
Isi Hati (Cetakan Pertama; Depok: Keira Publishing, 2014), h. 5.
[57]Toto Tasmara, op. cit., h. 111.
[58] A.W. Munawir
Muhammad Fairuz, op. cit., h. 685.
[59]Saleem Harja
Sumarna, Kepribadian Super “Kepribadian yang Lain Dicari dan Disukai Semua
Orang” (Cetakan I; Jogjakarta: Galmas Publisher, 2014), 11.
[61]
A.W. Munawir Muhammad Fairuz, op. cit., h.
21 & 306.
[62]Zaki Zamani
Muhammad Syukron Maksum, Menghafal
al-Qur’an itu Gampang “Belajar Pada Maestro al-Qur’an Nusantara” (Cetakan
Pertama; Jagakarta: Mutiara Media, 2009),
h.26-27
[63]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Terj. Ismail Yakub. Mengembangkan Ilmu-Ilmu Agama, Jilid 2.
(Cet V; Singapore: Kerjaya Printing Industries Pte Ltd, 1992), h. 899.
[64]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Mengembangkan. Ibid,
h. 1917.
[65]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Mengembangkan, op. cit.,
h. 189.
[66]Al-Ghazali, Minhaj, op. cit., h. 197.

0 comments: