Penulis: Anin
Lihi
Senin
18 Juli 2016.
A. Latar
Belakang
Berdasarkan
fakta empiris, sebagian manusia cenderung melakukan penyimpangan, hal inilah
yang mendorong manusia lainnya untuk berpikir mencari solusi dalam
memecahkannya. Pemecahan masalah tersebut membutuhkan satu ide yang baik dengan
model pendekatan tertentu, seiring berkembangnya waktu para ahli mulai berpikir
menciptakan metode pendekatan, misalnya; pendekatan filsafat, pendekatan sosial
dan lain sebagainya, pendekatan-pendekatan ini betujuan untuk menilai fakta-fakta
empiris sekaligus memecahkannya, pendekatan filsafat dan sosial misalnya
keduanya tidak sepenuhnya mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh
masyarakat, sebab hanya terbatas pada teori-teori atau paradigma-paradigma. Namun,
Teori-teori yang dikemukakan para ahli harus di hargai, sebab merekalah
orang-orang yang sudah berusaha mencari solusi
dalam memecahkan masalah-masalah empiris yang terjadi, hal ini sebagaimana Aristoteles, Plato dalam bidang Filsafat
dan Aguste Comte dalam bidang Sosial dan ahli-ahli islam seperti al-Farabi,
Ibnu Sina, al-Kindi dan lain-lain.
Paradigma para
ahli rupanya tidak berhenti pada fakta empiris saja, lebih dari itu ialah
teologi, teologi dianggap erat kaitannya dengan agama yang membahas tentang
Iman yang didasari dengan wahyu. Karena tologi sangat erat kaitannya dengan
Agama dan wahyu maka teologi tidak dapat dilepas pisahkan dengan konsep
ke-Tuhanan dan manusia. Itulah sebabnya teologi selalu di khususkan pada pengetahuan
menyangkut hal-hal yang diimani manusia. Sehingga teologi selalu ditempatkan
pada kualifikasi tertentu sesuai pokok ajaran yang di imani pada Agama
masing-masing kelompok, seperti; teologi Islam, Teologi Kristen dan lain-lain.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
permasalahan di atas, maka penulis dapat menarik beberapa rumusan masalah
sebagai bahan kajian dalam pembahasan berikutnya, adapun rumusan masalah
tersebut adalah sebagi berikut:
1. Bagaimana
Paradigma Penelittian Teologi dan Sejarah Penamaanya.
2. Bagaimana
Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
3. Bagaimana
Macam-Macam Pendekatan Teologi.
C. PEMBAHASAN
1. Pengertian
Paradigma Penelitian Teologi dan Sejarah Penamaan Teologi.
a. Pengertian
Paradigma Penelitian Teologi
Dalam
kamus Bahasa Indonesia, paradigma adalah daftar uraian atas kata menjadi
unsur-unsur pembentuk kata. Maksudnya
daftar uarian kata yang menjadi satu kalimat yang dapat dipahami maksudnya.
Paradigma dapat dikatakan sebagai cara pandang tertentu terhadap suatu
permasalahan, kegiatan ini sering di kembalikan pada individu tertentu dalam
menilai sesuatu serta memberikan sumbangsi pemikiran, guna memberikan masukan
positif terhadap suatu masalah. Hal ini sebagaimana Prof. Dr. Mustari Mustafa
dalam seminar kuliah, mengatakan; “Dengan paradigma saya sendiri”
artinya menurut pandangan, cara pandang, stekmen atau yang semisalnya.
Sedangkan
penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan
menganalisis sampai menyusun laporannya. Menurut David H. Penny; penelitian adalah
pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya
memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
Paradigma
penelitian selalu berkaitan dengan pertanyaan fundamental berupa pertanyaan
Ontologis, Epistemologis dan Metodologis. Dengan itu, maka paradigma penelitian
adalah kontruksi manusia terhadap apa yang benar berdasarkan usaha penelitian
yang telah dilakukan secara sistematis sesuai dengan aturan-aturan
metodologinya.
Adapun Teologi terdiri dari dua kata Theos dan Logos. Theos artinya
Tuhan dan Logos artinya Ilmu, maka
dengan itu teologi ialah ilmu yang membahas Tuhan atau ilmu ke-Tuhanan.
Istilah lain dari teologi terdapat dalam bahasa arab dan biasa disebut ilmu
kalam atau ilmu ushuluddin, disebut ilmu kalam karena membahas kalam Tuhan dan
kalam manusia, yang dimaksud kalam Tuhan disini ialah al-Qur’an, berkaitan
dengan Kalam pada abad ke-2 dan ke 3 H. pernah terjadi perdebatan di kalangan
umat islam, karena firman Tuhan pernah di perdebatkan maka dengan itulah di
namakan ilmu kalam.
Teologi menurut para ahli, seperti: Anselmus dari Canterbury pernah melukiskan teologi
sebagai “Iman berusaha untuk mengerti”, sedangkan Syukur Dister mengatakan
Teologi lebih luas daripada pengetahuan filsafat, teologi tidak hanya di dasarkan
pada pengalaman indrawi dan pemikiran rasional, namun lebih jauh dari itu ialah
wahyu Tuhan sebagaimana ditangkap oleh manusia beriman, sementara Maurice
Blondel filosof Prancis apa yang menjiwai Teologi ialah tindakan percaya.
Kepercayaan selain dianggap sebagai titik tolak juga merupakan dasar tetap
untuk seluruh bangunan teologi, ia mempelajari tujuan manusia yang kongkrit dan
adikodrati.
Jadi paradigma penelitian Teologi ialah cara pandang
tertentu dalam menelaah suatu gejala yang terjadi serta meyakini bahwa gejala
empiris dan adikodrati itu dapat dicari sebab untuk kemudian diberikan solusi
terhadap cara penyelesaiannya.
Sebagai contoh kecil, misalnya terjadi perkelahian anatara
kelompok mahasiswa A dengan mahasiswa B, dalam diri kita bertanya-tanya sebab apa sehingga mereka berkelahi, dengan
itu kita lakukan penelitian, kita akan menemukan latar belakang masalahnya, dan
kita akan mengatakan mungkin karena persoalan pacaran, antara kelompok
mahasiswa A dan B terdapat salah seorang saling memperebutkan perempuan sehingg
terjadilah saling mengejek atau boleh jadi karena permasalahan lain. Kejadian
ini kemudian terus berlanjut.
Melihat masalah ini, teologi hadir memberikan solusi
sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka teologi mengatakan, ini terjadi
karena kurangnya kesadaran akan persaudaraan sehingga mereka susah untuk saling
memaafkan. mereka belum sepenuhnya mampu mendengarkan wahyu yang dturunkan oleh
Tuhan.
Misalnya: Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 199,
artinya:
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan
mengikuti orang-orang yang bodoh.
Dengan memahami ayat diatas maka akan lahir satu
pemikiran positif bahwa setiap kita tidak patut melakukan sesuatu yang tidak
bermoral. Bagi mahasiswa, budi pekerti yang baik adalah nilai yang harus dipertahankan.
Maksudnya mahasiswa harus mampu memahami bahwa perbuatan demikian adalah sebuah kebodohan. Mahasiswa
harus diberikan pembelajaran wahyu secara mendalam, sebagaiman dikatakan Rahner
Bahwa, wahyu tidak berdasar pada akal manusia, Pendapat
ini juga didukung oleh Nico Syukur Dister, bahwa dalam teologi pembuktian
terjadi melalui wahyu yang menghasilkan budi yang diterangi oleh iman.
Selain itu, Teologi mampu mendorong seseorang memahami
tradisi keagamaannya, bahkan tradisi keagamaan lainya, juga mampu membuat
perbandingan anatar berbagai tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu
tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam situasi atau
kebutuhan masa kini dan berbagai alasan lainnya. Olehnya itu, paradigma
penelitian Teologi merupakan usaha seseorang dalam meneliti gejala kehidupan
yang dilakukan secara sistematis dengan mengikuti aturan-aturan metodologi dan
mendasarkan pada teori tertentu sesuai dengan keyakinan beragama.
Yang dimaksudkan dengan teori tertentu adalah teori
yang dipakai oleh teologi yang erat kaitannya dengan agama. Artinya tergantung
pada pandangan seseorang terhadap agama, melalui hasil pengamatannya, dan
menurut penulis sebagaiamana Prof. Dr. Mustari Mustafa Mpd. Dalam seminarnya
teori yang dipakai dalam agama adalah teori kritis. Tetapi ini hanya pandangan
yang lahir dari pengamatan seorang Prof. artinya dapatpula seseorang
berpendapat lain.
b. Sejarah
Penamaan Teologi.
Penamaan
teologi sebenarnya bukan berasal dari Islam bukan pula dari Kristen dan Yahudi
atau agama lainnya, melainkan berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari
bahasa Yunani Helenis yaitu Theologia yang diguanakan dalam
literatur Yunani kalsik. Theologia bermakna
wacana tentang para dewa atau kosmologi, akan tetapi makna yang sebenarnya
telah diubah oleh pemikiran Kristen di Eropa sepanjang abad pertengahan. Para
penulis Kristen kemudian mulai mengambil kata Theologia dan menggunakan istilah Theologos untuk menggambarkan studi mereka. Kata Theologos muncul sekali dalam beberaapa
naskah al-Kitab dalam judul kitab wahyu “apokalupsis
ioannou tou theologou” pernyataan ini kemudian dinisbatkan kepada Yohanes serhingga disebut san theologis. Namun sekarang tidak lagi
merujuk pada Yohanes sang thelog. Akan tetapi sudah
menggunakan arti kata logos sehingga agak sedikit berbeda peribahasanya dan
tidak dimaksudkan pada wacana rasional. Melainkan dalam arti “Firman” atau “Pesan” dengan demikian sang
telogos disini dmaksudkan sebagai seseorang yang menyampaikan firman Allah
(Logoi Tou Theou).
2. Aspek
fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
Setiap
penelitian sudah tentu memiliki fungsi, fungsi itulah yang memberikan konotasi
manfaat terhadap sesuatu yang diteliti guna memperbaiki akhwal manusia.
Secara
fungsional, teologi berfungsi untuk mempertegas keberadaan Tuhan,
ajaran-ajaranya agar manusia tidak melakukan penyimpangan serta mampu mengikuti
aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Firman. selanjutnya mendorong manusia
untuk mencari metode yang dipakai oleh teologi. Sedangkan secara struktural
pendekatan penelitian teologi memosisikan Tuhan sebagai zat yang satu-satunya
mutlak benar dan untuk memperkuat itu maka dicarikan paradigma-paradigma
rasional yang disesuaikan dengan aturan-aturan ajaran agama yang telah
ditetapkan untuk mendukung kebenaran tersebut.
3. Macam-Macam
Pendekatan Teologi.
Penelitian
tidak lain adalah art of science,
yaitu mencari jawaban dalam menjawab suatu permasalahan. Dalam pembahasan ini terdapat
tiga macam pendekatan yang menurut penulis sangat penting untuk diketahui.
Adapun pendekatan tersebut diantaranya adalah:
a. Pendekatan
Theologis Normatif.
Teologi
normatif ialah usaha memhami agama dengan memakai kerangka ilmu ke-Tuhanan yang
bertolak dari keyakinan bahwa wujud nyata dari suatu agama ialah ada dan
dianggap sebagai mutlak benar serta harus mengikuti kaidah-kaidah agama.
Muhammad
Natsir mengatakan bahwa, pendekatan Normatif ialah pendekatan Teologi-Apologis yaitu cenderung memihak
dan objektif sehingga sering mengkalim diri bahwa dialah satu-satunya yang
benar semenatara yang lain salah atau minimal keliru. Pendekatan normatif lebih
banyak ditemukan dalam karya-karya Orientalis Barat yang cenderung
mendiskreditkan Islam. Mc Donal umpamanya, sebagaimana dikutip Muhammad Natsir
Mahmud mengatakan bahwa, pada awalnya, Islam adalah Agama Kristen yang diselewengkan oleh penyakit jiwa (Patologis)
Muhammad, Islam hanya produk pemikiran ke-Timuran. Ada dua karateristik
pemikiran ketimuran menurut Mc Donal:
-
Menghargai fakta
dan di ikuti oleh fantasi yang bebas tetapi pada sisi lain terikat (tidak
bebas).
-
Tidak menghargai
kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual.
Olehnya itu pendekatan Teologi normatif,
melihat agama sebagai kebenaran mutlak dari Tuhan yang bersifat ideal tanpa
kekurangan serta dibangun berdasarkan dalil-dalil pada tiap-tiap ajaran agama
di dunia.
Bagi Islam pendapat Mc Donal ini keliru,
secara harfiah sebenarnya Islam justru sangat menghargai kebebasan berpikir,
akan tetapi kebebasan itu bukan bertujuan untuk menyesatkan orang, melainkan
kebebasan berpikir dalam membangun keselamatan seluruh manusia. Hal ini justru
dinilai kebaikan dalam Islam bagi sipemikir serta memberi kebaikan pula bagi
orang yang mengkonsumsi pemikiran itu. jadi bebas berpikir tetapi teratur.
b. Pendekatan
Teologi Dialogis.
Pendekatan
Teologi dialogis ialah pendekatan dalam mengkaji agama dengan menggunakan
persepsi agama lain, pendekatan seperti ini sering di gunakan oleh Dr. Zakir
Naigh dan Gurunya Ahmad Deedat serta beberapa teolog Islam lainya untuk
mengkaji agama-agama diluar Islam, penjelasan ini dapat dibuktikan dengan
melihat ceramah-ceramah mereka dalam berdebat dengan para ahli dan
pendeta-pendeta Kristen. Selain itu pendekatan ini juga banyak di pakai oleh para
Orientalis Barat dalam mengkaji Islam.
Seorang
Islamolog Barat, Hans Kung, Sebagaiaman di Sinyalir Muhammad Natsir Mahmud,
dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. Hans Kung mengkaji Islam
menggunakan pendekatan Teologi-dialogis Kung menyajikan pandangan dari
perspektif Kristen. Dalam melengkapi komentarnya Kung mengajukan pertanyaan
bahwa apakah Islam merupakan jalan keselamatan ?, pertanyaan ini menjadi tolak
ukur dalam melihat apakah Islam adalah Agama yang menyelamatkan penganutnya.
Bila
dilihat dari teologi Kristen memang ajaran yang dibawa oleh gereja sebagaimana
perkataan-perkataan para pastor dalam ceramah-ceramah mereka selalu mengatakan
agama Kristen adalah agama keselamatan, tidak ada keselamatan diluar gereja,
bahkan menurut keyakinan Kristen mereka sudah ditebus Dosanya oleh yesus sang
pembaptis. Maka wajar Kung berpendapat demikian. namun Islam justru menilai
bahwa Kung keliru terhadap Islam, Kung belum mengkaji Islam secara mendalam
dengan Pikiran sehatnya melainkan masih dengan nafsu kebencian terhadap Islam.
c. Pendekatan
Teologi Konvergensi.
Metode
pendekatan Teologi Konvergensi adalah pendekatan dengan melihat unsur-unsur
persamaan dari masing-masing agama. Penulis menilai pendekatan ini cenderung
objektif daripada beberapa pendekatan sebelumnya, pendekatan ini lebih menjurus
pada “Pela Gandong” atau “Poasa-asa”
sehingga cenderung saling menghargai.
Berkaitan
dengan pendekatan ini Wilferd Contwell Smith penganut pendekatan Teologi
Konvergensi dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. menginginkan
penganut agama-agama dapat menyatu bukan hanya permasalahan sosial dan praktis
tetapi juga Teologi. Smith mencoba membuat pertanyaan, dimana letak titik temu
keyakinan agama-agama sehingga dapat mencapai sebuah konvergensi. Ternyata
Smith menemukan perbedaan penganut-penganut agama pada Belief dari masalah Belieflah
sering menimbulkan konflik, sebaliknya dalam Faith umat beragama dapat menyatu.
Dalam
sejarah Islam, Nabi Muhammad pernah diminta untuk beribadah mengikuti Agama dan
menyembah Tuhan orang-orang Quraisy dan
pada waktu yang lain orang-orang Quraisy pergi beribadah di tempat Ibadahnya
orang-orang Islam, atas peristiwa inilah turunlah ayat yang kemudian di
abadikan dalam al-Qur’an Surat al-Kafirun, penulis hanya menyebut satu ayat
yang artinya “untukmu Agamamu dan untukku
Agamku” jadi dari dulu memang pada belief tidak bisa saling menyatu tetapi
bisa saja saling menghargai perbedaan untuk tidak saling menghina agama masing-masing.
Berbeda dengan masalah-masalah sosial, Nabi Muhammad justru memberi hak hidup
dalam Negara Islam pada orang-orang yang diluar agama Islam seperti Yahudi,
nasrani dan majusi untuk tinggal di Kota Yastrib atau Madinah sekarang saat
itu, jika berpikir subjektif mungkin agama-agama yang diluar islam akan di
siksa atau di perangi apalagi Nabi Muhammad saat itu adalah kepala Negara. Tetapi
Nabi Muhammad justru tidak berlaku zalim terhadap orang-orang yang beragama
diluar islam.
Jadi
pada permasalahan-permasalahan sosial dari para penganut agama mungkin dapat
bersatu, namun masalah Aqidah tidak.
Berbeda
ketika Pendekatan Teologi Normatif diterapkan dalam Agama Islam, bahkan menurut
penulis justru lebih pas pendekatan ini diterapkan pada aliran-aliran dalam
islam sehingga mereka bisa saling menghargai perbedaan dalam memahami nash-nash
Islam agar tidak terjadi konflik sesama. Apakah itu konflik perang ataukah
konflik intelektual hingga sampai pada tingkat saling mengfitnah.