Sunday, 12 October 2025

Syafari Dakwah: Khutbah Singkat: Dalam Dirimu Ada Sedeqah



Syafari Dakwah
: Khutbah Jum'at, Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa



Dakwah merupakan perintah Allah yang sepatutnya dipahami oleh setiap orang Islam sebagai kewajiban. Jika mereka tidak memiliki kemampuan untuk menyampaikan dakwah melalui Khutbah, Ceramah, Kajian, dan diskusi-diskusi keagamaan Islam. Ia bisa berdakwah dengan harta dan aspek yang nampak dari dirinya, misalnya senyuman, cara berpakaian, sikap baik, dan sapaan salam itu termasuk dakwah. 

Syafari dakwah kali ini, bertepatan pada Hari Jum'at, (10/10/2025) Ust. Anin Lihi, S. A., S.Fil. I., M. Ag. diberi kesempatan oleh Allah mengisi khutbah di Masjid Al-Hijrah Kampung Jawa. 

Apa yang melatar belakangi tema khutbahnya yaitu sering kali ketika ia datang di suatu tempat, masjid, kantor, komplek, dusun, desa dan berbagai tempat lainnya. Seringkali suasana begitu kaku dan tegang. Saat disapa dengan salam, lalu bersalaman dan senyuman. Sapaan, salaman, dan senyuman itu terkadang tidak dibalas. Wajah tetap kaku dan tegang. Padahal menjawab salam itu wajib, bersalaman itu menggugurkan dosa, dan senyum itu sedekah. Bahkan ketiga hal ini dijadikan oleh nabi sebagai ciri umat Islam yang baik. Berdasarkan realitas inilah ust Anin Lihi berpikir bahwa tema yang tepat menurutnya "Khutbah Singkat: Dalam Dirimu Ada Sedeqah."


Dalam proses khutbah sebagaimana kebiasaan, ia memulai dengan salam, lalu puji-pujian kepada Allah, shalawat, syahadat dan pesan taqwa. Lalu mengucapkan. 


Jamaah Shalat Jum'at Rahimakumullah


Siang ini patut kita bersyukur kepada Allah, kita termasuk orang-orang yang dipilih, dimudahkan dalam beribadah, dibuka hatinya menerima iman, dan telinganya senang mendengarkan azan. Karena itulah, hari ini kita rela dan ikhlas meninggalkan seluruh aktifitas kita memenuhi panggilan Allah. 

Kita hadir di masjid ini menjadi tamu-tamu yang dijamu dan dilayani Allah. Kedatangan kita diganjari imbalan yang berlipat ganda. 

Namun, kita juga tidak luput dari pengamatan Allah. Mana diantara kita yang datang membawa keikhlasan dan mana yang hadir membawa kemunafikan. Yang ikhlas pulang membawa pahala dan munafik pulang membawa dosa. Yang ikhlas pulang membawa ketenangan jiwa dan yang munafik pulang tetap dalam kegalauan. Olehnya itu, hadirkan ikhlas karena Allah dalam beribadah. 



Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah

Perlu diketahui bahwa Allah memberikan ganjaran pahala sebenarnya secara cash. Hanya saja wujudnya tidak nampak. Orang yang shalat berjamaah diberikan ganjaran 27 pahala dan bagi yang datang diawal waktu diberi hadiah onta yang sangat mahal. Perumpaan ini berfungsi sebagai motivasi bagi kita. Dan diyakini ganjaran pahala itu pasti adanya sekecil apapun, walaupun hanya sebesar biji zarrah

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ ۚ وَاِ نْ تَكُ حَسَنَةً يُّضٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَّدُنْهُ اَجْرًا عَظِيْمًا

"Sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan (sekecil zarrah), niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 40).

Terutama bagi kehadiran kita hari ini, pulang kita minimal bisa membawa ketenangan. 

Semua orang menghadapi problem, masalah, dan ujian. Gundah gulana, galau, gelisah, resah, stres, pusing dan kecewa pasti adanya. Semua itu hanya bisa ditangani dengan kedekatan kepada Allah dan masjid itulah tempat terbaiknya. Dengan shalat kita selesaikan seluruh problem kita. 

Hadirin shalat Jum'at Rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dengan senantiasa mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Sebagaimana tema yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Sedekah tidak boleh dibayangkan hanya pada infaq harta atau uang, dan pada waqaf tanah. Sikap baik kita bisa bernilai sedekah. Artinya seluruh aspek diri kita bisa bernilai sedekah. Misalnya, dengan fisik kita membantu pekerjaan Masjid, sebagai tukang pikul semen, bertugas menangani campuran, mengangkat ember, melipat besi tiang, memotong, dan merakit, memikul bambu, mengecet dan memasang tangga pengecoran semua itu sedekah. Pada nasehat, ucapan yang baik, salam, sapa, dan senyum itu semua sedekah. 

Tabassamuka fi wajhi akhika laka shodaqah 

"Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedeqah." (HR. Turmudzi, no. 1956) . 

Jadi, pancaran wajah manis yang ditampakkan kepada saudara sesama muslim merupakan sedekah.

Tapi, terkadang kita mau senyum saat menjumpai atau dijumpai orang lain berat. Terkadang orang yang menyalami kita dengan senyum, muka kita masih tetap datar. Apalagi orang yang menjumpai kita belum kita kenal. Mungkin itu bukan kebiasaan kita atau tak biasa kita lakukan. Namun selaku umat muslim kepada muslim lainnya kita harus belajar. 

Senyum dan bermuka manis harus disadari sebagai perintah Allah. Senyum atau bermuka manis itu bukan hanya kepada yang kita kenal, yang tidak kita kenalpun juga harus disapa dan disenyumin. Saat berpapasan ucapkan salam dan saat berjabat tangan senyum. Bikin muka manis. Mengapa?, karena nabi bersabda:

Jangan anggap remeh kebaikan, walaupun bikin muka manis (senyum) saat berbicara dengan saudaramu sesama muslim. Perbuatan tersebuk termasuk kebajikan. (HR. Abu Daud, no. 4084) .

Senyum merupakan cirikhas umat Islam, saat berjumpa, saling menghadap, berpapasan dimana saja, minimal kalau tidak mengucapkan salam dan berjabatan tangan, paling tidak senyum. Mengapa?, karena senyum yang terpancar dari wajah itu menyenangkan hati orang lain. 

Yang dingini Allah dan nabi kita dengan ibadah, sedekah, shalat, dan ibadah lainnya dapat memancarkan sikap, perilaku atau akhlak yang baik. Apalah artinya shalat, puasa, zakat, infak, sedekah, dan ibadah jika dikomplek kita masih saling benci, dengki, dan bermusuh-musuhan. Tidak ada hasil ibadah, kecuali kita saling cinta dan sayang kepada satu dan lainnya. 

Bagaimana cara agar kita saling cinta mencintai?, caranya senyum, salaman, ucapan salam, mendoakan keselamatan, dan mengucapkan kata-kata yang baik. Menanyakan kabar, mengucap selamat, mudah-mudahan Allah berkahi, umur Allah perpanjang, dan dimudahkan rezekinya, itu ucapan sepeleh. Tapi, semua itu berorientasi menyenangkan hati orang lain. Bersedekah bukan melulu harta, senyum itu sedekah dan memiliki banyak pahala.

Tapi, kalau kita ingin menginfakkan harta atau mewakafkannya itu jauh lebih bagus. Sebab, orang yang berani mengeluarkan hartanya akan diberi balasan berlipat ganda oleh Allah. Dari 1000 rupiah bisa berlipat menjadi 70.000 hingga 700.000. Satu biji ditanam mengeluarkan tujuh tangkai, Masing-masing tangkai keluar 100 biji, dihitung seluruhnya menjadi 700. Sebagaimana Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261).

Infak yang kita berikan dilipatgandakan berlipat-lipat oleh Allah. Tetapi, kita diuji dengan pahala. Kalau para pedagang dan pengusaha. Keuntungannya langsung diterima. Namun, pahala wujudnya gaib, butuh iman dan keyakinan. 

Pulang kita ke rumah, rasanya kita tidak membawa apa-apa. Memang begitulah ujiannya. Pahala bukan sesuatu yang dapat diindra, pahala sifatnya ruhiah. Yang dapat menerima pahala itu hanya orang yang beriman. 

Berbeda dengan para pedagang, pulang dari pasar, toko, mol, dan kios membawa uang. Hasil dagangan langsung dapat dilihat, dipegang, dan dirasakan. 

Ini sepertinya yang membuat malas orang shalat berjamaah di masjid. Seandainya, Allah langsung nampakkan wujud pahala, setelah shalat langsung Allah berikan pahala 27 derajat. Diganti dengan misalnya 27 juta rupiah. Setelah shalat langsung dibagikan. Mungkin akan banyak yang tidak akan meninggalkan shalat berjamaah. 

Karena wujud pahala tidak terlihat, kita sering merasa tidak termotivasi. Jangankan rumah yang agak jauh, seseorang yang rumahnya berdampingan dengan Masjid, perjalanan hanya sejingkal saja berat bagi seseorang untuk memenuhi panggilan Allah. 



Apa yang menyebabkan itu, jawabannya adalah iman dan taqwa. Imbalan pahala tidak terlihat. Pahala hanya bisa dilihat oleh seseorang yang telah memiliki iman dan taqwa. Dengan iman dan taqwa seseorang akan mudah mengkalkulator amal ibadah yang dilakukannya. Sebagaimana para pedagang mampu mengkalkulator keuntungan usahanya. 

Semoga Allah memberkahi dan memudahkan langkah kita dalam melaksanakan perintah Allah dan diberi ganjaran yang sesuai dengan keikhlasan kita. Aamiin. 

Thursday, 27 March 2025

Khutbah Jum'at Singkat: Serial Ramadhan Inilah Waktu Kita

Dalam memenuhi tugas dakwah sebagai Dai Bimtal Kodam Pattimura Ambon hari ini Jum'at (28/03/2025) ust. Anin Lihi berkesempatan mengisi khutbah tentang "Serial Ramadhan Inilah Waktu Kita"



Jamaah shalat Jum'at Rahimakumullah

Siang ini kita bersyukur kepada Allah atas diberikannya nikmat kesehatan dan nikmat iman kepada kita. Sehingga, ketika azan dikumandangkan, Allah memanggil kita, iman itulah pendorongnya dan sehat sebagai sarana yang memudahkan kita melangkah menuju Rumah Allah melaksanakan shalat jum'at secara berjamaah. 

Iman dalam konteks Nabi Muhammad pasang surut. Karena Iman itu rendah shalat yang dilalsaksanakan hanya Jum'at saja, karena imannya setengah mungkin ia hanya shalat maghrib dan isya saja, dan karena imannya mantap dan luarbiasa ia melaksanakan seluruh perintah shalat yang diwajibkan kepadanya, bahkan memuncak sampai ibadah sunnahpun dikerjakan. Semua bergantung pada tingkat keimanan masing-masing. 


Hadirin shalat jum'at yang dimuliakan Allah

Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang diditipkan oleh Allah dalam hati keimanan yang kuat, sehingga diterpa dengan ujian apapun. Ujian kekurangan, rasa takut, lapar, kehilangan saudara, keluarga, anak dan istri, tidak menyebabkan kita semakin jauh dengan Allah, sebaliknya ujian itu semakin mendekatkan kepada Allah. Keimanan seperti itu yang mesti kita cari, kita jaga, dan kita pelihara, dan kita minta kepada Allah. Sehingga kita selalu istiqamah dalam melaksanakan kewajiban kita kepada Allah. 


Hadirin Shalat Jum'at Yang dimuliakan Allah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Kita berada di Bulan Ramadhan. Ini bulan penuh berkah dan mulia. Nah, tujuan utama bulan ini yaitu menjadi momen penting untuk menjadi manusia "la'allakum tattaquun" manusia yang semakin bertaqwa kepada Allah. Taqwa berarti lakukan perintah dan jauhi larangan. Karena itulah, bulan ini termasuk waktu yang sepatutnya kita jaga. 


Waktu yang melekat dengan aktifitas kita terbagi atas tiga keadaan. Waktu lampau, terjadi atau berlalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. 

Dulu saat umur 15 tahun kita gagah, kulit kencang, rambut hitam, gigi utuh, mata terang, telinga masih mendengarkan pembicaraan sempurna, masih mampu memikul yang berat dan masih bisa melakukan perjalanan jauh. Sekarang semua itu hilang ditelan usia. Maksiat dan dosa hanya ada dalam penyesalan, ibadah dan kebaikan yang teringgal tak luput darinya. Penyesalan memang selalu muncul dari belakang.

Maka sisa usia itu, manfaatkan sekarang untuk bertaubat dan memohon ampun semoga seluruh dosa diampuni oleh Allah. 

Sekarang adalah waktu kita, kita hanya punya detik ini, jam ini, dan hari ini. Sebentar, berikutnya, besok, minggu depan, dan seterusnya itu bukan waktu kita lagi. Manfaatkan waktu sekarang untuk segala aktifitas positif, karena jika menunggu nanti menjadi penyesalan. Umat Islam yang terbaik, selalu menjadikan waktu ini untuk memperbanyak kebaikan sebagai persiapan terbaik untuk menjalani waktu nanti. 


Jamaah shalat Jum'at Rahimakumullah

Hari ini kita berada di bulan yang mulia, bulan ampunan, bulan penuh berkah, dan bulan penuh lipatan amal. Mari manfaatkan bulan ini untuk memaksimalkan kebaikan. Satu kebaikan di bulan ini sama dengan melakukan kebaikan 1000 bulan. Selama nafas berhembus taubat kita dengan nasuha pasti diterima, ini bulan kesempatan untuk menghapusnya. 

Semoga amal ibadah dan amal baik kita diterima oleh Allah. Aamiin

Wallahu a'lam


Thursday, 2 September 2021

Keutamaan Mandi, Wudhu dan Shalat Jum'at serta Kerugian Bagi yang Tidak Memperhatikannya

Hari jum'at adalah pimpinan para hari disetiap ahadnya.  Hari ini menjadi hari yang sakral dan istimewa bagi masyarakat-masyarakat pedesaan dan kampung. Kata orang-orang tua kampung "hari jum'at tidak boleh ke hutan, tidak boleh naik pohon, tidak boleh memotong, menebang, tidak ngebut dengan kendraan baik motor atau mobil, dan lain sebagainya. 





Pokoknya hari jum'at dihargai, dihormati dan dimuliakan. Terutama disaat sebelum sholat jum'at dilaksanakan. Tidak menganggu hari jum'at dengan aktifitas kebun. Masyarakat kampung bahkan biasanya libur beraktifitas untuk menghormati kesakralan hari jum'at. Begitulah sedikitnya keistimewaan hari jum'at bagi masyarakat perkampungan. 


Mengistimewakan hari jum'at lebih dahulu telah dibahas didalam Islam. Bagi Islam hari jum'at sungguh memiliki keutamaan, keistimewaan dan kebaikan. Sehingga pada hari itu dianjurkan untuk memperbanyak sholawat didalamnya. Sholawat ini menjadi aktifitas penting yang harus dilakukan pada hari jum'at. Bahkan menjadi rukun khutbah pada hari jum'at. Tanpa sholawat, khutbah jum'at, bahkan sholat jum'at menjadi gugur. 




Perintah sholawat ini ayatnya jelas dan sering dibaca oleh khatib ketika menyampaikan pesan dakwah di atas mimbar. Disaat khatib naik mimbarpun juga diantar dengan ayat ini dan sholawat.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56).

Ayat ini berisi ajakan kepada seluruh jamaah yang berada didalam masjid untuk membaca sholawat. Memberitahukan bahwa Allah dan para malaikatpun bersholawat kepada Nabi Muhammad saw. 

Saking seringnya dibaca, ayat ini akhirnya menjadi populer, bahkan ada yang sudah menghafalnya. Bagaimana tidak, setiap khutbah pasti dibaca, bahkan sampai pada kalimat ya aiyyuha ramai-ramai jamaah yang ada didalam masjid mengucapkan sholawat kepada nabi. Jadi, wajar ayat ini dihafal oleh sebagian jamaah dan mungkin seluruhnya. Menariknya, sholawat kita sampai kepada nabi Muhammad Saw. Bayangkan, betapa senangnya hati ini jika sholawat kita itu Nabi Saw membalasnya.





Selain perintah untuk memperbanyak sholawat. Pada hari jum'at seseorang dianjurkan mandi, bahkan nabi menyatakan mandi sebelum jum'at termasuk wajib.

Dari Abu Sa'id al-Khudry ra. Bahwasannya Rasulullah Saw bersabda:" Mandi Jum'at wajib bagi setiap orang yang telah dewasa. (HR. Bukhari dan Muslim). 

Maka yang sudah dewasa harus mandi sebelum berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat jum'at. Namun, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa mandi pada hari jum'at itu sunnah menurut pengkajian dari hadits dan al-Qur'an yang mereka pahami. Jika dikerjakan mendapat pahala, sebaliknnya tidak diamalkan tak berdosa. Tapi, setidaknya kita bisa memahami bahwa mandi pada hari jum'at termasuk perkara penting dan wajib sebagaimana wajibnya mandi ketika junub. Sebab, Nabi Saw memerintahkan untuk mandi sebelum sholat jum'at dilaksanakan.

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian mendatangi sholat jum'at, maka hendaklah ia mandi. (Hr. Bukhari dan Muslim). 

Nabi Saw., pertegas bahwa mandi pada hari jum'at tidak hanya sekedar membasahi badan. Tetapi, mandi layaknya seperti orang yang telah junub. Nabi Saw bersabda. 

"Barangsiapa yang mandi pada hari jum'at, seperti mandi janabah, kemudian ia segera pergi ke masjid dan disana belum ada orang, maka seakan-akan ia berkurban seekor onta. Barangsiapa yang datang saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor lembu. Barangsiapa yang datang saat ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba. Barangsiapa yang datang saat keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam jantan (jago). Dan barangsiapa yang datang pada saat ke lima, maka seakan-akan berkurban sebutir telur. Apabila sang imam datang untuk berkhutbah, maka datanglah para malaikat untuk mendengarkan khutbah. (Hr. Bukhari dan Muslim). 

Diperintahkan untuk mandi seperti mandi janabah sebelum ke Masjid. Menunjukkan pentingnya mandi sebelum shalat jum'at dilaksanakan. Ini menjadi salah satu anjuran selain berwudhu. 

Dalam hadits itu meneranggkan tentang betapa besar keuntungan orang yang datang ke masjid di awal waktu. Seseorang yang memperhatikannya mendapatkan nilai pahala dan ganjaran ibarat unta yang diikorbankan. Sementara yang terlambat mendapat ganjaran sedikit sekali. Orang yang datang di awal waktu adalah pemenang juara pertama yang berhak menerima banyak hadiah atau berhak menerima piala yang besar dan mahal. 

Jika keuntungan ini terlihat seperti uang satu miliyar, dua atau tiga. Maka orang akan berebut memakmurkan masjid dan selalu datang tepat waktu. Sepertinya pikiran dan keinginan terhadap hasil yang banyak sudah menjadi keinginan yang lumrah. Kalau pedagang dan pengusaha pasti paham. Yang lebih paham lagi mungkin ibu-ibu. 


Adapun keistimewaan lain bagi orang yang mandi, tentu sangat disenangi orang. Bahkan sikap ini bagian dari rasa penghormatan. Betapa senangnya orang yang berada disamping kita. Melihat kita bersih, suci dan rapi. Apalagi pakaian kita diluluri pula dengan minyak wangi, maka akan semakin disenangi. Buka hanya manusia, malaikat dan Allahpun juga ikut senang. Nah orang yang menyucikan diri kata Nabi Saw, sebagaimana disebutkan dari Salman. Nabi bersabda:

"Seseorang yang mandi pada hari jum'at dan bersuci sesuci-sucinya, terus memakai minyak wangi atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya. Kemudian keluar untuk melaksanakan sholat jum'at dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk. Lantas sholat sebagaimana yang telah ditetapkan. Kemudian ketika sang imam berkhutbah ia diam dan memperhatikan, niscaya diampunilah dosa-dosa yang dilakukan diantara hari itu dan hari jum'at berikutnya. (HR. Bukhari).

Hadits ini memberi petunjuk kepada kita bahwa mandi bukan satu-satunya perkara yang harus diperhatikan. Tetapi, menyucikan diri dengan wudhu juga harus diperintahkan. Bahkan keduanya merupakan perintah ibadah yang seiring sejalan. Mandi tersempurnakan kesuciannya dengan wudhu. Artinya, mandi tambah wudhu membuat seseorang semakin bersih dan suci. Namun, wudhu harus dilakukan dengan sempurna, baik dan tertib. Nabi bersabda.

Dari Abu Hurairah ra. berkata Rasulullah saw. "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian mendatangi sholat jum'at lalu mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka diampunilah dosa yang dilakukan antara hari itu sampai pada hari jum'at berikutnya dan ditambah dengan tiga hari. Dan barangsiapa bermain-main kerikil maka sia-sialah jum'atnya. (Hr. Muslim). 

Mandi dan wudhu dua perkara yang sangat memberi keuntungan bagi seseorang yang melakukannya. Nabi bersabda.

Dari Samurah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda: "barangsiapa yang wudhu pada hari jum'at maka beruntunglah ia pada hari itu, dan barangsiapa yang mandi maka mamdi itu lebih baik baginya. (Hr. At-Tirmidzi). 

Betapa pentingnya menyucikan diri pada hari jum'at dengan mandi dan wudhu. Dosa-dosa terampuni karena berguguran kena mandi dan wudhu. Seluruh anggota badan bersih dari kotoran dan najis lainnya. Bahkan hati ikut tersucikan karena mandi dan kesempurnaan wudhu.

Berdasarkan penjelasan ini, maka, mandi dan wudhu serta konsentrasi mendengarkan khatib saat khutbah menjadi pintu gerbang kesuksesan sholat jum'at seseorang. Sebaliknya, gagal jum'at seseorang jika tidak membersihkan diri dengan baik dan tidak mendengarkan khatib dengan seksama. Betapa ruginya orang yang datang melaksanakan sholat jum'at, namun mereka bercerita dan bermain, mereka abaikan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Taraf ini saja sudah bahaya. Apalagi sampai pada taraf meninggalkan sholat jum'at. Jika ini menjadi kebiasaan. Maka sangat fatal.

Sekilas saja tentang orang-orang yang memiliki kebiasaan meninggalkan sholat jum'at, bagi mereka akan dikunci oleh Allah hatinya sehingga kebenaran sulit masuk ke dalam relung jiwa dan hidayah Allahpun bisa menjauh. Nabi menyampaikan. 

Dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar ra. Bahwasannya keduanya mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbarnya: "orang-orang yang biasa meninggalkan shalat jum'at harus segera menghentikan kebiasaannya itu atau kalau tidak maka Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai." (Hr. Muslim).

Bahaya jika terkuncinya naik pada tataran yang disebutkan oleh Allah sebagaimana kedua ayat ini. 

صُمٌّۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ 

"Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 18).


Tentu tidak ada yang bisa mengembalikan orang yang telah dikunci hatinya oleh Allah. Melainkan Dia pula yang bisa membuka kuncinya. Maka perhatikan dan bentuklah kebiasaan sholat jum'at. Jangan sia-siakan mumpung masih kuat dan sehat. Waktu tak akan kembali, ia akan terus berlalu seiring berputarnya bumi.


Friday, 22 January 2021

IMPLEMENTASI BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM BINGKAI QUR’AN-HADITS DAN MULTIKULTURAL : KHUTBAH JUM'AT

 

Oleh: Anin Lihi



Jamaah Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Memang tak bisa dipungkiri bahwa perpecahan telah terjadi sejak awal manusia diciptakan. Tapi, apakah ini yang diinginkan Tuhan dan fitrah keimanan manusia. Tentu bukan kalau kita baca Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an kita temukan bahwa yang diinginkan Allah swt dan fitrah keimanan manusia sebenarnya adalah persatuan, kasih sayang dan cinta. Ketiga konsepsi ini hanya bisa diwujudkan melalui jalan ibadah yang benar. Dengan ibadah yang benar kita dapat memetik akhlak. Dengan akhlak persatuan dapat ditumbuhkan. Semua ini taqwa telah membalutnya. Maka karena taqwa kita dimuliakan dan memuliakan.

“Nabi Saw., bersabda: “Dari Muhammad bin Habib bin Kharrays al-Asriy dari ayahnya, sesungguhnya dia telah mendengar Nabi Saw., bersabda: Orang-orang muslim bersaudara, tidak ada kemuliaan bagi seseorang atas yang lain kecuali taqwa”. (HR. Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jilid 4, h. 25)  Bukanlah hal-hal lain, tapi taqwa.  Karena itulah al-Qur’an hadir sebagai pengatur, penerang jalan supaya terwujud manusia yang baik dan benar, bertaqwa dan berakhlak dan menjiwai persaudaraan.

Ketika A’isyah ditanyai tentang perihal akhlak Rasulullah, dengan singkat A’isyah menjawab, “akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Nah, sekarang bagaimana caranya agar manusia mencapainya, Allah swt telah memberikan mesin penimbang yang kita sebut sebagai “akal”. Fungsi alat ini mengkalkulasi, menyaring tiap-tiap konsep, memilih dan memilah mana yang seharusnya dipelajari dan diamalkan. Tentu jika alat ini sudah digunakan dengan benar maka aksiologinya bisa terwujud pada manusia dan masyarakat yakni keselamatan dunia dan akhirat bersama dan kenikmatan dunia dan akhirat bersama. Akan ada pemahaman bahwa surga bukan milik person, bukan pula milik kelompok dan golongan tertentu. Tapi, milik semua masyarakat beriman dan bertaqwa. Begitupula kesejahteraan dan kedamaian di negara dan bangsa kita indonesia juga milik kita bersama.

Tuhan tidak menginginkan perpecahan, perkelahian, permusuhan. Olehnya itu, terjadinya perpecahan sebenarnya berasal dari kita sendiri, dari ego, dari hawa nafsu, dari kecenderungan mengikuti penyakit-penyakit hati, (sombong, angkuh, dengki, hasad, riya’, fitnah dan lain sebagainya). sifat-sifat jelek inilah yang menjadi jurang pemisah kebersamaan dan pemecah persatuan. Maka inilah penting yang harus diawasi dengan maksimal.

Jamaah shalat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Tidak kurang bimbingan Nabi Muhammad saw., kepada kita, bahkan sampai pada taraf pemberian informsi ancaman. Sombong dan angkuh jangan, sebab ia menjauhkan engkau dari kenikmatan pribadimu dan kelompok masyarakat baik dunia maupun akhirat.  Dengki dan hasad jangan, sebab keduanya merusak dirimu dan orang lain, bahkan seluruh amal kebaikanmu hilang bagai kayu dan daun yang dilahap kayu bakar menjadi debu akhirnya habis diterbangkan angin dan karena keduanya pula engkau sakit dan menyakiti orang lain, sebab hasad dan dengki membuat perasaan dan jiwa mudah amarah. Janganlah fitnah sebab sama saja engkau telah membunuh saudaramu, bahkan bangkainya telah engkau lahap mentah-mentah hingga karenanya engkau akan saling merusakkan dan akhirnya bermusuhan dan berbunuh-bunuhan dengan sesamamu. Janganlah engkau mengkonsumsi yang haram, sebab itu menjadi jalan permusuhan, menjauhkan engkau dari Allah, malas untuk beribadah dan jasadmu didalamnya akan membusuk. Jadi janganlah hawa nafsu menjadi perahu yang ditumpangi.

Nabi kita Muhammad Saw., tentu kita pahami apa yang dikatakannya adalah pengajaran Tuhan dan  bukan hawa nafsunya. Karenanya apa yang tidak diingini Tuhan beliaupun tak menginginkannya. Jadi, jika Tuhan menginginkan persatuan, maka Nabi Muhammad demikian pula, karenanya Muhammad Saw., mengajarkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Nabi bersabda:

 “Perumpaan orang-orang Mukmin dalam persahabatan, kasih sayang, dan perhatiannya bagaikan satu jasad, jika salah satu terasa sakit, maka semua anggota tubuhnya terasa sakit dengan gelisah (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR. Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 2, Hal. 238).

Begitu besarnya persaudaraan dan persatuan. Saudara yang tersakiti menjadi beban pikiran, sakitnya menjadi sakit kita, demamnya menjadi demam kita, dan susahnya menjadi susah kita. Pantaslah Nabi Saw begitu tegas mengajarkan cinta sesama, “layu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi” Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai kalian mencintai saudara kalian melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri” (Hr. Bukhari dan Muslim). Maka menjadi pincang iman kita lantaran memutuskan persatuan.  

Senada dengan sabda Nabi Saw., IAIN Ambon dalam Visi Misinya pada poin ke empat menghendaki seluruh masyarakat kampus supaya menghasilkan karya-karya pengabdian masyarakat yang berbasis multikultural, bertolak dari visi itu tentu tujuannya untuk mewujudkan Nilai saling menghormati, nilai saling menghargai, nilai toleransi, nilai persatuan, nilai kerjasama dan nilai solidaritas antara etnis. Maka fanatisme keduniaan harus dibuang sejauh-jauhnya. Fanatisme Suku, etnis, kedaerahan harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika kita ingin al-Qur’an, hadits dan Bhineka Tunggal Ika dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah Swt

Indonesia bukanlah bangsa yang menyendiri, sebagaimana yang dikobarkan oleh eropa bahwa katanya “tidak ada yang setinggi jerman, katanya bangsanya minolya berambut jagung dan bermata biru. Bangsa Aria yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tak ada harganya. Jangan berpaham seperti ini.  Yang namanya bangsa indonesia dan kaum muslimin semua telah mufakat semua buat semua, bukan buat satu orang, bukan juga untuk satu golongan, bukan untuk si kaya atau si miskin. Tapi memiliki kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Itulah sebagian ungkapan sang pejuang (Bungkarno).

Soekarno, tak ingin ada klaim, saya suku yang hebat, kota dan kabupaten yang besar, kampung yang luar biasa dan dusun yang tinggi melebihi apapun di dunia ini. Menjadi hebat ia boleh, tapi sifat angkuh dan sombong harus dibuang jauh-jauh, karena sifat itu adalah akar dari segala kerusakan. Tuhanpun tak menyukainya.

Jamaah sholat jum’at yang di muliakan Allah Swt

Jadi yang kita ingin didalam negara dan bangsa kita, dalam kabupaten dan kota kita, dalam desa dan dusun kita dan dalam suku dan keluarga kita adalah penerapan undang-undang nomor 43 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 24 tahun 2009. Yakni bangsa indonesia harus menyadari bahwa keragaman, baik suku bangsa, agama, ras, antar golongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor potensi atau modal terbentuknya persatuan. Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan indonesia yang semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah semangat kedaerahan hanya akan memecah belah persatuan sehingga mudah diperdayakan. Bangsa Indonesia harus menyadari sepenuhnya  bahwa Bhineka Tunggal Ika salah satu pilar demi kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konesp seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

Dengan memakai nida Allah swt memanggil, menyeru dan menyampaikan kepada seluruh manusia bukan kepada satu kelompok, golongan, bangsa dan suku. Secara fitrah kalau kita pahami ayat ini memang penciptaan manusia menurut takdirnya diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bengsa. Namun, perbedaan suku bangsa bukanlah sebab perkelahian dan permusuhan. Akan tetapi, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena itu, seharusnya kita bisa saling mencintai dan menyangi. Merasakan bahwa kita lahir dari rahim yang sama yakni Ibu, setiap ibu pasti merasakan sakit yang sama. Kita yakin bahwa kita diciptakan dari unsur dasar yang sama yaitu tanah. Olehnya itu janganlah tanah yang kita pijak dan Tuhan yang menciptakan kita menjadi murka kepada manusia.

Dalam bangsa, kita harus saling menghargai, Islam, Kristen, Hindu dan Budha, jika dalam perkara-perkara sosial mestinya kita bergotong royong. Kita juga tak boleh merusak agama seseorang dan seluruh atribut simbol keagamaannya. Sebab, kalau itu terjadi, justru kita malah menjauhkan mereka dari hidayah Allah swt. Jadi, terapkan lakum diinukum waliyadin pada mereka yang berbeda agama dengan kita. Biarkan mereka merayakan hari-hari besarnya, tapi jangan kita ikut-ikutan merayakannya, janganpula kita merusak dan membuat kekacauan pada mereka. Hidupkan sikap berakhlak, niscaya dengan akhlak orang akan berbondong menuju Allah Swt. Terapkan nilai taqwa qur’ani, agar semua tau bahwa hakikat Islam sebenarnya seperti itu.

Adapun Muslim, dalam Agama kita adalah seaqidah, seiman dan seislam. Kita boleh berbeda suku, tempat lahir, marga dan keluarga. Namun, dalam aqidah kita harus bersatu. Nah ini yang harus di jiwai. Jangan karena sesuap  nasi, segelas teh, sederet pangkat atau jabatan dan secuil harta lantas rela mengorbankan saudara seaqidah, seiman dan seislam seagama kita. Apalagi seaqidah dalam satu bangsa, tentu kasih sayang dan cinta mestinya lebih kita tumbuhkan. Kalau yang lain lapar, maka yang lain ikut lapar, dan jika kenyang yang lainpun merasakan hal yang sama. Kita saudara seaqidah, seagama, sekeyakinan, seiman dan seislam yang menyembah Tuhan yang Maha Esa.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

 Maka rahmat Allah terletak pada persatuan, rahmat Allah terletak pada saling sayang dan saling cinta. Tanamkan budaya malu melakukan kerusakan kepada sesama, sebab kita nantinya ditertawakan. Takutlah menjadi pemecah belah, dan tumbuhkan jiwa Bhineka Tunggal Ika.