Penulis:Anin 31 October 2016
Seiring
maraknya kasus Ahok, media begitu sibuknya menyebarkan berbagai berita Ahok
yang di anggap sebagai topic hangat. penyebaran berita-berita itu berlangsung
sejak Ahok menjadi Gubernur Jakarta yang tegas, berani dan lantang. Ahok
dianggap sebagai sosok fenomenal yang mampu mengguncang para penganut Agama,
Negara bahkan masyarakat sehingga memberikan efek perdebatan sengit di Dunia Maya, perdebatan
itu timbul dari penilaian mereka terhadap cara bicara, perilaku dan sifat Ahok.
Terutama terkait ucapan Ahok tentang surat al-Maidah 51. ada yang mengatakan Ahok
tidak salah, yang salah adalah yang memaknai maksud dari kata-kata Ahok, ada
yang mengatakan yang salah orang yang menyebarkan video sehingga banyak orang menuduh
Ahok telah melecahkan Agama mayoritas.
Isu pelecehan
agama mayoritas inilah yang menyebabkan kebanyakan masyarakat sangat murka dan
marah kepada Ahok, Ahok dianggap telah menghina kitab umat mayoritas. karena itu
ada sebagian orang yang menganggap Ahok harus diproses hukum dan ada yang
membela Ahok dengan menulis artikel-artikel dan argument-argumen pembelaan
mereka terhadap Ahok, Seperti contoh artikel dibawah ini:
2.
http://news.detik.com/berita/3315317/soal-al-maidah-51-Ahok-tidak-ada-yang-salah-dengan-ucapan-saya.
Perbedaan
pandangan ini mungkin masih banyak lagi, misalnya perdebatan ILC pada 11
oktober 2016 tentang Ahok sebagaimana pada link ini https://www.youtube.com/watch?v=ZPILpwICfmA#t=490.577948 atau yang lainnya.
Ada
juga, seperti Nusron wahid ketua partai bidang pemenangan pemilu partai Golkar
atas pembelaannya terhadap Ahok yang
telah minta maaaf itu, secara langsung Nusron Wahid mengatakan orang muslim itu
selalu ramai, ramainya orang muslim katanya disebabkan dua hal:
1.
Kalau
nga’ salah paham berarti
2.
Pahamnya
salah
Menurut
Nusron yang namanya teks apapun itu bebas tafsir dan makna, bahkan yang paling
mengetahui tafsiran al-Qur’an adalah Allah Swt dan Rasul-Nya, bukan Majelis
Ulama Indonesia. Kebenaran hanya datang dari Allah Swt, jadi kalau kita bawa
kepada perkataannya Ahok, yang paling
tau maksud ucapan itu ya Ahok, apalagi Tafsiran aulia dalam surat al-Maidah itukan
bukan pemimpin, hanya Indonesia saja tafsirannya begitu, sementara bahasa Inggris
tidak menafsirkan demikian. Nurson juga melihat dari sisi sejarah seperti
khalifah Abbasiyah yang ke 16 Sultan al-Muktadid Billah pernah mengangkat
seorang Gubernur di al-Anbar (Irak) yang bernama Umar bin Yusuf seorang Kristen
yang taat. Olehnya itu, kata Nusron peristiwa Ahok itu hanya konteks Sosial
saja. Sebab ayat al-Maidah itu tidak ada kaitannya dengan konteks politik.
Begitu
juga Prof. Dr. Hamka Haq, Anggota DPR Pusat dari Partai PDIP, menilai peristiwa
Ahok terdapat tiga sisi yang harus diperhatikan, antara lain:
1.
Ketersinggungan
umat Islam.
Ketersinggungan umat Islam yang ada di Media Sosial (Mensos) dan
Demonstrasi dimana-mana yang menyulut kemarahan, itu disebabkan oleh unggahan
rekaman yang tidak lengkap, sebab menurut Hamka Haq, rekaman sebelumnya tidak
membawa ketersinggungan, ketersinggungan muncul karena rekaman yang tidak
lengkap itu, yang kemudian diberikan komentar untuk melawan, jadi yang membuat
umat Islam tersinggung itu bukan Ahok dan Ahok tidak perlu minta maaf dan
mestinya yang harus minta maaf adalah pengunggah Video itu. Jadi Sumber masalah
bukan Ahok. Cuman karena Ahok orang bijak. Maka dengan itu Ahok mengambil
inisiatif untuk minta maaf. Apalagi yang menggugah video itu simpatisan dari
pihak heiter (lawan) Ahok.
2.
Kalimat
Ahok sendiri di Bohongin pake al-Maidah 51.
Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Ahok tidak berniat mengatakan
al-Qur’an itu bohong, sehingga ini bukan penistaan Agama. Bukan ayat yang
berbohong tapi orang yang sering menggunakan ayat-ayat itu yang berbohong.
3.
Esensi
atau Subtansi dari al-Maidah 51
Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Subtansi surat al-Maidah yang selama
ini melarang memilih pemimpin, ayat ini jika dilihat Asbabun Nuzulnya dalam
tafsir al-Qurtubi dikatakan turun pada peristiwa perang Uhud, dan jika dilihat
dari realitas sejarah, pernah ada dua pemimpin non-Muslim yang pernah memimpin
di zaman Nabi Saw. Pertama: kepemimpinan dipimpin Abu Thalib (Beliau non-Muslim
hingga wafat) keluarga Nabi Saw. Kedua: Abesinia yaitu kerajaan Kristen yang di
Pimpin Raja Kristen, bernama Najasi, Raja yang adil dan Negeri kaum jujur.
Olehnya itu keadilan dan kejujuran berada dibawah kepemimpinan non-Muslim saat
itu kata Prof. Hamka Haq. Selanjutnya Hamka Haq berkata, pak Kiyai-Kiyai sebenarnya
sudah tau sejarah itu namun mereka selalu menyembunyikannya, yang dibahas
hanyalah ketika Rasul Saw menjadi kepala Negara, namun ketika Rasul menjadi
rakyat tidak pernah di bahas, padahal 13 tahun Rasul berada dibawah
kepemimpinan Non-Muslim. Prof. Hamka Haq kemudian berkata lagi, barangkali ini yang
dimaksud oleh Ahok, ada pemahaman yang di sembunyikan sehingga melahirkan
tafsir yang membohongi rakyat dengan memakai kalimat itu.
Jika
kita lihat stekmen Nusron dan Hamka Haq di atas, keduanya mendukung Ahok,
membela Ahok agar tidak di proses hukum. Tapi, muidah-mudahan pembelaan mereka
tidak terkait dengan kepentingan pribadi, sehingga berani menyalahkan MUI.
Sementara
Dr. Patnizon seorang ahli Bahasa terkait Ahok dan Mui, dia mengatakan bahwa
sudah jelas apa yang dikatakan Ahok bahkan tidak perlu Profesor menafsirkannya,
ini persoalan yang sangat sederhana “dibohongin pake al-Maidah 51” kata
ini menurutnya suatu bles peming, Dr. Patnizon sepekat dengan perkataan seorang
Budayawan pak Jai Suprana perkataan Ahok adalah penistaan Agama yang terjadi di
Pulau 1000.
Dr.
Patnizon lebih lanjut mengatakan jangan mempertahankan sesuatu yang salah, Ahok
sendiri sudah minta maaf, artinya minta maaf itu berarti mengakui kesalahannya,
kemudian what is next apa berikutnya, what Is bi dan bagaimana
menyelesaikannya, untuk menyelesaikannya adalah proses hukum karena kita
bersamaan kedudukan didalam hukum konstitusi pasal 27 ayat 1. Mengenai Ahok, apakah
peristiwa seperti ini pernah terjadi. Saya mencoba membuka google sebagai
contoh, pada tahun 2013 di Bali ada seorang Ibu rumah tangga mengatakan
canang (tempat sesaji) ini jijik dan
kotor, perkataan ini kemudian di laporkan ke Polisi diproses di pengadilan dan
ibu itu di Hukum 1 Tahun dua bulan Penjara, karena orang Hindu merasa perkataan
itu menghina Agama mereka, padahal kalau kita lihat yang dikatakan jijikkan
adalah canang (tempat sesajen) hanya sebuah benda. persisi juga
peristiwa aswendo sudah minta maaf tapi diproses hukum juga 5 tahun penjara
padahal masalahnya tidak langsung terkait, hanyalah masalah survei.
Dr.
Patnizon, Selanjutnya berkata; coba kita lihat karakter Ahok seperti apa, saya
mau mengutip perkataan Ahok pada waktu wawancara disebuah stasiun TV “Istri
saya mau terima si S Ar untuk main di kota Tua, lu buktiin aja, nenek lu sialan,
bangsat gua bilang, lu buktiin aja, gue juga udah keki, lu lawan bini gua kalah
lu, mati aja lu, kasi tai aja muka lu” ini sudah menjadi karakter
kepemimpinan Ahok, dan akhirnya stasiun TV tersebut diberi sangsi, terlalu
banyak trek Rekornya kata-kata Ahok yang tidak terkontrol, bahasanya tidak
terkontrol dan menyinggung banyak orang. Jadi Polisi harus adil kalau tidak
hukum akan mencari caranya sendiri dan ini berbahaya.
Sselanjutnya
bukan saudara Bun Yani yang salah, dia meng apload pembicaraan public kepada
media, tidak ada yang disensor hanya mencuplik itu tidak ada masalah. Juga ada
peristiwa mahasiswa yang sedikit menyinggung di TV, Ahok mengatakan kalau
saya mahasiswa seperti itu bukan hanya di maafkan tapi dipecat saja,
dengan ini Ahok termakan perkataannya senidiri, olehnya itu menurut Dr.
Patnizon kasus Ahok harus di proses hukum, ini tidak ada kaitannya dengan
Pilkada, saat itu dia bicara sebagai seorang Gubernur, pejabat publik bukan tim
sukses dan calon Gubernur pada waktu bicara di pulau 1000.
Adapun
Ahmad Dhani mengatakan MUI mungkin tidak dianggap yang paling ahli oleh semua
orang tapi MUI adalah saksi ahli dari kepolisian.
Sementara
Fahri Hamzah Ada tiga kotak:
1.
Agama
memiliki cakupan yang luas (Universum).
Fahri
hamzah mengatakan, kita sering lupa bahwa Agama adalah sesuatu yang luas dan
pengaruh agama pada diri orang jauh lebih dalam dan kuat dari pengaruh apapun, manusia
ketika lahir sudah disambut dengan konsepsi Agama. Kalau Islam di Komatkan dan
di Azankan dan ketika agak besar di Khitan, di agama lain mungkin juga ada
seperti itu, misalnya Nasrani ada pembaptisan dan sebagainya. Terkadang yang
sering muncul adalah kesalahan berfikir, hal ini karena penggemar atau penggiat
Negara dan ruang public sering mengecil artikan Agama dan seolah-olah Agama itu
boleh ditinggalkan, padahal justru ini yang menjadi penyebab kritis
Negara-Negara lain seperti di Eropa. bahkan menurut Fahri, awal dari kegagalan
sekularisme barat yang sudah mulai ambruk karena gagal membangun tatanan social
dan muncul pemimpin-pemimpin ekstrim seperti Ronald Dram di Amerika dan Eropa
secara umum kaum kanan yang berkuasa. Tapi, justru di Indonesia efek ekor
tradisi yang sudah mau ambruk ini baru mau dimulai, sepertinya masyarakat Indonesia
mau diajarkan untuk meninggalkan sentiment Agama, padahal perasaan itu
mustahil.
2.
Entitas
Negara.
Negara adalah organisasi manusia, namun Agama karena begitu luasnya,
akhirnya juga melahirkan konsepsi Negara. Tapi kalau dibaca sejarah Negara
Indonesia yang ditulis Elson, The Idea Of Indonesia jelas bahwa
Indonesia lahir atas persmean fikiran-fikiran besar yang berasal dari seluruh
Agama dan Kultur, lalu lahirlah dua poros menurut Elson, Pertama: poros yang
belajar Negara, terutama kaum sarjana yang belajar di Barat. Kedua: Poros yang
belajar Agama, kaum Sarjana yang belajar di timur tengah, kedua inilah yang
menjadi sintesa dan budaya yang melahirkan konsepsi dasar, dan kalau kita pelajari, sebenarnya pancasila dalam
konsepsi Islam bisa disebut sebagai Maqasid Syari’ah tujuan daripada Agama,
jadi Negara Indonesia melaksanakan tujuan beragama olehnya itu, Agama
konsepsinya lebih luas daripada Negara Indonesia Itu untuk mengkleim satu
sistematika awal supaya individu tidak hidup menghilangkan tradisi Agama dalam
Negara berdasar ke-Tuhanan yang Maha Esa.
3.
Ahok
dan Pilkada
Dalam kasus yang dihadapi sekarang ini menurut Fahri Hamzah
kegagalan saudara Ahok dari awal, Ahok tidak menyadari bahwa kita sebagai
bangsa menikmati satu capaian yang dahsyat dalam tradisi berbangsa dan
bernegara, sesuatu yang oleh bangsa lain dicapai ratusan tahun, tiba-tiba Bangsa
Indonesia dalam waktu yang sangat singkat dicapai secara luar biasa. Di Inggri
ada Walikota London beragama Islam, gempar Surat Kabar Dunia memberitakan, dan
ini dicapai hampir ribuan tahun, Imperium Britania Raya Amerika Serikat ada
orang kulit hitam Barac Husein Obama setelah ratusan tahun baru dia bisa
menjadi Presiden di Amerika Serikat dan justru melahirkan Ekstrimitas di
kalangan politisi kalau kita lihat debat Donald Tram dengan Hiler luar biasa.
Sementara Ahok tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam satu titik yang
sangat menentukan. Pertama-tama Ahok tidak pernah dipilih menjadi seorang
Gubernur Jakarta, namun karena dia memilih Jokowi pada awalnya, dia hanya
menjadi wakil Gubernur yang karena Jokowi kemudian mencalonkan diri menjadi
Presiden dan menjadi Presiden, Ahok
dalam tanda petik terpaksa menjadi Gubernur DKI Jakarta, kesadaran ini sebetulnya
harus Ahok camkan secara baik, supaya kita menggunakan kesempatan ini untuk menyadari satu capaian bersama yang tidak diterima
dengan baik.
Harusnya begitu Ahok jadi Gubernur dia sadar, bahwa dia menjadi
Gubernur di Ibukota sebuah Negara Muslim terbesar di Dunia dan karena itu pasti
ada sebagaian masyarakat pasti mencermati dengan baik identitas Etnis dan Agama
Ahok, kalau dia sadar dari awal dengan ini dia bisa membiasakan tradisi berpolitik
yang baik. Sadari semua, bicara dengan baik, bicara kepada orang Islam dengan
baik, bicara menjadi Gubernur yang baik, terima kenyataan politik yang ada,
namun Ahok ini tidak, masuk di Ibukota semua diajak berkelahi, pertama diajak
berkelahi DPRD DKI, Partai-Partai di ajak berkelahi, Elit-Elit Jakartaun di
tangkap di Ajak berkelahi.
Dengan ini Fahri Hamzah mencari tahu siapa sebenarnya di balik Ahok
sehingga Ahok begitu hebat sekali, seperti itu, popularitasnya menjadi sangat
tinggi. Namun kita tidak boleh gagal karena Ahok. Saya pesimis dengan peristiwa
ini, 25 tahun yang lalu ada sesorang
membuat prediksi tentang benturan peradaban, akan ada perdaban barat terutama
di pimpin oleh Amerika Serikat dengan benturan secara materil Konfusius
peradaban Tiong Hoa dan China
kemudian mengalami benturan secara spiritual dengan peradaban Islam. Hal ini,
macam-macam sebabnya, kalau peradaban china jelas, china telah menjadi kekuatan
ekonomi yang paling besar dan melampaui Negara-Negara di Dunia setahun demi
setahun sehingga sekarang mungkin tinggal Amerika. Saya khawatir Ahok ini
mengantar kita pada benturan ini sekaligus, sebab kapitalisme Global ingin
menghancurkan China karena mereka dikalahkan dominasinya dalam tradisi
menguasai aset yang begitu lama, saya kira ada kekuatan Barat yang ingin
menghancurkan kekuatan Islam dan kalau kita lihat Timur Tengah sekarang ini Negra gagal semua Libia,
Irak dan Yaman. Artinya ini perang sedang terjadi dan di Indonesia Negara yang
berdasarkan Pancasila tiba-tiba ada orang yang mau memancing dua perang ini
sekaligus terjadi di Indonesia dan kalau terjadi di Indonesia dan sukses maka
kekuatan lama itu menang dan Indonesia ini akan menjadi korban peperangan itu
dan tidak dapat apa-apa. Tapi mudah-mudahan seperti optimism pk Jaya Suprana
tadi bahwa Indonesia bisa menangkan ini, dan Indoesia muncul menjadi kekuatan
baru dengan Pancasila sebagai Ideologinya yang akan memimpin masa depan Umat
manusia.
Sementara,
kedua stekmen di atas, justru sedikit mengomentari kesalahan Ahok.
Berikan
kesimpulanmu dan komentarmu.



