Monday, 31 October 2016

AHOK AKAR PERDEBATAN SENGIT: APAKAH MUI ATAU PEJABAT NEGARA YANG SALAH?

Penulis:Anin 31 October 2016

Seiring maraknya kasus Ahok, media begitu sibuknya menyebarkan berbagai berita Ahok yang di anggap sebagai topic hangat. penyebaran berita-berita itu berlangsung sejak Ahok menjadi Gubernur Jakarta yang tegas, berani dan lantang. Ahok dianggap sebagai sosok fenomenal yang mampu mengguncang para penganut Agama, Negara bahkan masyarakat sehingga memberikan efek  perdebatan sengit di Dunia Maya, perdebatan itu timbul dari penilaian mereka terhadap cara bicara, perilaku dan sifat Ahok. Terutama terkait ucapan Ahok tentang surat al-Maidah 51. ada yang mengatakan Ahok tidak salah, yang salah adalah yang memaknai maksud dari kata-kata Ahok, ada yang mengatakan yang salah orang yang menyebarkan video sehingga banyak orang menuduh Ahok telah melecahkan Agama mayoritas.
Isu pelecehan agama mayoritas inilah yang menyebabkan kebanyakan masyarakat sangat murka dan marah kepada Ahok, Ahok dianggap telah menghina kitab umat mayoritas. karena itu ada sebagian orang yang menganggap Ahok harus diproses hukum dan ada yang membela Ahok dengan menulis artikel-artikel dan argument-argumen pembelaan mereka terhadap Ahok, Seperti contoh artikel dibawah ini:
Perbedaan pandangan ini mungkin masih banyak lagi, misalnya perdebatan ILC pada 11 oktober 2016 tentang Ahok sebagaimana pada link ini https://www.youtube.com/watch?v=ZPILpwICfmA#t=490.577948  atau yang lainnya.
Ada juga, seperti Nusron wahid ketua partai bidang pemenangan pemilu partai Golkar atas pembelaannya terhadap Ahok  yang telah minta maaaf itu, secara langsung Nusron Wahid mengatakan orang muslim itu selalu ramai, ramainya orang muslim katanya disebabkan dua hal:
1.      Kalau nga’ salah paham berarti
2.      Pahamnya salah
Menurut Nusron yang namanya teks apapun itu bebas tafsir dan makna, bahkan yang paling mengetahui tafsiran al-Qur’an adalah Allah Swt dan Rasul-Nya, bukan Majelis Ulama Indonesia. Kebenaran hanya datang dari Allah Swt, jadi kalau kita bawa kepada perkataannya Ahok,  yang paling tau maksud ucapan itu ya Ahok, apalagi Tafsiran aulia dalam surat al-Maidah itukan bukan pemimpin, hanya Indonesia saja tafsirannya begitu, sementara bahasa Inggris tidak menafsirkan demikian. Nurson juga melihat dari sisi sejarah seperti khalifah Abbasiyah yang ke 16 Sultan al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang Gubernur di al-Anbar (Irak) yang bernama Umar bin Yusuf seorang Kristen yang taat. Olehnya itu, kata Nusron peristiwa Ahok itu hanya konteks Sosial saja. Sebab ayat al-Maidah itu tidak ada kaitannya dengan konteks politik.
Begitu juga Prof. Dr. Hamka Haq, Anggota DPR Pusat dari Partai PDIP, menilai peristiwa Ahok terdapat tiga sisi yang harus diperhatikan, antara lain:
1.      Ketersinggungan umat Islam.
Ketersinggungan umat Islam yang ada di Media Sosial (Mensos) dan Demonstrasi dimana-mana yang menyulut kemarahan, itu disebabkan oleh unggahan rekaman yang tidak lengkap, sebab menurut Hamka Haq, rekaman sebelumnya tidak membawa ketersinggungan, ketersinggungan muncul karena rekaman yang tidak lengkap itu, yang kemudian diberikan komentar untuk melawan, jadi yang membuat umat Islam tersinggung itu bukan Ahok dan Ahok tidak perlu minta maaf dan mestinya yang harus minta maaf adalah pengunggah Video itu. Jadi Sumber masalah bukan Ahok. Cuman karena Ahok orang bijak. Maka dengan itu Ahok mengambil inisiatif untuk minta maaf. Apalagi yang menggugah video itu simpatisan dari pihak heiter (lawan) Ahok.
2.      Kalimat Ahok sendiri di Bohongin pake al-Maidah 51.
Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Ahok tidak berniat mengatakan al-Qur’an itu bohong, sehingga ini bukan penistaan Agama. Bukan ayat yang berbohong tapi orang yang sering menggunakan ayat-ayat itu yang berbohong.
3.      Esensi atau Subtansi dari al-Maidah 51

Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Subtansi surat al-Maidah yang selama ini melarang memilih pemimpin, ayat ini jika dilihat Asbabun Nuzulnya dalam tafsir al-Qurtubi dikatakan turun pada peristiwa perang Uhud, dan jika dilihat dari realitas sejarah, pernah ada dua pemimpin non-Muslim yang pernah memimpin di zaman Nabi Saw. Pertama: kepemimpinan dipimpin Abu Thalib (Beliau non-Muslim hingga wafat) keluarga Nabi Saw. Kedua: Abesinia yaitu kerajaan Kristen yang di Pimpin Raja Kristen, bernama Najasi, Raja yang adil dan Negeri kaum jujur. Olehnya itu keadilan dan kejujuran berada dibawah kepemimpinan non-Muslim saat itu kata Prof. Hamka Haq. Selanjutnya Hamka Haq berkata, pak Kiyai-Kiyai sebenarnya sudah tau sejarah itu namun mereka selalu menyembunyikannya, yang dibahas hanyalah ketika Rasul Saw menjadi kepala Negara, namun ketika Rasul menjadi rakyat tidak pernah di bahas, padahal 13 tahun Rasul berada dibawah kepemimpinan Non-Muslim. Prof. Hamka Haq kemudian berkata lagi, barangkali ini yang dimaksud oleh Ahok, ada pemahaman yang di sembunyikan sehingga melahirkan tafsir yang membohongi rakyat dengan memakai kalimat itu.
Jika kita lihat stekmen Nusron dan Hamka Haq di atas, keduanya mendukung Ahok, membela Ahok agar tidak di proses hukum. Tapi, muidah-mudahan pembelaan mereka tidak terkait dengan kepentingan pribadi, sehingga berani menyalahkan MUI.
Sementara Dr. Patnizon seorang ahli Bahasa terkait Ahok dan Mui, dia mengatakan bahwa sudah jelas apa yang dikatakan Ahok bahkan tidak perlu Profesor menafsirkannya, ini persoalan yang sangat sederhana “dibohongin pake al-Maidah 51” kata ini menurutnya suatu bles peming, Dr. Patnizon sepekat dengan perkataan seorang Budayawan pak Jai Suprana perkataan Ahok adalah penistaan Agama yang terjadi di Pulau 1000.
Dr. Patnizon lebih lanjut mengatakan jangan mempertahankan sesuatu yang salah, Ahok sendiri sudah minta maaf, artinya minta maaf itu berarti mengakui kesalahannya, kemudian what is next apa berikutnya, what Is bi dan bagaimana menyelesaikannya, untuk menyelesaikannya adalah proses hukum karena kita bersamaan kedudukan didalam hukum konstitusi pasal 27 ayat 1. Mengenai Ahok, apakah peristiwa seperti ini pernah terjadi. Saya mencoba membuka google sebagai contoh, pada tahun 2013 di Bali ada seorang Ibu rumah tangga mengatakan canang  (tempat sesaji) ini jijik dan kotor, perkataan ini kemudian di laporkan ke Polisi diproses di pengadilan dan ibu itu di Hukum 1 Tahun dua bulan Penjara, karena orang Hindu merasa perkataan itu menghina Agama mereka, padahal kalau kita lihat yang dikatakan jijikkan adalah canang (tempat sesajen) hanya sebuah benda. persisi juga peristiwa aswendo sudah minta maaf tapi diproses hukum juga 5 tahun penjara padahal masalahnya tidak langsung terkait, hanyalah masalah survei.
Dr. Patnizon, Selanjutnya berkata; coba kita lihat karakter Ahok seperti apa, saya mau mengutip perkataan Ahok pada waktu wawancara disebuah stasiun TV “Istri saya mau terima si S Ar untuk main di kota Tua, lu buktiin aja, nenek lu sialan, bangsat gua bilang, lu buktiin aja, gue juga udah keki, lu lawan bini gua kalah lu, mati aja lu, kasi tai aja muka lu” ini sudah menjadi karakter kepemimpinan Ahok, dan akhirnya stasiun TV tersebut diberi sangsi, terlalu banyak trek Rekornya kata-kata Ahok yang tidak terkontrol, bahasanya tidak terkontrol dan menyinggung banyak orang. Jadi Polisi harus adil kalau tidak hukum akan mencari caranya sendiri dan ini berbahaya.
Sselanjutnya bukan saudara Bun Yani yang salah, dia meng apload pembicaraan public kepada media, tidak ada yang disensor hanya mencuplik itu tidak ada masalah. Juga ada peristiwa mahasiswa yang sedikit menyinggung di TV, Ahok mengatakan kalau saya mahasiswa seperti itu bukan hanya di maafkan tapi dipecat saja, dengan ini Ahok termakan perkataannya senidiri, olehnya itu menurut Dr. Patnizon kasus Ahok harus di proses hukum, ini tidak ada kaitannya dengan Pilkada, saat itu dia bicara sebagai seorang Gubernur, pejabat publik bukan tim sukses dan calon Gubernur pada waktu bicara di pulau 1000.
Adapun Ahmad Dhani mengatakan MUI mungkin tidak dianggap yang paling ahli oleh semua orang tapi MUI adalah saksi ahli dari kepolisian.
Sementara Fahri Hamzah Ada tiga kotak:
1.      Agama memiliki cakupan yang luas (Universum).
Fahri hamzah mengatakan, kita sering lupa bahwa Agama adalah sesuatu yang luas dan pengaruh agama pada diri orang jauh lebih dalam dan kuat dari pengaruh apapun, manusia ketika lahir sudah disambut dengan konsepsi Agama. Kalau Islam di Komatkan dan di Azankan dan ketika agak besar di Khitan, di agama lain mungkin juga ada seperti itu, misalnya Nasrani ada pembaptisan dan sebagainya. Terkadang yang sering muncul adalah kesalahan berfikir, hal ini karena penggemar atau penggiat Negara dan ruang public sering mengecil artikan Agama dan seolah-olah Agama itu boleh ditinggalkan, padahal justru ini yang menjadi penyebab kritis Negara-Negara lain seperti di Eropa. bahkan menurut Fahri, awal dari kegagalan sekularisme barat yang sudah mulai ambruk karena gagal membangun tatanan social dan muncul pemimpin-pemimpin ekstrim seperti Ronald Dram di Amerika dan Eropa secara umum kaum kanan yang berkuasa. Tapi, justru di Indonesia efek ekor tradisi yang sudah mau ambruk ini baru mau dimulai, sepertinya masyarakat Indonesia mau diajarkan untuk meninggalkan sentiment Agama, padahal perasaan itu mustahil.
2.      Entitas Negara.

Negara adalah organisasi manusia, namun Agama karena begitu luasnya, akhirnya juga melahirkan konsepsi Negara. Tapi kalau dibaca sejarah Negara Indonesia yang ditulis Elson, The Idea Of Indonesia jelas bahwa Indonesia lahir atas persmean fikiran-fikiran besar yang berasal dari seluruh Agama dan Kultur, lalu lahirlah dua poros menurut Elson, Pertama: poros yang belajar Negara, terutama kaum sarjana yang belajar di Barat. Kedua: Poros yang belajar Agama, kaum Sarjana yang belajar di timur tengah, kedua inilah yang menjadi sintesa dan budaya yang melahirkan konsepsi dasar, dan kalau  kita pelajari, sebenarnya pancasila dalam konsepsi Islam bisa disebut sebagai Maqasid Syari’ah tujuan daripada Agama, jadi Negara Indonesia melaksanakan tujuan beragama olehnya itu, Agama konsepsinya lebih luas daripada Negara Indonesia Itu untuk mengkleim satu sistematika awal supaya individu tidak hidup menghilangkan tradisi Agama dalam Negara berdasar ke-Tuhanan yang Maha Esa.
3.      Ahok dan Pilkada
Dalam kasus yang dihadapi sekarang ini menurut Fahri Hamzah kegagalan saudara Ahok dari awal, Ahok tidak menyadari bahwa kita sebagai bangsa menikmati satu capaian yang dahsyat dalam tradisi berbangsa dan bernegara, sesuatu yang oleh bangsa lain dicapai ratusan tahun, tiba-tiba Bangsa Indonesia dalam waktu yang sangat singkat dicapai secara luar biasa. Di Inggri ada Walikota London beragama Islam, gempar Surat Kabar Dunia memberitakan, dan ini dicapai hampir ribuan tahun, Imperium Britania Raya Amerika Serikat ada orang kulit hitam Barac Husein Obama setelah ratusan tahun baru dia bisa menjadi Presiden di Amerika Serikat dan justru melahirkan Ekstrimitas di kalangan politisi kalau kita lihat debat Donald Tram dengan Hiler luar biasa. Sementara Ahok tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam satu titik yang sangat menentukan. Pertama-tama Ahok tidak pernah dipilih menjadi seorang Gubernur Jakarta, namun karena dia memilih Jokowi pada awalnya, dia hanya menjadi wakil Gubernur yang karena Jokowi kemudian mencalonkan diri menjadi Presiden  dan menjadi Presiden, Ahok dalam tanda petik terpaksa menjadi Gubernur DKI Jakarta, kesadaran ini sebetulnya harus Ahok camkan secara baik, supaya kita menggunakan kesempatan ini untuk menyadari  satu capaian bersama yang tidak diterima dengan baik.
Harusnya begitu Ahok jadi Gubernur dia sadar, bahwa dia menjadi Gubernur di Ibukota sebuah Negara Muslim terbesar di Dunia dan karena itu pasti ada sebagaian masyarakat pasti mencermati dengan baik identitas Etnis dan Agama Ahok, kalau dia sadar dari awal dengan ini dia bisa membiasakan tradisi berpolitik yang baik. Sadari semua, bicara dengan baik, bicara kepada orang Islam dengan baik, bicara menjadi Gubernur yang baik, terima kenyataan politik yang ada, namun Ahok ini tidak, masuk di Ibukota semua diajak berkelahi, pertama diajak berkelahi DPRD DKI, Partai-Partai di ajak berkelahi, Elit-Elit Jakartaun di tangkap di Ajak berkelahi.
Dengan ini Fahri Hamzah mencari tahu siapa sebenarnya di balik Ahok sehingga Ahok begitu hebat sekali, seperti itu, popularitasnya menjadi sangat tinggi. Namun kita tidak boleh gagal karena Ahok. Saya pesimis dengan peristiwa ini, 25 tahun yang lalu  ada sesorang membuat prediksi tentang benturan peradaban, akan ada perdaban barat terutama di pimpin oleh Amerika Serikat dengan benturan secara materil Konfusius peradaban Tiong Hoa dan  China kemudian mengalami benturan secara spiritual dengan peradaban Islam. Hal ini, macam-macam sebabnya, kalau peradaban china jelas, china telah menjadi kekuatan ekonomi yang paling besar dan melampaui Negara-Negara di Dunia setahun demi setahun sehingga sekarang mungkin tinggal Amerika. Saya khawatir Ahok ini mengantar kita pada benturan ini sekaligus, sebab kapitalisme Global ingin menghancurkan China karena mereka dikalahkan dominasinya dalam tradisi menguasai aset yang begitu lama, saya kira ada kekuatan Barat yang ingin menghancurkan kekuatan Islam dan kalau kita lihat  Timur Tengah sekarang ini Negra gagal semua Libia, Irak dan Yaman. Artinya ini perang sedang terjadi dan di Indonesia Negara yang berdasarkan Pancasila tiba-tiba ada orang yang mau memancing dua perang ini sekaligus terjadi di Indonesia dan kalau terjadi di Indonesia dan sukses maka kekuatan lama itu menang dan Indonesia ini akan menjadi korban peperangan itu dan tidak dapat apa-apa. Tapi mudah-mudahan seperti optimism pk Jaya Suprana tadi bahwa Indonesia bisa menangkan ini, dan Indoesia muncul menjadi kekuatan baru dengan Pancasila sebagai Ideologinya yang akan memimpin masa depan Umat manusia.

Sementara, kedua stekmen di atas, justru sedikit mengomentari kesalahan Ahok.
Berikan kesimpulanmu dan komentarmu.

Sunday, 9 October 2016

PARADIGMA PENELITIAN TEOLOGI



Penulis: Anin Lihi
Senin 18 Juli 2016.





A.    Latar Belakang
Berdasarkan fakta empiris, sebagian manusia cenderung melakukan penyimpangan, hal inilah yang mendorong manusia lainnya untuk berpikir mencari solusi dalam memecahkannya. Pemecahan masalah tersebut membutuhkan satu ide yang baik dengan model pendekatan tertentu, seiring berkembangnya waktu para ahli mulai berpikir menciptakan metode pendekatan, misalnya; pendekatan filsafat, pendekatan sosial dan lain sebagainya, pendekatan-pendekatan ini betujuan untuk menilai fakta-fakta empiris sekaligus memecahkannya, pendekatan filsafat dan sosial misalnya keduanya tidak sepenuhnya mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat, sebab hanya terbatas pada teori-teori atau paradigma-paradigma. Namun, Teori-teori yang dikemukakan para ahli harus di hargai, sebab merekalah orang-orang yang sudah berusaha mencari  solusi dalam memecahkan masalah-masalah empiris yang terjadi, hal ini  sebagaimana Aristoteles, Plato dalam bidang Filsafat dan Aguste Comte dalam bidang Sosial dan ahli-ahli islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Kindi dan lain-lain.
Paradigma para ahli rupanya tidak berhenti pada fakta empiris saja, lebih dari itu ialah teologi, teologi dianggap erat kaitannya dengan agama yang membahas tentang Iman yang didasari dengan wahyu. Karena tologi sangat erat kaitannya dengan Agama dan wahyu maka teologi tidak dapat dilepas pisahkan dengan konsep ke-Tuhanan dan manusia. Itulah sebabnya teologi selalu di khususkan pada pengetahuan menyangkut hal-hal yang diimani manusia. Sehingga teologi selalu ditempatkan pada kualifikasi tertentu sesuai pokok ajaran yang di imani pada Agama masing-masing kelompok, seperti; teologi Islam, Teologi Kristen dan lain-lain.  



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis dapat menarik beberapa rumusan masalah sebagai bahan kajian dalam pembahasan berikutnya, adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagi berikut:
1.      Bagaimana Paradigma Penelittian Teologi dan Sejarah Penamaanya.
2.      Bagaimana Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
3.      Bagaimana Macam-Macam Pendekatan Teologi.
C.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Paradigma Penelitian Teologi dan Sejarah Penamaan Teologi.
a.       Pengertian Paradigma Penelitian Teologi
Dalam kamus Bahasa Indonesia, paradigma adalah daftar uraian atas kata menjadi unsur-unsur pembentuk kata.[1] Maksudnya daftar uarian kata yang menjadi satu kalimat yang dapat dipahami maksudnya. Paradigma dapat dikatakan sebagai cara pandang tertentu terhadap suatu permasalahan, kegiatan ini sering di kembalikan pada individu tertentu dalam menilai sesuatu serta memberikan sumbangsi pemikiran, guna memberikan masukan positif terhadap suatu masalah. Hal ini sebagaimana Prof. Dr. Mustari Mustafa dalam seminar kuliah, mengatakan; “Dengan paradigma saya sendiri”[2] artinya menurut pandangan, cara pandang, stekmen atau yang semisalnya.
Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Menurut David H. Penny; penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.[3]
Paradigma penelitian selalu berkaitan dengan pertanyaan fundamental berupa pertanyaan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis. Dengan itu, maka paradigma penelitian adalah kontruksi manusia terhadap apa yang benar berdasarkan usaha penelitian yang telah dilakukan secara sistematis sesuai dengan aturan-aturan metodologinya.
Adapun Teologi terdiri dari dua kata Theos dan Logos. Theos artinya Tuhan dan Logos artinya Ilmu, maka dengan itu teologi ialah ilmu yang membahas Tuhan atau ilmu ke-Tuhanan.[4] Istilah lain dari teologi terdapat dalam bahasa arab dan biasa disebut ilmu kalam atau ilmu ushuluddin, disebut ilmu kalam karena membahas kalam Tuhan dan kalam manusia, yang dimaksud kalam Tuhan disini ialah al-Qur’an, berkaitan dengan Kalam pada abad ke-2 dan ke 3 H. pernah terjadi perdebatan di kalangan umat islam, karena firman Tuhan pernah di perdebatkan maka dengan itulah di namakan ilmu kalam.[5]
Teologi menurut para ahli, seperti: Anselmus dari Canterbury pernah melukiskan teologi sebagai “Iman berusaha untuk mengerti”, sedangkan Syukur Dister mengatakan Teologi lebih luas daripada pengetahuan filsafat, teologi tidak hanya di dasarkan pada pengalaman indrawi dan pemikiran rasional, namun lebih jauh dari itu ialah wahyu Tuhan sebagaimana ditangkap oleh manusia beriman, sementara Maurice Blondel filosof Prancis apa yang menjiwai Teologi ialah tindakan percaya. Kepercayaan selain dianggap sebagai titik tolak juga merupakan dasar tetap untuk seluruh bangunan teologi, ia mempelajari tujuan manusia yang kongkrit dan adikodrati.
Jadi paradigma penelitian Teologi ialah cara pandang tertentu dalam menelaah suatu gejala yang terjadi serta meyakini bahwa gejala empiris dan adikodrati itu dapat dicari sebab untuk kemudian diberikan solusi terhadap cara penyelesaiannya.
Sebagai contoh kecil, misalnya terjadi perkelahian anatara kelompok mahasiswa A dengan mahasiswa B, dalam diri kita bertanya-tanya  sebab apa sehingga mereka berkelahi, dengan itu kita lakukan penelitian, kita akan menemukan latar belakang masalahnya, dan kita akan mengatakan mungkin karena persoalan pacaran, antara kelompok mahasiswa A dan B terdapat salah seorang saling memperebutkan perempuan sehingg terjadilah saling mengejek atau boleh jadi karena permasalahan lain. Kejadian ini kemudian terus berlanjut.
Melihat masalah ini, teologi hadir memberikan solusi sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka teologi mengatakan, ini terjadi karena kurangnya kesadaran akan persaudaraan sehingga mereka susah untuk saling memaafkan. mereka belum sepenuhnya mampu mendengarkan wahyu yang dturunkan oleh Tuhan.
Misalnya: Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 199,
artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan mengikuti orang-orang yang bodoh.

Dengan memahami ayat diatas maka akan lahir satu pemikiran positif bahwa setiap kita tidak patut melakukan sesuatu yang tidak bermoral. Bagi mahasiswa, budi pekerti yang baik adalah nilai yang harus dipertahankan. Maksudnya mahasiswa harus mampu memahami bahwa perbuatan  demikian adalah sebuah kebodohan. Mahasiswa harus diberikan pembelajaran wahyu secara mendalam, sebagaiman dikatakan Rahner Bahwa, wahyu tidak berdasar pada akal manusia,[6] Pendapat ini juga didukung oleh Nico Syukur Dister, bahwa dalam teologi pembuktian terjadi melalui wahyu yang menghasilkan budi yang diterangi oleh  iman.[7]
Selain itu, Teologi mampu mendorong seseorang memahami tradisi keagamaannya, bahkan tradisi keagamaan lainya, juga mampu membuat perbandingan anatar berbagai tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam situasi atau kebutuhan masa kini dan berbagai alasan lainnya. Olehnya itu, paradigma penelitian Teologi merupakan usaha seseorang dalam meneliti gejala kehidupan yang dilakukan secara sistematis dengan mengikuti aturan-aturan metodologi dan mendasarkan pada teori tertentu sesuai dengan keyakinan beragama.
Yang dimaksudkan dengan teori tertentu adalah teori yang dipakai oleh teologi yang erat kaitannya dengan agama. Artinya tergantung pada pandangan seseorang terhadap agama, melalui hasil pengamatannya, dan menurut penulis sebagaiamana Prof. Dr. Mustari Mustafa Mpd. Dalam seminarnya teori yang dipakai dalam agama adalah teori kritis. Tetapi ini hanya pandangan yang lahir dari pengamatan seorang Prof. artinya dapatpula seseorang berpendapat lain.
b.      Sejarah Penamaan Teologi.
Penamaan teologi sebenarnya bukan berasal dari Islam bukan pula dari Kristen dan Yahudi atau agama lainnya, melainkan berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari bahasa Yunani Helenis yaitu Theologia yang diguanakan dalam literatur Yunani kalsik. Theologia bermakna wacana tentang para dewa atau kosmologi, akan tetapi makna yang sebenarnya telah diubah oleh pemikiran Kristen di Eropa sepanjang abad pertengahan. Para penulis Kristen kemudian mulai mengambil kata Theologia dan menggunakan istilah Theologos untuk menggambarkan studi mereka. Kata Theologos muncul sekali dalam beberaapa naskah al-Kitab dalam judul kitab wahyu “apokalupsis ioannou tou theologou” pernyataan ini kemudian dinisbatkan kepada  Yohanes serhingga disebut san theologis. Namun sekarang tidak lagi merujuk pada Yohanes  sang thelog. Akan tetapi sudah menggunakan arti kata logos sehingga agak sedikit berbeda peribahasanya dan tidak dimaksudkan pada wacana rasional. Melainkan dalam arti “Firman” atau “Pesan” dengan demikian sang telogos disini dmaksudkan sebagai seseorang yang menyampaikan firman Allah (Logoi Tou Theou).[8]
2.      Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
Setiap penelitian sudah tentu memiliki fungsi, fungsi itulah yang memberikan konotasi manfaat terhadap sesuatu yang diteliti guna memperbaiki akhwal manusia.
Secara fungsional, teologi berfungsi untuk mempertegas keberadaan Tuhan, ajaran-ajaranya agar manusia tidak melakukan penyimpangan serta mampu mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Firman. selanjutnya mendorong manusia untuk mencari metode yang dipakai oleh teologi. Sedangkan secara struktural pendekatan penelitian teologi memosisikan Tuhan sebagai zat yang satu-satunya mutlak benar dan untuk memperkuat itu maka dicarikan paradigma-paradigma rasional yang disesuaikan dengan aturan-aturan ajaran agama yang telah ditetapkan untuk mendukung kebenaran tersebut.
3.      Macam-Macam Pendekatan Teologi.
Penelitian tidak lain adalah art of science, yaitu mencari jawaban dalam menjawab suatu permasalahan. Dalam pembahasan ini terdapat tiga macam pendekatan yang menurut penulis sangat penting untuk diketahui. Adapun pendekatan tersebut diantaranya adalah:
a.       Pendekatan Theologis Normatif.
Teologi normatif ialah usaha memhami agama dengan memakai kerangka ilmu ke-Tuhanan yang bertolak dari keyakinan bahwa wujud nyata dari suatu agama ialah ada dan dianggap sebagai mutlak benar serta harus mengikuti kaidah-kaidah agama.
Muhammad Natsir mengatakan bahwa, pendekatan Normatif ialah pendekatan Teologi-Apologis yaitu cenderung memihak dan objektif sehingga sering mengkalim diri bahwa dialah satu-satunya yang benar semenatara yang lain salah atau minimal keliru. Pendekatan normatif lebih banyak ditemukan dalam karya-karya Orientalis Barat yang cenderung mendiskreditkan Islam. Mc Donal umpamanya, sebagaimana dikutip Muhammad Natsir Mahmud mengatakan bahwa, pada awalnya, Islam adalah Agama Kristen yang  diselewengkan oleh penyakit jiwa (Patologis) Muhammad, Islam hanya produk pemikiran ke-Timuran. Ada dua karateristik pemikiran ketimuran menurut Mc Donal: [9]
-          Menghargai fakta dan di ikuti oleh fantasi yang bebas tetapi pada sisi lain terikat (tidak bebas).
-          Tidak menghargai kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual.
Olehnya itu pendekatan Teologi normatif, melihat agama sebagai kebenaran mutlak dari Tuhan yang bersifat ideal tanpa kekurangan serta dibangun berdasarkan dalil-dalil pada tiap-tiap ajaran agama di dunia.
Bagi Islam pendapat Mc Donal ini keliru, secara harfiah sebenarnya Islam justru sangat menghargai kebebasan berpikir, akan tetapi kebebasan itu bukan bertujuan untuk menyesatkan orang, melainkan kebebasan berpikir dalam membangun keselamatan seluruh manusia. Hal ini justru dinilai kebaikan dalam Islam bagi sipemikir serta memberi kebaikan pula bagi orang yang mengkonsumsi pemikiran itu. jadi bebas berpikir tetapi teratur.
b.      Pendekatan Teologi Dialogis.
Pendekatan Teologi dialogis ialah pendekatan dalam mengkaji agama dengan menggunakan persepsi agama lain, pendekatan seperti ini sering di gunakan oleh Dr. Zakir Naigh dan Gurunya Ahmad Deedat serta beberapa teolog Islam lainya untuk mengkaji agama-agama diluar Islam, penjelasan ini dapat dibuktikan dengan melihat ceramah-ceramah mereka dalam berdebat dengan para ahli dan pendeta-pendeta Kristen. Selain itu pendekatan ini juga banyak di pakai oleh para Orientalis Barat dalam mengkaji Islam.
Seorang Islamolog Barat, Hans Kung, Sebagaiaman di Sinyalir Muhammad Natsir Mahmud, dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. Hans Kung mengkaji Islam menggunakan pendekatan Teologi-dialogis Kung menyajikan pandangan dari perspektif Kristen. Dalam melengkapi komentarnya Kung mengajukan pertanyaan bahwa apakah Islam merupakan jalan keselamatan ?, pertanyaan ini menjadi tolak ukur dalam melihat apakah Islam adalah Agama yang menyelamatkan penganutnya.
Bila dilihat dari teologi Kristen memang ajaran yang dibawa oleh gereja sebagaimana perkataan-perkataan para pastor dalam ceramah-ceramah mereka selalu mengatakan agama Kristen adalah agama keselamatan, tidak ada keselamatan diluar gereja, bahkan menurut keyakinan Kristen mereka sudah ditebus Dosanya oleh yesus sang pembaptis. Maka wajar Kung berpendapat demikian. namun Islam justru menilai bahwa Kung keliru terhadap Islam, Kung belum mengkaji Islam secara mendalam dengan Pikiran sehatnya melainkan masih dengan nafsu kebencian terhadap Islam.
c.       Pendekatan Teologi Konvergensi.
Metode pendekatan Teologi Konvergensi adalah pendekatan dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama. Penulis menilai pendekatan ini cenderung objektif daripada beberapa pendekatan sebelumnya, pendekatan ini lebih menjurus pada “Pela Gandong” atau “Poasa-asa” sehingga cenderung saling menghargai.
Berkaitan dengan pendekatan ini Wilferd Contwell Smith penganut pendekatan Teologi Konvergensi dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. menginginkan penganut agama-agama dapat menyatu bukan hanya permasalahan sosial dan praktis tetapi juga Teologi. Smith mencoba membuat pertanyaan, dimana letak titik temu keyakinan agama-agama sehingga dapat mencapai sebuah konvergensi. Ternyata Smith menemukan perbedaan penganut-penganut agama pada Belief dari masalah Belieflah sering menimbulkan konflik, sebaliknya dalam Faith umat beragama dapat menyatu.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad pernah diminta untuk beribadah mengikuti Agama dan menyembah Tuhan orang-orang Quraisy  dan pada waktu yang lain orang-orang Quraisy pergi beribadah di tempat Ibadahnya orang-orang Islam, atas peristiwa inilah turunlah ayat yang kemudian di abadikan dalam al-Qur’an Surat al-Kafirun, penulis hanya menyebut satu ayat yang artinya “untukmu Agamamu dan untukku Agamku” jadi dari dulu memang pada belief tidak bisa saling menyatu tetapi bisa saja saling menghargai perbedaan untuk tidak saling menghina agama masing-masing. Berbeda dengan masalah-masalah sosial, Nabi Muhammad justru memberi hak hidup dalam Negara Islam pada orang-orang yang diluar agama Islam seperti Yahudi, nasrani dan majusi untuk tinggal di Kota Yastrib atau Madinah sekarang saat itu, jika berpikir subjektif mungkin agama-agama yang diluar islam akan di siksa atau di perangi apalagi Nabi Muhammad saat itu adalah kepala Negara. Tetapi Nabi Muhammad justru tidak berlaku zalim terhadap orang-orang yang beragama diluar islam.
Jadi pada permasalahan-permasalahan sosial dari para penganut agama mungkin dapat bersatu, namun masalah Aqidah tidak.
Berbeda ketika Pendekatan Teologi Normatif diterapkan dalam Agama Islam, bahkan menurut penulis justru lebih pas pendekatan ini diterapkan pada aliran-aliran dalam islam sehingga mereka bisa saling menghargai perbedaan dalam memahami nash-nash Islam agar tidak terjadi konflik sesama. Apakah itu konflik perang ataukah konflik intelektual hingga sampai pada tingkat saling mengfitnah.

 



[1]KBBI, Versi, 2.0.0.
[2]Mustari Mustafa, Seminar Kuliah Paradigma Penelitian Sosial Pada Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial dan Agama, Makassar, 27/03/2016.
[3]Cholid Narbuko dan H. Abu Achmadi, Metododlogi penelitian, (Cet 12; Jakarta: Bumi Aksara, 2012)., h. 1.
[4] Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama Titik Temu Akal dengan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)., h. 10/
[5] Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: UI Press, 1972)., h. ix.
[6]Amtsal Bahtiar, Filsafat Agama, Wisata Pem,ikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)., h. 16.
[7]Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi (Cet 3; Jakarta: Kanisius, 1994)., h. 34.
[8] http:www// Wikipedia bahasa Indonesia. com.
[9] Taufik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat (Jakarta: Pustaka Firdaus)., h. 105.