Wednesday, 23 November 2016

Riwayat hidup dan kritik al-ghazali Terhadap filsafat




I. PENDAHULUAN
  Latar Belakang
Al-Ghazali adalah seorang tokoh pemikir Islam dan sekaligus tokoh pemikir kemanusiaan secara umum. Dia juga salah seorang yang berotak cemerlang yang memiliki berbagai keunggulan dan jasa dalam berbagai aspek. Salah seorang tokoh di masanya yang sangat menguasai ilmu agama. Ilmu pengetahuan yang dikuasainya mencakup Fiqih, Ushul, Ilmu Kalam, Logika (Mantiq), Filsafat, Tasawuf, Akhlak dan yang lain. Dia telah menyusun buku tentang semua bidang tersebut yang telah diakui kedalamannya, orisinalitas, ketinggian dan memiliki jangkauan yang panjang.
Al-Ghazali seperti yang diketahui dari beberapa literatur adalah sosok yang banyak melakukan perjalanan ke berbagai daerah yang begitu luas. Dia telah menggeluti dan mengkaji pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat dan teologi, kebatinan, mistisisme atau sufi. Oleh karena itu, dia adalah seorang sarjana, filosof, sekaligus ahli kalam.
Sosok al-Ghazali merupakan seorang tokoh kontroversial yang sering mengundang berbagai polemik mengenai ajaran-ajaran, pemikiran dan karyanya. Ada yang menyanjungnya dan sebagian yang lain memandangnya sebelah mata. Mayoritas umat Islam hingga dewasa ini menyanjungnya bahkan secara berlebihan, beberapa karyanya masih banyak menghiasi dunia pemikiran Islam. Sementara sebagian kalangan berpendapat bahwa Al-Ghazali, melalui karya-karyanya di bidang teologi dan filsafat, juga turut andil tidak hanya dalam menghancurkan filsafat metafisika, akan tetapi dalam melemahkan umat islam dalam mengadakan riset dan penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu sangat menarik untuk membahas lebih dalam lagi mengenai sosok al-Ghazali sebenarnya dan bagaimana perjalanan hidupnya, kontroversial pemikirannya dan karya-karyanya. Namun dalam tulisan ini, penekanan akan lebih ditujukan pada persoalan Riwayathidup dan kritik Al-Ghazali terhadap filsafat.
B.     Rumusan Masalah
.sebagaimana telah dijelaskan pada latar belakang diatas dengan paparan yang begitu luas, yaitu al-Ghazali banyak menekuni dunia ilmu dan bukan hanya itu, tapi juga menkritikinya jika ilmu itu bertentangan dengan kaidah wahyu. Dengan itu, untuk membatasi peramasalahan agar tidak terlalu meluas juga bias terarah pada kajiannya, maka penulis merumuskan masalah, adapun masalah tersebut ialah sebagaimana dibawah ini:
1.      Bagaimana Riwayat Hidup al-Ghazali.
2.      Seperti apa Kritik al-Ghazali Terhadap Filsafat.
C.     Tujuan Penulisan
Tulisan ini dimaksudkan selain untuk memberikan pemahaman juga memberikan penjelasan sehingga  penulis maupun pembaca dan pendengar dapat mengetahui:
1.      Riwayat Hidup al-Ghazali, dan
2.      Kritik al-Ghazali Terhadap Filsafat.




II. PEMBAHASAN
 1.      LATAR BELAKANG KEHIDUPAN AL-GHAZALI
A.           Riwayat Hidup Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah seorang pemikir yang sangat jenius, karena kejeniusannya al-Ghazali dapat meraih gelar Hujjah al-Islam (Pembela Agama), Zain al-Din (Hiasan Agama), Bahrun Muhriq (Lautan tak Bertepi). Nama lengkap al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali Al-Thusi, namanya kadang diucapkan Ghazali dengan dua Z, artinya tukang pintal benang, karena pekerjaan ayah Al-Ghazali ialah tukang pintal benang. Sedangkan yang lazim disebut ialah Ghazali dengan satu Z, yang diambil dari kata Gazalah nama kampung kelahirannya. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H/1058 M, di desa Thus, wilayah Khurasan ( Iran ). [1] Ayahnya bernama Muhammad.
Setelah al-Ghazali menikah ia dikaruniai seorang anak laki – laki yang bernama Hamid, maka beliau dipanggil dengan panggilan akrab “Abu Hamid” (Bapak Si Hamid). Dengan itulah al-Ghazali dipanggil Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali. Walau kehidupan keluarga al-Ghazali serba kekurangan namun ayah al-Ghazali sangat memperhatikan pendidikan anak – anaknya.[2] Saat ayah al-Ghazali meninggal, ayah al-Ghazali berwasiat kepada seorang sahabatnya sufi agar memberikan pendidikan kepada kedua anaknya, Ahmad dan al-Ghazali. 
Al-Ghazali wafat pada 14 Jumadil al-Akhir tahun 505 H ( 19 Desember 1111 M) setelah melalui zaman dalam kehidupan yang indah al-Ghazali mengakhiri hayatnya di tempat permulaanya.[3] Al-Ghazali  hidup hanya berumur 55 tahun.
Jenazah al-Ghazali di kebumikan di makam al-Thabiran, berdekatan dengan makam al-Firdaus seorang ahli sya’ir yang termahsyur, sebelum meninggal ia pernah mengucapkan kata–kata yang kemudian diucapkan kembali oleh Francis Bacon seorang filosof Inggris, yaitu: “Kuletakan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa depan”.[4]

B.       Kehidupan Sosial
Pada masa mudanya al-Ghazali bertepatan dengan munculnya para cendekiawan, baik dari kalangan bawah, menengah sampai elit, kehidupan saat itu menunjukan kemakmuran tanah airnya, keadilan para pemimpinnya, dan kebenaran para ulamanya. dunia tampak tegak disana, sarana kehidupan mudah didapatkan, masalah pendidikan sangat diperhatikan dan biaya hidup para penuntut ilmu ditanggung oleh pemerintah dan pemuka masyarakat.[5]
Dengan perantara al-Juwaini, al-Ghazali berkenalan dengan Nizam al-Mulk, Perdana Mentri Sultan Saljuk Malik Syah, Nizam al-Mulk adalah pendiri dari Madrasah – Madrasah al-Nizamiah. Di tahun 1091 M. Al-Ghazali diangkat menjadi guru pada Madrasah al-Nizamiah Bagdad. Al-Ghazali dalam sejarah filsafat Islam dikenal dengan seorang yang pada mulannya syak terhadap segala – galanya, perasaan syak ini timbul dalam dirinya  dari pelajaran ilmu al-Kalam atau Teologi yang diperolehnya dari al-Juwaini, sebagai diketahui dalam ilmu al-Kalam terdapat beberapa aliran yang saling bertentangan. Sehingga timbullah pertanyaan dalam diri al-Ghazali: aliran manakah yang betul – betul benar diantara semua aliran itu.?[6]
C.       Pendidikan
Sebelum ayah al-Ghazali wafat beliau mewasiatkan al-Ghazali dan saudaranya Ahmad kepada sahabatnya seorang sufi dengan harapan agar kedua anaknya menjadi seorang fakih dan memberi nasehat kepada sesamanya. Namun setelah harta warisan ayahnya habis digunakan untuk biaya pendidikan sedang sahabatnya dalam keadaan melarat pula maka tidak ada jalan lain kecuali menganjurkan kepada kedua anak itu untuk masuk asrama (dengan ongkos percuma). Asrama yang dimaksud adalah asrama yang di dirikan oleh Perdana Mentri Nizam al-Mulk di kota kabupaten yang bernama Thus.[7] Berawal dari sinilah al-Ghazali dan saudaranya menimba ilmu pengetahuan. Kesempatan emas ini dimanfaatkan al-Ghazali untuk memperoleh pendidikan setinggi tingginya. Al-Ghazali Belajar di beberapa kota antara lain:
a.         Thus.
Pada masa kecilnya, kota Thuslah Mula–mula al-Ghazali belajar Agama sebagai pendidikan dasar, al-Ghazali belajar ilmu fikhi dengan tekun dari Syeh Ahmad bin Muhammad al- Razikani, hinga mencapai umur 20 tahun. Kemudian belajar ilmu tasawuf kepada Yusuf al-Nassaj seorang sufi terkenal waktu itu. Kedua ilmu ini sangat berkesan di hatinya dan bertekad untuk lebih memperdalamnya.[8] Pada awal studinya al-Ghazali mengalami suatu peristiwa menarik yang kemudian mendorong kemajuannya dalam pendidikannya, suatu  hari Al-Ghazali dihadang oleh segerombolan perampok, mereka merampas semua bawaan al-Ghazali, termasuk catatan kuliahnya, al-Ghazali meminta perampok itu agar mengembalikan catatannya yang baginya sangat bernilai, kepala perampok malah menertawakannya dan mengejeknya, sebagai penghinaan terhadap al-Ghazali yang ilmunya hanya tergantung pada beberapa helai kertas saja. Tanggapan al-Ghazali terhadap peristiwa itu positif, ejekan itu digunakan untuk mencambuk dirinya dan menajamkan ingatannya dengan menghafal semua catatan kuliahnya selama tiga tahun. [9]
b.        Jurjan
Pada tahun 470 H, al-Ghazali berangkat ke Jurjan untuk melanjutkan pelajaranya dan berguru kepada Imam Abi Nashr al-Ismaili.[10] Kemudian setelah beberapa lama di kota tersebut al-Ghazali kembali lagi ke Thus selama satu tahun, setelah itu terbesiklah hatinya untuk lebih memperdalam ilmunya dan mencari sekolah yang lebih tinggi.
c.       Naisabur
Pada tahun 471 H, al-Ghazali berangkat pula ke Naisabur memasuki Akademi Nizamiyah, dengan pimpinanya termahsyur dalam ilmu pengetahuan agama bernama Abu Ma’alin Phisauddin al-Juwaini yang diberi gelar kehormatan dengan “Imam Haramain” ( Imam dari dua kota Makkah dan Madinah ). Dari beliau inilah al-Ghazali memperoleh ilmu pengetahuan agama yang bermacam – macam, seperti ilmu fiqhi, ushul fiqhi, ilmu kalam dan filsafat secara terus menerus sehingga ia mampu bertukar pikiran dengan segala aliran dan agama, bahkan mulai mengarang buku –buku ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu.[11] Hubungan al-Ghazali dengan gurunya ini sangat dekat, hanya kematian yang memisahkan ia dengan gurunya.
Disanalah mulai kelihatan tanda–tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa  itu seperti ilmu mantik ( logika ), dan fiqhi madzab Imam Syafi’i. Imam Haramain amat berbesar hati dan selalu mengatakan al-Ghazali itu lautan yang tak bertepi (Bahrun Muhrik ) dan pada usia yang begitu muda, yakni baru mencapai umur 25 tahun, al-Ghazali diangkat menjadi dosen pada universitas Nizamiyah tersebut oleh Imam Haramain dari tahun 475 – 479 H.[12]
d.        Bagdad
Setelah kematian gurunya Imam Haramain pada tahun 479 H. Mentri Nizam al–Mulk salah seorang Mentri dari kesultanan Saljuk Malik Syah sultan Turki yang berkuasa pada pemerintahan Daulat Abasiyah dari Bagdad mengundang al-Ghazali, Pada prinsipnya al-Ghazali memenuhi undangan tersebut dengan harapan agar dapat menimba ilmu dari ulama – ulama yang ada di kota Bagdad itu, setibanya di kota Bagdad al-Ghazali disambut dan dipertemukan dengan ulama-ulama setempat. Al-Ghazali kemudian diangkat menjadi Rektor oleh Presiden Nizam al-Mulk untuk menggantikan gurunya yang telah meninggal, dikala itu usiannya baru mencapai 28 tahun. Karena kecerdasannya al-Ghazali juga diangkat menjadi guru besar pada universitas Nizamiyah. Dengan demikian dalam usia 33 tahun al-Ghazali telah memperoleh kedudukan yang tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan pada masanya.
Selama di Bagdad al-Ghazali terus melakukan pengkajian dan pendalaman ilmu seperti membaca kitab al-Farabi dan Ibnu Sina, disamping mengkaji berbagai pemikiran yang berkembang ketika itu seperti teologi, filsafat, aliran bathiniyyah, dan ajaran sufi, terjadilah sejumlah peristiwa menyedihkan, diantaranya terbunuhnya Perdana Mentri Nizam al-Mulk pada tahun 485 H/1092 M yang dibunuh oleh seorang pemuda dari kalangan bathiniyyah, dan setahun kemudian disusul pula dengan meninggalnya Sultan Malik Syah. Keduannya merupakan tulang punggung al-Ghazali bagi kelancaran perbaikan dalam lapangan pendidikan, agama, dan bidang politik pemerintahan. Begitu juga, perang saudara yang terjadi antara putra–putri Sultan dengan Perdana Mentri dalam memperebutkan kekuasaan. Setelah lima tahun al-Ghazali mengundurkan diri dan berhenti mengajar di Madrasah Nizamiyah hal ini sesuai dengan keterangan yang dimajukan oleh H. Zainal Abidin Ahmad sebagai berikut: Dimasa–masa mengajarnya, kekuasaan diganti dengan perang saudara antara mereka yang berselisih untuk menduduki Tahta Saljuk ( Turki ) sesudah meinggalnya Malik Syah, yang dibangkitkan putra-putri Nizam al-Mulk bernama Fakhrul al-Mulk dan Muaiyid al-Mulk, suatu perang saudara yang berlangsung selama bertahun–tahun dan di akhiri semacam kelumpuhan politik yang mengakhiri dominasi Saljuk dan merubahnya menjadi beberapa Negara kecil dan kehancuran besar setelah meninggalnya.[13] Pada periode ini pula ia menderita krisis rohani sebagai akibat sikap kesangsiannya ( Syak ) yang oleh orang barat dikenal skeptisisme. Akibat sakit ini ia menderita sakit selama 6 bulan sehingga dokter kehabisan daya mengobatinya.
e.         Makkah
Karena peristiwa itu al-Ghazali memutuskan untuk meletakan jabatan yang di pangkunya seperti Rektor dan Guru besar di Bagdad, ia mengembara ke Damaskus, mengisolasi diri ( ‘Uzlah ) untuk beribadah selama dua tahun. Lalu pada tahun 490 H/1098 M, ia menuju Palestina berdoa disamping kuburan Nabi Ibrahim a.s. kemudian ia berangkat menuju tanah suci Makkah al-Mukarramah guna menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah Salallhu ‘Alaihi Wasallam, akhirnya ia terlepas dari goncangan jiwa ini dengan jalan Tasawuf.[14]
Hanya 4 tahun al-Ghazali menjadi Rektor di Universitas Nizamiyah, selain karena peristiwa perang saudara, al-Ghazali mulai mengalami krisis rohani, krisis keraguan yang meliputi akidah dan semua jenis ma’rifat. Secara diam–diam al-Ghazali meninggalkan Bagdad menuju Syam, agar tidak ada yang menghalangi kepergiannya baik dari penguasa ( khalifah ) maupun sahabat dosen Universitasnya. Al-Ghazali berdalih akan pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji, dengan demikian amanlah dari tuduhan bahwa kepergiannya untuk mencari pangkat yang lebih tinggi di Syam. Selama dua tahun al-Ghazali menjadi hamba Allah yang betul – betul mampu mengendalikan gejolak–gejolak hawa nafsunya ia menghabiskan waktunya untuk khalwat, ibadah dan I’itikaf disebuah masjid di Damaskus, berzikir sepanjang hari di Menara, untuk melanjutkan taqarrubnya kepada Allah swt. Al-Ghazali kemudian pindah ke Baitul Maqdis. Disinilah al-Ghazali baru tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah swt dalam menjalankan ibadah haji.[15]
Dari uraian diatas terlihat bahwa al-Ghazali selama hidupnya selalu haus akan ilmu pengetahuan, beliau berkelana dari satu kota ke kota yang lain hanya bertujuan untuk belajar, mengabdi dan mencari kebenaran serta ketentraman hidup.
2.      KRITIK AL-GHAZALI TERHADAP FILSAFAT
Al-Ghazali adalah orang yang pertama kali dalam sejarah Islam yang mempelajari filsafat untuk kemudian mengkritiknya. Hasil pembacaannya terhadap filsafat ia bukukan dalam bukunya maqashid al-falasifah. Buku ini ia maksudkan sebagai pengantar kritiknya terhadap filsafat yang ada dalam buku selanjutnya, tahafut al-falasifah. Al-Ghazali menjelaskan dalam karyanya tersebut, bahwa lapangan filsafat ada enam, yaitu matematika, logika, fisika, metafisika, politik dan etika. Masing-masing disiplin ilmu tersebut memiliki pola relasi yang tidak tunggal terhadap agama; ada yang tidak bertentangan sama sekali dengan agama, dan ada pula yang bertentangan.
Penulis sebelum lebih jauh membahas kritiknya, perlu diketahui bahwa al-Ghazali menjadikan dalil Syar’i sebagai rujukan utama, untuk mengkritiki filsafat al-Ghazali menulis sebuah buku yang berjudul “Tahafu al-Falasifah” dari segi bahasa, Tahafut berarti keguguran dan kelemahan. Orang mengatakan, tahafata’ts-tsaubu, artinya : kain jatuh dan rusak. Yang dimaksudkan ialah bahwa para filosof telah jatuh mati akibat tikaman maut yang diarahkan oleh al-Ghazali terhadap pemikiran mereka. Pada hakikatnya, tikaman itu memang mematikan, mengenai inti masalah sehingga ilmu filsafat tidak lagi muncul sesudah itu (di dunia Islam), kendatipun adanya upaya mati-matian dari Ibn Rusyd untuk mempertahankannya. Namun apakah penjelasan ini benar, belum tentu, sebab sekarang nyatanya orang masih lagi belajar ilmu filsafat, dan perlu dikaji secara mendalam. Al-Ghazali menulis buku Tahafutnya ketika ia sedang dalam fase skeptis ringan (asy-syakk al-khafif), yaitu ketika ia belum mendapat petunjuk pada hakekat kebenaran. Tahafut al-falasifah adalah kitab yang disusun oleh al-Ghazali saat ia menjabat di Madrasah Nizamiyah Bagdad. Isi dari tahafut al-falasifah adalah sanggahan-sanggahan al-Ghazali pada hasil pemikiran filsafat Yunani yang dibawa oleh Ibnu sina dan Ibnu Arabi’.[16]
 Sebenarnya logika al-Ghazali dalam mengemukakan pendapatnya bukanlah hal yang asing bagi kita, karena para ilmu kalam abad pertengahan yang diajarkan di kampus juga menggunakannya dalam menjelaskan persoalan ilmu tauhid.
Paling tidak dua pertanyaan dapat diajukan untuk memulai kajian kitab Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filosof) karya Imam al-Ghazali; 1. Apakah benar serangan al-Ghazali, seperti tertera dalam kitab Tahafut al-Falasifah, telah membuat filsafat dan pemikiran rasional serta ilmu pengetahuan kemudian tidak berkembang di dunia Islam? 2. Bagaimana sebenarnya sikap al-Ghazali terhadap filsafat?
Untuk mencari jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut terlebih dahulu dikaji apa sesungguhnya yang mendorong al-Ghazali mempelajari filsafat dan kemudian menulis bukunya: Maqashid al-Falasifah dan Tahafut al-Falasifah. Juga dari kitab-kitabnya, terutama Tahafut al-Falasifah yang sedang dikaji ini, dapat diketahui inti kritik al-Ghazali terhadap para filosof. Dari situ selanjutnya dapat diketahui secara induktif apakah betul bahwa filsafat tidak berkembang lagi di dunia Islam setelah ada kritik keras al-Ghazali terhadap para filosof itu?
Seperti diketahui, sebelum melakukan kritiknya terhadap filsafat, al-Ghazali terlebih dahulu mempelajari filsafat (baca: filsafat Yunani) secara khusus. Hasilnya, dia mengelompokkan filsafat Yunani menjadi tiga aliran, sebagaimana keterangan Sulaiman Dunya,[17] yaitu:
a.       Dahriyyun (mirip aliran materialisme),
b.      Thabi’iyyun (mirip aliran naturalis),
c.       Ilahiyyun (nirip aliran Deisme).
Menurut al-Ghazali, yang pertama, Dahriyyun, mengingkari keterciptaan alam. Alam senantiasa ada dengan dirinya sendiri, tak ada yang menciptakan. Binatang tercipta dari sperma (nutfah) dan nutfah tercipta dari binatang, begitu seterusnya. Aliran ini disebut oleh al-Ghazali sebagai kaum Zindik (Zanadiqah). Aliran yang kedua, yaitu Thabi’iyyun, aliran yang banyak meneliti dan mengagumi ciptaan Tuhan, mengakui adanya Tuhan tetapi justru mereka berkesimpulan “tidak mungkin yang telah tiada kembali”. Menurutnya, jiwa itu akan mati dan tidak akan kembali. Karena itu aliran ini mengingkari adanya akhirat, pahala-surga, siksa-neraka, kiamat dan hisab. Allah berfirman, “Jangan kau kira orang yang terbunuh di jalan Allah mati, bahkan mereka hidup di sisi Allah, mendapatkan rezeki dan gembira” (QS: Ali Imran 169). Menurut al-Ghazali, meskipun aliran ini meng-imani Tuhan dan sifat-sifat-Nya, tetapi juga temasuk Zanadiqah karena mengingkari hari akhir yang juga menjadi pangkal iman.
Aliran yang ketiga, Ilahiyyun, ialah kelompok yang datang paling kemudian diantara para filosof Yunani. Tokoh-tokohnya adalah Socrates, Plato (murid Socrates) dan Aristoteles (murid Plato). Menurut al-Ghazali, Aristoteles-lah yang berhasil menyusuan logika (manthiq) dan ilmu pengetahuan. Tetapi masih terdapat beberapa hal dari produk pemikirannya yang wajib dikafirkan sebagaimana wajib mengkafirkan pemikiran bid’ah dari para filosof Islam pengikutnya seperti Ibnu Sina dan al-Farabi.
Menurut al-Ghazali, pemikiran filsafat Yunani seperti filsafat Socrates, Plato, dan Aristoteles, bahkan juga filsafat Ibnu Sina dan al-Farabi tidak sesuai dengan yang dicarinya, bahkan kacau (tahafut). Malahan ada yang bertentangan dengan ajaran agama, hal yang membuat al-Ghazali mengkafirkan sebagian pemikiran mereka itu. Seperti tertulis dalam kitab Tahafut al-Falasifah, kritik al-Ghazali terhadap para filosof itu terdapat dalam dua puluh (20) masalah yaitu: kelompok Pendapat para Filosof berisi tentang:[18]
1.      Sanggahan terhadap teori keabadian (abadiyah) Alam, masa dan ruang. Disini al-Ghazali menyanggah teori emanasi Ibnu Sina. Bagi al-Ghazali Alam adalah sesuatu yang baru (hudust) dan bermula dan yang qadim hanyalah satu yaitu Allah.
2.      Sanggahan terhadap teori keabadian (abadiyah) Alam, masa dan ruang. Seperti yang kita tahu dalam filsafat; benda(materi), masa(waktu) dan ruang adalah timbul pada saat bersamaan dengan materi, masa adalah ukuran jarak waktu dari materi dan ruang adalah dimana materi berada. Bagi filsuf benda (materi) itu abadi (mungkin sama dengan keabadian energy dalam fisika). al-Ghazali membantah keniscayaan tersebut, baginya jika Allah berkehendak untuk menghancurkan Alam dan meniadakannya (I’dam) maka hancurlah Alam ini dan tiada pulalah ia.
3.      Kerancuan para filsuf dalam menjelaskan bahwa Tuhan adalah pencipta alam dan alam adalah ciptaannya, dan keterangan bahawa hal tersebut adalah majaz (perumpamaan) dan bukan hakikatnya. Disini kritik al-Ghazali lebih pada pendapat filsuf yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat. Dan jika Allah adalah pencipta seperti apa yang kita ketahui selama ini, maka pencipta haruslah berkehendak terlebih dahulu, yang memilih (dan mengetahui dengan apa yang dikehendakinya. Sehingga Tuhan menjadi Fâil (Pelaku) akan apa yang dikehendakiNya. Dan bagi para Filsuf Tuhan tiadalah dzat yang berkehendak karena kehendak adalah sifat sedangkan Tuhan adalah dzat yang suci dari segala sifat. Dan sesuatu yang timbul dari-Nya adalah sesuatu konsekwensi yang mesti (luzum dlaruri).
4.      Ketidakmampuan Filsuf untuk membuktikan ada(wujud)nya pencipta alam. Disini al-Ghazali mempertanyakan tesa yang menyatakan bahwa Alam qadim, tapi ia diciptakan. Dan bagi al-Ghazali ini adalah perpaduan pendapat antara ahlu al-haq yang menyatakan alam adalah hadist, dan yang hadist pasti ada penciptanya dan kaum Atheis (Dahriyah) yang menyatakan bahwa Alam adalah qadim maka ia tidak membutuhkan pencipta. Bagi al-Ghazali pendapat para filsuf tersebut secara otomatis batal.
5.      Kelemahan para filsuf dalam mengemukakan dalil (rasional) bahwa Tuhan adalah satu dan kemustahilan adanya dua Tuhan, wajib al-wujud, yang masing-masing tiada illah (sebab). Al-Ghazali menantang segala hal dalam pembuktian para filsuf tersebut. Bagi al-Ghazali yang ditolak adalah logika-logika yang dipakai dan bukan pada subtansi persoalan.
6.       Sanggahan tentang tiadanya sifat bagi Tuhan. Bagi para filsuf, Tuhan harus dibersihkan dari segala berkehitungan (muta’addidah), termasuk segala sifat yang oleh kaum asy-‘Ariyah selama ini dilekatkan pada Tuhan. Jika sifat ada bersamaan dengan Tuhan maka ada saling ketergantungan antar keduanya, dualisme Tuhan adalah hal yang mustahil, apalagi jika ditambah  dengan af’al. Al-Ghazali menolak argument ini, dan menyatakan kelemahan pendapat para filsuf tentang ketiadaan sifat Tuhan. Bagi al-Ghazali hal ini ditolak karena sifat adalah hal yang niscaya ada pada dzat tapi bukan berarti ia menjadi sesuatu yang lain dari dzat.
7.      Sanggahan terhadap teori bahwa dzat Tuhan mustahil didefinisikan. Para Filsuf berpendapat definisi itu mengandung dua aspek; jins (genus) dan fashl (diferensia), dan Tuhan adalah dzat yang tidak mungkin ber-musyarakah dalam jins dan ia tidak dibagi dalam fashl. Keduanya adalah komposisi dan Tuhan mustahil berkomposisi. Bagi al-Ghazali bisa saja komposisi bagian-bagian itu terjadi dari segi definitive. Hal ini karena al-Ghazali menerima adanya sifat-sifat bagi Tuhan.
8.      Batalnya pendapat Filsuf: Wujud Tuhan sederhana, maksudnya wujud Tuhan adalah wujud yang murni, bukan mahiyah (hakikat sesuatu-al-kautsar) dan bukan hakikat yang wujud Tuhan disandarkan padanya. Tapi wujud al-wajib seprti mahiyah bagi yang lainnya. Al-Ghazali menyangkal semua analogi folosuf baik tentang mahiyah, hakikat, dan wujud al-wajib yang menurut al-Ghazali mengulangi kerancuan yang sama. Al-Ghazli mempertanyakan segala metode yang dipakai dalam menelurkan pemikiran tersebut dan menganggapnya sebagi suatu kesalahan para filsuf.
9.      Ketidakmampuan filsuf untuk membuktikan, dengan argumen rasional bahwa Tuhan bukan tubuh (jism). Hal ini berangkat dari adanya tubuh eternal (jism qadim) yang diterima oleh kalangan Filsuf. Hal ini bagi al-Ghazali adalah hal yang rancu karena jism adalah hadist karena ia tersusun dari diferensia (fashl-fashl). Jika Filsuf mengelak dengan mengatakan bahwa wajib al-Wujud adalah satu jadi ia tidak dapat dibagi-bagi seperti yang lainnya. Hal ini pun menurut al-Ghazali adalah logika yang dipaksakan karena hal itu berangkat dari persepsi tentang kemustahilan komposisi (tarkib), dan penolakan terhadap komposisi didasarkan pada penolakan terhadap mahiyah (kuiditas).
10.  Ketidakmampuan Filsuf untuk membuktikan , melalui dalil rasional, adanya sebab atau pencipta alam. Hal ini bagi al-Ghazali masih berupa kerancuan para Filsuf yang mempertahankan pendapat tentang ke qadim an Alam tapi ia diciptakan. Menurut al-Ghazali mengapa mereka tidak berkata seperti kaum Atheis saja yang mengatakan Alam itu qadim dan tiada memerlukan pencipta, karena suatu sebab hanya diperlukan bagi hal yang bermula di dalam waktu (hadist).
11.  Kelemahan pendapat para filsuf yang mengatakan bahwa Tuhan mengetahui yang lainnya dan bahwa Dia mengetahui Species (al-anwa) dan Genera (jins) secara universal (bi naui kulliat). Para filsuf mengatakan bahwa Tuhan mengetahui al-Anwa dan al-Jins secara kulliat karena emanasi yang terjadi padanya hanya secara universal bukan individu-individu atau pribadi-pribadi. Akan tetapi al-Ghazali memberikan sanggahan bahwa Tuhan menciptakan alam dengan Kehendaknya, maka alam menjadi objek kehendak, sangat mustahil objek kehendak tidak diketahui oleh yang berkehendak.
12.  Ketidakmampuan para filsuf untuk membuktikan bahwa Tuhan juga mengetahui Dirinya sendiri. Persoalan ini berpangkal pada pendapat para filsuf yang mengatakan bahwa alam beremanasi secara alami, bukan atas kehendak, seperti emanasi sinar matahari dari matahari. Sanggahan yang diberikan oleh al-Ghazali adalah apabila sesuatu yang beremanasi dari Tuhan mengetahui dirinya sendiri bagaimana mungkin Tuhan sebagai asal emanasi tidak mengetahui diri-Nya sendiri, karena Tuhan menyadari akan adanya emanasi tersebut, sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.
13.  Gugurnya pendapat para Filsuf bahwa Tuhan tidak mengetahui Partikularia-partikularia yang dapat dibagi-bagi sesuai dengan pembagian waktu ke dalam telah, sedang dan akan. Pendapat para filsuf bahwa Pengetahuan mengikuti objek pengetahuan, apabila objek berubah, maka pengetahuan juga berubah, apabila pengetahuan berubah maka subjek pun juga berubah. Perubahan yang terjadi pada suatu benda akan menyebabkan pengetahuan atas benda itu juga berubah demikian juga subjek yang mengetahui perubahan itu. Akan tetapi, mustahil Tuhan berubah karenanya Ia tidak mengetahui perubahan-perubahan sesuatu yang terjadi dalam waktu.
14.  Ketidakmampuan para filsuf untuk membuktikan bahwa langit adalah makhluk hidup (hayawan), dan mematuhi Tuhan melalui geraknya. Langit adalah makhluk hidup dan mempunyai suatu jiwa yang berhubungan dengan tubuh langit sebagaimana jiwa kita berhubungan dengan tubuh kita. Ini dibuktikan dengan adanya gerak langit. Gerak langit bukanlah gerakan alam. (at-tabi’iyyah), bukan pula gerakan terpaksa (digerakkan oleh yang lain) akan tetapi gerakan volisional (irady wa nafsany). Mengenai ungkapan ini, al-Ghazali menyatakan bahwa langit bukanlah makhluk hidup, karena Gerakan langit adalah gerakan paksaan dan kehendak tuhan sebagai prinsipnya.
15.  Sanggahan terhadap yang filsuf sebut tujuan yang menggerakkan langit. Gerakan langit menurut para filsuf bertujuan untuk taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah. Pengertian yang dimaksud adalah mendekatkan diri dalam hal sifat-sifat bukan dalam hal ruang, sebagaimana kedekatan malaikat pada-Nya, karena ada-Nya sebagai wujud yang sempurna berbeda dengan bertentangan dengan segala sesuatu yang tidak sempurna. Dan malaikat-malaikat yang dekat (al-muqarrabun) adalah sesuatu yang mendekati kesempurnaan-Nya. Kesempurnaan langit didapat melalui penyerupaan (tasyabbuh) dengan Prinsip Pertama melalui ; penempatan yang sempurna dalam semua posisi yang mungkin baginya. Sanggahan yang diberikan oleh al-Ghazali seperti yang diungkapkannya pada persoalan sebelumnya (14). Ia menambahkan, bahwa gerakan langit tidak menunjukkan bahwa mereka (langit) bertujuan untuk mendekati kesempurnaan dalam artian kesempurnaan Tuhan, karena tidak ada bedanya antara posisi mereka di suatu tempat dan ditempat yang lain yang menunjukkan kesempurnaan. Semuanya hanya perpindahan posisi saja.
16.  Kelemahan teori para filsuf bahwa jiwa-jiwa langit mengetahui semua partikularia-partikularia yang bermula (al-juziyyat al-haditsah) didalam alam ini. Persoalan ini bermula ketika para filsuf mengatakan bahwa malaikat langit adalah jiwa-jiwa langit, yang menjadi perantara Tuhan dalam mengisi al-lawh al mahfudl. Sanggahan yang diungkapkan oleh al-Ghazali kemudian adalah bagaimana mungkin sebuah makhluk dapat mempunyai pengetahuan tentang partikularia-partikularia (juz’iyyat) yang tak terbatas. Ditambahkan oleh al-Ghazali hal yang paling kacau adalah pernyataan para filsuf bahwa apabila falak mempunyai gerakan-gerakan partikular, maka ia juga mempunyai representasi subordinat-subordinat dan konsekuensi-konsekuensi dari gerakan partikular itu. Seperti seorang manusia yang bergerak mesti mengetahui gerakan-gerakannya dan konsekuensi atas gerakannya dalam hubungannya dengan tubuh-tubuh yang lain atau makhluk-makhluk yang lain dan itu tidak mungkin.
17.  Sanggahan terhadap para Filsuf akan kemustahilan Perpisahan dari sebab alami peristiwa-peristiwa. Menurut al-Ghazali, hubungan yang dipeercaya sebagai sebab dan akibat adalah tidak wajib. Semua hubungan sebab dan akibat terjadi karena memang Tuhan telah menciptakannya demikian adanya. Seperti, Dia kuasa menciptakan kekenyangan tanpa makan, seperti contoh ketika Ibrahim tidak terbakar api. Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali meniadakan panas dari api atau Tuhan telah menciptakan suatu sifat tertentu yang dapat mencegah timbulnya sebuah akibat dari suatu sebab.
18.  Tentang ketidakmampuan para Filsuf untuk memberikan demonstrasi rasional tentang teori mereka bahwa jiwa manusia adalah Substansi spiritual yang ada dengan sendirinya; tidak menempati ruang; bukan tubuh; dan tidak terpateri dalam tubuh; dan ia pun tidak berhubungan dengan tubuh dan tidak pula terpisahkan darinya sebagaimana tuhan tidak di luar alam dan tidak didalam alam dan demikianlah malaikat-malaikat.
19.  Kelemahan tesis para filsuf bahwa setelah terwujud jiwa manusia tidak dapat hancur; dan bahwa watak keabadiannya mambuatnya mustahil bagi kita untuk membayangkan kehancurannya.
Al-Ghazali memberikan sanggahan mengenai hal ini dalam dua segi ; Pertama, dalam persoalan yang ke 18 telah disebutkan oleh para filsuf bahwa jiwa tidak terdapat dalam tubuh, hal ini telah terbantahkan.
Kedua, meskipun mereka tidaka menganggap bahwa jiwa ada dalam tubuh akan tetapi terbukti ada suatu hubungan antara jiwa dengan tubuh, sehingga suatu jiwa bergantung pada wujudnya tubuh. Hubungan antara jiwa dan tubuh suatu syarat bagi eksistensi jiwa.
20.  Sanggahan terhadap penolakan para Filsuf akan kebangkitan tubuh-tubuh. Menurut al-Ghazali, agama telah mengajarkan kita untuk mempercayai kebangkitan kembali (ba’ts wa nusyur) yang akan dibarengi dengan kemunculan kembali kehidupan dan dengan kebangkitan dimaksudkan kembali kebangkitan tubuh-tubuh, dan ini mungkin dengan mengembalikan jiwa kedalam tubuh, karena jiwalah yang membentuk diri kita ini meskipun tubuh selalu mengalami perubahan.[19]
Sebenarnya kritik al-Ghazali ini tidak lain adalah untuk memberi teguran agar orang-orang tidak menanggap bahwa filsafat itu mutlak sempurna.











 III. PENUTUP
1.      Al-Ghazali masih kecil telah ditinggalkan ayahnya, kemudian ditip kepada temanya seorang Sufi untuk menyekolahkannya, al-Ghazali sempat dijambret oleh perampok termasuk catatannya, inilah mencambuk al-Ghazali menghafal catatanya itu, al-Ghazali belajar Thus, Nisafur,Jurjan dan Bagdad, kemudian Imam Haramain mengangkatnya menjadi Rektor pada Universitas Nizamiyah, ia terkena penyakit syak (Skpetis) dan selanjutnya Uzlah maka al-Ghazali mendapat ketenangan pada jalan tasawuf.
2.

Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah kritik al-Ghazali terhadap Filsafat terdapat dua puluh masalah, tiga diantaranya al-Ghazali mengatakan para filosof telah kafir dan tujuh belas diantaranya mengatakan para filosof telah berbuat bid’ah. Al-Ghazali membagi kelompok atas Dahriyyun Thabi’iyyun dan Ilahiyyun. Juga membagi filsafat pada Permasalahan Matematika, Fisika dan Metafisika.



[1]Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan (Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1998), h. 9.
[2]Asrifin, Tokoh – Tokoh Sufi (Surabaya : Karya Utama, t.th.), h. 179.
[3]Burhanudin Tidore, dalam sebuah Jurnal Theologi Dialektika pada Jurusan Aqidah filsafat dan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon (2008):  h. 360.
[4]Al-Ghazali ‘Ihya’ ‘Ulumiddin Terj: Tk. H. Ismail Yakub. Ihya’ Al-Ghazali, Jilid I. (Cet IX; Jakarta: CV Faizan, 1986), h. 25.
[5]Abidin Ibnu Rusn…10.
[6]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam (Cet Ke 8; Jakarta : PT Bulan Bintang, 1992), h. 41.
[7]Duriana, Serangan Al-Ghazali Terhadap Para Filosof dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Filosof Islam (Skiripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Ujung Pandang, 1987), h. 32.
[8]Duriana… 33.
[9]Abidin Ibnu Rusn…10.
[10]Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin… 24.
[11]Fuad Mahbub Siraj, Al-Ghazali Pembela Sejati Kemurnian Islam (Cetakan Pertama; Jakarta: Dian Rakyat, 2012), h. 8.
[12]Fuad Mahbub Siraj... 9.
[13]Fuad Mahbub Siraj…10.
[14]Sirajuddin Zar, Filsafat Ilsam, Filosof dan Filsafatnya, (Cet.4; Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2010), h. 157.
[15]Abidin Ibnu Rusn…12
[16] Mashud Sasakir, “Membongkar Tabir Kerancuan Para Filosof “Tahafut Falasifah” Imam Al-Ghazali”.https://hudcenter.wordpress.com.membongkar-tabir-kerancuan-para-filosof-tahafut-falasifah-imam-al-ghazali.( 1 Maret 2016).
[17]Al-Ghazali, Editor Sulaiman Dunya, Tahafut al-Falasifah, (Cet IV; Mesir: Dar al-Ma’arif,t.th),http://www.pondokpesantren.net/ponpren/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemi d=40), ( 2 April 2016).
[18]Al-Ghazali, Editor Sulaiman Dunya, Tahafut al-Falasifah, ( 2 April 2016).
[19]Muhammad Anshari,  Kritik Dan Serangan Al-Ghazali Terhadap Kaum Filosof, Blog Muhammad Anshari. http://heryproxim.blogspot.co.id/2012/06/kritik-dan-serangan-al-ghazali-terhadap.html. (3 April 2016).

Tuesday, 8 November 2016

Recounted, Negeri 1000 Benteng: Kerajaan dan Kesultanan Buton

Kerajaan Buton terletak di Sulawesi Tenggara, tepat di Kota Bau-Bau sekarang, Kerajaan Buton memiliki banyak peninggalan-peninggalan sejarah, seperti Masjid Kraton Buton, Benteng terluas di Dunia sampai sekarang bentuknya masih utuh, Batu Popaua, dan lain –lain. Peninggalan-peninggalan ini menjadi  bukti bahwa Buton secara teritorial memiliki wilayah kekuasaan sebelum Nusantara menjadi Negara Indonesia.


Kerajaan Buton berdiri pada Abad 14 M, keberadaan Kerajaan Buton dalam lintas kerajaan-kerajaan di Nusantara, lebih awal tercantum dalam kitab Negara Karta Gama yang disusun oleh Empu Prapanca di Kerajaan Majapahit pada Tahun 1364. Kerajaan Buton berdiri pada tahun1332 M yang di pelopori oleh sepuluh orang pigur terkenal yang berasal dari kerajaan terkenal pada masanya. Yaitu:
Kekaisaran China (Ratu Wakaaka).
Kerajaan Majapahit (Si Panjonga, Si Jawangkati, Si Tamanojo dan Si Malui), Mia Patamiana.
Sebelum Kerajaan Buton menjadi Kesultanan, pada awalnya di pimpin oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Wakaaka, selanjutnya di Pimpin oleh Ratu Bula Wambona sebagai Raja kedua, kemudian Raja Bancapatola, Raja Tuarade dan Raja Rajamulae, berturut-turut Kerajaan Buton di Pimpin oleh lima orang Raja sampai tahun 1451, di tahun inilah Kerajaan Buton berubah menjadi kesultanan Buton karena pengaruh ajaran Islam.
Yang menjadi Sultan pertama yaitu Sultan Murhum Kaimuddin, masa kepemimpinan beliau inilah Agama Islam dicetuskan sebaga Agama Resmi dan ajaran-ajarannya harus di anut oleh seluruh Rakyat Buton saat itu.
Sejak menjadi Kesultanan, Sultan-Sultan Buton bergelar Kaimuddin ini diberikan oleh Syarif Makkah yang berstatus sebagai Khalifatul Khamis yang di beri legitimasi oleh Sultan Turki selaku Khalifah Islam yang mewakili dunia.
Namun, Kekuasaan zaman Kesultanan Buton dihapuskan secara Teritorial (Bagian dari Wilayah Hukum Negara Indonesia) setelah meninggalnya Sultan Muhammad Falihi Kaimuddin pada tahun 1960. Disesbabkan, konon Kesultanan Buton secara defakto tidak pernah di Jajah oleh Belanda dengan itulah Kesultanan Buton di Hapus atas nama Republik Indonesia.
Dalam bidang politik, Kesultanan Buton menjalin hubungan dengan beberapa kerajaan, antara lain Kerajaan Majapahit, Bone, Ternate dan Tidore.
Kerajaan dan Kesultanan Buton telah mencapai 7 Abad hingga kini, Kesultanan Buton memiliki peninggalan monumen sejarah yang luar biasa, antara lain:
Benteng Pribumi yang terluas di Dunia ( Benteng Wolio ).
Benteng Wolio memiliki panjang sekitar 2,7 Kilo Meter, yang mengelilingi pusat kekuasaan Kesultanan Buton, Benteng ini di bangun pada tahun 1634 oleh Sultan ke 6 La Buke. Menurut La Ode Muh Syarif Makmun, Sultan La Buke di sebut juga Sultan Abdul Ghafur, ia bersama rekan-rekan dan masyarakat menyelesaikan Benteng Wolio dengan 2 pintu Gerbang, Salah satu pintu Gerbang itu bernama La Wana Kapebhuni, pintu ini pernah di lewati oleh Raja Bone yang bernama Arung Palaka.
Menurtu Dr.La Ode M Kamaluddin, Persaingan-persaingan kerajaan di Sulawesi Selatan, Sultan Bone dengan Raja Talo yang di Pimpin Hasanuddin melakukan persaingan, Karena Raja Bone tidak kuat melawan Sultan Hasanudin, akhirnya Raja Bone pergi meminta bantuan kepada Sultan Buton, Arung Palaka kemudian bersembunyi di dalam Gua di Buton.
Persembunyiaan itu disebabkan karena pengejaran utusan Raja Gowa Talo yaitu Laksamana Karaeng Bonto Maranu, dengan suatu argumentasi yang  masuk akal, maka Sapati Bhalu yang bernama La Ode Arafani akhirnya bersumpah, “bahwa pada hari ini  Arung Palaka tidak ada di atas tanah Buton, entah dilain hari, tapi pada hari ini  tidak ada. Atas sumpah ini, kemudian utusan Raja Gowa Tallo percaya bahwa Arung Palaka tidak berada di atas tanah Buton, namun pada kenyataannya Arung Palaka bersembunyi di suatu gua dbawah tanah. Inilah taktik agar pejabat dari Kesultanan Buton tidak terkena sumpah, peristiwa inilah yang menyebabkan Arung Palaka tinggal di Buton selama kurang lebih 4 tahun.
Sistem Kesultanan Buton senantiasa melindungi siapa saja yang berada di atas tanah Buton, semua menjadi resiko Kesulutanan Buton terhadap lawan-lawannya, bahkan terhadap kerajaan Gowa maupun Belanda, sistem Kesultanan Buton yang melindungi siapa saja pada akhirnya menjadi politik Luar Negeri.
Merupakan Sistem Pemerintah Islam Demokratis tertua di dunia setelah Khulafa Urrasyidin (Empat Khalifah Utama Nabi).
Menurut Dr. Ir. Mudjur, seorang Buadayawan Buton, yang namanya Kerajaan yang memiliki Struktur Parlementer refrensinya hanya ada di Kesultana Buton, hampir di katakan di seluruh dunia, karena Semua Monarki itu adalah Absolut, sedangkan di Buton tidak pernah mengenal ada Putra Mahkota. Memang bisa saja  seorang anak Raja di angkat juga menjadi Raja, akan tetapi harus berdasarkan hasil pemilihan, dalam Bahasa Wolio di sebut Fali, Fali berarti di seleksi, namun sistem seleksinya tidak ada pemimpin yang datang dalam istilah modern disebut Ujuk-Ujuk (tiba-tiba menampilkan diri dan bisa membeli suara Rakyat), yang seperti ini tidak ada di Buton. Sistem pemilihan Raja atau Sultan Buton sebelumnya sudah diamati sejak kecil, diantara beberapa anak itu, siapa yang bisa menjadi pemimpin. Penseleksian itu dimulai sejak usia 7 tahun.
Struktur Kekuasaan Buton ditopang oleh dua Golongan Bangsawan, yaitu Golongan Kaumu dan Walaka, wewenang pemilihan dan pengangkatan Sultan berada di tangan golongan Walaka namun yang menjadi Sultan harus dari Golongan Kaumu. Fungsi golongan Walaka antara lain mendidik dan mengamati perilaku para calon Raja atau calon Sultan.
Menurut Dr. Tony Rudyansiah seorang antropolog, ia memberikan komentar bahwa, Sultan itu sebetulnya yang berasal dari golongan Kaumu (bangsawan yang paling tinggi) biasanya ketika masih kecil, ia harus bersama dengan kelompok Walaka yang lebih rendah dari mereka, disaat hidup dengan kelompok Walaka, kelompok Walaka mengajari putra yang kira-kira akan di calonkan menjadi Sultan, terutama mengenai adat-istiadat menjadi Sultan yang baik untuk memerintah.
Yang lebih menarik dari sistem Kesultanan Buton ialah, apabila seorang Sultan yang terpilih itu di anggap tidak mampu memerintah dalam hal ini melakukan Korupsi, tidak Adil, dan tidak lagi memperhatikan rakyatnya, maka golongan Walaka bisa memecat Sultan tersebut dan memilih Sulta yang baru.
Dewan Agama.
Pada Dewan Agama terdapat pembagian tugas antara Kelompok Kaumu dan Walaka. Tugas pada kelompok Kaumu lebih pada arah kekuasaan temporer, sementara pada kelompok Walaka terarah pada Adat Spiritual, sistem keagamaan ini termasuk salah satu kearifan masyarakat Buton yang Multikulutural, dengan potensi yang mereka miliki perbedaan tidak di pertentangkan, justru mereka mampu menyatukan perbedaan dalam Musyawarah dan kesepakatan.
Peraturan hukum di terapkan tanpa Diskriminasi, peraturan berlaku sama untuk setiap masyarakat hingga Sultan atau Raja. Sebagai bukti dari 37 orang Sultan yang  pernah memerintah di sana, 12 dianataranya di ganjar hukuman karena melanggar Sumpah Jabatan, satu di antaranya Sultan ke 8, yaitu La Sila  yang bergelar Sultan Mardan Ali. Sultan Mardan Ali mengakhiri masa jabatannya karena di maksulkan oleh Dewan Syara Kesultanan Buton, akibat melakukan Bebula yaitu perbuatan Asusila sehingga di jatuhi hukuman mati disebuah pulau kecil, bahkan jasadnya tidak diperkenankan di Makamkan di atas pulau Buton.
Peninggalan Masa Keemasan Kesultanan Buton.
Banyak peninggalan-peninggalan Kerajaan atau Kesultanan Buton, dianataranya berasal dari Kerajaan Majapahit, selain itu  simbol-simbol kesultanan bernuansa budaya China, Misalnya Malige atau Mahligei, Malige adalah Istana Negara kediaman Sultan sebagai Mokenina Kapuli kekuasaan tertinggi. Menurut asal-usulnya Model konstruksi Mahlige adalah perpaduan Arsiktektur China dan Buton, Malige ini merupakan Istana yang termegah, namun kemegahan bangunan istana tergantung kemampuan ekonomi dari sultan yang berkuasa saat itu. hal ini, Bangunan Malige terdiri tiga tingkat yang menggambarkan tiga tingkat Strata sosial di masyarakat Buton. Kaummu (Golongan Bangsawan), Walaka (Golongan Penasehat dan Pengatur sistem pemerintahan), dan yang terbawah adalah Papara (Golongan masyarakat biasa). Selain itu peninggalan Buton adalah Batu Popaua yaitu sebagai tempat pelantika 6 orang Raja dan 37 Sultan Buton, adapun peninggalan Buton yang penting menurut penulis adalah Masjid Kesultanan Buton yang di bangun pada Abad 18 tahun 1542,dimasa pemerintahan La Ingkariari bergelar Sultan Sakiudin Daru Alam, namun masjid itu sekarang sudah di renofasi, ukuran Masjid itu sekitar 20 x 21 M. Tidak tertinggal juga, disisi kiri Masjid terdapat Tiang Bendera yang didirikan tidak lama setelah Masjid itu di bangun, adapun kayu Tiang Bendera diambil dari Tailan yang dibawa oleh pedagang dari Patanisiam atau Tailan, dan peninggalan yang tidak kalah penting adalah Tari-Tarian yang sering di pergelarkan di depan tamu Kesultanan, Tarian-Tarian itu menggambar para Bidadari turun dari kayangan.
Inilah sekilas sejarah Peninggalan Kerajaan dan Kesultanan Buton, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan yang tidak sempat dituliskan.
Sebagai kesimpulan, di Buton sangat terkenal “Bholimo Harta Sumano Karo (janganlah harta di utamakan jika berhadapan dengan harga diri Anda, harus di korbankan itu harta untuk membela harga diri Anda, artinya Martabat” selanjutnya Bholimo Karo Sumano Lipu Tetapi diri anda secara Pribadi harus di kalahkan oleh kepentingan bersama kepentingan Kampung halaman atau Negara, dan yang ketiga Bholimo Lipu Sumano Agama artinya kepentingan Negara bisa di kalahkan oleh kepentingan Agama”. Jadi di buton kepentingan Agama tetap menjadi Prinsip utama dari kepentingan-kepentingan yang lain.
Waalahu A’lam.
Makassar, 09/11/2016
Penulis: Anin Lihi

Sumber, Video Sejarah Buton Negeri 1000 Benteng.

Sunday, 6 November 2016

Sejarah Nama-nama Gunung di Kampung Amaholu



Kampung Amaholu berada diujung Pulau Seram Bagian Barat, terletak di pesisir pantai Huamual. Kampung ini bersebelahan dengan Kampung Losi dan Hatawano. Jumlah Kepala Keluarga Kampung Amaholu sebanyak 200 lebih KK. 

Masyarakat kampung Amaholu dikenal sebagai masyarakat yang taat ber-Agama. Ketaatan ini  telah di benarkan oleh seluruh kampung-kampung di Pesisir Huamual Barat. Selain itu, dibuktikan dengan banyaknya jamaah di Masjid saat sholat berlangsung. Bahkan, ada yang mencoba memprediksi bahwa Amaholu akan menjadi kampung ulama. Pasalnya, minat agama tidak hanya dimiliki orang tua, tetapi juga anak-anak, remaja dan pemuda. Banyak anak-anak di kampung Amaholu yang menimba ilmu di pesantren. Mempelajari Bahasa Arab, Nahu, Shorof, Hadits, Tafsir dan ilmu-ilmu agama lain yang menunjang. Bahkan beberapa orang selain telah mengahafal 30 juz al-Qur'an, juga sudah mampu mengisi kajian dengan menggunakan kitab gundul. 

 


Adapun pekerjaan Masyarakat Kampung Amaholu sangat berragam. Ada yang menjadi petani, pelayar, petani-pelayar, Guru, Dosen, dan Tukang. 

Khusus mengenai pelayaran. Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Sejak layar sampai mesin dan sejak kayu sampai fiber. 

Perahu layar yang mereka pakai untuk berlayar adalah perahu Bhangka (Mensinya menggunakan kekuatan angin) dan perahu Piber. Perahu Bangka dulu dipakai untuk memuat Kayu, Kaladi, Pisang, cengkih, coklat, copra dan berbagai barang pecah belah. Adapun Perahu Piber dipakai untuk memuat minyak Bensin, Solar, dan Minyak Tanah, bahan bakar ini mereka beli di Tahuku dan mereka jual di pesisir Huamual dan sekitarnya. 

Sebagaimana papalele keladi, minyak juga dijual dengan cara yang sama. Dijual dari kampung ke kampung dan dari pulau ke pulau. Bahkan mengeliling pulau seram dan melintas ke pulau buru, Kelang, Manipa, Buano,  hingga di Maluku Utara. Aktifitas ini masih dilakukan hingga sekarang. Adapun perahu layar sisa sedikit peninggalannya dan cerita saja.


Selain propesi pelayar masyarakat amaholu adalah petani. Mereka menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Ada yang jangka panjang dan ada yang jangka pendek. Tanaman jangka panjang seperti Cengkeh, Pala, Durian, Coklat, Mangga, Kelapa, dan lain-lain. Namun, dari beberapa tanaman jangka panjang ini. Pala dan cengkih menjadi tanaman favorit. Rata- rata setiap rumah memiliki lahan cengkih. 

Adapun tanaman jangka pendek adalah Kasubi (Singkong/Ubi kayu). Kasubi ini terdiri empat, yaitu Kasubi Bogor, Kasubi Kampaki, Kasubi Runga (Lombo) dan Kasubi Kalambe. Bebrapa Kasubi inilah yang menjadi makanan pokok Masyarakat Amaholu dan kampung-kampung Buton yang berada di pesisir Huamual.

Kasubi itu kemudian diolah menjadi sangkola atau masyarakat pada umumnya menyebut Sangkola itu sebagai suami. Sangkola inilah yang lebih di sukai Masyarakat Amaholu dan Kampung-Kampung yang ada di sekitar pesisir Huamual. Seperti, Kampung Hatawano, Losi, Mange-Mangge, Asam Jawa, Batu Lubang, Eli kecil dan Besar, Air Papaya, Wayasel, Talaga, Nasiri, Lirang,  limboro, Temi, Erang, Tapinalu dan Olatu.


Kasubi, Cengkeh, Pala, Durian, dan beberapa tanaman lainnya, masyarakat Amaholu menanamnya di beberapa gunung tanam di Huamual Barat.

Pada pembahsan kami hanya akan fokus pada sejarah penamaan gunung yang ada di Kampung Amaholu. Gunung-gunung yang ditanami Kasubi, Cengkeh, Pala dan tanaman lainnya. Adapun namq-nama gunung  itu adalah sebagai berikut:






1.      Gunung Kabompocu.

Kabompocu berasal dari kata kabom dan pocu. Kabom berati kebun dan pocu artinya kepala. Berdasarkan tuturan lisan, gunung ini dinamakan Kabompocu karena adanya kepala di tempat itu. Ada juga yang mengatakan, karena adanya kepala yang sering menggelinding disekitar gunung itu. Masyarakat Amaholu menyebut kepala yang menggelinding itu dengan kandondoopocu. Konon kandondoopocu diyakini sebagai makhluk gaib. Kabompocu atau Kepala manusia itulah yang menjadi cikal bakal penamaan gunung Amaholu. Terkenallah kemudian pada masyarakat kampung Amaholu dengan gunu Kabompocu (bahasa Daerah). 

Ada informasi lain, bahwa kepala itu konon merupakan tengkorak orang-orang Portugis, Belanda atau Jepang yang meninggal di sana. Namun, ini butuh penelitian lebih dalam lagi.







2.      Gunung Talaga.
Gunung Talaga di Kampung Amaholu terbagi 3, Pertama: Gunung Talaga Rata, dinamakan demikian karena memang tempatnya yang rata, Kedua: Gunung Talaga Iwawo, maksudnya Gunung Talaga yang paling atas, Iwawo sendiri terbagi dua kata, I=di dan Wawo= atas, jadi Iwawo berarti di atas artinya gunung talag yang terletak di bagian atas, dan ketiga: Gunung Talaga Koee, dalam bahasa Daerah Amaholu Talaga berarti Kolam atau Danau, sementara Koee berarti tempat yang di dalamnya ada air, Koee sendiri terbagi dua kata Ko dan Ee, Ko bearti mempunyai atau ada sedangkan Ee berarti air, jadi Talaga Koee bearti Kolam yang di dalamnya ada atau mempunyai air.







3.      Gunug La Ama.
Gunung La Ama termasuk gunung yang paling dekat dengan tempat kediaman masyarakat Amaholu, jaraknya sekitar 100 M dari Kampung, untuk sampai di sana harus mampu melewati tanjakan seperti gunung-gunung lain yang ada disana. Adapun penamaan Gunung La Ama diambil dari salah seorang keluarga yang tinggal di La Ama yaitu Bapa La Bai, di gunung itulah Bapa La Bai membuat rumah dan hidup bersama Istrinya Wa Ina Komba, karena dulu orang sering memanggil Bapa Bai dengan sebutan La Ama, Maka panggilan Bapa La Bai sebagai La Ama akhirnya melekat kepadanya dan lambat laun panggilan La Ama itu akhirnya di Nisbatkan kepada Gunung oleh masyarakat Kampung Amaholu, karena itulah di sebut sebagai Gunung La Ama.






4.      Gunung Kota.
Gunung Kota bersebelahan dengan Gunung La Ama, namun jaraknya lebih di atas, sekitar 1 kilo meter perjalanan jalan kaki, dinamakan Gunung Kota karena di tempat itu ada Batu Besar yang menjulang Tinggi seperti benteng besar yang terlihat seperti Kota, tepat di Atas kampung Amaholu.Selain itu di temukan didalam lubang batu (goa) di Gunung Kota, berupa Meja yang Licin seperti meja biasanya yang diukir dari batu, Meja itu juga memiliki empat kaki, menurut perkiraan Masyarakat setempat, Meja itu kemungkinan merupakan peninggalan belanda atau jepang atau portugis. Namun, meja itu sekarang kakinya telah patah. Karena Batu Besar seperti benteng yang menopang kota dan peninggalan kuno itulah sehingga orang menyebutnya Gunung Kota.
5.      Gunung Tanita.
Gunung Tanita bersebelahan dengan gunung kota, Tanita dalam bahasa daerah di sana di sebut Puncak Gunung, karena tempat ini berada di puncak gunung maka disebutlah gunung tanita.
6.      Gunung Salawako.
Lebih di atas dari gunung Kota, gunung ini Bisa di lalui dari gunung Talaga atau Gunung La Ama, Gunung Salawako merupakan pusat munculnya air minum yang di pakai masyarakat Kampung Amaholu. Dinamakan Gunung Salawako, karena didukung oleh banyaknya pohon Salwako dulu yang tumbuh di gunung itu. Namun pohon-pohon Salawako itu sekarang sudah banyak yang punah, hingga hampir tidak ada lagi, disebabkan pembabatan masyarakat untuk di tanami cengke dan beberapa pohon yang bisa di konsumsi buahnya.
7.      Gunung Kamba Pua.
Penamaan gunung ini di ambil dari nama pohon, yaitu pohon Kamba Pua, di gunung ini banyak sekali memang pohon kamba puanya. Pohon inilah yang di tebang masyarakat kampung di Kampung Amaholu sebagai penyanggah pagar-pagar kebun mereka. kayu Kamba Pua di anggap sebagai bagian dari kayu yang agak kuat daripada kayu-kayu yang lain. Tidak di ketahui kenapa dinamakan poho Kamba Pua.




8.      Gunung Warau dan Gunung Luhu Lama.
Di atas kedua gunung ini masyarakat Amaholu banyak sekali yang menanam cengkeh, gunung Warau dan Luhu Lama saling bersebelahan, Gunung Luhu Lama terletak di sebelah Kanan jika dilalu dari jalur Gunung Tanita dan Salawako sedangkan Gunung Warau di lalui dari jalur kiri dari gunung Tanita dan Salawako. Di namakan Gunung luhu lama karena memang terletak, tepat di Atas Kampung Luhu Lama demikian juga di Namakan Gunung Warau karena terletak di atas gunung Warau.


Demikianlah nama dan sejarah gunung yang ada di Kampung Amaholu Huamual Barat pulau Seram Maluku. Masih Bisa ditambah refrensinya. Waalahu a’lam.

Thursday, 3 November 2016

AHOK PENGGUGAH UMAT ISLAM

Ahok adalah sosok fenomenal, disiplin, tegas tampa pandang bulu.  Siapapun yang tidak sesuai pola kerjanya menurutnya di sikat bersih, ibarat tumbuhan langsung disiram dengan air panas supaya tumbuhan itu punah dari permukaan bumi, kemudian mencari bibit baru yang menurutnya sebagai bibit unggul. Sikap ini dilain sisi bagus, justru sikap seperti inilah yang mampu melahirkan kedisiplinan dalam bekerja dan mungkin mampu melahirkan pekerja-pekerja yang Profesional. Sebab dengan sikap seperti itu setiap orang akan takut melakukan kesalahan.
 Tapi, sikap ini justru menjadikan Ahok tidak terkontrol, tutur kata yang ia keluarkanpun selalu mengandung nada ajakan untuk berkelahi. Seperti DPRD DKI Jakarta di ajak berkelahi, Partai-partai di ajak berkelahi dan kaum-kaum elitpun banyak di tangkap diajak berkelahi juga, dan masih banyak lagi peristiwa yang seperti itu.

Secara jujur semua orang mungkin banyak yang mengakui bahwa Ahok sebenarnya bagus dalam memimpin, bahkan banyak orang mungkin terinspirasi dari beliau, terutama dalam bidang pengembangan Ekonomi, Kedisiplinannya, Ketegasannya, dan lainnya. Apalagi saat pidato di pulau seribu itu ia sedikit membicarakan tentang sikap keadilan,kejujura, dan “jujur ini menurut Ahok tergantung dengan siapa kita berteman, siapa yang berteman dengan orang yang merokok diapun merokok dan siapa yang berteman dengan orang jujur pasti ia jujur, dengan itu yang tidak jujur dalam mengelola tambang kata Ahok tidak usah di ajak”. Perkataan ini sebenarnya punya veliu yang sangat tinggi, yang mengambarkan bahwa Ahok itu tidak ingin keboohongan selalu merajalela di atas bumi Nusantara yang Ahok inginkan hanyalah kejujuran, terlepas dari apakah Ahok jujur atau tidak, itu pribadinya, tapi yang jelas Ahok menginginkan kejujuran.
Siapapun ingin mengajarkan kejujuran, Islam, Kristen, Yahudi dan Agama yang lain pasti mengajarkan kejujuran, dan Ahok rupanya menginginkan itu dan ini bagus sekali, siapa sih yang ingin di bohongin, tentunya saudara pembacapun juga tidak ingin di bohongin.
Selanjutnya, perkataan Ahok yang menjelaskan Jujur itu, ternyata merembet pada perkataan “di Bohongin Pake surat al-Maidah 51” perkataan inilah yang menggugah Umat  Islam untuk bangkit, al-Qur’annya di hina, tidak pantas bagi orang yang menghina kitab kami di biarkan, Umatpun bersuara Allahu Akbbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,  Menuntut Ahok di adili. Karena bersalah Ahokpun meminta maaf, bahkan ucapan ini di ucapkan berkali-kali. Namun umat Islam sepertinya sudah tidak menerima kata maaf itu, al-Qur’an di Hina berarti telah menghina Allah Swt, dengan itu Ahok tidak Cukup hanya minta maaf saja, dia harus di Hukum.
Ahok harus di adili secara hukum, agar mendapatkan hukuman penjara, peristiwa ini sudah agak lama  belum di tuntaskan, maka umat islam sekarang harus bangkit dengan melakukan aksi Demo tangkap Ahok, umat Islam sudah terbangun sekarang, mereka mayoritas, kenapa bisa di Injak-injak, Allahhu Akbbar. Semangat sekali Umat Islam beraksi, luar biasa, isu itu tersebar di berbagai media, TV, FB, Goggle dan lain-lain.

Saya tidak tau, apakah ada kepertingan pribadi dibelik  Aksi Demo hari ini, atau justru berangkat dari niat membela umat islam secara utuh, atau ini hanya dampak dari isu-isu propaganda yang di sebarkan media. Apapun itu, umat islam jika melakukan Demo tidaklah pantas mengambil sikap anarkis sehingga merusak fasilitas  Negara, yang sebenarnya fasilitas itu adalah milik kita semua. 

Wednesday, 2 November 2016

Ramuan Nenek Moyang: Bangau dan Camar

Amel dan Anin
Suatu hari, burung bangau berlibur di Hutan menikmati indahnya cuaca pagi yang cerah dan menghayati kicau burung-burung lain yang merdu bagai music Mozart yang menyentuh hati, ditengah perjalan ia bertemu dengan seekor burung Camar, merekapun berkenalan dan akhirnya menjadi teman akrab.

Burung Bangau memiliki bulu yang sangat cantik dan lembut, burung Camar sendiri tertarik melihatnya, burung camar kagum dan berpikir, sekiranya aku memiliki bulu yang indah seperti burung Bangau alangkah senangnya hatiku.
Pada suatu waktu, tidak tera menahan rasa, ingin seperti burung Bangau, burung Camarpun menyeru “wahai burung Bangau bulumu sangat cantik dan indah dipandang, ingin rasanya aku sepertimu?”. Mendengar itu, burung bangau tertawa “hahahahahaha” dan kemudian berkata: “tahukah kamu, buluku seperti ini, karena berkat ramuan nenek moyangku dulu, yang di wariskan secara turun temurun. Namun, Karena hari sudah sore merekapun kembali ke sarangnya masing-masing.
Keesokan harinya, burung Camar ingin menemui burung bangau dengan maksud ingin mempertanyakan sekaligus meminta ramuan tersebut, burung Camarpun pergi dan menemui Burung Bangau yang sedang duduk di atas dahan pohon cemara. setelah bertemu, burung Camar kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, burung Bangau berkata “bolehkah aku mencoba ramuan nenek moyangmu?, agar buluku juga bisa cantik, indah dan lembut sepertimu. Burung Bangau kemudian menjawab dengan nada tolak, “tidak boleh, aku tidak bisa memberikanmu, nenek moyangku tidak ingin ramuan itu diberikan kepada selain keturunan burung Bangau, itu warisan yang di titipkan secara turun temurun, yang di janjikan untuk tidak diberikan kepada siapapun selain keturunannya. Cari saja ramuan yang lain, jangan pernah mengharapkan aku bisa memberikan ramuan itu.
Mendengar itu, burung Camarpun mengakui kalau dia memang bukan satu keturunan dengan burung Bangau, sebenarnya dia sempat berpikir, Burung Bangau pasti memberikannya karena dia sudah lama menjadi teman akrabnya, ternyata pikirnya salah. Camar berkata tidak usah aku memaksakan diri, aku harus ikhlas menerima serta mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku.

Burung Camar memang menerima itu, tetapi ia kemudian pergi mencari ramuan yang cocok untuknya, dia melakukan penelitian-penelitian dan pada khirnya ia juga menemukan ramuan yang dapat menjadikan bulunya indah dan bersih, ramuan itu ialah mandi di air yang jernih lima kali sehari.