Wednesday, 27 January 2021

BUKAN SEKEDAR MENJADI IMAM MASJID

Imam adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin jalannya shalat berjamaah. Tanpa imam nilai shalat berjamaah menjadi gugur. Berdasarkan penjelasan ini, imam kedudukannya menjadi urgen dalam shalat berjamaah. Karena kedudukan imam begitu urgen, maka orang yang menjadi imam harus benar-benar memahami tugas yang diembannya. Seorang imam harus cerdas dan memiliki akhlak yang bagus. Ia harus bisa menjadi contoh, baik didalam shalat maupun dalam kehidupan sehar-hari.




Imam berperan sebagai wakil Nabi Muhmammad Saw. Ia memegang amanat untuk mengimami manusia. Itulah sebabnya, Imam harus betul-betul memahami tata cara shalat dan  bagaimana cara Rasulullah Saw., menjadi imam. Imam harus memahami keutamaan-keutamaan shalat, keutamaan-keutamaan gerakan shalat dan cara mencapai titik tuma’ninah. Seorang imam selain memiliki ilmu, akhlak dan memahami tata cara Dakwah Rasul. Ia juga harus memiliki keberanian dalam menyampaikan kebenaran. Kenapa demikian, karena disaat shalat akan dilaksanakan ia harus menyuruh seluruh jamaah untuk meluruskan shaf, bahkan ia dianjurkan untuk berdiri memeriksa seluruh shaf-shaf jamaah. Jika ditemukan ada jamaah yang belum menyempurnakan shaf maka disitu ia menaseati jamaah tersebut. Seraya mengeluarkan dalil-dalil tentang shaf yang berhubungan dengan sikap jamaah yang tidak meluruskan atau menutup cela-cela shaf. Inilah alasan kenapa imam harus cerdas dan berani. Sebab kemungkinan-kemungkinan jamaah yang belum paham banyak.

Salah satu cara yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., dalam memberikan nasihat kepada jamaah yang belum meluruskan badannya dengan baik. Yakni, beliau mendatanginya dengan penuh perasaan cinta, kemudian mengusap-ngusap dada dan pundak jamaah yang tidak meluruskan shaf sambil menasehati. Sebagaimana sabda beliau Saw:

وَعَنِ الْبَرَاءِ ابْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ص يَتَخَلَّلُ الصُّفُوْفَ مِنْ نَا حِيَتٍ إِلَا نَاحِيَتٍ يمَسَحُ مَنَاكِبَنَا وَصُدُورَنَا، وَيَقُولُ: لَاتَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِلفَ قُلُوبُكُم

Artinya: “Bara bin Adzib ra, berkata; “ Rasulullah Saw.,  “Mengamati shaf demi shaf, mengusap pundak dan dada kami seraya bersabda: ‘Jangan berantakan, nanti hati kalian juga berantakan.”’ (HR. Abu Dawud, no. 664., Nasai, no. 811., dan Ahmad no. 18539).

 Walaupun, nasehat yang diberikan terasa seperti ancaman yang menusuk, tapi tidak menimbulkan kegaduhan. Dengan usapan itu, orang merasa tenang dan tentram. Seakan-akan tumbuh rasa kebersamaan.

Berdasarkan hadits ini, maka seorang imam mesti ada keberanian dan keilmuan. Guna bisa menasehati jamaah secara tegas yang mungkin belum memahami pentingnya perintah untuk meluruskan dan merapatkan shaf.

Didalam melaksanakan shalat seluruh jamaah berkewajiban untuk mengikuti imam. Ketika Imam Ruku’ ma’mum harus Ruku’, Imam Sujud ma’mum harus sujud dan imam tahiyat ma’mum juga harus tahiyat. Seterusnya seperti itu. Termasuk arahannya ketika shalat akan dimulai. Nabi Saw bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثّنَاعَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ:أَخْبَرْنَامَعْمَرٌعَنْ هَمَّامِ، عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ((إِنَّمّاجُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ،فَلَاتَخْتَلِفُوْا عَلَيْهِ،فَإِذَارَكَعَ فَرْكَعُوا،وَإِذَاقَالَ:سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُوْلُوْا: رَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ؛ وَإِذَ سَجَدَ فَسْجُدُوْا؛ وَإِذَا صَلَّى جَالِسًافَصَلُّوْا جُلُوسًاأَجْمَعُوْنَ؛وَأَقِيْمُ الصًّفَّ فِي الصَّلَاةِ؛فَإِنَّ إِقَاَمَةَ اصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلَاةِ)). ]النظر:٧٣٤[

Artinya: Abdullah bin Muhammad menyampaikan kepada kami dari Abddurrazaq yang mengabarkan dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw, bersabda: “Imam dipilih untuk diikuti, oleh karena itu, jangan kalian berbeda dengannya . Apabila dia ruku’, ruku’lah kalian, jika berkata, ‘Sami’allahu liman hamidah,’ ucapkanlah ‘Rabbana lakal hamd. Jika dia sujud, sujudlah kalian; jika dia shalat sambil duduk shalatlah kalian sambil duduk. Luruskanlah shaf dalam shalat, sebab, meluruskan barisan dalam shalat adalah sebagian dari sempurnanya shalat.”. (Sahih Bukhari. Lihat hadits no. 734).

Tartibul Kalimat (Urutan kalimat) didalam hadits ini dimulai dengan arahan untuk mengikuti setiap gerakan imam, kemudian diakhiri dengan ungkapan untuk meluruskan barisan. Hal ini, tidak bisa dipisahkan antara perintah mengikuti imam ketika dalam keadaan masih shalat dan arahan untuk meluruskan shaf. Artinya mengikuti imam sujud sama kedudukan dengan mengikuti arahan imam untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Kedua-duanya sama-sama memiliki nilai yang sangat penting.

Berdasarkan penjelasan ini, imam wajib untuk diikuti. Termasuk arahan-arahan yang keluar dari mulutnya. Tentu sesuai dengan perintah dalil yang sudah saya uraikan sebelumnya dan yang setelahnya. 

Monday, 25 January 2021

Tantangan Bukan Sebab Hambatan; Meraih Keuntungan Dalam Beramal

 Oleh: Anin Lihi


 Kita sering menyaksikan banyak perlombaan-perlombaan. Perlombaan di bidang olahraga, seperti; Gulat, permainan bola kaki, bola volly, bulu tangkis, tenis meja, persilatan dan lempar lembing. Perlombaan bidang tarian dan perlombaan bidang seni suara seperti; nyanyian-nyanyian, musabaqah tilawah, lasqi dan lain-lain.

Semua jenis perlombaan ini dibuat dalam bentuk olimpiade. Para pemenang yang berhasil meraih juara diberikan hadiah berupa uang, medali emas atau perunggu sebagai piala kemenangan. Sebelum peserta tampil mengikuti olimpiade. Terlebih dahulu para peserta diundi. Undian itu bertujuan untuk  menentukan peserta lomba yang tampil pertama, kedua dan seterusnya. Para peserta diundi siapa yang memenangkan perlombaan itu dan mendapatkan hadiahnya.

Para peserta lomba ini begitu bersemangat untuk meraih juara. Mereka berharap memenangkan juara itu dan tidak peduli dengan hadiah yang diberikan. Mereka rela meninggalkan shalat berjamaah demi meraih hadiah-hadiah dunia yang bersifat kesenangan sementara itu. Bahkan dengan susahpayah dan dengan pengorbanan yang sangat asalkan bisa mendapatkan undian-undiannya. Padahal justru banyak yang tertipu dengan kesenangan sesaat dan akhirnya kesenangan abadi terlupakan.



(Sumber Foto: https://www.google.com/search?q=MENGEJAR+KEUNTUNGAN+BESAR&safe=strict&sxsrf=ALeKk021GBu9LCOWd1Fb_1oTQI5

Di dunia hiburan kita sering mendengar liga dangdut. Sebelum tampil untuk menjadi penyanyi terbaik di TV pusat. Peserta lomba harus mengikuti seleksi di daerah-daerah mereka masing-masing. Siapa diantara mereka yang berhak mewakili provinsi untuk mengikuti liga dangdut tersebut. Artinya, mereka diundi terlebih dahulu. Tentu bukan hal yang mudah untuk menjadi penyanyi nomor satu mewakili Propinsi. Namun sesuatu yang dingini rintangan bukanlah sebab hambatan. Berbagai rintangan tidak menyulut semangat mereka.

Seorang teman aku pernah mengikuti undian liga ini. Namun, dia tidak mendapatkan juaranya. Tentu kegagalan itu menyulut api kekecewaan dalam dadanya. Karena tidak sanggup menahan kesal. Diapun mengutarakan kekecewaannya di Facebook. Dia merasa bahwa dialah yang pantas untuk tampil mewakili Propinsi. Tapi, pilihan itu tidak jatuh padanya. Dia sampai menangis tersedu-sedu sebab kesempatan itu tidak bisa diraihnya untuk tampil menjadi penyanyi dangdut di liga dangdut itu.

Aku sempat berpikir, masya Allah yah. Tampil menjadi penyanyi dangdut saja begitu bersemangat. Padahal aktifitas ini termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah Swt., dan tentu pemainnya dimasukkan kedalam neraka. Semangat dalam hal kemaksiatan meskipun aktifitas kemaksiatan itu ada undiannya dan diraih dengan susahpayah.

Tidak hanya itu, kita juga sering menyaksikan para penonton liga dangdut yang rela tidak tidur hanya untuk menyaksikan orang-orang yang mereka idolakan. Bahkan di rumah-rumah ada yang menunggu waktu siaran TV liga itu sampai larut dan semangat mereka jauh lebih tinggi dari peserta yang mengikuti lomba. Ada yang rela mengirimkan uang, suara dan dukungan untuk menyemangati peserta yang mereka idolakan. Padahal yang mereka dapatkan hanya lelah dan ngantuk. Jika acara tersebut terlewatkan mereka merasa menyesal, karena kesempatan itu tidak mereka lihat, padahal mereka masih bisa menontonnya kembali di youtobe. Nauuzubillah.

Yang paling heboh lagi adalah perlombaan perebutan piala dunia. Yang menjadi persoalan adalah penonton. Ada yang rela mengorbankan waktu tidur mereka hanya untuk menyaksikan permainan bola. Alangkah besar manfaatnya, jika waktu tidur itu digunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Misalnya; Shalat Tahajjud, Baca Qur’an, Baca Kitab/Buku dan kebaikan lainnya.

Sementara pada perkara amal ibadah meskipun banyak sekali yang tertinggal, sedikitpun tidak mereka sesali. Mereka jahiliah dengan agama mereka biasa-biasa saja, mereka tidak tau membaca al-Qur’an mereka santai-santai saja, mereka tidak melaksanakan shalat mereka tetap tertawa terbahak-bahak, mereka tertinggal dan shalat berlalu dari waktu ke waktu mereka tak peduli. Sibuk dengan urusan dunia, merasa ilmu tidak penting dan menganggap tidak perlu pertolongan Allah Swt. di akhirat kelak dan tidak ingin rahmat Allah berpihak pada mereka.

Tapi, mereka yang paham tentang pentingnya ibadah dan keutamaannya mereka sangat bersemangat. Mereka tau bahwa hadiah ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Swt., jauh lebih besar dari juara penyanyi dangdut itu. Mereka memang belum melihat atau menyaksikan hadiah-hadiah ibadah itu. Tapi, mereka yakin bahwa hadiahnya pasti diberikan jika sungguh-sungguh dan ikhlas dalam mengamalkannya. Adapun yang tidak paham mereka tidak mau bersemangat dalam melaksanakannya.

Bagi yang belajar mereka tau hadiah yang diberikan Allah Swt., pada mereka. Mereka tau bahwa seluruh ibadah dan amalan itu hadiahnya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Jauh lebih baik dari piala emas, perunggu dan permata. Bahkan mereka akan mendapatkan kesenangan abadi yang sebelumnya tidak terbayang sedikitpun dibenak dan hati serta belum pernah dilihat mata. Mereka tau bahwa disetiap perkara ibadah ada ganjarannya, hatta perkara ibadah terkecil. Termasuk perkara keuntungan dalam panggilan dan shaf shalat ini. Karena mereka tau maka mereka rela meskipun diundi untuk mendapatkannya. Rasulullah Saw., bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, عَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ يَعْلَمُ النَّاسَ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ, ثُمَّ لَمْ يَجِدُ وْا اِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا. (متفق عليه)

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw., bersabda: ‘Andaikata orang-orang mengetahui pahala yang terkandung di dalam panggilan shalat dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan berundi untuk mendapatkannya, pasti mereka berundi.’” (Mutafaq ‘Alaih). HR. Bukhari, Fathul Baari, II/96 dan Muslim no. 437).

Maka dibalik setiap ibadah ada keuntungannya, tapi shalat adalah ibadah paling utama diantara ibadah lainnya. Perkara ini menjadi ukuran diterimanya amal-amal lainnya. Jika shalatnya diterima maka amal lainnya berikutan diterima. Itulah keutamaan shalat.

Hadits ini memberitahukan kita tentang besarnya pahala yang ada pada Adzan dan shaf pertama. Jika manusia mengetahui pahala, keuntungan dan hadiah dari kedua perkara ini, mereka pasti bersedia mengikuti undian, agar bisa meraih keduanya meskipun dengan susahpayah.

Maka, setelah mengetahui hadits ini, hilanglah kemalasan kita untuk melaksanakan shalat tepat waktu di Masjid dan perhatian kita terhadap pentingnya shaf. Timbul pula semangat untuk mendapatkan shaf pertama. Memperrebutkan shaf pertama selain dibelakang Imam. Karena dibelakang imam harus orang yang pandai memahami Qur’an atau orang yang berilmu. Untuk mendapatkan shaf pertama bagi yang paham akan saling berebut, bukan sebaliknya saling dorong mendorong dan saling mempersilakan satu samalain untuk menempati shaf pertama itu. Bahkan, sebelum iqamat dimulai shaf-shaf mestinya telah terisi penuh. Kita harus berlomba-lomba, bergegas memperoleh shaf pertama, dan ketahuilah saudariku bahwa inilah ciri orang-orang yang paham.

Sisilain dari filosofi dua amalan ini adalah adanya pengajaran supaya melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Dalam keutamaan shalat tepat waktu itu, jika shalat dilakukan berjamaah di Masjid, maka diganjari pahala 25 atau 27 derajat pahala. Tentu bukan hanya 25 atau 27 derajat pahala shalat berjamaah saja, pasti masih banyak keuntungan lain yang bisa kita dapatkan ketika kita tepat waktu dalam melaksanakan shalat dan apalagi sebelum adzan dikumandangkan kita sudah berada di Masjid menanti shalat, tentu akan mendapatkan lebih banyak lagi pahala, sebab kita dianggap selalu mengerjakan shalat selama kita duduk menanti shalat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang satu ini, bahwa:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ قَلَ: لَايَزَالُ اَحَدُكُمْ فِيْ صَلَاةٍمَادَمَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ, لَيَمْنَعُهُ اَنْ يَنْقَلِبَ اِلَي اَهْلِهِ اِلَّا الصَّلاة. (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah Saw., bersabda: Seseorang itu selalu dianggap mengerjakan shalat selama ia tertahan untuk menantikan shalat, tidak ada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya melainkan shalat”. (HR. Bukhari, II/148. Dalam Fathul Barri dan Muslim no. 669).

Apabila lebih awal lagi kita menantikan shalat, maka selama itu pula kita dianggap melaksanakan shalat. Jika dua jam sebelum waktu shalat masuk kita sudah berangkat ke masjid untuk menanti shalat. Berarti selama dua jam kita dianggap melaksanakan shalat. Kalau kita hitung lamanya shalat wajib, paling hanya 10 atau 15 menit atau mungkin kurang dari itu. Jika Shalat Subuh dan Maghrib mungkin kurang dari 10 atau 15 menit. Kecuali ayat yang dibaca panjang baru bisa sampai 20 menit. Itupun belum tentu sampai selama itu. Jadi, 10 menit kalau kita kali 6 hasilnya 60 menit, yakni 1 jam. Berarti 1 Jam 6 kali kita shalat wajib. Jadi kalau 2 Jam sama dengan 12 kali, karena 6 dikali 2. Sekali sahalat wajib diganjari 27 pahala. Jadi 12 kali shalat wajib dikali sekali shalat berjamaah 27 pahala. Yaitu; 12X27= 324 pahala. Jadi, sekali menunggu satu waktu shalat wajib kita dapat 324 pahala. Itu 2 Jam saja kita menunggu. Belum lagi pahala Shalat Sunnah, membaca al-Qur’an, zikir dan aktifitas kebaikan lain yang kita lakukan.  Adapun 324 pahala kalau dikali Lima kali waktu shalat wajib dalam sehari kira-kira kita dapat berapa. Masya Allah 1,620 pahala. Itu sehari. Kalau kita kali sebulan, maka 1,620X30hari= 48.600  pahala. Jika dikali setahun tentu lebih banyak lagi. Masya Allah pendapatan kita sangat banyak. Tentu ini bukan nilai uang satu juta, sepuluh juta atau uang satu miliar yang bisa kita bayang-bayangkan. Ini nilai pahala yang tidak bisa kita samakan dengan uang, nilainya pasti lebih dari nilai uang yang ada dalam bayangan kita.  

Masya Allah, orang datang di Masjid saja sudah dapat pahala dan karunia Allah. Tentu itu bukan hitung-hitungan pedagang kaki lima atau pengusaha. Sebab nilai ibadah tidak dapat ditakar dengan hitungan akal manusia. Bahkan dengan alat canggih apapun juga.

Disebutkan pula dalam riwayat Bukhari ra., dari Anas ra., dari Rasulullah Saw.

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَاللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَخَّرَ لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِاِلي شَطْرِ الَّيلِ, ثُمَّ اَقْبَلَ بِوَجْهِهِ بَعْدَمَا صَلَّي فَقَالَ: صَلَّي النَّاسٌ وَرَقْدُوْا وَلَمْ تَزَالُوْافِيْ صَلَاةٍمُنْذُاِنْتَظَرْتُمُوْهَا, (رواه بخاري).

Dari Anas ra., bahwasanya pada suatu malam Rasulullah Saw., mengakhirkan shalat isya’ sampai tengah malam kemudian beliau menatap kami setelah selesai shalat serta bersabda: ‘orang-orang telah shalat dan telah tidur, sedangkan kamu sekalian tetap dianggap mengerjakan shalat selama kamu menantikan shalat.” (HR. Bukhari II/51, Fathul Barri).

Terkait penjelasan banyaknya keuntungan dalam menantikan shalat insya Allah sesuai kemampuan aku dalam memahami penjelasan hadits ini telah aku uraikan dan aku lengkapi dengan contoh keterangan jumlah keuntungan menanti shalat jika kita mencoba untuk menghitung-hitungnya.

Hadits Anas ra., ini memperkuat hadits yang telah aku kutip sebelumnya, dimana para sahabat menunggu Nabi Saw., untuk melaksanakan shalat isya’ berjamaah. Para sahabat menunggu beberapa menit atau beberapa jam. Selama mereka menunggu, mereka telah mencetak banyak pahala. Seakan-akan tidak terhitung lagi berapa banyak pahala mereka dan sudah berapa rakaat mereka melaksanakan shalat. Hanya duduk menunggu untuk melaksanakan shalat berjamaah saja. Dari penjelasan hadits yang telah dikemukakan sebelumnya, menunjukkan bahwa menunggu waktu untuk melaksanakan shalat di Masjid termasuk aktifitas penting yang mengandung banyak nilai kebaikan.

BIBIR IMAM HANYA JADI HIASAN BAGI JAMAAH SHALAT




Ibadah adalah kegiatan ritual keagamaan yang memiliki aturan dan syarat. Kedua komponen ini telah ditetapkan berdasarkan pengetahuan yang dibawa oleh tokoh utama yang mengajarkannya. Karenanya, dialah yang berhak menjadi contoh dan pantas untuk dicontohi. Rasulullah Muhammad saw., selaku aktor utama di dalam ajaran agama Islam misalnya. Beliau yang harus menjadi dan dijadikan contoh. Seorang muslim mau tidak mau, suka tidak suka, harus beribadah sesuai dengan contoh yang telah diajarkannya. Apabila praktek ibadah dilakukan sudah sesuai dengan contoh-contoh yang diajarkan tentu kesempurnaan ibadah bisa dirasakan. Begitupun sebaliknya. jika ibadah yang dilakukan belum sesuai dengan contoh, maka label kesempurnaan ibadah tidak mungkin bisa diberikan kepada sang ma’bud (orang yang melakukan ibadah). Banyak sekali perintah Rasulullah Saw., kepada setiap Muslim untuk menyempurnakan ibadah yang dilakukannya. Diantaranya adalah shalat dan ini ibadah yang dinilai paling urgen. Shalat termasuk perintah yang paling utama didalam ajaran Islam.

Islam adalah  agama yang berisi perintah-perintah. Kedudukannya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Kedua perintah ini tidak boleh dilaksanakan asal-asalan. Harus dilakukan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Nah, untuk memahami aturan mainnya tentu harus dengan ilmu.  Karena ilmu itu penting,  maka wajib bagi seluruh muslimin untuk menuntutnya, mempelajarinya dan memahaminya. Tapi, realitas ini rupanya belum maksimal dilaksanakan oleh sebagian umat Islam. Satu diantara banyak contoh sederhana adalah shaf-shaf shalat.

Berdasarkan fakta yang saya saksikan langsung di lapangan. Imam Masjid sering mengarahkan ma’mumnya untuk meluruskan shaf-shaf shalat. Namun, berkali-kali arahan itu tidak diikuti oleh ma’mum. Realitas ini bukan hanya terjadi pada satu atau dua Masjid, melainkan banyak masjid yang tidak mengindahkan arahan tersebut. Bahkan, ada sebagian Masjid yang seluruh jamaahnya tidak mengikuti arahan imam sama sekali. Padahal tugas ma’mum harus mengikuti arahan imam. Anehnya lagi, ketika Imam menjadi ma’mum dia pula tidak meluruskan dan merapatkan shaf sebagaimana arahannya.  Seakan-akan perintahnya untuk meluruskan dan merapatkan shaf ini hanya hiasan bibirnya saja dan hanya nyanyian yang nikmat diperdengarkan di telinga jamaah.

Peristiwa semacam ini, sering saya saksikan ketika saya shalat di kebanyakan Masjid. Bahkan pengamatan ini saya lakukan kurang lebih sudah 11 tahun (terhitung sejak tahun 2009-2020). Saya melihat banyak diantara masyarakat Islam termasuk ada yang telah dipanggil ustadz, guru, dosen, Imam Masjid dan pengurus-pengurusnya tidak memperhatikan pentingnya perintah ini.

Realitas ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. “Kenapa perintah yang disampaikan imam tidak diikuti, padahal perintah itu tujuannya baik, benar dan implikasinya pada kebaikan diri dan seluruh umat Islam?”. Bahkan, perintah meluruskan dan merapatkan shaf termasuk salah satu perkara yang sangat penting menurut Rasulullah Saw. Perintah ini secara tegas telah disebutkan didalam sabdanya:

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَوُّوْاصُفُوْ فَكُمْ;فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ. (متفق عليه).

“Dari Anas ra., berkata: Rasulullah Saw., bersabda: Luruskanlah shaf. Sesungguhnya meluruskan shaf itu termasuk kesempurnaan shalat”. (Mutafaq ‘Alaih). (al-Bukhari, Fathul Barri, II/209 dan Muslim no. 433. Al-Bukhari Ensikledia Hadits 1; Sahih Bukhari 1).

Jadi, tidak sempurna shalat berjamaah itu jika ma’mum tidak meluruskan shaf-shaf nya. Seorang imam harus memahami perintah ini dengan baik. Agar secara keilmuan maupun praktek ia dapat menjelaskan kepada seluruh jamaah yang mungkin belum memahami pentingnya perintah meluruskan dan merapatkan shaf. Dalam mengamalkan perintah, ketika melaksanakan shalat seorang Imam harus menyuruh jamaah yang dipimpinnya untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Adapun perintah merapikan dan meluruskannya adalah sesudah diserukan iqamat shalat. Hal ini, termasuk bagian dari shalat jamaah. Bahkan meluruskan dan merapatkan shaf termasuk bagian dari tegaknya shalat. Rasulullah Saw., telah menegaskannya didalam riwayat bukhari.

وَفِيْ رِوَايَةِ الْبُخَارِي: فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ.

Dalam Riwayat al-Bukhari: ‘Maka sesungguhnya meluruskan shaf-shaf itu, termasuk mendirikan shalat.” (al-Bukhari, Fathul barri. II/209).

Jadi, tidak meluruskan shaf termasuk meruntuhkan shalat, shalat tidak berdiri tegak jika shaf-shaf shalat tidak diluruskan. Seseorang yang tidak menyempurnakannya diancam oleh Allah Swt. Rasulullah Saw., pun sangat tegas menyampaikan perkara ini dalam haditsnya. Pembahasanya telah saya uraikan pada bab-bab berikutnya, para pembaca Insya Allah dapat membacanya lebih lanjut.  

Pertanyaan lain yang muncul dibenak saya adalah: “Mungkinkah pengabaian perintah imam untuk meluruskan shaf belum dipahami?. Mungkinkah belum dipelajari haditsnya?. Mungkin guru fikih di sekolah-sekolah dan dosen fikih di perguruan-perguruan tinggi tidak mengajarkan kepada siswa/mahasiswa tentang pentingnya menyempurnakan shaf-shaf shalat?. Mungkin dalam kitab-kitab fikih, hadits maupun al-Qur’an tidak mengajarkan pentinya meluruskan dan merapatkan shaf?. Mungkin perintah ini tidak diajarkan oleh Nabi Saw., selaku aktor yang mengajarkan Islam ini atau mungkin ini termasuk perbuatan ibadah yang dianggap bid’ah (sesuatu yang dibuat-buat tanpa dasar pengambilan sumbernya yang jelas)?”. Beragam pertanyaan ini terlintas dalam benak saya.

Beberapa pertanyaan tersebut memunculkan beragam pertanyaan lain. “Jika demikian, apakah benar tak ada sautupun hadits yang menyebutkan tentang pentingnya menyempurnakan shaf?. Tapi, bukankah hadits-hadits tentang pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf sebagai kesempurnaan shalat cukup banyak didalam kitab-kitab hadits?”. Dua hadits diantaranya telah saya kemukakan pada pembahasan ini dan beberapa hadits lainnya insya Allah akan saya sebutkan pada pembahasan berikutnya. Dalam menjawab pertanyaan ini, siapa yang harus disalahkan, apakah masyarakat Islam?.

Mungkin kita dapat mengatakan bahwa itu bukan kesalahan masyarakat Islam. Melainkan kesalahan para ulama, para dosen dan para guru-guru fikih yang belum maksimal mengajarkan pentingnya perintah ini?. Benarkah ulama-ulama, dosen-dosen dan guru-guru fikih itu tidak mengajarkannya sama sekali. Sehingga perintah ini diabaikan. Tapi, kalau memang para ulama, para guru dan para dosen fikih belum mengajarkannya, kenapa hampir seluruh Imam Masjid di belahan dunia ini memerintahkan ma’mumnya untuk meluruskan dan merapatkan shaf-shafnya ketika shalat? Atau apakah mereka hanya ikut-ikutan saja atau ikut berdasarkan pengetahuan Sunnah Nabi Saw., atau apakah penyebanya?

Beberapa pertanyaan yang saya kemukakan itu memunculkan semacam kegelisahan. Sebab, saya sudah sering menyaksikan keadaan shaf-shaf jamaah yang selalu bengkok-bengkok dan tidak rapat. Saya juga belum pernah mendengarkan ceramah tentang pentingnya perkara ini secara langsung di lapangan. Kecuali saya baca buku-buku hadits dan tahun-tahun di mana media telah eksis, seperti; youtube, facebook, twiter dan instagram. Dibeberapa media inilah saya sedikitnya mendapatkan penjelasan para ustadz-ustadz tentang pentingnya barisan shalat. Sekian banyaknya ceramah-ceramah yang saya ikuti baik di Makassar maupun di Maluku, samasekali tidak pernah mendengarkan pembahasan ini di Masjid-Masjid. Mungkin ada, tapi jarang dipublikasikan pembahasannya. Belum terpublikasikan secara langsung dilapangan dalam bentuk pendidikan dan seminar-seminar. Dan saya pernah membahasnya di Masjid Raudathul Jannah Amaholu Kec Huamual, Kab SBB, Masjid Jabal Nur Arbes Ambon dan Masjid Daulah Islamiah Kahena Ambon. Itupun belum maksimal samasekali. Karena masih banyak yang belum mempraktekannya. Bagi saya ada tanggung jawab untuk mendakwahkannya dan dorongan untuk menulisnya dalam buku agar masyarakat Islam bisa membacanya dan mengetahui pentingnya perintah menyempurnakan shaf-shaf dalam shalat.

Friday, 22 January 2021

BELAJAR DARI MALAIKAT DALAM MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH

 Oleh: Anin Lihi

Kita telah membaca dan mendengarkan kisah-kisah yang diajarkan didalam al-Qur’an. Darinya diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan terbaik dibanding makhluk lainnya, hatta Malaikat sekalipun. Manusia itu cerdas, manusia itu gagah, manusia itu indah, manusia itu taat. Itulah gelar sepatutnya dimiliki manusia. Walaupun ia dianggap sebagai makhluk terbaik dan memiliki semua kesempurnaan itu, belajar tetap menjadi suatu keharusan. Baik mempelajari ilmu duniawi maupun ukhrawi. Masing-masing punya nilai manfaat dan saling mendukung. Namun yang paling diutamakan adalah ilmu ukhrawi (agama). Seseorang boleh saja berguru kepada sesama manusia, kepada alam bahkan Malaikat. Belajar kepada Malaikat termasuk perintah yang diajarakan oleh Rasulullah Saw. Terutama yang dipelajari adalah sikap ketaatannya kepada Allah Swt.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Malaikat termasuk makhluk yang paling ta’at, rapi dan selalu benar. Malaikat tidak pernah malas dan membangkang terhadap perintah Allah Swt. Sekali diperintah, langsung diselesaikan dan tidak menunda-nundanya. Saat itu diperintah, saat itupula dikerjakan. Jam dan hari itu diperintah, jam dan hari itupula dilaksanakan. Apapun yang dikerjakannya tidak pernah salah dan keliru. Mereka tidak ribut ketika berada dalam jamaah. Intinya, para malaikat itu disiplin, rapi, rajin, tenang, tepat waktu dan selalu dalam kebenaran. Status kelurbiasaan Malaikat ini bisa dilewati oleh manusia, jika manusia mampu menyadari fitrah potensi keluarbiasaannya. Inilah alasan bahwa manusia bisa lebih baik daripada Malaikat dan bisa pula lebih buruk dari setan. Karenanya belajar dari malaikat itu juga penting dan harus diketahui.

Para malaikat merapikan barisan-barisannya dengan sempurna. Barisan mereka ketika mengahadap Allah Swt., tidak bengkok-bengkok dan tidak renggang satu sama lain. “Dan datanglah Tuhanmu dan Malaikat berbaris-baris” (QS al-Fajr/89: 22). Didalam barisan-barisan itu mereka tidak saling berkata-kata, mereka tenang. Kecuali mereka yang dizinkan oleh Allah Swt., untuk berbicara.  Barisan mereka rapat, rapi dan tidak ada cela-celanya sedikitpun. Satu sama lain saling berhimpitan bak rapatnya dua pintu kebaya. Shaf-shaf mereka rapi, rapat dan lurus. Para malaikat tidak membuat barisan di belakang sendiri sebelum barisan yang pertama sempurna. Begitulah Nabi Saw., mengajarkan tatacara berbaris didalam shalat berjamaah kepada umatnya. Beliau Saw., bersabda:

عَنْ جَابِرِبْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فّقّالَ: أَلَا تَصُوْفُوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا؟ قَالَ:يُتِمُّوْنَ صُفُوْفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُوْنَ فِصَّفِّ (رواه مسلم).

Dari Jabir bin Samurah ra., berkata: Pernah Rasulullah Saw., keluar menemui kami lalu besabda: ‘mengapa kamu sekalian tidak berbaris seperti malaikat berbaris dihadapan Tuhan-Nya?’ Kami lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah! Bagaimanakah para Malaikat itu berbaris dihadapan Tuhan-Nya? Beliau bersabda: ‘Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan merapatkan shaf. (HR. Muslim, no. 430).

Nabi Saw., mengajukan pertanyaan yang tegas, lugas dan singkat kepada sahabatnya. Singkat namun sarat makna. Olehnya itu, supaya para sahabat bisa memahami makna dari ungkapan yang dikemukakannya, mereka bertanya. Para sahabat belum tau, bagaimanakah para malaikat itu bershaf-shaf. Apalagi status Malaikat itu gaib. Tentu hanya Nabi Muhammad Saw., yang lebih banyak tau ihwal kehidupan para Malaikat. Karena itu, mereka bertanya dengan penuh harap, agar bisa mendapatkan jawaban dan memahami maksud dari ucapan Nabi saw., tersebut. Para sahabat orang yang cerdas. Tetapi, kecerdasan itu bukanlah alasan bagi mereka untuk beramal atas keinginan sendiri. Mereka melakukan amalan-amalan ibadah bukan atas dasar hawa nafsu. Namun, beramal di atas bimbingan Nabi Saw., dengan pengetahuan yang sempurna. Beramal di atas pundak ilmu, iman dan ketaqwaan. Itulah sebabnya, mereka bertanya kepada orang yang mengetahuinya dan memahaminya.

Para sahabat paham bahwa al-Qur’an mengajarkan kepada setiap manusia untuk bertanya jika tidak memahami pesan dan nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.

!$tBur $uZù=yör& ÆÏB y7Î=ö6s% žwÎ) Zw%y`Í ûÓÇrqœR öNÍköŽs9Î) 4 (#þqè=t«ó¡sù Ÿ@÷dr& ̍ø.Ïe%!$# bÎ) óOçGYä. Ÿw tbqçHs>÷ès? ÇÍÌÈ  

Dan kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl/16: 43).

Sahabat-sahabat tau bahwa Nabi Saw., tidak beramal atas dasar hawa nafsu. Melainkan beramal di atas pundak wahyu Ilahi. Artinya, pengetahuan Nabi Saw., tentang Malaikat murni ajaran Allah Swt. Beradasarkan pemahaman ini, Nabi Saw., adalah orang yang tepat untuk diberi pertanyaan tentang sikap Malaikat. Ini bukan hanya cerita dongen melainkan realitas yang dialami Nabi Saw.  Lantas bertanyalah para sahabat. Bagaimanakah para malaikat itu bershaf-shaf dihadapan Allah Swt., Ya Rasul Allah?.

Beliaupun menjelaskannya dengan redaksi yang singkat. Singkat, tapi sarat keutamaan dan mudah dipahami. Wahai sahabatku, para malaikat ketika bershaf-shaf dihadapan Allah Swt., mereka menyempurnakan shaf pertama dan rapat. Shaf pertama terisi penuh, rapat, rapi dan lurus barulah shaf kedua, ketiga hingga shaf-shaf seterusnya. Para malaikat itu merapatkan shaf-shaf sehingga cela-cela shaf tertutup samasekali. Kalau saya ilustrasikan, rapatnya barisan mereka seperti rapatnya dua pintu kebaya saat ditutup.

Perintah untuk mengikuti cara para Malaikat ketika berbaris dihadapan Allah SWT merupakan satu keutamaan yang membedakan Umat Islam dengan umat-umat yang lain. Hal ini disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, dari riwayat Muslim bahwa ju'ilats shufuufana kasufuufi malaikah dijadikan barisan kita seperti barisannya para Malaikat. ini dijelaskan ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat wainna lanahnushoofuun "dan kami benar-benar berbasis ketika melaksanakan perintah Allah Swt. Maksudnya Allah SWT telah menjadikan barisan Umat Islam ketika mereka sholat seperti barisan para Malaikat ketika beribadah kepada Allah. Perintah ini telah diamalkan oleh Nabi SAW dan para sahabat yang hidup sezaman dengannya. Juga diikuti Khalifah Abu Baqar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan sahabat Bilal bin Raba dan hingga ahli hadits seperti Imam Bukhari. bahkan dikisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab ra menjadi Imam, beliau menghadap kepada para jamaah seraya menyeru "sesungguhnya Allah hendak menjadikan barisan shalat kalian seperti barisannya para malaikat" dan Umar bin Khattab tidak akan memulai takbir sebelum barisan-barisan ma'mumnya lurus, rapat sejajar dan rapi.

Hadits di atas mengajarkan anjuran untuk menyerupai para malaikat, karena para malaikat itu ma’sum yakni terjaga dari kesalahan. Adapun menyerupai yang ma’shum menyebabkan seseorang dapat menyerupai kesempurnaan amal.

Kema’suman itu berimplikasi pada ketaatan, melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan. Beramal atas dasar ajaran Agama dan berhukum atas dasar syari’at. Belajar pada jalan yang benar, dan mengambil ilmu yang tepat. Maka jadilah mereka bersih dari dosa dan kesalahan serta jauh dari kemaksiatan. Karena itulah ilmu mereka penuh dengan cahaya hikmah dan amal mereka berada dalam kesempurnaan. Disebutlah mereka orang-orang yang mukhlis. Dibelahnya Dada Nabi Saw., lantas dibersihkan kotor-kotoran hati dalam dadanya oleh Malaikat Jibril supaya jadilah ia ma’sum dan bersih dari dosa-dosa.

Adapun cara yang tepat bagi seluruh umat Islam untuk menjadi orang-orang yang bersih dari dosa adalah memperbagus tauhid dan senantiasa beribadah di atas ilmu yang benar. Terutama, memaksimalkan ingatan kepada Allah Swt., dengan senantiasa menyempurnakan seluruh ibadah, shalat paling utama, kemudian senantiasa berzikir kepada Allah Swt.