Oleh: Anin Lihi
Kita sering menyaksikan banyak
perlombaan-perlombaan. Perlombaan di bidang olahraga, seperti; Gulat, permainan
bola kaki, bola volly, bulu tangkis, tenis meja, persilatan dan lempar lembing.
Perlombaan bidang tarian dan perlombaan bidang seni suara seperti; nyanyian-nyanyian,
musabaqah tilawah, lasqi dan lain-lain.
Semua jenis perlombaan ini dibuat
dalam bentuk olimpiade. Para pemenang yang berhasil meraih juara diberikan
hadiah berupa uang, medali emas atau perunggu sebagai piala kemenangan. Sebelum
peserta tampil mengikuti olimpiade. Terlebih dahulu para peserta diundi.
Undian itu bertujuan untuk menentukan
peserta lomba yang tampil pertama, kedua dan seterusnya. Para peserta diundi
siapa yang memenangkan perlombaan itu dan mendapatkan hadiahnya.
Para peserta lomba ini begitu bersemangat
untuk meraih juara. Mereka berharap memenangkan juara itu dan tidak peduli
dengan hadiah yang diberikan. Mereka rela meninggalkan shalat berjamaah demi
meraih hadiah-hadiah dunia yang bersifat kesenangan sementara itu. Bahkan
dengan susahpayah dan dengan pengorbanan yang sangat asalkan bisa mendapatkan undian-undiannya.
Padahal justru banyak yang tertipu dengan kesenangan sesaat dan akhirnya kesenangan
abadi terlupakan.

(Sumber Foto: https://www.google.com/search?q=MENGEJAR+KEUNTUNGAN+BESAR&safe=strict&sxsrf=ALeKk021GBu9LCOWd1Fb_1oTQI5
Di dunia hiburan kita sering
mendengar liga dangdut. Sebelum tampil untuk menjadi penyanyi terbaik di TV pusat.
Peserta lomba harus mengikuti seleksi di daerah-daerah mereka masing-masing. Siapa
diantara mereka yang berhak mewakili provinsi untuk mengikuti liga dangdut
tersebut. Artinya, mereka diundi terlebih dahulu. Tentu bukan hal yang mudah
untuk menjadi penyanyi nomor satu mewakili Propinsi. Namun sesuatu yang dingini
rintangan bukanlah sebab hambatan. Berbagai rintangan tidak menyulut semangat
mereka.
Seorang teman aku pernah mengikuti
undian liga ini. Namun, dia tidak mendapatkan juaranya. Tentu kegagalan itu
menyulut api kekecewaan dalam dadanya. Karena tidak sanggup menahan kesal. Diapun
mengutarakan kekecewaannya di Facebook. Dia merasa bahwa dialah yang pantas
untuk tampil mewakili Propinsi. Tapi, pilihan itu tidak jatuh padanya. Dia sampai
menangis tersedu-sedu sebab kesempatan itu tidak bisa diraihnya untuk tampil
menjadi penyanyi dangdut di liga dangdut itu.
Aku sempat berpikir, masya Allah
yah. Tampil menjadi penyanyi dangdut saja begitu bersemangat. Padahal aktifitas
ini termasuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah Swt., dan tentu pemainnya
dimasukkan kedalam neraka. Semangat dalam hal kemaksiatan meskipun aktifitas
kemaksiatan itu ada undiannya dan diraih dengan susahpayah.
Tidak hanya itu, kita juga sering
menyaksikan para penonton liga dangdut yang rela tidak tidur hanya untuk
menyaksikan orang-orang yang mereka idolakan. Bahkan di rumah-rumah ada yang
menunggu waktu siaran TV liga itu sampai larut dan semangat mereka jauh lebih
tinggi dari peserta yang mengikuti lomba. Ada yang rela mengirimkan uang, suara
dan dukungan untuk menyemangati peserta yang mereka idolakan. Padahal yang
mereka dapatkan hanya lelah dan ngantuk. Jika acara tersebut terlewatkan mereka
merasa menyesal, karena kesempatan itu tidak mereka lihat, padahal mereka masih
bisa menontonnya kembali di youtobe. Nauuzubillah.
Yang paling heboh lagi adalah
perlombaan perebutan piala dunia. Yang menjadi persoalan adalah penonton. Ada
yang rela mengorbankan waktu tidur mereka hanya untuk menyaksikan permainan
bola. Alangkah besar manfaatnya, jika waktu tidur itu digunakan untuk beribadah
kepada Allah Swt. Misalnya; Shalat Tahajjud, Baca Qur’an, Baca Kitab/Buku dan
kebaikan lainnya.
Sementara pada perkara amal
ibadah meskipun banyak sekali yang tertinggal, sedikitpun tidak mereka sesali.
Mereka jahiliah dengan agama mereka biasa-biasa saja, mereka tidak tau membaca
al-Qur’an mereka santai-santai saja, mereka tidak melaksanakan shalat mereka
tetap tertawa terbahak-bahak, mereka tertinggal dan shalat berlalu dari waktu
ke waktu mereka tak peduli. Sibuk dengan urusan dunia, merasa ilmu tidak
penting dan menganggap tidak perlu pertolongan Allah Swt. di akhirat kelak dan
tidak ingin rahmat Allah berpihak pada mereka.
Tapi, mereka yang paham tentang
pentingnya ibadah dan keutamaannya mereka sangat bersemangat. Mereka tau bahwa
hadiah ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Swt., jauh lebih besar dari juara
penyanyi dangdut itu. Mereka memang belum melihat atau menyaksikan hadiah-hadiah
ibadah itu. Tapi, mereka yakin bahwa hadiahnya pasti diberikan jika sungguh-sungguh
dan ikhlas dalam mengamalkannya. Adapun yang tidak paham mereka tidak mau
bersemangat dalam melaksanakannya.
Bagi yang belajar mereka tau
hadiah yang diberikan Allah Swt., pada mereka. Mereka tau bahwa seluruh ibadah
dan amalan itu hadiahnya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya. Jauh lebih
baik dari piala emas, perunggu dan permata. Bahkan mereka akan mendapatkan
kesenangan abadi yang sebelumnya tidak terbayang sedikitpun dibenak dan hati
serta belum pernah dilihat mata. Mereka tau bahwa disetiap perkara ibadah ada
ganjarannya, hatta perkara ibadah terkecil. Termasuk perkara keuntungan dalam
panggilan dan shaf shalat ini. Karena mereka tau maka mereka rela meskipun
diundi untuk mendapatkannya. Rasulullah Saw., bersabda:
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, عَنَّ رَسُولُ اللهِ
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَوْ
يَعْلَمُ النَّاسَ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ, ثُمَّ لَمْ يَجِدُ
وْا اِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا. (متفق عليه)
“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah Saw.,
bersabda: ‘Andaikata orang-orang mengetahui pahala yang terkandung di dalam
panggilan shalat dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali
dengan berundi untuk mendapatkannya, pasti mereka berundi.’”
(Mutafaq ‘Alaih). HR. Bukhari, Fathul Baari, II/96 dan Muslim no. 437).
Maka dibalik setiap ibadah ada
keuntungannya, tapi shalat adalah ibadah paling utama diantara ibadah lainnya.
Perkara ini menjadi ukuran diterimanya amal-amal lainnya. Jika shalatnya
diterima maka amal lainnya berikutan diterima. Itulah keutamaan shalat.
Hadits ini memberitahukan kita
tentang besarnya pahala yang ada pada Adzan dan shaf pertama. Jika
manusia mengetahui pahala, keuntungan dan hadiah dari kedua perkara ini, mereka
pasti bersedia mengikuti undian, agar bisa meraih keduanya meskipun dengan
susahpayah.
Maka, setelah mengetahui hadits
ini, hilanglah kemalasan kita untuk melaksanakan shalat tepat waktu di Masjid
dan perhatian kita terhadap pentingnya shaf. Timbul pula semangat untuk mendapatkan
shaf pertama. Memperrebutkan shaf pertama selain dibelakang Imam.
Karena dibelakang imam harus orang yang pandai memahami Qur’an atau orang yang
berilmu. Untuk mendapatkan shaf pertama bagi yang paham akan saling
berebut, bukan sebaliknya saling dorong mendorong dan saling mempersilakan satu
samalain untuk menempati shaf pertama itu. Bahkan, sebelum iqamat
dimulai shaf-shaf mestinya telah terisi penuh. Kita harus berlomba-lomba,
bergegas memperoleh shaf pertama, dan ketahuilah saudariku bahwa inilah
ciri orang-orang yang paham.
Sisilain dari filosofi dua amalan
ini adalah adanya pengajaran supaya melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Dalam
keutamaan shalat tepat waktu itu, jika shalat dilakukan berjamaah di Masjid,
maka diganjari pahala 25 atau 27 derajat pahala. Tentu bukan hanya 25 atau 27
derajat pahala shalat berjamaah saja, pasti masih banyak keuntungan lain yang
bisa kita dapatkan ketika kita tepat waktu dalam melaksanakan shalat dan
apalagi sebelum adzan dikumandangkan kita sudah berada di Masjid menanti
shalat, tentu akan mendapatkan lebih banyak lagi pahala, sebab kita dianggap
selalu mengerjakan shalat selama kita duduk menanti shalat. Sebagaimana disebutkan
dalam hadits yang satu ini, bahwa:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي
اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ
قَلَ: لَايَزَالُ اَحَدُكُمْ فِيْ صَلَاةٍمَادَمَتِ
الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ, لَيَمْنَعُهُ اَنْ يَنْقَلِبَ اِلَي اَهْلِهِ اِلَّا
الصَّلاة. (متفق عليه)
“Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya
Rasulullah Saw., bersabda: Seseorang itu selalu dianggap mengerjakan shalat
selama ia tertahan untuk menantikan shalat, tidak ada yang menahannya untuk
kembali ke rumahnya melainkan shalat”. (HR. Bukhari, II/148. Dalam Fathul
Barri dan Muslim no. 669).
Apabila lebih awal lagi kita
menantikan shalat, maka selama itu pula kita dianggap melaksanakan shalat. Jika
dua jam sebelum waktu shalat masuk kita sudah berangkat ke masjid untuk menanti
shalat. Berarti selama dua jam kita dianggap melaksanakan shalat. Kalau kita
hitung lamanya shalat wajib, paling hanya 10 atau 15 menit atau mungkin kurang
dari itu. Jika Shalat Subuh dan Maghrib mungkin kurang dari 10 atau 15 menit. Kecuali
ayat yang dibaca panjang baru bisa sampai 20 menit. Itupun belum tentu sampai
selama itu. Jadi, 10 menit kalau kita kali 6 hasilnya 60 menit, yakni 1 jam.
Berarti 1 Jam 6 kali kita shalat wajib. Jadi kalau 2 Jam sama dengan 12 kali,
karena 6 dikali 2. Sekali sahalat wajib diganjari 27 pahala. Jadi 12 kali shalat
wajib dikali sekali shalat berjamaah 27 pahala. Yaitu; 12X27= 324 pahala. Jadi,
sekali menunggu satu waktu shalat wajib kita dapat 324 pahala. Itu 2 Jam saja
kita menunggu. Belum lagi pahala Shalat Sunnah, membaca al-Qur’an, zikir dan
aktifitas kebaikan lain yang kita lakukan. Adapun 324 pahala kalau dikali Lima kali waktu
shalat wajib dalam sehari kira-kira kita dapat berapa. Masya Allah 1,620 pahala.
Itu sehari. Kalau kita kali sebulan, maka 1,620X30hari= 48.600 pahala. Jika dikali setahun tentu lebih banyak
lagi. Masya Allah pendapatan kita sangat banyak. Tentu ini bukan nilai uang
satu juta, sepuluh juta atau uang satu miliar yang bisa kita bayang-bayangkan. Ini
nilai pahala yang tidak bisa kita samakan dengan uang, nilainya pasti lebih
dari nilai uang yang ada dalam bayangan kita.
Masya Allah, orang datang di
Masjid saja sudah dapat pahala dan karunia Allah. Tentu itu bukan
hitung-hitungan pedagang kaki lima atau pengusaha. Sebab nilai ibadah tidak
dapat ditakar dengan hitungan akal manusia. Bahkan dengan alat canggih apapun
juga.
Disebutkan pula dalam riwayat
Bukhari ra., dari Anas ra., dari Rasulullah Saw.
وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَاللهُ عَنْهُ
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَخَّرَ
لَيْلَةً صَلَاةَ الْعِشَاءِاِلي شَطْرِ الَّيلِ, ثُمَّ اَقْبَلَ بِوَجْهِهِ
بَعْدَمَا صَلَّي فَقَالَ: صَلَّي النَّاسٌ وَرَقْدُوْا وَلَمْ تَزَالُوْافِيْ
صَلَاةٍمُنْذُاِنْتَظَرْتُمُوْهَا, (رواه بخاري).
“Dari Anas ra., bahwasanya pada suatu
malam Rasulullah Saw., mengakhirkan shalat isya’ sampai tengah malam kemudian
beliau menatap kami setelah selesai shalat serta bersabda: ‘orang-orang telah
shalat dan telah tidur, sedangkan kamu sekalian tetap dianggap mengerjakan
shalat selama kamu menantikan shalat.” (HR. Bukhari II/51, Fathul Barri).
Terkait penjelasan banyaknya
keuntungan dalam menantikan shalat insya Allah sesuai kemampuan aku dalam
memahami penjelasan hadits ini telah aku uraikan dan aku lengkapi dengan contoh
keterangan jumlah keuntungan menanti shalat jika kita mencoba untuk
menghitung-hitungnya.
Hadits Anas ra., ini memperkuat
hadits yang telah aku kutip sebelumnya, dimana para sahabat menunggu Nabi Saw.,
untuk melaksanakan shalat isya’ berjamaah. Para sahabat menunggu beberapa menit
atau beberapa jam. Selama mereka menunggu, mereka telah mencetak banyak pahala.
Seakan-akan tidak terhitung lagi berapa banyak pahala mereka dan sudah berapa
rakaat mereka melaksanakan shalat. Hanya duduk menunggu untuk melaksanakan
shalat berjamaah saja. Dari penjelasan hadits yang telah dikemukakan
sebelumnya, menunjukkan bahwa menunggu waktu untuk melaksanakan shalat di
Masjid termasuk aktifitas penting yang mengandung banyak nilai kebaikan.