Allah memerintahkan kita untuk memberi salam kepada
sesama muslim di manapun dan kapanpun kita bertemu. Salam itu dilakukan kepada
semua umat muslim, baik yang kita kenal atau tidak, anak-anak atau orang tua,
dan remaja atau dewasa. Perintah ini berlaku umum bagi semua muslim.
Nabi SAW bersabda:
وعن أبِى يُوْسُفَ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَلَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
سَمِعْمُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقْلُ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ
أَفْشُوْاالسَّلام، وَأَطْعِمُواالطَّعَمَامَ، وَصِلُ الْأَ رْحَامَ، وَصَلٌّ
النَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُواالْجَنَّةَ بِسَلَامٍ، رواه الترمذي وقال حديث صحيح.
Artinya: Dari Abu Yusuf ‘Abdullah
bin Salam ra. Berkata: “Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam,
berikanlah makanan, hubungkanlah tali persahabatan, dan shalatlah sewaktu
orang-orang sedang tidur; nisacaya kamu sekalian akan masuk surga dengan
selamat”. (Hr. Tirmidzy, dengan sanad sahih).
Sederhana sekali kalau diamati,
seorang muslim diperintah untuk menyebarluaskan salam “afsyus salam”.
Tentu Allah tidak sekedar hanya memerintahkan salam, melainkan ada fungsi dan
nilai salam bagi kebaikan manusia. Pembahasan ini akan dijelaskan pada
judul-judul berikutnya. Mari fokus pada perintah untuk menyebarluaskan salam.
Menyebarluaskan salam sekali lagi
perintah Allah dan juga Rasulullah SAW. Perintah ini tidak hanya disebarkan di
tempat-tempat umum saat bertemu, tetapi juga di rumah-rumah. Baik didalam rumah
atau saat memasuki rumah dan atau rumah orang lain atau rumah sendiri. Rumah
sendiri saja seseorang harus memberi salam apalagi di rumah orang lain. Bahkan
di rumah orang lain ini, tidak hanya salam, tetapi juga wajib seseorang meminta
idzin kepada penghuni rumah yang tinggal didalamnya. Perintah ini secara tegas
diintruksikan langsung oleh Allah SWT.
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä w (#qè=äzôs? $·?qãç/ uöxî öNà6Ï?qãç/ 4_®Lym (#qÝ¡ÎSù'tGó¡n@ (#qßJÏk=|¡è@ur #n?tã $ygÎ=÷dr& 4 öNä3Ï9ºs ×öyz öNä3©9 öNä3ª=yès9 crã©.xs? ÇËÐÈ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (Q.S. an-Nur/24:27).
Ayat ini seakan memberi antonim bahwa tidak meminta izin dan memberi salam
kepada penghuni rumah termasuk perbuatan buruk. Bahkan lebih tegas orang
seperti ini telah menyalahi ketetapan Allah SWT sebagai bentuk menghargai diri
sendiri.
}§ø©9 n?tã 4yJôãF{$# Óltym wur n?tã ÆltôãF{$# Óltym wur n?tã ÇÙÌyJø9$# Óltym wur #n?tã öNà6Å¡àÿRr& br& (#qè=ä.ù's? .`ÏB öNà6Ï?qãç/ ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ͬ!$t/#uä ÷rr& ÏNqãç/ öNä3ÏG»yg¨Bé& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ÏNqãç/ öNà6Ï?ºuqyzr& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏJ»uHùår& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏG»¬Hxå ÷rr& ÏNqãç/ öNä3Ï9ºuq÷zr& ÷rr& ÏNqãç/ öNà6ÏG»n=»yz ÷rr& $tB OçFò6n=tB ÿ¼çmptÏB$xÿ¨B ÷rr& öNà6É)Ï|¹ 4 [øs9 öNà6øn=tæ îy$oYã_ br& (#qè=à2ù's? $·èÏJy_ ÷rr& $Y?$tGô©r& 4 #sÎ*sù OçFù=yzy $Y?qãç/ (#qßJÏk=|¡sù #n?tã öNä3Å¡àÿRr& Zp¨ÏtrB ô`ÏiB ÏYÏã «!$# Zp2t»t7ãB Zpt6ÍhsÛ 4 Ï9ºx2 ÚúÎiüt7ã ª!$# ãNà6s9 ÏM»tFy$# öNà6¯=yès9 cqè=É)÷ès? ÇÏÊÈ
Artinya: Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang
pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri,
Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu,
dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah
saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah
saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah
saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah
kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau
sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini)
hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam)
kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi
berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar
kamu memahaminya. (Q.S. an-Nur/24:61).
Tidak ada larangan untuk memasuki rumah-rumah seperti yang dijelaskan dalam
ayat ini, tetapi yang perlu diingat yaitu minta
idzin dan salam. Rasul SAW seringkali mengingatkan kita dengan kisah-kisah tegasnya
kepada sahabat yang tidak memberi salam saat memasuki rumahnya. Bahkan menyuruh
mereka keluar kemudian masuk kembali sambil mengucapkan salam. Artinya, jika
sahabat memasuki rumah, lalu lupa atau sengaja tidak mengucapkan salam, maka
Rasul SAW langsung menyuruhnya kembali untuk mengucapkan salam sebelum memasuki
rumah.
Hal ini menunjukan bahwa perintah untuk menyebar luaskan salam sangat
penting. Bahkan ketika ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang
Islam yang baik, Rasulullah SAW menjawab “mengucapkan salam”. Sebagaimana
dalam sabda beliau.
Dari ‘Abdullah bin Amr bin al ‘Ash ra. Bahwasannya ada seorang laki-laki
bertanya kepada Rasulullah SAW: “Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau
menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan dan mengucapkan salam, baik kepada orang
yang kamu kenal maupun yang tidak kamu kenal”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Perintah untuk menyebarkan salam atau mengucapkan salam kepada sesama
muslim tidak hanya ditujukan bagi orang yang kita kenal, tetapi yang tidak kita
kenalpun harus diberi ucapan salam. Bahkan perintah untuk menyebarkan salam Allah
telah memerintahkan kepada nabi pertama dan kepada nabi-nabi terdahulu. Misalnya salam yang dilakukan oleh nabi Adam
SAW kepada Malaikat dan kaum nabi Ibrahim SAW kepada Ibrahim SAW. Tentang kisah
salamnya Adam SAW ini telah diungkapkan oleh nabi Muhammad SAW dan tentang salamnya
kaum nabi Ibrahim telah diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Dzariyat ayat
24-25. Sebagaimana tertera di bawah ini.
Dari Abu Hurairah ra. dari nabi SAW bersabda: “Ketika Allah Ta’ala
menciptakan Adam SAW., Allah berfirman kepadanya: “Pergilah dan ucapkan salam
kepada para Malaikat yang sedang duduk itu kemudian dengarkanlah jawaban mereka
kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan
bagi anak cucumu, maka Adam SAW mengucapkan: “Assalaamu’alaikum”. Mereka menjawab:
“Assalaamu’alaika wa rahmatullaah”. Mereka memberi tambahan dengan “Wa rahmatullah”.
(HR. Bukhari dan Muslim).
ö@yd y79s?r& ß]Ïym É#ø|Ê tLìÏdºtö/Î) úüÏBtõ3ßJø9$# ÇËÍÈ øÎ) (#qè=yzy Ïmøn=tã (#qä9$s)sù $VJ»n=y ( tA$s% ÖN»n=y ×Pöqs% tbrãs3YB ÇËÎÈ
Artimya: Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang
tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu
mengucapkan: "Salaaman". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu)
adalah orang-orang yang tidak dikenal." (Q.S. al-Dzaariyat/51:24-25).
Kedua kisah ini seyogyanya memberikan kita motivasi untuk menyebarluaskan
salam kepada sesama. Banyak sahabat nabi telah menyampaikan pentingnya perintah
untuk menyebarluaskan salam. Hal ini disebut dalam beberapa hadits berikut:
Dari al-Barra’ bin ‘Adzib ra. Berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah
SAW menyuruh kami untuk melaksanakan tujuh macam perbuatan yaitu: menjenguk
orang sakit, mengiringkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang
yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebarluaskan salam dan menepati
sumpah”. (H.R. Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. Berkata: “Kamu
sekalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman, dan kamu sekalian
tidaklah beriman sebelum saling sayang menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu
yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling sayang menyayangi?
Yaitu sebarluaskan salam di antara kalian.” (H.R, Muslim).
Begitu pentingnya menyebarluaskan salam sehingga Raasululah saw begbtu ttgas.


