Monday, 25 October 2021

Berpikir itu Sudah Ada Sejak Manusia Ada



Sebelum tokoh-tokoh Yunani, seperti; Socrates, Plato, dan Aristoteles atau tokoh Yunani sebelum mereka, misalnya para filosof alam, yakni; Thales, Anaximenes, dan beberapa orang lainnya mengakui tentang kehebatan berpikir dan mengaungkan konsep berpikir ala filsafat. Konteks berpikir sudah dilakukan oleh manusia pertama. Sebab, berpikir sudah menjadi sesuatu fitrah manusia. Tanpa filsafatpun manusia akan selalu berpikir. Karenanya, ketika, qabil membunuh saudaranya sendiri karena cemburu, iapun menyesal setelah adiknya terbunuh. Penyesalan itu sebenarnya, hadir karena ia berpikir bahwa perbuatannya salah.

Thales berpikir tentang ada, lalu hasil berpikirnya menyimpulkan bahwa yang awal adalah air. Dari airlah alam ini berada. Begitu pula tumbuhan, hewan, dan manusia. Tapi, jauh sebelum Filosof Alam dan Filosof ketuhanan melakukan aktivitas berpikir. Konteks berpikir telah lebih dahulu dilakukan oleh Nabi Ibrahim as ketika ia hendak mencari Sang Pencipta. Sebelum ia mendapat petunjuk ilahi (wahyu), fitrah akalnya berpungsi untuk mencari kebenaran. 

Sebelumnya Ibrahim as juga memeras otaknya memikirkan dan mencari kebenaran Tuhan. Tahap awal pencarianya dimulai dengan melihat benda-benda Alam. Seperti, Bintang, Bulan, dan Matahari. Barangkali menurutnya, dari benda-benda itulah alam itu ada. Keberadaanya mungkin melalui pembelahan diri dan perkembang biakan. Sehingga dari Matahari melahirkan bumi, manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang dan lain sebagainya. Tetapi, saat ia mengamati bintang-bintang, bulan, dan matahari itu, ternyata pada pagi hari bulan dan bintang-bintang itu hilang, begitupula matahari saat sore menjelang malam iapun juga hilang. Ia berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin timbul dan tenggelam seperti bintang-bintang, bulan, dan matahari itu. Tuhan juga tidak bisa digambarkan besarnya seperti bulan dan  matahari berdasarkan pandangan manusia. 

Proses berpikir tentang Tuhan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim as., merupakan kegelisahannya terhadap keberadaan dirinya. Darimana dirinya berasal dan akan kemana ia pergi setelah ia mati. 

Mundur ke belakang sebelum nabi Ibrahim as., kecil dewasa, ia pernah mempertanyakan asal mula keberadaan manusia. Pertanyaan itu ia lontarkan kepada Ibunya. "Ibu, darimana saya berasal?". Ibunya menjawab, "engkau berasal dari Ibu, Ibu yang melahirkanmu". Kalau begitu, "Ibu berasal darimana?". Ibunya menjawab, "Ibu berasal dari nenekmu". "Nenek dari nenek buyutmu", hingga seterusnya.

Jika pertanyaan ini terus berlanjut sampai pada pertanyaan dari mana nenek buyut berasal. Maka, mentok pertanyaan itu dengan jawaban bahwa ada pencipta yang tentunya kita kebingungan menyebut nama Sang Pencipta itu. Dengan kata "mungkin", kita kemudian mencoba memberi nama "Dia adalah Dzat", "Dia Sang Penggerak Abadi", "Dia adalah Awal dari yang Pertama", "Dia Tuhan", "Dia adalah nama yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata". "Dia adalah Dzat yang mengadakan segala yang ada". "Dia adalah Dzat yang akan selalu ada walaupun kata ada itu tiada". "Dia Abadi, Dia kekal, dan Dia Azali". Dari-Nya pikiran ada, dan kepadanya pemikiran dipertanggung jawabkan. Begitulah keberadaan alat berpikir. 

Pada berpikir adalah fitrah, karenanya dalam mantiq manusia di artikan sebagai "hayawanun naatiq" (makhluk yang berpikir). Bahkan berpikir termasuk perintah Allah yang harus dan senantiasa dilakukan oleh setiap muslim. 

Allah menciptakan alam ini dan seluruh makhluk yang ada didalamnya serta peristiwa dan kejadian sebagai tanda yang harus dipikirkan. Tanda-tanda ini merupakan objek yang demikian harus dijadikan objek yang dianalisis.  Benarlah Allah berfirman:


اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَآءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَا خْتَلَطَ بِهٖ نَبَا تُ الْاَ رْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّا سُ وَا لْاَ نْعَا مُ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَخَذَتِ الْاَ رْضُ زُخْرُفَهَا وَا زَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَاۤ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَاۤ ۙ اَتٰٮهَاۤ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَا رًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَ نْ لَّمْ تَغْنَ بِا لْاَ مْسِ ۗ كَذٰلِكَ نُـفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir."
(QS. Yunus 10: Ayat 24)

Itulah sebabnya, orang-orang yang tidak mengelola alat berpikir dengan baik dan pada hal-hal positif diibaratkan seperti hewan yang tidak memiliki akal. Yang senantiasa tersesat dan selalu membuat kerusakan. 


Padahal kalau mereka tau, akal merupakan kunci utama berpikir. Jika ia digunakan dengan maksimal seseorang akan menjadi mulia dan mendapat derajat yang tinggi. 


Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: