Friday, 22 October 2021

Hakikat Kemurnian Cinta dan Bahaya Pemburu Nafsu



Setiap manusia ingin dicintai dan disayangi. Kedua kata ini sangat mudah diucapkan setiap lidah. Namun, berat pelaksanaanya. Kalaupun dianggap ringan dilaksanakan, maka kebanyakan sering jatuh pada penodaan dan diakhirnya penyesalan. Itulah sebenarnya pekerjaan para pemburu nafsu. Mereka sering kali merusak kesucian cinta, menyebarkan bualan palsu, dan meluncurkan syair-syair setan. Karena  perbuatan mereka, korban cinta palsupun banyak berserakan.
Kata cinta sering menjadi korban, sehingga banyak pepatah menghakimi kata cinta. Diantara contohnya, katanya, "cinta itu buta". Kalimat ini perlu kita murnikan, agar cinta tidak menjadi kambing hitam. Sebenarnya, bukanlah cinta yang buta, tetapi mereka yang menggunakan kata cinta. Merekalah para korban pemburu nafsu, karena mereka kesal dan marah. Akhirnya kata cinta mereka salahkan. Mereka dengan amarahnya, tanpa terkontrol, dengan emosi yang bergejolak. Maka, keluarlah dari lisan mereka bahwa "cinta itu buta". 
Para pemburu cinta telah meluapkan emosi kepada korbannya, lalu emosi menutup pikiran positif, pikiran jernih dan otak cerdasnya. Seakan mereka seperti yang dikatakan sang Khaliq. "Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali". Maksudnya, kembali kepada kebenaran dan pikiran yang positif. 

Tekanan amarah dan dorongan hawa nafsu dari korban pemburu nafsu dan si pemburu nafsu telah merubah nilai kemurnian cinta. Kata cinta, memang menjadi ungkapan menarik, membuat bibir tak berhenti tersenyum dan sedikitnya membuka pintu kesenangan. Tetapi, ungkapan cinta dari si pemburu nafsu lantas membuat ungkapan yang menarik terbalik mengerikan, bibir tersenyum berbalik sedih, dan senang berubah menjadi kegelisahan.
Demikianlah cinta yang ternodai kesuciannya. Inilah jika cinta dipraktikan oleh mereka yang jauh dari nasehat Sang Khaliq dan Sang utusan, jauh dari binaan semesta kesucian, dan pujangga abadi kebenaran. 






 Bagi umat Rasulullah saw., cinta adalah kalimat murni, yang mengandung ketulusan, kejujuran, amanah, dan  ketaqwaan. Didalamnya ada Tauhid, ada ikhlas, dan ada Iman. Sehingga mencinta termasuk perkara yang diperintahkan. Sebab, tanpanya iman seakan berkurang. Bahkan, jika seseorang telah merealisasikanya, orang tersebut sudah  bisa dianggap sebagai bagian dari pelaku iman yang sejati. Seorang muslim bisa mendapatkan gelar beriman, jikalau cinta telah digunakan dengan baik dan tepat. Seorang muslim dianggap mempunyai iman yang baik, jika cinta telah disebarkan dan ditumbuhkan dengan penuh ketulusan dan kejujuran.

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه
"Engkau tidak dianggap beriman, sampai engkau mencintai saudaramu, melebihi cintamu pada dirimu." 

cukuplah ungkapan ini menjadi renungan bagi kita bahwa rusak, jelek dan bejatnya bukan terletak pada cinta. Kerusakan, kebutaan, kejelekan, dan kebejatan berasal dari para pelaku hawa nafsu. Itulah yang saya sebut sebagai para pemburu nafsu.
Merekalah yang menyebarkan bunga racun, sirup gila, dan susu yang memabukkan. 

Para pemburu nafsu, terkadang menggunakan  beragam cara untuk meluncurkan cinta palsunya. Bahkan, terkadang mereka menggunakan buhul, mantra sihir, dan puisi-puisi pengalihan pikiran dengan sugesti kekuatan gaib yang kesemuanya berasal dari bisikan setan yang menyesatkan.

Sugesti itulah yang merubah pikiran sasaran pada pikiran nyaman, senang, dan selalu terngiang dalam ingatan jika si pemburu nafsu ini tidak ada disampingnya. Padahal sebelumnya si pemburu nafsu itu bukanlah orang yang disukai. Tapi, keindahan puisi, sihir yang diluncurkan, dan bisikan setan terlanjut menggugah tempat cinta bercokol (hati) sasarannya.

Maka, berhati-hatilah dengan para pemburu nafsu, yang sering menyebarkan cinta palsu. 

Lihatlah tanda, jika mereka benar-benar seorang pecinta murni, niscaya ia akan selalu menjaga diri dari jurang kenistaan. Kalau ia cinta dengan kesahihan, maka ia akan datang ke orang tuamu dan melakukan pelamaran, dan jika ia tidak diterima, iapun bersabar dan bersimpuh kepada Rabnya.

Tanda kedua, ia tidak akan meminta untuk menemuimu, kecuali ada mahrom yang menemanimu, dan ia akan selalu waspada, sebab ia takut kepada Rabnya. 

Tanda ketiga, ia tak akan mengajakmu duduk berduaan, sebab ia tau dan ia akan mengatakan bahwa jika kita duduk berduaan maka setan akan menjadi orang ketiganya lalu menjerumuskan kita pada penyesalan abadi.

Tanda keempat, ia akan selalu berkata, "sabar", kalau jodoh Allah pasti mempertemukan kita. 

Tanda kelima, ia tidak terlalu berharap lebih dari yang seharusnya, sebab ia tau bahwa mencintai seseorang dengan lebih dari bisa berakibat pada kebencian, karena cinta yang berlebihan terkadang muncul dari hawa nafsu (bisikan setan).
Demikian tentang cinta dengan berbagai kemurniannya.

Endingnya: "Jauhi Pacaran, Udah Putusin Aja". "Jadikan diri lajang, sebab lajang akan selalu menyiapkan yang terbaik untuk pasangan halalnya kelak." "Yakinlah bahwa Allah telah menentukan jodoh yang sesuai dengan diri kita". "Serahkan kepada Allah, setelah engkau sudah berusaha, sebab, akhirnya akan ada kebaikan juga".



Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: