Thursday, 6 October 2016

Islam, Nafsu Pemuda Kepada Perempuan



Bagi pemuda yang normal, nafsu kepada Perempuan itu biasa bahkan sudah menjadi sesuatu yang wajar. Sebab nafsulah yang mampu mendorong pemuda untuk mengarungi sebuah bahtera Rumah Tangga. Nafsu secara harfiah adalah keinginan kepada segala sesuatu (misalnya: nafsu makan, nafsu syetan dan lain-lain), karenanya berbicara tentang nafsu maka ia menjurus kepada banyak hal, itulah sebabnya tulisan ini kami batasi pada satu permasalahan saja yaitu: “mengenai nafsu pemuda kepada Perempuan”.
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa pemuda yang normal pasti ada kecenderungan (nafsu) kepada Perempuan, nafsu dalam arti keinginan untuk melakukan hubungan biologis. Berkaitan dengan hubungan biologis sudah menjadi satu ciptaan Allah Swt., yang diberikan kepada seluruh makhluk termasuk pemuda itu sendiri. Tanpa Allah ciptakan nafsu, bagaimana mungkin makhluk mampu melakukan hubungan biologis dan bisa menciptakan keturunan.
Nafsu sudah menjadi fitrah manusia sejak azali, sejak manusia pertama di ciptakan, dalam sejarah Nabi Adam AS., pernah dikisahkan. setelah Nabi Adam AS., di ciptakan oleh Allah  Swt., Nabi Adam AS., diberikan kebebasan untuk menikmati seluruh kenikmatan yang ada disurga (tempat tinggal Adam AS. Saat itu), terkecuali satu pohon yaitu pohon Khuldi, pohon ini tidak boleh didekati apalagi memetik dan memakan buahnya.
Seiring berjalannya waktu, dengan kehidupan yang begitu mewah, serba ada, tidak perlu bersusah payah mencari dan bekerja, Adam As., menikmati seluruh kemewahan. Namun kemewahan itu justru tidak memberikan Adam AS., kebahagiaan, masih ada keinginan lain yang menjadikan Adam AS., murung termenung. Tiba-tiba Nabi Adam AS., merasa kesepian.
Oleh Allah Swt., mengerti, akhirnya diciptakannlah hawa sebagai pasangannya, dari tulang rusuknya. Nabi Adam  AS., kaget dengan nada tanya  siapa ini, melihat hawa. Serentak Adam ingin memegang Hawa, kata Allah Swt. Eh Adam sebelum kau memegang Hawa kau harus memberi maharnya dulu (artinya Nikah dulu Bos), kata Adam apa maharnya ya Allah, Maharnya “antushollia ‘ala Muhammad” engkau harus bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw., setelah Nabi Adam AS., memberi sholawat kepada Nabi Muhammad Saw., maka halallah Hawa bagi Nabi Adam AS., untuk menyentuh hawa.
Cerita Nabi Adam di atas memberikan satu konstribusi, bahwa manusia aapabila telah baliq maka sudah pasti dan jelas memiliki perasaan seperti  yang di alami Nabi Adam AS.
Berkaitan dengan nafsu pemuda kepada Perempuan, rupanya telah dijelaskan dalam  al-Qur’an. hal ini dapat dibuka dalam al-Qur’an surat al-Imran (3):34. Secara khusus, memang ayat ini tidak menyebut tentang nafsu pemuda, akan tetapi secara umum semua makhuk apalagi manusia pasti terdapat kecenderungan terhadap perempuan. “hubbusyahawi minannisai: kami jadikan kamu untuk menyukai wanita” Dalam hal ini Allah Swt., ingin menjadikan pemuda untuk menetapkan pasangannya kepada Perempuan. Bukan seperti dalam istilah seperti LGBT yang berkambang sekarang ini.
Nafsu, selain menjadi satu fitrah bagi pemuda. ternyata   juga  menjadi sebuah ujian besar bagi pemuda, sehingga nafsu harus dibentengi dengan benteng yang kuat, apalagi bagi pemuda yang belum menikah, jika nafsu tidak dibentengi  kesabaran, sementara keinginan sudah memuncak. Maka yang menjadi sasaran adalah Kerbau maksudnya kumpul Kebo, barangkali Kebo hanya mewakili saja, disebut kumpul Kambing  juga bisa.
Jadi, tidaklah terdapat larangan atau keharaman untuk menyukai, memiliki, dan berkumpul dengan wanita, dan itu akan terjadi jika pemenuhan syarat-syaratnya kehalalan dalam Agama telah terpenuhi sehingga terbuka pintu kehalalan, sebagaiamana kakek kita Adam AS pada sekelumit cerita di atas.
Minggu 28 Juli 2016.
Penulis: Anin Lihi

Friday, 1 July 2016

KETIKA SHOLAT TERDORONG TANPA ADA YANG MENDORONG


Penulis: Anin Lihi
Pada hari kamis, 30 Juni 2016 Disebuah Masjid di Kampung Amaholu, Saya sedang berdiri melaksanakan Shalat, saat itu saya bersebelahan dengan teman saya Risman, Tibab-tiba datang seseorang mendorong saya, mau membanting saya agar saya jatuh, namun ia tidak bisa melakukan itu. Karena saya masih dalam keadaan konsetrasi Shalat, kedua kalinya dia mendorog saya lagi hingga tiba-tiba saya berada di saf depan masjid pada menit itu pula, rupanya saya sedikit tergelincir dan konsentrasi saya hilang hingga tidak mampu membendung perilaku si dia itu.
Anehnya tidak ada yang melihat siapa yang melakukan itu, bahkan Rismanpun kaget kenapa tiba-tiba saya sudah berada di saf depan Masjid, apalagi hal itu bukan di sengaja melangkah. Ternyata yang mendorong saya itu adalah Jin (Makhluk halus) tidak diketahui namanya. Ketiga kalinya Jin itu mau mendorong saya lagi, saya melihat didepan Majsid itu ada sebuah Gua, di dalam Gua itu sepertinya gelap sekali, tidak ada lampu atau pelita, bahkan cahaya sedikitpun, sepertinya Jin itu ingin agar saya di masukan kedalam Gua itu, tidak di ketahui untuk apa jin melakukan itu dan mau memasukan saya didalam Gua itu.
Tidak menyerah sampai di situ, keempat kalinya jin itu mendorong saya lagi, al-Hamdulillah Jin itu tak mampu lagi mendorong saya, mungkinn disebabkan karena kekhusyuan saya menghadap sang maha segalanya (Allah), ternyata Jinpun tak mampu jika kita bertawakkal kepada Allah. Tak lama kemudian, bahkan membuat saya heran terlengah-lengah, Jin itu tiba-tiba menampakkan dirinya. dengan mata telanjang saya dapat melihatnya. Rupanya Jin itu adalah Jin suruhan, ada orang yang mencoba ingin menyihir saya dengan menyuruh seorang Jin, tidak tau siapa nama Jin itu. Karena tidak mampu Jin suruhan itu mendorong saya, tak lama kemudian wujud asli dari penyihir itu Nampak, mungkin itu tuannya, wajahnya sudah tua, rambutnya panjang dan memakai penutup kepala berwarna putih. Keinginan dari sipenyihir itu ternyata ingin  mengetes Ilmunya kepada  saya, ya mungkinn karena ada sedikit ilmu agama yang saya fahami, dan perkiraan orang tua itu mungkinn saya mempunyai Ilmu semacam Ilmu Ruqyah begitu. Kemudian orang tua itu mencoba menantang saya. Bahkan dikuatkan dengan perkataannya; “ayo lawan saya, orang tua itu bahkan memuji dirinya sendiri, katanya, tidak akan ada yang dapat melawan saya, Ilmu saya hebat, dan saya kuat. dan ilmu yang dimiliki orang Tua itu adalah ilmu Hitam.
Risman teman saya berkata, tidak usah engkau ladeni dan melawannya berilah saja nasehat, kemudian panggil orang tua itu, setelah kupanggil orang tua itu tiba-tiba sudah menjadi dua orang, seumuran dengannya, memakai baju berwarna biru, rambutnya juga panjang dan memakai penutup kepala. Secara kasat mata wajahnya berbeda dengan orang tua yang pertama tadi. Sebelum orang tua itu pergi, kupanggil, hai orang tua, kesini dulu sebentar, jangan dulu pergi, diam dan jangan berkata-kata dulu, Mohon maaf pak tua, begini saja, kami mengakui Ilmu kami sedikit dan tak sekuat ilmu Bapak tetapi sadarlah, ingatlah Allah, ilmu seperti itu tidak ada gunannya dimata Allah, bertobatlah. Namun orang tua itu tidak mempedulikan nasehat itu  bahkan mengatakan akhhhhh……kemudian pergi. Ibarat sekarang ini, kincing belum lurus mau nasehat-nasehat orang tua lagi, pergi belajar dulu banyak-banyak baru nasehati saya, kata orang tua itu.
 
 


Beberapa jam kemudian, saya masih mengobrol dengan teman saya Risman, kemudian datang lagi orang tua itu, dan sudah menjadi empat orang  tua, dengan perawakan yang sama. Datang  menghampiri kami, akhirnya saya lari bersembunyi, sementara risman teman saya tetap diam di tempatnya, dan keempat orang berperawakan sama itu tidak mengganggu Risman justru mencari-cari saya dan hanya ingin mengganggu saya, dan mau menakut-nakuti saya dengan Ilmu Hitam yang mereka punya.
Saat itulah Kuambil sebongkah kertas putih, entah dari mana asalnya, tulisannya berwarna merah, sepertinya tulisan itu ayat al-Qur’an dan doa-doa dari Nabi. Di samping itu, dalam benak kuingat dulu saya mmiliki satu buku kecil tentang Ruqyah (penangkal sihir), kemudian kucari, buku itu, buku yang berjudul “Metode Pengobatan Ruqyah” ditulis oleh Tim Wahdah kota Palu, teman saya Ust. Busman yang memberikan saya. di dalam buku itu berisi keterangan tentang cara-cara meruqyah diri sendiri juga orang lain. Bertujuan untuk mencegah, menghilangkan dan membentengi diri dari sihir para penyihir atau orang yang bersekutu dengan Jin. Peristiwa diataslah yang mendorong membetik hati saya, Hafallah itu untuk membentengi dirimu dari gangguan Jin dan sihir.
Suatu ketika disebuah rumah, berukuran besar, berdinding tehel, pintu depan juga dibuat dari tehel persis seperti dindingnya, dan jika diutup pintu itu kita terkadang bingung mana pintu dan dindingnya, sebab modelnya sama dengan dindingnya. Rumah besar ini dihuni oleh seorang wanita tua. Ditiris rumah disampingnya dibuat juga rumah, pintu belakang dan depan rumah itu sama besar dengan warna cet yang sama. Dibelakang rumah itu di kelilingi air yang sangat jernih, sebuah sungai besar. Didalam rumah tiris itu dihuni seorang lelaki bernama pak dedi.
Pada paruh waktu, saya berjalan di sebuah kota sepertinya kota itu kota ambon, tiba-tiba saya bertemu dengan teman, Rizal Palirone dan beberapa teman perempuan Ariati Tudding dan Nurdiana, masih banyak sebenarnya teman-teman saya, namun hanya beberapa teman saya itu saja kebetulan saya ketemu. Kemudian, Rizal Palirone mengatakan kepada saya: “Hubungkanlah Facebook atau Blogmu agar Tulisanmu bisa di Apload di Fecbook saya juga, supaya saya bisa membaca tulisanmu. Satu pesan yang ia berikan kepada saya adalah “jadilah penulis yang hebat, mungkin terkadang kondisi tubuh kita tidak memungkinkan untuk kita terkenal atau dikenal diluar sana”, Yuniar Masawoy salah seorang teman di Madrasah Aliyah Negeri  (MAN 1 Ambon) yang kebetulan juga ada di situ, kemudian mengatakan “betul apa yang dikatakan Palirone Itu”. Setelah saya menganjak pergi dan kembali meninggalkan  teman-teman saya, saya langsung berangkat menuju rumah nenek tua itu, maksud tujuan saya sebenarnya  ke rumah tiris disebelah rumah besar itu, ingin bertemu dengan pak Dedi atau sering di sapa pak Dedi Ban. Pak Dedi ini memiliki satu toko didalamnya dijual Ban dan Pelak Mobil, toko yang tidak berukuran terlalu besar.
Dirumah Tiris itulah Pak Dedi Ban bercerita, dulu waktu saya sekolah, saya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki dari Rumah, padahal jarak antara Rumah dan sekolah itu jauh, bahkan juga melewati satu sungai besar. Namun jauh dan sungai besar itu tidak membuat saya malas ke sekolah, juga tidak membuat saya mengeluh minta  itu minta ini kepada ibu saya.
Kalau kita bandingkan cerita pak Dedi di atas, sepertinya sudah jauh berbeda dengan anak-anak sekolah sekarang. mungkin ada juga anak-anak seperti pak Dedi tapi sepertinya sudah jarang sekali bahkan hampir tidak ada lagi. Terkadang anak sekarang bapak dan Ibunya kewalahan memberi nasehat.
Pernah suatu  ketika di masjid Dar al-Khair kami sedang ngobrol, sebut saja Pak Dedi, Ust. Makmur dan Anin Lihi, Si Anin sedikit menceritakan pengalamannya dulu waktu di Ambon, “ada salah seorang Ibu berkata: Wuh anak-anak sekarang ini tidak ada motor tidak sampai di sekolah dan setelah dibelikan motor sudah dilewati sekolahnya, pusing juga dengan anak-anak sekarang”. Okelah mungkin tidak semua anak, tapi cerita ini adalah salah satu keluhan ibu yang tidak di pahami oleh seorang anaknya.
Kembali ke cerita awal, orang tua berambut panjang itu ternyata dengan ilmu Hitamnya  ingin agar saya menjauhi Allah, namun al-Hamdulillah Allah masih melindungi saya, sampai disitulah kemudian saya bangun dari tidur saya, ternyata itu hanya mimpi.
Akan tetapi mimpi ini sebenarnya bisa di jadikan bahan renungan agar kita dapat berhati-hati dari gangguan Jin dan Syetan serta orang-orang yang memiliki ilmu sihir yang menyihir kita, dan berlindung kepada Allah agar kita selalu dekat kepada-Nya. Mungkin tulisan ini menurut pembaca kurang nyambung, akan tetapi jika pembaca mampu memahami dengan baik terdapat satu motivasi besar terhadap kemandirian teman-teman untuk memotivasi diri menuju kesuksesan teman-teman. Sekian dan terima kasih mohon maaf lahir dan bathin, jika ada kata-kata yang salah tolong dikoreksi sebab itu datangnya dari saya pribadi dan benarnya datangnya dari Allah. Wallahu A’lam Bishowab.


Wednesday, 29 June 2016

ISTRI IDEAL ITU EDITOR



Penulis: Anin Lihi

Tulisan ini berawal dari kedatangan penulis ke kosnya teman, kos Putri 88, penulis tertarik dengan salah seorang penghuni kos (Keluarga) yang tinggal di dalamnya, dan kebetulan istrinya yang mengedit tulisan suaminya, hal inilah yang mendorong penulis untuk mempertanyakannya. Guna menuliskannya, agar dijadikan sebagai motivasi bagi para pembaca, terutama bagi orang-orang yang sudah berkeluarga. jadi Bisa dikatakan, ini adalah sebagian ukuran keromantisan sebuah rumah tangga.
Jika kita lihat fakta yang sebenarnya, menunjukkan bahwa editor  adalah provesi yang digeluti dalam dunia akademik (pendidikan) dan yang berperan sebagai editor adalah Profesor, Dr atau Master, merekalah orang-orang yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengedit tulisan, semisal jurnal, Buku Bacaan dan lain-lain. Namun berbeda dengan lelaki yang satu ini, yang menjadi editor justru istrinya (seorang ibu rumah tangga biasa), sehingga keluarga ini boleh kita sebut sebagai keluarga yang lain dari pada yang lain. juga Yang menarik dari keluarga ini adalah mereka tidak ingin namanya disebut dalam tulisan, bahkan mereka mengatakan, sebut saja keluarga Lakandodoke dan wakapopoluka bukan nama aslinya.[1]
Hari ini, Rabu, 29 Juni 2016, di Kos putri 88, ada  sepasang suami istri, yang kebetulan suaminya sedang melaksanakan studi pada Pasca Sarjana (S2) di Universitas Negeri Makassar (UNM) Kota Makassar. Suaminya dikenal sebagai seorang penulis, yang telah menerbitkan tulisannya di dalam berbagai media online, tulisan beliau juga sering diterbitkan diblogger kompasiana, juga dalam Maluku News. Tulisannya telah dibaca oleh banyak orang dan karena tulisannya yang menarik, tiba-tiba ada orang menjiplak tulisan itu, tanpa sepengetahuannya.  kemudian tulisan itu diterbitkan di sebuah harian tertrentu di Sulawesi tenggara, tulisan itu berjudul pikadawu,[2] tulisan yang diterbitkan di salah satu harian itu adalah plagiat sebab tidak mencantumkan nama penulisnya. Namun hal itu, tidak menyebabkan ia menuntut pada harian itu, dan hal ini seharusnya tidak boleh terjadi dalam dunia tulis menulis.
banyak karya tulis yang Telah ia terbitkan, diantaranya:
1.      Sekolah Dipolitisasi Guru jadi incaran siswa jadi sasasan.
2.      Pikadawu (tradisi menangkal penyakit).
3.      Filsafat Ilmu dalam konteks filsafat sejarah.
4.      Lembaga Pendidikan Menjadi Incaran Caleg dulang suara di pemilu.
Kempat dari tulisan diatas hanyalah sebagian dari gambaran, bahwa masih banyak tulisan yang diterbitkan di dalam media online, dan jika ada yang ingin berkunjung untuk membaca tulisan beliau masuki saja blog Kompasiana.com.
Keindahan bahasa tulis, dalam tulisan yang diterbitkan itu ternyata, merupakan hasil edit yang diedit oleh istrinya, kata istrinya mengedit merupakan kegiatan yang paling saya sukai selain dari kegiatan memasak, bahkan masih ada kegiatan lain yang tidak disebutkan. Sesuai ungkapan sang istri itu, Tidak berlebihan jika penulis mencantumkan bahwa istri dari keluarga itu mampu mengedit sebanyak adanya tulisan itu.
Suaminya mengatakan: istriku ini adalah istri yang hebat, mungkin dalam dunia ini tidak ada lagi wanita sehebat istri saya dimata saya. Semoga apa yang saya katakana ini, dapat menjadi motivasi bagi istri-istri yang lain.
Mengenai tulisan ini, bisa dikata sesuai dengan gambaran al-Qur’an bahwa suami dan istri adalah pakaian, suami adalah pakaian dari istri dan istri adalah pakaian dari suami, symbol ini mengambarkan bahwa suami dan istri harus saling menutupi kekurangan, termasuk kekurangan suami dalam menulis. Mengenai hal ini, Allah sebutkan dalam Qur’an Surat al-Baqara (2): 187.
Artinya: Istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.
Maksud ayat di atas adalah, bahwa antara suami dan istri harus saling menutupi kekurangan. Secara umum ayat di atas menjelaskan banyak masalah, artinya kekurangan apapun yang dialami suami dan istri harus dan bahkan menjadi kewajiban untuk menutupinya, sebab hal itu justru membantu keusksesan rumah tangga. Termasuk menutupi kekurangan suami ketika menulis, mengenai kata-kata yang kurang pas dan tepat dalam kalimat-kalimat tulisan itu. Mungkin, akan ada yang berpendapat bahwa ayat di atas tidak cocok untuk dijadikan dalil dukungan terhadap peristiwa ini, tetapi menurut penulis, ayat diatas menjelaskan mengenai kekurangan secara umum, termasuk kekurangan suami dalam menulis, sehingga istripun berperan penting menututupi kekurangan itu dengan mengeditnya. Olehnya itu, kekurangan yang dimaksud ayat di atas bisa di jadikan dalil penguat mengenai hal mengedit ini.
Berkaitan dengan judul, Istri Ideal Itu Editor, terdapat maksud, bahwa ternyata kesuksesan suami, tidak terlepas dari  peran istri sebagai ibu Rumah tangga.
Makassar, Rabu, 29 Juni 2016.
Mengisi waktu Luang ketika DiKosnya Teman.



[1] Tidak ditulis nama aslinya, karena keluarga  ini tidak ingin namanya dipublikasikan, tujuan kesediaannya untuk diwawancarai adalah keinginannya cerita ini dijadikan motivasi.
[2] Pikadawu adalah tradisi yang dipercaya oleh masayarakat khususnya masyarakat Buton, dimana pikadawu ini diyakini sebagai alat penangkal penyakit. Pikadawu berasal dari kata pika dan dawu. Pika berarti melekat dawu berarti memberi, keterangan ini diambil dari penelitiannya karen pada tahun 2012, dan telah di seminarkan dikampus Universitas Pattimura Ambon pada juruan Antropologi.