Sunday, 9 October 2016

PARADIGMA PENELITIAN TEOLOGI



Penulis: Anin Lihi
Senin 18 Juli 2016.





A.    Latar Belakang
Berdasarkan fakta empiris, sebagian manusia cenderung melakukan penyimpangan, hal inilah yang mendorong manusia lainnya untuk berpikir mencari solusi dalam memecahkannya. Pemecahan masalah tersebut membutuhkan satu ide yang baik dengan model pendekatan tertentu, seiring berkembangnya waktu para ahli mulai berpikir menciptakan metode pendekatan, misalnya; pendekatan filsafat, pendekatan sosial dan lain sebagainya, pendekatan-pendekatan ini betujuan untuk menilai fakta-fakta empiris sekaligus memecahkannya, pendekatan filsafat dan sosial misalnya keduanya tidak sepenuhnya mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat, sebab hanya terbatas pada teori-teori atau paradigma-paradigma. Namun, Teori-teori yang dikemukakan para ahli harus di hargai, sebab merekalah orang-orang yang sudah berusaha mencari  solusi dalam memecahkan masalah-masalah empiris yang terjadi, hal ini  sebagaimana Aristoteles, Plato dalam bidang Filsafat dan Aguste Comte dalam bidang Sosial dan ahli-ahli islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Kindi dan lain-lain.
Paradigma para ahli rupanya tidak berhenti pada fakta empiris saja, lebih dari itu ialah teologi, teologi dianggap erat kaitannya dengan agama yang membahas tentang Iman yang didasari dengan wahyu. Karena tologi sangat erat kaitannya dengan Agama dan wahyu maka teologi tidak dapat dilepas pisahkan dengan konsep ke-Tuhanan dan manusia. Itulah sebabnya teologi selalu di khususkan pada pengetahuan menyangkut hal-hal yang diimani manusia. Sehingga teologi selalu ditempatkan pada kualifikasi tertentu sesuai pokok ajaran yang di imani pada Agama masing-masing kelompok, seperti; teologi Islam, Teologi Kristen dan lain-lain.  



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis dapat menarik beberapa rumusan masalah sebagai bahan kajian dalam pembahasan berikutnya, adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagi berikut:
1.      Bagaimana Paradigma Penelittian Teologi dan Sejarah Penamaanya.
2.      Bagaimana Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
3.      Bagaimana Macam-Macam Pendekatan Teologi.
C.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Paradigma Penelitian Teologi dan Sejarah Penamaan Teologi.
a.       Pengertian Paradigma Penelitian Teologi
Dalam kamus Bahasa Indonesia, paradigma adalah daftar uraian atas kata menjadi unsur-unsur pembentuk kata.[1] Maksudnya daftar uarian kata yang menjadi satu kalimat yang dapat dipahami maksudnya. Paradigma dapat dikatakan sebagai cara pandang tertentu terhadap suatu permasalahan, kegiatan ini sering di kembalikan pada individu tertentu dalam menilai sesuatu serta memberikan sumbangsi pemikiran, guna memberikan masukan positif terhadap suatu masalah. Hal ini sebagaimana Prof. Dr. Mustari Mustafa dalam seminar kuliah, mengatakan; “Dengan paradigma saya sendiri”[2] artinya menurut pandangan, cara pandang, stekmen atau yang semisalnya.
Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Menurut David H. Penny; penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.[3]
Paradigma penelitian selalu berkaitan dengan pertanyaan fundamental berupa pertanyaan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis. Dengan itu, maka paradigma penelitian adalah kontruksi manusia terhadap apa yang benar berdasarkan usaha penelitian yang telah dilakukan secara sistematis sesuai dengan aturan-aturan metodologinya.
Adapun Teologi terdiri dari dua kata Theos dan Logos. Theos artinya Tuhan dan Logos artinya Ilmu, maka dengan itu teologi ialah ilmu yang membahas Tuhan atau ilmu ke-Tuhanan.[4] Istilah lain dari teologi terdapat dalam bahasa arab dan biasa disebut ilmu kalam atau ilmu ushuluddin, disebut ilmu kalam karena membahas kalam Tuhan dan kalam manusia, yang dimaksud kalam Tuhan disini ialah al-Qur’an, berkaitan dengan Kalam pada abad ke-2 dan ke 3 H. pernah terjadi perdebatan di kalangan umat islam, karena firman Tuhan pernah di perdebatkan maka dengan itulah di namakan ilmu kalam.[5]
Teologi menurut para ahli, seperti: Anselmus dari Canterbury pernah melukiskan teologi sebagai “Iman berusaha untuk mengerti”, sedangkan Syukur Dister mengatakan Teologi lebih luas daripada pengetahuan filsafat, teologi tidak hanya di dasarkan pada pengalaman indrawi dan pemikiran rasional, namun lebih jauh dari itu ialah wahyu Tuhan sebagaimana ditangkap oleh manusia beriman, sementara Maurice Blondel filosof Prancis apa yang menjiwai Teologi ialah tindakan percaya. Kepercayaan selain dianggap sebagai titik tolak juga merupakan dasar tetap untuk seluruh bangunan teologi, ia mempelajari tujuan manusia yang kongkrit dan adikodrati.
Jadi paradigma penelitian Teologi ialah cara pandang tertentu dalam menelaah suatu gejala yang terjadi serta meyakini bahwa gejala empiris dan adikodrati itu dapat dicari sebab untuk kemudian diberikan solusi terhadap cara penyelesaiannya.
Sebagai contoh kecil, misalnya terjadi perkelahian anatara kelompok mahasiswa A dengan mahasiswa B, dalam diri kita bertanya-tanya  sebab apa sehingga mereka berkelahi, dengan itu kita lakukan penelitian, kita akan menemukan latar belakang masalahnya, dan kita akan mengatakan mungkin karena persoalan pacaran, antara kelompok mahasiswa A dan B terdapat salah seorang saling memperebutkan perempuan sehingg terjadilah saling mengejek atau boleh jadi karena permasalahan lain. Kejadian ini kemudian terus berlanjut.
Melihat masalah ini, teologi hadir memberikan solusi sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka teologi mengatakan, ini terjadi karena kurangnya kesadaran akan persaudaraan sehingga mereka susah untuk saling memaafkan. mereka belum sepenuhnya mampu mendengarkan wahyu yang dturunkan oleh Tuhan.
Misalnya: Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 199,
artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan mengikuti orang-orang yang bodoh.

Dengan memahami ayat diatas maka akan lahir satu pemikiran positif bahwa setiap kita tidak patut melakukan sesuatu yang tidak bermoral. Bagi mahasiswa, budi pekerti yang baik adalah nilai yang harus dipertahankan. Maksudnya mahasiswa harus mampu memahami bahwa perbuatan  demikian adalah sebuah kebodohan. Mahasiswa harus diberikan pembelajaran wahyu secara mendalam, sebagaiman dikatakan Rahner Bahwa, wahyu tidak berdasar pada akal manusia,[6] Pendapat ini juga didukung oleh Nico Syukur Dister, bahwa dalam teologi pembuktian terjadi melalui wahyu yang menghasilkan budi yang diterangi oleh  iman.[7]
Selain itu, Teologi mampu mendorong seseorang memahami tradisi keagamaannya, bahkan tradisi keagamaan lainya, juga mampu membuat perbandingan anatar berbagai tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam situasi atau kebutuhan masa kini dan berbagai alasan lainnya. Olehnya itu, paradigma penelitian Teologi merupakan usaha seseorang dalam meneliti gejala kehidupan yang dilakukan secara sistematis dengan mengikuti aturan-aturan metodologi dan mendasarkan pada teori tertentu sesuai dengan keyakinan beragama.
Yang dimaksudkan dengan teori tertentu adalah teori yang dipakai oleh teologi yang erat kaitannya dengan agama. Artinya tergantung pada pandangan seseorang terhadap agama, melalui hasil pengamatannya, dan menurut penulis sebagaiamana Prof. Dr. Mustari Mustafa Mpd. Dalam seminarnya teori yang dipakai dalam agama adalah teori kritis. Tetapi ini hanya pandangan yang lahir dari pengamatan seorang Prof. artinya dapatpula seseorang berpendapat lain.
b.      Sejarah Penamaan Teologi.
Penamaan teologi sebenarnya bukan berasal dari Islam bukan pula dari Kristen dan Yahudi atau agama lainnya, melainkan berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari bahasa Yunani Helenis yaitu Theologia yang diguanakan dalam literatur Yunani kalsik. Theologia bermakna wacana tentang para dewa atau kosmologi, akan tetapi makna yang sebenarnya telah diubah oleh pemikiran Kristen di Eropa sepanjang abad pertengahan. Para penulis Kristen kemudian mulai mengambil kata Theologia dan menggunakan istilah Theologos untuk menggambarkan studi mereka. Kata Theologos muncul sekali dalam beberaapa naskah al-Kitab dalam judul kitab wahyu “apokalupsis ioannou tou theologou” pernyataan ini kemudian dinisbatkan kepada  Yohanes serhingga disebut san theologis. Namun sekarang tidak lagi merujuk pada Yohanes  sang thelog. Akan tetapi sudah menggunakan arti kata logos sehingga agak sedikit berbeda peribahasanya dan tidak dimaksudkan pada wacana rasional. Melainkan dalam arti “Firman” atau “Pesan” dengan demikian sang telogos disini dmaksudkan sebagai seseorang yang menyampaikan firman Allah (Logoi Tou Theou).[8]
2.      Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
Setiap penelitian sudah tentu memiliki fungsi, fungsi itulah yang memberikan konotasi manfaat terhadap sesuatu yang diteliti guna memperbaiki akhwal manusia.
Secara fungsional, teologi berfungsi untuk mempertegas keberadaan Tuhan, ajaran-ajaranya agar manusia tidak melakukan penyimpangan serta mampu mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Firman. selanjutnya mendorong manusia untuk mencari metode yang dipakai oleh teologi. Sedangkan secara struktural pendekatan penelitian teologi memosisikan Tuhan sebagai zat yang satu-satunya mutlak benar dan untuk memperkuat itu maka dicarikan paradigma-paradigma rasional yang disesuaikan dengan aturan-aturan ajaran agama yang telah ditetapkan untuk mendukung kebenaran tersebut.
3.      Macam-Macam Pendekatan Teologi.
Penelitian tidak lain adalah art of science, yaitu mencari jawaban dalam menjawab suatu permasalahan. Dalam pembahasan ini terdapat tiga macam pendekatan yang menurut penulis sangat penting untuk diketahui. Adapun pendekatan tersebut diantaranya adalah:
a.       Pendekatan Theologis Normatif.
Teologi normatif ialah usaha memhami agama dengan memakai kerangka ilmu ke-Tuhanan yang bertolak dari keyakinan bahwa wujud nyata dari suatu agama ialah ada dan dianggap sebagai mutlak benar serta harus mengikuti kaidah-kaidah agama.
Muhammad Natsir mengatakan bahwa, pendekatan Normatif ialah pendekatan Teologi-Apologis yaitu cenderung memihak dan objektif sehingga sering mengkalim diri bahwa dialah satu-satunya yang benar semenatara yang lain salah atau minimal keliru. Pendekatan normatif lebih banyak ditemukan dalam karya-karya Orientalis Barat yang cenderung mendiskreditkan Islam. Mc Donal umpamanya, sebagaimana dikutip Muhammad Natsir Mahmud mengatakan bahwa, pada awalnya, Islam adalah Agama Kristen yang  diselewengkan oleh penyakit jiwa (Patologis) Muhammad, Islam hanya produk pemikiran ke-Timuran. Ada dua karateristik pemikiran ketimuran menurut Mc Donal: [9]
-          Menghargai fakta dan di ikuti oleh fantasi yang bebas tetapi pada sisi lain terikat (tidak bebas).
-          Tidak menghargai kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual.
Olehnya itu pendekatan Teologi normatif, melihat agama sebagai kebenaran mutlak dari Tuhan yang bersifat ideal tanpa kekurangan serta dibangun berdasarkan dalil-dalil pada tiap-tiap ajaran agama di dunia.
Bagi Islam pendapat Mc Donal ini keliru, secara harfiah sebenarnya Islam justru sangat menghargai kebebasan berpikir, akan tetapi kebebasan itu bukan bertujuan untuk menyesatkan orang, melainkan kebebasan berpikir dalam membangun keselamatan seluruh manusia. Hal ini justru dinilai kebaikan dalam Islam bagi sipemikir serta memberi kebaikan pula bagi orang yang mengkonsumsi pemikiran itu. jadi bebas berpikir tetapi teratur.
b.      Pendekatan Teologi Dialogis.
Pendekatan Teologi dialogis ialah pendekatan dalam mengkaji agama dengan menggunakan persepsi agama lain, pendekatan seperti ini sering di gunakan oleh Dr. Zakir Naigh dan Gurunya Ahmad Deedat serta beberapa teolog Islam lainya untuk mengkaji agama-agama diluar Islam, penjelasan ini dapat dibuktikan dengan melihat ceramah-ceramah mereka dalam berdebat dengan para ahli dan pendeta-pendeta Kristen. Selain itu pendekatan ini juga banyak di pakai oleh para Orientalis Barat dalam mengkaji Islam.
Seorang Islamolog Barat, Hans Kung, Sebagaiaman di Sinyalir Muhammad Natsir Mahmud, dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. Hans Kung mengkaji Islam menggunakan pendekatan Teologi-dialogis Kung menyajikan pandangan dari perspektif Kristen. Dalam melengkapi komentarnya Kung mengajukan pertanyaan bahwa apakah Islam merupakan jalan keselamatan ?, pertanyaan ini menjadi tolak ukur dalam melihat apakah Islam adalah Agama yang menyelamatkan penganutnya.
Bila dilihat dari teologi Kristen memang ajaran yang dibawa oleh gereja sebagaimana perkataan-perkataan para pastor dalam ceramah-ceramah mereka selalu mengatakan agama Kristen adalah agama keselamatan, tidak ada keselamatan diluar gereja, bahkan menurut keyakinan Kristen mereka sudah ditebus Dosanya oleh yesus sang pembaptis. Maka wajar Kung berpendapat demikian. namun Islam justru menilai bahwa Kung keliru terhadap Islam, Kung belum mengkaji Islam secara mendalam dengan Pikiran sehatnya melainkan masih dengan nafsu kebencian terhadap Islam.
c.       Pendekatan Teologi Konvergensi.
Metode pendekatan Teologi Konvergensi adalah pendekatan dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama. Penulis menilai pendekatan ini cenderung objektif daripada beberapa pendekatan sebelumnya, pendekatan ini lebih menjurus pada “Pela Gandong” atau “Poasa-asa” sehingga cenderung saling menghargai.
Berkaitan dengan pendekatan ini Wilferd Contwell Smith penganut pendekatan Teologi Konvergensi dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. menginginkan penganut agama-agama dapat menyatu bukan hanya permasalahan sosial dan praktis tetapi juga Teologi. Smith mencoba membuat pertanyaan, dimana letak titik temu keyakinan agama-agama sehingga dapat mencapai sebuah konvergensi. Ternyata Smith menemukan perbedaan penganut-penganut agama pada Belief dari masalah Belieflah sering menimbulkan konflik, sebaliknya dalam Faith umat beragama dapat menyatu.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad pernah diminta untuk beribadah mengikuti Agama dan menyembah Tuhan orang-orang Quraisy  dan pada waktu yang lain orang-orang Quraisy pergi beribadah di tempat Ibadahnya orang-orang Islam, atas peristiwa inilah turunlah ayat yang kemudian di abadikan dalam al-Qur’an Surat al-Kafirun, penulis hanya menyebut satu ayat yang artinya “untukmu Agamamu dan untukku Agamku” jadi dari dulu memang pada belief tidak bisa saling menyatu tetapi bisa saja saling menghargai perbedaan untuk tidak saling menghina agama masing-masing. Berbeda dengan masalah-masalah sosial, Nabi Muhammad justru memberi hak hidup dalam Negara Islam pada orang-orang yang diluar agama Islam seperti Yahudi, nasrani dan majusi untuk tinggal di Kota Yastrib atau Madinah sekarang saat itu, jika berpikir subjektif mungkin agama-agama yang diluar islam akan di siksa atau di perangi apalagi Nabi Muhammad saat itu adalah kepala Negara. Tetapi Nabi Muhammad justru tidak berlaku zalim terhadap orang-orang yang beragama diluar islam.
Jadi pada permasalahan-permasalahan sosial dari para penganut agama mungkin dapat bersatu, namun masalah Aqidah tidak.
Berbeda ketika Pendekatan Teologi Normatif diterapkan dalam Agama Islam, bahkan menurut penulis justru lebih pas pendekatan ini diterapkan pada aliran-aliran dalam islam sehingga mereka bisa saling menghargai perbedaan dalam memahami nash-nash Islam agar tidak terjadi konflik sesama. Apakah itu konflik perang ataukah konflik intelektual hingga sampai pada tingkat saling mengfitnah.

 



[1]KBBI, Versi, 2.0.0.
[2]Mustari Mustafa, Seminar Kuliah Paradigma Penelitian Sosial Pada Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial dan Agama, Makassar, 27/03/2016.
[3]Cholid Narbuko dan H. Abu Achmadi, Metododlogi penelitian, (Cet 12; Jakarta: Bumi Aksara, 2012)., h. 1.
[4] Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama Titik Temu Akal dengan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)., h. 10/
[5] Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: UI Press, 1972)., h. ix.
[6]Amtsal Bahtiar, Filsafat Agama, Wisata Pem,ikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)., h. 16.
[7]Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi (Cet 3; Jakarta: Kanisius, 1994)., h. 34.
[8] http:www// Wikipedia bahasa Indonesia. com.
[9] Taufik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat (Jakarta: Pustaka Firdaus)., h. 105.

Thursday, 6 October 2016

Islam, Nafsu Pemuda Kepada Perempuan



Bagi pemuda yang normal, nafsu kepada Perempuan itu biasa bahkan sudah menjadi sesuatu yang wajar. Sebab nafsulah yang mampu mendorong pemuda untuk mengarungi sebuah bahtera Rumah Tangga. Nafsu secara harfiah adalah keinginan kepada segala sesuatu (misalnya: nafsu makan, nafsu syetan dan lain-lain), karenanya berbicara tentang nafsu maka ia menjurus kepada banyak hal, itulah sebabnya tulisan ini kami batasi pada satu permasalahan saja yaitu: “mengenai nafsu pemuda kepada Perempuan”.
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa pemuda yang normal pasti ada kecenderungan (nafsu) kepada Perempuan, nafsu dalam arti keinginan untuk melakukan hubungan biologis. Berkaitan dengan hubungan biologis sudah menjadi satu ciptaan Allah Swt., yang diberikan kepada seluruh makhluk termasuk pemuda itu sendiri. Tanpa Allah ciptakan nafsu, bagaimana mungkin makhluk mampu melakukan hubungan biologis dan bisa menciptakan keturunan.
Nafsu sudah menjadi fitrah manusia sejak azali, sejak manusia pertama di ciptakan, dalam sejarah Nabi Adam AS., pernah dikisahkan. setelah Nabi Adam AS., di ciptakan oleh Allah  Swt., Nabi Adam AS., diberikan kebebasan untuk menikmati seluruh kenikmatan yang ada disurga (tempat tinggal Adam AS. Saat itu), terkecuali satu pohon yaitu pohon Khuldi, pohon ini tidak boleh didekati apalagi memetik dan memakan buahnya.
Seiring berjalannya waktu, dengan kehidupan yang begitu mewah, serba ada, tidak perlu bersusah payah mencari dan bekerja, Adam As., menikmati seluruh kemewahan. Namun kemewahan itu justru tidak memberikan Adam AS., kebahagiaan, masih ada keinginan lain yang menjadikan Adam AS., murung termenung. Tiba-tiba Nabi Adam AS., merasa kesepian.
Oleh Allah Swt., mengerti, akhirnya diciptakannlah hawa sebagai pasangannya, dari tulang rusuknya. Nabi Adam  AS., kaget dengan nada tanya  siapa ini, melihat hawa. Serentak Adam ingin memegang Hawa, kata Allah Swt. Eh Adam sebelum kau memegang Hawa kau harus memberi maharnya dulu (artinya Nikah dulu Bos), kata Adam apa maharnya ya Allah, Maharnya “antushollia ‘ala Muhammad” engkau harus bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw., setelah Nabi Adam AS., memberi sholawat kepada Nabi Muhammad Saw., maka halallah Hawa bagi Nabi Adam AS., untuk menyentuh hawa.
Cerita Nabi Adam di atas memberikan satu konstribusi, bahwa manusia aapabila telah baliq maka sudah pasti dan jelas memiliki perasaan seperti  yang di alami Nabi Adam AS.
Berkaitan dengan nafsu pemuda kepada Perempuan, rupanya telah dijelaskan dalam  al-Qur’an. hal ini dapat dibuka dalam al-Qur’an surat al-Imran (3):34. Secara khusus, memang ayat ini tidak menyebut tentang nafsu pemuda, akan tetapi secara umum semua makhuk apalagi manusia pasti terdapat kecenderungan terhadap perempuan. “hubbusyahawi minannisai: kami jadikan kamu untuk menyukai wanita” Dalam hal ini Allah Swt., ingin menjadikan pemuda untuk menetapkan pasangannya kepada Perempuan. Bukan seperti dalam istilah seperti LGBT yang berkambang sekarang ini.
Nafsu, selain menjadi satu fitrah bagi pemuda. ternyata   juga  menjadi sebuah ujian besar bagi pemuda, sehingga nafsu harus dibentengi dengan benteng yang kuat, apalagi bagi pemuda yang belum menikah, jika nafsu tidak dibentengi  kesabaran, sementara keinginan sudah memuncak. Maka yang menjadi sasaran adalah Kerbau maksudnya kumpul Kebo, barangkali Kebo hanya mewakili saja, disebut kumpul Kambing  juga bisa.
Jadi, tidaklah terdapat larangan atau keharaman untuk menyukai, memiliki, dan berkumpul dengan wanita, dan itu akan terjadi jika pemenuhan syarat-syaratnya kehalalan dalam Agama telah terpenuhi sehingga terbuka pintu kehalalan, sebagaiamana kakek kita Adam AS pada sekelumit cerita di atas.
Minggu 28 Juli 2016.
Penulis: Anin Lihi