Tuesday, 8 November 2016

Recounted, Negeri 1000 Benteng: Kerajaan dan Kesultanan Buton

Kerajaan Buton terletak di Sulawesi Tenggara, tepat di Kota Bau-Bau sekarang, Kerajaan Buton memiliki banyak peninggalan-peninggalan sejarah, seperti Masjid Kraton Buton, Benteng terluas di Dunia sampai sekarang bentuknya masih utuh, Batu Popaua, dan lain –lain. Peninggalan-peninggalan ini menjadi  bukti bahwa Buton secara teritorial memiliki wilayah kekuasaan sebelum Nusantara menjadi Negara Indonesia.


Kerajaan Buton berdiri pada Abad 14 M, keberadaan Kerajaan Buton dalam lintas kerajaan-kerajaan di Nusantara, lebih awal tercantum dalam kitab Negara Karta Gama yang disusun oleh Empu Prapanca di Kerajaan Majapahit pada Tahun 1364. Kerajaan Buton berdiri pada tahun1332 M yang di pelopori oleh sepuluh orang pigur terkenal yang berasal dari kerajaan terkenal pada masanya. Yaitu:
Kekaisaran China (Ratu Wakaaka).
Kerajaan Majapahit (Si Panjonga, Si Jawangkati, Si Tamanojo dan Si Malui), Mia Patamiana.
Sebelum Kerajaan Buton menjadi Kesultanan, pada awalnya di pimpin oleh seorang Ratu yang bernama Ratu Wakaaka, selanjutnya di Pimpin oleh Ratu Bula Wambona sebagai Raja kedua, kemudian Raja Bancapatola, Raja Tuarade dan Raja Rajamulae, berturut-turut Kerajaan Buton di Pimpin oleh lima orang Raja sampai tahun 1451, di tahun inilah Kerajaan Buton berubah menjadi kesultanan Buton karena pengaruh ajaran Islam.
Yang menjadi Sultan pertama yaitu Sultan Murhum Kaimuddin, masa kepemimpinan beliau inilah Agama Islam dicetuskan sebaga Agama Resmi dan ajaran-ajarannya harus di anut oleh seluruh Rakyat Buton saat itu.
Sejak menjadi Kesultanan, Sultan-Sultan Buton bergelar Kaimuddin ini diberikan oleh Syarif Makkah yang berstatus sebagai Khalifatul Khamis yang di beri legitimasi oleh Sultan Turki selaku Khalifah Islam yang mewakili dunia.
Namun, Kekuasaan zaman Kesultanan Buton dihapuskan secara Teritorial (Bagian dari Wilayah Hukum Negara Indonesia) setelah meninggalnya Sultan Muhammad Falihi Kaimuddin pada tahun 1960. Disesbabkan, konon Kesultanan Buton secara defakto tidak pernah di Jajah oleh Belanda dengan itulah Kesultanan Buton di Hapus atas nama Republik Indonesia.
Dalam bidang politik, Kesultanan Buton menjalin hubungan dengan beberapa kerajaan, antara lain Kerajaan Majapahit, Bone, Ternate dan Tidore.
Kerajaan dan Kesultanan Buton telah mencapai 7 Abad hingga kini, Kesultanan Buton memiliki peninggalan monumen sejarah yang luar biasa, antara lain:
Benteng Pribumi yang terluas di Dunia ( Benteng Wolio ).
Benteng Wolio memiliki panjang sekitar 2,7 Kilo Meter, yang mengelilingi pusat kekuasaan Kesultanan Buton, Benteng ini di bangun pada tahun 1634 oleh Sultan ke 6 La Buke. Menurut La Ode Muh Syarif Makmun, Sultan La Buke di sebut juga Sultan Abdul Ghafur, ia bersama rekan-rekan dan masyarakat menyelesaikan Benteng Wolio dengan 2 pintu Gerbang, Salah satu pintu Gerbang itu bernama La Wana Kapebhuni, pintu ini pernah di lewati oleh Raja Bone yang bernama Arung Palaka.
Menurtu Dr.La Ode M Kamaluddin, Persaingan-persaingan kerajaan di Sulawesi Selatan, Sultan Bone dengan Raja Talo yang di Pimpin Hasanuddin melakukan persaingan, Karena Raja Bone tidak kuat melawan Sultan Hasanudin, akhirnya Raja Bone pergi meminta bantuan kepada Sultan Buton, Arung Palaka kemudian bersembunyi di dalam Gua di Buton.
Persembunyiaan itu disebabkan karena pengejaran utusan Raja Gowa Talo yaitu Laksamana Karaeng Bonto Maranu, dengan suatu argumentasi yang  masuk akal, maka Sapati Bhalu yang bernama La Ode Arafani akhirnya bersumpah, “bahwa pada hari ini  Arung Palaka tidak ada di atas tanah Buton, entah dilain hari, tapi pada hari ini  tidak ada. Atas sumpah ini, kemudian utusan Raja Gowa Tallo percaya bahwa Arung Palaka tidak berada di atas tanah Buton, namun pada kenyataannya Arung Palaka bersembunyi di suatu gua dbawah tanah. Inilah taktik agar pejabat dari Kesultanan Buton tidak terkena sumpah, peristiwa inilah yang menyebabkan Arung Palaka tinggal di Buton selama kurang lebih 4 tahun.
Sistem Kesultanan Buton senantiasa melindungi siapa saja yang berada di atas tanah Buton, semua menjadi resiko Kesulutanan Buton terhadap lawan-lawannya, bahkan terhadap kerajaan Gowa maupun Belanda, sistem Kesultanan Buton yang melindungi siapa saja pada akhirnya menjadi politik Luar Negeri.
Merupakan Sistem Pemerintah Islam Demokratis tertua di dunia setelah Khulafa Urrasyidin (Empat Khalifah Utama Nabi).
Menurut Dr. Ir. Mudjur, seorang Buadayawan Buton, yang namanya Kerajaan yang memiliki Struktur Parlementer refrensinya hanya ada di Kesultana Buton, hampir di katakan di seluruh dunia, karena Semua Monarki itu adalah Absolut, sedangkan di Buton tidak pernah mengenal ada Putra Mahkota. Memang bisa saja  seorang anak Raja di angkat juga menjadi Raja, akan tetapi harus berdasarkan hasil pemilihan, dalam Bahasa Wolio di sebut Fali, Fali berarti di seleksi, namun sistem seleksinya tidak ada pemimpin yang datang dalam istilah modern disebut Ujuk-Ujuk (tiba-tiba menampilkan diri dan bisa membeli suara Rakyat), yang seperti ini tidak ada di Buton. Sistem pemilihan Raja atau Sultan Buton sebelumnya sudah diamati sejak kecil, diantara beberapa anak itu, siapa yang bisa menjadi pemimpin. Penseleksian itu dimulai sejak usia 7 tahun.
Struktur Kekuasaan Buton ditopang oleh dua Golongan Bangsawan, yaitu Golongan Kaumu dan Walaka, wewenang pemilihan dan pengangkatan Sultan berada di tangan golongan Walaka namun yang menjadi Sultan harus dari Golongan Kaumu. Fungsi golongan Walaka antara lain mendidik dan mengamati perilaku para calon Raja atau calon Sultan.
Menurut Dr. Tony Rudyansiah seorang antropolog, ia memberikan komentar bahwa, Sultan itu sebetulnya yang berasal dari golongan Kaumu (bangsawan yang paling tinggi) biasanya ketika masih kecil, ia harus bersama dengan kelompok Walaka yang lebih rendah dari mereka, disaat hidup dengan kelompok Walaka, kelompok Walaka mengajari putra yang kira-kira akan di calonkan menjadi Sultan, terutama mengenai adat-istiadat menjadi Sultan yang baik untuk memerintah.
Yang lebih menarik dari sistem Kesultanan Buton ialah, apabila seorang Sultan yang terpilih itu di anggap tidak mampu memerintah dalam hal ini melakukan Korupsi, tidak Adil, dan tidak lagi memperhatikan rakyatnya, maka golongan Walaka bisa memecat Sultan tersebut dan memilih Sulta yang baru.
Dewan Agama.
Pada Dewan Agama terdapat pembagian tugas antara Kelompok Kaumu dan Walaka. Tugas pada kelompok Kaumu lebih pada arah kekuasaan temporer, sementara pada kelompok Walaka terarah pada Adat Spiritual, sistem keagamaan ini termasuk salah satu kearifan masyarakat Buton yang Multikulutural, dengan potensi yang mereka miliki perbedaan tidak di pertentangkan, justru mereka mampu menyatukan perbedaan dalam Musyawarah dan kesepakatan.
Peraturan hukum di terapkan tanpa Diskriminasi, peraturan berlaku sama untuk setiap masyarakat hingga Sultan atau Raja. Sebagai bukti dari 37 orang Sultan yang  pernah memerintah di sana, 12 dianataranya di ganjar hukuman karena melanggar Sumpah Jabatan, satu di antaranya Sultan ke 8, yaitu La Sila  yang bergelar Sultan Mardan Ali. Sultan Mardan Ali mengakhiri masa jabatannya karena di maksulkan oleh Dewan Syara Kesultanan Buton, akibat melakukan Bebula yaitu perbuatan Asusila sehingga di jatuhi hukuman mati disebuah pulau kecil, bahkan jasadnya tidak diperkenankan di Makamkan di atas pulau Buton.
Peninggalan Masa Keemasan Kesultanan Buton.
Banyak peninggalan-peninggalan Kerajaan atau Kesultanan Buton, dianataranya berasal dari Kerajaan Majapahit, selain itu  simbol-simbol kesultanan bernuansa budaya China, Misalnya Malige atau Mahligei, Malige adalah Istana Negara kediaman Sultan sebagai Mokenina Kapuli kekuasaan tertinggi. Menurut asal-usulnya Model konstruksi Mahlige adalah perpaduan Arsiktektur China dan Buton, Malige ini merupakan Istana yang termegah, namun kemegahan bangunan istana tergantung kemampuan ekonomi dari sultan yang berkuasa saat itu. hal ini, Bangunan Malige terdiri tiga tingkat yang menggambarkan tiga tingkat Strata sosial di masyarakat Buton. Kaummu (Golongan Bangsawan), Walaka (Golongan Penasehat dan Pengatur sistem pemerintahan), dan yang terbawah adalah Papara (Golongan masyarakat biasa). Selain itu peninggalan Buton adalah Batu Popaua yaitu sebagai tempat pelantika 6 orang Raja dan 37 Sultan Buton, adapun peninggalan Buton yang penting menurut penulis adalah Masjid Kesultanan Buton yang di bangun pada Abad 18 tahun 1542,dimasa pemerintahan La Ingkariari bergelar Sultan Sakiudin Daru Alam, namun masjid itu sekarang sudah di renofasi, ukuran Masjid itu sekitar 20 x 21 M. Tidak tertinggal juga, disisi kiri Masjid terdapat Tiang Bendera yang didirikan tidak lama setelah Masjid itu di bangun, adapun kayu Tiang Bendera diambil dari Tailan yang dibawa oleh pedagang dari Patanisiam atau Tailan, dan peninggalan yang tidak kalah penting adalah Tari-Tarian yang sering di pergelarkan di depan tamu Kesultanan, Tarian-Tarian itu menggambar para Bidadari turun dari kayangan.
Inilah sekilas sejarah Peninggalan Kerajaan dan Kesultanan Buton, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan yang tidak sempat dituliskan.
Sebagai kesimpulan, di Buton sangat terkenal “Bholimo Harta Sumano Karo (janganlah harta di utamakan jika berhadapan dengan harga diri Anda, harus di korbankan itu harta untuk membela harga diri Anda, artinya Martabat” selanjutnya Bholimo Karo Sumano Lipu Tetapi diri anda secara Pribadi harus di kalahkan oleh kepentingan bersama kepentingan Kampung halaman atau Negara, dan yang ketiga Bholimo Lipu Sumano Agama artinya kepentingan Negara bisa di kalahkan oleh kepentingan Agama”. Jadi di buton kepentingan Agama tetap menjadi Prinsip utama dari kepentingan-kepentingan yang lain.
Waalahu A’lam.
Makassar, 09/11/2016
Penulis: Anin Lihi

Sumber, Video Sejarah Buton Negeri 1000 Benteng.

Sunday, 6 November 2016

Sejarah Nama-nama Gunung di Kampung Amaholu



Kampung Amaholu berada diujung Pulau Seram Bagian Barat, terletak di pesisir pantai Huamual. Kampung ini bersebelahan dengan Kampung Losi dan Hatawano. Jumlah Kepala Keluarga Kampung Amaholu sebanyak 200 lebih KK. 

Masyarakat kampung Amaholu dikenal sebagai masyarakat yang taat ber-Agama. Ketaatan ini  telah di benarkan oleh seluruh kampung-kampung di Pesisir Huamual Barat. Selain itu, dibuktikan dengan banyaknya jamaah di Masjid saat sholat berlangsung. Bahkan, ada yang mencoba memprediksi bahwa Amaholu akan menjadi kampung ulama. Pasalnya, minat agama tidak hanya dimiliki orang tua, tetapi juga anak-anak, remaja dan pemuda. Banyak anak-anak di kampung Amaholu yang menimba ilmu di pesantren. Mempelajari Bahasa Arab, Nahu, Shorof, Hadits, Tafsir dan ilmu-ilmu agama lain yang menunjang. Bahkan beberapa orang selain telah mengahafal 30 juz al-Qur'an, juga sudah mampu mengisi kajian dengan menggunakan kitab gundul. 

 


Adapun pekerjaan Masyarakat Kampung Amaholu sangat berragam. Ada yang menjadi petani, pelayar, petani-pelayar, Guru, Dosen, dan Tukang. 

Khusus mengenai pelayaran. Aktifitas ini sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Sejak layar sampai mesin dan sejak kayu sampai fiber. 

Perahu layar yang mereka pakai untuk berlayar adalah perahu Bhangka (Mensinya menggunakan kekuatan angin) dan perahu Piber. Perahu Bangka dulu dipakai untuk memuat Kayu, Kaladi, Pisang, cengkih, coklat, copra dan berbagai barang pecah belah. Adapun Perahu Piber dipakai untuk memuat minyak Bensin, Solar, dan Minyak Tanah, bahan bakar ini mereka beli di Tahuku dan mereka jual di pesisir Huamual dan sekitarnya. 

Sebagaimana papalele keladi, minyak juga dijual dengan cara yang sama. Dijual dari kampung ke kampung dan dari pulau ke pulau. Bahkan mengeliling pulau seram dan melintas ke pulau buru, Kelang, Manipa, Buano,  hingga di Maluku Utara. Aktifitas ini masih dilakukan hingga sekarang. Adapun perahu layar sisa sedikit peninggalannya dan cerita saja.


Selain propesi pelayar masyarakat amaholu adalah petani. Mereka menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Ada yang jangka panjang dan ada yang jangka pendek. Tanaman jangka panjang seperti Cengkeh, Pala, Durian, Coklat, Mangga, Kelapa, dan lain-lain. Namun, dari beberapa tanaman jangka panjang ini. Pala dan cengkih menjadi tanaman favorit. Rata- rata setiap rumah memiliki lahan cengkih. 

Adapun tanaman jangka pendek adalah Kasubi (Singkong/Ubi kayu). Kasubi ini terdiri empat, yaitu Kasubi Bogor, Kasubi Kampaki, Kasubi Runga (Lombo) dan Kasubi Kalambe. Bebrapa Kasubi inilah yang menjadi makanan pokok Masyarakat Amaholu dan kampung-kampung Buton yang berada di pesisir Huamual.

Kasubi itu kemudian diolah menjadi sangkola atau masyarakat pada umumnya menyebut Sangkola itu sebagai suami. Sangkola inilah yang lebih di sukai Masyarakat Amaholu dan Kampung-Kampung yang ada di sekitar pesisir Huamual. Seperti, Kampung Hatawano, Losi, Mange-Mangge, Asam Jawa, Batu Lubang, Eli kecil dan Besar, Air Papaya, Wayasel, Talaga, Nasiri, Lirang,  limboro, Temi, Erang, Tapinalu dan Olatu.


Kasubi, Cengkeh, Pala, Durian, dan beberapa tanaman lainnya, masyarakat Amaholu menanamnya di beberapa gunung tanam di Huamual Barat.

Pada pembahsan kami hanya akan fokus pada sejarah penamaan gunung yang ada di Kampung Amaholu. Gunung-gunung yang ditanami Kasubi, Cengkeh, Pala dan tanaman lainnya. Adapun namq-nama gunung  itu adalah sebagai berikut:






1.      Gunung Kabompocu.

Kabompocu berasal dari kata kabom dan pocu. Kabom berati kebun dan pocu artinya kepala. Berdasarkan tuturan lisan, gunung ini dinamakan Kabompocu karena adanya kepala di tempat itu. Ada juga yang mengatakan, karena adanya kepala yang sering menggelinding disekitar gunung itu. Masyarakat Amaholu menyebut kepala yang menggelinding itu dengan kandondoopocu. Konon kandondoopocu diyakini sebagai makhluk gaib. Kabompocu atau Kepala manusia itulah yang menjadi cikal bakal penamaan gunung Amaholu. Terkenallah kemudian pada masyarakat kampung Amaholu dengan gunu Kabompocu (bahasa Daerah). 

Ada informasi lain, bahwa kepala itu konon merupakan tengkorak orang-orang Portugis, Belanda atau Jepang yang meninggal di sana. Namun, ini butuh penelitian lebih dalam lagi.







2.      Gunung Talaga.
Gunung Talaga di Kampung Amaholu terbagi 3, Pertama: Gunung Talaga Rata, dinamakan demikian karena memang tempatnya yang rata, Kedua: Gunung Talaga Iwawo, maksudnya Gunung Talaga yang paling atas, Iwawo sendiri terbagi dua kata, I=di dan Wawo= atas, jadi Iwawo berarti di atas artinya gunung talag yang terletak di bagian atas, dan ketiga: Gunung Talaga Koee, dalam bahasa Daerah Amaholu Talaga berarti Kolam atau Danau, sementara Koee berarti tempat yang di dalamnya ada air, Koee sendiri terbagi dua kata Ko dan Ee, Ko bearti mempunyai atau ada sedangkan Ee berarti air, jadi Talaga Koee bearti Kolam yang di dalamnya ada atau mempunyai air.







3.      Gunug La Ama.
Gunung La Ama termasuk gunung yang paling dekat dengan tempat kediaman masyarakat Amaholu, jaraknya sekitar 100 M dari Kampung, untuk sampai di sana harus mampu melewati tanjakan seperti gunung-gunung lain yang ada disana. Adapun penamaan Gunung La Ama diambil dari salah seorang keluarga yang tinggal di La Ama yaitu Bapa La Bai, di gunung itulah Bapa La Bai membuat rumah dan hidup bersama Istrinya Wa Ina Komba, karena dulu orang sering memanggil Bapa Bai dengan sebutan La Ama, Maka panggilan Bapa La Bai sebagai La Ama akhirnya melekat kepadanya dan lambat laun panggilan La Ama itu akhirnya di Nisbatkan kepada Gunung oleh masyarakat Kampung Amaholu, karena itulah di sebut sebagai Gunung La Ama.






4.      Gunung Kota.
Gunung Kota bersebelahan dengan Gunung La Ama, namun jaraknya lebih di atas, sekitar 1 kilo meter perjalanan jalan kaki, dinamakan Gunung Kota karena di tempat itu ada Batu Besar yang menjulang Tinggi seperti benteng besar yang terlihat seperti Kota, tepat di Atas kampung Amaholu.Selain itu di temukan didalam lubang batu (goa) di Gunung Kota, berupa Meja yang Licin seperti meja biasanya yang diukir dari batu, Meja itu juga memiliki empat kaki, menurut perkiraan Masyarakat setempat, Meja itu kemungkinan merupakan peninggalan belanda atau jepang atau portugis. Namun, meja itu sekarang kakinya telah patah. Karena Batu Besar seperti benteng yang menopang kota dan peninggalan kuno itulah sehingga orang menyebutnya Gunung Kota.
5.      Gunung Tanita.
Gunung Tanita bersebelahan dengan gunung kota, Tanita dalam bahasa daerah di sana di sebut Puncak Gunung, karena tempat ini berada di puncak gunung maka disebutlah gunung tanita.
6.      Gunung Salawako.
Lebih di atas dari gunung Kota, gunung ini Bisa di lalui dari gunung Talaga atau Gunung La Ama, Gunung Salawako merupakan pusat munculnya air minum yang di pakai masyarakat Kampung Amaholu. Dinamakan Gunung Salawako, karena didukung oleh banyaknya pohon Salwako dulu yang tumbuh di gunung itu. Namun pohon-pohon Salawako itu sekarang sudah banyak yang punah, hingga hampir tidak ada lagi, disebabkan pembabatan masyarakat untuk di tanami cengke dan beberapa pohon yang bisa di konsumsi buahnya.
7.      Gunung Kamba Pua.
Penamaan gunung ini di ambil dari nama pohon, yaitu pohon Kamba Pua, di gunung ini banyak sekali memang pohon kamba puanya. Pohon inilah yang di tebang masyarakat kampung di Kampung Amaholu sebagai penyanggah pagar-pagar kebun mereka. kayu Kamba Pua di anggap sebagai bagian dari kayu yang agak kuat daripada kayu-kayu yang lain. Tidak di ketahui kenapa dinamakan poho Kamba Pua.




8.      Gunung Warau dan Gunung Luhu Lama.
Di atas kedua gunung ini masyarakat Amaholu banyak sekali yang menanam cengkeh, gunung Warau dan Luhu Lama saling bersebelahan, Gunung Luhu Lama terletak di sebelah Kanan jika dilalu dari jalur Gunung Tanita dan Salawako sedangkan Gunung Warau di lalui dari jalur kiri dari gunung Tanita dan Salawako. Di namakan Gunung luhu lama karena memang terletak, tepat di Atas Kampung Luhu Lama demikian juga di Namakan Gunung Warau karena terletak di atas gunung Warau.


Demikianlah nama dan sejarah gunung yang ada di Kampung Amaholu Huamual Barat pulau Seram Maluku. Masih Bisa ditambah refrensinya. Waalahu a’lam.

Thursday, 3 November 2016

AHOK PENGGUGAH UMAT ISLAM

Ahok adalah sosok fenomenal, disiplin, tegas tampa pandang bulu.  Siapapun yang tidak sesuai pola kerjanya menurutnya di sikat bersih, ibarat tumbuhan langsung disiram dengan air panas supaya tumbuhan itu punah dari permukaan bumi, kemudian mencari bibit baru yang menurutnya sebagai bibit unggul. Sikap ini dilain sisi bagus, justru sikap seperti inilah yang mampu melahirkan kedisiplinan dalam bekerja dan mungkin mampu melahirkan pekerja-pekerja yang Profesional. Sebab dengan sikap seperti itu setiap orang akan takut melakukan kesalahan.
 Tapi, sikap ini justru menjadikan Ahok tidak terkontrol, tutur kata yang ia keluarkanpun selalu mengandung nada ajakan untuk berkelahi. Seperti DPRD DKI Jakarta di ajak berkelahi, Partai-partai di ajak berkelahi dan kaum-kaum elitpun banyak di tangkap diajak berkelahi juga, dan masih banyak lagi peristiwa yang seperti itu.

Secara jujur semua orang mungkin banyak yang mengakui bahwa Ahok sebenarnya bagus dalam memimpin, bahkan banyak orang mungkin terinspirasi dari beliau, terutama dalam bidang pengembangan Ekonomi, Kedisiplinannya, Ketegasannya, dan lainnya. Apalagi saat pidato di pulau seribu itu ia sedikit membicarakan tentang sikap keadilan,kejujura, dan “jujur ini menurut Ahok tergantung dengan siapa kita berteman, siapa yang berteman dengan orang yang merokok diapun merokok dan siapa yang berteman dengan orang jujur pasti ia jujur, dengan itu yang tidak jujur dalam mengelola tambang kata Ahok tidak usah di ajak”. Perkataan ini sebenarnya punya veliu yang sangat tinggi, yang mengambarkan bahwa Ahok itu tidak ingin keboohongan selalu merajalela di atas bumi Nusantara yang Ahok inginkan hanyalah kejujuran, terlepas dari apakah Ahok jujur atau tidak, itu pribadinya, tapi yang jelas Ahok menginginkan kejujuran.
Siapapun ingin mengajarkan kejujuran, Islam, Kristen, Yahudi dan Agama yang lain pasti mengajarkan kejujuran, dan Ahok rupanya menginginkan itu dan ini bagus sekali, siapa sih yang ingin di bohongin, tentunya saudara pembacapun juga tidak ingin di bohongin.
Selanjutnya, perkataan Ahok yang menjelaskan Jujur itu, ternyata merembet pada perkataan “di Bohongin Pake surat al-Maidah 51” perkataan inilah yang menggugah Umat  Islam untuk bangkit, al-Qur’annya di hina, tidak pantas bagi orang yang menghina kitab kami di biarkan, Umatpun bersuara Allahu Akbbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,  Menuntut Ahok di adili. Karena bersalah Ahokpun meminta maaf, bahkan ucapan ini di ucapkan berkali-kali. Namun umat Islam sepertinya sudah tidak menerima kata maaf itu, al-Qur’an di Hina berarti telah menghina Allah Swt, dengan itu Ahok tidak Cukup hanya minta maaf saja, dia harus di Hukum.
Ahok harus di adili secara hukum, agar mendapatkan hukuman penjara, peristiwa ini sudah agak lama  belum di tuntaskan, maka umat islam sekarang harus bangkit dengan melakukan aksi Demo tangkap Ahok, umat Islam sudah terbangun sekarang, mereka mayoritas, kenapa bisa di Injak-injak, Allahhu Akbbar. Semangat sekali Umat Islam beraksi, luar biasa, isu itu tersebar di berbagai media, TV, FB, Goggle dan lain-lain.

Saya tidak tau, apakah ada kepertingan pribadi dibelik  Aksi Demo hari ini, atau justru berangkat dari niat membela umat islam secara utuh, atau ini hanya dampak dari isu-isu propaganda yang di sebarkan media. Apapun itu, umat islam jika melakukan Demo tidaklah pantas mengambil sikap anarkis sehingga merusak fasilitas  Negara, yang sebenarnya fasilitas itu adalah milik kita semua. 

Wednesday, 2 November 2016

Ramuan Nenek Moyang: Bangau dan Camar

Amel dan Anin
Suatu hari, burung bangau berlibur di Hutan menikmati indahnya cuaca pagi yang cerah dan menghayati kicau burung-burung lain yang merdu bagai music Mozart yang menyentuh hati, ditengah perjalan ia bertemu dengan seekor burung Camar, merekapun berkenalan dan akhirnya menjadi teman akrab.

Burung Bangau memiliki bulu yang sangat cantik dan lembut, burung Camar sendiri tertarik melihatnya, burung camar kagum dan berpikir, sekiranya aku memiliki bulu yang indah seperti burung Bangau alangkah senangnya hatiku.
Pada suatu waktu, tidak tera menahan rasa, ingin seperti burung Bangau, burung Camarpun menyeru “wahai burung Bangau bulumu sangat cantik dan indah dipandang, ingin rasanya aku sepertimu?”. Mendengar itu, burung bangau tertawa “hahahahahaha” dan kemudian berkata: “tahukah kamu, buluku seperti ini, karena berkat ramuan nenek moyangku dulu, yang di wariskan secara turun temurun. Namun, Karena hari sudah sore merekapun kembali ke sarangnya masing-masing.
Keesokan harinya, burung Camar ingin menemui burung bangau dengan maksud ingin mempertanyakan sekaligus meminta ramuan tersebut, burung Camarpun pergi dan menemui Burung Bangau yang sedang duduk di atas dahan pohon cemara. setelah bertemu, burung Camar kemudian menyampaikan maksud kedatangannya, burung Bangau berkata “bolehkah aku mencoba ramuan nenek moyangmu?, agar buluku juga bisa cantik, indah dan lembut sepertimu. Burung Bangau kemudian menjawab dengan nada tolak, “tidak boleh, aku tidak bisa memberikanmu, nenek moyangku tidak ingin ramuan itu diberikan kepada selain keturunan burung Bangau, itu warisan yang di titipkan secara turun temurun, yang di janjikan untuk tidak diberikan kepada siapapun selain keturunannya. Cari saja ramuan yang lain, jangan pernah mengharapkan aku bisa memberikan ramuan itu.
Mendengar itu, burung Camarpun mengakui kalau dia memang bukan satu keturunan dengan burung Bangau, sebenarnya dia sempat berpikir, Burung Bangau pasti memberikannya karena dia sudah lama menjadi teman akrabnya, ternyata pikirnya salah. Camar berkata tidak usah aku memaksakan diri, aku harus ikhlas menerima serta mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku.

Burung Camar memang menerima itu, tetapi ia kemudian pergi mencari ramuan yang cocok untuknya, dia melakukan penelitian-penelitian dan pada khirnya ia juga menemukan ramuan yang dapat menjadikan bulunya indah dan bersih, ramuan itu ialah mandi di air yang jernih lima kali sehari.

Monday, 31 October 2016

AHOK AKAR PERDEBATAN SENGIT: APAKAH MUI ATAU PEJABAT NEGARA YANG SALAH?

Penulis:Anin 31 October 2016

Seiring maraknya kasus Ahok, media begitu sibuknya menyebarkan berbagai berita Ahok yang di anggap sebagai topic hangat. penyebaran berita-berita itu berlangsung sejak Ahok menjadi Gubernur Jakarta yang tegas, berani dan lantang. Ahok dianggap sebagai sosok fenomenal yang mampu mengguncang para penganut Agama, Negara bahkan masyarakat sehingga memberikan efek  perdebatan sengit di Dunia Maya, perdebatan itu timbul dari penilaian mereka terhadap cara bicara, perilaku dan sifat Ahok. Terutama terkait ucapan Ahok tentang surat al-Maidah 51. ada yang mengatakan Ahok tidak salah, yang salah adalah yang memaknai maksud dari kata-kata Ahok, ada yang mengatakan yang salah orang yang menyebarkan video sehingga banyak orang menuduh Ahok telah melecahkan Agama mayoritas.
Isu pelecehan agama mayoritas inilah yang menyebabkan kebanyakan masyarakat sangat murka dan marah kepada Ahok, Ahok dianggap telah menghina kitab umat mayoritas. karena itu ada sebagian orang yang menganggap Ahok harus diproses hukum dan ada yang membela Ahok dengan menulis artikel-artikel dan argument-argumen pembelaan mereka terhadap Ahok, Seperti contoh artikel dibawah ini:
Perbedaan pandangan ini mungkin masih banyak lagi, misalnya perdebatan ILC pada 11 oktober 2016 tentang Ahok sebagaimana pada link ini https://www.youtube.com/watch?v=ZPILpwICfmA#t=490.577948  atau yang lainnya.
Ada juga, seperti Nusron wahid ketua partai bidang pemenangan pemilu partai Golkar atas pembelaannya terhadap Ahok  yang telah minta maaaf itu, secara langsung Nusron Wahid mengatakan orang muslim itu selalu ramai, ramainya orang muslim katanya disebabkan dua hal:
1.      Kalau nga’ salah paham berarti
2.      Pahamnya salah
Menurut Nusron yang namanya teks apapun itu bebas tafsir dan makna, bahkan yang paling mengetahui tafsiran al-Qur’an adalah Allah Swt dan Rasul-Nya, bukan Majelis Ulama Indonesia. Kebenaran hanya datang dari Allah Swt, jadi kalau kita bawa kepada perkataannya Ahok,  yang paling tau maksud ucapan itu ya Ahok, apalagi Tafsiran aulia dalam surat al-Maidah itukan bukan pemimpin, hanya Indonesia saja tafsirannya begitu, sementara bahasa Inggris tidak menafsirkan demikian. Nurson juga melihat dari sisi sejarah seperti khalifah Abbasiyah yang ke 16 Sultan al-Muktadid Billah pernah mengangkat seorang Gubernur di al-Anbar (Irak) yang bernama Umar bin Yusuf seorang Kristen yang taat. Olehnya itu, kata Nusron peristiwa Ahok itu hanya konteks Sosial saja. Sebab ayat al-Maidah itu tidak ada kaitannya dengan konteks politik.
Begitu juga Prof. Dr. Hamka Haq, Anggota DPR Pusat dari Partai PDIP, menilai peristiwa Ahok terdapat tiga sisi yang harus diperhatikan, antara lain:
1.      Ketersinggungan umat Islam.
Ketersinggungan umat Islam yang ada di Media Sosial (Mensos) dan Demonstrasi dimana-mana yang menyulut kemarahan, itu disebabkan oleh unggahan rekaman yang tidak lengkap, sebab menurut Hamka Haq, rekaman sebelumnya tidak membawa ketersinggungan, ketersinggungan muncul karena rekaman yang tidak lengkap itu, yang kemudian diberikan komentar untuk melawan, jadi yang membuat umat Islam tersinggung itu bukan Ahok dan Ahok tidak perlu minta maaf dan mestinya yang harus minta maaf adalah pengunggah Video itu. Jadi Sumber masalah bukan Ahok. Cuman karena Ahok orang bijak. Maka dengan itu Ahok mengambil inisiatif untuk minta maaf. Apalagi yang menggugah video itu simpatisan dari pihak heiter (lawan) Ahok.
2.      Kalimat Ahok sendiri di Bohongin pake al-Maidah 51.
Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Ahok tidak berniat mengatakan al-Qur’an itu bohong, sehingga ini bukan penistaan Agama. Bukan ayat yang berbohong tapi orang yang sering menggunakan ayat-ayat itu yang berbohong.
3.      Esensi atau Subtansi dari al-Maidah 51

Menurut Prof. Dr. Hamka Haq, Subtansi surat al-Maidah yang selama ini melarang memilih pemimpin, ayat ini jika dilihat Asbabun Nuzulnya dalam tafsir al-Qurtubi dikatakan turun pada peristiwa perang Uhud, dan jika dilihat dari realitas sejarah, pernah ada dua pemimpin non-Muslim yang pernah memimpin di zaman Nabi Saw. Pertama: kepemimpinan dipimpin Abu Thalib (Beliau non-Muslim hingga wafat) keluarga Nabi Saw. Kedua: Abesinia yaitu kerajaan Kristen yang di Pimpin Raja Kristen, bernama Najasi, Raja yang adil dan Negeri kaum jujur. Olehnya itu keadilan dan kejujuran berada dibawah kepemimpinan non-Muslim saat itu kata Prof. Hamka Haq. Selanjutnya Hamka Haq berkata, pak Kiyai-Kiyai sebenarnya sudah tau sejarah itu namun mereka selalu menyembunyikannya, yang dibahas hanyalah ketika Rasul Saw menjadi kepala Negara, namun ketika Rasul menjadi rakyat tidak pernah di bahas, padahal 13 tahun Rasul berada dibawah kepemimpinan Non-Muslim. Prof. Hamka Haq kemudian berkata lagi, barangkali ini yang dimaksud oleh Ahok, ada pemahaman yang di sembunyikan sehingga melahirkan tafsir yang membohongi rakyat dengan memakai kalimat itu.
Jika kita lihat stekmen Nusron dan Hamka Haq di atas, keduanya mendukung Ahok, membela Ahok agar tidak di proses hukum. Tapi, muidah-mudahan pembelaan mereka tidak terkait dengan kepentingan pribadi, sehingga berani menyalahkan MUI.
Sementara Dr. Patnizon seorang ahli Bahasa terkait Ahok dan Mui, dia mengatakan bahwa sudah jelas apa yang dikatakan Ahok bahkan tidak perlu Profesor menafsirkannya, ini persoalan yang sangat sederhana “dibohongin pake al-Maidah 51” kata ini menurutnya suatu bles peming, Dr. Patnizon sepekat dengan perkataan seorang Budayawan pak Jai Suprana perkataan Ahok adalah penistaan Agama yang terjadi di Pulau 1000.
Dr. Patnizon lebih lanjut mengatakan jangan mempertahankan sesuatu yang salah, Ahok sendiri sudah minta maaf, artinya minta maaf itu berarti mengakui kesalahannya, kemudian what is next apa berikutnya, what Is bi dan bagaimana menyelesaikannya, untuk menyelesaikannya adalah proses hukum karena kita bersamaan kedudukan didalam hukum konstitusi pasal 27 ayat 1. Mengenai Ahok, apakah peristiwa seperti ini pernah terjadi. Saya mencoba membuka google sebagai contoh, pada tahun 2013 di Bali ada seorang Ibu rumah tangga mengatakan canang  (tempat sesaji) ini jijik dan kotor, perkataan ini kemudian di laporkan ke Polisi diproses di pengadilan dan ibu itu di Hukum 1 Tahun dua bulan Penjara, karena orang Hindu merasa perkataan itu menghina Agama mereka, padahal kalau kita lihat yang dikatakan jijikkan adalah canang (tempat sesajen) hanya sebuah benda. persisi juga peristiwa aswendo sudah minta maaf tapi diproses hukum juga 5 tahun penjara padahal masalahnya tidak langsung terkait, hanyalah masalah survei.
Dr. Patnizon, Selanjutnya berkata; coba kita lihat karakter Ahok seperti apa, saya mau mengutip perkataan Ahok pada waktu wawancara disebuah stasiun TV “Istri saya mau terima si S Ar untuk main di kota Tua, lu buktiin aja, nenek lu sialan, bangsat gua bilang, lu buktiin aja, gue juga udah keki, lu lawan bini gua kalah lu, mati aja lu, kasi tai aja muka lu” ini sudah menjadi karakter kepemimpinan Ahok, dan akhirnya stasiun TV tersebut diberi sangsi, terlalu banyak trek Rekornya kata-kata Ahok yang tidak terkontrol, bahasanya tidak terkontrol dan menyinggung banyak orang. Jadi Polisi harus adil kalau tidak hukum akan mencari caranya sendiri dan ini berbahaya.
Sselanjutnya bukan saudara Bun Yani yang salah, dia meng apload pembicaraan public kepada media, tidak ada yang disensor hanya mencuplik itu tidak ada masalah. Juga ada peristiwa mahasiswa yang sedikit menyinggung di TV, Ahok mengatakan kalau saya mahasiswa seperti itu bukan hanya di maafkan tapi dipecat saja, dengan ini Ahok termakan perkataannya senidiri, olehnya itu menurut Dr. Patnizon kasus Ahok harus di proses hukum, ini tidak ada kaitannya dengan Pilkada, saat itu dia bicara sebagai seorang Gubernur, pejabat publik bukan tim sukses dan calon Gubernur pada waktu bicara di pulau 1000.
Adapun Ahmad Dhani mengatakan MUI mungkin tidak dianggap yang paling ahli oleh semua orang tapi MUI adalah saksi ahli dari kepolisian.
Sementara Fahri Hamzah Ada tiga kotak:
1.      Agama memiliki cakupan yang luas (Universum).
Fahri hamzah mengatakan, kita sering lupa bahwa Agama adalah sesuatu yang luas dan pengaruh agama pada diri orang jauh lebih dalam dan kuat dari pengaruh apapun, manusia ketika lahir sudah disambut dengan konsepsi Agama. Kalau Islam di Komatkan dan di Azankan dan ketika agak besar di Khitan, di agama lain mungkin juga ada seperti itu, misalnya Nasrani ada pembaptisan dan sebagainya. Terkadang yang sering muncul adalah kesalahan berfikir, hal ini karena penggemar atau penggiat Negara dan ruang public sering mengecil artikan Agama dan seolah-olah Agama itu boleh ditinggalkan, padahal justru ini yang menjadi penyebab kritis Negara-Negara lain seperti di Eropa. bahkan menurut Fahri, awal dari kegagalan sekularisme barat yang sudah mulai ambruk karena gagal membangun tatanan social dan muncul pemimpin-pemimpin ekstrim seperti Ronald Dram di Amerika dan Eropa secara umum kaum kanan yang berkuasa. Tapi, justru di Indonesia efek ekor tradisi yang sudah mau ambruk ini baru mau dimulai, sepertinya masyarakat Indonesia mau diajarkan untuk meninggalkan sentiment Agama, padahal perasaan itu mustahil.
2.      Entitas Negara.

Negara adalah organisasi manusia, namun Agama karena begitu luasnya, akhirnya juga melahirkan konsepsi Negara. Tapi kalau dibaca sejarah Negara Indonesia yang ditulis Elson, The Idea Of Indonesia jelas bahwa Indonesia lahir atas persmean fikiran-fikiran besar yang berasal dari seluruh Agama dan Kultur, lalu lahirlah dua poros menurut Elson, Pertama: poros yang belajar Negara, terutama kaum sarjana yang belajar di Barat. Kedua: Poros yang belajar Agama, kaum Sarjana yang belajar di timur tengah, kedua inilah yang menjadi sintesa dan budaya yang melahirkan konsepsi dasar, dan kalau  kita pelajari, sebenarnya pancasila dalam konsepsi Islam bisa disebut sebagai Maqasid Syari’ah tujuan daripada Agama, jadi Negara Indonesia melaksanakan tujuan beragama olehnya itu, Agama konsepsinya lebih luas daripada Negara Indonesia Itu untuk mengkleim satu sistematika awal supaya individu tidak hidup menghilangkan tradisi Agama dalam Negara berdasar ke-Tuhanan yang Maha Esa.
3.      Ahok dan Pilkada
Dalam kasus yang dihadapi sekarang ini menurut Fahri Hamzah kegagalan saudara Ahok dari awal, Ahok tidak menyadari bahwa kita sebagai bangsa menikmati satu capaian yang dahsyat dalam tradisi berbangsa dan bernegara, sesuatu yang oleh bangsa lain dicapai ratusan tahun, tiba-tiba Bangsa Indonesia dalam waktu yang sangat singkat dicapai secara luar biasa. Di Inggri ada Walikota London beragama Islam, gempar Surat Kabar Dunia memberitakan, dan ini dicapai hampir ribuan tahun, Imperium Britania Raya Amerika Serikat ada orang kulit hitam Barac Husein Obama setelah ratusan tahun baru dia bisa menjadi Presiden di Amerika Serikat dan justru melahirkan Ekstrimitas di kalangan politisi kalau kita lihat debat Donald Tram dengan Hiler luar biasa. Sementara Ahok tidak menyadari bahwa dia sedang berada dalam satu titik yang sangat menentukan. Pertama-tama Ahok tidak pernah dipilih menjadi seorang Gubernur Jakarta, namun karena dia memilih Jokowi pada awalnya, dia hanya menjadi wakil Gubernur yang karena Jokowi kemudian mencalonkan diri menjadi Presiden  dan menjadi Presiden, Ahok dalam tanda petik terpaksa menjadi Gubernur DKI Jakarta, kesadaran ini sebetulnya harus Ahok camkan secara baik, supaya kita menggunakan kesempatan ini untuk menyadari  satu capaian bersama yang tidak diterima dengan baik.
Harusnya begitu Ahok jadi Gubernur dia sadar, bahwa dia menjadi Gubernur di Ibukota sebuah Negara Muslim terbesar di Dunia dan karena itu pasti ada sebagaian masyarakat pasti mencermati dengan baik identitas Etnis dan Agama Ahok, kalau dia sadar dari awal dengan ini dia bisa membiasakan tradisi berpolitik yang baik. Sadari semua, bicara dengan baik, bicara kepada orang Islam dengan baik, bicara menjadi Gubernur yang baik, terima kenyataan politik yang ada, namun Ahok ini tidak, masuk di Ibukota semua diajak berkelahi, pertama diajak berkelahi DPRD DKI, Partai-Partai di ajak berkelahi, Elit-Elit Jakartaun di tangkap di Ajak berkelahi.
Dengan ini Fahri Hamzah mencari tahu siapa sebenarnya di balik Ahok sehingga Ahok begitu hebat sekali, seperti itu, popularitasnya menjadi sangat tinggi. Namun kita tidak boleh gagal karena Ahok. Saya pesimis dengan peristiwa ini, 25 tahun yang lalu  ada sesorang membuat prediksi tentang benturan peradaban, akan ada perdaban barat terutama di pimpin oleh Amerika Serikat dengan benturan secara materil Konfusius peradaban Tiong Hoa dan  China kemudian mengalami benturan secara spiritual dengan peradaban Islam. Hal ini, macam-macam sebabnya, kalau peradaban china jelas, china telah menjadi kekuatan ekonomi yang paling besar dan melampaui Negara-Negara di Dunia setahun demi setahun sehingga sekarang mungkin tinggal Amerika. Saya khawatir Ahok ini mengantar kita pada benturan ini sekaligus, sebab kapitalisme Global ingin menghancurkan China karena mereka dikalahkan dominasinya dalam tradisi menguasai aset yang begitu lama, saya kira ada kekuatan Barat yang ingin menghancurkan kekuatan Islam dan kalau kita lihat  Timur Tengah sekarang ini Negra gagal semua Libia, Irak dan Yaman. Artinya ini perang sedang terjadi dan di Indonesia Negara yang berdasarkan Pancasila tiba-tiba ada orang yang mau memancing dua perang ini sekaligus terjadi di Indonesia dan kalau terjadi di Indonesia dan sukses maka kekuatan lama itu menang dan Indonesia ini akan menjadi korban peperangan itu dan tidak dapat apa-apa. Tapi mudah-mudahan seperti optimism pk Jaya Suprana tadi bahwa Indonesia bisa menangkan ini, dan Indoesia muncul menjadi kekuatan baru dengan Pancasila sebagai Ideologinya yang akan memimpin masa depan Umat manusia.

Sementara, kedua stekmen di atas, justru sedikit mengomentari kesalahan Ahok.
Berikan kesimpulanmu dan komentarmu.

Sunday, 9 October 2016

PARADIGMA PENELITIAN TEOLOGI



Penulis: Anin Lihi
Senin 18 Juli 2016.





A.    Latar Belakang
Berdasarkan fakta empiris, sebagian manusia cenderung melakukan penyimpangan, hal inilah yang mendorong manusia lainnya untuk berpikir mencari solusi dalam memecahkannya. Pemecahan masalah tersebut membutuhkan satu ide yang baik dengan model pendekatan tertentu, seiring berkembangnya waktu para ahli mulai berpikir menciptakan metode pendekatan, misalnya; pendekatan filsafat, pendekatan sosial dan lain sebagainya, pendekatan-pendekatan ini betujuan untuk menilai fakta-fakta empiris sekaligus memecahkannya, pendekatan filsafat dan sosial misalnya keduanya tidak sepenuhnya mampu memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat, sebab hanya terbatas pada teori-teori atau paradigma-paradigma. Namun, Teori-teori yang dikemukakan para ahli harus di hargai, sebab merekalah orang-orang yang sudah berusaha mencari  solusi dalam memecahkan masalah-masalah empiris yang terjadi, hal ini  sebagaimana Aristoteles, Plato dalam bidang Filsafat dan Aguste Comte dalam bidang Sosial dan ahli-ahli islam seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Kindi dan lain-lain.
Paradigma para ahli rupanya tidak berhenti pada fakta empiris saja, lebih dari itu ialah teologi, teologi dianggap erat kaitannya dengan agama yang membahas tentang Iman yang didasari dengan wahyu. Karena tologi sangat erat kaitannya dengan Agama dan wahyu maka teologi tidak dapat dilepas pisahkan dengan konsep ke-Tuhanan dan manusia. Itulah sebabnya teologi selalu di khususkan pada pengetahuan menyangkut hal-hal yang diimani manusia. Sehingga teologi selalu ditempatkan pada kualifikasi tertentu sesuai pokok ajaran yang di imani pada Agama masing-masing kelompok, seperti; teologi Islam, Teologi Kristen dan lain-lain.  



B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis dapat menarik beberapa rumusan masalah sebagai bahan kajian dalam pembahasan berikutnya, adapun rumusan masalah tersebut adalah sebagi berikut:
1.      Bagaimana Paradigma Penelittian Teologi dan Sejarah Penamaanya.
2.      Bagaimana Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
3.      Bagaimana Macam-Macam Pendekatan Teologi.
C.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Paradigma Penelitian Teologi dan Sejarah Penamaan Teologi.
a.       Pengertian Paradigma Penelitian Teologi
Dalam kamus Bahasa Indonesia, paradigma adalah daftar uraian atas kata menjadi unsur-unsur pembentuk kata.[1] Maksudnya daftar uarian kata yang menjadi satu kalimat yang dapat dipahami maksudnya. Paradigma dapat dikatakan sebagai cara pandang tertentu terhadap suatu permasalahan, kegiatan ini sering di kembalikan pada individu tertentu dalam menilai sesuatu serta memberikan sumbangsi pemikiran, guna memberikan masukan positif terhadap suatu masalah. Hal ini sebagaimana Prof. Dr. Mustari Mustafa dalam seminar kuliah, mengatakan; “Dengan paradigma saya sendiri”[2] artinya menurut pandangan, cara pandang, stekmen atau yang semisalnya.
Sedangkan penelitian adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Menurut David H. Penny; penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.[3]
Paradigma penelitian selalu berkaitan dengan pertanyaan fundamental berupa pertanyaan Ontologis, Epistemologis dan Metodologis. Dengan itu, maka paradigma penelitian adalah kontruksi manusia terhadap apa yang benar berdasarkan usaha penelitian yang telah dilakukan secara sistematis sesuai dengan aturan-aturan metodologinya.
Adapun Teologi terdiri dari dua kata Theos dan Logos. Theos artinya Tuhan dan Logos artinya Ilmu, maka dengan itu teologi ialah ilmu yang membahas Tuhan atau ilmu ke-Tuhanan.[4] Istilah lain dari teologi terdapat dalam bahasa arab dan biasa disebut ilmu kalam atau ilmu ushuluddin, disebut ilmu kalam karena membahas kalam Tuhan dan kalam manusia, yang dimaksud kalam Tuhan disini ialah al-Qur’an, berkaitan dengan Kalam pada abad ke-2 dan ke 3 H. pernah terjadi perdebatan di kalangan umat islam, karena firman Tuhan pernah di perdebatkan maka dengan itulah di namakan ilmu kalam.[5]
Teologi menurut para ahli, seperti: Anselmus dari Canterbury pernah melukiskan teologi sebagai “Iman berusaha untuk mengerti”, sedangkan Syukur Dister mengatakan Teologi lebih luas daripada pengetahuan filsafat, teologi tidak hanya di dasarkan pada pengalaman indrawi dan pemikiran rasional, namun lebih jauh dari itu ialah wahyu Tuhan sebagaimana ditangkap oleh manusia beriman, sementara Maurice Blondel filosof Prancis apa yang menjiwai Teologi ialah tindakan percaya. Kepercayaan selain dianggap sebagai titik tolak juga merupakan dasar tetap untuk seluruh bangunan teologi, ia mempelajari tujuan manusia yang kongkrit dan adikodrati.
Jadi paradigma penelitian Teologi ialah cara pandang tertentu dalam menelaah suatu gejala yang terjadi serta meyakini bahwa gejala empiris dan adikodrati itu dapat dicari sebab untuk kemudian diberikan solusi terhadap cara penyelesaiannya.
Sebagai contoh kecil, misalnya terjadi perkelahian anatara kelompok mahasiswa A dengan mahasiswa B, dalam diri kita bertanya-tanya  sebab apa sehingga mereka berkelahi, dengan itu kita lakukan penelitian, kita akan menemukan latar belakang masalahnya, dan kita akan mengatakan mungkin karena persoalan pacaran, antara kelompok mahasiswa A dan B terdapat salah seorang saling memperebutkan perempuan sehingg terjadilah saling mengejek atau boleh jadi karena permasalahan lain. Kejadian ini kemudian terus berlanjut.
Melihat masalah ini, teologi hadir memberikan solusi sesuai dengan petunjuk firman Tuhan, maka teologi mengatakan, ini terjadi karena kurangnya kesadaran akan persaudaraan sehingga mereka susah untuk saling memaafkan. mereka belum sepenuhnya mampu mendengarkan wahyu yang dturunkan oleh Tuhan.
Misalnya: Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 199,
artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta jangan mengikuti orang-orang yang bodoh.

Dengan memahami ayat diatas maka akan lahir satu pemikiran positif bahwa setiap kita tidak patut melakukan sesuatu yang tidak bermoral. Bagi mahasiswa, budi pekerti yang baik adalah nilai yang harus dipertahankan. Maksudnya mahasiswa harus mampu memahami bahwa perbuatan  demikian adalah sebuah kebodohan. Mahasiswa harus diberikan pembelajaran wahyu secara mendalam, sebagaiman dikatakan Rahner Bahwa, wahyu tidak berdasar pada akal manusia,[6] Pendapat ini juga didukung oleh Nico Syukur Dister, bahwa dalam teologi pembuktian terjadi melalui wahyu yang menghasilkan budi yang diterangi oleh  iman.[7]
Selain itu, Teologi mampu mendorong seseorang memahami tradisi keagamaannya, bahkan tradisi keagamaan lainya, juga mampu membuat perbandingan anatar berbagai tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam situasi atau kebutuhan masa kini dan berbagai alasan lainnya. Olehnya itu, paradigma penelitian Teologi merupakan usaha seseorang dalam meneliti gejala kehidupan yang dilakukan secara sistematis dengan mengikuti aturan-aturan metodologi dan mendasarkan pada teori tertentu sesuai dengan keyakinan beragama.
Yang dimaksudkan dengan teori tertentu adalah teori yang dipakai oleh teologi yang erat kaitannya dengan agama. Artinya tergantung pada pandangan seseorang terhadap agama, melalui hasil pengamatannya, dan menurut penulis sebagaiamana Prof. Dr. Mustari Mustafa Mpd. Dalam seminarnya teori yang dipakai dalam agama adalah teori kritis. Tetapi ini hanya pandangan yang lahir dari pengamatan seorang Prof. artinya dapatpula seseorang berpendapat lain.
b.      Sejarah Penamaan Teologi.
Penamaan teologi sebenarnya bukan berasal dari Islam bukan pula dari Kristen dan Yahudi atau agama lainnya, melainkan berasal dari bahasa Yunani yang diambil dari bahasa Yunani Helenis yaitu Theologia yang diguanakan dalam literatur Yunani kalsik. Theologia bermakna wacana tentang para dewa atau kosmologi, akan tetapi makna yang sebenarnya telah diubah oleh pemikiran Kristen di Eropa sepanjang abad pertengahan. Para penulis Kristen kemudian mulai mengambil kata Theologia dan menggunakan istilah Theologos untuk menggambarkan studi mereka. Kata Theologos muncul sekali dalam beberaapa naskah al-Kitab dalam judul kitab wahyu “apokalupsis ioannou tou theologou” pernyataan ini kemudian dinisbatkan kepada  Yohanes serhingga disebut san theologis. Namun sekarang tidak lagi merujuk pada Yohanes  sang thelog. Akan tetapi sudah menggunakan arti kata logos sehingga agak sedikit berbeda peribahasanya dan tidak dimaksudkan pada wacana rasional. Melainkan dalam arti “Firman” atau “Pesan” dengan demikian sang telogos disini dmaksudkan sebagai seseorang yang menyampaikan firman Allah (Logoi Tou Theou).[8]
2.      Aspek fungsional dan Struktural Penelitian Teologi.
Setiap penelitian sudah tentu memiliki fungsi, fungsi itulah yang memberikan konotasi manfaat terhadap sesuatu yang diteliti guna memperbaiki akhwal manusia.
Secara fungsional, teologi berfungsi untuk mempertegas keberadaan Tuhan, ajaran-ajaranya agar manusia tidak melakukan penyimpangan serta mampu mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan dalam Firman. selanjutnya mendorong manusia untuk mencari metode yang dipakai oleh teologi. Sedangkan secara struktural pendekatan penelitian teologi memosisikan Tuhan sebagai zat yang satu-satunya mutlak benar dan untuk memperkuat itu maka dicarikan paradigma-paradigma rasional yang disesuaikan dengan aturan-aturan ajaran agama yang telah ditetapkan untuk mendukung kebenaran tersebut.
3.      Macam-Macam Pendekatan Teologi.
Penelitian tidak lain adalah art of science, yaitu mencari jawaban dalam menjawab suatu permasalahan. Dalam pembahasan ini terdapat tiga macam pendekatan yang menurut penulis sangat penting untuk diketahui. Adapun pendekatan tersebut diantaranya adalah:
a.       Pendekatan Theologis Normatif.
Teologi normatif ialah usaha memhami agama dengan memakai kerangka ilmu ke-Tuhanan yang bertolak dari keyakinan bahwa wujud nyata dari suatu agama ialah ada dan dianggap sebagai mutlak benar serta harus mengikuti kaidah-kaidah agama.
Muhammad Natsir mengatakan bahwa, pendekatan Normatif ialah pendekatan Teologi-Apologis yaitu cenderung memihak dan objektif sehingga sering mengkalim diri bahwa dialah satu-satunya yang benar semenatara yang lain salah atau minimal keliru. Pendekatan normatif lebih banyak ditemukan dalam karya-karya Orientalis Barat yang cenderung mendiskreditkan Islam. Mc Donal umpamanya, sebagaimana dikutip Muhammad Natsir Mahmud mengatakan bahwa, pada awalnya, Islam adalah Agama Kristen yang  diselewengkan oleh penyakit jiwa (Patologis) Muhammad, Islam hanya produk pemikiran ke-Timuran. Ada dua karateristik pemikiran ketimuran menurut Mc Donal: [9]
-          Menghargai fakta dan di ikuti oleh fantasi yang bebas tetapi pada sisi lain terikat (tidak bebas).
-          Tidak menghargai kebebasan berpikir dan kebebasan intelektual.
Olehnya itu pendekatan Teologi normatif, melihat agama sebagai kebenaran mutlak dari Tuhan yang bersifat ideal tanpa kekurangan serta dibangun berdasarkan dalil-dalil pada tiap-tiap ajaran agama di dunia.
Bagi Islam pendapat Mc Donal ini keliru, secara harfiah sebenarnya Islam justru sangat menghargai kebebasan berpikir, akan tetapi kebebasan itu bukan bertujuan untuk menyesatkan orang, melainkan kebebasan berpikir dalam membangun keselamatan seluruh manusia. Hal ini justru dinilai kebaikan dalam Islam bagi sipemikir serta memberi kebaikan pula bagi orang yang mengkonsumsi pemikiran itu. jadi bebas berpikir tetapi teratur.
b.      Pendekatan Teologi Dialogis.
Pendekatan Teologi dialogis ialah pendekatan dalam mengkaji agama dengan menggunakan persepsi agama lain, pendekatan seperti ini sering di gunakan oleh Dr. Zakir Naigh dan Gurunya Ahmad Deedat serta beberapa teolog Islam lainya untuk mengkaji agama-agama diluar Islam, penjelasan ini dapat dibuktikan dengan melihat ceramah-ceramah mereka dalam berdebat dengan para ahli dan pendeta-pendeta Kristen. Selain itu pendekatan ini juga banyak di pakai oleh para Orientalis Barat dalam mengkaji Islam.
Seorang Islamolog Barat, Hans Kung, Sebagaiaman di Sinyalir Muhammad Natsir Mahmud, dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. Hans Kung mengkaji Islam menggunakan pendekatan Teologi-dialogis Kung menyajikan pandangan dari perspektif Kristen. Dalam melengkapi komentarnya Kung mengajukan pertanyaan bahwa apakah Islam merupakan jalan keselamatan ?, pertanyaan ini menjadi tolak ukur dalam melihat apakah Islam adalah Agama yang menyelamatkan penganutnya.
Bila dilihat dari teologi Kristen memang ajaran yang dibawa oleh gereja sebagaimana perkataan-perkataan para pastor dalam ceramah-ceramah mereka selalu mengatakan agama Kristen adalah agama keselamatan, tidak ada keselamatan diluar gereja, bahkan menurut keyakinan Kristen mereka sudah ditebus Dosanya oleh yesus sang pembaptis. Maka wajar Kung berpendapat demikian. namun Islam justru menilai bahwa Kung keliru terhadap Islam, Kung belum mengkaji Islam secara mendalam dengan Pikiran sehatnya melainkan masih dengan nafsu kebencian terhadap Islam.
c.       Pendekatan Teologi Konvergensi.
Metode pendekatan Teologi Konvergensi adalah pendekatan dengan melihat unsur-unsur persamaan dari masing-masing agama. Penulis menilai pendekatan ini cenderung objektif daripada beberapa pendekatan sebelumnya, pendekatan ini lebih menjurus pada “Pela Gandong” atau “Poasa-asa” sehingga cenderung saling menghargai.
Berkaitan dengan pendekatan ini Wilferd Contwell Smith penganut pendekatan Teologi Konvergensi dalam http.//www.Gudang tugasku.blogspot.co.id. menginginkan penganut agama-agama dapat menyatu bukan hanya permasalahan sosial dan praktis tetapi juga Teologi. Smith mencoba membuat pertanyaan, dimana letak titik temu keyakinan agama-agama sehingga dapat mencapai sebuah konvergensi. Ternyata Smith menemukan perbedaan penganut-penganut agama pada Belief dari masalah Belieflah sering menimbulkan konflik, sebaliknya dalam Faith umat beragama dapat menyatu.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad pernah diminta untuk beribadah mengikuti Agama dan menyembah Tuhan orang-orang Quraisy  dan pada waktu yang lain orang-orang Quraisy pergi beribadah di tempat Ibadahnya orang-orang Islam, atas peristiwa inilah turunlah ayat yang kemudian di abadikan dalam al-Qur’an Surat al-Kafirun, penulis hanya menyebut satu ayat yang artinya “untukmu Agamamu dan untukku Agamku” jadi dari dulu memang pada belief tidak bisa saling menyatu tetapi bisa saja saling menghargai perbedaan untuk tidak saling menghina agama masing-masing. Berbeda dengan masalah-masalah sosial, Nabi Muhammad justru memberi hak hidup dalam Negara Islam pada orang-orang yang diluar agama Islam seperti Yahudi, nasrani dan majusi untuk tinggal di Kota Yastrib atau Madinah sekarang saat itu, jika berpikir subjektif mungkin agama-agama yang diluar islam akan di siksa atau di perangi apalagi Nabi Muhammad saat itu adalah kepala Negara. Tetapi Nabi Muhammad justru tidak berlaku zalim terhadap orang-orang yang beragama diluar islam.
Jadi pada permasalahan-permasalahan sosial dari para penganut agama mungkin dapat bersatu, namun masalah Aqidah tidak.
Berbeda ketika Pendekatan Teologi Normatif diterapkan dalam Agama Islam, bahkan menurut penulis justru lebih pas pendekatan ini diterapkan pada aliran-aliran dalam islam sehingga mereka bisa saling menghargai perbedaan dalam memahami nash-nash Islam agar tidak terjadi konflik sesama. Apakah itu konflik perang ataukah konflik intelektual hingga sampai pada tingkat saling mengfitnah.

 



[1]KBBI, Versi, 2.0.0.
[2]Mustari Mustafa, Seminar Kuliah Paradigma Penelitian Sosial Pada Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial dan Agama, Makassar, 27/03/2016.
[3]Cholid Narbuko dan H. Abu Achmadi, Metododlogi penelitian, (Cet 12; Jakarta: Bumi Aksara, 2012)., h. 1.
[4] Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama Titik Temu Akal dengan Wahyu, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)., h. 10/
[5] Harun Nasution, Teologi Islam, (Jakarta: UI Press, 1972)., h. ix.
[6]Amtsal Bahtiar, Filsafat Agama, Wisata Pem,ikiran dan Kepercayaan Manusia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)., h. 16.
[7]Nico Syukur Dister, Pengantar Teologi (Cet 3; Jakarta: Kanisius, 1994)., h. 34.
[8] http:www// Wikipedia bahasa Indonesia. com.
[9] Taufik Abdullah, Sejarah dan Masyarakat (Jakarta: Pustaka Firdaus)., h. 105.