Thursday, 13 January 2022

PEMIMPIN YANG IDEAL MENURUT IBNU ABI RABI’

Hidup berkelompok sudah menjadi tabi’at manusia yang tidak bisa dihindari. Itulah sebabnya, manusia disebut sebagai makhluk sosial. Makhluk yang sering berinteraksi, bekerjasama dan saling membantu. Walaupun manusia memiliki kecenderungan hidup bersosial. Tetapi, kecenderungannya untuk menyakiti orang lain juga ada. Karenanya butuh peraturan yang mengontrol, mengatur dan sangsi sebagai hukum jerah. Agar peraturan dan hukum jerah bisa dilakukan dan berjalan dengan baik maka butuh sebuah lembaga atau isntitusi yang dipimpin oleh seorang kepala negara yang baik dan  benar. Kenapa pemimpin yang baik dan benar dibutuhkan. Karena, kemajuan, kesejahteraan,  keadalian dan perkembangan negara hanya bisa diwujudkan jika pemimpin berjiwa mengayomi dan melindungi. Artinya, fungsi seorang pemimpin adalah mampu mengayomi dan melindungi masyarakat dari berbagai gangguan dan bahaya yang mengancam ketentraman warga masyarakat, serta bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan terbaik. Maka, paling bagusnya seorang pemimpin adalah yang paling terbaik diantara masyarakat yang ada.

Ibnu Abi Rabi’ mencoba memberikan solusi bagi idealnya pemimpin sebuah negara. Menurutnya sosok pemimpin ideal adalah seseorang yang memiliki keyakinan bahwa kepemimpinan yang diembannya merupakan mandat dari Allah. Kepala negara adalah cerminan atau refresentasi seuruh rakyat. Karenanya, kelemahan, kekuatan, dan kemajuan sebuah negara bergantung dari kepala negaranya. Maka seorang kepala negara harus memiliki sifat.

a.       Merealisasikan akhlak (aspirasi yang luhur) dan memiliki kemampuan mengendalikan emosi

b.      Punya pandangan yang kokoh (kemampuan mengkaji dan menganalisis sistem pengelolaan pemimpin dahulu, mempelajari sejarah, dan melakukan eksperimen tentang kesuksesan dan kegagalan mereka).

c.       Handal saat menghadapi setiap tantangan.

d.      Kemampuan mengelola negara menjadi negara yang  memiliki kekayaan besar. Dengan merealisasikan keadilan kepada rakyat dan melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.

e.       Mengamalkan sikap sopan santun dan memberi penghargaan terhadp wakil-wakilnya.

Demikian idealnya seseorang menjadi kepala negara atau pemimpin.

Seorang kepala negara bisa menjadi memimpin negara menjadi ideal maka harus menghindari beberapa hal di bawah ini menurut Ibnu Abi Rabi’.

a.       Tidak boleh mengangkat seseorang yang tidak memiliki kapabilitas

b.      Tidak boleh mengankat orang yang tidak jujur

c.       Tidak boleh mengangkat seorang yang tak pandai menjaga rahasia

d.      Tidak boleh mengangkat penjaga keamanan yang tidak memiliki kecakapan

e.       Tidak boleh mengangkat pejabat yang mengabaikan tugasnya

Sebaliknya kemajuan dan kesejahteraan negara bisa tercapa jika seorang pemimpin atau wakil-wakilnya memiliki sifat.

a.       Berkelayakan (memiliki kepribadian baik dan kapabilitas).

b.      Punya sikap jujur dan bertanggung jawab

c.       Dapat dipercaya dan tidak mudah berkhianat

d.      Memiliki loyalitas tinggi menjaga keamanan negara

e.       Memiliki komitmen tinggi pada pekerjaanya

f.       Memiliki integritas tinggi.

Demikian beberapa yang perlu diperhatkan oleh seorang kepala negara menutur Ibnu Abi Rabi’.


 

 

 


Wednesday, 5 January 2022

Doa Lounching Jurnal MGMP PAI

 بسم الله الرحمن الر حيم   . الحمد لله رب العالمين .  اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد

Wahai Tuhan yang Maha Terpuji

Sungguh kami memuji dan menyanjung-Mu dengan segenap pujian. Engkaulah pemilik keagungan, pencipta dan pemilik alam semesta, pelimpah berjuta rahmat dan berkah, pemberi Ilmu dan rezki, menakdirkan kami dipagi menjelang siang ini berjumpa dan bertemu bersilaturahmi dalam kegiatan lounching Jurnal Alfatih MGMP PAI SMP Provinsi Maluku. Harapan kami, keberkahan dan semoga perjumpaan ini menjadi momen pelimpah rezeki dan perpanjang umur.



Wahai Tuhan Yang Maha Melindungi

Sungguh kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari akal yang tidak mampu memahami hikmah, dari hati yang tak mampu memasukan iman, dari jiwa yang tidak tenang dan dari doa-doa kami yang tak terijabah.


Wahai Tuhan pemilik hikmah dan kesejukan

Karuniakan kami keluasan ilmu dan wawasan yang menjadi penyejuk hati dan pencerah, berilah kekuatan kepada kami  dalam beramal hingga menjadi ladang yang menghasilkan, hiasilah kami kesabaran dan kelembutan, berikan kami derajat yang mulia dan teguhkan kedudukan kami dengan takwa dan kesalehan, perindah kehidupan kami dengan kesehatan jasmani dan rohani serta cahaya spritual, tebarkanlah kami nilai-nilai agama yang tumbuh subur.


Wahai Tuhan yang Maha Melihat

Tampakkan kepada kami kebenaran yang terhalangi dan anugrahi kami mengikutinya dengan daya dan kekuatan, perlihatkan pula kebhatilan dan anugrahi kami kemampuan menghindarinya. Kami meminta berkah ilmu.



Wahai Tuhan Yang Maha Pengampun

Kami memohon ampunan dari segala dosa dan kesalahan kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, para tokoh-tokoh agama dan bangsa, para pemimpin dan segenap rakyat yang beriman.

ربنا اتنا فى الدنيا حسنة و فى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. وصلى الله على سيدنا محمد المصطف محمد والحمد لله رب العالمين

Sunday, 12 December 2021

Pisabha sebagai Wadah Pembentukan Karakter dan Akhlak

 




Akhlak termasuk sifat manusia yang unggul, baik, dan menimbulkan rasa persaudaraan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama manusia. Mengenai hal ini telah diajarkan dalam tradisi pisabha. Pisabha termasuk salah satu media untuk mempelajari akhlak, sebab dalam proses melaksanakan pisabha para gadis itu telah diberikan penguatan-penguatan tentang pentingnya Ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, menaati kedua orang tua, berbuat baik kepada keluarga dekat dan tetangga, dan harus bersikap baik terhadap semua orang, keempat hal ini kata Imam Surima merupakan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya yang tertera didalam al-Qur’an dan sunah-sunah nabi-Nya. Selain itu, mereka berzikir dan belajar  untuk mengisi pengetahuan dalam hati dan otak mereka. Dan perlu diketahui bahwa akhlak hanya bisa diraih dengan ibadah, sementara karakter dapat didapatkan dari ilmu. Kedua cara perolehan pendidikan karakter dan akhlak ini sudah diajarkan didalam pisabha. Para gadis yang melakukan pisabha diberikan sugesti untuk senantiasa berbuat baik kepada Allah dan kepada seluruh manusia.

Ajaran tentang pembentukan karakter tidak hanya terbatas pada pendidikan orang tua berupa nasihat pribadi, melainkan terbentuk dalam suatu tradisi. Didalam proses menjalani pisabha pendidikan yang diterima gadis pisabha tentang pembentuk sikap dan karakter baik yang diperbuat, terutama tentang akhlak kepada sesama manusia, kepada orang tua, dan  kepada Allah SWT. Imam Surima menyampaikan bahwa.

“Selagi masih kanak-kanak, mangkali tomalawae mansuana, atawa tatalaksanae agama, jari natalapaisie, kemudian noanuaka mai tetangga, atau nopiwau kesalahan, toadarie ana-ana.

Artinya: “selagi masih kanak-kanak, barangkali anak itu pernah melawan orang tuanya, atau anak itu tidak melaksanakan ajaran agama, atau melepaskan agama, kemudian anak itu memiliki kesalahan dengan tetangga, itulah sebabnya anak itu harus dididik. 

Olehnya itu, Imam La Abdullah Mustafa menyampaikan agar anak itu dipisabha, nanti didalam proses pelaksanaan pisabha anak itu bisa diberikan pengajaran sikap, karakter dan akhlak sehingga memiliki perangai yang baik dan terhindar dari perangai yang buruk, agar sang gadis itu suci dan putih hatinya dari sifat-sifat jahat seperti kain putih.

Inilah hal penting yang harus diketahui oleh gadis pisabha bahwa ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga dirinya dari sifat-sifat buruk, pisabha yang telah dilakukannya menjadi salah satu bukti kepedulian masyarakat kepadanya. Pendidikan itu tidak hanya menjadi kewajiban orang tua secara pribadi, tetapi juga tanggung jawab tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Sebab, gadis yang telah beralih statusnya menjadi dewasa bukan hanya menjadi kebanggaan, kegembiraan orang tua, tetapi kegembiraan, kebanggaan dan rasa senang seluruh masyarakat. Dia yang membawa nama harum daerah dan keluarganya. 

Friday, 10 December 2021

Pisabha Sebagai Penyucian Jasmani dan Rohani

 

Dalam proses pelaksanaan pisabha, gadis remaja diberikan pengajaran tentang taharah, yang didalamnya berisi penjabaran tentang Istinja, Mandi dan Wudhu. Taharah adalah proses untuk menyucikan diri dari kotoran-kotoran atau najis yang menempel di badan. Untuk memperkuat keyakinan sang gadis, para sando lantas memberikan pengajaran doa-doa istinja dan sekaligus maknanya. Tujuannya supaya mereka benar-benar memahami nilai dari kebersihan diri, dan diyakini bahwa itu perintah Allah SWT. Jamia menyampaikan agar gadis-gadis remaja mempelajari teori-teori istinja dengan baik, yaitu piguru misa (belajar terlebih dahulu) mulai dari tata cara istinja hingga menghafal dan memahami akna doa-doanya. Dan kesempatan itu dilakukan dalam melaksanakan pisabha. Artinya, mereka bisa konsetrasi mendengarkan pembinaan dan menghafal doa-doa istinja yang diajarkan. Bahkan dalam kitab-kitab fikih, pembahasan taharah menduduki urutan pertama yang harus diketahui. Nilai-nilai penyucian diri inilah yang dilakukan oleh masyarakat Buton ketika melakukan tradsisi pisabha, khususnya bagi anak-ana gadis mereka. 

Ketika para gadis pisabha berada didalam kurungan mereka dipakaikan lulur kecantikan, lulur ini berfungsi untuk menghaluskan dan memutihkan kulit gadis-gadis remaja yang melakukan pisabha. Sehingga mereka selalu terlihat cantik dan bersih. Dan keberishan termasuk bagian dari Iman “attuhuru syatrul iiman”. Selain pemakaian lulur sebagai media pembersihan kulit. Mereka juga diajarkan istinja, ini perkara yang dianggap penting bagi mayarakat Islam. Kesucian jasmani terkafer pada makna kain putih. Imam Surima mengatakan bahwa gadis remaja yang sudah melakukan pisabha jasmani dan rohaninya akan suci bagai kain putih.

Kain putih selain melambangkan kesucian jasmani, juga melambangkan kesucian rohani, kenapa gadis pisabha juga mendapatkan kesucian rohani, karena ketika didalam kurungan mereka berzikir, mereka melakukan itu karena zikir adalah salah satu perintah yang harus dilakukan ketika melakukan pisabha, zikir diyakini sebagai aktifitas ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi haid. Anjuran berzikir ini, telah disampaikan oleh Umi Sumiyati selaku sando. 

Umi Sumiyati mengungkapkan bahwa gadis pisabha harus melakukan zikir selama berada didalam kurungan, mereka harus senantiasa mengucapkan istighfar dan berbagai zikir lain yang berfungsi untuk senantiasa mengingat Allah dan menggugurkan dosa-dosa, dan ini harus dilakukan dalam keadaan ikhlas. 

Zikir juga bisa mendatangkan ketenangan dan kedamaian hati, tentu gadis remaja pasti medapatkan itu. Al-Qur’apun telah mengungkapkan perintah ini dalam QS. Ar-Ra’du/13:28.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.


Ayat-ayat tentang zikir dan jabarannya sangat luas dan banyak, jika diurai dalam pembahasan ini tidak akan muat, cukuplah bisa dipahami dari ayat ini bahwa zikir berfungsi untuk menentramkan hati dan menyucikan diri. Maka harapannya kesucian dan ketenangan hati itu tidak hanya didapatkan saat melaksanakan tradisi pisabha, tetapi bisa menjadi pendidikan yang dapat direalisasikan hingga kehidupan berakhir.



Wednesday, 8 December 2021

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

Pisabha Sebagai Proses Pengakuan Tauhid

 Proses pensyahadatan telah mewakili satu pemahaman tentang pentingnya menanamkan keyakinan untuk beriman kepada Allah SWT dan meyakini Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Gadis remaja yang melakukan pisabha diharapkan mampu menjadi insan yang memiliki kekuatan Iman. Agar keyakinan mereka kepada Allah tidak goyah. Proses penyembahan kepada Allah tidak boleh dicampur adukkan dengan keyakinan lain, apalagi melakukan kesyirikan. Dan aktifitas dalam kehidupan harus sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Inilah harapan yang diinginkan setelah proses pisabha selesai. Pengakuan tauhid kata Imam Surima, dengan mengikuti seluruh perintah Allah SWT itu menjadi syarat bagi seorang gadis setelah disyahadatkan. Ia menerima sepenuh hati bahwa ia akan beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dengan pemahaman dua kalimat syahadat, terbentuklah kepribadian dan kehati-hatian dalam melakukan aktifitas hidup. Apalagi gadis itu telah berubah statusnya menjadi dewasa. Artinya, pengawasan dan perlindungan tidak hanya bermuara lagi dari orang tua, tetapi langsung dari Allah SWT. sehingga kekhawatiran tentang terjerumusnya gadis itu kedalam perbuatan zina dan hamil diluar nikah tidak terjadi. Apalagi ini merupakan salah satu tujuan diantara banyak tujuan lain bagi bentuk pendidikan dalam tradisi pisabha. Diungkapkan oleh salah seorang tokoh adat, La Isiadi. 


“Ande ana-ana notowaho (haid) khususno mowine, habe nakalaporaisie mancuana, ngalaho nakapisabhaisie dhiani, ande ciae, tosasu bho nokohawa i luara, jari mansuana habe nalaporae i toko adat, ande ciae berdosa mancuana.”

Artinya: “Kalau anak-anak perempuan sudah besar (haid), harus dilaporkan kepada orang tua-tua, supaya dilakukan pisabha, dikhawatirkan jika pisabha tidak dilaksanakan, maka kemungkinan besar akan terjadi hamil di luar nikah. Jadi, ayah dan ibunya harus melaporkan tanda kedewasaan itu kepada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, kalau kedua orangnya tidak melaporkannya, maka mereka berdua berdosa.”


Hasil wawancara yang diungkapkan La Isiadi ini, menunjukkan bahwa tanggung jawab untuk menjaga anak-anak perempuan tidak hanya terletak kepada kedua orang tua atau keluarga mereka. Seluruh masyarakat juga memiliki peran penjagaan. Artinya, jika terjadi hal buruk dan memalukan seperti yang dijelaskan La Isiadi itu, rasa malu tidak hanya diderita si gadis itu, kedua orang tuanya, dan keluarganya, tetapi juga diderita oleh masyarakat. Terutama tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama, selaku masyarakat pemerintahan.


Kesucian diri seorang gadis harus selalu terjaga, dan paling utama dari penjagaan itu adalah Allah SWT, Dialah yang memiliki kekuatan besar untuk menjaga mereka. Penanaman nilai-nilai tauhid ini begitu penting. Yakni beriman kepada Allah SWT dan mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Keyakinan sang gadis kepada Allah SWT harus selalu putih sebagaimana kain putih yang didudukinya di atas peti itu. Maksudnya ia harus selalu bercahaya. Keyakinan itu tidak boleh berubah menjadi hitam dan terbagi. Sang gadis harus selalu menjaganya dari kemurniannya. Dengan senantiasa menjaga dirinya dari kemaksiatan. 

Penanaman nilai-nilai syahadat harus senantiasa terkafer dalam kehidupan sehari-hari, sebab pemahaman syahadat berpengaruh tehadap kebermaknaan hidup dan terjaganya kehormatan. Dengan syahadat kepribadian terbentuk, perbuatannya selalu baik, dan senantiasa menimbulkan perilaku mulia. Bahkan ini diajarkan langsung oleh sando. Metode pengajarannya bisa dikatakan mirip dengan pengajaran Malaikat Jibril ketika mengajari nabi Muhammad SAW konteks Iman, Islam, dan Ihsan yang tertera dalam hadits muslim yang telah saya uraikan sebelumnya. Dimana Jibril mendekatkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW saat mengajarkan rukun Iman dan Islam itu. Konotasi metode ini dengan pendidikan yang diajarkan dalam pisabha yakni antara sando dan gadis yang dipisabha, tidak ada sekat yang memisahkan, pendidikan tauhid diajarkan di tempat yang sangat tertutup dan jauh dari kebisingan dan gangguan sehingga ucapan dan nasehat pengajaran yang diberikan bisa didengar dan dipahami secara jelas karena dekatnya.

Demikian pentingnya syahadat, orang Buton lantas menjadikan tradisi pisabha sebagai media pendidikan tauhid kepada anak-anak perempuan mereka. Sehingga mereka bisa memahami hakikat Islam yang sebenarnya.

Saturday, 27 November 2021

Sekilas Proses Pelaksanaan Pisabha di 19 Dusun Huamual

 Setelah kedua orang tua sang gadis remaja itu mengetahui bahwa anaknya sudah mengalami haid, kedua orangtuanyapun melaporkan kondisi itu kepada sando (guru pisabha), kepada kasisi (tokoh agama), dan parabhela (tokoh adat). Segera setelah pemberitahuan itu, dilakukanlah negosiasi keluarga untuk menyapakati waktu berapa hari pelaksanaan tradisi pisabha

Apabila sudah disepakati jumlah hari pelaksanaannya. Diberitahukanlah kembali kepada sando supaya ia mempersiapkan perangkat-perangkat adat, seperti gunting, silet, baju adat dengan segala mahkotanya, peti atau bantal khusus, beras, kunyit, kain putih, tempayang, dan seluruh perelengkapan lainnya. Seluruh alat-alat itu kemudian diletakkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan dan seluruh alat-alat itu diletakkan setelah dimantra-mantrai oleh sando.

Adapun tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat, dan tokoh-tokoh masyarakat pada sore atau malamnya, mereka mulai bekerjasama melakukan pembacaan tahlil dan doa selamat, proses ini dilakukan sebelum sang gadis dimasukkan didalam kamar kurung yang telah disiapkan, biasanya di rumah gantung (kana tadha), namun sesuai perkembangan zaman kamar rumah gantung hampir tidak lagi ditemukan, walaupun masih ada yang melakukannya di rumah gantung. Namun rumah gantung tidak menjadi syarat mutlak, artinya sebagian masyarakat Buton boleh mengurung anak gadis mereka didalam kamar rumah batu, asalkan tempatnya tertutup dari penghilatan orang banyak. Tahlil dan doa selamat yang dilakukan itu sebagai bentuk munajat kepada Allah SWT agar memberikan keselamatan kepada gadis remaja dan kelancaran acara tradisi pisabha hingga selesai. Pembacaan tahlil dan doa selamat ini dilakukan sebanyak tiga kali, yakni ketika baru mau dikurung, dimandikan, dan dikeluarkan dari kurungan untuk diperkenalkan kepada khalayak umum. 

Bacaan tahlil yang dipanjatkan dimulai dari surat al-Fatihah sekali, al-Ikhlas tiga kali dibaca, al-Falaq dan an-Nas masing-masing sekali saja, pada setiap akhir bacaan surat ditambahkan dengan kalimat takbir Allahu Akbar. Lalu dilanjutkan dengan al-Fatihah, al-Baqarah ayat 1-5, ayat kursi dan ayat rukun iman dan beberapa zikir lainnya seperti tahlil yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.


Setelah bacaan tahlil dan doa selamat selesai dilakukan, sando yang dibantu oleh kawan-kawannya mulai memakaikan lulur kepada gadis remaja itu, mulai pula diarahkahan untuk bersabar, karena selama didalam kurungan mereka tidak diperkeankan mandi, makanan mereka dikurangi, bahkan mereka akan berpuasa, mereka juga akan diperintahkan untuk berzikir, selain itu akan diberikan wejangan atau nasehat keagamaan. Mereka akan diberikan pendidikan layaknya orang yang sedang melakukan pelatihan atau diklat selama hari yang telah ditentukan. Kurikulum pertama yang harus diterima adalah ajaran tentang taharah didalamnya meliputi istinja, wudhu, dan mandi, kedua pembinaan tauhid, dan ketiga pembinaan karakter. Adapun lulur yang dipakaikan kepada mereka berupa beras yang dicampur dengan kunyit.


Sumber Foto: Fb Caca Kutub

Sesuai kesepakatan sando, tokoh agama, dan tokoh adat, jika pisabha dilakukan selama delapan hari, maka pada hari ke empat mulai dilakukan pembalikan arah tidur. Pada empat hari pertama mereka menghadap ke kiri, maka empat hari setelahnya mereka harus memulai tidurnya dari arah kanan. Pembalikan arah tidur ini bertujuan untuk mendidik kesabaran dan konsistensi mereka dalam menjalani kebaikan, termasuk mengikuti proses pelaksanaan pisabha sampai selesa.

Setiap pagi setelah bangun tidur dan sore menjelang magrib, mereka mencuci muka dengan ee pireku yang langsung diberikan oleh sando. Air itu sebelumnya telah dibacakan doa selamat oleh salah satu kasisi (tokoh agama), misalnya bapak Imam, bapak Khatib, atau bapak Modim. Ee pireku ini diberikan setiap pagi dan sore selama jumlah hari pada proses pelaksanaan pisabha. Tentu, sando diberikan upah sebagai bentuk penghargaan baginya, karena telah bersedia mengurus dan melakukan pengarahan selama proses pisabha berlangsung.


Setelah dipastikan selama tujuh hari full si gadis sudah bersih dari haidnya, mulailah disampaikan kepada keluarga untuk mengundang para kasisi membacakan doa selamat pertanda bahwa proses mandi akan dilakukan, pembacaan doa itu dilakukan sore hari pada hari ke tujuh, dan malam ke delapan akan dimandikan. Sebab, esok harinya, tepat pada hari ke delapan masuk pada acara puncak.


Sebelum para gadis melakukan mandi bersih, terlebih dahulu mereka berwhudu sesuai yang telah diajarkan oleh sando. Kata sando Mimi Aco Hart bahwa sebelum mandi bersih dilakukan hendaknya dan dianjurkan bagi para gadis berwudhu.[1] Lalu para gadis pisabha membaca niat mandi bersih masing-masing. Namun, setelah wudhu, terlebih dahulu mereka dimandikan dengan air khusus yang sudah dipersiapkan oleh sando yang telah dimantrai dengan doa mandi bersih. Barulah kemudian para gadis pisabha itu melakukan sendiri mandi bersih sesuai ketentuan yang telah diajarkan. Setelah mandi bersih, mereka mulai dikeluarkan dari kamar ke ruang tamu, sambil diiringi sando, namun para gadis pisabha ini masih dalam kondisi tertutup, belum bisa dilihat, dengan disaksikan oleh kasisi/parabhela, tokoh adat dan keluarga. Mereka mulai dilatih ikrar syahadat yang dipimpin oleh salah seorang kasisi. Ikrar latihan ini, dilakukan guna melatih mereka agar tidak keliru dan gugup dalam membaca kalimat itu ketika ditampilkan di acara puncak esok harinya nanti.

Keesokan harinya, tepat pada hari ke delapan, di puncak acara itu, para gadis remaja mulai melakukan mandi dengan sebersih-bersihnya, tentu masih dalam pengarahan sando. Setelah mandi pagi, semua gadis pisabha diarahkan kekamar kurung mereka semula, untuk dilakukan ritual pibhindu yaitu; pendandanan, pengguntingan, pencukuran, pemakaian baju adat, pemakaian wangi-wangian dan lain-lain.


Pada baruga (tenda) telah disiapkan peti atau bantal yang ditutup dengan kain putih, parabhela/kasisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda telah mengambil posisi mereka masing-masing didalam baruga, para penontonpun juga sudah berserakan disamping, didepan, dan di belakang baruga. Para kasisi tepat di depan peti yang akan diduduki gadis-gadis pisabha. Mereka telah menyiapkan seluruh hal yang akan dilakukan saat proses pensyahadatan berlangsung.


Akhirnya, beberapa menit setelah proses pibhindu, para gadis pisabhapun dikeluarkan, mereka berjalan beriringan tepat di belakang sando, kemudian sando mengarahkan mereka duduk di atas peti, sando lalu berdiri dan duduk kembali dibelakang para gadis pisabha sambil memegang kepala-kepala mereka dengan kondisi mulut berkomat kamit. Mungkin membacakan doa agar para gadis pisabha tidak gugup. Merekapun langsung dituntun oleh kasisi mengucapkan beberapa kalimat nasehat yang harus mereka lakukan sebagai gadis yang telah dewasa saat menjalani kehidupan. Kalimat nasehat itu adalah berbakti kepada Allah SWT, berbuat baik kepada kedua orang tua, menghargai sesama manusia, menyayangi makhluk lainnya, dan menjaga diri dari segala kemaksiatan.


Setelah mentalkinkan nasehat, merekapun dituntun mengucapkan istighfar tiga kali, lalu membaca kalmat pengakuan iman yang tertera dalam hadits iman, Islam, dan ihsan dan salah satu ayat dari surat al-baqarah, pada ayat ke 285. Adapun hadits yang berkaitan dengan pengakuan iman tersebut adalah sebagai:

أَنْتُؤْمِنُ بِاللهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الأخِرِ وَتُؤْمِنُ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ . رواه مسلم[2]

 

Artinya: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Para Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada taqdir, baiknya taqdir dan buruknya taqdir. (Hr. Muslim).

z`tB#uä ãAqß§9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u šøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ  

Terjemahnya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q.S. al-Baqarah/2:125).[3]

Potongan ayat inilah yang ditalkinkan dan dibaca gadis pisabha sebelum proses pensyahadatan berlansung. Pada proses pensyahadatan itu, gadis remaja harus mengangkat jari telunjuknya, bahkan ada yang lansung menunjuk mulutnya sendiri. Menunjukkan bahwa pengakuan Iman harus benar-benar direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, jika Allah menyuruh mengaji, shalat, puasa, zakat, kebaikan, taat orang tua, sayangi sesama, itu harus dilakukan hingga ia meninggalkan dunia. Apalagi arti syadat sendiri adalah tasdiqu bil qalbi (diyakini dengan hati), waiqraru bil lisan (diucapkan dengan lisan), dan wa’amalun bil arkan (diamalkan dengan perbuatan). Artinya, syahadat sekedar diucapkan, tetapi harus diyakini dan dimalkan seluruhnya, yakni pengamalan taqwa.

Setelah proses syahadat, dilanjutkan dengan pembacaan doa, pertanda bahwa acara pensyahadatan selesai. Kemudian, para gadis itu diarakkan keluar oleh sando, lalu diikuti seseorang kasisi yang sudah ditunjuk untuk menyentuhkan tanah dan menyiramkan air laut kepada gadis pisabha tersebut. Setelah penyiraman itu, para gadis pisabha lalu dibawa ke lapangan untuk melakukan tarian pangibi (tarian adat), sebagai bentuk hiburan, masyarakat diperkenaan untuk menari disamping gadis-gadis pisabha dengan syarat harus menaruh uang saweran ke baskom yang telah disiapkan. Para undangan yang ada didalam baruga lantas menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Setelah pangibi usai, maka berakhirlah acara pisabha.


[1] Mimi Aco Hart, (53 Tahun), sando/guru pisabha, wawancara, Ahamolu Hatawano, Pesisir Huamual, 24 Oktober 2017.

[2] Al-Imam Abi Husein Muslim Ibnu al-Hajjaj al-Qusairy al-Naisabury, Sohih Muslim, juz I. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992 M/1413 H), h. 1-3.

[3] Kementrian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sgma Eksagrafika, 2009), h. 49.