Friday, 22 January 2021

IMPLEMENTASI BHINEKA TUNGGAL IKA DALAM BINGKAI QUR’AN-HADITS DAN MULTIKULTURAL : KHUTBAH JUM'AT

 

Oleh: Anin Lihi



Jamaah Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt

Memang tak bisa dipungkiri bahwa perpecahan telah terjadi sejak awal manusia diciptakan. Tapi, apakah ini yang diinginkan Tuhan dan fitrah keimanan manusia. Tentu bukan kalau kita baca Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an kita temukan bahwa yang diinginkan Allah swt dan fitrah keimanan manusia sebenarnya adalah persatuan, kasih sayang dan cinta. Ketiga konsepsi ini hanya bisa diwujudkan melalui jalan ibadah yang benar. Dengan ibadah yang benar kita dapat memetik akhlak. Dengan akhlak persatuan dapat ditumbuhkan. Semua ini taqwa telah membalutnya. Maka karena taqwa kita dimuliakan dan memuliakan.

“Nabi Saw., bersabda: “Dari Muhammad bin Habib bin Kharrays al-Asriy dari ayahnya, sesungguhnya dia telah mendengar Nabi Saw., bersabda: Orang-orang muslim bersaudara, tidak ada kemuliaan bagi seseorang atas yang lain kecuali taqwa”. (HR. Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jilid 4, h. 25)  Bukanlah hal-hal lain, tapi taqwa.  Karena itulah al-Qur’an hadir sebagai pengatur, penerang jalan supaya terwujud manusia yang baik dan benar, bertaqwa dan berakhlak dan menjiwai persaudaraan.

Ketika A’isyah ditanyai tentang perihal akhlak Rasulullah, dengan singkat A’isyah menjawab, “akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Nah, sekarang bagaimana caranya agar manusia mencapainya, Allah swt telah memberikan mesin penimbang yang kita sebut sebagai “akal”. Fungsi alat ini mengkalkulasi, menyaring tiap-tiap konsep, memilih dan memilah mana yang seharusnya dipelajari dan diamalkan. Tentu jika alat ini sudah digunakan dengan benar maka aksiologinya bisa terwujud pada manusia dan masyarakat yakni keselamatan dunia dan akhirat bersama dan kenikmatan dunia dan akhirat bersama. Akan ada pemahaman bahwa surga bukan milik person, bukan pula milik kelompok dan golongan tertentu. Tapi, milik semua masyarakat beriman dan bertaqwa. Begitupula kesejahteraan dan kedamaian di negara dan bangsa kita indonesia juga milik kita bersama.

Tuhan tidak menginginkan perpecahan, perkelahian, permusuhan. Olehnya itu, terjadinya perpecahan sebenarnya berasal dari kita sendiri, dari ego, dari hawa nafsu, dari kecenderungan mengikuti penyakit-penyakit hati, (sombong, angkuh, dengki, hasad, riya’, fitnah dan lain sebagainya). sifat-sifat jelek inilah yang menjadi jurang pemisah kebersamaan dan pemecah persatuan. Maka inilah penting yang harus diawasi dengan maksimal.

Jamaah shalat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Tidak kurang bimbingan Nabi Muhammad saw., kepada kita, bahkan sampai pada taraf pemberian informsi ancaman. Sombong dan angkuh jangan, sebab ia menjauhkan engkau dari kenikmatan pribadimu dan kelompok masyarakat baik dunia maupun akhirat.  Dengki dan hasad jangan, sebab keduanya merusak dirimu dan orang lain, bahkan seluruh amal kebaikanmu hilang bagai kayu dan daun yang dilahap kayu bakar menjadi debu akhirnya habis diterbangkan angin dan karena keduanya pula engkau sakit dan menyakiti orang lain, sebab hasad dan dengki membuat perasaan dan jiwa mudah amarah. Janganlah fitnah sebab sama saja engkau telah membunuh saudaramu, bahkan bangkainya telah engkau lahap mentah-mentah hingga karenanya engkau akan saling merusakkan dan akhirnya bermusuhan dan berbunuh-bunuhan dengan sesamamu. Janganlah engkau mengkonsumsi yang haram, sebab itu menjadi jalan permusuhan, menjauhkan engkau dari Allah, malas untuk beribadah dan jasadmu didalamnya akan membusuk. Jadi janganlah hawa nafsu menjadi perahu yang ditumpangi.

Nabi kita Muhammad Saw., tentu kita pahami apa yang dikatakannya adalah pengajaran Tuhan dan  bukan hawa nafsunya. Karenanya apa yang tidak diingini Tuhan beliaupun tak menginginkannya. Jadi, jika Tuhan menginginkan persatuan, maka Nabi Muhammad demikian pula, karenanya Muhammad Saw., mengajarkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Nabi bersabda:

 “Perumpaan orang-orang Mukmin dalam persahabatan, kasih sayang, dan perhatiannya bagaikan satu jasad, jika salah satu terasa sakit, maka semua anggota tubuhnya terasa sakit dengan gelisah (tidak bisa tidur) dan demam.” (HR. Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 2, Hal. 238).

Begitu besarnya persaudaraan dan persatuan. Saudara yang tersakiti menjadi beban pikiran, sakitnya menjadi sakit kita, demamnya menjadi demam kita, dan susahnya menjadi susah kita. Pantaslah Nabi Saw begitu tegas mengajarkan cinta sesama, “layu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi” Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai kalian mencintai saudara kalian melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri” (Hr. Bukhari dan Muslim). Maka menjadi pincang iman kita lantaran memutuskan persatuan.  

Senada dengan sabda Nabi Saw., IAIN Ambon dalam Visi Misinya pada poin ke empat menghendaki seluruh masyarakat kampus supaya menghasilkan karya-karya pengabdian masyarakat yang berbasis multikultural, bertolak dari visi itu tentu tujuannya untuk mewujudkan Nilai saling menghormati, nilai saling menghargai, nilai toleransi, nilai persatuan, nilai kerjasama dan nilai solidaritas antara etnis. Maka fanatisme keduniaan harus dibuang sejauh-jauhnya. Fanatisme Suku, etnis, kedaerahan harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika kita ingin al-Qur’an, hadits dan Bhineka Tunggal Ika dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah Swt

Indonesia bukanlah bangsa yang menyendiri, sebagaimana yang dikobarkan oleh eropa bahwa katanya “tidak ada yang setinggi jerman, katanya bangsanya minolya berambut jagung dan bermata biru. Bangsa Aria yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain tak ada harganya. Jangan berpaham seperti ini.  Yang namanya bangsa indonesia dan kaum muslimin semua telah mufakat semua buat semua, bukan buat satu orang, bukan juga untuk satu golongan, bukan untuk si kaya atau si miskin. Tapi memiliki kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Itulah sebagian ungkapan sang pejuang (Bungkarno).

Soekarno, tak ingin ada klaim, saya suku yang hebat, kota dan kabupaten yang besar, kampung yang luar biasa dan dusun yang tinggi melebihi apapun di dunia ini. Menjadi hebat ia boleh, tapi sifat angkuh dan sombong harus dibuang jauh-jauh, karena sifat itu adalah akar dari segala kerusakan. Tuhanpun tak menyukainya.

Jamaah sholat jum’at yang di muliakan Allah Swt

Jadi yang kita ingin didalam negara dan bangsa kita, dalam kabupaten dan kota kita, dalam desa dan dusun kita dan dalam suku dan keluarga kita adalah penerapan undang-undang nomor 43 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 24 tahun 2009. Yakni bangsa indonesia harus menyadari bahwa keragaman, baik suku bangsa, agama, ras, antar golongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor potensi atau modal terbentuknya persatuan. Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan indonesia yang semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah semangat kedaerahan hanya akan memecah belah persatuan sehingga mudah diperdayakan. Bangsa Indonesia harus menyadari sepenuhnya  bahwa Bhineka Tunggal Ika salah satu pilar demi kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Konesp seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.

$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz ÇÊÌÈ  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

Dengan memakai nida Allah swt memanggil, menyeru dan menyampaikan kepada seluruh manusia bukan kepada satu kelompok, golongan, bangsa dan suku. Secara fitrah kalau kita pahami ayat ini memang penciptaan manusia menurut takdirnya diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bengsa. Namun, perbedaan suku bangsa bukanlah sebab perkelahian dan permusuhan. Akan tetapi, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain. Karena itu, seharusnya kita bisa saling mencintai dan menyangi. Merasakan bahwa kita lahir dari rahim yang sama yakni Ibu, setiap ibu pasti merasakan sakit yang sama. Kita yakin bahwa kita diciptakan dari unsur dasar yang sama yaitu tanah. Olehnya itu janganlah tanah yang kita pijak dan Tuhan yang menciptakan kita menjadi murka kepada manusia.

Dalam bangsa, kita harus saling menghargai, Islam, Kristen, Hindu dan Budha, jika dalam perkara-perkara sosial mestinya kita bergotong royong. Kita juga tak boleh merusak agama seseorang dan seluruh atribut simbol keagamaannya. Sebab, kalau itu terjadi, justru kita malah menjauhkan mereka dari hidayah Allah swt. Jadi, terapkan lakum diinukum waliyadin pada mereka yang berbeda agama dengan kita. Biarkan mereka merayakan hari-hari besarnya, tapi jangan kita ikut-ikutan merayakannya, janganpula kita merusak dan membuat kekacauan pada mereka. Hidupkan sikap berakhlak, niscaya dengan akhlak orang akan berbondong menuju Allah Swt. Terapkan nilai taqwa qur’ani, agar semua tau bahwa hakikat Islam sebenarnya seperti itu.

Adapun Muslim, dalam Agama kita adalah seaqidah, seiman dan seislam. Kita boleh berbeda suku, tempat lahir, marga dan keluarga. Namun, dalam aqidah kita harus bersatu. Nah ini yang harus di jiwai. Jangan karena sesuap  nasi, segelas teh, sederet pangkat atau jabatan dan secuil harta lantas rela mengorbankan saudara seaqidah, seiman dan seislam seagama kita. Apalagi seaqidah dalam satu bangsa, tentu kasih sayang dan cinta mestinya lebih kita tumbuhkan. Kalau yang lain lapar, maka yang lain ikut lapar, dan jika kenyang yang lainpun merasakan hal yang sama. Kita saudara seaqidah, seagama, sekeyakinan, seiman dan seislam yang menyembah Tuhan yang Maha Esa.

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ  

Artinya: Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

 Maka rahmat Allah terletak pada persatuan, rahmat Allah terletak pada saling sayang dan saling cinta. Tanamkan budaya malu melakukan kerusakan kepada sesama, sebab kita nantinya ditertawakan. Takutlah menjadi pemecah belah, dan tumbuhkan jiwa Bhineka Tunggal Ika.

Friday, 19 January 2018

Disetiap Ketegangan DIA Terngiang

Tegang merupakan sifat yang mewakili perasaan takut akan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, misalnya ketika seorang nelayan atau pelayar menghadapi derasnya gelombang laut (ombak besar), atau ketika berada di dalam pesawat lalu pesawat seakan mau jatuh dan ketika berhadapan dengan preman yang memegang sebuah pisau  atau parang yang ingin menikam kita.

Dalam tulisan ini akan diulas pembahasan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan berdasarkan kisah perjalanan saya pada hari kamis tanggal 18 Januari 2018 kemarin. Namun penjelasannya ringan.

Pagi itu, saya hanya menyikat gigi dan membasuh wajah, sebab kurasakan badanku menggigil, maklum sudah hampir seminggu saya terkena seperti sariawan yang menggerogoti seluruh tenggorokanku, disertai  flu, sedikit batuk dan demam. Inilah mungkin yang di namakan penyakit komplikasi atau komplikasi kesehatan. Susah tidur tentu saya dapatkan, beberapa malam ini, hidung saya tersumbati oleh bekas-bekas ingus flu. Walau demikian, tetap dan harus saya berangkat ke Makaassar  untuk menyelesaikan studiku, setelah empat melakukan penelitian di Pesisir Barat Huamual Pulau Seram.

Ibuku yang sangat mencintai dan menyangiku, telah mempersiapkan bekalku, yang beliau isi di dalam sebuah dos sedang sebagai oleh-olehku ke Makassar, hiitung-hitung sebagai penghalang laparku nanti, dapat pula untuk mengurangi biaya hidupku di Makassar, apalagi ambal biasanya bisa bertahan lama, dan itu memang bagian dari makanan pokok kami. Itulah sebabnya, dahulu sebelum tahun 1999 pecah perang di Maluku, ada  kabar angin mengenai dunia  akan gelap katanya, mendengar kabar itu, masyarakat di sana (Seram) ramai membuat ambal. Ambal adalah sebuah makanan kering yang terbuat dari bahan pokok  ubi yang di keringkan.  Proses pengeringannya terlebih dahulu diparut setelah dicabut dari kebun, hasil parutan itu kemudian dibungkus dengan karung lima puluh kilo yang sengaja di belah supaya agak lebar, lalu  di gepe dengan alat yang di namakan kagepe (sebuah penjepit yang terbuat dari dua  papan kayu, di atasnya diletakan pemberat seperti batu, pemberat itulah yang membuat ubi parut itu cepat kering). Sedikit dari makanan itu saya bagikan ke Bapak Dedi teman saya, katanya ia menyukainya setelah pernah kubawakan dan mencobanya tahun lalu (2017), di kediamannya Samata (Gowa) Makassar.
Ubi ini biasa pula selain sebagai ambal dibuat juga sangkola (suami/kasoami), khususnya suku Buton, tapi di Maluku telah populer di kenal.

Dengan penuh semangat ibuku kemudian menggendong dos itu dan mengantarku ke pesisir pantai Amaholu menunggu speed boat, yang biasa kami gunakan sebagai tumpangan laut, yang menjadi penghubung perjalanan masyarakat Seram Barat ke Pelabuhan Tahuku, tepat di persinggahan itu juga terminal oto Hila.
Setelah meminta pamit dan mencium tangan ibuku yang kusyangi dan selalu kurindukan itu, nampak kesedihan yang menggerogoti hatiku, seakan beberapa bulan ini belum cukup melepaskan kerinduan saya padanya. Namun, saya tak ingin melanjutkan kisah kerinduan itu, sebab mataku tidak sanggup menahan air mata kerinduan yang selalu bercucuran. Kesedihanku disi lain bukan hanya karena kerinduan itu, akan tetapi, juga disebabkan oleh sedikitpun kebaktianku padanya belum banyak tercurahkan selama ini. Bagiku ibu adalah sosok tanda akan kebesaran Allah, sebab disisinya nampak surga, kasih sayangnya bagaikan kasih dan sayang Tuhan terhadap setiap makhluk-Nya.
Dengan itu di balik ketegangan akan kerinduan ada kebesaran Tuhan yang nampak di dalam raut wajah ibu tercinta. Itulah sebabnya, tak pantas ibu dibentak, tak pantas ibu diberikan kata kasar, dan tak pantas ibu dicela.

Karena spit itu sudah tiba, sayapun naik, sembari dalam hati, berdoa agar kami diberikan keselamatan selama dalam perjalan melewati Samudra Huamual, terutama ketika menghadapi laut semenanjung Tanjug Wayasel dan Tanjung Sial, berharap agar kesialan tidak berpihak pada kami hari ini. Bagaimana tidak, sementara gelombang laut begitu melampiaskan kemarahan, seakan binatang liar yang baru terlepas dari ikatannya.

Ditengah perjalanan, setelah meninggalkan tempat berlabuhnya spit yang memuat diriku sebelumnya, gelombang laut yang marah itu, menghantam speed kami, bunyi jendela kaca seakan ingin retak dan terhempas jauh dari gengamannya, speed  boat berbunyi kruk, krak, Semua orang di dalamnya pada tegang,  wajah mereka sedikit pucat seakan darah mereka terkumpul di jantung dan tak beroperasi. sayapun berdiri dari tempat duduk, menghampiri pintu belakang lalu duduk di samping ABK speed boat itu. 

Dalam ketegangan dan hantaman gelombang itu, kalimat-kalimat Tuhanpun mulai terbetik dalam hati, kesaksian akan Tuhan dan utusan-Nyapun terucapkan yakni syahadat begitupula shalawat. Berharap dengan kalimat-kalimat itu, Tuhan dapat memberikan kekuatan kepada kami dan perahu yang sedang kami tumpangi dari hantaman gelombang ngamuk itu, setidaknya, dengan doa itu Tuhan dapat mengurangi ngamukannya.

Di akui, di tengah ketegangan akan ngamukan gelombang, ada tanda-tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa disangkal oleh setiap manusia, bahasa istighfar, Allahu Akbar dan kalimat-kalimat lainnya, seakan muncul dengan sendirinya tanpa dipikirkan sebelumnya. 

Dengan kalimat-kalimat itu, alhamdulillah Dia memberikan kemudahan dan akhirnya di atas derasnya arus gelombang itu sampai pula kami di tempat tujuan (Pelabuhan Tahuku). Kamipun bisa turun dari speed itu dengan selamat dan mengemaskan barang-barang kami.

Setelah saya menyetor pembayaran speed itu, tidak lama menunggu sayapun menaiki bus yang telah menunggu kami sedari tadi, kanek bus berteriak-teriak memanggil penumpang agar seluruh kursi-kursi bus itu dipenuhi dan kami bisa cepat-cepat berangkat dan mobil lain bisa mengambil bagian, saya sengaja lebih memilih duduk di depan untuk menghindari sakit kepala dan mabuk (waspada), setelah penumpang memenuhi kursi-kursi bus itu berangkatlah kami meninggalkan terminal, melewati Mamua, Hitu dan Telaga Kodok serta Waiheru, tidak lama kemudian  sampailah kami di atas jembatan merah putih mendekati kota Ambon, sejak tadi memang saya memperhatikan kondisi alam sekitar, bagaimana membayangkan terjadinya banjir di Mamua dulu, karena ngamukan sungai di kampung itu sehingga menyebabkan rumah-rumah warga terendam bahkan hancur dihantam derasnya air sungai, bagaimana jika kita berada di tempat itu, sementar air sedang ngamuk seperti itu, tentu tegang pula kita menyaksikannya. Maka di balik peristiwa banjir itu, nampak kebesaran Tuhan tak bisa di sangkal pula.
Begitupula dari dalam mobil nampak keindahan alam pulau ambon yang dikelilingi laut biru membentang, pohon-pohon dan dedaunannya yang hijau yang dihiasi gedung-gedung tinggi dari jembatan itu. Nampak tanda kebesaran Tuhan yang tak bisa dibayangkan, ciptaan Tuhan yakni Laut, dan pepohonan hijau nan rindang di belakang dan di depan-depan rumah serta gedung-gedung yang dibuat manusia yang menjulang tinggi melahirkan kombinasi pemandangan yang menawan tak terelakkan. Terbayangkan bagaimana dengan gambaran surga Tuhan yang berlipat-lipat kenikmatan dari dunia mungkin lebih indah lagi dari lipatan keindahannya. Demikianlah dibalik tanda-tanda ciptaan itu ada kebesaran Tuhan Yang tidak dapat disangkal pula.

Tepat di jam 14 lebih 15 menit, sayapun di antar kakak saya Tamin ke bandara, sesampainya disana, iapun menemaniku sejenak sembari menunggu pesawat yang akan saya tumpangi, karena saya belum mengecek tiket, sejenak saya meminta kepadanya untuk menjaga barang-barang saya, sayapun ke loket kemudian menunjukan kode tiket yang saya beli dari Traveloka sebelumnya. pegawainya kemudian memeriksa tiketku, lepas itu, saya kembali menemui kakak Tamin lalu meminta pamit kepadanya untuk masuk ke ruang chak in serta menunggu pesawat di ruang tunggu. Lalu kakak Taminpun kembali.

Selang beberapa menit di ruang tunggu itu, pesawat yang akan kami naiki menuju Makassar itu tiba. suara pengumuman kemudian memerintahkan kami masuk ke pesawat itu melalui pintu no 4, dengan penuh kelembutan tiket kami diperiksa oleh pegawai pemeriksa tiket, lalu kami dipersilahkan masuk, peramugari-pramugari dengan penuh hormat dan kelembutan bahasanya mengarahkan kami duduk pada masing-masing kursi yang telah dipersiapkan. Meskipun kami sebenarnya sudah mengetahui tempat yang akan kami duduki, namun para peramugari itu tetap memperlihatkan kelembutan mereka untuk mengarahkan kami duduk di kursi-kursi itu. Bagi mereka itulah peraturan yang harus mereka penuhi. 
Melihat kelembutan itu, terlintas dalam benak saya bahwa itu suatu tanda kebesaran Tuhan sebagai yang maha lembut.

Tidak lama, kamipun berangkat, pesawat mulai lepas landas, meninggalkan bumi manise menuju angkasa raya. Nampak setiap raut wajah ketegangan, semua berdiam tanpa kata, seakan mereka tunduk bersimpuh untuk bermunajat, berharap agar mereka diberikan keselamatan dalam perjalanan di angakasa itu.
Ditengah ketegangan itu, tepat di pertengahan antara awan dan awan, terlintas dalam benak saya kalimat masya Allah, suatu kebesaran tidak bisa dibayangkan sebelumnya, Tuhan menciptakan langit berlapis-lapis, begitu indahnya langit yang dihiasi awan-awan berlapis-lapis pula. Langit di atas pesawat membiru, di bawah kamipun juga demikian, apakah mungkin warna biru itu dipengaruhi oleh pandangan mata atau karena jarak. Disisi lain, bagaimanakah manusia mampu membedakan batasan-batasan langit yang berlapis-lapis itu, sementara sepertinya tidak sedikitpun terlihat batas-batas langit, sebagaimana orang memberikan pembatas  kepada tempat shalat perempuan di dalam masjid.
Merupakan kebesaran Tuhan yang tiada satupun makhluk mampu membuatnya. Bagaimana mungkin di benak-benak insan nampak kesombongan, sementara dalam diri mereka selalu ada kekurangan.

Di sisi lain, bagaimana kalau pesawat itu jatuh di perjalanan, maka saat itulah kalimat-kalimat-Nya terngiang, istigfar, toiyyibah, syahadat, dan shalawat di ucapkan, bagaimana tidak awak kabing pesawat menyampaikan bahwa cuaca sedang buruk, dengan itu agar setiap penumpang selalu waspada, mendengar informasi ini ketegangan dalam setiap raut wajah penumpang semakin nampak. Namun alhamdulillah kuasa Tuhan memberikan kemudahan kepada kami hingga akhirnya kami dapat melewati cuaca buruk itu, kamipun sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Itulah kuasa Tuhan, wajahnya terngiang dikala suasana tegang. Itulah sebanya se atei apapun manusia, ketika diperhadapkan dengan ketegangan, kalimat Tuhanpun pasti terucapkan, sebagaimana fira'aun mengucapkan pengakuannya akan kebesaran di saat ia menghadapi peristiwa tegang "amantu billahi Musa wa Harun" (saya beriman kepada Tuhannya Musa dan harun), atau ucapan oh my God atau ucapan lainnya.

pesan 
Demikianlah telah di kemukakan sedikit tulisan mengenai tegang dan kaitannya dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan. Namun perlu di ingat, janganlah pada saat-saat tegang baru Allah di ingat, akan tetapi ingatlah Allah dalam setiap aktifitas yang akan dilakukan.