Tuesday, 17 August 2021

Menjauhi Minuman Keras, Judi dan Kekerasan: Untuk Sehat Jasmani Rohani, Tentram dan damai

  

Islam berasal dari kata aslama, yuslimu, islaaman, yang berarti selamat, tunduk dan patuh. Arti ini sangat berhubungan dengan aturan dan norma agama. Maka, orang yang menginginkan keselamatan diri, keluarga dan negara harus tunduk dan patuh pada  aturan, norma dan norma agama. Umat Islam, memiliki kewajiban untuk patuh pada perintah dan larangan yang telah ditetapkan oleh Allah dalam agama Islam. Perintah dan larangan Allah sangat banyak, diantaranya perintah berkasih sayang dan larangan melakukan kekerasan.

Sumber kekerasan berasal dari kejahatan dan sumber kejahatan salah satunya berasal dari minuman keras. Bahkan Rasululullah Saw menyebut minuman keras dengan "ummul khobaaits" induk dari segala kejahatan. Karena itulah, Islam begitu tegas melarang mengonsumsi minuman keras. Artinya perbuatan meminum khamar adalah HARAM.

Nabi Saw bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram. (HR. MUSLIM). 

Meminum khamar termasuk perbuatan keji, dengannya setan bermaksud menanamkan permusuhan dan kebencian. Sehingga bisa saja kekerasan itu berakhir dengan perbuatan saling membunuh satu sama lain.

Sementara Allah sangat melarang perbuatan membunuh. Dan orang yang membunuh diancam oleh Allah. Sesama muslim tidak boleh saling membunuh. Justru mereka harus saling menghormati. Sebab, nilai orang muslim begitu besar. Rasulullah Saw tegas dalam haditsnya.

Artinya: Dari al-Bara bin Azib, Sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Kehancuran dunia (nilainya) lebih ringan di sisi Allah dari pada seseorang membunuh seorang mukmin tanpa hak." (HR. Ibnu Majah).

Bayanyangkan dunia yang begini besarnya, didalamnya ada emas, permata, ada mutiara, ada apartemen, ada hotel, ada segala macam fasilitas mewah, dan masih banyak lagi fasilitas menarik lainnya. Namun, nilainya kecil, walau ia hancur dan tenggelam dari alam semesta, nilai manusia mukmin tetap masih lebih besar. Semua isi dunia itu tidak memiliki nilai apa-apa di mata Allah. Karena itu, jauhilah sumber kejahatan dan kekerasan. Jauhi minuman keras. Agar kita jauh dari sikap jahat dan kemungkinan membunuh. 

Sementara penelitian kesehatan menunjukan bahwa minuman keras berdampak merusak jaringan otak dan menimbulkan penyakit hati. (http//:eprints.ums.ac.id). Bayangkan, hati yang sehat dan otak yang cemerlang jadi rusak syaraf-syarafnya. Tentu secara kesehatan, rusak yang dimaksud rusak hati dan otak jasmani, yang sifatnya kasat mata. 

Adapun dari sisi agama minuman keras tentu lebih berbahaya lagi dampaknya. Menggelapkan hati, merusak akhlak, meracuni pikiran dan memudahkan jalan godaan setan. Rusaknya rusak rohani. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَا لْبَغْضَآءَ فِى الْخَمْرِ وَا لْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ ۚ فَهَلْ اَنْـتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

"Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat, maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 91) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com.

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipahami dari ayat ini, antara lain. 

Pertama: Setan mudah mempengaruhi peminum khamar dan judi untuk melakukan permusuhan dan menebar kebencian. Tahukah kita bahwa orang yang membenci seseorang pasti mencari berbagai cara untuk melakukan kekerasan pada orang yang dibencinya dan bahkan bisa pada tingkat membunuh. Sebab musuh tak akan pernah menginginkan kebaikan pada lawannya. Setan adalah musuh yang nyata (innahu lakum 'aduwwummubiin). Maka "fajtanibuhu" jauhi dia. 

Kedua: Minuman keras dan judi sebagai jalan untuk menghalangi jalan mudah seseorang mendekatkan diri kepada Allah. Menjadi sulitlah seseorang dekat dengan Allah. Sebab, suatu perbuatan keji dan kotor tidak diaukai dan sangat dibenci oleh Allah. Allah suci dan senang terhadap kesucian. Jadi yang kotor dan yang najis secara fitrah tidak mungkin bisa dalam satu tempat yang sama. Ini terinspirasi dari alasan bahwa "attuhuru syatrul iiman" suci adalah bagian dari iman.

Ketiga: Minuman keras dan judi sebagai jalan membuat seseorang malas untuk melaksanakan sholat. Bagaimana tidak, setan sudah memperdayakannya. Yang paling didengar bukan lagi nasehat Allah. Tapi, nasehat setan laknatullah. Na'udzùbillah. Karena itu, walaupun adzan dikumandangkan disamping telinganya, dianggapnya seruan ysng tak penting. 

Terhadap minuman keras kita harus siaga satu agar ingatan kita kepada Allah tidak terganggu. Jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya, supaya tidak timbul kebiasaan yang menjadi candu. Jika ini terjadi, sulit rasanya dihilangkan. Karena itu, sekali lagi  jangan pula mencoba-coba.

Jelas sekali bahaya minuman keras dan judi. Keduanya ditulis oleh Allah dalam ayat yang sama dan berdekatan urutannya. Keduanya, sama-sama berfungsi merusak. Kemungkinan besarnya, kalau orang sudah suka meminum minuman keras berarti suka juga dengan judi. Atau sebaliknya kalau sudah suka judi, pasti mengonsumsi minuman keras juga. 

Universitas Melbourne, Australia pernah melakukan penelitian tentang judi. Penelitian itu menyimpulkan bahwa hampir setengah dari anggota keluarga yang memiliki kebiasaan berjudi mengalami kekerasan. Sejumlah kerabat bahkan melaporkan bahwa mereka sangat prustasi dengan masalah judi. Keluarganya menjadi hancur dan anak-anaknya menanggung penderitaan berkepanjangan. 

Menjadi jelaslah bagi kita bahwa keluarga yang berjudi terancam menjadi objek kekerasan terhadap anak pada umumnya di masyarakat. Bagaimanapun kekerasan, pertengkaran, dan pertikaian tidak dibenarkan dalam Islam. Kekerasan hanya akan menyuburkan benih-benih dendam yang berkepanjangan dan tak berujung. Bahkan terkadang kekerasan bisa berujung pembunuhan. Hal ini tentu membuat kita tidak nyaman. Seorang muslim mestinya menjadi pelopor terwujudnya kedamaian di keluarga, di lingkungan tempat belajar, dan masyarakat sekitar. Pada ayat di atas, minuman keras dan judi termasuk dua perkara yang sama-sama memiliki dampak membahayakan. Masing-masing dampaknya menimbulkan kekerasan. 

Jauhi minuman keras, judi dan kekerasan. Dekati Masjid dan makmurkan, agar hati tenang tentram hingga timbul sifat kelembutan.



Remaja Masjid IAIN Ambon Sukseskan 17 Agustus 1945 dengan Dialog Rohani Kebangsaan

 

Remaja Masjid IAIN Ambon gelar dialog mengenang jasa para pahlawan, harapannya Masjid Menjadi pusat lahirnya rohani kebangsaan bagi masyarakat. Sehingga tumbuh persatuan dan ukhuwah bagi masyarakat dan bangsa serta lahirnya orang-orang jujur dan adil dalam mengelola negara. Dialog ini dihadiri Pakar Hukum Dr. Nasarudin Umar, M.H. Imam Masjid IAIN Ambon Ustadz Syafril Majapahit, M.Pd.  Ketua Takmir Masjid IAIN Ambon Dr. Syarifuddin, M.Sos dan Perwakilan BKPRMI Maluku Ustadz Anin Lihi, M.Ag. 



Syarifuddin saat membuka dialog dan dikuatkan alasannya setelah diwawancarai menyatakan bahwa dialog rohani kebangsaan dilakukan sebagai bentuk penguatan rohani kebangsaan. Mengingat Bangsa Indonesia sedang redup cahaya, karena ulama dan negara dibenturkan. Sehingga membutuhkan semacam Rohani Kebangsaan yang dimulai dari Masjid. Masjid sebagai pusat edukasi, pusat pembelajaran, pusat pencerdasan dan pusat pencerahan rohani kebangsaan. Semakin tangguh rohani kebangsaan, maka semakin tangguh persatuan dan persaudaraan kita.

Ketika Rohani Kebangsaan tidak dibenahi sulit rasanya persatuan dan persaudaraan itu terpupuk rapi dan tidak bisa tumbuh subur akibat rohani kebangsaan kita. Semakin krisis rohani kebangsaan bisa melahirkan perpecahan, pertikaian sehingga nasionalisme dan patriotisme semakin menurun. Ketika pendidikan rohani kebangsaan tidak dibiasakan dan tidak ditradisikan dengan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan Rohani Kebangsaan dari Indonesia. Ketika rohani kebangsaan tidak didik di Masjid, maka banyak orang memanfaatkan agama dibenturkan dengan negara, padahal ini tidak boleh dibenturkan, agama dan negara seperti jasmani dan rohani tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian, penguatan rohani kebangsaan adalah satu perspektif untuk menjaga dan melindungi stabilitas sosial kita, melindungi stabilitas keamanan kita dari terpaan-terpaan krisis ideologi dan krisis kebangsaan. Tema penguatan rohani kebangsaan adalah jalan menuju rohani kebangsaan yang pari purna untuk memperkokoh Indonesia yang lebih baik. Indonesia sehat, Indonesia Cerdas, Indonesia dan Indonesia tangguh. Itu yang akan kita raih dengan penguatan rohani kebangsaan. Lebih lanjut Dr. Syarifuddin.

Anin Lihi, menambahkan, tentu kita tidak menafikan perjuangan basudara dari agama Hindu, Budha, Kristen dan lainnya. Sedikitnya mereka barangkali punya konstribusi juga melawan penjajah. Namun, kalau kita amati justru yang paljng menonjol umat Islam. Bahkan, penelitian tarekat menunjukan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya sekedar menang karena bambu runcing. Melainkan ada kekuatan spiritual ketuhanan pada jiwa-jiwa pejuang, terutama para ulama. Artinya, suatu yang tak masuk logika bambu runcing mampu mengalahkan senjata-senjata. Warga Indonesia saat itu sedang dijajah, sedang dizolimi. Karenanya doa yang mereka panjatkan khususnya para ulama tak ada penghalang sedikitpun, ditambah lagi peran metafisika (sifat gaib) saat itu begitu kental, girah perjuangan yang dilakukan sebagai bentuk jihad dan semangat timbul karena Allahu Akbar, bergetar hati mereka, iman mereka menambah. Ketika nama Allah disebut timbul rasa tak gentar dan tak ada rasa takut. Artinya, perjuangan benar-benar lahir dari rohani kebangsaan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Dilihat dari konstribusi para pejuang, fakta menunjukan umat Islam begitu banyak yang menjadi pejuang. Alasan ini membuktikan bahwa umat Islam sudah mayoritas di Nusantara. Terlepas dari bali, maluku dan papua. Dan keislaman ini juga diakui oleh orang-orang kristiani Maluku, seperti buru dan daerah maluku lainnya. Ketika saya dirumah sakit Umum Kudamati, seorang yang sedang menjaga anaknya, saat kami bercerita, ia berkata nenek moyang kami dulu itu Islam, tapi karena terjadi kristenisasi. Setidaknya, mereka mengakui kalau mereka awalnya Islam, namun kembali ke Islam sudah sulit bagi mereka.  wallahu a'lam. Tutur, Anin Lihi

Anin Lihi menegaskan, Selain itu, kita bisa analisi dari pancasila dan UUD yang sering dibaca pada upacara 17 Agustus bahwa berkat Rahmat Allah. Kata Allah disini sangat memiliki konotasi dengan kata Tuhan yang Maha Esa. Yang sebelumnya rumusan pancasila mirip dengan piagam Madinah yang kita kenal dengan piagam jakarta. Artinya, jiwa kebangsaan murni diraih dari dorongan kalimat Tauhid. Jiwa rohani kebangsaan benar-benar terlihat dan kental pada wajah-wajah para pejuang. Atas dasar inipula mestinya umat Islam tidak boleh melakukan sikap main hakim sendiri membom dan membunuh secara serampangan terhadap umat lain. Sebab hukum ketata negaraan sudah berlaku. Teroris dan jenis kejahatan lain itu benar-benar bukan cerminan umat Islam dan nilai Tauhid. Begitu pula pejabat negara apapun agamanya harus menjiwai dan menanam sikap rohani kebangsaan pada dirinya. Sehingga terhindar dari korupsi, ketidak adilan, penghakiman dan lain-lain. Supaya Nilai Tauhid yang lahir dari Ketuhanan yang Maha Esa dari cerminan keimanan menimbulkan cinta dan kasih sayang. Sebagaimana negara yang dibangun oleh Rasulullah SAW, Negara Madinah, walaupun mereka hidup dalam beragam agama, yang negaranya dikelola berdasarkan hukum Islam, tetap dilindungi dan dijamin hak-hak agama lain.

Sikap ini khususnya untuk umat Islam bisa terwujud dengan baik kecuali umat Islam sudah benar-benar memakmurkan masjid, didalamnya mereka melakukan sholat, zikir dan pengkajian ilmu yang benar-benar dapat diwujudkan dari rasa ketuhanan dan nilai rohani kebangsaan. Maka remaja masjid memiliki peran fundamental, juga dukungan BKPRMI agar generasi yang baik bisa disiapkan untuk kemajuan bangsa Indonesia kedepannya.

Adapun dari sisi perpektif Qur'an, Wildan Majapahit melihat bahwa kemerdekaan Indonesia termasuk pemberian Allah SWT. Ini tidak bisa dibantah. Sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْم

Artinya: "Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal/8: Ayat 17) * Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com

Ayat ini cukup jelas menerangkan kepada kita, bahkan menariknya penanggalan dan bulan kemerdekaan Indonesia persis dan sama dengan nomor surat pada ayat ini. Benar menakjubkan karunia Allah ini. 

Sementara pakar Hukum, Nasaruddin Umar menyatakan bahwa tema "Rohani Kebangsaan" kelihatannya bertentangan dengan sikap pejabat negara. Juga klaim Rohani Kebangsaan bukan satu-satunya cara membangun jiwa pancasila, sebab ada kedaulatan-kedaulatan hukum yang sudah mengaturnya, bahkan sampai pada kedaulatan adat istiadat masyarakat. Walau demikian, memang Rohani Kebangsaan tetap diterima. Karena sikap pejabat negara terkadang tidak mengindahkan nilai-nilai agama yang diajarkan di Masjid. Terkadang nilai kejujuran dan keadilan harus bergeser sedikit bahkan sampai hilang sama sekali ketika berbenturan dengan kepentingan-kepentingan pejabat-pejabat negara. 

Berdasarkan pikiran singkat  yang dijabarkan oleh Nasaruddin Umar ini, maka jelas pada posisi tertentu nilai pancasila terpinggirkan. 

Monday, 16 August 2021

Fungsi Qalbu terhadap Pembentukan Akhlak

 


Sumber gambar: Muslimobbesion.com

Pada dasarnya perbuatan kita sehari–hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu. Perasaan senang dan perasaan tidak enak selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari, tanpa di sadari ternyata ada unsur batin yang mengaturnya. Perasaan ini kemudian di sifatkan dengan suatu kedaan jiwa yang akan melahirkan perilaku-perilaku yang baik atau buruk.

Dalam sebuah hadits Nabi saw. menyampaikan:

عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغُةً أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: 


Dari ‘Amir berkata: saya telah mendengar Nu’man bin Basyir berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. dan apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).

Segumpal daging yang ada di dalam tubuh manusialah yang menentukan baik atau buruknya kepribadian seseorang. Dimana manusia akan memperoleh kepribadian yang baik jika segumpal daging yang ada di dalam tubuhnya itu baik begitupun sebaliknya. Maka ada dua fungsi qalbu disini.

Pertama: menurut saya Qalbu dapat berfungsi memerintahkan orang untuk menciptakan sesuatu yang dapat membuat manusia sadar, mampu mendekatkan manusia kepada Allah, dan dapat membentuk kepribadian manusia atau yang disebut sebagai “al-lathiifah al-I’itiraaf dan al-Lathiifah al-Akhlaak” ( yaitu hati yang mampu membuat manusia sadar  dan hati yang dapat membentuk kepribadian manusia). 

Kedua: Qalbu dapat melahirkan sikap tawadhu’ (bersikap rendah hati), baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia pada umumnya atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada khususnya dan Tark al-Ma’ashi yaitu menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Menurut Zaki Zamani Muhammad Syukron Maksum, tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah salah satu ajaran al-Qur’an.

Menurut psikologi sufi, qalbu dapat menyimpan kecerdasan dan kearifan yang terdalam. Berdasarkan itu maka cita-cita para sufi adalah menumbuhkan hati yang lembut dan penuh kasih sayang. 

Menurut al-Ghazali fungsi hati dengan nalurinya ia dapat menerima segala hakikat pengetahuan, namun pengetahuan yang bertempat didalam hati itu terbagi kepada:

‘Aqliyah ( ke-akal-an ).

Bagian ‘aqliyah itu bisa diketahui dengan Daruriyah ( jalan mudah ) juga bisa diketahui dengan Muktasabah ( jalan yang diusahakan ). Bagian diketahui dengan mudah ini, tidak diketahui darimana datangnya, pengetahuan ini diperoleh manusia sejak kecil dan menjadi fitrah baginya. Ia tidak tau kapan ilmu itu datang dan dari mana datangnya. Sedangkan pengetahuan yang diketahui lewat muktasabah yaitu pengetahuan yang di dapatkan melalui belajar dan mencari dalil.

Syari’ah ( keagamaan ).

Pengetahuan yang diketahui dengan Taqlid dan mendengar, atas dasar itu, jika manusia mampu memiliki dan merealisasikan kesempurnaan akal melalui usaha yang dilakukan dengan latihan-latihan dan realisasi dari ajaran-ajaran agama, kesempurnaan diri sebagai makhluk termulia akan tercipta dalam dirinya. sehingga manusia akan selalu menjadi makhluk yang berkepribadian.

Saturday, 14 August 2021

ICMI Maluku Gelar Rapat Pelantikan: Harapannya Gubernur Maluku Hadir Memberi Sambutan

 

Ikatan Cendekiawan Muslim Maluku (ICMI) menggelar rapat di Elhau Cafe Gunung Malintang pada tanggal 14 Agustus 2021, pukul 16:30 WIT. 

Erick Rumluan, selaku Sekretaris Panitia Pelantikan menuturkan bahwa rapat ini merupakan kelanjutan dari rapat yang pernah dilakukan di Waiheru. Didalam rapat ini, ada dua agenda besar yang akan diperbincangkan.

Pertama: Tentang sosialisasi kepengurusan baru setelah di revisi. 

Kedua: Menindak lanjuti persiapan pelantikan dan rapat kerja ICMI Maluku periode 2019-2024.

Lebih lanjut Erick Rumluan menuturkan, untuk Agenda yang kedua, kita telah bersepakat sesuai perkembangan saran dan masukan dalam forum rapat. Hasil kesepakatan itu, pelantikan dan rapat kerja akan dilakukan pada tanggal 28 agustus 2021 di Hotel Facifik Kota Ambon. 

Sekretaris panitia sangat mengharapkan kehadiran Bapak Gubernur Maluku untuk memberi sambutan, sekaligus membuka rapat kerja wilayah ICMI periode 2019-2014. Saat diwawancarai di Cafe Elhau.

Adapun skenario pelaksanaan pelantikan telah disepakati dilakukan secara ofline dan online. Hal ini, langsung ditegaskan oleh Ketua Pengurus Wilayah ICMI Maluku Dr. Ir. Muhammat Marasabessy, M.Tech. Tentu tetap diperhatikan protokol kesehatan. 



Sementara Secara online dilakukan oleh pengurus ICMI pusat karena pertimbangan PPKM masih berlanjut. Adapun pengurus ICMI Maluku disesuaikan dan pengurus ORWIL Maluku dilakukan dengan skema ofline. Artinya, seluruh Dewan pengurus diwajibkan hadir pada pelaksanaan pelantikan tersebut.

Adapun beberapa hal yang akan dibicarakan setelah pelantikan yaitu mengenai kesiapan raker. Dan yang akan diperjuangkan pada rapat kerja nanti adalah kebijakan pusat yang sudah berpihak kepada daerah dengan tiga isu besar. 

Pertama: LIN, alhamdulillah implementasinya sudah dilakukan.

Kedua: Blok Masela

Ketiga: Ambon You Port

Tiga isu ini menjadi basis utama atau isu strategis yang akan dibahas dan akan diperdalam lagi saat rapat kerja berlangsung. Tentu, nanti disesuaikan dengan pembidangan dalam struktur ICMI itu sendiri. 

Oleh: AL



Friday, 6 August 2021

MEYAKINI KITAB-KITAB ALLAH DAN MENCINTAI AL-QUR'AN

 Meyakini kitab-kitab Allah

Mencintai Al-Qur'an

                               


Kitab Taurat                          Kitab Zabur                     Kitab Injil                        Kitab al-Qur'an

Allah menurunkan keempat kitab ini sebagai pedoman atas umatnya masing-masing. Kitab Taurat, Zabur dan Injil telah berlalu. Kepada ketiga kitab ini, Umat Islam diperintahkan untuk meyakininya ini wajib dan memuliakannya. Namun, untuk seluruh umat manusia dan paling utama Umat Islam yang wajib harus diikuti adalah kitab al-Qur'an. Kitab terakhir dan menjadi pedoman bagi umat akhir zaman. 

Beradasarkan keterangan ini maka wajib bagi umat manusia mengikuti ajaran-ajaran al-Qur'an. al-Qur'an harus dijadikan sebagai pedoman hidup, kompas kehidupan atau petunjuk arah keselamatan. apa jadinya jika manusia tidak memiliki kompas ketika berada di tengah laut atau di hutan belantara. Tentu orang tersebut akan tersesat. Sebaliknya, jika orang tersebut memiliki kompas. Maka besar harapan dia akan selamat. Begitupula perjalanan hidup kita. 

Kehadiran al-Qur'an kalau kita amati dan pelajari, sesungguhnya Allah tidak menginginkan manusia  tersesat. Karenanya Allah menurunkan al-Qur'an sebagai cahaya petunjuk. Menjelaskan tata cara mengelola bumi, tata cara menjalani hidup, tata cara mengelola harta benda, tata cara melakukan hubungan sosial, dan paling penting tata cara untuk mendekatkan diri kepada-Nya supaya bisa bertemu dengan-Nya dan kelak di akhirat menjadi hamba Allah Swt yang dikasihi.

Kehadiran al-Qur'an, memberi petunjuk menuju kebahagiaan abadi, sebab manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik dan terarahkan pada aturan yang tepat. Sehingga saling menghargai dan pada akhirnya sama-sama merasakan ketentraman. Sebaliknya, orang yang tidak mau mengikuti petunjuk al-Qur'an, maka mereka akan menjalani hidup tanpa aturan. Mereka akan berbuat seenak lidah dan nafsunya, walaupun perilaku mereka merugikan manusia lainnya tidak mereka pedulikan. 

Jelasnya, keempat kitab di atas, merupakan pedoman yang berisi panduan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Maka betapa meruginya orang yang tidak mempelajari kitab Allah SWT. Untuk zaman ini, al-Qur'an tentu yang paling utama untuk dijadikan rujukan dan yang harus diikuti ajarannya. sebab, muatan nilai yang diajarkan dalam Taurat, Zabur dan Injil sudah ada dalam al-Qur'an. 

Terkait dengan kitab, Allah berfirman, Artinya: "Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang itu dari kegelapan kepada cahaya dengan Izin-Nya dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (Qs. al-Maidah/5:16).

Sekali lagi, Kitab Taurat, Kitab Zaur, dan Injil kita hanya wajib mengimaninya dan dipelajari untuk diketahui sejarahnya. Sementara al-Qur'an yakni mengetahui sejarahnya, diyakini keberadaanya, dibaca ayatnya, dipahami dan dijadikan sebagai pedoman. 

Adapun sikap kita kepada al-Qur'an yaitu, Mencintai Al-Qur'an, Rajin melaksanakan ibadah, Rajin beramal soleh, dan menjauhi segala maksiat yang telah dilarang oleh Allah SWT.







ALLAH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW SENANG PADA ORANG YANG SUKA MEMBAGUSKAN SUARANYA KETIKA MEMBACA AL-QUR’AN



Membaca al-Qur’an dengan suara yang merdu dan keras sangat disukai oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَاأَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَاأَذِنَاللهُ لِنَبِيِّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ (متفق عليه)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak senang sebagaimana Nabi SAW juga tidak senang mendengar sesuatu suara yang merdu dan keras selain untuk membaca al-Qur’an. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Maka senang rasanya kalau diantara kita bisa membaca al-Qur’an dengan baik, dengan suara yang merdu. Kita senang karena kita telah menyenangkan hati Nabi kita, kita senang karena kita telah menyenangkan Allah SWT pencipta kita.

Seiring dengan penjelasan ini, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar ketika membaca al-Qur’an seseorang harus suka membaguskan suaranya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka orang tersebut dianggap bukan bagian dari golongan Nabi Muhammad SAW. 

وَعَنْ اَبِى لُبَابَةُ بَشِيْرِبْنِ عَبْدِ الْمُنْذِرِ رَضِيَ اللهَ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقًرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا،( رواه ابوداودبإسناد جيد )

Artinya: “Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Munzir ra. Bahwasanya Nabi SAW bersabda: ‘Barangsiapa tidak membaguskan suaranya ketika membaca al-Qur’an, maka tidak termasuk golonganku.’ (Riwayat Abu Dawud).

Dalil ini mengajarkan seseorang untuk membaca al-Qur’an dengan nada dan lagu yang bagus, dan ini harus diusahakan. Tentu nada dan lagu yang dimaksud bukan dibaca sembarangan. Melainkan harus disesuaikan dengan ketentuan kaidah-kaidah yang telah diajarkan dalam ilmu tajwid.

Suara termasuk cirikhas, karenanya bunyi suara itu berbeda-beda. Lantas apa maksud perintah untuk membaguskan suara ketika membaca al-Qur’an. Apakah dari sisi makna seperti yang kita pahami, bahwa suara yang bagus itu melengking dan mendayu-dayu seperti para penyanyi. Tentu menurut saya tidak. Saya memahami perintah untuk membaguskan suara ketika membaca al-Qur’an bermakna membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan dalam tajwid. Sebab, seiring banyaknya pengetahuan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an, maka seseorang pasti bagus dalam membaca al-Qur’an. Hal ini dipengaruhi oleh ketepatan dalam membunyikan huruf, kesesuaian sifat dan hukum bacaan mad (panjang) serta ketentuan ketukan panjang pendeknya. Keempat komponen ini sangat berpengaruh besar pada kebagusan bacaan al-Qur’an dan kemerduannya.

Sumber Foto: Nofita Rumkel

Sisilain dari solusi untuk memperindah bacaan al-Qur’an adalah membangun kebiasaan membaca al-Qur’an, fungsinya untuk membentuk kelancaran. Semakin sering membaca maka akan semakin lancar. Karenanya, lambat laun bisa terbentuk dengan sendirinya. Banyak Ustadz-Ustadz yang tidak memiliki suara yang indah seperti para Qori-Qori, tapi karena mereka mengetahui kaidah-kaidah hukum membaca al-Qur’an. Terdengar merdu suara-suara mereka. Sebutlah seperti Ustadz Adi Hidayat, dan lain-lain, dan beberapa teman saya yang hafidz qur’an juga sama. Sekali lagi suara itu cirikhas masing-masing. Merdu dan tidaknya membaca al-Qur’an bergantung pada tingkat pengetahuan kita tentang kaidah-kaidah hukum membaca al-Qur’an. Artinya bukan hanya sekedar teori, tapi paling inti praktek.






Thursday, 5 August 2021

Mad Wajib Muttashil dan Mad Jaiz Munfasil

 CABANG (M[A]D) FARI'


1. Mad Wajib Muttashil

Adapun arti mad wajib adalah bacaan yang wajib dibaca panjang. sedangkan Muttashil berarti tersambung. Artinya, mad dan hamzah tidak terpisah keduanya berada dalam satu  kosa kata. Jatuhnya hukum bacaan mad wajib muttashil ini, yakni ketika ada bacaan mad yang bertemu dengan hamzah (ء) dalam satu kata atau kalimat. Hukumnya ditahan selama enam harokat atau  ukuran panjangnya tiga alif dan bisa dibaca lima harokat atau bisa pula empat harokat. Maksudnya enam ketukan atau tiga alif. Perhatikan contoh di bawah ini. pada kata yang digaris bawahi.

وَا لسَّمَآءِ وَا لطَّا رِقِ 

خُلِقَ مِنْ مَّآءٍ دَا فِقٍ 

وَا لسَّمَآءِ ذَا تِ الرَّجْعِ 

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَا لصَّيْفِ 


2. Mad Jaidz Munfasil

Maksud mad jaidz Munfashil yaitu apabila ada mad  asli (thobi’i) yang bertemu dengan huruf hamzah dilain kalimat. Artinya, hamzah yang tidak tergabung dalam satu kata tapi pada kata yang berbeda. Bunyinya ditahan selama lima ketukan atau lima harokat atau dua setengah alif. Perhatikan contoh yang digaris bawahi.

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ 

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ 

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com