Sumber gambar: Muslimobbesion.com
Pada dasarnya perbuatan kita sehari–hari disertai oleh perasaan-perasaan tertentu. Perasaan senang dan perasaan tidak enak selalu menyertai perbuatan kita sehari-hari, tanpa di sadari ternyata ada unsur batin yang mengaturnya. Perasaan ini kemudian di sifatkan dengan suatu kedaan jiwa yang akan melahirkan perilaku-perilaku yang baik atau buruk.
Dalam sebuah hadits Nabi saw. menyampaikan:
عن عامر قال سمعت النعمان بن بشير يقول : سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : اِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغُةً أِذَاصَلحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُكُلُّهُ,وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَالْجَسَدُكُلُّهُ أَلَاوَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya:
Dari ‘Amir berkata: saya telah mendengar Nu’man bin Basyir berkata: saya telah mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal (darah) daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. dan apabila gumpalan (darah) daging itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).
Segumpal daging yang ada di dalam tubuh manusialah yang menentukan baik atau buruknya kepribadian seseorang. Dimana manusia akan memperoleh kepribadian yang baik jika segumpal daging yang ada di dalam tubuhnya itu baik begitupun sebaliknya. Maka ada dua fungsi qalbu disini.
Pertama: menurut saya Qalbu dapat berfungsi memerintahkan orang untuk menciptakan sesuatu yang dapat membuat manusia sadar, mampu mendekatkan manusia kepada Allah, dan dapat membentuk kepribadian manusia atau yang disebut sebagai “al-lathiifah al-I’itiraaf dan al-Lathiifah al-Akhlaak” ( yaitu hati yang mampu membuat manusia sadar dan hati yang dapat membentuk kepribadian manusia).
Kedua: Qalbu dapat melahirkan sikap tawadhu’ (bersikap rendah hati), baik dalam bermuamalah dengan sesama manusia pada umumnya atau berinteraksi dengan al-Qur’an pada khususnya dan Tark al-Ma’ashi yaitu menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Menurut Zaki Zamani Muhammad Syukron Maksum, tawadhu’ terhadap sesama manusia adalah salah satu ajaran al-Qur’an.
Menurut psikologi sufi, qalbu dapat menyimpan kecerdasan dan kearifan yang terdalam. Berdasarkan itu maka cita-cita para sufi adalah menumbuhkan hati yang lembut dan penuh kasih sayang.
Menurut al-Ghazali fungsi hati dengan nalurinya ia dapat menerima segala hakikat pengetahuan, namun pengetahuan yang bertempat didalam hati itu terbagi kepada:
‘Aqliyah ( ke-akal-an ).
Bagian ‘aqliyah itu bisa diketahui dengan Daruriyah ( jalan mudah ) juga bisa diketahui dengan Muktasabah ( jalan yang diusahakan ). Bagian diketahui dengan mudah ini, tidak diketahui darimana datangnya, pengetahuan ini diperoleh manusia sejak kecil dan menjadi fitrah baginya. Ia tidak tau kapan ilmu itu datang dan dari mana datangnya. Sedangkan pengetahuan yang diketahui lewat muktasabah yaitu pengetahuan yang di dapatkan melalui belajar dan mencari dalil.
Syari’ah ( keagamaan ).
Pengetahuan yang diketahui dengan Taqlid dan mendengar, atas dasar itu, jika manusia mampu memiliki dan merealisasikan kesempurnaan akal melalui usaha yang dilakukan dengan latihan-latihan dan realisasi dari ajaran-ajaran agama, kesempurnaan diri sebagai makhluk termulia akan tercipta dalam dirinya. sehingga manusia akan selalu menjadi makhluk yang berkepribadian.

0 comments: