Friday, 6 August 2021

ALLAH SWT DAN NABI MUHAMMAD SAW SENANG PADA ORANG YANG SUKA MEMBAGUSKAN SUARANYA KETIKA MEMBACA AL-QUR’AN



Membaca al-Qur’an dengan suara yang merdu dan keras sangat disukai oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Nabi SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَاأَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَاأَذِنَاللهُ لِنَبِيِّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ (متفق عليه)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak senang sebagaimana Nabi SAW juga tidak senang mendengar sesuatu suara yang merdu dan keras selain untuk membaca al-Qur’an. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Maka senang rasanya kalau diantara kita bisa membaca al-Qur’an dengan baik, dengan suara yang merdu. Kita senang karena kita telah menyenangkan hati Nabi kita, kita senang karena kita telah menyenangkan Allah SWT pencipta kita.

Seiring dengan penjelasan ini, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar ketika membaca al-Qur’an seseorang harus suka membaguskan suaranya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka orang tersebut dianggap bukan bagian dari golongan Nabi Muhammad SAW. 

وَعَنْ اَبِى لُبَابَةُ بَشِيْرِبْنِ عَبْدِ الْمُنْذِرِ رَضِيَ اللهَ عَنْهُ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقًرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا،( رواه ابوداودبإسناد جيد )

Artinya: “Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Munzir ra. Bahwasanya Nabi SAW bersabda: ‘Barangsiapa tidak membaguskan suaranya ketika membaca al-Qur’an, maka tidak termasuk golonganku.’ (Riwayat Abu Dawud).

Dalil ini mengajarkan seseorang untuk membaca al-Qur’an dengan nada dan lagu yang bagus, dan ini harus diusahakan. Tentu nada dan lagu yang dimaksud bukan dibaca sembarangan. Melainkan harus disesuaikan dengan ketentuan kaidah-kaidah yang telah diajarkan dalam ilmu tajwid.

Suara termasuk cirikhas, karenanya bunyi suara itu berbeda-beda. Lantas apa maksud perintah untuk membaguskan suara ketika membaca al-Qur’an. Apakah dari sisi makna seperti yang kita pahami, bahwa suara yang bagus itu melengking dan mendayu-dayu seperti para penyanyi. Tentu menurut saya tidak. Saya memahami perintah untuk membaguskan suara ketika membaca al-Qur’an bermakna membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah dijelaskan dalam tajwid. Sebab, seiring banyaknya pengetahuan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an, maka seseorang pasti bagus dalam membaca al-Qur’an. Hal ini dipengaruhi oleh ketepatan dalam membunyikan huruf, kesesuaian sifat dan hukum bacaan mad (panjang) serta ketentuan ketukan panjang pendeknya. Keempat komponen ini sangat berpengaruh besar pada kebagusan bacaan al-Qur’an dan kemerduannya.

Sumber Foto: Nofita Rumkel

Sisilain dari solusi untuk memperindah bacaan al-Qur’an adalah membangun kebiasaan membaca al-Qur’an, fungsinya untuk membentuk kelancaran. Semakin sering membaca maka akan semakin lancar. Karenanya, lambat laun bisa terbentuk dengan sendirinya. Banyak Ustadz-Ustadz yang tidak memiliki suara yang indah seperti para Qori-Qori, tapi karena mereka mengetahui kaidah-kaidah hukum membaca al-Qur’an. Terdengar merdu suara-suara mereka. Sebutlah seperti Ustadz Adi Hidayat, dan lain-lain, dan beberapa teman saya yang hafidz qur’an juga sama. Sekali lagi suara itu cirikhas masing-masing. Merdu dan tidaknya membaca al-Qur’an bergantung pada tingkat pengetahuan kita tentang kaidah-kaidah hukum membaca al-Qur’an. Artinya bukan hanya sekedar teori, tapi paling inti praktek.






Previous Post
Next Post

aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt

0 comments: