Eksistensi qalbu dalam diri manusia adalah sebagai wadah yang menampung, mengatur dan memerintah segala keinginan manusia. Ia juga sebagai tempat Iblis dan setan menggoda dan menyuruh manusia berbuat kejelekan. Ia juga menjadi tempat bagi Allah memberikan sesuatu untuk memlihara. Allah swt. berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّمَنْ فِيْۤ اَيْدِيْكُمْ مِّنَ الْاَ سْرٰۤى ۙ اِنْ يَّعْلَمِ اللّٰهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ خَيْرًا يُّؤْتِكُمْ خَيْرًا مِّمَّاۤ اُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah Dia ambil dari padamu, dan Dia akan mengampuni kamu”. (Q.S. al-Anfal [8]: 70).
Maka hati yang selalu condong kepada Allah senantiasa berada dalam bimbingan dan pengawasan Allah swt. Karenanya, selalu bersih dan selalu melahirkan sikap terpuji, akhlak, kepribadian, ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat.
Senada dengan penjelasan di atas, Abdurrahman Idrus Lasyarie menyebutkan bahwa keberadaan hati ialah sebagai pusat kebahagiaan seseorang, sebagai tombol pengontrol dan sebagai tempat kehidupan, sebagai tempat untuk bersyukur atau merasa syukur atas rezeki yang Allah swt. berikan dan menjadi tempat untuk merasakan kebahagiaan, santun atau kasar, mulia atau hina. Tetapi, ia juga bisa berperan sebagai tempat munculnya rakus (gelojoh; apa saja dimakan) dan segala bentuk keburukan lainnya.
Oleh karena itu, qalbu dapat menyelamatkan dan bisa pula mencelakakan. Hati yang kotor akan melahirkan perbuatan kotor, sebaliknya hati yang suci akan membimbing pada perbuatan yang baik. Nah, perlu diketahui bahwa semua yang dilakukan oleh hati akan dimintai pertanggung jawaban. Allah swt. berfirman:
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِا للَّغْوِ فِيْۤ اَيْمَا نِكُمْ وَلٰـكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
Artinya:
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud untuk bersumpah, tetapi Allah menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang disengaja untuk bersumpah oleh qalbu kamu. dan Allah Maha Penyantun ” (Q.S. al-Baqarah [2]: 225).
Sumpah yang disengaja berdasarkan niat hati, jika niat hati yang diungkapkan dari sumpah itu benar maka diri akan menjadi selamat. Sebaliknya, jika itu sumpah palsu, namun lahir dari niat hati maka akan mendapat siksalah diri.
Qalbu adalah wadah yang selalu menampung segala macam persoalan hidup, dia yang merasakan, dia yang khawatir, dia yang dikenai celaan dan dia yang mengenal. Sesungguhnya manusia siap untuk mengenal Allah swt. dengan hatinya tidak dengan salah satu anggota badannya, hatilah yang selamat dari Allah swt., dan sesungguhnya anggota badan hanyalah pengikut, pelayan dan alat yang dipekerjakan oleh hati dan pakainnya sebagaimana pemilik memakai hamba sahayannya dan sebagaimana pemimpin mempekerjakan rakyatnya.
Qalbu juga menjadi tempat yang dikuasai Allah swt. dimana Allah swt. dapat mendindingnya. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
ۚ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَ نَّهٗۤ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
Artinya:
“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (Q.S. al-Anfal [8]: 24).
Makna ayat ini menurut yang saya pahami adalqh bahwa Allah swt. menguasai qalbu manusia, agar mereka yang merasakan kegundahan dan kesulitan dapat memohon bantuan kepada-Nya untuk menghilangkan kerisauan dan kegundahan yang ada didalam qalbu yang dideritanya. Ayat di atas sepadan dengan firman Allah swt:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya:
“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” (Q.S. ar-Ra’du [13]: 28).
Berdasarkan penjelasan ini, dapat dipahami bahwa qalbu adalah wadah yang mampu menampung ketenangan. Namun, ketenangan yang didapatkan itu bersumber dari kedekatannya kepada Allah swt.
Sebaliknya, jika manusia jauh dari mengingat Allah, maka hati menjadi wadah bagi setan untuk menguasainya. Sehingga, kecenderungan perilaku yang diperbuatnya senantiasa berujung pada kerugian semata.

0 comments: