Seseorang tidak akan pernah melakukan satu kebaikan jika qalbunya tidak terdapat kebaikan sedikitpun, yang mana kebaikan itu yang mendorongnya untuk berbuat baik. Sesungguhnya kebaikan itu akan melahirkan kebaikan yang lain.
‘Urwah bin Zubair ra. Mengabarkan bahwa, jika kamu melihat kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan itu mempunyai saudara yang lain, dan jika kamu melihatnya melakukan keburukan maka ketahuilah bahwa keburukan itu masih mempunyai saudara yang lain, hal itu dikarenakan keburukan yang satu akan menunjukan kepada keburukan yang lain dan kebaikan yang satu akan menunjukan kebaikan yang lain.
Ada beberapa hal yang cenderung merusak kepribadian seseorang:
Buruk sangka
Buruk sangka merupakan energi tertentu yang tumbuh di dalam hati, sifat ini sangat tercela dan merupakan dosa. buruk sangka harus dihilangkan dari dalam hati dengan sekuat tenaga. Karena prasangka yang tidak baik membuat orang senantiasa curiga terhadap orang lain, bahkan juga terhadap Allah swt. Buruk sangka merupakan jalan Setan agar mudah menggoda dan menggelincirkan manusia, bukankah Iblis telah berjanji untuk menggoda dan menjerumuskan pada jurang kebinasaan. Hal ini sebagaimana Allah swt. berfirman:
فَاَ زَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَ خْرَجَهُمَا مِمَّا كَا نَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَـكُمْ فِى الْاَ رْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَا عٌ اِلٰى حِيْنٍ
Artinya: “lalu keduannya digelincirkan oleh Setan dari surga itu dan dikeluarkan mereka dari tempat yang sebelum keduanya berada di dalamnya”. (Q.S. al-Baqarah [2]: 36).
Adam dan Hawa dengan tipu daya Setan memakan buah pohon yang dilarang Allah swt., yang mengakibatkan keduanya keluar dari Surga, dan Allah swt. menyuruh mereka turun ke dunia.
Hasad ( Dengki )
Dengki ialah perasaan marah (benci, tidak suka) karena cemburu. Menurut KH. Abdullah Zakiy al-Kaaf; hasad dan dengki memiliki cabang yang dinamakan syuh ( kikir yang bersangatan) syuh ini lebih buruk dari sifat bakhil (Pelit). Orang yang bersifat bakhil terlalu cinta kepada harta yang dimilikinnya sehingga tidak rela hartannya jatuh ketangan orang lain. Orang yang memiliki sifat merasa tidak tenang ketika melihat orang lain diberikan karunia oleh Allah swt. Baik berupa ilmu, harta, maupun pangkat dan sebagainya. Pemikirannya ingin agar apa yang dimiliki orang lain itu hilang. hal ini sebagaimana diungkapkan Ulama Salafus Saleh bahwa, sesungguhnya permulaan dari kekeliruan ialah kedengkian. Iblis dengki kepada Nabiyullah Adam a.s. karena kedudukan yang diperolehnya, sehingga menyebabkan Iblis tidak mau menghormatinya ketika diperintah oleh Allah swt.
Orang yang mempunyai hasad (dengki) tidak akan memperoleh sesuatupun dari manusia terkecuali celaan dan hinaan, sedangkan Malaikat melaknatinya dan Allah swt. kelak pada hari kiamat tidak akan memberikan sesuatu kecuali malu dan siksa.
Sifat ini merusak dan menghilangkan amal seseorang kelak di akhirat. Ibarat kayu yang dilahap api, kemudian menjadi abu yang diterbangkan angin. Hilang dan hangus seluruh amal kebaikan. Tak bermanfaat sama sekali bagi keselamatan diri dihadapan Allah swt.
Riya’ ( Pamer )
Riya’ (Merasa bangga karena telah berbuat baik). Ibnul Qayyim menjelaskan riya’ ialah memamerkan sesuatu yang melahirkan pujian atau cinta pujian dan popularitas hal ini sangat merusak qalbu.
‘Ujub ( bangga diri atau merasa lebih utama dari pada orang lain )
‘Ujub serta sombong merupakan penyakit hati yaitu orang yang menganggap dirinya lebih atau paling tinggi, bahkan mulia, paling agung bahkan menganggap orang lain hina.
Ibnu al-Mubarak mendefinisikan ‘ujub dengan mengatakan “ujub adalah engkau merasa pada dirimu terdapat sesuatu kelebihan yang tidak dipunyai orang lain.”
Kemarahan, Hawa nafsu lingkungan, cinta dunia, dan Setan.
Kemarahan dan hawa nafsu, lingkungan, kepentingan duniawi dan Setan jika menguasai hati, maka ini akan berdampak pada rusaknya kepribadian manusia, jika hal ini dapat di tentang dan di cegah niscaya kekuatan–kekuatan jiwa menjadi lurus dan akhlaknnya menjadi baik atau kepribadiaanya menjadi unggul.
Jamaluddin Kafie menjelaskan ada empat tingkatan nafsu dalam tubuh manusia:
1. Nafsu mementingkan diri dan jahat ( nafsu amarah ).
2. Nafsu menipu diri ( nafsu musawwilah ).
3. Nafsu menyesali diri ( nafsu lawwamah )
4. Nafsu kebintangan ( nafsu sab’iyah ).
Barang siapa yang mengikuti jalan ini maka ia seperti orang yang difirmankan Allah swt:
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَ ضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً ۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya:
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran” (Al-jaasiyat [45]: 23).
Maksudnya Allah swt. membiarkan orang itu sesat, karena Allah swt. telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.
Dan jika seseorang mampu menahan hawa nafsunya maka ia adalah termasuk orang yang takut akan Allah swt. Sebagaimana Allah swt. berfirman:
وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى
يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ السَّا عَةِ اَيَّا نَ مُرْسٰٮهَا
Artinya:“Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (An-naazi’at [79]: 40-41).
Rusaknya kepribadian manusia itu dikarenakan hawa nafsu dan kemarahan menguasai hati, olehnya itu kita memohon kepada Allah swt. untuk memberikan kebagusan petunjuk dalam melatih diri sehingga terhindar dari rusaknya kepribadian kita karena nafsu syahwat amarah yang tertanam di dalam hati.
Beberapa perkara di atas menurut Abdul Hamid al-Bilali dapat dibendung jika seseorang melakukan ketaatan untuk menundukan diri dari hawa nafsu dan melakukan peribadatan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: seorang muslim membutuhkan rasa takut kepada Allah swt., bila hawa nafsu muncul dalam dirinya maka ia harus mengekang karena itu bagian dari ibadah kepada Allah swt. Ibnu Qayyim al-Jauziah menjelaskan bahwa, untuk seseorang agar selamat dari prasangka–prasangka dan keyakinan yang tidak baik maka seseorang harus menempuh jalan–jalan menuju Ma’rifatullah sehingga dia dapat menyembahnya menuju kecemerlangan. Ada dua jalur yang harus ditempuh: pertama; bersikap sesuai dengan nash – nash wahyu tentang sifat–sifat Allah swt. dan Asma-Nya. Kedua; Jalan untuk mengenal Tuhan dengan segala sifat-Nya adalah dengan membuktikan ciptaanNya.

0 comments: