Islam adalah
Agama yang menjelaskan beragam ibadah yang harus dijalankan. Ibadah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang sudah menempuh jalan yang ditunjuk oleh agama, maka orang tersebut akan selalu terarahkan pada jalan yang tepat. Adapun jalan yang maksudkan pada pembahasan kali, yakni jalan yang sering dipahami oleh ahli-ahli tarekat. Pada konteks tasawuf jalan memilki makna tarekat. Kata ini kemudian
dibahasa indonesiakan lalu dinisbatkan pada sebuah kumpulan, yang sekarang kita kenal tarekat.
Adapun maksud dari Tarekat ialah cara yang di tempuh untuk mencapai maqam agar
mencapai Ma’rifat Allah, Ma’rifat ini dapat di capai melalui dengan berbagai cara. Bisa dengan zikir, shalawat,
selalu menghatamkan al-Qur’an, shalat tepat pada waktunya dan lain sebagainya.
Banyak sekali
tarekat-tarekat yang berkembang di Negeri ini, yang dibentuk sebagai wadah
tariqah untuk mencapai kesucian hati guna menembus cakrawala ke-Tuhanan. Setiap
orang pasti menginginkan hal ina, namun sayangnya tidaklah mudah untuk dapat menembusnya
dengan keadaan biasa-biasa saja. Ia membutuhkan kesucian hati dan kejujuran,
dalam tarekat hanya itulah yang mampu membuka untuk menembus cakrawala
ke-Tuhanan tersebut.
Ajaran dasar tarekat
ialah kesucian hati dan kejujuran ini, hingga tidak heran tarekat-tarekat yang
sesuai dengan syari’at dapat menelurkan orang-orang sakti, sebagaimana Syekh
Yusuf al-Makassari, “dengan karomahnya, ia dapat membakar rokok di dalam air”
yang mencengangkan saat itu. Dan karena kesaktian inilah, orang belanda
mengatakan, seperti yang disampaikan oleh Ibu, Dr. Hj. Nurnaningsi, M.Ag. Katanya:
kemerdekaan Indonesia terletak pada kehebatan tarekat bukan pada bambu runcing
yang selama ini beritanya telah terkenal luas di kalangan masyarakat.
Ajaran-ajaran
tarekat berpusat pada zikir, dua perbedaan umum yang melekat pada konsep ajaran
zikir ini dalam tarekat, yaitu zikir Sir (dengan suara yang rendah
sekali, hampir-hampir tidak kedengaran, bahkan ada yang tidak kedengaran sama
sekali) dan zikir Jahr (dengan suara yang keras, bahkan ada yang
sampai badannya ikut tergoyang). Persamaan umum pada zikirnya terletak
dalam kalimat Tauhid lalilaha illah (tiada tuhan Selain Allah) atau
biasa disebut (kalimat tahlil) dan lafaz Allah itu sendiri.
Namun pada
perkembangannya, tarekat telah mengalami distorsi, hal ini dipengruhi oleh
pemahaman terhadap tarekat yang tidak utuh, sehingga lahirlah pendapat, “saya
biar tidak Shalat di Masjid, duduk saja
sudah shalat, atau ketika mendengar azan langsung sujud ditempat di mana dia
berada”, jika pemahaman seperti ini yang di pahami, maka pemahaman ini
adalah pemahaman yang keliru, yang semestinya perlu di luruskan, atau perlu di
utuhkan dengan perbaikan bil hikmah wajaadilhum hiya akhsan. Sebab di
anatara konsep syariat tidak dapat di pisahkan dengan hakikat, yang juga
dipengaruhi oleh Tsawuf.
Sumber gambar: jalanakhirat.wordpress.com
Adapun, Tarekat
dan tasawuf pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan. Sebab kedua ilmu ini
memilik tokoh yang sama, tokoh-tokoh tarekat itulah tokoh-tokoh tasawuf. Dengan
demikian, ajaran-ajaran yang ada dalam tarekat sedikit banyaknya memiliki
kemiripan dengan tasawuf, yaitu “tazkiatun Nafs” penyucian diri yang
memiliki hubungan dengan kesucin hati dn kejujuran atau dalam konsep Qur’an
disebut Mukhlis, dengan itulah para ahli tasawuf semacam al-Ghazali juga
memiliki banyak keahlian dan kemampuan melalui karomahnya. Padahal beliau
adalah seorang Sufi bukan seorang tarekat.
Ada satu hal
yang perlu di ketahui adalah, “dalam ajaran tasawuf maupun tarekat memiliki
prinsip dasar, yaitu kesucian dan kejujuran, namun kedua hal ini dapat di capai
dengan sempurna jika seseorang telah memposisikan dirinya pada kemampuan
memperpadukan antara Syari’at dan Hakikat. Menjawab ini, dalam buku Hakikat
tasawuf oleh Syekh Abdul Qadir Isa “ahli tasawuf mengatakan, janganlah
kita mempercayai seseorang yang mampu berjalan di atas air, terbang di atas
udara dan memiliki kelebihan lain sebelum kita mengetahui orang itu
mengamalkan sunnah” artinya, mengamalkan ajaran Rasul dan al-Qur’an secara syari’at
dan hakikatnya, sebagai pengamalan Iman, Islam, Ihsan atau tasdiqu
bil Qalbi, wa Iqraru bil-Lisan dan Wa ‘Amalun bil ar-Kan. bukan mendapatkan sedikit potongan pemhaman
lalu mengatakan duduk-duduk sudah shalat, berdoa saja sudah shalat, shalat itu
tidak perlu di Masjid atau yang lainya.
Dengan
demikian, sebagai insan yang ingin mencari kedudukan menjadi insan kamil, maka
sepatutnyalah merealisasikan perintah sebagaimana disebutkan dalam, (hadits
sahih lighairihi riwayat Ibnu Majah
No.224. “utlubul ilmi
Faridhatun ‘ala kulli Muslimin” artinya: menuntut ilmu itu wajib bagi setiap
Muslim. Setelah mengetahui hadits ini, maka tidaklah cukup bagi kita duduk
diam dan tidak berusaha bangun untuk menuntut ilmu.
Maksudnya
memperbanyak ilmu Agama yaitu Syari’at dan hakikatnya, tidak berhenti menuntut
ilmu hingga kematian yang membatasinya, dengan berusaha mengamalkan ilmu yang
telah di pelajari semaksimal mungkin.
Departing
from a basic question, of paragraph 18 letter Sajda. "So Did those who
believe such wicked people (unbelievers) ?, no-nonsense anyway this paragraph
answer! of course, "they are not the same".
In
the previous paragraph, paragraph 2 of the letter Sajda Similarly, Allah
describes the "fall of the Qur'an is no doubt, (ie) of the Lord of the
Worlds". This verse has relevancy with paragraphs 2 and 3 of the letter of
al-Baqarah is "the book of the Koran that there is no doubt a clue to those
who fear Him, to those who believe in the Unseen, perform prayers, and our
sustenance partly mengifakkan give them ".
For
people who have faith in his heart, then they will not hesitate one bit to say
and defend the truth of the Qur'an, where all events diceritkan Qur'an they
Imani. They believe that the Koran is the book of God, as the book of human
mentor, who revealed to Muhammad
that is, those who believe, capable of
conveying all the commands of the Koran, in order that the instructions of the
Koran until dtelinga all creatures to follow or believe in the Qur'an and
Pencitanya. At all for those who believe there is no sense of doubt, they are
immune from the hoax sweet words any scientific, secularism, hedonism,
pluralism Multiculturalism or isms others, for those who believe, all the isms
that only a small part of science the least well studied, but bigger than it is
to understand the Qur'an in depth. Isms were simply the product of penanding
absoluteness of God (Allah) the Worlds, or no more than an ideology which
mislead people who do not understand the histories of this ideology. The
believer will say, that there is nothing absolute in addition to the
absoluteness of God, which they believe from the guidance of the Qur'an.
While
the wicked (disbelievers) see the Qur'an as artificial prophet Muhammad and
alleged that Muhammad fetched Ngada referred to paragraph 3 of this Sajda
letter "but why unbelievers say He (Muhammad) has fabricated ngadakannya
(al- Koran) ". those people (Wicked / Kafir) that follows the steps satan,
will be looking for reasons to reinforce their opinion that the Koran was made
by Muhammad or look for other reasons that people do not believe in the Qur'an
as a guide in guiding human , to later in the meeting will enjoy the beauty of
God and entering, enjoying his surge, the brand will also be looking for a
reason that the Qur'an is a book that contains a lie.
For
unbelievers, even though God had said, as mentioned in the letter al-Baqarah
verse 23 "if you doubt the Qur'an that we sent down to Our servant
Muhammad, then make a single letter such as al-Qur'an, and Engage helpers if
you are truthful "God then add it again with the letter l-Isra verse
88" say, in fact if humans and Jin come together to make the serup with
this Qur'an, they will not be able to make a similar dengannnya , even if they
help each other ". Strengthening this paragraph again Allah mentioned
again in the letter al-Baqarah verse 24, "If you are not able to make it,
surely you will not be able to make it".
The
believer believes some of the above paragraph, as the altitude challenge the
science contained in the Qur'an, challenging anyone he will not be able to
write a paragraph that has the beauty of the writing, reading, grammar
diversity and depth of meaning. But again people (wicked / infidels), keep
their hearts for deception devil laknatullah insist that controls them, not
impervious kebenarana al-Qur'an warns them, Allah said: "the real people
orng Kfir, the same to them, Muhammad thou warn them or thou tudak pernigatan
give, they will not believe, God has locked hearts and their hearing, their
sight was closed and they will receive a severe penalty "they will always
find ways to keep the whole man of truth al- Qur'an. for today I hope people
find fault Koran obtain guidance. Because of my discussion of the difference of
the faithful at the disbelievers (obviously) does not refer to a group
keagmaan.
Conversely
To mempekuat argument, people are unbelievers will say as in the continuation
of paragraph 3 of the letter Sajda "No, the Koran is the truth (coming)
from your Lord so that you may give warning to a people who have never been in
visiting people who give a warning before thou, so they get a clue ".
Furthermore, they also were faithful even when hearing the verses of the Koran
as mentioned further paragraph, paragraph 15 letter Sajda, "those who
believe in the verses of us, only those who, when dipernigatkan him (verses we
), they fall down prostrate and praising their Lord bertsbih nd they are not
arrogant ".
By
him who believe adrift of their belief in the truth of the Qur'an from God
through the prophet Muhmmad, they are, let alone reading, studying, and living
the Qur'an with the ability to examine the Koran. heard the verse, if there are
people who deliver a warning of the Koran, they immediately hymn praising the
greatness of God who has lowered the Qur'an glorious.
That
bit of difference in those who believe and those who disbelieve in the Qur'an
letter Sajda. May be useful.
Berangkat
dari sebuah pertanyaan yang mendasar, dari ayat 18 surat sajdah. “Maka
Apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)?, tidak basa
basi lanjtan dari ayat ini menjawab! tentunya “mereka
tidak sama”.
Pada
ayat sebelumnya, ayat 2 dari surat sajdah pula, Allah menjelaskan “Turunya
al-Qur’an itu tidak ada keraguan, (yaitu) dari Tuhan seluruh Alam”. Ayat
ini memiliki relefansi dengan ayat 2 dan 3 dari surat al-Baqarah yaitu “kitab
al-Qur’an itu tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan mengifakkan
sebagian rezki yang kami berikan kepada mereka”.
Bagi
orang-orang yang dalam hatinya memiliki iman, maka mereka tidak akan ragu sedikitpun
mengatakan dan membela kebenaran al-Qur’an, dimana seluruh peristiwa yang
diceritkan al-Qur’an mereka Imani. Mereka yakin bahwa al-Qur’an adalah kitab
dari Tuhan, sebagai kitab pembimbing manusia, yang diturunkan kepada Muhammad
yaitu orang yang dipercayai, yang mampu menyampaikan seluruh perintah al-Qur’an,
dengan tujuan agar petunjuk al-Qur’an itu sampai dtelinga seluruh makhluk untuk
mengikutinya atau beriman kepada al-Qur’an dan Pencitanya. Sedikitpun bagi
orang yang beriman tidak ada rasa ragu, mereka kebal dari tipuan kata-kata
manis ilmiah apapun, Sekularisme, Hedonisme, Pluralisme Multikulturalisme atau
isme-isme yang lainya, bagi mereka yang beriman, semua isme-isme itu hanyalah
bagian kecil dari ilmu yang sedikitnya juga dipelajari, tetapi yang lebih besar
dari itu ialah memahami al-Qur’an secara mendalam. Isme-isme itu hanyalah
produk penanding kemutlakan Tuhan (Allah) semesta alam, atau tidak lebih dari
sebuah ideology yang menyesatkan manusia yang belum memahami sejarah-sejarah faham
ini. Orang yang beriman akan mengatakan, bahwa tiada kemutlakan selain
kemutlakan Allah, yang mereka yakini dari petunjuk al-Qur’an.
Sementara
orang-orang fasik (kafir) melihat al-Qur’an sebagai buatan nabi Muhammad dan
menuduh bahwa Muhammad mengada-ngada sebagaimana disebut dari ayat 3 surat
sajdah ini “tetapi mengapa orang kafir mengatakan Dia (Muhammad) telah
mengada-ngadakannya (al-Qur’an)”. mereka orang (Fasik/Kafir) yang mengikuti
langkah-langkah syetan, akan mencari alasan untuk menguatkan pendapat mereka
bahwa al-Qur’an adalah buatan Muhammad atau mencari alasan lain agar
orang-orang tidak meyakini al-Qur’an sebagai petunjuk dalam membimbing manusia,
untuk kelak nantinya menikmati keindahan dalam bertemu Allah serta memasuki,
menikmati surge-Nya, merek juga akan mencari alasan bahwa al-Qur’an adalah
kitab yang mengandung kebohongan.
Bagi
orang-orang kafir, meskipun Tuhan telah mengatakan sebagaimana disebutkan dalam
surat al-Baqarah ayat 23 “jika kamu ragu terhadap al-Qur’an yang kami
turunkan kepada hamba kami Muhammad, maka buatlah satu surat saja semacam
al-Qur’an, dan ajaklah penolong-penolongmu jika kamu orang yang benar”
Tuhan kemudian menambahkannya lagi dengan surat l-Isra ayat 88 “katakanlah,
sesungguhnya jika manusia dan Jin berkumpul untuk membuat yang serup dengan al-Qur’an ini, mereka tidak akan bisa membuat
yang serupa dengannnya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”. Memperkuat
ayat ini lagi Allah sebutkan lagi dalam surat al-Baqarah ayat 24 “jika kamu
tidak mampu membuatnya, pasti kamu tidak akan mampu membuatnya”.
Orang
yang beriman meyakini beberapa ayat di atas, sebagai tantangan ketinggian ilmu
yang terkandung dalam al-Qur’an, yang menantang siapapun dia tidak akan mampu
menuliskan satu ayat yang memiliki keindahan Tulisan, Bacaan, keragaman tata
bahasa, dan kedalaman maknanya. Namun sekali lagi orang-orang (fasik/kafir),
tetap hati mereka bersikeras karena tipuan iblis laknatullah yang menguasai
mereka, tidaklah mempan kebenarana al-Qur’an memperingati mereka, Allah berfirman:
“sesungguhnya orang-orng kfir, sama saja bagi mereka, engkau Muhammad beri
peringatan atau tudak engkau beri pernigatan, mereka tidak akan beriman, Allah
telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup
dan mereka akan mendapat azab yang keras” mereka akan selalu mencari-cari
cara untuk menjauhkan seluruh manusia dari kebenaran al-Qur’an. untuk zaman
sekarang semoga orang-orang yang
mencari-cari kesalahan al-Qur’an mendapatkan hidayah. Sebab pembahasan saya
mengenai perbedaan orang beriman sama orang kafir (jelas) tidak merujuk pada
satu kelompok keagmaan.
Sebaliknya
Untuk mempekuat argumennya, orang yang berimana akan berkata sebagaimana dalam
lanjutan ayat 3 dari surat sajdah “Tidak, al-Qur’an itu kebenaran (yang
datang) dari Tuhanmu agar kamu memberi
peringatan kepada kaum yang belum pernah di datangi orang yang memberi peringatan
sebelum engkau, agar mereka mendapat petunjuk”. bahkan Selanjutnya merekapun
yang beriman ketika mendengar ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana disebutkan ayat
lanjutan, ayat 15 surat sajdah, “orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami,
hanyalah orang-orang yang apabila dipernigatkan dengannya (ayat-ayat kami),
mereka menyungkur sujud serta bertsbih memuji Tuhannya dn mereka tidak
menyombongkan diri”.
Olehnya
orang yang beriman terpaut keyakinan mereka terhadap kebenaran al-Qur’an dari
Tuhan melalui nabi Muhmmad, mereka itu, jangankan membaca, mendalami, dan
menghayati al-Qur’an dengan kemampuannya meneliti al-Qur’an. mendengarnya
ayatnya saja, jika ada orang yang menyampaikan peringatan al-Qur’an, mereka langsung
bertasbih memuji kebesaran Allah yang telah menurunkan al-Qur’an yang mulia
itu.
Itulah
sekelumit perbedaan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir dalam
al-Qur’an surat Sajdah. Semoga bermanfaat.
Menurut prof. Rev. David Benjamin Keldani, B.D. (Abdul Ahad Dawud)Seorang mantan pendeta katolik roma sekte uniate chaldean (1895), mengatakan "kembalinya saya ke islam tak lain karena hidayah Allah yg Maha Kuasa. Tanpa bimbingannya, semua pengetahuan, penelitian, dan usaha-usaha lain untuk menemukan kebenaran ini mungkin akan membawa kepada kesesatan. Begitu saya mengakui ke Esaan mutlak Tuhan, maka nabi Muhammad Saw pun menjadi contoh pola sikap dan perilaku saya".
Buku di bawah inilah penelitian seorang mantan pendeta, setelah dia meneliti bible, diapun berkesimpulan bahwa Islam lah agama yg harus di anut seluruh umat manusia. kebenaran ajaran Islam yg di turunkan Allah kepada Muhammad seperti yang telah di paparkan dalam buku ini, menguak tentang kebenaran nabi Muhammad dalam kitab injil. Nabi Muhammad telah di akui dan dinubuatkan dengan doa yesus/nabi isa as dalm kitab injil "aku akan meminta kepada bapa,dan ia akan memberikan kepadamu seorng penolong, supaya dia menyertai kamu selama-lamanya". Ini adalah argument yg tak terbantahkan dari peneliatiannya yg menguak misteri Muhammad dalam kitab Injil ( mantan pendeta yaitu Abdul Ahad Dawud "Prof. Rev. Benjamin Keldani, B.D.").
Pada awal abad
ke 18 muncul dua tokoh Islam yang mempunyai pengaruh cukup besar di dunia
Islam, yaitu Muhammad bin ‘Abdul al-Wahhab di Saudi Arabia dan Syakh Waliyullah
al-Dahlawi”di India,[1]
kedua tokoh ini mepunyai tujuan yang sama, yaitu berkeinginan untuk memperbaiki
keadaan umat Islam yang menurut mereka telah mengalami kemunduran akibat
penyimpangan terhadap ajaran agama.[2]
Walaupun kedua
tokoh tersebut mempunyai tujuan yang sama, tetapi keduanya memiliki perbedaan
pada corak pemikiran yang dibawanya. ‘Abdul al-Wahhab kemudian melahirkan
gerakan Wahhabiyah yang lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada keadaan
sosial keagamaan. Sedangkan gerakan Syakh Waliyulllah al-Dahlawi selain bersifat
sosial keagamaan juga menyangkut sosial politik dan ekonomi umat. Lebih dari
itu, jika Abdul al-Wahhab menyerang sufisme tanpa ampun, maka Syakh Waliyullah masih
mengakomodasinya dalam banyak hal, gagasan pembaruan yang dilancarkan Syakh
Waliyullah diilhami oleh kondisi sosial-politik dan keagamaan umat Islam pada
masanya.
Pada tahun 1732
Syakh Walliyullah al-Dahlawi kembali ke delhi dan berupaya menyebarkan ilmunya
di tengah-tengah masyarakat dengan meneruskan pekerjaan lamanya sebagai guru.
Ketika melihat perkembangan pesat sekolah yang dipimpinya, maka Sultan Muhammad
Syakh memberikan sebuah sekolah besar yang kemudian terkenal dengan nama Dar
al-‘Ulum. Dari sekolah inilah banyak menghasilkan ulama dan ilmuan besar dari
berbagai bidang ilmu. Disamping itu Syakh Waliyullah al-Dahlawi sangat hobi
menulis dan mengarang buku, sudah lebih dari seratus judul buku yang berbahasa
Arab dan Persia berhasil ia tulis, darsi seluruh jumlah tersebut, duapuluh
diantaranya masih bisa dijumpai di dunia Islam sekarang ini.[3]
Dari latar
belakang di atas maka dapatlah dirumuskan beberapa permasalahan yang akan
menjadi kajian khusus dalam makalah ini. Sebagaimana tercantum pada bagian B.
Dalam
pembahasan makalah ini secara umum bertujuan untuk mengetahuai seluk-seluk
beluk kehidupan Syakh Waliyullah al-Dahlawi dan memenuhi tugas mata kuliah
Pemikiran Kalam Pasca al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Namun secara khusus makalah
ini bertujuan:
1.Agar pemakalah dan teman-teman mahasiswa
Mengetahui bagaimana Biografi Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
2.Ingin menyebutkan buku-buku Syakh Waliyullah
al-Dahlawi sesuai dengan pengetahuan pemakalah.
3.Menjelaskan dan mengkaji bagaimana corak
Pemikiran Kalam Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
BAB II
PEMBAHASAN
1.Biografi
Singkat Syakh Waliyullah al-Dahlawi.
a.Riwayat Hidup
Al-Dahlawi memiliki nama lengkap
Qutubuddin Ahmad bin Abdurrahim bin Walihuddin al-Umriy al-Dahlawi. Ayahnya
merupakan seorang ulama terkemuka di dheliy yang menguasai ilmu Dzahir dan Bathin
serta memiliki derajat yang tinggi dalam thariqah sufi. Gelar Waliyullah yang
ia peroleh karena kedalaman ilmu Agamanya.[4]
Adapun yang memberikan Gelar Waliyullah kepada beliau ialah
Al-Dahlawi
lahir dari keluarga Ulama dan Shufi pada hari rabu tanggal 14 Syawal tahun 1114
H atau 1703 M. al-Dahlawi, tidak hanya dikenalsebagai Ulama ahli Hukum, Mufasir, dan juga Muhadis, tetapi dia
juga dikenal sebagai seorang
sufi, dan juga Mujaddid. Oleh
karena itu “Syakh Waliyullah al-Dahlawi termasuk salah seorang tokoh besar tarikat Naksabandiah di India, terutama
Naqsabandiah Mudzahairiah. Kalau dilihat dari silsilahnya “Syakh waliyullah al-Dahlawi” memiliki garis
ketrurunan yang nyambung kepada Umar Ibn Khathab, itulah sebabnya selain kata al-dahlawi
dibelakang namanya, sering juga dilengkapi dengan al-Umari dan al-Faruqi, gelar
ini dilihat dari garis ayahnya, sementara jika dilihat dari garis ibunya “Syakh
Waliyullh al-Dahlawi” nyambung kepada Ali ibn Thalib.[5]
Al-Dahlawi meninggal pada hari Sabtu siang Bulan Muharram 1176 H. di kota Dheli.
jadi umur Syakh Waliyullah al-Dahlawi kurang lebih 62 tahun.
Syakh Waliyullah memilki dua orang istri.
Istri kedua di nikahinya setelah beberapa saat kepulangannya dari hijaz. Dari
istri pertama ia mendapatkan seorang putra bernama Shah Muhammad (1730-1793)
dan seorang putri Ammatul Aziz sedangkan dari Istri kedua ia memperoleh empat
orang putra, Shah Abdul Aziz Muhaddith Dehlavi, Shah Rafi’ al-Din, Shah Abdul
Qadir dan Shah Abdul Ghani dan seorang Putri.[6]
b.Riwayat Pendidikan.
Al-Dahlawi pada waktu kecil mulai
belajar secara teratur kepada ayahnya sendiri. Ketika mencapai usia sepuluh
tahun beliau mempelajari Syarh al-Kafiyah karya al-Jami’ serta
mempelajari tafsir Baidhawi hingga berusia duapuluh lima tahun,dan
banyak kitab-kitab lainnya dalam bidang hadits,fiqh, ushul fiqh, akhlaq,
mantiq, ilmu kalam, tasawwuf, hikmah, ma’ani, kedokteran, dan lain-lain.
Semuanya beliau pelajari dari ayahnya, kecuali hadits beliau mengambil riwayat
dari imam hadits dizamannya, Muhammad Afdhal al-Sialkuti. Pada tahun 1143
beliau pergi ke haramain untuk menunaikan ibadah haji bersama paman dari ibunya
Syakh Ubaidilah al-Barhuwi, sepupunya Muhammad ‘Asyiq serta sahabat yang
lainnya. Al-Dhalawi berada di haramain selama dua tahun dan menjadi murid dari Syakh
Abi Thahir Muhammad bin Ibrahim di Madinah Munawwarah, al-Dahlawi berlajar
kepadanya, hingga hatam Shahih Bukhari dengan cara Qiraah dan Sima’i.
Beberapa dari Shahih Muslim, Jami’ Turmudzi, Sunan Abi Daud,
Sunan Ibn Majah, Muwatta` Imam Malik, Musnad Imam Ahmad, ar-RisalanyaImam Syafi’i, Jamiil Kabir. Dan hanya mendengarkan (Sima’i)
dari Syakh abi Thahir Muhammad kitab Musnad Al-Hafid Al-Darimidari mulai
awal sampai akhir dalam sepuluh kali pertemuan didalam masjid Nabawi disamping Mihrab
Usmani mengahadap makam Nabi. Al-Dahlawi merupakan pelajar yang cerdas dan ulet
sehingga tak ayal Syakhnya di Madinah mengatakan bahwa “dia (al-Dahlawi)
mengambil sanad dari lafadz dan saya hanya membenarkan maknanya” bermodal
kepintarannya semasa belajar lahirlah bermacam-macam karya dari tangan beliau
yang menunjukkan betapa luas ilmu yang dikuasainya. Terkait dengan Karya akan
di ulaskan pada Bagian 2.
2.Kary-Karya al-Dahlawi.
Penulis tidak ingin panjang lebar menjelaskan bagaimana
isi karya-karya beliau, penulis hanya ingin mengunkapkan beberapa kitab beliau
dalam beberapa bidang, adapun kitab beliau adalah sebagai berikut:
I.Bidang Ulum al-Qur’an.
1.Fathu ar-Rahman fi tarjamah al-Quran dengan bahasa
prancis.
2.Az-Zahrawin fi tafsir surah al-Baqarah wa
al-Imran.
3.Al-fauzul Kabir fi ushul at-Tafsir. Menerangkan
lima dasar al-quran dan ta’wil huruf muqatha’ah.
4.Ta`wil al-ahadits. Berbicara
tentang kisah para nabi dan menerangkan dasar diutusnya bersama kehidupan
sebelum kenabian bersama kabilah kaumnya, dan juga memaparkan hikmah ilahiyah
di zaman mereka.
5.Al-fath al-Khabir. Sama dengan
bagian kelima dari kitab al-fauzul Kabir fi ushul at-Tafsir dengan
menitik beratkan kepada gharib al-Qur`an dan tafsirnya yang diriwayatkan dari
Abdullah ibn Abbas R.A.
6.Qawanin at-Tarjamah. Menjelaskan
metode terjemah al-Quran serta solusi problematika didalamnya.
II.Dalam bidang Hadits wa Ulumihi:
1.Al-Musthafa
syarh al-Muwatha.
2.Al-Maswa syarh al-Muwatha` ditulis dengan
bahasa arab dengan disertai perbedaan madzhab dan penjelasan lafadz-lafadz yang
gharib.
3.Syarh tarajim abwab al-bukhari.
4.An-nawadir
min ahadits sayyid al-awail wa al-akhirin.
5.Arbain. Kumpulan empat puluh hadits yang diriwayatkan
dari gurunya abi thahir dengan sanad yang muttashil kepada ali bin abi thalib,
R.A.
6.Ad-dar ats-tsamin fi mubasyarat an-nabi
al-amien.
7. Al-irsyad ila muhimmat al-isnad.
8.Risalah basyithah fi al-asanid. Ditulis dengan
bahasa prancis.
III.Dalam bidang ushul ad-Din:
1.
Hujjatullah al-Balighah. Kitab yang membahas ilmu asrar asy-syariah dan
hukumnya.
2.
Izalah al-khafa` an khilafah al-khulafa`. Dalam bahasa arab.
3.
Husn al-Aqidah.
4.
Al-Inshaf fi bayan asbab al-Ikhtilaf.
5.
Aqd al-Jayyid fi ahkam al-ijtihad wa at-Taqlid.
6.
Al-budur al-Bazighah.
7.
Al-muqaddimat as-sunniyah fi intishar al-Firqah sunniyah.
IV.Bidang Ilmu Hakikat dan Behaviourisme:
1.
Al-maktub al-Madani.
2. Althaf
al-Quds fi abayan lathaif an-Nafs.
3. Al-Qawl
al-Jamil fi Bayan sawa`i as-Sabil.
4. Al-Intibah
fi Salasil Awliya`Illah.
5. Hama’at.
6. Lama’at.
7. Satha’at.
8. Hawami’.
Syarah Hizb al-Bahr.
9. Syifa`
al-Qulub.
10.
Khair al-Katsir.
11.
At-Tafhimat. Al-Ilahiyah.
12.
Fuyud al-haramain.
V.Bidang Sejarah dan Sastra:
1. Surur
al-Mahzun. Dalam bahasa prancis. Ringkasa kitab Nur al-Uyun fi talkhis
sir al-amien wa al-Ma`mun.
2. Anfas
al-Arifin. Kitab yang berisi biografi sesepuh beliau dan pembesar
keluarganya.
Menurutl Syakh Waliyullah
al-Dahlawi, Umat Islam dengan adanya keputusan Ilmu Kalam dan memahaminya
berdasarkan falsafah Yunani, ia menganggap ini dapat merusak Tauhid, selain itu
tasawuf dengan ajaran hulul membuat umat islam mundur, apalagi ditambah dengan
pendapat memutlakkan satu mazhab dalam suasana seperti inilah umat Islam tidak
mau membuka dan menggali al-Qur’an dan sunnah secara langsung.
Menurut Syafieh, al-Dahlawi
tampaknya lebih menekankan pada aspek subjek
pembuatan keputusan sebagai pemicu perbedaan pendapat di kalangan
Mutakallaimin, penekanan al-Dahlawi sama dengan apa yang di katakana Imam
Nubawwir Is, perbedaan pendapat dalam Islam lebih menyangkut beberapa hal,
menyangkut kapasitas dan figur pembuat keputusan.[8]
Itulah sebabnya al-Dahlawi ingin menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan
Sunnah.
a.Pemikiran al-Dahlawi tentang al-Qur’an
dan Hadits.
Gagasan yang pertama kali diserukan
oleh Syakh Waliyullah al-Dahlawi adalah “kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist”.[9]
Menurutnya, kedua sumber utama ini harus menjadi pegangan pokok umat Islam,
bukan buku-buku Fiqih, Tafsir, Ilmu Kalam dan sebagainya. Untuk memahami
Al-Qur’an, maka Syakh Waliyullah al-Dahlawi menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam
bahasa Persia beserta komentarnya. Dan jika berbicara mengenai Hadist, Syakh
Waliyullah al-Dahlawi menegaskan dalam pendahuluan al-Hujat al-Baligah, bahwa
hadist merupakan dasar bagi semua cabang ilmu agama.[10]
Argumen di atas memberi konstribusi bahwal
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama maka al-Qur’an dan hadits sudah
sepatutnya dijadikan sebagai rujukan atau sandaran utama, sebagai dalil dalam
memperkuat ilmu-ilmu lain semacam fiqih, Aqidah, Akhlaq, Tafsir, Teologi dan
Kalam yang sesuai dengan kebenarannya tanpa ada interfensi. Sebagaimana yang
dilakukan oleh para mutakallimin dimana ada yang memprioritaskan kebebasan akal
secara mutlak.
Selanjutnya menurut Syakh Waliyullah al-Dahlawi, perbedaan
hasil ketetapan hukum dikalangan empat mahzab hukum akan lebih menunjukkan
persamaan, jika hal-hal itu dicocokkan dengan sumber utama ilmu fiqih yaitu hadist.
Di samping itu, dia juga mendorong kepada ilmu baru terhadap ilmu hadist yang
memberantas jalan kepada pembentukan suatu mahzab pemikiran baru, yang terkenal
dengan nama kaum ‘adist, yaitu aliran orang-orang yang menolak bertaklid
kepada para ahli hukum dan mencari bimbingan langsung dari hadist mengenai
hukum Islam.[11]
Disisi lain, Syakh Waliyullah al-Dahlawi Rupanya tidak
ingin, seseorang atau siapapun memiliki sifat taqlid secara langsung
kepada para mazhab hukum (taqlid Buta), justru ia menginginkan seseorang harus
mencari bimbingan langsung dari hadits untuk mempelajari penjelasan hdits
terkait dengan permasalahan hukum-hukum Islam.
Menurut saya pendapat seperti ini, disisi lain di tolak dan
juga pada sisi lain di terima, diterimanya argumen di atas, agar umat islam
keseluruhannya dapat berusaha dan gigih dalam mempelajari kitab-kitab hadits.
Sehingga umat Islam tidak ketinggalan dalam segi keilmuan, tujuannya agr mereka
akan berbalik arah menjadi orang-orang yang cerdas. Adapun pada sisi yang ditolak,
Pertama: Keterbatasan dana untuk membeli kitab-kitab hadits dan jauhnya
jangkauan guru-guru yang memahami hadits secara bai, permasalahan khusus bagi
masyarakat Kampung. Kedua: Keterbatasan kemampuan dalam memahami hadits.
Dengan itulah maka ada sebagian orang membutuhkan yang namanya taqlid akan
tetapi bukan taqlid buta. Meskipun demikian, masyarakat Islam harus mengadakan
pengkalisifiksian terhadap pemilihan dari keempat Mazhab yang terkenal, artinya
mazhab yang mana ia merasa cocok padanya, yang harus ia ikuti dalam Islam.
Pemahaman ini berbeda dengan orang-orang dari kalangan Akademis dan
Pesantrenis.
Dalam pandangan Syakh Waliyullah al-Dahlawi, pengertian
Islam dapat membedakan antara Islam universal dan Islam lokal. Islam universal
mengandung ajaran-ajaran dasar dan global, sedangkan Islam lokal mempunyai
corak yang ditentukan oleh kondisi tempat yang bersangkutan. Menurutnya, yang
dipertahankan adalah ajaran-ajaran dasar yang universal, sedangkan
interprestasinya dan aplikasinya dapat berbeda-beda sesuai dengan tempat dan
zaman yang berlaku.[12]
Ajaran Islam Universal yang di maksud disini adalah ajaran
Islam yang telah menjadi suatu yang Umum sebagaimana terkandung dalam al-Qur’an
dan Sunnah seperti Rukun Iman, Rukun Islam, Tauhid, Zinah, Jihad, Qisas, dan
juga masih ada lagi yang tidak disebutkan.
Kendatipun Syakh Waliyullah al-Dahlawi mengakui adanya
pengertian Islam universal dan Islam lokal, tetapi lebih lanjut dia
menambahkan, bahwa apa yang dihalalkan dan diharamkan dalam Islam dibolehkan
dan dilarang pula dalam masyarakat-masyarakat lain. Sebab hati nurani manusia
mengenai moral sama disemua agama dan masyarakat.[13]
Ia tidak sependapat dengan sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum-hukum
agama tidak ada sangkut pautnya dengan akal yang sehat dan kebutuhan manusia. Syakh
Waliyullah al-Dahlawi mengibaratkan etika dan agama sebagai dokter yang memberikan
batasan-batasan dalam makanan kepada si pasien untuk
menyembuhkan penyakitnya.[14]
Selanjutnya pemahaman Syakh Waliyullah al-Dahlawi tentang
al-Qur’an, memiliki pemahaman mengenai Ide Asbab al-Nuzul makro.
Ide Asbab Al-Nuzul makro sebenarnya telah diperkenalkan
oleh al-Syatibi dalam kitab al-Muwafaqat Fi Ushul Asy-Syariáh, al-Syatibi
mendefinisikan Asbab Al-Nuzul sebagai situasi dan kondisi yang
melingkupi orang yang mengajak bicara, orang yang diajak bicara dan
pembicaraanya.[15]
Ide tersebut kemudian dikembangkan lagi oleh Syakh
Waliyullah al-Dahlawi, dengan tujuan pokok diturunkannya al-Qur’an adalah untuk
mendidik jiwa manusia dan memberantas kepercayaan, kekeliruan dan perbuatan
jahat lainnya.[16]
Tema-tema dalam al-Qur’an menurut ad-Dahlawi, sebagaimana dikutip Hamim Ilyas menunjuk
pada lima pengetahuan, yaitu:
1.Pengetahuan hukum ibadah, muámalah,
dan lain-lain (ilm al-ahkam).
2.Pengetahuan mengenai bantahan
terhadap empat kelompok sesat; Yahudi, Nasrani, munafik dan musrik (ilm
al-mukhasamat).
3.Pengetahuan mengenai peringatan akan
nikmat-nikmat Allah (ilm al-tadkir bi ni’mat Allah).
4.Pengetahuan mengenai peringatan akan
hari-hari Allah (ilm al-tadkir bi ayyam Allah).
5.Pengetahuan mengenai peringatan akan
kematian dan masa sesudahnya (ilm al-tadkir bi al-maut wa ma ba’da).[17]
Gagasan di atas sebenarnya menurut penulis, dalam memahami
al-Qur’an harus mengetahui Asbabun Nuzul agar menafsirkan al-Qur’an
dalam mengistimbatkan hukum dapat sesuai dan tidak melenceng sedikitpun dari
tujuan syari’at al-Qur’an dan Hadits.
Pemikiran keagamaan Syakh Waliyullah al-Dahlawi,
yang juga penting adalah gagasan-gagasan awalnya yang mengandung benih-benih
teori agama alamiah, yang belakangan dikembangkan lebih cerdas dan jelas oleh
Sayyid Ahmad Khan. Konsep Syakh Waliullah ini membagi organisasi masyarakat
menjadi empat bagian yaitu:
§Masyarakat primitiif dan nomaden.
§Masyarakat yang menbentuk
perkampungan dan mempunyai pasar,
§Taraf kehidupan yang membutuhkan
organisasi sosial yang lebih besar, dan Tingkat kehidupan manusia yang
mengembangkan hukum internasional dalam menyelesaikan persoalan.[18]
Terkait dengan Masyarakat primitif dan beberapa bagian dari
poin pemikiran yang dikembangkan oleh Sayyid Ahmad Khan di atas, pemakalah
tidak ingin lebih dalam menyinggungnya, hal ini karena makalah tidak membahas
mengeni gagasan ketiga poin di atas, melainkan pembicaraannya pemakalah lebih
pada pemikiran Kalam, saya kira ini tujuan pembahasan utama yang harus lebih
diperhatikan agar tidak terlalu panjang lebar.
b.Pemikiran Syakh Waliyullah
al-Dahlawi tentang Manusia.
1.Menurut Syakh Waliyullah al-Dahlawi
Manusia mempunya tiga perangkat ruhani dengan sifat-sifatnya yang khas, yaitu:
a.العقل, akal adalah perangkat yang mampu
menangkap hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh indra, akallah yang mampu
menciptakan khayalan, dan mampu mewujudkan pertimbangan yang dapat memerintah
terhadap jasmani dan ruhani serta mampu menciptakan perenungan yang baik.
b.القلب,
hati adalah perangkap yang mampu menangkap dan mempertimbangkan sifat-sifat
yang menonjol dalam diri manusia, yaitu berupa Kasih sayang, Cinta, Ridha,
Marah, Benci, Kikir. Cinta pangkat dan harta, hati juga dapat menghentikan baik
buruknya manusia.
c.النفس,
nafsu adalah merupakan prangkat ruhani yang mampu menimbulkan
rangsangan-rangsangan melalui kebutuhan perut dan seksual.
Ketiga perangkat tubuh manusia di atas sebenarnya tidak
dapat di lepas pisahkan, dimana ketiganya ialah perangkat yang saling
membutuhkan.
2.Pendapat Syakh Waliyullah Mengenai
penyangga Ihsan dalam kehidupan seseorang muslim.
a.النظافة(kebersihan), adalah
Untuk membersihkan manusia dapat dilakukan dengan wudhu, dan mandi sebagai mana
yang diperintahkan dalam agama islam, namun kebersihan ruhani dari segala
kotoran yang dapat mengakibatkan dosa.
b.أقم الصلاة(Mendirikan sholat),
dengan mendirikan sholat seseorang selalu mendapat lindungan dari Allah
SWT, dan juga di dalam sholat juga
terwujud zikir yang mendalam, dan do’a intensif dalam kehadiran ruhani dan
jasmani serentak.
c.تطبيق كريم(berlaku murah hati), sifat murah hati ini yang terdapat dalam dri manusia
dapat mengatasi segala nafsu serakah yang mengancam kebersihan ruhani.
d.ينصف(berbuat adil) berbuat adil disini mengarah untuk umun, diri sendri,
keluarga dan kepada semua mahluk, dan ini merupakan ajaran pokok agama islam.[19]
Waliyullah mencoba menjelaskan derajat tertinggi dari proses mengenal Tuhan
melalui konsep Ihsan, pengenalan terhadap Tuhan ini dapat di capai jika
manusia sudah menjadi Insan Kamil dengan memenuhi syarat yang telah
waliyullah gambarkan.
Dengan pemenuhan keempat penyanggah Ihsan di atas, seseorang dapat
mencapai ketetapan iman jika penyanggah ini selalu di pakai oleh setiap Manusia dalam Islam.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan.
1.Mengenai biografi Syakh Waliyullah
al-Dahlawi, ia adalah sosok yang luar biasa tidak heran jika ia bisa menjadi
seorang pemikir hebat, sebab dari nasabnya saja ia lahir dari kalangan
orang-orang yang taat beragama dan berilmu tinggi, dengan itu maka percikan
kecerdasan dan keuletan serta ketatan tentulah juga terpercik kepadanya sehingga
ia dapat menjadi ulama hebat dan pembaharu di dunia Islam selain itu, juga
dikenal di Barat.
2.Karya-karyanya sangat banyak
disebabkan rajinya ia menulis, menggali, meneliti ilmu-ilmu, serta keinginannya
untuk memajukan Islam, dan untuk memajukan Islam salah satu caranya ialah
menulis banyak buku-buku.
3.Terkait dengan pemikiran Kalam,
Syakh Waliyullah al-Dahlawi menilai permasalahan kalam terletak pada para
pembuat keputusan dalam kalam, dimana setiap permasalahan harus dikembalikan
kepada al-Qur’an dan Sunnah.
a.Setiap manusia harus mempelajari
al-Qur’an dan Hadits untuk dijadikan pusat dari seluruh keilmun. Al-Qur’an ini
dapat di pahami melalui asbab al-Nuzul Mikro dan Makro.
b.Manusia memiliki tiga pokok unsur,
‘aqlun, Qalbun dan Nafs. Ketiganya memilki fungsi masing-masing sesuai dengan
fungsinya.
B.Saran dan Kritik.
Sebagai manusia biasa pasti tidak
terlepas dari keplesetan sebab kekeliruan, dengan itu tentunya dalam makalah
ini masih terdapat kekurangan. Olehnya itu, penulis sangat membutuhkan
kritikkan dan saran sebagai wujud apresiasi pembaca, dengan tujuan makalah ini
bisa dikoreksi, sehingga kekurangannya dapat di perbaiki agar bisa menjadi
makalah yang berkualitas.
[1] Harun
Nasution, Pembaruan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta:
Bulan Bintang, 1992)., h. 20.
[2] H. Ali
Mudhori, Al-Tahrir Jurnal Pemikiran Islam: kajian terhadap pemikiran Syah
Waliyullah al-Dahlawi,(Ponorogo: STAIN, 2002)., h. 84
[3] H. Ali Mudhori,
kajian terhadap pemikiran Shakh Waliyullah al-Dahlawi, dalam jurnal
Al-Tahrir, pemikiran Islam, (Vol. 2 No.1 Januari 2002)., h. 93
[12]Muktafi Sahal,
M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag,..63.
[13]Harun Nasution,
Pembaharuan dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 22.
[14]Muktafi Sahal,
M.Ag dan Ahmad Amir Aziz, M.Ag,..63.
[15]Hamim
Ilyas, Asbab an-Nuzul Dalam Studi Al-Qurán, dalam Yudian W. Asmin (ed.), Kajian
Tentang Al-Qurán dan Hadis : Mengantar Purna Tugas Prof. Drs. H.M. Husein Yusuf
(Yogyakarta: Forum Studi Hukum Islam Fakultas Syariáh IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 1994), hlm. 73.
aninlihiofficial merupakan blog yang berkonsetrasi dalam bidang keilmuan, Budaya dan dakwah. dengan menyampaikan satu dua ayat. sebagaiman qaul yang sudah umum diketahui "balighu ani walau ayah" sampaikan walaupun satu ayat. mungkin satu ayat itu dimata orang kecil, tapi yakinlah hanya menyebar satu ayat itu saja sebenarnya hasil kebaikannya sudah berlipat ganda bagi orang yang menyebarkan. olehnya itu, penyebaran kebaikan yang sedikit ini, semoga menjadi amal yang belipat ganda disisi Allah swt