Oleh: Anin Lihi
Jamaah
Shalat Jum’at Yang Dimuliakan Allah swt
Memang tak bisa dipungkiri bahwa
perpecahan telah terjadi sejak awal
manusia diciptakan.
Tapi, apakah ini yang diinginkan Tuhan dan fitrah keimanan
manusia. Tentu bukan kalau
kita baca Firman Allah swt. Dalam al-Qur’an kita temukan bahwa yang
diinginkan Allah swt dan fitrah keimanan manusia sebenarnya adalah persatuan, kasih
sayang dan cinta. Ketiga konsepsi ini hanya bisa diwujudkan melalui jalan ibadah yang
benar. Dengan ibadah yang benar kita dapat memetik akhlak. Dengan akhlak
persatuan dapat ditumbuhkan. Semua ini taqwa telah membalutnya. Maka karena taqwa
kita dimuliakan dan memuliakan.
“Nabi
Saw., bersabda: “Dari Muhammad bin Habib bin Kharrays al-Asriy dari ayahnya,
sesungguhnya dia telah mendengar Nabi Saw., bersabda: Orang-orang muslim
bersaudara, tidak ada kemuliaan bagi seseorang atas yang lain kecuali taqwa”.
(HR. Tabrani, al-Mu’jam al-Kabir, jilid 4, h. 25) Bukanlah hal-hal lain, tapi
taqwa. Karena itulah al-Qur’an hadir sebagai pengatur,
penerang jalan supaya terwujud manusia yang baik dan benar, bertaqwa dan berakhlak
dan menjiwai persaudaraan.
Ketika
A’isyah ditanyai tentang perihal akhlak Rasulullah, dengan singkat A’isyah
menjawab, “akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an. Nah, sekarang bagaimana caranya
agar manusia mencapainya, Allah swt
telah memberikan mesin penimbang yang
kita sebut sebagai
“akal”. Fungsi
alat ini mengkalkulasi, menyaring
tiap-tiap konsep, memilih dan
memilah mana yang seharusnya dipelajari dan diamalkan. Tentu jika alat ini sudah digunakan dengan benar maka
aksiologinya bisa terwujud pada manusia dan masyarakat yakni keselamatan dunia
dan akhirat bersama dan kenikmatan dunia dan akhirat bersama. Akan ada
pemahaman bahwa
surga bukan milik person, bukan pula milik kelompok
dan golongan tertentu.
Tapi,
milik semua masyarakat beriman dan bertaqwa. Begitupula
kesejahteraan dan kedamaian di negara dan bangsa kita indonesia juga milik kita
bersama.
Tuhan
tidak menginginkan perpecahan, perkelahian, permusuhan. Olehnya itu, terjadinya
perpecahan sebenarnya berasal dari kita sendiri, dari ego, dari hawa nafsu,
dari kecenderungan mengikuti penyakit-penyakit hati, (sombong, angkuh, dengki,
hasad, riya’, fitnah dan lain sebagainya). sifat-sifat jelek inilah yang
menjadi jurang pemisah kebersamaan dan pemecah persatuan. Maka inilah penting
yang harus diawasi dengan maksimal.
Jamaah
shalat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Tidak
kurang bimbingan Nabi Muhammad
saw., kepada kita, bahkan
sampai pada taraf pemberian informsi ancaman. Sombong dan angkuh
jangan, sebab ia menjauhkan engkau dari kenikmatan pribadimu dan kelompok
masyarakat baik dunia maupun akhirat. Dengki
dan hasad jangan, sebab keduanya merusak dirimu dan orang lain, bahkan seluruh
amal kebaikanmu hilang bagai kayu dan daun yang dilahap kayu bakar menjadi debu
akhirnya habis diterbangkan angin dan karena keduanya pula engkau sakit dan
menyakiti orang lain, sebab hasad dan dengki membuat perasaan dan jiwa mudah amarah. Janganlah fitnah
sebab sama saja engkau telah membunuh saudaramu, bahkan bangkainya telah engkau lahap mentah-mentah
hingga karenanya engkau akan saling merusakkan dan akhirnya bermusuhan dan
berbunuh-bunuhan dengan sesamamu. Janganlah engkau mengkonsumsi yang haram,
sebab itu menjadi jalan permusuhan, menjauhkan engkau dari Allah, malas untuk
beribadah dan jasadmu didalamnya akan membusuk. Jadi janganlah hawa nafsu
menjadi perahu yang ditumpangi.
Nabi
kita Muhammad Saw., tentu kita pahami apa yang dikatakannya adalah pengajaran
Tuhan dan bukan hawa nafsunya. Karenanya
apa yang tidak diingini Tuhan beliaupun tak menginginkannya. Jadi, jika Tuhan
menginginkan persatuan, maka Nabi Muhammad demikian pula, karenanya Muhammad Saw.,
mengajarkan dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Nabi bersabda:
“Perumpaan orang-orang Mukmin dalam
persahabatan, kasih sayang, dan perhatiannya bagaikan satu jasad, jika salah
satu terasa sakit, maka semua anggota tubuhnya terasa sakit dengan gelisah
(tidak bisa tidur) dan demam.”
(HR. Bukhari, Sahih Bukhari, Jilid 2, Hal. 238).
Begitu
besarnya persaudaraan dan persatuan. Saudara yang tersakiti menjadi beban
pikiran, sakitnya menjadi sakit kita,
demamnya menjadi demam
kita, dan susahnya menjadi susah kita.
Pantaslah Nabi Saw begitu tegas mengajarkan cinta sesama, “layu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi”
Tidaklah sempurna keimanan seseorang dari kalian, sampai kalian mencintai
saudara kalian melebihi cinta kalian terhadap diri kalian sendiri” (Hr. Bukhari
dan Muslim). Maka menjadi pincang iman kita lantaran memutuskan persatuan.
Senada
dengan sabda Nabi Saw., IAIN Ambon dalam Visi Misinya pada poin ke empat
menghendaki seluruh masyarakat kampus supaya
menghasilkan karya-karya pengabdian masyarakat yang berbasis multikultural,
bertolak dari visi itu tentu tujuannya untuk mewujudkan Nilai saling
menghormati, nilai saling menghargai, nilai toleransi, nilai persatuan, nilai
kerjasama dan nilai solidaritas antara etnis. Maka fanatisme keduniaan harus dibuang
sejauh-jauhnya. Fanatisme Suku, etnis, kedaerahan harus dibuang sejauh-jauhnya. Jika kita ingin al-Qur’an,
hadits dan Bhineka Tunggal Ika dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah
sholat jum’at yang dimuliakan Allah Swt
Indonesia
bukanlah bangsa yang menyendiri, sebagaimana yang dikobarkan oleh eropa bahwa
katanya “tidak ada yang setinggi jerman, katanya bangsanya minolya berambut
jagung dan bermata biru. Bangsa Aria yang dianggapnya tertinggi di atas dunia,
sedang bangsa lain tak ada harganya. Jangan berpaham seperti ini. Yang namanya bangsa indonesia dan kaum
muslimin semua telah mufakat semua buat semua, bukan buat satu orang, bukan
juga untuk satu golongan, bukan untuk si kaya atau si miskin. Tapi memiliki
kehendak akan bersatu, orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu.
Itulah sebagian ungkapan sang pejuang (Bungkarno).
Soekarno,
tak ingin ada klaim, saya suku yang hebat, kota dan kabupaten yang besar,
kampung yang luar biasa dan dusun yang tinggi melebihi apapun di dunia ini.
Menjadi hebat ia boleh, tapi sifat angkuh dan sombong harus dibuang jauh-jauh,
karena sifat itu adalah akar dari segala kerusakan. Tuhanpun tak menyukainya.
Jamaah
sholat jum’at yang di muliakan Allah Swt
Jadi
yang kita ingin didalam negara dan bangsa kita, dalam kabupaten dan kota kita,
dalam desa dan dusun kita dan dalam suku dan keluarga kita adalah penerapan
undang-undang nomor 43 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 24 tahun 2009. Yakni
bangsa indonesia harus menyadari bahwa keragaman, baik suku bangsa, agama, ras,
antar golongan, bukan merupakan unsur pemecah. Melainkan faktor potensi atau
modal terbentuknya persatuan. Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa semboyan
Bhineka Tunggal Ika mendorong lahirnya persatuan dan kesatuan indonesia yang
semakin kokoh. Karena pengalaman sejarah semangat kedaerahan hanya akan memecah
belah persatuan sehingga mudah diperdayakan. Bangsa Indonesia harus menyadari
sepenuhnya bahwa Bhineka Tunggal Ika
salah satu pilar demi kokohnya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Konesp
seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah SWT.
$pkr'¯»t â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.s 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© @ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ×Î7yz ÇÊÌÈ
Artinya: Hai
manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).
Dengan memakai nida Allah swt
memanggil, menyeru dan menyampaikan kepada seluruh manusia bukan kepada satu
kelompok, golongan, bangsa dan suku. Secara fitrah kalau kita pahami ayat ini
memang penciptaan manusia menurut takdirnya diciptakan bersuku-suku dan
berbangsa-bengsa. Namun, perbedaan suku bangsa bukanlah sebab perkelahian dan
permusuhan. Akan tetapi, supaya kita bisa saling mengenal satu sama lain.
Karena itu, seharusnya kita bisa saling mencintai dan menyangi. Merasakan bahwa
kita lahir dari rahim yang sama yakni Ibu, setiap ibu pasti merasakan sakit
yang sama. Kita yakin bahwa kita diciptakan dari unsur dasar yang sama yaitu tanah.
Olehnya itu janganlah tanah yang kita pijak dan Tuhan yang menciptakan kita
menjadi murka kepada manusia.
Dalam bangsa, kita
harus saling menghargai, Islam, Kristen, Hindu dan Budha, jika dalam
perkara-perkara sosial mestinya kita bergotong royong. Kita juga tak boleh
merusak agama seseorang dan seluruh atribut simbol keagamaannya. Sebab, kalau
itu terjadi, justru kita malah menjauhkan mereka dari hidayah Allah swt.
Jadi, terapkan lakum diinukum waliyadin pada mereka yang berbeda agama
dengan kita. Biarkan mereka merayakan hari-hari besarnya,
tapi jangan kita ikut-ikutan merayakannya,
janganpula kita merusak dan membuat kekacauan pada mereka. Hidupkan sikap
berakhlak, niscaya dengan akhlak orang akan berbondong menuju Allah Swt. Terapkan
nilai taqwa qur’ani, agar semua tau bahwa hakikat Islam sebenarnya seperti itu.
Adapun Muslim, dalam Agama kita adalah
seaqidah, seiman dan seislam. Kita boleh berbeda suku,
tempat lahir, marga dan keluarga. Namun,
dalam aqidah kita harus bersatu. Nah ini yang harus
di jiwai. Jangan
karena sesuap nasi, segelas teh, sederet
pangkat atau jabatan dan secuil harta lantas rela mengorbankan saudara
seaqidah, seiman dan seislam seagama kita. Apalagi
seaqidah dalam satu bangsa, tentu kasih sayang dan cinta mestinya
lebih kita tumbuhkan. Kalau yang lain lapar, maka yang lain ikut lapar, dan
jika kenyang yang lainpun merasakan hal yang sama. Kita saudara seaqidah,
seagama, sekeyakinan, seiman dan seislam yang
menyembah Tuhan yang Maha Esa.
$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷uqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ
Artinya: Orang-orang
beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat/49:13).

